A RAR RED ROSE

CHAPY 3 UPDATE~! THANKS BUAT SEMUA YANG UDAH BERSEDIA NGERIPIU, APALAGI MENUNGGU FIC INI! XDDD

Disclaimer: Tetsuya Nomura, Square Enix, Disney.

Rate: T, mungkin belum terlihat, tapi. . . sabar saja yah XP

WARNING: SHO-AI! DON'T LIKE DON'T READ!

Summary: Roxas memutuskan pergi mencari Sora bersama Axel, dengan cara 'memeras' Papanya. Sementara itu, Sora bertemu dengan seseorang yang sangat mirip dengan Roxas. . .

CHAPTER 3: OUR CHOICE

"Penyusup! Ikut kami!" Teriak 4 orang penjaga itu. Kulirik Axel, ia hanya menggigit bibirnya kesal. Walkie-talkie salah seorang dari penjaga yang menangkap kami berbunyi.

"Kami menangkap penyusup. Ganti."

"Tuan Hauntdone memintamu membawa mereka ke ruangannya. Ganti."

"Copy." Penjaga tersebut segera menaruh kembali walkie-talkie nya.

"Mari kita bawa mereka ke ruangan Tuan Hauntdone."

Penjaga yang lain mengangguk, dan segera menggiring kami menuju sebuah ruangan. Kami diminta masuk, dan penjaga-penjaga yang menggiring kami menunggu diluar. Kini berdiri seseorang berambut silver panjang didepan kami. Papa Riku, Yazoo Hauntdone. Aku menelan ludahku. Betapa mengerikannya orang ini. Saingan dari Papaku.

"Kau, anak Cloud Slythern?" Tanyanya. Aku mengangguk.

"Dan kau, anak dari Tifa dan Reno itu, kan?" Tanyanya sambil menoleh kearah Axel. Axel pun mengangguk.

Tuan Yazoo berdiri dan menatap kami tajam. "Ada apa dengan 2 anak pengusaha kaya dan sukses didepanku ini? Orang tua kalian menyuruhmu untuk mengintaiku, huh? Terutama kau, Slythern. Jelaskan maksud kalian, atau kukabarkan hal ini ke media massa," ancamnya. Aku menelan ludahku, aku tak sanggup mengatakannya. Tapi aku juga tak mau mempermalukan nama keluargaku. Apa yang harus aku lakukan?

"Kami datang untuk bertemu Riku Hauntdone, anak anda," ujar Axel sesopan mungkin. Raut wajah Tuan Hauntdone berubah sesaat setelah Axel menyebutkan nama Riku.

"Riku! Huh, dia sudah bukan anakku lagi."

Aku terkejut, begitu juga dengan Axel. "Yah, tak ada salahnya juga aku menceritakan ini pada kalian. Riku membawa anak slythern yang mungkin saudaramu itu kedalam ruanganku. Lalu ia meminta keluar dari keluarga Hauntdone, dan aku mengusirnya didepan anak-anak buahku untuk mempermalukannya. Lalu ia meninggalkan kantorku bersama saudaramu itu tanpa membawa apapun, hanya handphone dan baju seragam yang ia kenakan. Puas kau mendengar ceritaku? Sekarang pergilah."

Aku makin terkejut. Berarti, Riku tidak menculik Sora? tapi kenapa Riku meminta untuk keluar dari keluarga Hauntdone?

"Saudaramu membawa pengaruh buruk untuk Riku! PERGILAH!" teriak Tuan Hauntdone kasar. Axel menarikku, berusaha membawaku keluar.

"Sora tidak seperti itu!" teriakku. Entah Tuan Hauntdone mendengarnya atu tidak, tapi aku tak bisa terima jika Sora dikatai seperti itu.

Tapi, sebenarnya apa yang sedang terjadi?

"Uh. . ." desahku seraya memegangi kepalaku. Aku pusing sekali dengan semua ini. Axel mengelus rambutku.

"Roxy. . . yang jelas kini kita tahu jika Sora aman, setidaknya ia bersama Riku," ujarnya. Aku mengangguk. "Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang? Jelas Riku telah pergi dari rumahnya. Apa mereka kabur berdua?" Gumam Axel seraya menerawang ke atas.

Terlintas sebuah ide gila dikepalaku, namun, aku tahu hanya inilah jalan satu-satunya. "Axel, maukah kau menemaniku mencari Sora? soal biaya, biar Papaku yang menanggungnya."

Axel terlihat terkejut mendengar tawaranku. "Kau kira papamu akan membiarkanmu pergi tanpa pengawasan, Roxas? Kau anak seorang pengusaha, tak sedikit orang yang membenci keluargamu," ujarnya. Aku tersenyum sinis.

"Kutemui kau disini 5 jam lagi, jangan lupa membawa seluruh perlengkapanmu karena kita takkan pulang selama 1 bulan. Bye," ujarku seraya melangkah pergi meninggalkannya. Aku mengacuhkannya yang terus berteriak memanggil namaku. Saatnya aku memanfaatkan kekayaan Papa dan posisiku sebagai anaknya. Ia membenciku, dan ini cara yang tepat untuk membalasnya, sekaligus menolong Sora. aku harus melakukan ini, hanya inilah cara satu-satunya.

-XXX-

"Seratus juta?" Ujar Papa seakan tak percaya apa yang tadi ia dengar. Aku mengangguk mantap.

"Transfer ke kartu kreditku. Nanti aku minta lagi. Oh ya, selama 1 bulan aku takkan kembali ke rumah ini. Jangan suruh orang untuk mengikutiku,' ujarku.

"Tapi, untuk apa seratus juta itu?" Tanyanya.

Hng, benar 'kan, Papa memang membenciku. Ia menanyakan uang, bukan keadaan atau alasanku pergi. Hng, tapi ini juga termasuk sebuah keuntunganku menjadi seorang yang paling dibenci Papa. Aku tak perlu menjelaskan kemana aku akan pergi.

"C'mon, aku hanya minta seratus juta. Nanti aku akan minta lagi seandainya itu tidak cukup. Aku hanya ingin melakukan traveling bersama seorang temanku. 1 bulan lagi aku akan pulang," yakinku. Papa menghela nafasnya.

"Terserah kau saja," ujarnya sambil memutar kursinya membelakangiku.

Aku segera pergi meninggalkannya.

Ugh, mengapa air mataku menetes?

Hh, sebenarnya aku juga sedikit berharap Papa mencegaku atau setidaknya menanyakan keadaanku tadi. . .

Sudahlah. Aku harus segera bersiap. 3 jam lagi aku harus bertemu dengan Axel.

-XXX-

"Yo, Roxy," sapa seseorang di belakangku. Aku tersenyum padanya. Kukeluarkan peta dunia.

"Kemana kita akan pergi?" Tanyaku padanya. Ia mematung sebentar, lalu menunjuk sebuah Negara yang lumayan jauh dari tempat tinggal kami. Aku segera menutup peta duniaku.

"Kay, Destiny Island, here we go!"

-XXX-

DI SUATU TEMPAT. . .

SORA POV.

Hari ini Riku telat lagi. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, tapi ia belum juga pulang semenjak kemarin.

Krek, terdengar bunyi pintu dibuka. "Riku!" teriakku. Aku segera berlari menghampirinya dan memeluknya erat. "Riku. . . Aku mengkhawatirkanmu," Ujarku. Ia tersenyum dan balik memelukku.

"Maafkan aku Sora. aku belum mendapatkan pekerjaan apapun," ujarnya. Aku menggeleng dan tersenyum.

"Tak apa Riku, besok kita kembali mencarinya bersama. Memang tidaklah mudah, uangku dan uangmu sudah habis untuk membeli tiket pesawat dan menyewa rumah ini. Jadi kita harus berusaha," ujarku.

"Maafkan aku Sora, jika tidak karena aku mengajakmu menginap di rumahku, mungkin ide gila tentang pergi dari rumah itu takkan terlintas di benakku," ujarnya. Aku segera memberikannya sebuah ciuman lembut di bibirnya. Sebentar, hanya untuk menenangkan perasaannya yang telah dipenuhi rasa bersalah.

"Aku senang kau rela diusir Papamu untukku. Aku akan menyiapkan air panas untukmu mandi, sebentar ya," ujarku seraya meninggalkannya.

Kh, kejadian itu secara otomatis diputar ulang dalam ingatanku. Saat aku melakukan hal yang sama seperti hal yang dilakukan Riku.

Meminta keluar dari keluarga Slythern, untuk bersamanya. Meninggalkan semua yang aku miliki. Kekayaan, nama keluarga, sekolah, teman-teman, dan juga,

Seseorang yang sangat aku sayangi.

Roxas.

Bagaimana keadaannya? Kuharap nasibnya lebih baik karena aku tak lagi ada. Aku tahu, Papa membencinya.

Maafkan aku Roxas, kuharap kau tak pergi mencariku. Maafkan aku. . .

Kuhapus air mata yang mengalir di pipiku. Aku tak boleh menangis, aku telah menentukan jalan hidupku sendiri, hidup bersama Riku yang aku cintai. Aku tak pernah menyesal memilih jalan ini.

Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi. Kupanaskan air mandi untuk Riku.

Sepintas kulihat di luar jendela, seorang anak berambut blond bermata biru safir melintas.

Ng? rambut blond dan mata biru safir?

Aku segera berlari mengejarnya. Apakah itu. . . benarkah dia. . .

"Roxas?" teriakku. Ia menoleh, memasang muka terkejut dan bingung.

Benar-benar mirip.

"Apa kau. . . Roxas?"

TBC

Yippie! Selesai sudah chapy 3! XDDD

Kay, sebelumnya, SORA POV. Berakhir disini, dan akan kembali saat. . .

Pokoknya beberapa chapy kedepan XP

*Plak! Gada yang nanya

Akhir kata, aku minta Ripiu yah. . . . XDDD