A RARE RED ROSE
Chapy 4 update~! XDDD
Jujur, aku sempat berfikir untuk discontinued karena buntu, gatau gimana harus mendeskripsikan apa yang ada dalam otak sempitku ini~. . .
Tapi, pokoknya thanks banget yah buat semua yang udah mendukung aku! XDDD
Disclaimer: Semua orang tahu Kingdom Hearts punya Square Enix, Tetsuya Nomura dan Disney. Aku cuma author stress yang tergila-gila dengan KH -.-
Rate: T, dan akan muncul saat chapy 5 atau 6. . . XP
WARNING! SHO-AI! 3 KALI PINDAH POV! DON'T LIKE DON'T READ!
Summary: Petualangan berawal dari sebuah pulau kecil nan indah bernama Destiny Island. . . Disana, Roxas dan Axel bertemu dengan 3 perempuan penduduk disitu. 2 orang yang lain terlihat biasa saja, namun, perempuan berambut onyx itu. . . Siapa dia sebenarnya?
CHAPY 4: THE GIRL AT DESTINY ISLAND
ROXAS POV.
"Ax, mengapa kau memilih Destiny Island?" Tanyaku pada Axel ditengah perjalanan kami menuju Destiny Island menggunakan sebuah pesawat eksekutif. Saking jauhnya Destiny Island, kami harus menempuh perjalanan selama 10 jam untuk sampai disana.
Axel mengambil sebuah buku disampingnya. Buku panduan Destiny Island. Iapun memberikannya padaku.
"Destiny Island disebut sebagai pulau terindah, Roxy. Kita bisa bermain, bersenang-senang. . . Di pinggir pantai yang indah. . ."
"Kau lupa? Kita tidak sedang berlibur! Tujuan kita untuk mencari Sora!" ujarku kesal. Bagaimana bisa ia mengartikan perjalanan kami untuk bersenang-senang?
"Aku tak lupa, Roxy. Ini adalah pulau yang hebat, dan kukira si rambut silver itu memiliki cukup selera untuk tinggal di sini. Dia terlihat benci keributan, dan pulau ini adalah tempat yang tepat," Ujar Axel seraya menikmati pemandangan dari kaca jendela pesawat. Aku mengangguk pelan. Benar juga, Riku memang tipe orang seperti itu. Bahkan aku tak sadar jika ini tempat yang tepat untuknya.
"Thanks Axel. . ." Ujarku. Ia mengangguk.
Hng, aku mengantuk. . .
Mungkin tidur sebentar adalah hal yang baik. . .
AXEL POV.
Puk! Kurasakan sesuatu jatuh dipunggungku, membuatku merasa sedikit berat saat akan menoleh.
Roxas.
Tertidur.
Wajahnya tenang tanpa beban.
Aku mencoba menggerakkan tubuhku sepelan mungkin, berusaha membuatnya tak terbangun.
Kusandarkan kepalanya dipundakku, sembari memperhatikan wajah tenangnya.
Rambut blondnya yang halus.
Mata biru safirnya yang bersinar.
Kulit putihnya yang lembut.
Tubuhnya yang mungil.
Sifatnya yang terkadang dingin namun penuh kasih sayang.
Entah kenapa, anak ini memiliki semua yang kubutuhkan untuk membuatku ingin melindunginya.
Melindunginya, meskipun aku tak lagi mampu.
. . .
Aku tersenyum. Menertawakan kebodohanku.
Seharusnya, semua ini tak lebih dari sekedar misi yang diberikan untukku.
Tapi nyatanya, aku berada disampingnya, saat ini. Dan dia tidur tepat dipundakku.
Kucium lembut rambutnya, bernafas di sela rambut blondnya yang halus.
Anak ini. . . membutuhkan aku untuk melindunginya.
-XXX-
"SELAMAT DATANG DI DESTINY ISLAND!" Teriakku penuh semangat, sesaat setelah kami menuruni taksi yang mengantarkan kami menuju pantai tepat di pesisir kota. Pantai yang sangat indah, berpasir putih, hangat sinar mentari, dan sejuknya angin yang menyambut kedatangan kami di sore hari yang cerah ini. Aku merenggangkan tubuhku. Dan menoleh kearah Roxas yang ternyata tengah memperhatikanku.
"What's the matter, Roxy?" tanyaku padanya. Sesaat ia seperti tersentak, wajahnya lumayan memerah. Iapun mengalihkan pandangannya kearah lain. Aku memperhatikan tingkah anehnya itu sambil tersenyum. Tidak lama, aku segera mengalihkan pandanganku kearah dimana Roxas melihat. Terdapat 3 anak perempuan disitu, yang sepertinya tengah memperhatikan kami. Timbul niatku untuk menggoda Roxas.
"Well, Roxy? Seseorang menarik perhatianmu?" Tanyaku seraya berdiri disampingnya. Ia tak menggubris pertanyaanku, matanya terus tertuju pada 3 gadis itu, meskipun tatapannya terlihat kosong seperti sedang melamun. Tapi, dengan wajah yang memerah itu, artinya. . .
"Fallin' love at first sight, huh? Yang mana yang membuatmu tertarik?" Tanyaku.
"Yang berambut merah dan bermata hijau emerald. . ." ujarnya pelan. Sesaat kemudian, ia tersentak dan menoleh kearahku dengan muka memerah. Sepertinya ia mengatakan itu dengan tanpa kesengajaan.
Aku memperhatikan ketiga gadis tersebut. Sepertinya ada yang aneh, ada yang tidak sesuai dengan deskripsi Roxas tadi.
"Ng? Roxy? Tidak ada gadis berambut merah dan bermata hijau. . ." Ujarku sambil menoleh kearah Roxas yang tengah berusaha menutupi wajahnya yang memerah. Tersirat sedikit kelegaan disana.
"Ng, uh, well. . ." ujarnya pelan seraya menggaruk kepalanya. Aku tersenyum.
"Well, kau jatuh cinta~" ujarku menggodanya.
Tapi anehnya, ia tak menggubris godaanku, hanya memalingkan mukanya dan berusaha menjaga jarak dariku.
"Hei kalian berdua! Turis disini?" sapa seorang gadis berambut onyx dan bermata ungu sambil menghampiri kami, diikuti oleh 2 orang gadis berambut blond dan onyx, dengan warna mata yang sama, biru safir. Aku mengangguk. Gadis bermata ungu itu tersenyum lembut.
"Namaku Yuffie! Ini teman-temanku, yang berambut blond itu Namine, anak dari Walikota pulau ini. Dan yang berambut onyx sama sepertiku itu, namanya Xion, dia baru pindah kesini beberapa minggu yang lalu!" Ujarnya memperkenalkan diri.
"Hi," ujar Namine sambil tersenyum simpul. Sedangkan Xion hanya menatapi kami dengan pandangan aneh. Anak yang mencurigakan, apalagi sepertinya aku pernah melihatnya, namun entah dimana. . .
Perasaanku saja, atau memang dia terlihat sedikit berbeda?
"My name is Axel, A-X-E-L. Got it memorized? Dan pria disampingku ini bernama Roxas," Ujarku seraya memperkenalkan diri. Kulirik Roxas, ia tetap tak bergeming dari posisinya semula. Kutepuk lembut bahunya.
"Roxy. . . perkenalkan di-"
"HUAAAAAAAA!" Roxas memotong ucapanku dengan menjerit dengan sangat keras, dan menepis tanganku dengan muka merah.
"Ada apa?" Tanyaku bingung.
"A, aa, aaku. . akuu. . ." ujarnya tergagap. Yuffie tertawa kecil melihatnya. Namine tersenyum simpul, dan Xion hanya menatapi kami tanpa ekspresi.
"Namamu Roxas yah? Aku Yuffie," sapanya pada Roxas dan menjulurkan tangannya. Kuperhatikan wajah Roxas. Memerah.
Hng, dasar. . .
"Roxas," ujar Roxas seraya menyambut tangan Yuffie.
"Well, kalian berlibur disini?" Tanya Yuffie pada kami. Aku mengangguk.
"Kalau begitu, ayo! Ikut kami!" Ujar Yuffie seraya berlari diikuti Xion dan Namine. Kamipun segera berlari mengikutinya.
ROXAS POV.
Aku memperhatikan Axel yang berlari mengejar Yuffie, berusaha mensejajarkan langkahku dengannya. Ia tersenyum, mukanya penuh antusias. Wajahnya yang dipenuhi keringat, yang membuatnya terlihat bersinar dibawah sinar mentari. . .
God,
Ternyata aku memang mencintainya.
Semua yang telah terjadi tadi. . .
Saat aku kelepasan mendeskripsikan dirinya, dan untungnya ia sama sekali tak berfikir jika ialah yang kusebut menarik.
Saat aku berdebar karena mendengar suaranya memanggil namaku. . .
Axel. . .
"C'mon! Kita naik perahu menuju pulau itu!" Ujar Yuffie yang telah menaiki sebuah perahu sambil menunjuk sebuah pulau yang tak jauh dari tempat kami.
"Yeah! Pasti menyenangkan!" Teriak Axel bersemangat seraya duduk di tempat yang paling depan. Namine duduk bersama Xion, dan itu artinya aku harus duduk bersama Yuffie.
Axel mendayung dengan penuh semangat, membuat kami kewalahan untuk menjajarkannya dengan kayuhan kami.
Tak terasa, kamipun sampai di pulau tersebut, dimana sebuah pohon dengan bentuk yang unik menunggu kami disana. Axel terlihat sangat antusias. Ia berlari menuju pohon tersebut bersama Yuffie. Xion pamit pada kami untuk membeli minuman dan snack. Tinggal aku dan Namine. Ia tersenyum padaku.
"Hai," ujarnya. Aku membalas senyumnya.
Akupun melangkah menuju pesisir pantai. Ia mengikutiku, berdiri di sampingku.
Tuk! Kurasakan sesuatu menyentuh kakiku. Aku menunduk.
Sebuah. . . apa ya? Buah? Tanaman? Bentuknya aneh, berbentuk bintang dengan warna kuning mencolok. . . apa ini bintang laut?
"Ini buah Paopu, unik 'kan?" Ujar Namine seraya memungut buah itu. Aku mengangguk.
"Ini berasal dari pohon itu," Ujarnya seraya menunjuk ke suatu arah. Aku menoleh kearah yang ditunjukkan Namine, dan mendapati sesuatu bergejolak dalam hatiku saat melihat Axel dan Yuffie tengah duduk berdua sambil bercanda di pohon unik itu.
Cemburu?
Aku tak tahu, tapi ini sama rasanya seperti dulu, saat aku mengetahui Sora memiliki hubungan dengan Riku.
Yup, aku mencintai Sora-tidak sebagai saudara, namun sebagai seorang laki-laki biasa.
Tapi, perlahan kini. . .
Aku merasakan hal yang sama juga terhadap Axel. . .
Meskipun bukanlah rasa ingin melindungi, namun ingin dilindungi olehnya. . .
"Hei? Kau mendengarku?" tegur Namine. Aku terbangun dari lamunanku dan segera meminta maaf padanya. Ia mengangguk seraya tersenyum.
"Kau tahu? Siapa yang memakan buah ini berbagi dengan seorang yang lain, maka mereka akan menjadi pasangan abadi," ujar Namine seraya tersenyum penuh arti padaku. Aku tertarik mendengar cerita itu.
"Adakah seseorang yang ingin kau bagi?" tanyanya. Aku menunduk, menyembunyikan mukaku yang spontan memerah saat aku memikirkan Axel. Namine tertawa, dan memberikan buah itu padaku.
"Pria berambut merah itu, ya? Berikan saja, aku mendukungmu," ujarnya. Aku menoleh padanya dengan tatapan bingung. Dari tadi, ia seperti bisa membaca pikiranku saja.
"Sana berikan," ujar Namine seraya mendorongku pelan. Aku tersenyum dan berterima kasih padanya.
Aku segera berlari dan melambaikan tanganku ke arahnya.
NORMAL POV.
Namine membalas lambaian tangan Roxas sambil tersenyum manis. Seseorang muncul di belakangnya. Seorang gadis berambut onyx pendek dengan mata biru safir, sama seperti miliknya.
"Xion, sudah selesai?" Tanyanya. Yang ditanya hanya diam. "Sudah 2 minggu kau disini dan kau masih saja dingin padaku. . ." Ujar Namine seraya membalikkan tubuhnya menghadap Xion. Dan ia sedikit kaget mendapati Xion yang telah mengganti bajunya dengan sebuah jubah hitam yang terlihat lumayan menyeramkan.
"Xion? Kau. . ."
"Axel!" Teriak Roxas memanggil Axel yang tengah berbincang dengan Yuffie. Axel dan Yuffie segera menoleh. Roxas mendekatinya dengan ragu-ragu. Ia menyembunyikan buah itu di belakang tubuhnya. Raut wajahnya kembali memerah. "A, Axel. . . A, aku, aku. . ."
"KYAAAAAAAAAAAA!" Terdengar jeritan seorang perempuan yang suaranya tak asing lagi di telinga mereka. Namine.
Mereka bertiga segera menoleh kearah dimana tadi Namine berdiri. Tapi, Namine tidak lagi berada disitu.
"Namine!" Teriak Yuffie dan segera berlari menuju tempat Namine tadi. Axel dan Roxas segera mengikutinya.
Tak ada jejak. Semuanya rapi. Tak terlihat jika ini hanyalah sebuah tipuan dan nantinya Namine akan keluar dan mengejutkan kami yang tengah panik.
"Namine! Kau dimana?" Teriak Yuffie. Namun tak ada jawaban.
"Lihatlah! Ada sebuah surat didalam botol!" Teriak Roxas dan segera mengambilnya. Ia membuka tutup botol dan mengambil surat didalamnya. Yuffie dan Axel menghampirinya. Mereka membacanya bersama.
"Putri Walikota Destiny Island ada pada kami.
Berikan Destiny Island pada kami, atau dia. . .
.
Atas nama Organization XIII,
Number XIV."
Mendadak raut wajah Axel berubah sesaat setelah ia membaca surat itu.
Meskipun sebenarnya raut wajah mereka bertiga berubah, tapi Axel lah yang paling janggal. Wajahnya pucat,
Sesaat setelah membaca tulisan 'Organization XIII'. . .
"Organization XIII! Sialan!" Teriak Yuffie sambil meremas surat itu. "Tapi, siapa nomor XIV itu? Bukankah mereka hanya sampai nomor XIII?" Tanya Yuffie bingung.
"Well. . . sesungguhnya sekarang hanya ada 12 anggota. . ." Ujar Axel. Yuffie menatapnya bingung, dengan pandangan 'apa maksudmu? Darimana kau tahu?'
"Hei-hei! Organization XIII itu apa?" Tanya Roxas penasaran.
"Itu adalah Organisasi pembunuh bayaran, penjahat sewaan kelas kakap. . . dan sekarang, mereka menculik temanku! Takkan kubiarkan! Kalian, tunggu disini, aku ingin mencari Xion," Ujar Yuffie seraya berlari.
"Percuma, Xionlah yang menculik Namine. Kini aku ingat semua. . . Manipulasi ingatan, ternyata. . . tapi siapa yang melakukannya?" Ujar Axel, dengan nada yang lebih pelan saat menyebutkan 'Kini aku ingat semua. . . Manipulasi ingatan, ternyata. . . tapi siapa yang melakukannya?', membuat tak ada seorang pun yang mendengarnya kecuali Axel sendiri.
Mata Yuffie membelalak tak percaya. "Xion. . ." Ujarnya, dengan nada kecewa, marah, sedih, bercampur menjadi satu.
"Yuffie, kami bisa menemukannya. . . kami akan membantumu," Tawar Roxas. Yuffie mengangkat wajahnya. Terlihat setetes air mata disana.
"Benarkah?" Tanyanya. Roxas mengangguk. Yuffie menghapus airmatanya dan tersenyum.
"Baiklah, namun, bisakah kalian jadikan ini rahasia? Aku akan bilang jika Namine dan Xion sedang pergi ke suatu tempat. . ." Ujarnya. Roxas mengangguk.
"Terima kasih banyak. . . akan kuberitahukan orang-orang kota!" Ujarnya seraya berlari meninggalkan Axel dan Roxas.
"Lebih cepat lebih baik," Ujar Roxas seraya membuka peta dunianya. Ia menatap Axel, yang bermuka khawatir sedari tadi.
"Ax? Kau kenapa?" Tanya Roxas khawatir. Axel menggeleng, dan mengatakan bahwa ia tidak apa-apa. Roxas tak mempercayainya, namun ia memutuskan untuk tak mendesak Axel.
"Jadi, kita pergi kemana?" Tanya Roxas.
"Giliran kau yang menentukan. . ." Ujar Axel pelan. Roxas diam sejenak, lalu segera menutup petanya.
"Traverse Town! Kita ke Traverse Town!" Teriaknya penuh semangat.
Sedangkan Axel, wajahnya makin bertambah pucat.
"Traverse Town? Semoga orang itu tidak ada disana. . ." Gumamnya pelan. Namun ia tak ingin menyanggah keputusan Roxas. Ia tak ingin ada kecurigaan melekat.
"Kapan kita berangkat?" Tanya Axel pada Roxas yang baru saja selesai menelepon.
"Malam ini juga," Jawab Roxas.
-XXX-
Chapy 4 selesai. . .! XDDD
Gimana gimana? Aneh yah, pindah Pov terus. . . soalnya aku juga lagi aneh nii. . . *ngeles*
Oh ya, buat yang memperhatikan fic ini dari chapy 1-4*emang ada? -.-* . . . pasti di chapy 4 ini menemukan sedikit kejanggalan.
Kuberitahu, sebenarnya bukannya 'tidak sesuai', hanya saja. . .
Semua sudah kuatur, dan berharap saja semua dapat kudeskripsikan dengan sempurna di Chapy 5 ^^
Ah, ngomongin Chapy 5. . .
Karena aku tak menemukan chara KH yang tepat untuk dijadikan sebuah tokoh yang berperan lumayan penting dan personality nya sesuai *jiah ngelesnya jadi*,
Maka, keputusan Juri:
AKAN ADA OC DI CHAPY DEPAN!
Dan aku mempersembahkan. . .
AKU sebagai OC nya! XDD
*BTW, ada ga yah author gila macam aku yang masukin dirinya sendiri di fic nya?*
Sooo. . .
Ripiu yah! XDDDD
