Author's Notes:

-Family story yang mengandung Boy Love aka Shounen-ai

-Pairing NejiGaara, SasuNaru, ItaDei, ShikaTema, dll

-Komentar, kritikan dan saran yang membangun masih sangat dinantikan

-Happy Reading

Keterangan:

"Speak" berbicara

'Mind' berfikir dalam hati

Age:

Naruto, Sasuke, Gaara, Matsuri 16 tahun

Neji, Kankuro, Shikamaru, Tenten 20 tahun

Temari, Itachi, Sai, Sakura, Lee, Shino 23 tahun

Tobi, Sasori, Kakashi, Iruka 29 tahun

Selebihnya disesuaikan

Di sini Chiyo adalah ibu Sasori dan nenek dari ketiga Sabaku bersaudara

XxXxX

Sumarry:

Muka pucat miliknya menengadah, menyingkirkan lengan putih dari kedua matanya yang berlingkar hitam. Iris hijaunya berkedip ketika berusaha menormalkan pandangan setelah tertutup lama dan disapa sinar terang dari matahari mendung yang berada di dekat kepala Neji. Sabaku and Uchiha family storys, NejiGaara, SasuNaru, ItaDei, ShikaTema

XxXxX

Gaara berdiri di samping sebuah pintu mengkilap berplakat 'Sabaku no President' berlapis emas, dia berpaling dari dua orang pengawal ayahnya yang memandanginya dengan penuh minat di sudut lorong. Tangan si pemuda berambut merah tersampir di saku celana, menunggu pintu terbuka untuknya. Benar saja, dalam hitungan detik kepala merah Sasori muncul. Keterkejutan mendominasi wajah sang paman ketika tertatap si keponakan bungsu di balik pintu. Rautnya pucat pasi.

"Paman Sasori, aku ingin bertemu ayah," kata Gaara memperjelas tujuannya dengan sopan. Si paman jelas-jelas memperlihatkan keengganan untuk mempersilahkannya masuk.

Mata Sasori melirik ke pintu di belakangnya, dan tiba-tiba tangannya menarik lengan Gaara menjauh setelah menutup pintu, menelusuri lorong Sabaku Corporation yang berlapis karpet cokelat tanah, berlawanan arah dari dua pengawal ayahnya.

"Paman Sasori?"

Mereka berhenti di langkah ke lima dari pintu.

"Pulanglah, selesaikan apapun urusanmu dengan ayahmu di rumah nanti. Kau dengar aku, Gaara?"

Si keponakan menengadah, menatap sepasang mata cokelat pamannya. Tak ada raut kebingungan disana, tapi Sasori tahu, keponakannya belum teryakini sama sekali. Gaara jelas tak akan mendengarkannya.

"Gaara,"

Lengan sang paman melayang ke kepala Gaara dengan tiba-tiba. Si keponakan terkesiap saat rasa dingin menjalar dari pelipisnya, tempat di mana sang paman menyentuhnya.

"Kau mendengar paman? Pulanglah, pulang lalu..."

"Apa yang kau lakukan, Sasori?"

Dua orang berambut merah itu menoleh ke asal suara.

Di depan pintu ruang kerjanya, sang Kazekage berdiri. Rautnya tak senang ketika melihat tangan Sasori berada di kepala puteranya.

"Gaara, masuk!" hardik beliau.

Si paman tak melakukan apa-apa ketika keponakannya berpaling menuju ayahnya. Tapi ketika Gaara sekilas menoleh, dia masih menangkap larangan Sasori yang terpancang di tengkuknya.

Pintu Oak itu berdebam menutup.

XxXxX

Gaara masuk ke ruang kerja ayahnya. Ini adalah ruang kerja pribadi yang belum pernah dia masuki, biasanya ayahnya hanya mengajaknya ke ruang kerjanya yang lain, yang berada satu lantai di bawah. Dan entah mengapa alasannya, tapi selalu ada pengawal ayahnya yang menjaga ruangan ini, walaupun sang Kazekage sedang tak berada di tempat.

Hal pertama yang Gaara lihat adalah kertas-kertas yang berserakan, puntung-puntung rokok bertebaran beserta abunya, beberapa botol kosong kaleng minuman keras dan Rhum, juga sofa-sofa keren yang tertutup noda.

Si pemuda berambut merah mengernyit. Tempat yang jauh dari bayangannya sebagai tempat tertinggi milik Sabaku Corporation yang diperlakukan dengan penuh hormat. Ruang kerja ayahnya lebih mirip bar murahan yang tak terurus.

"Beruntunglah kau, tak banyak orang yang mendapat kehormatan bisa masuk kemari," kata ayahnya sambil tertawa. Tawa tanpa keriangan yang membuat Gaara tak nyaman.

Si anak tak menanggapi, dia berpaling menatap jendela, tirainya sudah ditarik asal-asalan dan ada noda besar di kacanya. Aneh sekali kenapa tempat ini tak dibersihkan, mengingat ruang kerja ayahnya di rumah dan yang berada satu lantai di bawah ini, berbanding terbalik keadaannya.

"Kau sudah menyelesaikan proposal yang kuminta?" tanya sang Kazekage ketika beliau duduk di salah satu sofa sambil menyulut cerutu.

"Ya,"

Gaara mendekat, tapi tak yakin akan duduk bersama ayahnya atau tidak. Tak ada basa-basi persilahan duduk dari sang Kazekage. Tapi bukan itu masalahnya. Menurut Gaara tak satupun tempat di sofa layak di duduki, Gaara bukan orang yang menempati urutan nomor satu dalam kehigienisan, tapi baik Temari maupun Yashamaru, bila mereka di sini, mereka tak akan menyetujui bila Gaara berniat duduk.

Sasori masuk beberapa detik kemudian, sengaja tak menatap keponakan maupun kakaknya. Dia mengambil alas meja dari bawah kursi dan mengelapnya ke sofa, menyingkirkan debu abu rokok dan menjungkalkan kaleng kosong bir ke lantai. Si paman memberi tanda agar Gaara duduk lalu menghempas dirinya sendiri di sofa yang lain tanpa repot-repot membersihkannya.

Gaara duduk, lebih karena menghargai usaha pamannya yang ingin membuatnya nyaman. Dia menarik nafas, memandang ayahnya, "Ya, semua yang Tousama minta sudah kubuat,"

Sekali lagi ayahnya tertawa, "Sudah kuduga, tak salah aku merendahkan diri untuk mengambilmu,"

Gaara menatap mata ayahnya, mengabaikan komentar beliau tentang asal-usulnya. Enam tahun selalu diperlakukan seperti sampah membuat Gaara cukup bijaksana untuk tak membuat ayahnya memiliki alasan lain untuk mencecar dan memukulinya lebih banyak. Di sudut lain, Gaara dapat melihat ketika Sasori memberi ayahnya pandangan tak suka.

"Besok malam kau ikut denganku ke acara..."

Kalimat ayahnya terhenti dan Gaara otomatis menoleh ke arah ruang dekat jendela. Ada suara ceplak menyela.

Jeda.

"Kalau kau penasaran, kenapa kau tak ke sana untuk memeriksanya," kata si Kazekage sambil menyeringai, kelihatan benar-benar riang atas ketertarikan puteranya.

Si anak mengangguk patuh, sudah berdiri ketika Sasori menarik lengannya.

"Jangan ke sana, Gaara," desis si paman mengancam.

Suara ayahnya jelas-jelas terdengar geli, "Berhentilah bertindak bodoh, Sasori. Kau jadi paranoid seperti Yashamaru,"

"Kubilang jangan ke sana!" Sasori sudah berdiri dengan gusar, berpaling pada sang Kazekage, "Demi Tuhan, Niisama, dia puteramu."

Ayahnya juga berdiri, rautnya tak suka pada kalimat yang di ucapkan Sasori, matanya menyipit berbahaya dan si paman langsung terdiam karenanya.

Dalam sekejap tangan sang Kazekage menarik Gaara dengan tak sabar dan mendorongnya menuju ruangan kecil itu, "Jangan mengatur bagaimana aku harus mendidik penerusku, Sasori. Kau akan menyesal bila melakukannya." katanya ketika dengan kekuatan mengejutkan melempar Gaara ke dalam.

Si anak terpelanting masuk, berhenti tepat waktu, hanya beberapa senti sebelum menabrak sesuatu di dalamnya. Dan dia mundur tergesa dengan ngeri. Tapi cengkraman si ayah menariknya masuk kembali, nyaris menjungkalkan Gaara ke dinding terdekat.

"Inilah yang aku lakukan ketika sedang tak berada di rumah,"

Seringainya terkembang, memandang senang pada puteranya yang membelalak dan merosot ke lantai dalam perpaduan antara jijik dan takut.

"Menghukum orang-orang yang menentang kita. Sangat menyenangkan melakukannya,"

Gaara menelan ludah, tak ingin melihat, tapi dia sudah ditarik berdiri dan menghadap pada apa yang menimbulkan suara keceplak.

Di depannya seorang lelaki dewasa terikat di kursi tanpa busana. Kedua kakinya mengangkang dalam posisi ganjil, mata tertutup kain hitam dan mulutnya disumpal sesuatu yang mirip kantung plastik.

"Perhatikan dia baik-baik," kata ayahnya ketika beliau mendorong puteranya maju.

Mata Gaara menyusuri si lelaki terikat dengan enggan. Banyak luka berdarah di dadanya, saliva mengalir lewat sudut bibinya menuju leher, lalu di selangkangannya, sesuatu yang besar dan berlendir menyumbat jalur ekskresinya, bergetar hebat, membuatnya terisak-isak menyedihkan.

"Tou, Tousama..."

"Kau suka caraku menyelesaikan masalah?" tanya ayahnya dengan nada ringan, tangannya menyulut cerutu ke badan si lelaki dewasa yang menimbulkan jeritan teredam di balik plastiknya, menambah banyak air mata dan saliva yang mengalir di lehernya, "Beruntunglah kau, karena aku tak menerapkan metode yang sama untuk menghukummu."

Lalu ayahnya menoleh, mengeraskan tekanan cerutunya pada si lelaki yang mengejangkan tubuhnya.

"Atau kau menginginkannya?"

Gaara mengeleng cepat-cepat, entah bermaksud mengatakan kalau dia tidak mau, atau meminta ayahnya menghentikan sulutannya.

"Jangan berprasangka, dari hal seperti inilah kau dan kedua kakakmu makan dan menikmati hidup enak." kata sang Kazekage sambil berpindah, berdiri dengan tertarik memandangi wajah puteranya. "Manusia akan patuh jika disakiti,"

Si anak mundur selangkah.

"Dan kau sebagai penerusku harus terbiasa dengan hal seperti ini, suka atau tak suka,"

Cengkraman si ayah mendarat di belakang lehernya, lalu naik untuk menjambak rambutnya. Gaara menjerit tertahan, lebih karena terkejut daripada kesakitan.

"Karena kau penerusku," desisnya dalam bisikan yang sangat lembut, "orang yang akan melanjutkan semua yang kulakukan tanpa kecuali,"

Lalu kepala Gaara ditarik maju, mendekat ke laki-laki yang disiksa, sehingga dia bisa mencium bau rokok dan minuman keras yang menguar dari badan telanjang itu. Gaara otomatis memejamkan mata, tak ingin melihat apapun yang membuat si lelaki menangis tertahan, tidak lukanya ataupun benda di selangkangannya.

"Tapi kau pasti lebih tahu kalau Temari dan Kankuro akan tetap hidup bahagia jika dibiarkan tetap tak tahu apa-apa," kata ayahnya dengan nada biasa.

Kazekage mendekat, berbisik di tengkuk Gaara yang hanya berjarak beberapa jengkal dari paha si lelaki. Sekuat tenaga Gaara bertahan agar tetap menutup mata dan tak terjatuh.

"Karena ini adalah rahasia,"

Si anak melepaskan diri dan menengadah saat cengkraman ayahnya mengendur, dia menatap sang Kazekage yang balas menyeringai.

Jeda.

Gaara bernafas cepat, kepalanya berdengung seakan baru saja dihantam keras. Dia tak tahu harus bereaksi apa. Menjeriti ayahnya? Membebaskan si lelaki? Atau berlari dari sini? Gaara tak tahu.

Tiba-tiba sesuatu yang berwarna merah menutup pandangannya. Gaara terkesiap bingung, dia sudah tak berada di ruangan kecil itu lagi.

"Keluarlah!" kata Sasori ketika tangannya menarik keponakannya ke pintu, menatap mata Gaara lalu mengusap pipinya lembut, "Pulanglah dan lupakan apa yang kau lihat hari ini. Jangan lakukan apa-apa. Paling tidak, bukan kau yang terikat dan disiksa di sana,"

Gaara diam, mematung di koridor. Sasori sudah melepaskan pegangannya dan mundur ke belakang, memberikan pandangan minta maaf terakhir. Lalu pintu mewah itu berdebam tertutup, menjatuhkan plakat emasnya di dekat kaki Gaara.

XxXxX

NARUTO © MASASHI KISHIMOTO SENSEI

MY IMMORTAL © LOVELY LUCIFER

XxXxX

Neji Hyuuga mengumpat. Dia terjebak macet. Tidak biasanya area ini berisi kendaraan yang berbaris-baris tanpa maju sedikitpun seperti ini. Neji menduga, pastilah terjadi kecelakaan atau apa di depan sana.

Sekali lagi dia mengumpat. Jam digital di dashboard hampir menunjukkan pukul sebelas, dan dia harus menghadiri rapat direksi beberapa menit lagi. Kenapa Tuhan tak memihaknya hari ini?

Berharap dapat melihat jauh ke depan, Neji menurunkan kaca dan melongokkan kepala ke luar. Dia menatap sekeliling. Ini adalah daerah sekitar Sabaku Corporation, aliansi perusahaannya. Bahkan mobil Neji tepat berada di jalur masuk gedung yang menjadi jantung utama perusahaan itu.

Tanpa berfikir dua kali, si pemuda Hyuuga membelokkan mobilnya. Idenya adalah memarkirkan kendaraannya di sini dan berlari ke kantornya yang berjarak beberapa ratus meter dari sini. Dia akan terlambat, tapi mungkin hanya beberapa menit. Itu jauh lebih baik daripada duduk dan menunggu kemacetan reda tanpa bisa berbuat apa-apa.

Mobilnya memasuki area parkir bawah setelah memberikan klakson singkat pada security di depan. Neji tergesa keluar, menjinjing tas berisi laptop dan mengantongi ponselnya.

Kaki jenjang si pemuda Hyuuga menjejak secepatnya, melangkah dengan jarak terpanjang yang bisa dia lakukan. Sampai sesuatu mengusiknya.

Beberapa meter di depannya seorang pemuda berambut merah berdiri membelakanginya. Neji menghentikan langkah. Dia tahu siapa pemuda itu, putera bungsu sekaligus calon penerus terkuat Sabaku Corporation. Neji dan si pemuda itu tak saling mengenal, tapi mereka kerap bertemu di acara pertemuan yang melibatkan perusahaan masing-masing.

Neji bergeming, bingung harus menyapa atau tidak. Ketika diputuskannya untuk pura-pura tak melihat saja, si bungsu Sabaku membuat gerakan tak terduga. Bukan berbalik dan melihatnya, tapi menundukkan badan dan berjongkok dengan kaki terlipat di depan dada. Sikunya bertumpu di lututnya dan kepalan tangannya menutupi matanya seperti bocah kecil yang bermain petak umpet.

Neji berkedip bingung. Kelakuan yang aneh mengingat tempatnya berjongkok adalah jalan utama untuk masuk ke area parkir bawah Sabaku Corporation. Apa dia tak takut jika ada mobil berkecepatan penuh yang muncul dari atas? Posisinya benar-benar strategis untuk ditabrak tanpa terlihat.

Jadi Neji berdiri saja di sana, memandangi si pemuda rambut merah sambil sesekali menatap jalur masuk. Dia bukan manusia dengan rasa sosial yang tinggi, tapi jika si Sabaku termuda ditabrak mobil di depan hidungnya, Neji yakin dia akan merasa bersalah setelahnya.

Rambut merah itu tertiup angin, menyingkap tengkuk putih di balik syal dan jaket berwarna cokelat. Neji menelan ludah, sekali lagi kalimat sapaannya tercekat di tenggorokan. Padahal dia sudah melangkah tanpa suara sampai sejauh ini, tapi mengapa jarinya tak juga menyapa pundak di bawahnya yang hanya berjarak kurang dari tiga puluh senti? Tak ada yang pernah membuat Neji Hyuuga gugup seperti ini, pun itu adalah Itachi Uchiha, mantan tunangannya. Jadi apakah dia harus tetap berdiri di sini? Menunggu salah satu mobil datang menabrak si Sabaku termuda dan dirinya sendiri? Padahal Neji hanya ingin membawanya ke pinggir, bukan mengajaknya berkencan.

"Sorry,"

Muka pucat miliknya menengadah, menyingkirkan lengan putih dari kedua matanya yang berlingkar hitam. Iris hijaunya berkedip ketika berusaha menormalkan pandangan setelah tertutup lama dan disapa sinar terang dari matahari mendung yang berada di dekat kepala Neji.

Raut si pemuda Sabaku kebingungan pada tangan Neji yang berada di pundaknya.

"Sorry, aku tak bermaksud mengganggumu," kata si pemuda Hyuuga ketika dia menarik tangannya mundur, menelan ludah dengan gusar.

'Anak rakun!' dua kata itulah yang terlintas di kepala Neji ketika si pemuda Sabaku menatapnya. Bukan hanya karena kedua matanya yang tertutup lingkaran hitam, tapi juga caranya menutup wajahnya dengan kepalan tangan, benar-benar persis anak rakun yang sedang ketakutan. Kenapa dia baru menyadarinya?

"Kau baik-baik saja?" tanya Neji, menetralisir debar jantungnya, "Kau bisa tertabrak mobil yang masuk, kalau berjongkok di sini,"

Gaara diam saja, membuat Neji semakin salah tingkah. 'Pikirkan sesuatu yang harus dikatakan, Neji Hyuuga!' bentaknya pada diri sendiri.

"A, aku Neji Hyuuga!"

Sunyi. Si pemuda Sabaku hanya memandanginya saja seolah Neji tak mengharapkan jawaban, hanya melakukan monolog. Jadi dengan semua keberanian dan harga diri yang masih tersisa Neji mengulurkan tangan.

"Ya, aku tahu,"

Syukurlah dia tersenyum.

"Aku Gaara," katanya ketika berdiri oleh tarikan Neji.

"Hanya Gaara?"

Neji terlanjur bertanya sebelum dia bisa mencegahnya. Dia tahu siapa pemuda di hadapannya, hanya perlu penegasan.

Gaara otomatis menengadah, menatap bangunan Sabaku corporation, wajahnya yang pucat makin terlihat tak berwarna di bawah sinar matahari mendung dan angin kencang bulan November, "Sa, Sabaku no Gaara,"

"Apa kau sedang tak enak badan?"

"Apa?" tanya pemuda berambut merah ketika dia menoleh pada Neji, karena yang ditatap sudah menggangkat tangannya ke arah dahi Gaara, si pemuda Sabaku otomatis mundur, memejamkan mata saat jari Neji mendekatinya.

Bayangan jemari si pemuda Hyuuga menutupi pandangan Gaara, besar seperti uluran tangan ayahnya. Tapi sentuhan yang dia dapat jauh lebih lembut dan hangat dari yang Gaara duga.

Jeda. Si pemuda berambut merah membuka mata. Lavender meet sea green.

"Ti, tidak, wajahku memang begini,"

"Oh, maaf kukira..." pelan si pemuda Hyuuga bergeser, menuju ke bangunan yang lebih terlindungi, menarik Gaara yang mematung. "Udara sangat dingin padahal ini baru bulan November, aku tidak akan heran kalau sebentar lagi akan turun salju," kata Neji saat tangannya terulur, merapatkan syal milik Gaara ke sekeliling kepala dan lehernya. "Aku terburu-buru, sampai jumpa, Gaara-kun,"

Dan Neji berjalan cepat, melewati palang pos satpam sambil tersenyum pada security.

Arlojinya sudah menunjukkan pukul 11.25, Neji sudah membuang hampir setengah jam di Sabaku corporation. Tapi no regret, kemacetan belum reda, dan dia bisa berbicara pada si Sabaku termuda. Tak ada ruginya.

Neji terus berjalan, turun ke jalan saat dia melewati dua remaja yang mengobrol seru tentang band ternama yang sedang naik daun. Sampai suara klakson membuatnya terlonjak. Si pemuda Hyuuga bergeser, naik lagi ke trotoar. Tapi suara klakson tak juga reda, dan suara rendah memanggil namanya.

Neji menoleh, menghentikan langkahnya. Di sampingnya sebuah motor merah mencegatnya, dengan si pengendara yang sedang membuka kaca helmnya, menampakkan sepasang sea green yang Neji kenal.

"Gaara-kun?"

Kepala berhelm itu mengangguk, menghardikkan kepalanya ke arah belakang.

"Kau ingin aku naik?"

Pertanyaan Neji bukan tanpa alasan. Gaara tidak terlihat sebagai pemuda yang sudah cukup umur hingga memiliki lisensi berkendara.

Tapi perduli apa soal itu. Si pemuda Hyuuga tersenyum, menjejak ke atas motor dan mengalungkan tasnya ke bahu agar posisinya lebih nyaman.

"Berpeganglah," kata Gaara teredam dibalik helmnya.

Neji mengangguk, mendekap pinggang Gaara erat-erat saat motor merah itu melaju, menyalip anggun di antara mobil-mobil yang berbaris. Tangan si pemuda Hyuuga merasakan jantung pemuda di hadapannya yang berdetak teratur. Gaara sama sekali tak memakai mantel, hingga jari Neji bisa merasakan hangatnya kulit si pemuda berambut merah dibalik jaket yang dia kenakan. Gaara termasuk kurus untuk remaja seusianya.

Sepuluh menit, lalu motor Gaara berhenti di depan Hyuuga corporation.

"Terima kasih," kata Neji setelah Gaara membuka helmnya, "Tapi kau bisa terkena flu kalau tak memakai mantel,"

Dan Gaara hanya mematung saat Neji membuka mantel putihnya dan memakaikannya ke badan Gaara.

"Kau cocok dengan warna putih, jatuhnya pas dengan kulit dan rambutmu." kata si pemuda Hyuuga sambil tersenyum, meletakkan jarinya di dagu dalam pose seolah berfikir, "Sekali lagi, terima kasih, Gaara-kun,"

Neji menunduk sedikit, lalu berbalik menuju pintu Hyuuga corporation. Beberapa karyawan menyapanya dengan penuh hormat.

Gaara hanya mematung. Merasa asing pada kebaikan Neji.

XxXxX

"Okaeri, Gaara, neesan mendengar suara motormu masuk," kata Temari ketika dia membukakan pintu untuk adiknya yang masih menahan tangannya di udara dalam pisisi mengetuk. " Paman Yashamaru bilang kau lupa memakai mantelmu. Bukannya sudah neesan katakan kalau kau gampang sekali terkena flu, jadi..."

Kalimat si sulung terhenti, dahinya mengernyit ketika melihat adiknya membuka mantel putih yang sama sekali asing.

"Se, seorang teman memijamkannya," Gaara mendongak, menatap Temari sekilas lalu menunduk lagi. Bibirnya terkatup saat bersuara seolah berharap kakaknya tak mendengarkan.

Temari tersenyum lega. Setelah kembali ke Sabaku manor, Gaara tak pernah terlihat memiliki teman, baik di sekolah maupun di rumah. Dan seringnya adiknya absen di sekolah karena keperluan perusahaan dan sakit semakin memperburuk keadaan. Interaksi sosialnya benar-benar mengkhawatirkan.

"Duduklah, neesan akan mengambilkan sup. Kau pasti kedinginan,"

Temari menggiring adiknya ke dapur, mendudukkannya ke kursi makan. Tak jadi mengambil mantel dan menggantungnya ke hanger terdekat. Karena benda putih itu sudah dipeluk Gaara erat-erat seolah tidak mau dilepaskan.

XxXxX

"Kau mengubah konsepnya?" suara sang Kazekage memantul teredam di ruang kerjanya, mengalahkan dengungan pemanas ruangan di dalam perapian tiruan.

"Ya," kata Gaara pelan, mengabaikan gelengan panik Sasori.

"Berani sekali kau!"

Dan Tiba-tiba Gaara sudah terpelanting ke sudut ruangan, menghantam guci besar yang berdiri di sana. Meluluh lantakkannya.

"Niisama, jangan. Sudah cukup." Teriak Sasori panik, menarik keponakannya ke tempat lebih terlindungi, mengabaikan darah yang menetes membasahi lantai kayu, luka robek terkena pecahan guci.

"Minggir, Sasori..." desis Kazekage mengancam. Si paman bergeser, tapi masih merentangkan tangannya diantara Gaara dan ayahnya. Dia tahu ini tak cukup melindungi, tapi jika lebih dari ini, keponakannya bisa benar-benar pingsan. Gaara terpuruk di lantai, pucat pasi, hidungnya juga mengeluarkan darah, hasil hantaman ayahnya.

"Apa yang kau fikirkan hingga berani menentang perintahku?" tanya sang direktur Sabaku murka, lengannya menarik wajah anaknya naik, meminta sepasang sea green itu menatapnya.

"Itu ilegal, tousama. Perusahaan kita menipu rakyat kecil dan merugikan negara. Aku hanya meminimalisir kecurangan. Dan Sabaku corporation tak akan bangkrut karenanya." kata Gaara pelan dibalik bekapan tangan ayahnya.

Dan pukulan kedua sampai, tepat menghantam perut tak terlindungi si anak, membuatnya melayang ke sudut lain dan terhenti ketika mencapai sisi lemari dengan derak kencang.

Gaara mengerang, darah dan saliva berhamburan saat dia terbatuk sambil mencengkram perutnya sendiri.

"Niisama, aku memiliki kopiannya, file lengkap sebelum Gaara mengubahnya lagi. Sungguh. Gaara mengirim konsep awalnya tadi pagi, dan baru mengeditnya ulang ketika sore," kata Sasori panik, keponakannya bisa benar-benar mati kalau dibiarkan.

Si Kazekage bernafas cepat, tinjunya masih tergenggam erat, dan sepasang sea greennya memandang nyalang.

"Bawa dia ke rumah sakit,"

Sasori mengangguk cepat, mengangkat kepala keponakannya sedikit.

"Gaara, kau bisa mendengarku?"

Tak ada tanggapan, keponakannya tak pingsan, tapi matanya hampir tertutup. Darah merembes dari lengan dan pahanya, merah pekat. Sasori menarik lepas dasinya, mengikatkan diatas luka robek terbesar dan terdalam di tangan Gaara. Lalu dia

mengendong keponakannya secepatnya. Melarikannya ke luar, ke arah mobilnya. Tidak ada waktu untuk menelepon dan menunggu ambulance datang. Gaara bisa kehabisan darah. Kepala si keponakan terkulai di dada Sasori, badannya terasa dingin. Dan tetesan merah terjatuh di lintasan yang mereka lalui. Si paman tak perduli, akan lebih baik jika Temari dan Kankuro melihat, agar mereka tahu seperti apa ayah yang mereka punya. Selalu menyiksa anak kandungnya sendiri.

XxXxX

Lima belas jahitan di lengan kiri atas, lima di paha kiri, dua rusuk retak, dan banyak luka memar dan lecet di sekujur tubuhnya. Tapi entah bagaimana, sang Kazekage bisa menyamarkan luka itu sebagai kecelakaan motor pada kakak perempuan dan laki-laki Gaara. Semuanya tersembunyi seperti biasa. Sama seperti dulu, saat si anak melakukan sedikit kesalahan kecil, rumah sakit selalu jadi tempatnya. Tapi ini memang yang terparah.

"Lain kali kau harus lebih hati-hati, Gaara. Neesan berpendapat kau tak perlu mengendarai motor lagi, benda itu benar-benar tidak aman," kata Temari ketika dia duduk di kursi di dekat ranjang Gaara. Waktu sudah menujukkan pukul satu pagi.

"Neesan terkejut sekali ketika paman Sasori menelepon dan mengatakan kalau kau di rumah sakit. Untung kau baik-baik saja,"

"Ya, untung sekali," komentar Sasori yang baru melepas kemejanya yang terkena darah Gaara, mengantinya dengan kemeja baru yang diulurkan Kankuro. Si paman memberikan pandangan lain ke arah Yashamaru.

"Tak perlu khawatir, Temari. Dokter bilang Gaara baik-baik saja. Dia sudah boleh pulang besok. Kau ajaklah Kankuro kembali ke Sabaku Manor," kata Yashamaru menanggapi pandangan Sasori.

"Mana bisa begitu, paman. Gaara adalah adik kami, tentu saja aku dan Kankuro akan di sini menungguinya,"

Mata sea green Gaara membelalak sedikit, menambah pucat rautnya. Hal yang sama terjadi jika Temari dan Kankuro menyebut-nyebut status hubungan darah mereka. Padahal sudah enam tahun berlalu saat Gaara kembali ke keluarga Sabaku. Tapi diperlakukan hangat masih mencanggungkannya.

"Berusahalah untuk tidur," kata Yashamaru sambil merapikan selimut Gaara, "Paman tahu kau insomnia, tapi paling tidak pejamkan matamu dan istirahat. Itu akan membuat tubuhmu lebih baik."

Kankuro mengangguk, memberi dukungan pada kalimat pamannya, "Besok niisan akan mengantar surat izinmu ke sekolah. Paling-paling pihak sekolah akan mengirimkan surat peringatan lain pada kita. Izinmu karena keperluan perusahaan dan sakit termasuk menghawatirkan,"

"Ya, sebelumnya kau terjatuh dari tangga," sambung Temari.

"Lalu tertabrak mobil," tambah si lelaki sulung.

Yashamaru melirik Sasori, yang sepertinya tidak tahan untuk berkomentar, "Kau sepertinya punya kemampuan yang membuat kecelakaan fisik tertarik padamu, Gaara"

Sasori mendengus dengan kalimat yang mirip sekali dengan, 'Ayahmu!'

XxXxX

"Ganti pakaianmu dengan ini,"

Gaara bangkit perlahan dari bantalnya ketika kertas tisu menghantam mukanya, lalu wajah ayahnya terlihat. Yashamaru cepat-cepat mendekat, membantu keponakannya duduk.

"Niisama, menurutku.."

"Aku tak meminta pendapatmu, Yashamaru. Lebih baik kau panggil Temari kemari dan membawa perlengkapan kosmetiknya."

"Baiklah,"

Tak seperti Sasori yang masih berani membantah, Yashamaru lebih memilih menurut daripada keponakannya yang terkena getah.

Gaara duduk perlahan, membuka piyamanya dan menarik kemeja merah yang berada di dalam kertas tisu. Dia meringis sedikit ketika luka berperban di dadanya berdenyut saat dia bergerak menyorongkan tangan kanannya pada lengan kemeja.

"Gaara... Sini, biar kubantu," kata Temari begitu dia masuk dan meletakkan kotak bawaannya ke meja terdekat.

"Terima kasih,"

"Tousama, apa Gaara benar-benar harus pergi? Dia sedang sakit," kata si sulung sambil menatap ayahnya.

"Tentu saja, ini pesta penting, adikmu harus ikut disetiap acara yang melibatkan perusahaan kita,"

Temari mengangguk patuh, agak berbesar hati ketika sea green Gaara menatapnya dengan tegar.

Tangan Temari mengencangkan dasi di leher adiknya, merapikan letak jasnya. Gaara terlihat normal dalam balutannya.

"Warna putih sangat cocok denganmu, pas dengan kulit dan rambutmu," komentar si kakak perempuan sambil tersenyum, "Kau tampan sekali,"

Mata Gaara membelalak, baru sehari yang lalu dia mendengar kalimat serupa dari Neji, tapi rasanya kejadian itu sudah lama sekali.

Temari membimbing adiknya ke cermin terdekat, meminta Gaara memberi komentar tentang jasnya. Tapi sea green Gaara tak menatap bayangannya, tapi melirik ke arah mantel putih yang tergantung di dinding.

'Mungkinkah Hyuuga-san juga akan hadir?'

"Tutup memar di wajahnya dengan riasan," perintah ayahnya ketika Temari memapah adiknya kembali duduk di ranjang.

"Baik, tousama,"

XxXxX

"Gaara, kau tidak apa-apa?" tanya Sasori saat menatap keponakannya yang berdiri di antara ayahnya dan seorang petinggi dari Otogakure.

Si pemuda yang ditanya tak menjawab, jarinya bergerak naik, mengusap pelipisnya. Wajahnya pucat pasi. Keringatnya juga banyak sekali, mengalir dari dahi menuju lehernya. Uap hangat terlihat menguar di sekeliling wajahnya.

"Berpeganganlah pada paman, kita akan mencari kursi agar kau bisa duduk." kata Sasori ketika matanya beredar di antara puluhan kepala yang sedang menikmati standing party. Dia sama sekali mengacuhkan pandangan memperingatkan sang Kazekage dan memapah Gaara ke pinggir ruangan. Tak ada tanda-tanda keberadaan kursi di manapun. Saat Sasori bertanya pada seorang waiter yang membawa minumanpun, dia hanya mendapat gelangan.

Sasori sudah merencanakan untuk membawa Gaara pulang, tak ingin mengambil resiko jika keponakannya pingsan. Tapi saat menoleh ke arah kakaknya, Sasori tahu kalau mereka harus tetep mengikuti pesta, atau Gaara akan mendapat balasannya di rumah nanti.

"Bersandarlah di sini, paman akan segera kembali," kata Sasori ketika matanya tertatap sebuah meja kayu yang menyangga rak buah. Dia mengambilnya, mengabaikan pandangan heran beberapa petinggi perusahaan aliansi dan waiters yang berlalu-lalang.

"Duduk dan minumlah,"

Si paman mengusap kepala keponakannya, menutupi Gaara dari pandangan.

XxXxX

"Gaara-kun,"

Sasori terlonjak, mundur selangkah dan reflek merentangkan tangannya di hadapan keponakannya. Di hadapannya berdiri putera tunggal Hyuuga. Mata lavendernya berbinar senang ketika menatap Gaara. Tersenyum.

Jeda.

Merasa bahwa si pendatang tak akan berbuat sesuatu yang buruk, si paman bergerak minggir, Gaara juga terlihat cukup senang pada sapaan yang diterimanya. Wajahnya yang pucat sudah kembali berwarna.

"Aku mencarimu dari tadi, ternyata kau duduk dan bersembunyi di sini. Kau baik-baik saja, kan?"

Gaara mengangguk, tapi kepala Neji mendekat, menyipit memperhatikan wajahnya.

"Itu memar karena apa?" tanya si pemuda Hyuuga saat jarinya menunjuk muka Gaara.

Sasori menoleh. Suatu kejutan jika ada yang memperhatikan keponakannya sedetail itu. Penerangan titik ini berbeda dengan tempat mereka berdiri tadi, kerlip lampu di dekat pintu membuat mata susah membedakan warna. Benar-benar luar biasa karena si putera tunggal Hyuuga bisa menyadari memar di wajah Gaara yang sudah ditutup dengan cukup sempurna oleh riasan Temari.

Sea green milik si bungsu Sabaku melirik ke arah pamannya.

XxXxX

Tbc

XxXxX

Yeah, chapter ini full masa lalu Gaara. Sekalian penegasan buat genre family-nya. Nah jadi flash back ini benar-benar jadi titik pentingnya. Kalo bingung yang mana past dan present, baca ulang aja, mudah-mudahan ngerti *disepak*

Daaaan, banyak hint SasoGaara, hihihihi, niatnya mau ngebanyakin YashamaruGaara aja, ga terlalu banyak melibatkan Sasori, tapi keinginan buat memunculkan dia terlalu besar *hihihihi, minta ditimpuk meja sama Neji*

Aduh, semoga saia nggak disepak sama Helena *ngeeeeeeeeek*

Review?