Disclaimer : Yu-Gi-Oh isn't mine and I'm sure you've known it.

Warning : OOC. Tidak nyambung. Genderswitch. Tidak seru.


OCTOBER 2019

HALLOWEEN DANCE

Part.1


Atem terdiam menatap pantulan bayangan dirinya di cermin, dan merengut. Ini tidak seperti dirinya, karena ini bukanlah style-nya. Dia melepas gaun yang dia pakai, melemparnya ke tumpukan gaun di sofa, sebelum mengambil pakaian lain dari lemari.

'Inilah kenapa aku nggak mau datang ke pesta dansa.' Dia menghela nafas. 'Terlalu merepotkan.' batinnya sembari mengenakan terusan panjang sederhana berwarna hitam. 'Sudah begitu temanya kali ini halloween lagi.' Dia menatap bayangannya di cermin, dan mengangguk. 'Kuputuskan jadi itu saja.'

Dia mengambil aksesori hadiah dari kakaknya. Mengikat kain berwarna emas di pinggangnya – seperti mengikat obi, dan memasang aksesori-aksesori lainnya. Kakaknya – yang seorang arkeologi – baru pulang dari penggalian di Mesir, dia membuat duplikat perhiasan-perhiasan yang dikenakan pharaoh pada zaman mesir kuno, dan menjadikannya oleh-oleh karena dia menganggap bahwa itu cocok untuk Atem.

Dan itulah penampilan Atem sekarang.

Seorang pharaoh yang transvestite.

Rasanya dia ingin tertawa walau tidak ada rasa humor di dalamnya.

Dia mengamati lagi pantulan dirinya di cermin. Anting-anting kuningan dengan bentuk seperti sayap burung elang menggantung di telinganya, gelang-gelang bergemerincing di tangannya. Dia mengambil mahkota emas – walau bukan benar-benar terbuat dari emas – dan mengenakannya di dahinya.

Matanya menyipit melihat ukiran mata udjat di tengah mahkota di dahinya. Rasanya dia pernah melihatnya entah di mana. Dia tersentak ketika teringat sesuatu, dan langsung berlari menuju laci di samping tempat tidurnya.

Ya, dia pernah melihat ukiran itu. Sebelum pamannya meninggal, beliau memberikan sebuah kalung kepadanya. Kalung dengan liontin piramida terbalik yang terbuat dari emas murni, yang dia sembunyikan karena dia tidak ingin kalung tersebut direbut ibunya. Kalau dia tidak salah ingat, di liontinnya juga terukir bentuk yang sama seperti ukiran di mahkotanya.

Dia menemukan kalungnya, dan tersenyum ketika mengetahui ingatannya tidak salah.

Akhirnya dia mendapat kesempatan untuk memakai kalung ini tanpa harus khawatir ibunya akan merebutnya. Pasti ibunya akan mengira bahwa kalung ini juga palsu sama seperti aksesori lainnya yang saat ini dia pakai.

Dia mengenakan kalung itu, dan memeriksa penampilannya sekali lagi, sebelum meninggalkan kamarnya dan berjalan menuju ke lantai bawah.

Atem berhenti, terdiam, ketika melihat Ryo dan pacarnya, Isis Ishtar, duduk di sofa ruang tamu. 'Oh, sial,' umpatnya dalam hati. Dia tidak ingin Ryo bertemu dengan Yugi, pasti kakaknya itu akan langsung overprotective. Atem memutar bola matanya, 'Bagus. Apa tidak ada hal yang lebih bagus dari ini?'

Ryo menoleh ke arahnya, matanya melebar dan mulutnya menganga ketika melihat penampilan adiknya.

Atem mengerutkan alis, merasa sebal. "Apa?"

Lelaki berambut putih itu langsung berlari mengambil kamera, sebelum memotret Atem dari berbagai sisi. "Bagus! Bagus banget! Akhirnya kakak dapat foto pharaoh!"

"Kakak!" teriak Atem dengan wajah merah. Dia berusaha merebut kamera, tetapi kakaknya sangat lihai mengelak.

"Ayo kita berangkat!" seru kakaknya, sembari memasukkan memory-card kamera ke dalam kantong, dan berjalan menuju pintu.

"Ha?" tanya Atem bingung, tangannya dengan geram mencengkeram erat kamera yang kosong.

Isis menaikkan sebelah alis. "Lho? Tadi aku tanya pada Joey-san, dan dia bilang kalau dia tidak berangkat bareng kamu. Aku pikir kau ingin berangkat dengan kami."

Atem melambaikan kedua tangannya di depan dada. "Tidak. Aku berangkat dengan temanku, tapi itu bukan Joey." Dia tertawa gugup. "Kalian bisa pergi duluan. Temanku sebentar lagi datang."

Seorang pembantu datang menghampiri mereka. "Maaf mengganggu, Nona Atem. Ada seorang lelaki yang mengaku teman anda di luar. Haruskah saya biarkan mereka masuk?" tanyanya.

Dalam hati Atem menepuk dahinya sendiri. 'Brengsek... Mutou-san. Timingmu selalu buruk.' Dia tersenyum pada pembantu di hadapannya. "Ya, biarkan dia masuk."

Sementara pembantu pergi, Ryo memberikan tatapan kepada Atem yang kemudian membalas dengan melirik tajam ke arah kakaknya. "Jangan bikin rusuh." desis gadis itu, membuat kakaknya itu menaikkan sebelah alis.

Pembantu itu menghampiri mereka lagi, kali ini diikuti seorang lelaki remaja yang sangat Atem kenal. Atem terdiam menatap penampilan lelaki itu. Jubah hitam membalut tubuh yang mengenakan pakaian resmi victoria, rantai berwarna emas dengan liontin simbol menempel di jubah seperti pin. Garis-garis merah berbentuk ombak kecil menghiasi pinggiran jubah bagai ornamen.

Vampir cosplay jadi vampir.

"Hei." Atem membuka mulutnya, sebelah alisnya terangkat.

Yugi terkekeh melihat ekspresi Atem yang seakan mengatakan 'what the heck?'.

"Jadi, kau teman kencan adikku?" Suara laki-laki terdengar, Yugi menoleh ke arah Ryo yang memberi tatapan menyelidik. "Siapa namamu? Berapa umurmu? Bagaimana kau mengenal adikku? Apa hubunganmu dengannya? Dengan apa kau akan membawanya ke pesta dansa?" lanjut Ryo, 'menyerang' Yugi dengan pertanyaan yang cepat dan penuh interogasi.

"Kakak..." desis Atem geram, memijat-mijat dahinya sendiri.

Yugi tersenyum sopan. "Ya, saya teman kencan adik anda. Anda kakaknya Atem-san, kan? Nama saya Yugi Mutou. Saya tujuhbelas tahun. Atem-san teman sekelas sekaligus teman baik saya. Dan saya akan mengantarnya dengan menggunakan mobil." Yugi menjawab dengan sopan dan lancar.

Ha? Tujuhbelas? Atem mengangkat sebelah alisnya lagi. Dasar kakek-kakek pembohong licik, umur sudah tua bangka malah ngaku masih remaja bujang.

Atem menoleh ke arah sampingnya, dan sweatdrop melihat Isis yang terpukau dengan sikap 'gentleman' Yugi. 'Ini bener-bener jadi kasus serius...' batin Atem, menyeringai gelap.

"Ok, sepertinya kau orang yang bermartabat." Pertanyaan Ryo berikutnya membuat Atem tersentak kembali ke kenyataan. "Apa kau menyukai adikku?"

Atem berkedut mendengar pertanyaan kakaknya itu, urat mencuat di dahinya. "Kakak..." desisnya kesal, jemarinya bergemeretak seakan siap mencabik-cabik tubuh Ryo – kalau punya cakar.

Senyum Yugi tidak berubah, kedua matanya menatap tertarik ke arah Atem yang dipenuhi aura gelap. "Ya. Saya sangat menyukai adik anda. Dia gadis yang paling cantik yang pernah saya temui."

Apa?

Atem mengangkat wajahnya, menatap Yugi dengan matanya yang lebar. Yugi membalas tatapannya dengan senyum seduktif, membuat pipi gadis itu sedikit – ulangi, SEDIKIT – merona. Atem langsung memalingkan wajahnya.

Ryo mendengus puas. "Ok, kau mendapat izinku." Dia mencengkeram kerah Yugi, dan menariknya mendekat ke arahnya. "Tapi ingat, jika kau melukai adikku, aku akan membunuhmu." desisnya mengancam, melihat ekspresi Yugi yang sama sekali tidak berubah.

Dia melepaskan cengkeraman, dan menggaet bahu Isis. "Kami duluan. Selamat bersenang-senang, kalian berdua!" seru Ryo, berjalan ke arah pintu sambil melambaikan tangan.

Atem menghela nafas lega, wajahnya kembali normal. "Terutama kau, Atem! Malam ini bulan purnama, kau harus berhati-hati! Pasanganmu bakal jadi serigala!" seru Ryo dari luar.

Wajah Atem meledak semerah tomat. "KAKAK!" teriaknya malu.

Yugi berusaha menahan tawa, tapi tidak berhasil. Atem melirik tajam penuh aura membunuh ke arahnya, membuat lelaki itu langsung berhenti tertawa dan memberikan ekspresi – sok – polos.

"Apa?" tanya Yugi, membuat Atem memutar bola matanya.

"Bukan apa-apa." dengus Atem, berjalan ke arah pintu. Yugi berjalan di belakangnya, menggigit bibirnya untuk menahan tawa yang sudah gatal ingin keluar.


Atem menatap dekorasi yang menghiasi aula sekolahnya. 'Ini hal baru...' Atem mengangkat sebelah alisnya. Aula sekolah yang kosong kini seperti sebuah diskotik bertemakan kastil berhantu. Baru kali ini dia melihat pesta dansa diadakan dengan kesan kasual seperti ini, biasanya selalu resmi, apapun tema yang diangkat.

Dia bisa mendengar musik dance dari dalam gedung, dan menggelengkan kepala puas. Seth benar-benar merombak tradisi. Atem ingat bahwa sepupunya itu menginginkan hal berbeda untuk pesta dansa karena bosan, gadis yang dingin itu mengatakan niatnya keras-keras, membuat satu kelas langsung heboh memberi usulan.

Atem tertawa kecil, sepertinya Seth akan dipilih menjadi ketua osis lagi tahun ini.

"Kenapa ketawa-ketawa sendiri kayak orang gila gitu?" Suara feminin yang dingin terdengar. Atem menoleh, mendapati orang yang sedang dipikirkan menatap aneh ke arahnya.

"Hei, Seth." sapa Atem. Dia mengangkat sebelah alis ketika melihat penampilan sepupunya yang hanya memakai kaus lengan panjang dengan leher V berwarna hitam, jeans pendek hitam, mantel kulit berwarna hitam, dan boots high-heels hitam. Aksesori yang digunakan hanya wristband dan kalung rantai berliontin salib. "Elo nggak ikutan cosplay?"

"Gw juga cosplay, kok." kata Seth kalem, sambil mengangkat buku hitam bertuliskan 'DEATH NOTE', lalu memasukkannya lagi ke tas rantai yang menggantung di pinggulnya.

Atem sweatdrop. "Shinigami..." gumamnya. "Cocok..."

"Katanya elo nggak bakal dateng." kata Seth, mengangkat alisnya.

Atem menggaruk belakang kepalanya, sambil ketawa nervous. "Tadinya. Tapi, gw berubah pikiran." Dia lalu tolah-toleh mencari. "Mana Joey? Lu dateng bareng dia, kan?"

Seth menggerakkan bahunya, sama sekali tidak peduli. "Dia bilang mau ketemu seseorang terus langsung pergi. Minta gw tunggu dia di sini." Dia lalu bergumam gelap. "Seenaknya aja minta gw nungguin dia. Awas aja nanti, gw bakal ngeperbudak dia abis-abisan di pesta ini." Tawa gelap nan psiko terdengar, membuat Atem melangkah mundur ngeri.

Atem tertawa gugup. 'Turut berduka cita buat elo, Joey...' batinnya.

"Elo sendiri?" Seth menatap bosan ke arahnya. "Mana pasangan elo?"

"Eh? Dia-"

"Maaf, lama nunggu." Suara Yugi terdengar. Atem berbalik, dan tersenyum ke arah lelaki itu.

"Nggak masalah." Dia baru mau mengatakan sesuatu yang lain ketika sebuah pistol berornamen teracung ke arah Yugi.

Atem menoleh, melihat sepupunya yang mengacungkan pistol dengan tatapan dingin. "Apa yang-"

"Vampir." Mata Atem melebar mendengar desisan Seth. Apa...? Bagaimana sepupunya itu bisa tahu?

Ekspresi Yugi tidak berubah melihat pistol yang teracung padanya, dia perlahan mengangkat tangannya, memegang moncong pistol. Dia berjalan mendekat dan membungkuk sedikit, membuat jarak antara wajahnya dan wajah Seth sangat dekat. Seringaian tersungging di bibirnya, memperlihatkan taring putih yang tajam, lidahnya menjilat bibir seakan melihat sesuatu yang lezat.

"Elo..." mulai Yugi. Atem merasa was-was melihat kedua temannya itu. "...bener-bener menghayati peran elo, hunter?"

Atem menatap terpaku mendengar ucapan Yugi.

Seth menyeringai, dia menarik kembali pistol dan memasukkannya ke kantong bagian dalam mantel. "Elo juga. Taring elo itu bener-bener kelihatan asli."

Yugi tersenyum. "Terima kasih. Pistol elo itu juga bener-bener meyakinkan."

Urat mencuat di dahi Atem yang berkedut, sementara dia menatap kedua temannya yang terkekeh. Dia mengambil batu besar, dan mengambil ancang-ancang seperti pitcher. "Mati kalian." geramnya sembari melempar batunya ke arah Seth dan Yugi – yang tentunya mengelak. Beraninya mereka membuatnya cemas setengah mati.

Sebuah tangan menangkap batu tersebut. "Hey, hey... what's the matter?" tanya Joey yang baru datang, sebelah alisnya terangkat.

Atem menggeram ke arahnya. "Your girl and bestfriend are become b*tchies." umpatnya, membuat mata Joey membulat.

"My girl? Siapa..." Tepukan di bahu memotong ucapannya,

"Gw." Seth tersenyum manis ke arah Joey yang menelan ludah ngeri, gadis itu lalu menyeret 'budak'nya ke dalam aula. "Elo bakal ngebayar karena udah ngebuat gw nunggu lama, budak."

"Heeeeeeeeeeellllllp!" jerit Joey melas dengan ekspresi 0(TTATT)0.

Yugi menjulurkan tangan ke arah Atem. "Kita pergi?" Senyum mengembang di mulutnya ketika Atem menampik tangannya.

"Gw masih marah karena yang tadi." Atem berjalan mendahului Yugi masuk ke aula.

Yugi memasukkan tangannya ke kantong celana. "Maaf, deh. Jujur aja, gw juga kaget waktu sepupu elo itu ngacungin pistol dan berlagak kayak vampire hunter."

Atem cuek saja, dia lalu duduk di kursi bar. Dalam hati takjub melihat aula benar-benar berubah menjadi night club.

"Mau pesan minum apa, nona cantik?"

Atem tersenyum ke arah Ryuuji yang berpenampilan zombi bartender. "Ada minuman apa aja di sini?" tanyanya, dengan sikap seperti hostess.

Ryuuji nyengir. "Ada jus, cola, minuman soda, dan minuman ringan lainnya."

Tawa kecil keluar dari mulut gadis pharaoh itu. "Biar penampilannya diskotik, tapi minumannya bukan miras, ya?" Dia bertopang dagu.

Si bartender menggerakkan bahu. "Apa boleh buat, ini acara sekolah, sih." Dia lalu mendekatkan wajahnya. "Tapi, gw bisa campurin minuman kayak cocktail kalo elo mau." tawarnya, nyengir.

Atem mengangkat sebelah tangannya. "No, thanks. Gw nggak suka. Gw pesen cola sama burger aja. Laper, nih." Dia membalas cengiran.

Ryuuji menggamit tangan Atem, dan lalu mencium punggung tangannya. "Pesanan siap sedia sebentar lagi buat ratu yang cantik."

Gadis itu memukul bahu temannya itu. "Dasar kau ini." katanya tertawa.

Atem melihat Ryuuji meneriakkan pesanan ke arah waiter. Dia lalu menunduk, menghela nafas, tangannya mengelus liontin kalungnya. Kenapa dia tiba-tiba merasa ada sesuatu yang salah? Seperti... akan terjadi sesuatu.

Sebuah tangan menyambut pandangannya. Dia mengangkat wajahnya, melihat Yugi menjulurkan tangan ke arahnya seperti seorang bangsawan.

"May I have this dance, beautiful lady?" tanya lelaki itu, tersenyum kecil.

Atem menaikkan sebelah alis. "Lu sadar kalo gw masih marah, kan?"

Senyuman Yugi tidak berubah. "Gw tahu, tapi nggak ada salahnya kalo cuma dansa, kan?"

Atem menghela nafas, lalu membalas senyuman sembari menerima uluran tangan lelaki itu. "Gw peringatkan, gw nggak pinter dansa."

"Nggak masalah." jawab Yugi, santai. Dia menaruh sebelah tangannya di pinggang Atem, sementara tangan lainnya masih memegang tangan gadis itu.

"Gw nggak tanggung jawab kalo gw nginjek kaki elo." Atem menyeringai.

Yugi membalas seringaian. "Gw bisa tahan, toh high-heels elo nggak cukup kuat buat ngelukain gw." katanya, dengan nada nakal.

Atem memberi tatapan seduktif. "Hoho... nantang, nih?"

"Menurut elo?" Senyum menggoda tersungging di bibir Yugi.

Tawa kecil menyeruak di antara mereka berdua.

Kedua tangan Yugi kini memeluk pinggang Atem, dia mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu. "Temen-temen elo nggak percaya kalo gw yang jadi pasangan elo." bisiknya, membuat Atem sedikit merinding.

"Mereka bilang apa?" tanya Atem, bibirnya tertekuk.

"Mereka sekarang lagi ngomongin gimana elo bisa ngebuat gw yang dingin, baik ke elo." jawab Yugi, kalem.

"Cuekin aja mereka." kata Atem, disambut anggukan Yugi. Mereka berdua lalu diam, larut dalam lagu yang mengalun...

...sampai kilatan aneh muncul di mata gadis itu, dan senyuman licik tersungging di bibirnya.

Disusul kemudian langkah kaki yang keras mengarah ke kaki lelaki pasangannya.

Tapi dengan hebatnya, kaki Yugi bisa mengelak dari 'senjata' high-heels yang menyakitan itu, namun masih berdansa dengan tenang.

Atem tidak mengatakan apapun, begitupula dengan Yugi. Mereka masih berdansa sampai-sampai orang-orang yang melihat mereka menganggap bahwa mereka sangat larut dengan dansa mereka.

Permainan 'step and avoid dance' itu terus berlanjut sampai lagu selesai. Atem tersenyum ke arah pasangannya, walau dalam hati mengumpat karena tidak berhasil 'balas dendam'.

"Thanks buat dansanya." kata Atem, tersenyum.

"Tidak. Justru gw yang harus berterima kasih." balas Yugi, ekspresinya santai seakan tidak ada yang terjadi.

Mereka berdua kembali tertawa.

Yugi lalu berhenti tertawa, dia terdiam menatap Atem.

"Apa?" tanya Atem, bingung.

"Kalung itu..." Yugi mengangkat tangannya untuk mengelus liontin kalung yang dikenakan Atem. "Apa ini asli?"

Atem menatap Yugi tidak yakin. "Yeah... pamanku yang memberikannya padaku, kenapa?" Sebelah alisnya terangkat.

Yugi terdiam sesaat, sebelum tersenyum. "Tidak. Tidak ada apa-apa." Dia lalu mengelus anting yang menggantung di telinga Atem. "Kalo nggak salah tadi elo pesen makanan, kan?"

Mata Atem melebar. "Gw lupa!" serunya. "Ini gara-gara elo!" lanjutnya, sebelum berbalik pergi meninggalkan Yugi yang terkekeh.

Atem sampai di bar, dia terkejut mendapati Joey duduk di bangkunya tadi, mengobrol dengan Ryuuji.

"Hei, Joey." sapa Atem tersenyum, sembari duduk di bangku sebelah Joey.

"Hei, Atem." balas Joey, nyengir.

"Hei, elo kemana aja! Pesanan elo nyaris gw embat!" seru Ryuuji.

Atem menangkupkan kedua tangannya. "Sori! Gw tadi diajak dansa."

Ryuuji menaruh burger dan cola di depan Atem. "Nih, makan. Berterimakasihlah gw nggak ngasih ini ke yang lain."

Atem memegang tangan Ryuuji seperti bersyukur. "Terima kasih. Elo bener-bener pahlawan." katanya, bercanda.

Sementara dia makan, dia merasa ada yang memperhatikannya. Dia menoleh, mendapati Joey tersenyum menatapnya. Sebelah alisnya terangkat. "Apa, Joey?" tanyanya, setelah menelan burger yang dimakannya.

Joey tersentak mendengar pertanyaan Atem, dia langsung menggeleng. "Nggak. Nggak ada apa-apa."

"Terus kenapa elo ngeliatin gw mulu?"

Keringat dingin mengalir di leher Joey. "I-itu cuma... elo makan kayak yang burger itu makanan paling enak." elak Joey.

Atem melirik burgernya. "Yah... gw laper, sih." Dia lalu memberi tatapan menyelidik. "Sekarang jujur, kenapa elo ngeliatin gw mulu?" tanyanya tegas, menghiraukan Ryuuji yang terkekeh dan bisik-bisik dengan teman-temannya sambil melirik ke arah mereka.

Joey menelan ludah, dia menggaruk belakang kepalanya, wajahnya merah. "A-anu... you... I..."

Atem bertopang dagu menunggu Joey bicara, benar-benar menghiraukan Ryuuji dan teman-temannya bisik-bisik menyemangati seakan menonton pertandingan sepak bola.

"G-gw..." gagap Joey, membuat teman-temannya yang lain tegang. Atem mengangkat sebelah alis. "Gw... anu... you..."

Joey menelan ludah, sebelum menarik nafas. "What are you thinking about?" teriak Joey, membuat Ryuuji dkk jatuh anime-style.

Atem mengerjap, dia menelengkan kepala bingung. "Maksud loe?" tanyanya, tidak peduli dengan Ryuuji yang menjentikkan jari kesal.

Keringat dingin membanjiri Joey. "Itu... elo kayak yang banyak pikiran... like... elo punya masalah yang bener-bener serius." Joey menatap khawatir ke arah gadis di depannya. "Apa... your parents melakukan sesuatu lagi?"

Atem terdiam sesaat. "Nggak... ortu gw seminggu ini lagi ada urusan bisnis. Nggak ada masalah apa-apa." Dia tersenyum menenangkan, meyakinkan Joey bahwa dia tidak apa-apa.

Ya... tidak ada yang salah dengan dirinya. Dia baik-baik saja.

Tapi, kenapa...

...kenapa dari tadi dia tidak merasa tenang?

TBC...

A/N :

[Background kembang api. Banner bertuliskan "WELCOME TO REVIEW ROOM" membentang]

Narator : \(^o^)/ WELCOME BACK TO REVIEW ROOM! m(_ _)m Gw mewakili Author minta maaf sebesar-besarnya karena lamanya update. Dia tidak bisa hadir karena suatu urusan. (^o^)/ Tapi, sebagai ganti Author, gw bakal ngejawab review kalian! Juga ditemani sama para anggota asosiasi pencuri!

Para pencuri : Konbawa.

Narator : Ok... kita langsung aja menuju... review pertama! (tawa pundung) Tentu saja kami bakal ngasih hadiah yg dijanjikan buat 3 pereview pertama. (glare at 3 pervy thieves) Doa aja semoga pereviewnya cewek.

###

To un-sane bloody eater :

Dark : (memegang dagu pereview) Wah, wah... pendatang baru, nih. (smirk)

Lupin : (mencium punggung tangan un-sane) Selamat datang di fic ini, nona. (charism smile)

Kaito Kid : (mencium punggung tangan lainnya) Terima kasih sudah mereview, ojou-san.

Narator : (rolled her eyes) Untuk pertanyaanmu soal tingginya Yugi, Author memakai tinggi Yugi yang di The Last Tears. Dan aku akan menyampaikan pesanmu pada Author.

###

To Sweet Lollipop :

Para pencuri : (ngelirik aneh) Dasar komersil...

Narator : Kalo bunga bank, gw juga mau.

Lupin : (nyium pipi lollipop) Kalau nona mau, aku bisa memberi venus the milo.

Dark : (nyium punggung tangan) Bohong.

Lupin : (glare)

Kaito Kid : (nyium pipi) Soal Ryo-san, kata Author Ryo-san bukan cuma mengidap sister-complex, dia juga mengidap split-personality. Setelah baca chapter ini, kau akan mengerti.

Narator : (bows) Terima kasih atas reviewnya.

###

To marianne de Maronettenspieler :

Dark : (menengadahkan dagu marianne) Karena udah jadi pelanggan setia... (deketin wajah) A-ri-ga-tou (nyium bibir).

All : (O_O) (O_o) (o_O) (OoO)

Narator : He-hei! Nggak boleh nyium bibir!

Dark : (meletin lidah jahil) Telat.

###

To Death Angel :

Narator : Thanks buat jadi pelanggan setia, Angie-chan! Oh... dan ada pesan dari Author. Dia bilang... (berdehem, suara jadi suaranya Scarlet) JANGAN PERNAH LAGI REVIEW FIC SAYA DENGAN MENGGUNAKAN AKUN FANFIC SAYA! BANYAK YANG SALAH PAHAM GARA-GARA ITU! SUDAH BEGITU, REVIEW TIDAK BISA DIHAPUS LAGI! (kembali normal, tersenyum) Gitu, deh. Kayaknya dia marah banget gara-gara kamu pakai akun dia untuk mereview fic "Dream or Reality"-nya di fandom Naruto.

###

To Ketsueki Kira Fahardika :

Narator : Terima kasih atas reviewnya. Dan untuk soal Atem jadi vampir... aku tidak tahu apa rencana Author tentang hal itu.

###

To Uchiha 'Haruhi' Gaje :

Narator : Terima kasih. (^_^)\ Nggak apa-apa telat review juga, karena Authornya juga suka telat update gara-gara terlalu sibuk sama kerjaan.

###

To Ka Hime Shiseiten :

Narator : (^o^)/ Yo, bestfriend! Thanx buat reviewnya!

Nami&Jeanne : (glare at Ka) Siapa yang elo sebut pervert?

Dark : (grin) Mending jadi pencuri pervert dibanding jadi pencuri psiko, iya nggak?

Lupin&Kid : Yoi!

Bakura : (death glare at Dark, Lupin, dan Kid)

###

To Satia Vathi :

All : (pake earplug super buatan Hotaru Imai. Cengok menatap para kaca yang pecah)

Kaito Kid : Ingatkan aku untuk tidak menciumnya lagi.

Lupin : Melihat tampangmu sepertinya tidak perlu diingatkan lagi.

Narator : (^_^') A-aah... terima kasih karena sudah jadi pembaca setia fic Author. (memalingkan muka, bergumam) Dia berbahaya...

###

To Messiah Hikari :

Narator : Thanx banget buat reviewnya, biarpun Author tidak pernah mereview ficmu karena dia lebih suka jadi silent reader. Soal karakter kedua Atem ini, Author sengaja membuatnya kayak gitu. Dia ngebayangin gimana reaksi Atem kalau dia hanya diberi satu tahun hidup + hamil + nggak mau membuat Yugi bergantung padanya – yang malah ngebuat hal menjadi sebaliknya, dia yg bergantung pada Yugi + beban pikiran dan perasaan yang harus ditanggung. Sedangkan di Red Moon, Author membayangkan gimana kalau Atem hidup sebagai orang kaya biasa + hidup membosankan tetapi penuh tekanan + statusnya yang mengidap penyakit jantung stadium empat. Karena itu, karakternya menjadi agak berbeda.

###

To Ulquiorra Si Manusia Kelelawar :

Nami : Bakura! Ada tamu! (noleh, ngeliat Bakura sudah tidak ada. Tolah-toleh) Kemana dia?

Narator : (sweatdrop) Kabur... (^_^) Terima kasih atas review dan jempol anda. Author menerimanya dengan senang hati.

###

To Nisca31tm-emerald :

Dark : (bertopang dagu di meja kafe) Banyak yang pendatang baru, ya?

Kaito Kid : (bertopang dagu) Yep... udah gitu review chapter kemarin rame banget lagi...

Lupin : (minum kopi) Hm, hm. Sampai dua halaman.

Narator : (sigh) Bener... baru kali ini gw ngeliat review sebanyak ini dalam satu chapter di fic buatan Author. (noleh ke Nisca) Trims buat reviewnya, ya, sayang.

###

To Adel :

Jeanne : (nyantai minum jus) Pendatang baru lagi, nih.

Narator : Ah! Dia, kan, yang review marathon di fic ini sama Story of the Desert Kingdom! (grin) Thanks banget reviewnya, ya!

###

To K. zu. To :

Jeanne : oO(OoO)Oo KEBAKARAN! KEBAKARAN!

Narator : (pake HT) Divisi 5, cepat arahkan air ke arah jam 3!

Dark&Kaito : Roger! (nyemprot Kazumazu pakai air bertekanan 150)

Narator : Noooo! Jangan kenceng-kenceng!

[sfx : ruangan banjir + ombak laut]

Lupin : (terdiam menatap gelas kopi dan bajunya yang ikut kesemprot)

Nami : (alis berkedut menatap peta harta luntur)

###

To Meikyuu Koubou :

Kaito Kid : (Kid grin) Boleh aja. Mau tanda tangan di mana?

Narator : Makasih buat reviewnya, sayang. Dan juga buat jempolnya. (noleh ke Death) Hei, Death! Ada salam dari seme elo, dia bilang kapan-kapan pengen maen game sama elo! Meikyuu-chan juga, ada salam dari Lumi-chan! Dia kangen soalnya udah lama nggak ketemu – aka chatting.

###

To wiwy xhia, kirishima himeka, dan kyoko :

Narator : Terima kasih atas review kalian. Aku tidak tahu apa Author bisa update cepat, berhubung akhir-akhir ini dia sibuk dan hanya dapat sedikit waktu istirahat. Juga Author akan berusaha untuk melanjutkan fic-ficnya sampai tamat.

###

Narator : (bows) Terima kasih telah mau membaca fic ini. Dan maaf sebesar-besarnya karena telat lama juga karena chapter ini agak tidak nyambung. Lalu, kayak biasanya...

All : (cofetti + balon + terompet + kembang api + burung merpati + banner) PLEASE REVIEW IF DON'T MIND!

...

...

...

With a lot scripts and heists,

#

Narator and Thieves Association.