Autor's Notes:
-Family story yang mengandung Boy Love aka Shounen-ai
-Pairing NejiGaara, SasuNaru, ItaDei, ShikaTema, dll
-Komentar, kritikan dan saran yang membangun masih sangat dinantikan
-Happy Reading
Keterangan:
"Speak" berbicara
'Mind' berfikir dalam hati
Age:
Naruto, Sasuke, Gaara, Matsuri 16 tahun
Neji, Kankuro, Shikamaru, Tenten 20 tahun
Temari, Itachi, Sai, Sakura, Lee, Shino 23 tahun
Tobi, Sasori, Kakashi, Iruka 29 tahun
Selebihnya disesuaikan
Di sini Chiyo adalah ibu Sasori dan nenek dari ketiga Sabaku bersaudara
XxXxX
Sumarry:
Tak jadi soal kalau sekarang Gaara lebih memilih berbicara dengan gestur dan gerak tubuh. Dia jelas mengalami trauma atas semua yang terjadi. Sabaku and Uchiha family storys, NejiGaara, SasuNaru, ItaDei, ShikaTema
XxXxX
"Kaachan..!"
Sebuah panggilan melengking bergema di Sabaku Manor. Sedetik kemudian, sesosok gadis kecil berkucir empat muncul dari tangga atas seolah menaiki seluncur. Selanjutnya, Karura menangkap anak sulungnya yang nyaris menghantam lantai dalam ketergesaannya menyambutnya.
"Temari-chan, hati-hati," kata Karura dengan nada khawatir, wanita muda itu menepuk kepala berkuncir anaknya, berniat menasehatinya, tapi Temari menggeleng tak perduli, dan tarikan di roknya membuat Karura harus berjongkok agar sejajar dengan kepala anak sulungnya.
"Benarkah? Benarkah?"
Si gadis kecil melompat-lompat, binar senang terpancar dari kedua mata sea green-nya.
"Apa yang benar, Temari-chan?" tanya Karura lembut.
"Apa yang dikatakan paman Yashamaru," kata Temari dengan nada tak sabar, "bahwa aku akan menjadi neechan lagi,"
Karura sudah dapat memahami arah pembicaraan. Tentu saja, dia ibunya, Karura bahkan memahami semua yang tak terucap oleh putri kecilnya. Tapi, tak ada salahnya menggoda, seringai nakal bermain di bibirnya, "Bukankah itu sudah terjadi?" tanyanya sambil mengangguk ke arah anak keduanya yang datang sambil menyeret boneka kayunya.
"Ini bukan tentang Kankuro, Kaachan." lengan kecil itu melambai asal saja ke arah adiknya, "Temari bicara soal adik kecil yang lain. Yang lucu," si gadis kecil menggembungkan pipinya, "matanya besar," giliran kedua matanya dibuka lebar dengan jarinya, "dan manis,"
Mau tak mau, Karura terkikik geli, ibu muda itu mengusap kepala putranya yang secara tak langsung divonis tak lucu dan tak manis oleh kakaknya.
Kankuro hanya tersenyum tak mengerti.
"Jadi benarkah?" tanya Temari lagi.
Perlahan Karura mengangguk.
"Yeey, Kankuro, kita akan punya adik, horee!"
"Adik?" si bocah lelaki membeo bingung, tapi melihat kakaknya yang melompat-lompat, membuat Kankuro mengikuti saja, "Hore..!"
Sabaku Manor diributkan oleh teriakan si sulung dan tertawaan adiknya yang sekarang bergandeng sambil berputar-putar mengelilingi ibunya. Hari itu, untuk yang keseribu kalinya, Karura mensyukuri segala nikmat yang diberikan Tuhan.
XxXxX
Karura berpegang ke sisi meja ketika padangannya mendadak berubah gelap.
"Kaachan,"
Sebuah panggilan dan pegangan lembut menyentuhnya, tak lama, Karura sudah dibimbing menuju sofa.
"Kaachan baik-baik saja?"
Sosok putri sulungnya yang berkuncir empat melayang fokus di hadapan Karura. Cemas dan khawatir mendominasi ekspresinya.
"Kankuro, cepat ambilkan air," kata Temari pada bocah empat tahun di sebelahnya.
Dan hanya dalam sedetik sesuatu yang dingin menyentuh lengan Karura, tak lama raut polos putranya terlihat.
"Kaachan, minumlah," kata Kankuro, ketika tangan kecilnya mengulurkan tempat minum miliknya.
Bahkan dalam pusing yang melanda kepalanya, Karura tergerak untuk tertawa, "Terima kasih, Kanku-chan," katanya sambil menarik sedotan dan menyeruput airnya sedikit. Dia tak benar-benar minum dari termos bergambar ninja anaknya, hanya memberikan penghargaan pada putri dan putranya yang menatapnya cemas.
"Sudah kubilang!"
Suara menggelegar di Sabaku Manor mengagetkan ibu dan sepasang anaknya.
Dan Karura merasakan ketika Temari dan Kankuro memeluknya erat.
"Sudah kubilang, kau harus menggugurkannya, Karura. Sabaku telah mempunyai sepasang penerus, kita tak memerlukan setan kecil lain, yang bahkan sudah menyusahkan, sebelum dia dilahirkan,"
Seorang pria dewasa muncul, berperawakan tinggi besar dan berambut senada dengan putranya. Suaminya, Kazekage.
"Tousama jahat," jerit Temari kencang, lengannya terkalung protektif pada perut ibunya.
"Tousama jahat," Kankuro ikut membeo, kedua tinjunya teracung seolah mengajak ayahnya berkelahi.
"Temari-chan, Kanku-chan, kalian tidak boleh bicara seperti itu pada Tousama, ayo minta maaf," kata Karura menasehati. Tapi kedua anaknya hanya mengucutkan bibirnya dengan manja dan tetap menempel pada ibunya tanpa mengucapkan apapun.
"Kalianlah penerus Sabaku corporation, kita tak memerlukan yang lain,"
Si ayah tak perduli, dia sudah merengkuh putra dan putrinya, lalu menggendongnya, tak menanggapi kedua anaknya yang berteriak protes.
XxXxX
"Obachan, kapan Kaachan pulang?" tanya Temari.
Hari itu telah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan si gadis kecil belum tidur, walaupun adiknya sudah terlelap sambil bersandar pada lengan neneknya.
Chiyo hanya tersenyum, tak tahu harus mengatakan apa pada cucunya. Mengertikah mereka?
Tak lama, suara deru mobil membuat si gadis kecil bangkit.
"Tousama pulang, Kaachan pulang!" teriak Temari riang, kedua kakinya langsung menyorongkan sepasang sandal bulu berbentuk musang dan melesat menuju pintu. Menyusulnya, Kankuro ikut terbangun dan bangkit.
"Kaachan, pulang," teriaknya membeo kakaknya. Mengabaikan sandalnya di lantai.
Chiyo tak berhasil menangkap dua cucunya. Kegesitan wanita tua kalah oleh kelincahan para bocah.
"Kaachan... Mana adik kecilnya?" Temari berteriak lagi, tangan kecilnya membuka pintu utama Sabaku Manor. Di belakangnya, Kankuro meneriakkan hal yang sama.
Tapi bukan Karura dan senyumnya yang menyambut si gadis kecil, ketika gagang pintu oak itu terbuka. Di balik sana, sosok ayahnya yang menjulang murka memblokir semua celah.
"Minggir, Temari," suara Kazekage berdesis berbahaya.
"To..Tousama," anak perempuannya bergeser ngeri, membaca pertanda kalau ayahnya tak dalam mood yang menggambarkan eforia atas kelahiran seorang Sabaku yang lain.
Temari berhasil menangkap Kankuro yang nyaris menerjang pintu sekaligus ayah mereka, tepat waktu.
Si ayah masuk, suara langkah dari sepatu pantovelnya menggema.
"Niisama,"
Sekali lagi Temari minggir ketika dua pamannya menyeruak masuk.
"Paman Yashamaru, paman Sasori," kata si gadis kecil ketika dua pria dewasa itu menyusul ayahnya.
"Sebentar, Temari-chan," respon Yashamaru pada keponakan perempuannya, dia melangkah pergi secepatnya setelah menepuk kepala Temari pelan.
"Kaasan, bawa Temari dan Kankuro ke kamar," kata Sasori pada ibunya yang baru muncul.
"Ada apa dengannya?" tanya Chiyo, menunjuk Kazekage yang menaiki tangga atas dengan semua caci-maki yang bergaung.
"Nanti," kata Sasori, ketika pemuda itu berlari menyusul Yashamaru.
"Temari-chan, Kankuro-chan, ayo,"
Chiyo sudah menggandeng cucunya ketika suara menggelegar menghantam lantai dan sebuah box bayi menjatuhi meja.
"Apa yang..." si wanita tua menengadah menatap putra sulungnya, si Kazekage sudah menjatuhkan banyak barang dari lantai dua, "Temari!" teriak Chiyo, ketika dia menyadari cucu perempuannya sudah melesat ke tangga, naik memburu ayahnya.
"Temari, jangan!" kata Yashamaru, kedua tangannya menangkap keponakannya tepat sebelum si gadis kecil mencapai ayahnya.
"Tousama, apa yang Tousama lakukan? Itu milik adik, jangan dibuang!" teriak Temari sambil meronta, "Paman, lepaskan," rengeknya pada Yashamaru.
Dan mendadak sepasang sea green ayahnya memandang nyalang, membuat Temari menghentikan usahanya melepaskan diri.
Sedetik kemudian kamar bayi yang sudah disiapkan Karura sejak berbulan-bulan yang lalu mendadak kosong. Isinya sudah dibawa keluar sang Kazekage.
"Hiks, paman, apa yang Tousama lakukan?" tanya Temari ketika ayahnya menumpukkan semua box bayi, bantal, mainan, dan pakaian dalam satu gundukan besar di halaman.
Yashamaru hanya menggeleng sambil memeluk keponakannya.
Lalu api besar menyala, melahap gundukan itu dalam sekejap.
XxXxX
"Adik, dia adikku 'kan?" tanya Temari pada neneknya, jarinya memegangi tangan mungil bayi berambut merah yang tertidur lelap.
Chiyo mengangguk.
"Obachan, mengapa Kaachan tak pulang bersama adik?" si gadis kecil bertanya lagi, kepala pirangnya miring dalam pose bingung.
Wanita tua itu menelan ludah, bingung harus memulai penjelasan dari mana. Tapi suara menggelegar memotongnya.
"Ibumu sudah meninggal. Dan semua karena anak setan itu,"
Temari mendongak, memandangi ayahnya yang menunjuk adiknya dalam kemarahan yang jelas.
"Bawa anak sial itu menjauh dari rumahku," murka Kazekage.
"Niisama..."
"Lakukan apa yang kuperintah, Yashamaru. Sekarang!"
Si adik ipar tak punya pilihan, dia merengkuh bayi kecil ke dalam pelukannya dan berjalan cepat ke luar. Sebelum penguasa tertinggi Sabaku corporation itu melempar si anak tak berdosa dengan tangannya sendiri.
Temari panik, gadis itu berlari mengejar Yashamaru, "Paman, jangan bawa adik. Obachan, hentikan paman," teriaknya bingung. Temari sudah akan mencapai pamannya ketika langkahnya terhenti dan sepasang lengan kokoh menangkapnya. Dengan ngeri si sulung menatap ayahnya yang sudah mengangkatnya. Wajah si Kazekage murka, membuat keberanian Temari lenyap saat itu juga. Dia sudah siap dicecar, siap dihukum. Tak lama teriakan itu menggelegar juga. Tapi sepertinya kali ini bukan Temari biangnya.
"Kankuro!"
Seorang bocah laki-laki berdiri di pintu, memblokir Yashamaru yang sedang menggedong si Sabaku termuda.
Chiyo sudah berdiri, berlari secepatnya untuk mengambil Temari dari ayahnya. Karena sang Kazekage sudah berjalan ke pintu seolah akan mencabik putranya yang juga membangkang.
"Ini milik adik,"
Yashamaru tercengang ketika lengan Kankuro mengulurkan sebuah boneka beruang, satu-satunya barang yang selamat dari bakaran ayahnya. Lalu bocah itu mundur, berjalan ke ayahnya dengan patuh.
"Bye, adik," lanjutnya sambil melambai.
Berbeda dengan Kankuro, Temari meronta-ronta di pelukan Chiyo, air matanya mengalir, dan tangannya menggapai-gapai.
"Paman, jangan bawa adik..."
Jeritan si sulung kecil hanya bergaung sia-sia, karena Yashamaru sudah menutup pintu dengan debam kencang.
XxXxX
NARUTO © MASASHI KISHIMOTO SENSEI
MY IMMORTAL © LOVELY LUCIFER
XxXxX
"Temari, kau baik-baik saja?" tanya Shikamaru pada gadis di sampingnya. Pemuda itu hanya melirik sedikit, lalu kembali berkonsentrasi pada lalu lintas di depannya.
"Ya, hanya saja, aku bermimpi," jawab Temari pelan, mata sea greennya menerawang, tak lama tangannya mengambil ponsel flip miliknya dari tas. Shikamaru hanya menoleh sedikit, tak tahu harus berkomentar apa.
"Aku tak menyangka sudah dua bulan berlalu dari kecelakaan itu," gumam Temari pelan, gadis itu membelai ponselnya, yang menampilkan foto dirinya dan kedua adiknya, "Aku benar-benar berfikir akan kehilangannya lagi waktu itu. Sungguh. Rasanya sudah benar-benar tak harapan."
Tangan Shikamaru bergerak dari kemudi, terulur untuk mengusap rambut berkucir pacarnya. Tak perlu bertanya siapa 'dia' yang sedang dibicarakan Temari. Ini memang tentang Gaara.
"Beruntung sekali karena kami bertemu Uchiha bersaudara dan Hyuuga. Juga memilikimu dan Matsuri. Tanpa kalian, entah apa jadinya aku dan Kankuro. Kau tahu bagaimana ayahku dan kegilaannya,"
"Takdir Tuhan," akhirnya Shikamaru berkomentar juga, pemuda berambut menyerupai nanas itu mengangkat bahu.
Si gadis Sabaku menoleh, sedikit seringai tampak di bibirnya, "Kau kedengaran seperti Neji. Kalau kaulakukan itu di depan Kankuro, kujamin hanya akan menambah daftar kekesalannya padamu,"
Si pemuda Nara melengos, "Dia memang merepotkan,"
Tak lama, suara tertawa Temari bergaung, "Heran juga, mengapa Kankuro selalu tak cocok pada siapapun yang dekat denganku dan Gaara. Kau bisa lihat bagaimana sikapnya pada Neji."
"Ya, benar-benar misteri besar," cela Shikamaru, "Aku rasa pendapat Neji ada benarnya, seharusnya kita mencarikannya pacar, agar Kankuro tahu rasanya jatuh cinta,"
Si gadis berfikir sejenak, tercabik antara keinginan tertawa dan memutar mata. Mau tak mau Temari teringat semua ide-ide tak baik Kankuro terhadap pemuda di sampingnya dan Neji. Memang tak berbahaya, tapi jelas mengesalkan, "Baiklah,"
"Dia bisa merepotkan sekali kalau dia mau,"
Temari tertawa lagi. Gadis itu menutup ponselnya dan meletakkan benda itu kembali ke tasnya. Lalu mata sea greenya menengadah, menatap malam di Konohagakure. Ketakutannya sudah menguap, mimpi tentang masa kecilnya sudah tak mengerikan lagi. Adiknya terlindungi. Di bawah pengaruh Hyuuga dan Uchiha, juga Nara dan Namikaze.
Sunyi sejenak ketika mobil hijau itu berhenti di lampu lalu lintas yang berjarak beberapa blog dari Sabaku Apartment.
"Aku sudah mengatakan kalau tidak akan ikut ke Hyuuga Manor pada Kankuro. Tapi ternyata aku ingin bertemu adikku. Maukah kau mengantarku ke sana?" tanya Temari penuh harap.
"Merepotkan," gumam Shikamaru, tapi mobil hijau itu berbelok, memutar arah.
XxXxX
Tengah malam, waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari ketika sebuah ketukan bergema di Hyuuga Manor. Suaranya pelan, sama sekali tak mengimbangi deru angin dan guntur di luar sana. Tapi pintu oak bergagang kuning itu perlahan terbuka, menampakkan sosok lelaki bermasker dan pemuda berkulit sangat pucat.
"Selamat malam, Kakashi-san dan Sai-kun," kata Itachi, sambil menyingkirkan sejumput rambut basah dari ujung matanya, "Sigh, kenapa badai malah memilih hari ini untuk mengamuk." lanjut pemuda itu sambil mengangguk sebagai balasan dari sapaan agen milik Hyuuga di depannya, "Dei, berikan mantelnya pada..."
"Mana Gaara? Aku ingin bertemu adikku,"
Sebuah dorongan menyingkirkan Itachi dan Deidara dari pintu, kedua pemuda itu hanya menggeleng pelan melihat Kankuro menyeruak masuk dan menghebohkan Hyuuga Manor.
"Begitukah caramu bertamu?" tanya Neji dengan kalimat mencela, pemuda itu berdiri di ujung udakan menuju ruang tengah yang megah, menggunakan kemeja berwarna gading yang ditumpuk sweater cokelat berkancing dan jeans pudar, terlalu rapi untuk digunakan sebagai baju tidur.
Kankuro agak sedikit terkejut ketika menatap Neji dari ujung kepala sampai ujung kaki, tapi pemuda itu langsung balas mendelik, mendapatkan kembali semua kosakatanya ketika tertatap raut si pemuda Hyuuga yang menyebalkan, "Sudah kuduga, menyerahkan adikku pa..."
Tapi protesan Kankuro terpotong dorongan lain, seiring kalimat panjang melengking menggema.
"Neji-nii~ Mana Gaara?"
"Dobe, sudah kubilang jangan berlarian..."
Kankuro oleng dan menghantam lantai, nyaris menjatuhi kaki Sasuke yang berkelit menghindar dengan gerakan luwes dan menyusul Naruto masuk lebih dalam ke Hyuuga Manor, tanpa menoleh sedikitpun pada Kankuro.
Si pemuda Sabaku hampir saja mengumpat, tapi kalimatnya tak jadi keluar karena seorang gadis berkuncir empat melewatinya sambil memberi pandangan seram, pemuda berambut nanas menyusulnya sambil memberi tatapan prihatin.
"Selamat malam, semua, aku tak menyangka kalau yang datang bisa sebanyak ini," kata Neji sambil tersenyum, menunduk sedikit pada Temari, Shikamaru, Naruto dan Sasuke yang sudah duduk di sofa bersama Iruka dan Shino, tapi mata lavendernya mendelik tak suka pada Kankuro.
"Bukan salahku, Temari bilang dia tak bisa ikut, makanya aku mengajak Itachi, tapi dia malah mengiyakan saja rengekan Naruto dan pelototan adiknya yang meminta ikut," kata Kankuro membela diri, pemuda itu bangkit dari lantai dan berdecak pada Itachi yang sedang membantu Deidara melepas mantelnya, masih di dekat pintu.
"Itu artinya adikmu dikhawatirkan semua orang, Kankuro. Kau harusnya berbangga diri," tanggap Itachi.
"Yah, terserah." kata Kankuro dengan kesal, pemuda itu sudah berpaling lagi pada Neji, "jadi mana adikku? Kau sudah bersamanya dua puluh empat jam sehari selama ini, sampai..." dia menghentikan kalimatnya, seolah tak sudi berkomentar tentang dandanan pemuda Hyuuga di depannya, "sampai... tak bisakah kami minta beberapa jam untuk bertemu?" lanjut Kankuro, ada nada lega di ucapannya karena berhasil membelokkan pikirannya. Memuji pemuda yang jelas-jelas naksir adik lelakinya, sampai matipun dia takkan melakukan hal itu. Neji tak perlu mendapat dukungan terselubung terhadap keabnormalannya.
Si pemuda Hyuuga menaikkan sepasang alis cokelatnya.
"Lagi pula kenapa aku harus meminta izin, lagakmu seperti Seme-nya saja," sambar Kankuro tak suka.
Suara tawa dari belakang bergaung, membuat si pemuda Sabaku menoleh cepat-cepat.
"Dan apa yang lucu dari kalimatku itu, Kakashi-san?"
Agen khusus milik Hyuuga itu mengangkat bahu, berusaha menampilkan raut seserius mungkin di balik masker hitamnya, "Tuan muda Kankuro bahkan sudah tahu istilah Seme. Apakah itu artinya Tuan muda Neji dan Tuan muda Gaara sudah diberi lampu hijau?" tanya Kakashi, ketika lelaki itu duduk di sebelah Iruka yang menutup mulutnya agar tak kelepasan tertawa terbahak-bahak.
Kankuro mengumpat, membuatnya mendapat lemparan bantal kursi dari Temari.
"No way! Sampai matipun, aku tidak akan... Gaara?" omelan si pemuda Sabaku itu terhenti dan berganti keterkejutan ketika sosok lain muncul dari atas, berjalan pelan menggunakan kruk, berambut merah dan memakai kaos hitam berlengan pendek.
Neji menoleh, dan bergerak cepat menaiki tangga, menyusul Gaara, "Hei, kenapa kau keluar?" tanyanya dalam nada khawatir pada suaranya.
Pemuda yang disambut diam saja, menunduk sedikit ketika Neji memapahnya, tapi kedua mata sea greennya menatap ke bawah, ke arah kedua kakaknya di ruang duduk.
"Kami baru saja akan ke kamarmu, dan..." Neji berdecak kencang, "kenapa kau tak memakai jaketmu?" lanjutnya sambil melepas sweater cokelatnya dan menyampirkan pada bahu Gaara.
Temari tersenyum, gadis itu menatap Shikamaru, Kankuro dan Itachi dengan rasa puas.
"Baiklah, kau pegangan padaku, dan... Oh, tidak, kita tidak akan ke bawah," protes Neji pada pandangan pemuda berambut merah yang sedang dirangkulnya, "tak perlu menatapku begitu, aku tak kan terpengaruh. Over my dead sexy body!" lanjut Neji membalas tatapan sea green Gaara padanya.
Kankuro terbengong-bengong mendengar kalimat nasris Neji dan Temari terkikik geli.
"Kau akan ke kamarmu, dan kami yang akan ke atas. That all. Tak ada tawar-menawar," putus Neji sambil menyeret kembali Gaara ke pintu yang baru di lewatinya. Mengabaikan kepala si rambut merah yang terjulur penuh harap ke bawah.
Kankuro diam, totally speechless.
Masih terdengar kalimat Neji yang menyuarakan soal ketidak sukaan pemuda itu jika dokter Kabuto sampai tahu kalau pasiennya tak mendapat cukup istirahat di hari terapinya. Juga tentang Gaara yang cenderung memaksakan diri sampai melupakan kesehatannya.
Lalu Iruka berdiri, di susul Naruto yang langsung berlari ke tangga atas dan Sasuke mengikutinya sambil menggerutu.
"Tuan muda kami memang mengagumkan,"
Temari dan Itachi mengangguk setuju.
XxXxX
"Apa paman dan nenek sering kemari?" tanya Temari ketika gadis itu menyingkirkan helai rambut dari dahi bertato ai adiknya yang duduk di ranjang.
Sementara itu Naruto sedang sibuk mendengarkan entah apa dari ipod-nya dan sesekali pemuda itu merangkak ke kasur, memberikan ear phone pada Gaara, disertai batuk-batuk dari Sasuke ketika tangan si pemuda berkulit tan itu memegang kulit pucat Gaara lebih lama dari sepuluh detik.
"Tidak, tidak juga, hanya beberapa kali," Neji yang menjawab, dan matanya ikut melirik tak suka pada Naruto. Dia tak sadar, kalau di sampingnya, dia juga mendapat pandangan yang serupa dari Kankuro.
"Aku harap ayah tak tahu kalau Gaara di sini," Temari bergumam lagi, lalu dia tertawa ketika Sasuke mendelik pada adiknya, "bisakah kau berhenti, Naru? Aku tak mau ada perang di sini," lanjutnya sambil mengangguk pada Neji yang melototi si Uchiha muda, dan Kankuro yang bingung antara memasang raut tak suka pada Neji atau Sasuke.
Naruto memasang cengirannya dan melompat turun dari kasur, dia menghampiri teropong bintang yang berdiri di dekat jendela, Sasuke menyusulnya, raut pemuda itu lega sekaligus puas.
"Tidak, dugaanku ayah kalian pasti tahu kalau Gaara di sini," kata Itachi, dia duduk di sofa di tengah ruangan, tangannya terjulur di belakang Deidara yang menyeruput tehnya dengan keanggunan yang mencengangkan.
"Setuju," Shikamaru mengangkat tangan, pemuda itu duduk di sofa single di samping Itachi.
Temari mengangkat alisnya.
"Separuh dari Sabaku keluar-masuk Manor ini paling tidak dua kali seminggu. Apa yang bisa kau simpulkan?" tanya Itachi.
Si gadis berkucir empat menghempas nafas, tepat ketika Kankuro mengalami batuk hebat.
"Ada apa denganmu?" bentak Temari terganggu.
Dan Kankuro mendelik ke arah tangan Neji yang sudah berada dibalik selimut Gaara.
"Apa?" si pemuda Hyuuga berusaha balas melotot, walaupun tak berhasil karena raut mupengnya lebih kentara, "aku cuma memijat kaki Gaara. Kabuto-sensei mengatakan kalau..."
"Yah, aku percaya," bentak Kankuro sambil memukul tangan Neji sekerasnya, "Kau memijat sambil meraba-raba," lalu si kakak berpaling pada adiknya, "Gaara, kau seharusnya memarahinya kalau dia berbuat kurang ajar!"
Yang diajak berbicara diam saja, mengangguk sedikit, tapi tak terlihat benar-benar menyanggupi.
"Neji..." bisik Temari, gadis itu menarik pemuda Hyuuga itu menjauh, "Aku ingin ke dapur sebentar!" pamit Temari pada Shikamaru dan Itachi.
"Bohong yang terlalu jelas," gerutu si pemuda Nara, membuat Itachi dan Deidara tertawa. Tentu saja, Temari tak mungkin masuk dapur, lebih masuk akal jika gadis itu mencari sasana tinju.
Neji menurut saja ketika Temari membawanya ke luar, ke dekat tangga.
"Aku tidak ingin ke dapur," ralat gadis berkucir empat itu.
"Aku tahu," tanggap Neji, "jadi, neesan mau bertanya apa?"
Temari menarik nafas, "Gaara, sejak dia di sini, berapa kali dia berbicara denganmu?"
"Tak banyak," kata Neji, pemuda itu berjengit sedikit ketika tangan Temari mencengkram lengannya lebih keras.
"Sorry," kata si gadis sambil melepas pegangannya, "dan apa kata dokter tentang itu? Tidak apa-apakah? Apa kecelakaan itu menimbulkan dampak psikis lain?"
Neji melirik pintu kamar Gaara, "Entahlah, dokter Tsunade pernah mengatakan kalau psychology seseorang sangat kompleks, tak bisa menyimpulkan dengan pemeriksaan dalam jangka waktu pendek, apa lagi Gaara dalam keadaan amnesia,"
Temari meremas tangannya.
"Tapi yang penting dia pernah bersuara. Tak jadi soal kalau sekarang Gaara lebih memilih berbicara dengan gestur dan gerak tubuh. Dia dalam tahap memilih kenyamanan dalam dirinya. Bohong kalau kita menyimpulkan kalau dia tak mengalami trauma atas semua yang terjadi,"
Si gadis Sabaku mengangguk.
"Neesan jangan khawatir. Percayalah, aku selalu ingin melakukan yang terbaik untuknya,"
"Aku percaya, Neji, sangat percaya,"
XxXxX
Tbc
XxXxX
Author's note lagi:
Ok, My Immortal saia angkat dari Rate K+ jadi Rate T, susah ga nyelipin banyak hints shounen ai diantara sibling dan friendshipnya. Mana alur yang semula lurus makin terasa ribet di otak saia...
Thanks for the review, mudah-mudahan chapter depan ga selama chapter ini.
Review please!
