Autor's Notes:
-Family story yang mengandung Boy Love aka Shounen-ai
-Pairing NejiGaara, SasuNaru, ItaDei, ShikaTema, dll
-Komentar, kritikan dan saran yang membangun masih sangat dinantikan
-Happy Reading
Keterangan:
"Speak" berbicara
'Mind' berfikir dalam hati
Age:
Naruto, Sasuke, Gaara, Matsuri 16 tahun
Neji, Kankuro, Shikamaru, Tenten 20 tahun
Temari, Itachi, Sai, Sakura, Lee, Shino 23 tahun
Tobi, Sasori, Kakashi, Iruka 29 tahun
Selebihnya disesuaikan
XxXxX
Sumarry:
Jika Gaara tidak sadar dalam tujuh hari, dia mungkin akan mengalami gangguan saraf dan kehilangan kemampuan normalnya. Sistem saraf yang tidak bekerja lebih dari tujuh hari bisa mengalami kerusakan permanen. Sabaku and Uchiha family storys, NejiGaara, SasuNaru, ItaDei, ShikaTema
XxXxX
NARUTO © MASASHI KISHIMOTO SENSEI
MY IMMORTAL © LOVELY LUCIFER
XxXxX
Hari kelima setelah kecelakaan
Itaci baru keluar dari ruang kerja Minato dengan Deidara bergantung di lengannya yang tidak terluka. Minato melepas gips yang sudah membungkus lengan Itachi tadi. Tangan kirinya sudah dinyatakan sembuh walaupun masih sedikit nyeri. Minato juga mengobrol banyak dengan Itachi, tentang keadaan bahu Sasuke yang akan pulang besok, juga tentang putra bungsu keluarga Sabaku. Tapi catatan kemajuan kesehatan Gaara, membuat semangat Itachi drop.
"Kita lihat Gaara dulu ya." kata Itachi sambil menggenggam tangan pemuda di sampingnya. Deidara mengangguk.
"Kasihan anak itu, un, padahal seumuran Sasuke, 'kan, un?"
Itachi melirik pacarnya dengan rasa terima kasih yang meluap-luap. Deidara selalu bisa membuatnya tenang dalam suasana hati seburuk apapun, gaya bicaranya, tatapan matanya, sentuhannya, semuanya selalu membuat Itachi merasa nyaman.
"Begitulah. Kau tahu, Gaara sudah parah sekali sewaktu terlempar dari motor, tapi dia masih sempat memastikan keadaanku dan Sasuke, juga menelpon ambulance. Aku tak pernah tahu kalau ada anak seumurannya yang mampu bertindak seefektif itu."
Mata Deidara naik untuk memandang mata Itachi. Blue meet black. "Kalau dia benar-benar tidak sadar sampai hari ketujuh bagaimana, un?" ada raut khawatir dari wajah pemuda berambut pirang panjang itu.
Itachi menghempas nafas, "Kau sudah dengar perkataan paman Minato tadi, Dei, kalau lebih dari tujuh hari Gaara belum sadar, besar kemungkinan dia tidak akan sadar selamanya, kalaupun ada keajaiban, dan kesadarannya kembali, dia mungkin mengalami gangguan saraf dan kehilangan kemampuan normalnya. Sistem saraf yang tidak bekerja lebih dari tujuh hari bisa mengalami kerusakan permanen."
XxXxX
Itachi berhenti di depan kaca ruang sterilisasi itu, cukup banyak orang yang berada di sana, Kankuro, Yashamaru, Shikamaru, Matsuri, seorang laki-laki dewasa dengan wajah imut-imut yang Itachi kenal sebagai paman Gaara yang lain−Sasori, Nenek Chiyo, seorang gadis bercepol yang kalau Itachi tidak salah kenal namanya Tenten, dan seorang pemuda berkacamata hitam−Shino.
Setahu Itachi, sampai detik ini ayah Gaara belum juga menampakkan diri. Benar-benar ayah yang baik Kazekage itu.
"Bagaimana?" tanya Itachi pada Kankuro yang menatap ke arah adiknya yang terbaring dengan pandangan kosong.
Kankuro cuma menggeleng lemah.
Dan mata Itachi melebar sedikit ketika melihat kalau Temari dan Neji berada di dalam ruang sterilisasi Gaara dengan pakaian khusus. Mereka terlihat sedang bicara pada pemuda berambut merah itu sambil menggenggam tangannya.
"Apa yang Temari dan Neji lakukan?" tanya Itachi bingung, dia tidak pernah tahu kalau ada orang lain yang boleh masuk ke ruangan itu selain perawat khusus dan dokter.
"Usul dokter Tsunade, berusaha mengembalikan kesadaran pasien lewat sentuhan dan suara orang-orang terdekatnya. Kemungkinan berhasilnya hanya 5 persen. Tapi apapun layak dicoba."
Temari keluar setelah berbicara entah apa selama beberapa menit, dia menangis tersedu-sedu, Shikamaru langsung memeluknya dan membimbing gadis berkucir empat itu ke sofa terdekat. Kankuro mendelik sebal, tapi tidak menghalangi.
Itachi mengalihkan tatapannya lagi ke dalam ruangan, Neji masih berbicara di dekat telinga Gaara, Itachi tidak bisa membaca gerak bibirnya. Dan matanya melebar lagi ketika Neji bangkit dan membuat gerakan tak terduga. Pemuda bermata lavender itu mengecup bibir Gaara tanpa perduli mata-mata yang melihatnya dari kaca. Cukup lama dan kelihatannya benar-benar penuh perasaan.
Itachi baru akan bertanya pada Kankuro ("Apa dokter Tsunade mengatakan kalau suara dan sentuhan itu termasuk ciuman?"), tapi tidak jadi, karena Kankuro kelihatan siap membunuh, bergumam sengit seperti mau menjebol kaca, Itachi bisa menangkap jelas kalimat yang diucapkannya dengan berapi-api, ("Neji sialan, dia bilang cuma mau bicara, beraninya dia mencium adikku, mengambil kesempatan dalam kesempitan, awas saja dia, kujadikan karasu, terus kucekoki racun milik paman Sasori!")
Itachi sweat drop, takut juga melihat Kankuro yang seram begitu, lalu matanya tertatap Matsuri dan Tenten yang juga menatap tercengang ke arah Neji dan Gaara, ada butir-butir air turun dari mata mereka, menandakan ada hati yang patah.
XxXxX
Satu jam setelah Sasuke keluar dari Rumah Sakit.
"Naru, bujuk Sasuke makan ya? Shizune sudah menyiapkan ramen di meja makan." bisik Mikoto pada pemuda berambut pirang jabrik yang sedang sibuk bermain PS di kamar Sasuke.
Itachi dan Deidara berdiri di pintu kamar, memandang Sasuke yang cemberut di atas tempat tidurnya karena Naruto mengacuhkannya. Sasuke memang kekanakan.
"Oke..." Naruto berdiri, mendekati Sasuke sambil tersenyum lebar, Sasuke langsung membuang muka, tapi Itachi tahu kalau adiknya hanya mencoba mencari pengalih perhatian dari senyum maut Naruto.
"Teme... Ke bawah yuk, makan ramen." kata Naruto sambil memeluk lengan Sasuke.
Sasuke diam saja, masih terlihat kesal.
"Teme..." Naruto menggembungkan pipinya sambil memegang wajah Sasuke agar pemuda berambut biru gelap itu menatap matanya. Sasuke langsung blushing.
Tak perlu menunggu lama, Itachi menarik tangan Deidara dan ibunya keluar dari kamar Sasuke, karena pemuda berambut hitam panjang itu sudah membaca tampang mupeng adiknya. Tinggal tunggu hitungan detik sebelum Naruto menyelesaikan misinya. Itachi tahu Sasuke tidak kuat iman.
Dan benar saja. Mereka baru sampai di tangga ke dua ketika Naruto berteriak "Yei, aku sayang Teme, ayo makan."
Mission completed.
XxXxX
"Tuan muda Itachi, ada telepon untuk tuan."
Itachi mengangkat mukanya dari makan malamnya lalu menatap Shizune.
"Dari siapa?"
"Ah... Anu..." entah kenapa Shizune menatap takut-takut ke arah Deidara, membuat pemuda berambut pirang panjang itu terlihat bingung, "dari tuan muda Neji."
Dan mata semua orang di sana (Fugaku, Mikoto dan Sasuke) minus Naruto, langsung mengarah juga ke Deidara.
"Apa?" tantang Deidara sewot, "aku tidak cemburu dan jangan memancingku untuk cemburu, tidak akan berhasil, Itachi Uchiha."
Itachi tersenyum otomatis, "Aku tidak akan berani melakukan itu. Lagi pula Neji naksir berat pada Gaara," katanya sambil tersenyum geli, ingat tampang Neji setelah dia goda habis-habisan kemarin siang, tidak di depan Kankuro, Tenten dan Matsuri tentu saja.
"Baguslah," Deidara tersenyum puas sambil menyendok suapan terakhir ke mulutnya.
Itachi mengambil telepon yang diulurkan Shizune.
"Moshi mo..."
Itachi reflek menjauhkan gagang telepon dari telinganya ketika dia mendengar teriakan Neji dari seberang.
"Lama sekali... Sok benar sih kau, ditelepon susahnya minta ampun, memangnya ponselmu mana?"
"Eh? Tertinggal di atas, aku sedang makan malam,"
"Baka,"
"Sudahlah. Ada apa menelpon? Tumben. Mau curhat masalah Gaara?"
"Bukan, baka Itachi..." Neji kembali berteriak.
"Iya, iya bukan Gaara, tidak perlu teriak, aku belum tuli, jadi ada apa?"
"Gaara..."
"Loh, katamu bukan soal Gaara?"
"Maksudku bukan masalah cintaku pada Gaara, baka Itachi," kata Neji geram.
"Kau ketularan Sasuke, namaku Itachi Uchiha, bukan baka Itachi," Itachi langsung berkelit begitu Sasuke melemparnya dengan serbet, membuat Fugaku berdehem keras,
"Ah sudahlah. Jadi Gaara kenapa?"
"Dia sudah sadar..."
"..."
"Itachi, woi, kau masih di sana?".
Tapi telepon sudah diletakkan Itachi di meja, sementara pemuda itu menarik Deidara yang sedang minum untuk ke rumah sakit.
XxXxX
Gaara menatap bingung orang-orang di depannya, dokter yang baru saja memeriksanya memberitahu kalau orang-orang di balik kaca itu adalah kerabatnya. Pelan-pelan pemuda berambut merah itu memicingkan mata agar dapat melihat lebih jelas, dia belum bisa bangun tentu saja, semua alat yang menempel di tubuhnya sudah dilepas, kecuali infus dan alat bantu pernafasan. Tapi dari semua orang yang ditatapnya, tidak satupun yang dia kenal.
Gaara tidak bisa mengingat siapa gadis berkuncir empat yang dari tadi terus menatapnya sambil tersenyum, atau pemuda besar tinggi berambut sewarna di sebelahnya, juga gadis berambut cokelat sebahu, lelaki berambut merah marun di sebelah nenek, pemuda berambut nanas, atau siapapun juga di sana.
Tidak ada ingatan sama sekali tentang mereka.
Gaara memejamkan matanya sejenak, berusaha berfikir, tapi memorinya kosong, seolah seseorang baru saja memformat otaknya, tanpa menyisakan sedikitpun ingatan, bahkan tentang dirinya sendiri.
'Deg!'
Tiba-tiba jantung Gaara kehilangan satu ketukan ketika tertatap seorang pemuda dengan rambut cokelat panjang dan mata lavender yang baru saja muncul bersama pemuda rambut hitam panjang dan pirang panjang. Mata mereka bertemu, white meet green, dan dia tersenyum. Pemuda berambut hitam di sebelahnya menyikutnya, membisikkan sesuatu pada si mata lavender hingga membuat pemuda yang masih tersenyum itu bersemu merah.
Gaara memicingkan kembali matanya, mencoba berfikir lagi dan mengingat, tapi sama saja, tidak ada kenangan sama sekali.
XxXxX
"Dokter Namikaze sudah memastikan kalau Gaara positif mengalami amnesia, juga kehilangan kemampuan berjalan," kata Yashamaru pelan.
Mereka ada di kafetaria sekarang, bersama dua Sabaku yang lain, Neji, Itachi, Deidara, Shikamaru, Shino dan Tenten.
"Setelah semua ini? Tapi paman, Gaara sadar tepat seminggu setelah kecelakaan, seharusnya sistem sarafnya masih bekerja baik," protes Temari, tentu saja, mereka sudah melakukan segala macam cara, bahkan rela melihat adik bungsunya diperkosa bibirnya di depan mata, oleh laki-laki pula. Kalau semua sia-sia, rasanya benar-benar ingin marah.
Itachi mengangguk setuju. Dia melirik Neji yang sudah salah tingkah.
"Benar, lagi pula menurut penjelasan Itachi-kun... Sesaat setelah kecelakaan Gaara masih berjalan, bicara, juga menelepon ambulance, jadi ada kemungkinan ini hanya syok sementara. Atau seperti kata dokter Tsunade, amnesia yang dialami Gaara bisa jadi merupakan proteksi tanpa sadar atas kenangan buruk sebelum dia mengalami kecelakaan. Banyak kemungkinan, dan semua persentasenya sama besar," kata Yashamaru.
"Jadi apa yang harus kita lakukan paman?" tanya Kankuro, tangannya memainkan gelas cappucinno-nya yang sudah agak dingin.
"Dokter Namikaze menyarankan terapi, mungkin itu dulu," jawab Yashamaru, dia melirik arlojinya, "ini sudah terlalu lama. Temari, sebaiknya kau kembali ke tempat Gaara,"
Temari berdiri, melirik Kankuro dan Shikamaru penuh harap, tapi Yashamaru menggeleng,
"Ajak Tenten saja, paman masih perlu bicara dengan mereka,"
Temari menghela nafas, mukanya berubah sebal, "Baiklah, tapi jangan lama-lama," Dan dia pergi sambil mengomel.
Yashamaru memperhatikan Temari yang menghilang di udakan dan lalu ganti menatap Shino, "Kau bisa mulai Aburame,"
Shino mengeluarkan amplop cokelat dan mengulurkannya pada Kankuro. Neji dan Shikamaru yang mengapit Kankuro ikut mengintip dengan penuh minat.
Itachi sebenarnya ingin memutar kebelakang Kankuro dan melihat juga, tapi Deidara menepuk lengannya dan memberi pandangan 'Jaga sikapmu, Itachi Uchiha, un,'. Jadi Itachi menurut saja, berharap Neji yang duduk di sampingnya mau berbagi.
"What the... Apa ini?" tanya Kankuro marah, kertas dan foto-foto di tangannya hampir remuk kalau tidak ditarik Neji dengan paksa, Itachi menggunakan kesempatan itu untuk ikut melihat.
"Yang dialami Gaara bukan kecelakaan, tapi percobaan pembunuhan. Ada orang yang sengaja memotong rem Ducati adikmu," kata Shino, matanya yang tertutup kacamata hitam menatap lurus ke arah Kankuro tanpa berkedip.
"Siapa pelakunya?" tanya Shikamaru, sebelah tangannya memegang Kankuro yang sepertinya siap membalik meja.
Hening.
Shino tidak menjawab, Yashamaru juga juga diam saja.
"Dia... Pasti dia," semua mata langsung menatap Kankuro.
Itachi sudah mau bertanya ("Dia siapa?"), tapi kakinya sudah keduluan diinjak Deidara di bawah meja.
"Tidak ada bukti," kata Yashamaru pelan, "Aburame sudah berusaha menyelidiki satu minggu ke belakang. Mereka bekerja dengan rapi,"
Kankuro berdiri, membuat Shikamaru yang sedari tadi memegang pundak pemuda itu ikut bangkit dengan waspada.
"Mau ke mana?" tanya Yashamaru.
"Menemuinya,"
Yashamaru menatap sekeliling, tahu kalau orang-orang memperhatikan mereka "Kendalikan dirimu dan kembali duduk. Sudah paman katakan, tidak ada bukti,"
"Persetan dengan bukti. Gaara selalu disiksanya di rumah sial itu setiap saat. Tidak perlu orang jenius untuk tahu siapa orang yang ingin Gaara mati,"
"Tenanglah Kankuro, emosi hanya akan membuatmu mati konyol,"
"Mana bisa tenang, dia adikku. Dan aku akan membunuhnya sebelum dia membunuhku,"
Yashamaru tertawa hambar, "Ya Gaara adikmu, tentu saja kau marah. Dan orang yang mau kau bunuh itu berkuasa, Kazekage Sabaku corporation, pemilik salah satu perusahaan terbesar di negara Hi, ah, kau tidak lupakan kalau dia itu ayahmu? Mudah sekali membunuhnya,"
Itachi menoleh ke arah Yashamaru dan Kankuro cepat-cepat, sampai lehernya nyaris keseleo, dan Deidara mencubiti pinggangnya dengan gemas.
"Jadi ayah Gaara, eh maksudku ayahmu, eh uh what ever, intinya, ayah kalian. Dia pelakunya?" tanya Itachi tak percaya pada Kankuro, kalimatnya kacau saking kagetnya.
Kankuro cuma menghempas nafas dengan sengit, "Jangan bilang kalau keluargamu tidak tahu apa-apa, Itachi, bibi Mikoto itu teman baik kaasan."
"Ya sudahlah soal itu. Jadi sekarang bagaimana? Ayahmu sudah gagal, bagaimana kalau dia mencoba lagi untuk membu... -ouch itai- maksudku mencelakakan adikmu?" tanya Itachi sambil meringgis, dia hampir saja kelepasan mengatakan membunuh, tapi dia keduluan diserang dari dua arah, di sebelah kiri Neji menarik rambutnya sampai kepala Itachi miring, dan dari kanan Deidara mencubiti pahanya.
"Selama masih dirumah sakit, Gaara aman, Kazekage tidak akan mengambil resiko untuk mencelakakan Gaara di muka umum," kata Shino.
"Tapi..."
"Aku sudah menempatkan beberapa agen siaga 24/7 di sekitar ICU," lanjut Yashamaru memotong ucapan Neji, "aku meminta Temari kembali hanya agar dia tidak histeris mendengar ini, dia sudah cukup terguncang,"
Shikamaru menatap Yashamaru dengan penuh terima kasih, soalnya kalau Temari uring-uringan, pasti Shikamaru yang kena kibas.
"Oh oke, jadi setelah Gaara keluar dari rumah sakit, apa rencananya?" Neji menatap Kankuro penuh harap, "Bagaimana kalau..."
"Gaara akan dirawat cukup lama di sini, kami akan memikirkan solusinya nanti. Jadi jangan mimpi Neji, aku tidak akan menyerahkan adikku padamu," potong Kankuro sebal, dia lalu bergumam tidak jelas, tapi Itachi bisa menangkap kata 'sialan' dan 'cium' seperti ketika di kamar sterilisasi lalu.
"Hei, aku belum bilang apa-apa," protes Neji memotong gumaman Kankuro, tapi mau tak mau wajahnya merona juga.
"Aku tahu isi otakmu,"
Itachi nyengir mendengar kalimat sinis Kankuro, dia berbisik "Nice try," ke telinga Neji.
Neji tidak menangapi, tapi bukan berarti dia kehabisan akal.
"Oh oke, aku memang memikirkan itu, tapi apa salahnya? Lagi pula Hyuuga bisa memberikan perlindungan lebih baik dari agen 24/7 manapun. Ayahmu pastilah berfikir dua kali kalau mau mencelakai Gaara yang ada di bawah perlindungan ayahku,"
Kankuro memasang tampang paling bodoh yang pernah Itachi lihat seumur hidupnya. Dia memandang Neji dengan tercengang, membuat pemuda bermata lavender itu harus berusaha mati-matian menahan tawa. Neji tahu dia hanya perlu memasang raut serius, dan Kankuro akan mengiyakan tawarannya.
"Paman rasa, Neji-kun benar. Yah kita bicarakan lagi nanti," Yasamaru menepuk bahu Kankuro dan berdiri untuk meninggalkan kafetaria.
XxXxX
"Selamat pagi, Gaara dan Temari-nee," kata Neji sewaktu membuka pintu kamar inap Gaara. Sudah dua minggu sejak Gaara sadar dan menurut dokter Minato Namikaze keadaan pemuda rambut merah itu sudah benar-benar stabil, terapi juga sudah mulai dilakukan.
"Pagi Neji-kun," jawab Temari tanpa menoleh, saking seringnya Neji berada di sini, gadis berkuncit empat itu sudah hapal benar suara Neji walaupun tanpa melihat.
"Kenapa, neesan?" tanya Neji ketika melihat Temari yang agak bingung memegang handuk basah ditangan kanannya.
"Aku mau mengelap badan Gaara, tapi tidak tahu harus mulai dari mana," kata Temari sambil mengernyit memandang adiknya yang berada di atas kasur.
"Memangnya perawat yang biasa mana?"
"Sakura ada, tapi Gaara sepertinya kurang nyaman kalau dia yang melakukan, jadi yah... Aku menggantikan,"
"Aku bantu," kata Neji.
Pemuda bermata lavender itu mendekat dan membuka kancing baju atasan rumah sakit Gaara dan...
'GLEK!'
Neji menelan ludah dengan panik ketika kulit putih pucat Gaara terpampang di depan matanya.
Pemuda berambut cokelat panjang itu menarik nafas pelan-pelan,
'Aku tidak berfikir yang macam-macam,' batinnya, 'kalau Kankuro tahu, aku bisa dikebiri,' tambahnya untuk mengusir fantasi rate-m yang mendadak muncul.
"Neji, pelan-pelan ya," kata Temari sambil menatap adiknya dengan khawatir.
Neji mengangguk, berusaha meyakinkan Gaara yang kelihatannya bertambah pucat ketika Neji berusaha menarik keluar lengan pemuda berambut merah itu dari lubang pakaiaan. Neji bisa merasakan kalau Gaara mencengkam erat kemejanya seakan takut Neji tiba-tiba menyentuh luka berperban di dada pemuda bertato ai itu.
"Sudah selesai, tidak sakit kan?" tanya Neji sambil mengusap pelan pipi Gaara, dapat dilihatnya kalau raut panik sudah berangsur hilang dari wajah pucat pemuda itu.
"Terima kasih," kata Temari, dia dengan cekatan mengelap seluruh badan adiknya secermat dan sehati hati mungkin.
Neji mengambil handuk kering dan baju ganti Gaara lalu mendekat lagi. Dapat dirasakannya panas tubuh pemuda berambut merah itu ketika tanpa sadar−tapi sengaja−Neji menyentuh kulit Gaara yang masih sedikit basah. Neji sedang di awang-awang sekarang, berusaha mengingat setiap inci badan gebetannya.
Neji cukup menikmati kegiatannya mengeringkan badan pemuda di depannya, sampai aura menusuk di tengkuknya membuat pemuda berambut cokelat panjang itu menoleh ke arah pintu.
Suara menggelegar Kankuro mencapainya lebih dahulu sebelum Neji menangkap sosoknya.
"Neji Hyuuga sialan, apa lagi yang kau lakukan pada adikku?" Kankuro menyingkirkan tangan Neji dari badan Gaara dengan kemarahan yang meluap-luap, membuat Gaara tersentak kaget, sekali lagi pemuda berambut merah itu mencengkam kemeja Neji dengan panik sehingga Kankuro gagal menjauhkan Neji dari adiknya.
"Gaara lepas ya, niisan bukan marah padamu," kata Kankuro pelan pada adiknya, tapi tepat setelah mengucapkan kalimat itu, matanya ganti menatap Neji dengan kilat marah.
Gaara mengendurkan pegangannya sedikit dengan ragu-ragu, tapi tidak melepaskan.
Mengetahui reaksi pemuda berambut merah di depannya, Neji tersenyum penuh kemenangan, membuat Kankuro makin naik darah. Mulut Kankuro sudah setengah terbuka untuk kembali mencecar Neji. Tapi teriakan marah Temari lebih dulu membungkam mulut pemuda berambut pirang kecokelatan itu.
"Kankuro..." bentak Temari keras sekali, "Apa-apaan kau ini, datang-datang langsung membuat keributan, ini rumah sakit bodoh. Kau membuat Gaara kaget,"
"Tapi Neji..."
"Neji sedang membantu aku mengelap badan Gaara,"
"Oh..." sekali lagi Kankuro memasang tampang bodohnya. Tapi hanya beberapa saat, detik berikutnya pemuda itu sudah menghampiri adiknya untuk menggangantikan Neji setelah memberikan pandangan paling mematikan pada pemuda berambut cokelat panjang itu.
"Kenapa tidak meminta bantuan Sakura?" tanya Kankuro sewot.
Temari masih menatapnya dengan kesal, "Gaara sepertinya tidak terlalu nyaman kalau perawat yang mengelap badannya. Lagi pula aku kakaknya, kenapa aku tidak boleh mengurus adikku?"
"Bukan itu maksudku, Temari. Aku tidak suka kalau si brengsek ini mencari-cari kesempatan untuk berbuat macam-macam pada Gaara,"
Temari memelototi adik lelakinya itu, "Jangan bicara seolah-seolah kau tidak tahu terima kasih begitu, Kankuro, Neji hanya mencoba membantu,"
"Iya iya, maaf," kata Kankuro tanpa nada menyesal sama sekali. Dia berusaha berkonsentrasi memakaikan pakaian ganti pada adiknya. Dan Gaara berjengit kaget ketika kakaknya tanpa sengaja menyentuh lukanya.
"Hei, hati-hati," reflek Neji memprotes kesembronoan Kankuro.
Mendengarnya, mata Gaara tanpa sadar naik menatap pemuda mata lavender itu dari atas punggung Kankuro. Green met white.
Neji tersenyum, tapi Gaara tak membalasnya, dia hanya diam menatap sosok pemuda tanpa cela di depannya.
Walaupun ingatannya belum kembali, Gaara sadar betul, sebelum kecelakaan itu, dia pastilah memiliki sesuatu yang tidak biasa pada Neji.
XxXxX
"Kau tidak kerja. Sampai kapan mau di sini?" Temari menanyai Kankuro ketika perawat Sakura mendorong kursi roda Gaara keluar kamar untuk melakukan terapi.
"Aku akan pergi kalau dia juga pergi," hardik Kankuro pada Neji yang masih berkosentrasi menatap Sakura dan Gaara yang akan berbelok di koridor.
"Ya sudah, neesan, aku pergi dulu, pulang kerja aku langsung ke sini," kata Neji sambil membetulkan kemejanya, jas dan dasinya ada di mobil.
"Hei kau tidak punya kesibukan lain apa, sampai harus kemari setiap saat?" tanya Kankuro sebal.
"Tenang saja, aku tidak akan dipecat di perusahaan sendiri. Lagi pula aku memang senggang," jawab Neji cuek. Dia berjalan menjauh dan Kankuro menyusulnya setelah berpamitan pada Temari.
"Menurutku sebaiknya kau punya pacar," kata Neji ketika mereka turun ke lantai satu.
"Apa maksudmu?" tanya Kankuro heran.
"Yah, kau membenciku yang mendekati adikmu, juga marah-marah terus pada Shikamaru yang jelas-jelas akan menjadi kakak iparmu. Sebaiknya kau jatuh cinta agar tahu rasanya menyayangi orang lain dan kau jadi tidak posesif begitu pada saudara-saudaramu,"
"Aku tidak posesif, bodoh,"
"Yah terserahlah, tapi kasihan Gaara dan Temari-nee kalau kau marah-marah terus begitu,"
Kankuro mendengus, "Jangan mencari alasan. Kalau kau berharap aku akan membiarkan kau mendekati adikku, kau bermimpi. Adikku straight, jangan samakan denganmu yang tidak normal. Lagipula kelihatannya Tenten sangat menyukaimu, kenapa kau tidak memacarinya saja? Tidak usah mendekati adikku segala. Gaara bukan homo,"
Neji memutar matanya, "Aku dan Tenten cuma teman, tidak lebih. Aku sudah terlanjur suka pada adikmu, salahkan saja Gaara kenapa punya tampang manis begitu,"
Kankuro memasang tampang neraka mendengar kalimat cuek Neji.
"Eh ngomong-ngomong, mau tidak kucomblangi dengan Tenten? Sepertinya kalian cocok,"
'BUSH!'
Wajah neraka Kankuro berubah drastis menjadi merah.
"Nanti kukirim nomor ponsel, email dan alamat rumahnya. Ja ne," kata Neji sambil menghampiri mobil Lamborghini cp646 nya sambil tertawa.
"Neji sialan," maki Kankuro ketika dia juga masuk ke mobil hitam miliknya.
XxXxX
"Apa yang kalian lakukan?" bentak Neji ketika menemukan dua orang intel terbaiknya sedang berciuman dengan penuh nafsu seperti direkat dengan lem di sebelah ceruk kamar inap Gaara.
"Eh eh anu," Iruka cuma mesem-mesem sambil menjauhkan lutut Kakashi dari selangkangannya. Sedangkan Kakashi, laki-laki bermasker itu berdecak dan menarik tangannya yang tadi sudah berada di bokong Iruka.
"Aku membayar kalian untuk menjaga Gaara, bukannya berbuat asusila di muka umum," omel Neji panas.
"Ck, kami sudah bekerja 24/7 tuan muda, apa salahnya mencari kesegaran sejenak," kata Kakashi sambil membenahi maskernya, "lagi pula tuan muda Itachi dan tuan muda Kankuro tidak keberatan," Kakashi mengerling dua pemuda yang duduk di beton beranda rumah sakit sambil senyum-senyum tidak jelas.
"Sudahlah Neji, tidak masalah, ada Shino, Lee, Choji, Kiba dan Sai yang berjaga," kata Itachi santai. "Lagipula lumayan juga menonton mereka, bisa untuk referensi,"
Kankuro meledak tertawa, "Betul itu, berasa seperti nonton film bokep ala homo,"
Itachi ikut tertawa. Sedangkan Kakashi dan Iruka senyum-senyum senang.
Neji mendengus, "Kau rela kalau aku memperaktekkan itu pada adikmu?"
Kankuro langsung berhenti tertawa. Pandangannya berubah seram, "Jangan berani-berani Neji Hyuuga, sekali lagi kau menyentuh adikku, kujadikan kau boneka koleksi paman Sasori,"
Itachi tertawa makin kencang, "Kau sih, naksir pada anak di bawah umur, pedophile tahu, dilaporkan pada komisi perlindungan anak, tahu rasa kau,"
Neji mencibir, "Gaara tidak di bawah umur, dia seumuran Sasuke, hampir 16 tahun. Lagipula dia jauh lebih dewasa dari cowok yang hobinya main boneka," Neji sengaja mengerling Kankuro yang sudah meradang lagi.
"Hobiku tidak seperti itu, itu pekerjaanku," protes Kankuro.
"Oh ya, memang jelas perbedaannya,"
Neji mencibir.
"Ng... Kankuro-nii"
Neji, Kankuro dan Itachi serentak menoleh pada pemilik suara yang menyela, dan terlihat Naruto, putra semata wayang dokter pemilik rumah sakit sedang menatap malu-malu.
"Ya, ada apa, Naru?"
"Apa Naru boleh masuk ke kamar Gaara?" tanya Naruto sambil menatap penuh harap pada ketiga pemuda di depannya.
Kankuro merendahkan badannya hingga kepalanya dan Naruto sejajar, "Boleh saja, memang Naru bawa apa?" tanya Kakuro sambil mengerling tangan Naruto yang dia sembunyikan di balik badannya.
Naruto menatap Itachi dengan waspada, dia memberikan tanda pada Kankuro untuk mendekat.
"Naru mau minjemin Gaara PSP punya Sasu-teme" Naruto berbisik pada Kankuro, tapi sepertinya dia tidak sadar kalau suaranya bisa dengan jelas ditangkap Itachi dan Neji.
Reflek Kankuro mengerling Itachi, berusaha tanpa kata bertanya 'apa ini tidak apa-apa?' Kankuro belum lupa sikap Sasuke yang terlalu posesive pada Naruto, salah-salah pantatnya jadi sasaran chidori.
Celakanya Itachi malah menyeringai senang, membuat Kankuro langsung mendapat firasat buruk.
"Masuk saja, Naru. Kankuro-nii yang tanggung jawab," kata Itachi sambil menepuk kepala si pirang dan menyeringai ke arah Kankuro.
"Yey...!" tanpa menunggu, Naruto langsung berlari ke arah pintu.
Itachi, Kankuro dan Neji menatap kelakuan Naruto dengan wajah horor.
"Naru hati-hati, nanti ja..." Kalimat Itachi terhenti ketika melihat Naruto tersandung kakinya sendiri dan melayang kedepan dengan slow motion.
Reflek Itachi berlari dengan membabi buta, kalau Sasuke tahu Naruto lecet di depan matanya, artinya Itachi mesti siap-siap disiksa seumur hidup.
"Oops, hati-hati!"
Itachi berhenti sambil melongo ketika lengan putih berbalut baju hitam berpotongan tidak sama di masing-masing tangan, terulur untuk menangkap Naruto yang siap mencium lantai.
"...tuh" Itachi masih sempat melanjutkan kalimatnya dengan tercengang. Beberapa langkah di depannya terlihat Sai yang memegangi Naruto dengan posisi yang cukup... Ehm... Menjanjikan.
"Eh... Terima kasih, kak" Itachi bisa mendengar kalimat Naruto yang riang, tanpa sadar terbayang cengiran uke ala Naruto di kepala Itachi.
"Mati aku...!" Itachi langsung mengumpat begitu merasakan aura gelap datang dari belakangnya.
Dengan ngeri Itachi berbalik untuk mendapati adiknya menatap ke arah Sai dan Naruto dengan pandangan paling sadis yang pernah Itachi liat seumur hidupnya.
"Naruto apa yang kau lakukan?" suara Sasuke menggelegar, membuat Itachi mundur secara reflek dan berusaha mengambil Naruto dari pegangan Sai.
"Ouch, Itachi-nii, kaki Naru sakit," gumam Naruto tanpa melirik sedikitpun pada Sasuke yang datang dengan langkah berdebam-debam.
"Iya, iya, nanti kita minta chichi mu untuk memeriksa," kata Itachi sambil melirik takut-takut kearah adiknya. "Sai, kau kembali berjaga ketempatmu, sekarang," lanjut Itachi sedikit mendesak pada pemuda berambut hitam itu.
Sai memandang Naruto sejenak, memberikan senyuman paling charmingnya, lalu berbalik pergi.
"Apa yang kau lakukan dengan orang itu?" hadik Sasuke begitu dia mencapai si rambut pirang.
"Aku tadi hampir jatuh, kakak itu yang menangkapku," kata Naruto.
Sasuke melotot dengan marah, Itachi seolah-olah bisa melihat posisi Sai dan Naruto tadi di atas kepala adiknya "Kau..." suara Sasuke berdesis berbahaya.
"Teme, kakiku sakit," Naruto memotong kalimat Sasuke dengan polosnya sambil menjulurkan kaki kirinya.
Dan tampang neraka Sasuke lenyap seketika, berganti raut panik ketika dia berjongkok untuk memeriksa pergelangan kaki pacarnya.
"Sepertinya terkilir," kata Sasuke sambil meraih pinggang Naruto dan memberi tanda pada kakaknya untuk melepas pegangannya, "kita keruang chichi-mu untuk diperiksa"
"Eh?"
"Diam saja dan jalan pelan-pelan, pegangan yang kuat padaku,"
"Tapi Teme, aku mau menjenguk Gaara,"
Kalimat Naruto total membuat Itachi menepuk keningnya, masalah baru.
"Apa?" Sasuke melirik sedikit seakan tak mendengar, tapi Itachi bisa melihat kilau marah di mata adiknya.
"Aku mau menjenguk Gaara, Sasu-Teme," Naruto malah mengulang kalimatnya tanpa sadar situasi.
"Nanti, kita periksa kakimu dulu,"
"Aku mau menjenguk sekarang. Sekarang," Naruto merengek sambil menggembungkan pipinya.
Mata Sasuke menyipit berbahaya, "Penting Gaara atau kakimu?"
"Gaara," Naruto menjawab dengan semua kepolosannya.
Itachi menelan ludah dengan horror, dia bisa melihat kedutan di pelipis adik semata wayangnya.
"Penting Gaara atau aku?" bisik Sasuke dengan semua kekuatannya untuk mengusahakannya tidak berteriak.
"Er... Itu..."
Itachi reflek mundur selangkah.
"Kau itu...!. Ditempat parkir tadi kau meninggalkanku, lalu berpelukan dengan cowok berbaju aneh itu, selanjutnya kau bilang Gaara lebih penting dari kakimu, sekarang kau mau bilang kalau aku tidak lebih penting dari Gaara yang baru kau kenal dua minggu begitu?" teriak Sasuke, jarinya satu per satu mengarah dari tempat parkir, Sai, pintu kamar inap Gaara, kaki Naruto, dadanya sendiri dan terakhir kembali lagi kearah pintu kamar Gaara.
"Eh bukan begitu," Naruto memasang tampang bego, sambil melirik Itachi dengan tatapan memohon bantuan.
"Jadi apa maksudmu?" hardik Sasuke.
"Itu..." mata Naruto berpindah-pindah dengan panik dari wajah pacarnya, lalu ke wajah Itachi, lalu kembali lagi ke wajah Sasuke.
"Sasuke..." Itachi berusaha mengalihkan tatapan neraka adiknya dari wajah memelas Naruto, tapi Sasuke tidak menanggapi.
"Sasuke..." Itachi mengulang panggilannya.
"Apa?" teriak Sasuke tiba-tiba, membuat pemuda berambut hitam panjang itu terlonjak kaget.
"Hei, kenapa kau juga marah padaku!" Itachi protes tidak terima, masa adik lebih galak dari kakaknya.
"Diam saja kalau begitu," balas Sasuke masih dengan nada marah.
"Kalau kau terus berteriak pada Naru, aku akan..." Itachi menghentikan kalimatnya, bingung mau mengancam apa.
Sasuke menatapnya sambil menaikkan sebelah alisnya tanda menantang.
"Aku akan... Akan melaporkan pada ayah agar pertunanganmu dengan Naru dibatalkan," Itachi berucap asal saja.
'Blash!'
Wajah Sasuke horor seketika, membuat Itachi tersenyum penuh kemenangan.
Mulut pemuda berambut biru itu membuka menutup dengan panik, melontarkan protes tanpa suara.
"Eh, tapi aku nggak mau," bantahan bukan berasal dari Sasuke yang cuma mangap-mangap, tapi dari Naruto yang memandang Itachi sambil menggembungkan pipinya, "aku sayang banget sama Sasuke," lanjut Naruto tanpa sadar kalau muka pacarnya sudah merah padam tanpa melewati merah terlebih dahulu.
Itachi melongo.
"Benarkah, Naru?" tanya Sasuke malu-malu.
"Iya donk," Naruto tersenyum dengan manisnya.
'Cup!'
Sasuke tiba-tiba mencium Naruto tepat di bibir, membuat Itachi mundur dengan tampang ilfil ke arah Neji dan Kankuro yang tersenyum senang karena adegan yaoi lain setelah KakaIru barusan.
XxXxX
"Hahaha. Aduh perutku sakit," Kankuro masih tertawa walaupun Sasuke dan Naruto sudah pergi sejak lima menit yang lalu, entah ke ruangan Minato untuk memeriksa kaki terkilir Naruto, atau mencari tempat sepi untuk melanjutkan ciuman tadi.
"Ternyata bibir adikmu cepat juga ya geraknya," lanjut Kankuro di sela-sela tawanya.
"Benar juga, dasar anak muda jaman sekarang, padahal kita dulu seingatku tidak semesum itu," komentar Itachi sok tua, membuat kepalanya mendapat hadiah toyoran gratis dari Neji.
"Kalau kau sih sama bejadnya," maki Neji.
"Hei, fitnah itu lebih kejam dari pada ciuman!"
Neji mendengus saja dan tidak menanggapi kata-kata Itachi, pemuda itu beranjak pergi.
"Hoi, kau mau kemana?" Kankuro menatap curiga.
"Menemui adikmu,"
"Apa? Mau apa kau bertemu Gaara? Kalau kau berani mempraktekkan adegan yang kau lihat tadi, aku bersumpah akan membunuhmu Hyuuga..." teriak Kankuro sambil mengejar Neji dengan membabi buta.
XxXxX
TBC
XxXxX
Last autor's note:
Buat Ambu-san dan Arin, gomen soal golongan darah, saia cuma ngarang. Gomen, gomen *kabur*
Terima kasih buat yang sudah meripyu. Jangan lupa tanggal 10 ada SasuNaru day.
Review please!
