Disclaimer : Yu-Gi-Oh isn't mine. I'm sure you've known it.

Warning : OOC. FemSeth&Atem. Membosankan. Sappy.


Derap kaki bergema dalam koridor yang gelap. Suara deru nafas yang berat terdengar seiring gadis itu berlari. Atem merasa seperti sudah berlari selama berjam-jam, tersandung beberapa kali. Koridor ini seperti tak berujung, terlalu gelap bagi kedua matanya untuk melihat apapun. Udara begitu dingin, menusuk kulitnya. Kengerian menyebar dalam koridor. Koridor ini adalah bagian dari rumahnya, dia tahu hal itu, tapi juga bukan. Dia terus berlari, tanpa tahu ke mana, sampai ke tempat yang tidak dia ketahui, atau mungkin sampai di tempat yang sama.

Dia lelah, kakinya terasa kaku. Sudah berapa lama berlalu? Cahaya samar terlihat di ujung koridor. Dia berusaha membuat kedua kakinya tetap melangkah, dan apa yang dia lihat membuatnya syok.

Disanalah dia, berdiri di kusen jendela besar yang terbuka, mayat-mayat keluargaku bergelimpang di lantai. Tak ada luka atau apapun di tubuh mereka, tetapi mereka dingin, kaku, dan tak bernyawa bagai boneka. Nafas Atem terhenti. Sepasang mata merah darah menatapnya tajam, menyeringai, memperlihatkan taring putih yang tajam.

Lari. Jeritan hati terdengar, Atem segera berbalik dan akan berlari ketika sesuatu menarik bahunya, membuatnya terjengkang. Kedua matanya tertumbuk pada sepasang mata yang dipenuhi oleh nafsu, bernafsu akan darahnya.


AUGUST 2019

CONVERSATION


Atem langsung terbangun. Mimpi buruk lainnya, terus muncul semenjak dia bertemu lelaki itu. Yugi Mutou... lelaki yang benar-benar aneh, sudah lebih dari sebulan berlalu, tetapi dia terus menyendiri, tidak pernah mengakrabkan diri dengan yang lainnya, termasuk Atem yang adalah teman sebangkunya. Kekesalan kembali muncul di hati gadis itu. Kenapa dia mengkhawatirkannya? Mau akrab atau tidak itu bukan urusannya.

Dia mendesah, mengerang ketika melihat jam. Baru jam satu? Erangnya dalam hati. Besok ada sekolah, dan dia tidak bisa tidur dengan mimpi buruk yang terus berlanjut. Mimpi buruk yang sama. Yugi, dan... vampir. Apakah itu suatu pertanda? Ataukah hanya mimpi buruk karena terlalu mencurigai lelaki itu? Tetapi, dia telah mendapatkan mimpi itu bahkan sebelum dia bertemu dengan Yugi, jadi...

Angin samar menyapu wajahnya, dia menoleh ke arah jendela. Sebelah alisnya terangkat. Terjadi lagi? Dia yakin sudah mengunci jendela sebelum tidur. Perlahan dia beranjak dari ranjangnya, menutup jendela dengan malas. Malam ini bintang-bintang ada, bersinar terang menemani bulan. Bulan tidak sendiri hari ini. Apa mungkin ada seseorang yang mengawasinya juga di luar sana? Dia tertawa geli atas pikiran konyol itu.

Kedua matanya melihat siluet sesuatu... tidak, tepatnya seseorang, berdiri di atas atap rumah tetangga. Orang itu membuka kelopak matanya, memperlihatkan bola mata berwarna merah darah. Atem terbelalak. Orang itu sepertinya menyadari bahwa Atem melihatnya, dan langsung menghilang. Gadis itu terkejut, hanya dalam beberapa detik orang itu menghilang dari pandangannya. Apa itu? Halusinasi? Bukan, terlalu nyata untuk ilusi. Itu benar-benar dia.

Kenapa orang itu mengawasinya? Apa yang dia inginkan? Ketakutan tiba-tiba menjalar di tubuh Atem. Dia takut mimpinya akan menjadi kenyataan. Dia berusaha meyakinkan diri berpikir bahwa orang itu tidak akan melakukan hal semacam itu. Namun tetap saja...

.-.-.-.-.-.

Dia meyakinkan dirinya berkali-kali, tetapi ketakutan masih memenuhi pikirannya. Dia tahu bahwa dia tidak seharusnya menarik kesimpulan begitu cepat, hanya saja... bagaimana dia bisa tetap tenang dan berpikir jelas di saat seperti ini?

Dia melirik ke arah lelaki yang duduk di sampingnya, menahan diri untuk tidak bertanya tentang semalam. Tentu saja dia meliriknya diam-diam. Karena jika Yugi melihat itu, dia akan membalas tatapannya dengan pandangan super duper dingin.

"Atem!"

Dia tersentak kaget, melihat Anzu duduk di seberang mejanya. Dia melihat sekeliling, menyadari bahwa kelas telah sepi. Ya Tuhan, dia terlalu larut dalam pikirannya sehingga tidak tahu bahwa sekarang waktunya istirahat. Dia kembali melirik ke kursi di sebelahnya, matanya melebar terkejut. Yugi sudah tidak ada di bangkunya lagi? Sejak kapan? Dia hanya memindahkan pandangannya sebentar, dan Yugi sudah tidak ada.

"Ya, Anzu?" tanyaku, berusaha terlihat tidak mencurigakan.

Anzu menghela nafas. "Kita lagi ngomongin pesta dansa yang diadakan setelah pameran sekolah nanti, kamu bengong terus, Atem." Dia menjelaskan.

"Oh?" Atem berpura-pura terlihat tertarik. Walau dia membenci pesta, dia tetap tidak mau melukai perasaan teman-temannya. Tapi, pikirannya masih berputar di sekitar apa yang terjadi semalam.

"Pestanya Sabtu depan, dan kami sudah nggak sabar!" kata Anzu dan Rebecca, senang.

Tunggu. Sejak kapan mereka berdua akrab? Setahu dia Anzu dan Rebecca itu bagaikan air dan minyak.

Atem menghela nafas. Pesta dansa, ya? Dia berharap dia boleh melewatkan hari itu. Tahun lalu, dia dipaksa datang, dan dia bersyukur Joey yang menjadi pasangannya. Dia tidak mau berpasangan dengan lelaki yang tidak terlalu dia kenal. Dan sepertinya Seth sangat tertarik dengan lelaki itu, apa dia comblangkan mereka saja, ya?

Wait a minute.

Oh my Godness... kalau Joey dipasangkan dengan Seth, itu berarti dia tidak akan punya pasangan. Ibu dan ayahnya pasti akan bernyanyi – baca : mengomel. Pasti mereka berdua akan mencaci-maki tentang bagaimana dia tidak berterimakasih untuk bla bla bla. Helaan nafas keluar dari mulut gadis itu. Mereka selalu seperti itu, hanya karena tak punya pasangan untuk diajak ke pesta dansa. Tetapi yang paling membuatnya muak adalah pasti omelan itu berujung dengan betapa mereka berharap dia lebih bla bla bla.

"Apa elo udah dapet pasangan, Atem-chan?" tanya Ryuuji. Ryuuji adalah salah satu dari teman baiknya, walau di awal-awal lelaki itu sangat membencinya.

"Nope. Nggak ada yang ngajak." jawab Atem, santai.

"Gw yakin 100% kalau Joey bakal ngajak elo lagi," kata Ryuuji dengan wajah bosan.

Atem menaikkan sebelah alis, dia menoleh ke arah sepupunya. "Huh? Seth, elo nggak jalan sama dia?" tanyanya bingung.

Seth menatapnya dingin. "Pastinya tidak." jawabnya datar.

Ryuuji menjitak kepala Atem.

"Aw! Apa-apaan, sih, loe!" bentak gadis itu, sambil mengelus kepalanya.

"Elo bego atau apa? Kelihatan banget kalau Joey cinta sama elo, semuanya tahu itu, kecuali elo. Bebal banget, sih." Ryuuji membalas membentak.

Atem terpaku sesaat. "No way!" sangkalnya, ekspresi horor.

Seth meletakkan kedua tangannya di bahu sepupunya, pura-pura prihatin. "Dengar, sepupu. Gw tahu kalau elo tuh nggak bisa diharapkan soal cinta. Dan gw punya dua pernyataan. Pertama, gw nggak jalan sama Joey Wheeler. Dan kedua, budak gw itu jatuh cinta padamu."

Atem mengangkat bahu. "Sori, gw nggak percaya. Dia bestfriend gw, dan gw juga mencintainya, tetapi bukan cinta yang seperti itu." katanya, memijit-mijit dahinya. Dia paling tidak suka bila kelemahannya soal cinta dibawa-bawa.

Dan itu benar-benar omong kosong. Joey teman baiknya, dan akan selalu menjadi teman baiknya, tidak lebih dari itu.

Mungkin, sih...

"Erm... guys, nggak keberatan, kan, kalo gw keluar bentar?" tanyanya ragu. Mereka pasti akan bertanya kenapa, dan dia tidak mungkin mengatakan bahwa dia mencari Yugi.

"Kenapa?"

Tepat dugaannya.

Atem tersenyum. "Ada urusan. Gw musti buru-buru, gw bakal segera balik," katanya, langsung lari – baca : ngibrit – takut akan menjadi sesi interogasi oleh teman-temannya.

Dia berlari ke halaman belakang sekolah, dia tahu bahwa orang yang dicari pasti ada di sana. Karena lelaki itu selalu berada di sana ketika waktu istirahat.

Dan, benarlah dia. Yugi ada di sana, duduk di bawah naungan pohon, dengan mata terfokus pada bukunya – entah apa buku apa itu dia tidak mau tahu.

"Bisa kita bicara?" tanya Atem, berdiri di samping lelaki itu, berkacak pinggang.

Yugi tidak beranjak dari bukunya, menghiraukan Atem. Gadis itu berkedut kesal.

Atem duduk bersandar pohon, membelakangi lelaki itu. "Dimana elo semalam?" tanyanya.

Yugi tetap terfokus pada bukunya. "Ngapain tanya, stalker?" Dia balas bertanya dengan nada dingin.

Gadis itu memutar bola matanya. "Bukan apa-apa. Dan kalau ada orang yang cocok disebut stalker, itu elo." Dia berusaha terdengar setenang dan seyakin mungkin, walau dia tak bisa menahan nada suaranya yang sarkastik.

"Dan kenapa gw cocok disebut stalker?" tanya Yugi lagi.

Atem memain-mainkan liontin piramida terbaliknya. "Gw ngeliat elo tadi malam, terima saja. Elo berdiri di atap rumah tetangga gw, dan elo langsung hilang."

Yugi membalikkan halaman bukunya. "Elo ngigau, kali. Manusia nggak bisa langsung hilang."

Atem mengadah menatap dedaunan rimbun pohon. "Ya, elo benar. Manusia nggak bisa langsung hilang," gumamnya, lalu dia menyeringai. "Tapi, sesuatu yang lain bisa." lanjutnya.

Yugi terlihat tenang, tapi dia bisa melihat keringat dingin mengalir di leher lelaki itu. "Elo kebanyakan baca novel."

"Nggak juga." Atem bernyanyi. "Gw cuma penasaran soal..." Seringainya semakin lebar. "Vampir."

Tangan Yugi berhenti membalikkan halaman bukunya, Atem bisa melihat wajah Yugi menjadi serius. "Memangnya kenapa?" tanya Yugi tenang, membalikkan halaman bukunya, wajahnya kembali datar.

Hm... sepertinya dia memasang kembali topengnya.

Atem menghela nafas, pura-pura mengeluh. "Akhir-akhir ini gw sering mimpi aneh. Dan gw berpikir elo tau sesuatu tentang vampir."

Yugi mendengus. "Jangan konyol." ucapnya, kali ini terlihat gelisah.

Nice shoot, Atem. Satu dorongan terakhir dan gol!

"Katakan." Atem tahu bahwa tidak baik memaksa orang bicara tentang diri sendiri, tetapi dia tidak bisa hanya diam menunggu sampai mimpi buruknya menjadi kenyataan.

Dan dia siap atas resikonya. Seperti pepatah bahasa Inggris yang mengatakan "Curiosity killed the cat".

Yugi terlihat ragu, sebelum menghela nafas kalah, menutup bukunya. "Apa yang ingin kau tahu?"

Atem tersenyum menang. "Semuanya. Tolong jawab, apa kau benar-benar... itu?" Dia memutuskan untuk tidak menggunakan kata 'vampir', takut itu akan melukai perasaan lelaki itu.

"Barbahaya bagimu untuk mengetahuinya."

"Tidak apa-apa. Gw udah siap resikonya. Dan gw nggak peduli elo itu apa."

Helaan nafas keluar lagi dari mulut Yugi, menyerah atas kekeraskepalaan gadis itu. "Ok. Tapi, jangan sekarang."

"Malam ini?" tanya Atem.

Dia mengangguk.

"Deal. Gw bakal nunggu, jangan khawatir, gw nggak bakal lari," goda Atem.

"Lebih baik elo pastikan itu." balas Yugi dengan nada mengejek. Tapi dibalik nada itu, Yugi serius.

Atem bersandar santai. "Elo tahu, Mutou-san, gw selalu ingin bertemu dengan lelaki yang sering muncul di mimpi gw. Dan gw ingin berteman dengannya."

"Oh... dan apa hubungannya itu sama gw?" tanya Yugi, tidak tertarik, tubuh bersandar santai.

"Karena lelaki itu... kau."

Kesunyian menyeruak, yang terdengar hanyalah suara angin berhembus. Menerpa dedaunan yang gugur. Kedua mata Yugi melebar, sementara Atem tersenyum dengan poni menutupi kedua matanya.

Suara bel sekolah memecah keheningan. Atem tersentak, dia langsung berdiri, menarik Yugi berlari menuju kelas. "Kita telat!" teriaknya.

Tidak menyadari bahwa Yugi menatap lembut ke arah tangan mereka.


Pintu terbuka keras, Atem terengah-engah dengan Yugi berdiri di belakangnya. Sebuah buku menepuk kepalanya pelan.

"Kalian telat." kata seorang wanita muda berambut pirang bergelombang.

"Maaf, Mai-sensei." kata Atem. Semua anak di kelas tertawa.

Mai menggigit rokok dan menyalakannya. "Tidak apa-apa. Baru sekali ini kamu terlambat di kelasku. Tapi, jangan diulangi lagi, mengerti?"

Atem mengangguk. Dia dan Yugi lalu berjalan menuju bangku mereka.

Dengan tatapan dan ikon 'love' dari para siswi, mengikuti mereka.

Atem menghela nafas. Dasar cewek... dan cowok idaman mereka.

Tepukan tangan terdengar ketika Atem dan Yugi telah duduk di bangku masing-masing. "Oke, kita lanjutkan pelajaran." Mai menghisap rokok sebelum menghembuskannya.

"Hei, tidak baik guru merokok."

Mai melirik ke arah murid-muridnya. Dia duduk di atas meja, kaki disilang. "Siapa loe beraninya menentukan apa yang nggak boleh gw lakukan?"

Semua murid di kelas sweatdrop.

Benar-benar guru preman.

"Gw." kata Seth, tatapan mata dingin, tidak menggunakan bahasa sopan. "Dan sebagai murid, gw bisa lapor ke kepala sekolah tentang sikap loe. Lalu... tahu sendiri, kan?" Seringaian terlihat.

Mai terdiam menatapnya, sebelum menghancurkan rokok dengan tangannya. "Tch."

Atem menghela nafas. Kenapa, sih, kelasnya selalu mendapat guru yang aneh?

Secarik kertas mendarat di mejanya, dia mengambil dan membukanya.

.-.-.

Atem, maaf gw nggak bisa nanya langsung, gw mau nanya pas waktu istirahat, cuma kayaknya elo lagi ngobrol serius sama Yugi. Gw nggak mau ganggu kalian. Gw cuma bingung, apa elo mau pergi ke pesta dansa sama gw nanti?

.-.-.

Atem menghela nafas lagi. Terima? Atau tidak? Seth bilang dia tidak tertarik pada Joey. Masih, Atem merasa kalau mereka berdua cocok. Apa yang harus dia tulis untuk menolaknya? Dia melirik ke lelaki di sampingnya. Yugi terlihat mencoba menahan senyum, atau mungkin tawa. Kenapa, sih, tuh cowok?

Mungkin dia bisa pura-pura sakit? Yeah, itu solusi terbaik.

.-.-.

Maaf, Joey. Gw belum mutusin mau pergi atau nggak. Kayaknya gw bakal pura-pura sakit. Elo tahu, kan, kalau gw benci banget sama segala macam pesta. Jadi, kenapa nggak ajak Seth saja? Gw yakin dia bakal nerima.

.-.-.

Dia melempar catatan itu ke meja Joey. Tidak ada balasan apapun, dan itu membuat Atem merasa tidak enak.

Secarik kertas terlihat di mejanya.

.-.-.

Kasihan, Joey.

.-.-.

Dia menatap dingin ke arah lelaki di sampingnya.

.-.-.

Elo ngintip suratnya.

.-.-.

Yugi terkekeh membaca itu, lupa bahwa guru mereka mengajar di depan kelas.

.-.-.

Pura-pura sakit? Elo benar-benar nggak kreatif. So, kalau gw mau elo jadi pasangan gw, apa elo bakal terima?

.-.-.

Alis Atem berkedut.

.-.-.

Oh, ya? kayaknya gw bakal nolak, secara gw udah bilang Joey kalau gw nggak bakal datang ke pesta. Vampir bodoh.

.-.-.

Yugi tersenyum, dia lalu menulis.

.-.-.

Gimana kalau elo bilang ke mereka bahwa gw ngancem elo? Ngomong-ngomong, gw nggak suka dua kata terakhir. Gw nggak sebodoh yang elo duga, bocah.

.-.-.

Heh, bocah? Atem menaikkan sebelah alis. Maksudnya? Dia melirik ke arah Yugi. Mengancam? Boleh juga, tuh.

Bel berbunyi lagi menandakan pelajaran telah selesai. Mai keluar kelas, tentu saja setelah memberi macam tugas sebagai oleh-oleh untuk para muridnya yang manis.

Dan semuanya mengerang keras.

Yugi beranjak dari bangkunya, mau berjalan pergi.

"Pegang kata-kata elo. Malam ini." kata Atem tanpa menoleh, sibuk memasukkan bukunya. Yugi mengangkat bahu, dan meninggalkan kelas.

"Atem-chan! Elo nolak tawaran Joey jadi pasangannya?" seru Honda, memasang ekspresi horor. Atem tahu bahwa dia hanya main-main. Honda selalu seperti itu. Beruntungnya, Joey sudah pulang.

"Gw nggak yakin bakal ke pesta atau nggak, jadi gw bilang ke dia supaya dia ngajak orang lain saja. Ada yang salah, Honda?" tanya Atem curiga.

"Ya... nggak, sih." Honda nyengir, menggaruk belakang kepalanya. "Seth-chan jalan sama Joey."

"Gw tahu. Gw yang nyuruh Joey ngajak Seth." kata Atem. Dalam hati bersyukur Seth pulang duluan, kalau sepupunya itu mendengar mereka membicarakannya, bisa berabe.

"Kedua orang itu bakalan jadi pasangan yang menarik," kata Honda.

Atem tersenyum. "Yeah. Dan gw mencintai mereka berdua." Dia menunjuk Honda. "Elo dan Anzu juga pasangan yang menarik, Honda."

Honda meringis.

"Oke, gw duluan, ya!" seru Atem, mengangkat sebelah tangan, pergi keluar kelas dengan terburu-buru. Senyum kecil terlihat di bibirnya. Dia tidak sabar menunggu malam ini, kebenaran akan terkuak, semua kebenaran. Dia yakin akan satu hal; Yugi adalah vampir. Dan dia memantapkan pikiran untuk tidak menjauh dari lelaki itu. Malam ini semuanya akan jelas. Semuanya.

TBC...

A/N :

Narator : (Background kembang api) WELCOME TO REVIEW'S ROOM! (bows) Jawaban review di bawah ini sekaligus review dari fic "The Story of the Desert Kingdom", karena... entahlah... author tidak mengizinkan.

[Pintu berdebam terbuka, Author membungkuk terengah-engah. Baju acak-acakan, tidak terpakai sempurna. Kancing celana masih buka. Rambut super duper amburadul. Sisanya, tak bisa digambarkan]

Narator : Ara? Author? Udah selesai?

Author : (berjalan ke arah Narator, mencengkeram kerah lehernya. Nada suara dingin penuh aura membunuh) Jelaskan kenapa gw bisa ada di ranjang dengan Atem, telanjang, dan ruangan bau keringat, darah, dan... sesuatu yang lain.

Narator : (menelan ludah) I-i-itu...

Kaiba : (menyela) Gimana kalau elo lihat sendiri rekamannya?

Author : (menatap dingin ke arah Kaiba, sebelum berjalan menghentak-hentak menuju laptop)

Narator : (TvT) 'Kaiba... kau penyelamatku...'

###

To Messiah Hikari : Thank you for your review.

Iblis Kira : Dia lagi yang pertama?

Bakura : (memutar bola mata) Yeah... rasanya kayak dia hidup hanya untuk membaca fic.

Kaiba : Biarpun di fic ini gw cewek, gw musti tetap posesif ke dia. (smirk) Karena dia piaraan gw, so back off, you bloody f*cking perverted bitch. (dilempar asbak. Death glare ke arah Narator sambil memegang kepalanya yang bejol gede)

Narator : (super innocent face) Jangan mengumpat pembaca. Dilarang pakai bahasa kasar, karena ada kemungkinan anak kecil juga baca fic ini.

###

To Sweet lollipop : Thanx.

Narator : Tidak masalah reviewnya pendek. Author masih menghargainya.

Author : You f*cking shit perverted soul! Bastard! You son of a b*tch! D*ck head! I hate you, Shin!

Semua : (melempar kepala Author dengan memakai barang sekitar)

Kira, Bakura, Kaiba : LANGUAGE, YOU B*TCH!

Narator : (melempar manekineko raksasa ke arah trio keparat) LANGUAGE, LIMP D*CK!

Malaikat Light : (geplak Narator pakai tulangnya Ryuk) DON'T SWEAR IN FRONT OF READERS, ALL OF YOU!

Sasuke : (sweatdrop) Kayak permainan "Swear and beat up".

Semua : (menatap ke arah Light terkejut, berlumuran darah, ekspresi horor) Light? Kemana aja? Baru kelihatan!

Malaikat Light : (menggerutu) Balik ke fandom DN. Gw ke sini cuma numpang lewat, mau nganterin Sasuke di sana balik ke fandom asalnya karena dia takut nyasar. (dichidori)

Sasuke : (death glare) Siapa yang takut nyasar? Gw bisa balik sendiri. (berjalan ke arah kiri)

Malaikat Light : (sweatdrop) Arah fandom Naruto ke kanan, bego.

Sasuke : (berhenti, sebelum berbalik dengan wajah merah)

###

To Dika the Reborned Kuriboh : Thank you.

Kaiba : (Death glare. Telepon di tangan)

Jounochi di telepon : (ngantuk) Halo...?

Kaiba : Hei, apa hubungan lu en Yugi dulu?

Jounochi di telepon : (ngelindur) Eh...?

Kaiba : Apa Yugi en lu dulu pacaran?

Jounochi di telepon : (udah tepar, ngigau dapet makanan, telepon masih nyala) Em... yeah... aku suka... (tangan tanpa sengaja menekan tombol, telepon mati)

Kaiba : (salah paham, menatap horor ke arah telepon, megap-megap)

Semua : (sweatdrop menatap Kaiba yang masih kayak ikan) Kayaknya dia salah paham...

###

To Death Angel : Thanx.

Narator : (scoffed) Yeah... sangat sibuk, sampai-sampai kamar bau –piiip-.

Author : (melempar Narator pakai remot) I hear that!

###

To marianne vessalius : Arigatou gozaimasu.

Author : (membaca review. Aura gelap bernuansa membunuh menyebar. Melirik ke arah yang lain dengan mata crimson) Siapa yang seenaknya memberitahu umur gw?

Semua : (mundur. Mendorong Kira ke arah Author yang rambutnya perlahan berubah jadi pirang)

Iblis Kira : (OoO)? KALIAN NGGAK SETIA KAWAN!

Author : (menarik kerah Kira, berjalan menuju studio kedap suara)

Iblis Kira : (ToT) NOOOOOOOOOOOOOO!

Siiiiiiiing.....!

Narator : (meletakkan sebelah tangan di dada, menunduk berduka. Background lagu "Gugur Bunga") Pengorbananmu tak akan kami sia-siakan.

Malaikat Light : (mengusap air mata buaya dengan sapu tangan) Hik... farewell, my other half.

Sasuke : (sweatdrop)

Bakura : (membaca kelanjutan review) Ini... reviewnya hampir semuanya spoiler.

Semua : (langsung mendekati Bakura) (o.o) Benar... spoiler, nih.

Kaiba : (terbelalak melihat Gin di ambang pintu) Oh, shit. (Ngibrit)

Gin : (mengejar Kaiba dengan tampang iblis)

Bakura : Divisi 3 Gotei-13, Soul Society, kota Seiretei, itu di mana? (menoleh ke arah Light)

Malaikat Light : (tersentak, berkeringat dingin) Jangan tanya aku, tanya Kira. Dia yang berhubungan dengan dunia shinigami.

###

To Ka Hime Shiseiten : Terima kasih banyak.

Narator : Maksud dengan kata 'tadinya' itu... Atem senang Kaiba jadi cewek, tapi kesenangannya tidak lama karena diperkosa Shin.

Bakura : Ini juga... sukanya ngomongin bokong orang.

Malaikat Light : (menaikkan sebelah alis) Shin itu siapa?

Narator&Bakura : (menatap aneh ke arah Light) Lu nggak tau?

Malaikat Light : (menggeleng kepala)

Narator : Shin itu BBnya Author.

Malaikat Light : (OoO) Author punya karakter BB?

Narator&Bakura : (mengangguk)

Malaikat Light : Oh, shit! L! (ancang2 mau melabrak L)

Narator : (menarik kerah belakang Light) Tenang. Dia nggak terobsesi sama L.

Malaikat Light : (menghela nafas lega) Terus, sama siapa?

Bakura : (menunjuk ke arah pintu gaya victoria) Intip ke dalam sana dan kau akan tahu.

Malaikat Light : (menaikkan sebelah alis, berjalan menuju pintu, membukanya, dan dengan cepat menutupnya kembali. mata selebar piring. Megap2)

Narator : (nyengir) Kayaknya elo udah melukai mata sucinya.

Bakura : (nyengir lebar)

Sasuke : Partner in crime...

###

To Satia Vathi : Terima kasih.

Narator&Bakura : (melambai tangan) Tenang, tenang. Dia sudah puas, kok.

Narator : Dan untuk gambar FemSeth...

Bakura : Author sudah menguploadnya di fb.

###

To mayumikarinzLoveWorld : Thank you very much.

Bakura : Wah, wah... dia bilang fic ini keren.

Narator : (grin) Yep, ini bisa meredakan amarah Author. (bows) Terima kasih atas bantuan anda, walau ucapan anda mungkin hanya memuji saja. kami Sangat menghargainya.

###

Narator : Terima kasih telah membaca fic yang amburadul ini. Review anda sangat Author hargai-

PRANG!

[seorang pria berpakaian serba hitam yang trendi dan bersayap hitam mendarat. Rambut ungunya melambai karena angin]

Narator : (mata lebar) Wha-!

POOF!

[Asap berwarna pink menghilang, memperlihatkan seorang lelaki berpakaian ala pesulap serba putih dari atas sampai bawah. Memakai monocle, cengiran terlihat di bibirnya. Merpati mengelilinginya]

Narator : (menoleh, kaget) Ka-

BRAK!

[Pintu terbuka lebar. Seorang gadis pirang masuk, memakai kimono sampai pertengahan paha berwarna merah dan putih. Dandanan seperti jinny. Rosario emas menempel di baju bagian dada]

Narator : (OoO)

BOOM!

[Asap menghilang. Sesosok pria berpakaian hitam, memakai monocle, terlihat. Cengiran jahil tersungging]

[Seorang wanita berambut jingga pendek masuk. Tato jeruk dengan baling-baling tercetak di lengan atasnya. Membawa semacam tongkat aneh]

Nami : Yo, Bakura! Lama tidak jumpa!

Bakura : (nyengir) Yeah... kapan, ya, terakhir kau mampir... waktu ke Arabasta?

Kaito Kid : (bows) Aku tidak menduga akan bertemu dengan anda, Mr. Lupin.

Lupin : (nyengir, bows) Sama-sama. Aku juga tidak menduga akan bertemu pencuri glamor yang sama seperti aku.

Jeanne : (mata melebar melihat lukisan di sudut dinding) Itu dia! Ada iblis di lukisan itu! (siap2 mau mengambil lukisan)

Dark : (menggaet pinggang Jeanne. Berbisik dengan suara yang husky) Maaf, lady. Tapi itu juga lukisan keluarga Hikari, so... (membuka sayap, terbang meraih lukisan) Lukisan ini milikku!

Narator : (XoX)? KENAPA SEMUA PENCURI ADA DI SINI?

Para pencuri : (tidak mempedulikan Narator. Asyik melakukan kegiatan mereka masing-masing)

Narator : (T-T)

...

....

......

With a lot script and heist,

#

Narator dan Asosiasi Pencuri.