Disclaimer : Yu-Gi-Oh isn't mine. I'm sure you've known it.

Warning : Membosankan. OOC. FemAtem&Seth.


AUGUST 2019

TRUTH


Atem berjalan bolak-balik di kamarnya, mulutnya sibuk menggumamkan sesuatu bagaikan mantera. Dia berhenti, berdiri sembari menghentak-hentakkan kakinya, kedua tangan terlipat di depan dada, namun hal itu justru tidak membuatnya tenang, sehingga dia kembali berjalan melingkar.

Dia merasa tegang malam ini. Yugi akan datang berkunjung ke rumahnya. Masalahnya, dia tidak tahu jam berapa dan dengan cara apa lelaki itu datang. Apa yang akan dia lakukan jika Yugi memutuskan untuk masuk dengan cara manusia? Bisa-bisa dia akan dikubur hidup-hidup oleh orangtuanya jika mereka tahu dia mengundang lelaki selain Joey. Terlebih lagi, lelaki yang dia undang itu adalah vampir. Mereka pasti akan mencabik-cabiknya dan mengumpaninya pada para piranha piaraan kakaknya.

Tunggu, mereka tidak akan tahu jika dia tutup mulut. Santai.

Pikirannya kembali mengarah pada Yugi. Sekarang sudah jam sepuluh, apa lelaki itu berniat membuatnya menunggu sampai tengah malam? Nggak berperasaan banget. Dia tetap melanjutkan kegiatan yang sama sekali tidak mutu, merasa tegang dan gugup di saat yang sama.

Malam ini, mereka sepakat menetapkan kapan. Tetapi, jam berapa tepatnya? Atem mulai kehilangan kesabaran.

"Hey." Terdengar suara dari belakang Atem.

"Waaaaaaaaaa!" jerit Atem, melompat kaget. Dia berbalik, mendapati Yugi berdiri santai di sana. Mata gadis itu lebar. "Kapan lu..."

"Beberapa detik lalu." Yugi memotong ucapan Atem.

Atem mendelik kesal ke arahnya. "Lu sadar kalau lu udah ngebuat gw nunggu selama berjam-jam."

Yugi terkekeh, membuat gadis itu memutar bola matanya.

"Itu nggak lucu." tukas Atem, dia duduk di sofa kamarnya, menunjuk sofa di sebelahnya. "Duduk."

Yugi berjalan mendekatinya, dan duduk di sofa yang ditunjuk.

Atem menyilangkan kakinya. "Sekarang, ceritakan."

"Ceritakan apa?" tanya Yugi – sok – polos.

"Apa lu bener-bener... kau-tahu-apa?" tanya Atem, tidak sanggup mengatakan kata 'vampir'.

Yugi menyeringai, memperlihatkan taring putih yang tajam. "Apa gw musti ngejawab itu?"

Gadis itu menggelengkan kepala. "Tidak. Cuma pengen yakin aja." Sebenarnya dia berharap Yugi hanya bercanda mengenai identitasnya, tapi... tentu saja itu mustahil.

"Elo nggak takut?" tanya Yugi, setelah keheningan panjang terjadi di antara mereka.

Atem memutar bola matanya. "Pertanyaan yang sangat bagus," katanya sarkastik. "Ngapain juga gw ngundang lu ke rumah gw kalau takut? Gw bisa langsung kabur abis tahu lu ini apa, tapi gw nggak melakukan itu." Dia menatap Yugi dalam-dalam. "Gw nggak takut sama elo." lanjutnya tenang.

"Poin diterima." kata Yugi, nada suara gelap.

'Sikapnya aneh malam ini', batin Atem. Dia berpikir Yugi senang mengetahui bahwa ada orang yang tidak takut padanya. Tapi...

"Hei, Mutou-san. Kenapa lu ada di sini kemarin?" tanya Atem, pandangan menyelidik.

Yugi bergerak-gerak gelisah. "Hm... itu... gw nggak bisa bilang."

Dahi Atem berkedut. "Geez. Kok, gitu, sih. Lu bilang bakal ceritain semuanya!"

Yugi menghela nafas. "Jawab pertanyaan gw dulu. Mimpi apa yang elo alami itu?"

Atem terdiam bertopang dagu, helaan nafas keluar dari mulutnya. Dia sudah menduga bahwa Yugi akan menanyakan itu, tapi dia tidak siap untuk menceritakan kepadanya. Dia takut melukai perasaan Yugi, atau malah membuat lelaki itu marah, apalagi jika hal itu membuat Yugi tidak mau bicara padanya lagi. Dia sudah bertekad untuk menjadi temannya, dan tidak menginginkan hal itu terjadi. walau begitu, jika dia menolak untuk bicara, Yugi pasti akan membuatnya bicara.

Okelah... here goes nothing.

"Lu ingat gambar yang gw buat? Gw selama ini selalu mimpiin itu lagi dan lagi, membuat gw penasaran. Gw selalu bertanya-tanya. Siapa cowok itu? Apa yang dia lakukan di sana sendirian? Ada begitu banyak pertanyaan sampai-sampai gw nggak bisa nyebutin semuanya. Gw ingin bertemu dengan cowok itu. Gw ingin lebih mengenalnya, menjadi temannya, selalu ada untuk menghiburnya, jadi dia nggak bakal sendiri lagi. Terus, elo datang. Awalnya gw kaget, elo dan cowok itu mirip banget. Jadi, gw tertarik sama elo. Gw ingin tau apa hubungan elo sama cowok yang ada di mimpi gw. Apa kalian berdua itu orang yang sama atau bukan? Itu mimpi yang pertama. Dan mimpi yang lainnya..." Atem berhenti sesaat untuk melihat reaksi lelaki itu. Yugi terlihat tertarik, membuat Atem merasa dia tidak bisa mundur lagi. Gadis itu menelan ludah, mengumpulkan keberaniannya untuk menceritakan kepada Yugi mengenai mimpi berdarah itu. "...adalah mimpi buruk... tentang elo. Sebagai vampir. Yang membantai seluruh keluarga gw." Dia menunduk. "Maaf," ucapnya, begitu melihat pandangan terluka dari mata violet Yugi. Dia memutuskan untuk tidak menceritakan mimpi tentang Yugi menghisap darahnya. Karena dia tahu, Yugi akan semakin teerluka jika dia menceritakannya.

"Jadi, elo tahu gw ini vampir, dari mimpi?" tanya Yugi, setelah kesunyian yang panjang.

Atem mengangguk. Sekarang, dia pikir-pikir lagi, kenapa dia bisa tahu kalau lelaki di hadapannya ini adalah vampir? Itu tidak logis dan juga tidak nyata. Dia melihat ekspresi Yugi. Lelaki itu terlihat tenang dan senang.

"Oke, sekarang jawab pertanyaan gw. Kenapa elo ada di atap tetangga gw kemarin?" tanya Atem, dengan nada memerintah.

"Ceritanya panjang."

"Tidak masalah. Pagi masih lama."

Yugi menghela nafas. "Gw musti bilang satu hal dulu. Mimpi buruk elo itu bisa menjadi kenyataan. Gw bisa ngebunuh elo dengan mudah, kapanpun."

Atem mengangkat sebelah alis. "Gw tahu elo nggak bakal ngelakuin itu." kata Atem, dengan ekspresi 'ke-nya-taan-nya'. Dia memang tidak bisa membaca pikiran orang lain, tetapi instingnya mengatakan bahwa dia bisa mempercayai lelaki disampingnya..

"Gw kadang-kadang susah mengendalikan diri untuk tidak membunuh manusia, dan mungkin saja elo yang bakal jadi korbannya." ujar Yugi lembut.

"Gw yakin elo bisa menahan diri."

Yugi mengerutkan alis. "Kenapa, sih, elo segitunya percaya sama gw?" tanyanya bingung.

Atem menghela nafas. "Yugi Mutou," mulainya, "elo bisa ngebunuh gw kapanpun, waktu gw sendiri bareng elo, dan elo nggak melakukannya. Elo bahkan bisa ngebunuh gw sekarang, tapi elo memutuskan nggak melakukannya."

Yugi tersenyum mendengar jawaban Atem.

"Kembali ke pertanyaan." perintah Atem.

Yugi merasa ragu. "Itu... gw mengawasi elo. Gw terima, elo menarik. Gw penasaran sejak gw pertama ngelihat elo, dan juga gambar itu." Dia berhenti sesaat, sebelum melanjutkan. "Gw harus buat yakin keberadaan kami tersembunyi, atau... gw harus... ngebunuh elo." Dia terlihat enggan untuk mengatakan kata terakhir itu.

Dalam hati Atem tertawa sarkastik. Haha, disinilah dia, duduk santai malam-malam di kamar dengan lelaki yang berniat membunuhnya jika dia bermulut ember.

"Jangan khawatir, gw nggak bakal ngebunuh elo," tambah Yugi dengan cepat. Dia khawatir dia membuat Atem takut dengan kata 'membunuh'.

Atem mengangkat bahunya. "Gw nggak khawatir." Dia baru mau bertanya lagi ketika suara ketukan pintu terdengar. Kedua matanya lebar, dan dia mengerang jengkel.

"Cepat sembunyi." bisiknya, sementara dia membuka klosetnya, menyuruh lelaki itu bersembunyi di dalamnya. "Cepat, Mutou-san! Nggak ada waktu masang ekspresi aneh kayak gitu! Jangan bilang elo takut gelap, atau takut nggak bisa nafas di tempat sempit tanpa ventilasi?"

Yugi terkekeh sembari melangkah masuk ke dalam kloset. Sebelum Atem menutup pintunya, dia membisikkan sesuatu di telinga gadis itu. "Gw sembunyi dalam kegelapan selama bertahun-tahun, dan elo lupa kalau gw nggak perlu bernafas."

Pipi Atem merona. Yeah... itu konyol. Dia lupa tentang hal kecil itu. Dia menutup pintu kloset, dan cepat-cepat membuka pintu kamarnya. Lelaki berambut putih panjang dengan mata abu-abu, berdiri di sana, tersenyum kepadanya. Kedua mata Atem melebar, dan langsung memeluknya.

"Kak Ryo! Kapan pulangnya? Kok, nggak bilang-bilang!" seru Atem, setelah melepaskan pelukan.

Ryo menepuk kepala Atem dengan lembut, cengiran di bibirnya. "Nggak bakal jadi kejutan kalau bilang, kan?" Dia melihat Atem dengan seksama. "Wow, adik kecilku yang dulu berdada rata, beberapa bulan nggak ketemu saja sudah kelihatan dewasa!" godanya.

Atem berkedut mendengar kata 'berdada rata'. "Dadaku nggak rata, Akefia." Atem melancarkan death glare ke arah kakaknya.

Cengiran Ryo justru semakin lebar, dia lalu memeluk Atem, sister complex mode ON, ikon love melayang di atas kepalanya. "Wah... sudah lama nggak denger nama panggilan itu. Kangen, deh."

Atem berusaha mendorong kakaknya. "Lepasin, pedo! Aku ogah digerayangi sama kakak!"

Ryo melepaskan pelukannya. "Kamu sudah mau tidur?" tanyanya, melihat kamar Atem yang gelap.

"Nggak- ah! maksudku, iya! Aku sudah benar-benar ngantuk. Nggak apa-apa, kan, kalau ngobrolnya besok aja?" kata Atem cepat, hampir lupa bahwa seorang lelaki yang mirip dengannya bersembunyi dalam klosetnya.

Ryo mengangkat alis curiga, tapi mengangguk, dia pergi setelah mencium dahi Atem dan mengucapkan selamat malam kepadanya. Atem masuk kembali ke kamar, menuju klosetnya. Rasa terkejut menyergap ketika melihat Yugi sudah tidak ada di dalam kloset. Keringat dingin mengalir, dia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan panik. Kemana dia? Masa dia sudah pergi?

"Wah, wah, itu reaksi yang diluar dugaan." Suara yang lembut terdengar dari belakang. Atem langsung tersentak berbalik.

"Mutou-san! Jangan ngagetin gw terus! Gimana kalau gw kena serangan jantung!" sahutnya kaget, memegang dada kirinya. Ups... semoga Yugi menganggap kata-kata yang terakhir sebagai candaan. Dia tidak ingin siapapun tahu mengenai keadaan tubuhnya. "Gimana elo bisa keluar dengan cepat?" tanyanya bingung.

"Pintu bukan masalah buat gw. Ras kami jauh dari normal. Kecepatan, indra pendengaran, penciuman, juga penglihatan kami seribu kali lebih baik dibanding manusia normal." Yugi menjelaskan.

Atem menatapnya takjub. "Wow, hebat. Coba kalau gw punya kelebihan itu, gw bisa juara olimpiade balap lari." Dia menepuk bahu Yugi. "Ngomong-ngomong, maaf udah ngebuat elo sembunyi di dalam kloset." Dalam hati dia merasa takut, mimpi buruk tentang Yugi membunuh Ryo kembali terbayang di pikirannya. Keraguan kembali menyergapnya. Yugi tidak akan membunuh Ryo, kan?

"Nggak apa-apa. Tapi..." Cengiran terlihat di wajah Yugi. "Gw nggak pernah menduga elo pakai daleman gambar peri. Kekanak-kanakan banget."

Wajah Atem langsung merah padam. "Mutou-san!" bentaknya malu. Dia mencoba memelankan suaranya, tidak ingin membangunkan semua orang. Beraninya Yugi melihat dalemannya! Dia tidak bisa percaya berada satu kamar dengan vampir mesum!

Yugi mengangkat kedua tangannya. "Hei, hei. Salah elo sendiri laci tempat daleman nggak ditutup."

Ucapan Yugi ini membuat wajah Atem semakin merah.

Ekspresi Yugi melembut. "Elo harus tidur."

Atem melirik jam, sudah hampir tengah malam. Dia menguap, baru menyadari rasa kantuk. Waktu benar-benar cepat berlalu ketika dia bersama lelaki itu.

"Tapi, gw masih ingin ngobrol sama elo." kata Atem.

Yugi mengelus sejumput rambut Atem, sebelum menelusupkannya ke belakang telinga gadis itu. "Kita masih punya besok."

Sentuhan Yugi yang lembut membuat Atem semakin mengantuk. "Tapi, elo pasti bakal nyuekin gw."

"Nggak bakal."

"Janji?"

"Yeah."

"Yeah, tidak. Atau yeah, iya?"

Yugi menghela nafas kalah. "Gw janji..." erangnya, keengganan terdengar dalam suaranya.

Atem tersenyum ketika mendengar jawaban Yugi. Dia merasa seperti ibu yang mengomeli anaknya. Dia tertawa kecil.

Yugi menepuk kepala gadis itu pelan. "Sekarang, tidur."

Atem melenggang menuju ranjangnya, sembari mengatakan, "Ya, ibu...". Membuatnya mendapat tatapan tajam dari lelaki itu.

Atem berhenti melangkah. "Elo bakal pulang?" tanyanya.

"Ya, iyalah. Masa, ya, iya dong." jawab Yugi sarkastik.

Kekecewaan terasa di hati Atem. "Oh, begitu. Kalau begitu, sampai jumpa besok." katanya, setengah hati. Dia berharap Yugi tinggal lebih lama, setidaknya sampai dia tidur. Tapi, itu tidak mungkin terjadi.

"Kenapa?" tanya Yugi, menyadari perubahan ekspresi Atem.

Atem tersenyum. "Nggak ada." dia berbohong. Bagaimana mungkin dia bisa mengatakan bahwa dia ingin Yugi tetap di sisinya?

Yugi tersenyum lembut. Dia mengelus pipi gadis di hadapannya dengan jemarinya yang dingin. Atem bisa merasakan jari-jari dingin lelaki itu, terlalu dingin untuk manusia biasa, seperti gumpalan es. Wajahnya langsung merah ketika mimpi tentang Yugi menciumnya kembali terlintas dalam pikirannya.

Dia tahu bahwa dia akan menghancurkan suasana, tapi dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya. "Pulangnya gimana?" tanyanya, merasa konyol. Apa boleh buat, dia harus yakin bahwa Yugi tidak lewat pintu depan, bisa mati dia kalau begitu.

"Lompat dan lari kayak maling, mungkin?" kata Yugi, dengan nada mengejek.

Atem masuk ke dalam selimut. "Yah... kalau begitu hati-hati, jangan sampai kepergok polisi." Atem memutar bola matanya. "Oh, iya. Tentang tawaran elo itu..."

"Ya?"

"Gw bakal pergi ke dansa sekolah bareng elo." Atem menguap. "Gw sudah netapin pikiran gw. Benar-benar, deh. Pesta dansa itu bakalan jadi pesta dansa paling aneh yang pernah gw alami. Secara, pasangan gw vampir."

"Elo yakin? Joey gimana?" tanyanya dengan alis terangkat.

Atem mengibaskan tangannya cuek. "Nah, gw bakal bilang kalau gw tiba-tiba tertarik, atau mungkin gw bilang kalau elo nyulik dan ngancem gw." Dia memasang pose ala Conan, tampang serius.

Seringai licik terlihat di bibir Yugi. "Gw lebih milih yang bagian 'menculik'."

Gadis itu memasang ekspresi aneh. "Hei, hei... gw cuma bercanda, Mutou-san. Gw bakal bilang... entahlah, gimana nanti saja." Dia masih belum memikirkan alasan apapun. Mungkin dia harus merahasiakan hal ini sampai hari H.

Yugi mengangkat bahu. "Cocok, deh." Dia mengelus dahi Atem, membuat mata Atem menutup. "Gw musti pergi sekarang. Met tidur, fairy." Yugi menyeringai ketika mengatakan kata terakhir. Sebelum Atem bisa membentaknya, dia menghilang. Bukan benar-benar menghilang, hanya bergerak terlalu cepat sehingga mata manusia biasa tidak bisa mengikutinya.

Atem terdiam lama, sebelum menepuk dahinya dengan keras. "Ya, ampun! Gw lupa tanya hubungan dia sama Joey! Aaaah... bego ametan, sih, gw ini!" omelnya pada diri sendiri.

Dia menghela nafas. Dia ingin mengobrol lebih banyak dengan Yugi. Dia ingin lebih mengenalnya. Ingin menjadi sahabatnya. Dia ingin menemaninya sebelum waktunya tiba. Tangannya mencengkeram dada kirinya, ekspresi pahit terlihat di wajahnya. Baru kali ini dia merasakan sesuatu yang menyesakkan seperti ini. Perasaan apa sebenarnya ini?

Helaan nafas keluar lagi dari mulutnya. Tubuhnya bergerak, membuatnya berbaring menyamping. Sekarang dia menjadi tidak sabar menunggu pesta dansa tiba. Bagaimana rasanya pergi ke pesta dansa dengan vampir sebagai pasangan? Itu kejadian langka. Dia menyeringai atas pemikiran itu.

Sepertinya akan menarik.

TBC...

A/N :

Kaito Kid : (menjentikkan jari, ledakan asap dan merpati keluar)

Narator : WELCOME AGAIN TO REVIEW'S ROOM! (bows) Sekarang, karena tokoh yang biasanya sedang sibuk – sibuk ngehajar, sibuk jadi korban, sibuk dikejar-kejar, sibuk megap-megap, dsb – kali ini kita ditemani beberapa bintang tamu dari fandom-fandom lain yang merupakan anggota asosiasi pencuri! (mengibaskan tangan) DAN INILAH MEREKA! (menunjuk ke arah Kid) Pertama, seorang pesulap berbaju serba putih yang disebut-sebut pencuri bulan purnama! Pencuri yang hanya mengincar permata! MARI KITA SAMBUT, KAITO KID!

Kaito Kid : (bows like a gentleman) Konbawa, Ladies and gentlemans!

Narator : Di sebelahnya merupakan pencuri yang menjadi inspirasi Kaito Kid, pencuri Perancis yang glamor, disebut-sebut sebagai saingan Sherlock Holmes yang terkenal, LUPIN!

Lupin : (bows, mengangkat topinya, cengiran di wajahnya) Bonjour, mesdames et messieurs.

Narator : Berikutnya, seorang navigator wanita yang menjadi kru pertama di kapal Going Merry dan Thousand Sunny milik Kapten Monkey D Luffy! Terkenal dengan sebutan Kucing Pencuri! Mari kita sambut, NAMI!

Nami : (tersenyum, melambai ke arah pembaca) Halo!

Narator : Lalu, seorang pencuri wanita lain, reinkarnasi dari Jeanne D'Arc. Titisan Dewa dengan tugas menyegel iblis dalam barang seni! JEANNE!

Jeanne : (Melambai ceria) Halo, semuanya.

Narator : Dan terakhir, pencuri bayangan bersayap hitam yang berkharisma! Catatan pencuriannya tidak pernah ada yang gagal! Kuulangi, TIDAK ADA YANG GAGAL SATUPUN! Pencuri yang telah ada selama 300 tahun! Kita sambut, DARK MOUSY!

Dark : (Nyengir, jarinya membentuk tanda 'peace'. Dibelakangnya, para pencuri lain menatap tajam ke arahnya karena iri) HELLO, BEAUTIFUL LADIES!

Narator : (menaikkan sebelah alis) Kok, cuma para cewek yang disapa?

Dark : Karena cewek itu harta dunia.

Narator : (bergumam) Nggak nyambung. (menghadap pembaca) Nah, sekarang-

Bakura : Tunggu! Kok, gw nggak disebut?

Narator : Karena emang nggak perlu! (bergumam, menghiraukan Bakura yang pundung di belakang) Dasar. (tersenyum ke arah pembaca) Ah... di bawah ini adalah jawaban review anda!

###

To Satia Vathi :

Kaito Kid : (mencium punggung tangan Sathia, tersenyum) Terima kasih atas review anda, Ojo-sama.

Narator : (memutar bola mata) Mulai lagi. Dasar cowok, sukanya ngerayu cewek. (membaca review) Oh... untuk keadaan Atem... (membuka pintu gaya victoria) Kenapa nggak lihat sendiri saja?

###

To Ka Hime Shiseiten :

Dark : (memegang dagu Ka. Smirk) Sebagai tanda terima kasih, (mendekatkan wajahnya) bagaimana jika kuberi satu ciuman manis? (jarak antara wajah tinggal sesenti)

Narator : (mendorong Dark) Sudah, cukup! Jangan sekuhara pereview!

Dark : (cemberut)

###

To Sweet Lollipop :

Lupin : (bows like gentleman) Bonjour, mesdame.

Narator : (menghela nafas) Setidaknya ada pencuri yang normal.

Lupin ; (mencium punggung tangan Sweet Lollipop, memberi bunga mawar) Bagaimana jika kita kencan besok, nona manis?

Narator : (menepuk dahi)

###

To Death Angel :

Jeanne&Nami : Thanx sudah mereview!

Narator : (tersenyum menerawang) Aaaah... akhirnya ada yang normal. (membaca review) Syukur si Kaiba sekarang lagi nggak ada. kalau ada, kamu sudah dibantai sama dia gara-gara kamu nyebut dia si tampang WC, Angie.

###

To marianne vessalius :

Narator : (bows) Thanx a lot for your review.

Bakura : Berisik. Cuma karena gw nggak tau, lu bisa ngebesar-besarin masalah!

Narator : (menjitak Bakura) Diem lu! Jangan kasar ke pembaca!

Dark, Kid, Lupin : (host-style) Maafkan atas ketidaksopanan dia. Maklum panasnya gurun sudah mengeringkan otaknya.

Bakura : HEI!

###

To Messiah Hikari :

Narator : (mundur) Dia marah...

Bakura : (menelan ludah) Bener, dia marah...

Nami : Kenapa, sih?

Jeanne : (menutup mata cuek) Itu... Messiah-san selalu menjadi pereview pertama fic ini, dan lalu di chapter sebelumnya Bakura bilang bahwa hidup Messiah-san hanya untuk baca fic gara-gara hal itu.

Nami : (tertawa gugup) Haha... Bakura benar-benar pintar membuat musuh tak terduga.

Kaito Kid : Terima kasih atas review anda. (bows) Bagaimana jika anda redakan amarah anda dan memaafkan dia, (mencium punggung tangan Messiah, senyum berkharisma) beautiful lady?

###

To Ulquiorra Si Manusia Kelelawar :

Narator : Wah... ada orang baru. (confetti dimana-mana) Thank you for your review, and welcome to Author's crazy world!

Bakura : Pen-name orang ini ngingetin gw sama judul film nggak mutu.

Narator : (jitak Bakura) Jangan kasar sama mangs- eh! konsumen baru!

Dark : (melirik Narator) Mangsa? Lu tadi mau bilang 'mangsa'?

Narator : (bekep Dark) Ah... kalau mau melihat Atem memakai gaun dan berdansa dengan Yugi, Author bisa menggambarnya. Anda bisa memberitahu fb anda, dan Author akan mentag gambar itu, jika anda tidak keberatan.

Jeanne : Kau ini, ngumbar fb orang.

Narator : (shrugged) Yah... sudah terlanjur banyak yang tahu.

###

To un-sane bloody eater :

Narator : Haha... pendatang baru. (bows) Terima kasih atas review anda.

Bakura : Mimpinya aneh...

Dark : Yep, aneh baget.

###

To ketsueki kira :

Lupin dan Dark : (takjub) Banyak, ya, yang namanya 'Kira'.

Nami : (memeriksa kuku) Begitulah. Nama pasaran, kayak namanya Author, O- (dibekep Narator)

Narator : Jangan beritahu namanya! Jangan! Chastity bakalan ngebantai kita kalau tahu para pembaca tahu namanya!

*sayup-sayup terdengar keributan Narator, dkk.*

Kaito Kid : (bows) Terima kasih atas reviewnya.

###

Narator : (bows with Kid and Lupin) Terima kasih telah repot-repot membaca fic yang amburadul dan tidak seru ini, ditambah lagi mereview. Saya yakin Author sangat menghargai review anda.

Dark : (Host smile) French kiss dari 3 pencuri hot untuk tiga pereview pertama!

Narator, Nami, Jeanne : (geplak Dark) Pervert!

Lupin : (menggosok-gosok dagu) Hm... aku tidak keberatan. (nyengir ke arah Kid)

Kaito Kid : (balas nyengir)

Narator : (death glare)

Para pencuri : (bows together) Please review if don't mind! (background merpati + confetti + pink smoke + kembang api)

...

...

...

With a lot script and heist,

#

Narator dan Asosiasi Pencuri.