A RARE RED ROSE
MINNA-SAN! AKHIRNYA CHAPY 2 UPDATE!
THANKS BUAT YANG UDAH MENDUKUNG AKU! JUGA SARAN DAN KRITIKNYA! AKU AKAN BERUSAHA UNTUK LEBIH BAIK LAGI!
SEBENARNYA, FIC INI MENGALAMI PERUBAHAN DRASTIS, SEPERTI PERUBAHAN PLOT DE EL EL. DAN UNTUK MENDUKUNG HAL ITU, AKAN KUUBAH SEMUANYA.
DISCLAIMER: SQUARE ENIX, DISNEY, TETSUYA NOMURA
PAIR: AKUROKU, RIKUSO
RATE: T
WARNING: SHO-AI, DON'T LIKE DON'T READ!
SUMMARY: Papa bilang aku tak memiliki kakak. . . Jadi, siapa Sora? aku yakin dia nyata. Lalu, mengapa Papa membohongi aku?
CHAPTER II: AM I REALLY NEVER HAVE A BROTHER BEFORE?
Kutatap layar handphone ku, berharap ada telpon masuk ataupun sms dari Sora maupun Riku. Mereka tidak datang ke sekolah hari ini. Nomornya juga tidak aktif. Ada apa? Benar-benar membuatku khawatir. Riku tak mungkin menjebak Sora, 'kan? Setahuku dia tidak seperti itu. Tapi, dia 'kan anak dari saingan perusahaan Papaku. Bisa saja. . .
"Xy? Roxy? Kau bisa mendengarku?" tegur seseorang di sampingku. Aku segera terbangun dari lamunanku. "Kau melamun, huh? Apa Sora sakit parah? Dia tidak masuk hari ini." Aku menggeleng. Aku tidak boleh mengatakan jika Sora menghilang. Tidak boleh. Mungkin dia hanya terlambat. . . dan masuk di jam-jam terakhir. Semoga. . .
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Bel pulang sudah berbunyi. Hujan turun dengan derasnya. Pikiranku tak henti-hentinya tertuju pada Sora. Dimana dia sekarang? Apa aku terlalu mempercayai Riku sehingga membiarkannya membawa Sora? ah, adik macam apa aku ini? Bagaimana jika ia terluka? Atau tersesat? Bagaimana jika ia sedang sendirian? Aku harus menemukan Sora, harus. . .
"Roxy, kau tidak bawa payung? Sebentar aku ambilkan payungku," ujar Axel seraya berlari kearah lokernya. Aku tak memperdulikannya. Ku terobos hujan deras ini. Bagaimana jika Sora kehujanan? Apa dia kedinginan? Apa dia sakit? Apa dia tidak apa-apa? Aku tak bisa tenang memikirkannya. . .
Langkahku sangat perlahan, aku tahu tatapan mataku kosong. Hingga sampai di belokan dekat rumahku, disana ada seseorang yang sangat aku kenal. . . "SORA!" Teriakku. Ia segera menoleh. Mukanya terlihat senang.
"Roxas!" teriaknya seraya berlari memelukku.
"Kenapa kau tidak masuk? Lihat, kau basah! Bagaimana jika kau sakit?" Tanyaku mengkhawatirkannya. Entah kenapa, ada yang aneh dengannya. Mukanya terlihat lesu, tidak bersemangat, meskipun ia berusaha menjadi seceria yang biasanya. Tapi aku tahu ia sedang berpura-pura.
"Ayo pulang," ajaknya. Akupun mengangguk dan segera mengikuti langkahnya.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
"Sora, kau sudah ganti baju?" tanyaku yang telah selesai mengganti pakaianku. Ng? Matanya sembab. Apa ia habis menangis?
"Sudah. Oh ya Roxas, aku ada perlu dengan Papa sebentar. Kau tunggu disini ya? Dan nanti malam aku ingin tidur bersamamu, apa boleh?" tanyanya. Aku mengangguk. Aneh, Sora tak seperti Sora yang biasanya. Tapi kuharap tak ada kejadian apapun menimpanya. Sora pun segera pergi meninggalkan aku. Hm, berhentilah membuatku khawatir, Sora. . .
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Bruk! Bunyi pintu ditutup. Aku segera menoleh kearah suara. Sora. mukanya terlihat sedih, entah kenapa. "Sora? kau tak apa? Oh ya, besok ada PR Ekonomi."
Ia menggeleng dan segera tersenyum. "PR? Ayo Roxas, ajarkan aku!" serunya.
"Ng? biasanya kau selalu memintaku untuk menyalinkannya, tapi baguslah, ayo sini!" Ajakku sembari menepuk-nepuk bangku di sebelahku. Sora pun segera duduk disampingku, dan kami pun menghabiskan waktu bersama. . .
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
NORMAL POV.
Jam baru menunjukkan pukul 3 pagi. Sora tengah bersiap-siap, memasukkan seluruh baju dan perlengkapannya. Di tengah kesibukannya, ia melihat sesuatu di atas meja. Foto Roxas dan dirinya. Sora tersenyum sejenak, air matanya menetes. Ia segera memasukkan foto itu kedalam kopernya.
Semua sudah beres. Jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Sora segera menarik kopernya. Sebelumnya, ia mencium kening Roxas terlebih dahulu. Air matanya kembali menetes. "Selamat tinggal, Roxas. . ." ujarnya, lalu menghilang di balik pintu.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Waktu telah menunjukkan pukul 5 pagi. Tak seperti biasanya, Roxas terbangun dengan wajah mengerikan. Ia seperti bermimpi buruk. Wajahnya pucat. Ia menoleh, tak ada Sora di sampingnya. Ia segera berlari menuju kamar mandi. Disitu juga tidak ada Sora. Bajunya tidak ada. Barang-barangnya juga tidak ada. Bahkan foto mereka berdua pun tak ada. Roxas segera berlari menuju ruang kerja papanya. Keringat dingin mengalir di wajahnya. Nafasnya terengah-engah, raut wajahnya menakutkan. Ia berfikir tentang Sora.
Buak! Roxas menggedor pintu kerja papanya. "Papa! Papa bukakan pintu Pa!" teriaknya seraya memukul-mukul pintu mewah yang ada di depannya. Perlahan pintu pun terbuka. Roxas segera berlari dan mencengkram kuat tangan papanya. "Pa! sora menghilang Pa! sora tidak ada! Bajunya, perlengkapannya juga tidak ada!"
"Siapa itu Sora?"
Roxas terkejut. Ia melepaskan genggamannya. "Sora Pa! Sora, kakakku! Dia hilang Pa!"
"Kakak? Kau tak punya Kakak Roxas!"
"Papa! Bohong! Sora Pa, kakakku! Dimana Sora?"
Plak! Cloud menampar Roxas. Roxas terdiam. "Sudah kubilang tak ada nama Sora di keluarga ini!" teriaknya. Roxas pun segera berlari keluar.
Tidak ada Sora? tidak ada kakak? Bukankah Papa menyayangi Sora? Sora, dimana kau?
Roxas berkeliling, menanyai satu-persatu pelayan yang ditemuinya. Tapi jawaban mereka sama.
"Sora, siapa itu?"
xxxxxxxxxxxxxxxxxxx
ROXAS POV.
Aku sudah muak dengan semua keanehan ini. Hanya Axel tempatku berbincang. Aku akan menceritakan ini padanya.
"Yo, Roxy!"
"Axel!" teriakku seraya berlari menghampirinya.
"Wa, waaa! Kau mau memelukku?" tanyanya sambil membuka lebar tangannya. Aku berhenti. Kutepis tangannya. Akupun bercerita tentang semua keanehan yang tengah aku lalui.
"Hng, jadi Sora bukannya pindah sekolah ya?" Tanya Axel.
Voila! Itu artinya Sora benar-benar ada! Aku tidak gila! Aku punya seorang kakak bernama Sora!
"Bukan! Ng, Axel, kau tahu? Sebenarnya aku mencurigai Riku. . . sepertinya dia telah menculiknya," ujarku. Axel mengangguk.
"Kau punya bukti?" tanyanya. Aku menggeleng.
"Kalau begitu, ayo kita cari buktinya," ujarnya sambil tersenyum sinis.
"Maksudmu?" tanyaku.
"Begini. . ."
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
"Axel, kau yakin tentang hal ini?" tanyaku khawatir. Bagaimana tidak, kami sekarang sedang berada di jalan belakang menuju gedung perusahaan Hauntdone, perusahaan milik keluarga Riku.
"Ssh. . ." bisiknya seraya menaruh telunjuknya di depan bibirnya. Aku segera terdiam. Terlihat 2 penjaga menjaga pintu masuk belakang.
"Roxy, aku alihkan perhatian mereka sementara kau masuk kedalam, oke? Cari Riku lalu temukan Sora," bisiknya sambil melangkah keluar dari persembunyian kami.
Apa Axel akan meninggalkanku?
Tidak, aku tidak mau.
Cukup, aku tak mau sendiri lagi.
Aku tak mau dia pergi!
Kupeluk tubuhnya dari belakang. Ku per erat pelukanku. "Ro, Roxy?" tegurnya. Ada warna terkejut di balik kata-katanya itu.
"Jangan. . . jangan pergi, kumohon. . . jangan biarkan aku sendiri lagi. . ." ujarku pelan.
"Roxy. . . aku takkan meninggalkanmu. . ." bisiknya pelan.
Aneh, aku tak pernah merasakan ini sebelumnya. Tapi, kenapa aku merasa takut kehilangan Axel?
"Roxy. . ." tegurnya. Aku melepaskan pelukanku. Ia berbalik, menatapku. Aku mengalihkan pandanganku darinya. Jantungku berdegup kencang. Kenapa? Ada apa dengan diriku?
"Siapa kalian!" teriak 2 orang, bukan, 4 orang yang tengah mengelilingi kami. Kami ketahuan!
Apa, yang akan terjadi padaku setelah ini?
TBC
Maaf jika terlalu singkat! Aku lelah karena harus menyelesaikan 3 fic di hari ini juga! DX
Reader: siapa yang tanya?
Yah, jadi begitulah. . . kira-kira apa yang akan terjadi setelah ini?
Pokoknya. . . Ripiu?
