Together Forever

Bleach © Tite Kubo

This fanfic is belong to Ruke Svetlo

Pairing : Kurosaki Ichigo X Kurosaki Rukia(coz Rukia became Ichigo's wife) and KaiRuki inside

Warning : If you hate this fanfic, click exit button without leave any flame.


Still Rukia's POV

"ICHIGO!" jeritku tertahan.

Benarkah itu dia, Tuhan? Apa ini jawaban atas semua doa-ku kepada-Mu? Benarkah aku tidak bermimpi?

Ichigo berhenti akan kegiatannya dan mengambil posisi diatasku, menatapku.

Aneh.

Kenapa tatapannya begitu? Apa aku sudah berbuat salah? Mata amber-nya tidak menatapku tajam seperti dulu. Tatapan apa ini? Kecewa? Memangnya apa yang sudah kuberbuat, Ichigo? Kenapa kau menatapku begitu? Kumohon, katakanlah sesuatu. Kumohon, suamiku! Apa yang membuatmu sedih?

Berat mulut ini untuk menanyakan sesuatu hal yang tidak kumengerti darimu.

Ichigo membelai pipiku lembut, sentuhan ini. Sudah lama ia tidak berikan padaku. Aku bahagia. Aku bahagia Ichigo, suamiku.

"Dengan siapa kau melakukannya?"

Aku cuma bisa terjingkat tertahan mendengar pertanyaanmu.

Sungguh, aku malu. Aku takut.

Bukannya aku takut menerima tamparanmu yang selalu kau berikan, bukannya aku takut mempertanggung jawabkan perbuatanku, aku takut melukaimu. Aku takut kau meninggalkanku. Sungguh.

"Kita cerai."

Cerai? Apa katamu Ichigo?

Cuma disinikah hubungan kita?

Apa artinya bulan tanpa matahari, Ichigo?

Apa artinya malam tanpa pagi, Ichigo?

Apa artinya aku tanpamu, Ichigo?

Sekarang aku disini, merenungi takdirku. Dicampakkan oleh sosok yang sangat berharga bagiku.

Kupegang erat pundak Ichigo, kucium lehernya, kurasakan bau tubuhnya untuk yang terakhir kalinya. Air mataku tidak dapat kuhindari lagi, menetes satu demi satu. Untuk sekali ini saja, biarkan aku menangis dipundakmu.

"Jujur, aku kecewa padamu." Bisik Ichigo pelan. "Aku kecewa."

Kujauhkan bibirku dari lehernya, "Maafkan aku, sayang." Aku meminta maaf meski aku tahu ia tak mungkin memaaafkan ku. Aku memang hina untukmu, tapi biarkan aku disisimu.

Ichigo terdiam. Aku ingin menebak semua pikiran yang ada diotaknya saat ini.

"Ichigo, jangan tinggalkan aku. Tidak masalah hatimu tidak bersamaku, tetapi beradalah disisiku. Akan kupuaskan hasratmu, aku akan berikan seluruh ragaku, seluruh jiwaku asalkan kau mau beradalah disisiku!"

Memalukan.

Aku melakukan tindakan yang tidak termaafkan, tetapi sekarang aku malah mengemis padanya.

Ini bukan dusta, Ichigo. Aku memang tak bisa melupakanmu. Bahkan satu detikpun, aku masih tergiang akan buaianmu saat dulu-dimana kita masih berpacaran.

Kulihat wajah Ichigo, wajahnya tidak terlihat marah. Bulir-bulir air yang menuruni pipinya jatuh keatas permukaan pipiku. Ia menangis?

"Aku ingin mati, Rukia. INGIN MATI! BUNUH AKU!" bentaknya. "AKU MEMANG PERNAH SELINGKUH! AKU AKUI ITU! TETAPI SEKALIPUN AKU TAK PERNAH BERHUBUNGAN INTIM DENGAN WANITA LAIN, TAPI KAU! Aku tidak percaya jika perempuan yang aku nikahi bercinta ditempat dimana ia tinggal dengan suaminya."

Aku terdiam.

Ichigo membenamkan wajahnya didadaku. Aku dapat merasakan ia menangis, seperti yang kulakukan sebelumnya. Ia mencengkeram kuat sprei kasur dan menumpahkan seluruh air matanya.

Aku cuma bisa membelai pelan kepalanya.

Aku tahu kau marah. Aku tahu itu. Aku memang wanita menjijikkan, tetapi apakah seutas permintaan maaf dariku tidak bisa kau terima? Apakah hatimu telah tertutup rapat untukku?

Kau sering melakukan perlakuan tidak pantas padaku. Memukul, menampar, bahkan menyuruh orang lain berbuat tidak senonoh padaku. Tetapi, mengapa sekarang kau menangis?

Apakah kau masih mencintaiku, Ichigo?

Ada 1001 pertanyaan sekaligus permohonan untukmu, tetapi aku hanya butuh 1 jawaban darimu. Apakah jika aku menanyakan 1001 pertanyaan itu, kau akan menjawabnya walaupun Cuma sepatah kata?

"Apakah kau mengampuni dosaku, Ichigo?"

Dapat kurasakan Ichigo menciumi leherku. Tangannya yang tadi mencengkeram erat sprei mulai menyentuh dadaku.

"Biarkan aku menyentuhmu malam ini,"

Menyentuhku? Betapa baiknya kau Ichigo. Kau masih mau menyentuhku, aku yang telah kotor ini! Apakah itu berarti jika kau tidak rela melepasku? Apakah itu maksudmu? Aku bahagia! Aku bahagia, Ichigo! Sangat bahagia!

Kau menginginkanku! Kau ingin menyentuhku! Aku tahu itu semua saat kau melepaskan pakaianku. Aku tahu itu ketika melihatmu mencium bibirku mesra. Aku tahu itu dimana tanganmu menjamah seluruh tubuhku ini.

Lidahmu yang meliuk di rongga mulutku ini tak dapat menyangkal jika kau masih mencintaiku.

Aku dapat merasakan sentuhanmu yang lembut membuaiku. Tanganmu yang memijat pelan dadaku, bibirmu yang tidak henti-hentinya menciumku. Nafasmu yang menggebu diwajahku.

Ini bukan mimpi.

Jemarimu yang lembut mencengkeram lemah sela-sela jariku ini seolah bertanya padaku, 'apa kau siap?'

Bahkan saat kita menyatu, saat kau menyampaikan cintamu melalui ragamu itu.

Hangat.

.

.

.


Sinar mentari memasuki pelan kamar Ichigo dan Rukia melalui jendela. Pagi telah tiba tetapi kedua insan tsb belum terbangun dari mimpinya. Mereka terlalu lelah setelah melalui permasalah yang mereka hadapi tadi malam.

Ichigo POV

Aku membuka mataku, memposisikan diriku duduk. Aduh~ dapat kurasakan pinggangku sakit. Inikah akibat lama tidak melakukan itu?

'Itu'! ?

Ah iya, benar. Aku telah melalukan itu. Aku bercinta dengan Rukia.

Tunggu! Bercinta dengan Rukia! ?

Aku menoleh kesebelah kananku, kudapati Rukia tertidur lelap dengan selimut menutupi dadanya.

Aku benar-benar tidak percaya jika wanita ini sudah disentuh oleh lelaki lain selain aku. Bayangkan saja, orang yang benar-benar kucintai disentuh oleh orang lain. Aku benar-benar tidak percaya.

Bahkan aku ingin membunuh Kaien saat ia mengatakan jika ia telah menyentuh Rukia. Konyol bukan? Itu cari mati namanya!

Aku tidak ingin percaya, tetapi ekspresi Rukia berubah saat aku menanyakan itu.

Hancur. Itulah yang kurasakan tadi malam. Semangat hidupku seperti sirna.

Rukia, tahukah kau betapa kecewanya aku padamu?

Kau tau seberapa indah luka yang kau ukir dihatiku?

Taukah kau jika aku ingin mati pada saat kau merubah ekspresimu dimana aku menanyakan kenyataan sebenarnya?

KENAPA!

Dapat kurasakan kedua tangan mungil melingkar lembut di pinggangku. Rukia sudah terbangun rupanya. Ia menyapaku pelan, suaranya lemah tetapi lembut. Aku hanya bisa menjawabnya singkat, aku masih marah padanya.

Betapa bodohnya aku, Tuhan? Benarkah aku rela melepaskan wanita ini?

Berulang kali ia menanyakan bagaimana kelanjutan hubungan kami. Aku hanya bisa terdiam.

Sampai akhirnya, "Kau kemarin pagi telpon dengan siapa?" ucapnya kesal.

Sepertinya ia ingin mengingatkanku jika aku pernah selingkuh rupanya. Bagus, kemarin kau mengemis padaku dan sekarang kau mengejekku.

Kunaikkan sebelah alisku. Aku benar-benar kesal. "Siapa yang cium-ciuman di studio kemarin?" tanyaku membalas perkataannya.

Dapat kurasakan jika Rukia semakin marah sekarang. "Siapa yang menyuruh Ichimaru untuk berbuat yang aneh-aneh padaku kemarin?"

He? Apa katanya? Oooh, Ichimaru itu! Yah, memang aku hanya iseng.

Flash Back

Seorang pria dengan berperawakan tinggi kurus menghampiriku di atap gedung studio TV. Ia menyapaku sok kenal. Dia pikir siapa dia? Seenaknya saja menganggu istirahatku. Tidak tahukah dia kalau aku ini Kurosaki Ichigo? Dasar menyebalkan.

Mendengarkan celotehannya yang menjadi-jadi aku bertanya, "Siapa kau? Ada urusan denganku?"

Kulihat pemuda itu tetap tersenyum. Ia Cuma menjawab jika ia adalah mantan Rukia. Cih sial, kenapa aku jadi kesal begini! Tapi, mungkin dia bisa dimanfaatkan.

"Ichimaru, kau bisa membantuku?" Tanyaku dengan senyuman-palsu tentunya.

Ichimaru tetap menyungingkan senyumannya, "Tadi kau bilang lupa padaku, sekarang kau malah minta tolong padaku."

Lupa? Aku tidak kenal kau brengsek.

"Yah, ehm maaf. Bisakah aku minta tolong?" ucapku ramah-palsu. "Ini soal Rukia."

Raut wajah pemuda itu merona merah. Heh, heh, heh, masi suka pada istriku ya? Brengsek.

"Ya. Aku akan membantumu."

Setelah memberi tahu pemuda bernama Ichimaru itu, aku berlari menuju studio tempat dimana Rukia bekerja. Ada yang aneh saat aku melewati depan pintu studio tempat Kaien bekerja. Aku mendengar suara Rukia.

Bukankan Rukia bekerja distudio paling bawah? Bukannya dia sedang pemotretan?

Begitu penasaran, kubuka pintu studio itu. Betapa terkejutnya diriku, melihat Kaien mencium kening Rukia. Begitu lembut, layaknya seorang kekasih pria yang mencium kening kekasihnya.

Aku cuma terdiam.

Terdiam mengawasi mereka.

Ah, Rukia menoleh padaku. Sepertinya ia menyadari jika aku sudah melihatnya. Matanya membulat, sepertinya ia ketakutan melihatku. Aku tengah menatapnya tajam, kepalan tanganku sudah siap meninju Kaien kapan saja. Rukia begitu ketakutan saat menyebut namaku. Kenapa kau takut? Apa kau takut aku akan menamparmu lagi? Tidak, aku tidak akan menamparmu lagi. Aku telah bersumpah. Dan gara-gara aku menamparmu, hubungan kita menjadi kacau! Aku ingin kembali kepada masa lalu, dimana kita saling mengerti satu sama lain.

Kaien-si sialan itu dengan seenaknya berkata, "Apa kabar, Kurosaki?"

Itu? Itukah yang kau katakan setelah mencium kening istriku? Apa kau tidak malu Kaien?

Dan kau, Rukia! Kenapa kau tidak mengatakan sepatah kata apapun?

"Tak kusangka kau dapat mendapatkan pria seperti ini, Rukia." Ucapku sinis.

DASAR BODOH! Sebenarnya aku ini marah pada Rukia, atau Kaien?

Kulihat Rukia berlari menjauh, Kaien mengikutinya dari belakang. Aku seperti menjadi obat nyamuk jika berada di samping mereka berdua.

Ah! Aku lupa akan sesuatu hal!

.

Kini aku berdiri dibelakang Kaien yang menenangkan Rukia. Kulihat Rukia begitu ketakutan, sangat ketakutan.

Aku terlambat menolongnya. Padahal rencanaku, aku menyuruh Ichimaru berpura-pura ingin menodai Rukia dan aku menolongnya. Itu yang kurencanakan. Mungkin dengan itu aku bisa berbaikan dengan Rukia.

Dan apa daya?

Aku sudah terlambat, Kaien sang hama penganggu brengsek itu sudah merusak semua rencanaku.

Sekarang, aku ingin mengumpat Kaien.

Hah? Mereka berdua menoleh kearahku. Kenapa? Baru sadar jika aku berada disini sejak tadi? Dasar parah.

Kaien menatapku tajam, "Semua ini ulahmu kan?" bentaknya.

Siapa kau? Kenapa berani membentakku seperti itu? Sialan kau.

"Kalau iya?" tantangku. Pada dasarnya, memang akulah yang menyuruh Ichimaru untuk melakukan itu pada Rukia. Tapi jangan salah sangka, aku juga ingin menghentikannya. Aku Cuma ingin dilihat Rukia sebagai orang yang menyelamatkannya dari bahaya seperti dulu.

Kaien mencengkram kerahku, kulihat ia benar-benar marah. Jangan bercanda kau, brengsek! Jangan bertingkah seperti bocah umur 5 tahun yang sok ingin melindungi milik orang lain. Jangan ikut campur urusanku!

Ukh! Aku terpental jauh menerima pukulan yang Kaien berikan.

Sakit.

Aku mengelap darah yang berada disekitar bibirku. Kuat juga dia. Ingin kulampiaskan kemarahanku padanya. AKU INGIN! Tetapi, aku mendengar tangisan Rukia makin keras saat aku mulai mengepalkan tanganku. Apa boleh buat, lakukan sesukamu Rukia.

Flash back end~

Aku terdiam dengan perkataan Rukia. Yah, mungkin saat ini lebih baik aku diam saja daripada berakhir dengan Rukia menangis lagi.

Aku dapat merasakan pelukan Rukia yang makin erat, seakan memintaku membalas pelukannya. Aku memejamkan mataku, ternyata bukan hanya aku yang berdebar-debar. Rukia juga. Aku dapat mendengar bahkan merasakan degupan jantung Rukia dipunggungku. Semua terasa begitu nyata.

Dengan segera, kutidurkan tubuh Rukia dan aku mengambil posisi diatasnya.

"Rukia," bisikku lembut. Aku dapat melihat Rukia-istriku terbaring pasrah dibawahku. Sudah lama aku tidak terangsang begini. Kami belum memakai busana apapun sekarang.

Pertengkaran yang biasa kami lakukan seperti mimpi. Lebih tepatnya mimpi buruk.

Aku tidak tahu jika rasanya terbangun dari mimpi buruk akan sebahagia ini.

Ia menyentuh pipiku lembut. Ah, kalian pasti tidak akan tahu bagaimana bahagia dan hancurnya aku sekarang. Semuanya begitu sulit dijelaskan dengan kata-kata.

"Tidak pergi kerja? Hari ini produser Braginsky Record ingin bertemu dengan kita," ucapnya lembut.

AAAAH, betapa indahnya suara malaikat kecilku ini. Tunggu, apa katanya? Braginsky Record? Ah lupakan saja itu dulu.

Aku menggeleng pelan, dengan segera kucium bibirnya. Aku sudah tidak bisa menunggu lebih dari ini, Rukia. Sepertinya otot tubuh Rukia menegang. Mungkin dia masih lelah dengan kejadian kemarin. Tapi, aku sudah tidak tahan lagi. Dengan lembut, kupijat kedua pundak Rukia dengan pelan tanpa melepas bibirku. Sepertinya ia merasa nyaman.

Kulepaskan tanganku dari pundaknya ketika pundak Rukia tidak kaku lagi, ciumanku kuturunkan kelehernya yang menyeruakkan wangi khas tubuhnya. Kucium bagian itu, aku hisap lembut, aku gigit kecil hingga menampakkan tanda kemerahan.

Desahan Rukia yang terlontar disetiap sela kalimatnya yang menyuruh aku pergi bekerja semakin membuatku ingin melakukan lebih. Sepertinya Rukia tidak menolak jika aku melakukannya lagi.

Kuturunkan bibirku menuju dada Rukia. Setiap aku mengeraskan hisapanku, desahan Rukia menjadi makin keras dan itu semua membuatku merasa nyaman kecuali jemari Rukia yang menjambak keras rambutku.

Sekarang ,aku sangat bersyukur menjadi seorang laki-laki. Ternyata menjadi seorang pria memang menyenangkan, yah meski banyak tidak enaknya juga.

Kedua kaki Rukia yang mengapit pinggangku semakin keras. Seolah menginginkanku lebih.

Kuturunkan lagi bibirku tanpa melepasnya dari tubuh Rukia.

Kusentuhkan lidahku dari dada Rukia, turun menuju perut, dan kemudian bagian terintimnya. Sepertinya aku sudah tidak lagi mempersalahkan bagian yang paling membuatku terangsang. Aku tidak masalah jika Rukia pernah menjadi satu dengan lelaki lain. Bukannya aku tidak peduli, aku Cuma ingin menghilangkan hal itu dari otakku.

Kujamah bagian terintimnya dengan lidahku, kumasuki lorong yang begitu basah dan hangat. Wangi yang khas menyeruak dari dalam sana.

"Ah, ah, hentikan Ichigo, aku lelah," Rukia menjerit pelan dari atas sana diringi dengan cairan hangat yang menyembur tepat diwajahku, rasanya hangat.

Aku Cuma bisa menaikkan sebelah alisku, "Kau mengatakan jika aku bersamamu, kau akan memuaskan hasratku kapan saja? Jadi itu bohong ya?"

Kulihat Rukia menutup wajahnya dengan satu tangan. "Argh, lakukan sesukamu, Tuan!"

Marah ya?

"Jangan memanggilku seperti itu, kau kira aku ini sedang mem-BDSM?"

"Sudah, cepat lakukan! Aku tidak ingin terlambat menemui produser Braginsky Record."

Oke. Perintah yang menyenangkan jadi terdengar menyebalkan. Dengan cepat aku membalikkan tubuh Rukia dan mengangkat pinggulnya.

Rukia menolehku, "He-hei mau apa kau," tanyanya terbata-bata.

Oh, gugup ya? Ucapkan selamat tinggal pada gugup-mu, Nona Kurosaki!

Dengan tiba-tiba,aku menghentakkan kejantananku kedalam frame Rukia. Rukia menjerit kesakitan. Baru kali ini kami melakukan yang seperti ini.

Kuku Rukia menghujam sprei kasur kami, sepertinya ia benar-benar kesakitan kali ini. Anggap saja ini bayarannya karena sudah selingkuh.

Kuhentakkan perlahan, memasuki tubuh Rukia. Inchi demi inchi kami lalui.

"Be-Become one with me," gumanku pelan. Maksudku itu sekaligus menyindir Rukia yang sangat ingin bertemu dengan Braginsky Record. Kata-kata yang kusebut tadi itu adalah moto dari Braginsky Record. Yah, suasananya tepat.

Aku dapat merasakan dinding Rukia yang memijat erat kejantananku. Frame yang tadinya begitu sempit mulai terbuka bagiku. Aku menundukkan badanku sedikit, berusaha menarik paha Rukia agar aku dapat menjamahnya lebih dalam dari ini. Lebih dalam dari si brengsek itu.

"R-Rukia, cobalah untuk menaikkan pinggulmu semaksimal mungkin."

Rukia Cuma menjawab dengan jawaban yang tidak jelas. Sepertinya ia menangis sekarang.

Mungkin ini sangat sakit bagi Rukia, tetapi ini sungguh sangat nikmat bagiku! Sungguh!

Setiap hentakan yang aku berikan padanya membuatnya menjerit. Tetapi jeritanya itu, desahan itu, membuatku gila! Sungguh ini gila! Aku tak dapat mengkontrol diriku lagi! Berapakalipun Rukia mengatakan jika ini sangat sakit, aku tidak dapat menghentikan gerakanku.

Akh, diiringi dengan desahanku yang terakhir, aku telah membebaskan cairan bukti cintaku pada Rukia. Begitu banyak hingga cairan itu keluar melalui frame Rukia yang sudah tak terjamah oleh kejantananku lagi.

Aku hanya melakukannya dalam 15 menit, tetapi Rukia sudah mengeluh terus jika pinggangnya terasa amat sakit. Minta maafpun Rukia mengacuhkannya. Oh tunggu, mengacuhkanku? Berani sekali dia. Kutoleh ke wajahnya, ia telah tertidur pulas. Air mata disekitar matanya masih terlihat.

Aku tersenyum. Kukecup pelan keningnya.

"Arigato, Rukia…"

.

.

.

To Be Continue


Waktunya bales-bales review! xD

Ruke : Yo all! Maafkan aku sudah mentelantarkan fic ini sangaaaat lama. Terakhir aku update tuh tanggal… lupa, pokoknya agustus tahun 2010!

Ichigo : APAAN NEH! Jadi gua yang nyuruh rubah tuh!

Ruke : *meringis kesakitan habis ditendang Ichigo* oke, review pertama dari siapa, Ichigo sayang? *ditendang Ichigo-FC*

Ichigo : *merinding* icha22madhen menyuruh mu apdet

Ruke: Iya nih, Ruki udah apdet, ok, makasih reviewnya semoga berkenan dihati ya, maafkan kesalahanku yang sudah lama tidak meng-update cerita ini.

Ichigo : dari Hikaru Uzumaki dia bi-

Ruke : *motong perkataan Ichigo saking nggak sabar nahan njawab review* ini IchiRuki, gimana? xD bagus ngga? *ditendang gara2 cerewet* mungkin aku nggak segamblang waktu chapter lalu, disini aku pengen ngutamain romance nya haha *tersenyum pasrah* *ditendang* ok, makasih reviewnya

Ichigo : *nendang Ruke* mamoru okta-chan lemonberrymengatakan ka-

Ruke : AAAAAH SENPAAAI *meluk mamo* *ichigo sweatdrop berat* terima kasih banyak, anda sudah membimbingku! *cium mamo* *ditendang* ahaha bercanda peace, aku bukan yuri! Dan, bayarannya MAHAL TTATT *nangis* hiks hiks, dimurahin lagi napa TTATT *plak* ok, makasih reviewnya

Ichigo : *pundung karena Ruke nyuekin*

Ruke : Oke, *masih baca kotak repiew* Meyrin Mikazuki, hemm, happy ending ya? Yah semoga xD hohoo, KaiRuki? Bukan musuh IchiRuki koq itu! Yang jadi musuh IchiRuki biasanya itu IchiHime, yah meski saya suka keduanya *ditendang ke teluk Tokyo gara2 gak nyambung* ok, makasih reviewnya

Ichigo : HURUSAE(Urusai, logatnya Ichigo kan gitu xD)

Ruke : STFU! *Ichigo kembali cengo* sava kaladze whaduh, Kaien tokoh baik? Aaah nda tau saya, Kaien itu gado-gado, soalnya tokohnya campur aduk *ditendang Kaien FC* Tidaaaak *plak* mon mon lemon hyaha! Entah mengapa kalau bikin adegan Ichigo X Rukia aku jadi pingin nonjolin romance ketimbang adegannya. AAAAAH, ada apa dengan saya TTATT *nangis Bombay berakhir ditendang* oke, makasih reviewnya senpai!

Ichigo : *nunjuk2 Ruke* K-Kau i-

Ruke : *motong ucapan Ichigo sambil ngomong super cepat* Voidy… yooloh, makasih yaaaa *meluk rui* untuk menasehati aku sampai ngetik panjang lebar begini TTATT *nangis di kaki Rui* *ditendang* oh iyaaa, saya udah berusaha ngecek spelling nya biar ngga ada eh maksudku biar mengurangi salah ketiknya, gomen T.T WOOO! Awesome, ide anda benar-benar awesome! *nulisdinotes* saya claim ya idemu! *ditendang* dan, saya udah berusaha menekankan perasaan karakternya, gimana jadinya, kesannya jadi terlalu berbelit-belit nggak? Mohon komentarnya xD Terima kasih Rui Senpai, aku mencintaimu sepenuh hati~! *dilempar tong sampah gara2 yuri*

Ichigo : *ngusrek2 rambut gara2 dikacangin*

Ruke : Sader VectizenIchi, hohoho, monggo, apakah sudah memuaskan hasratmu?~ *digampar gara2 pake tata bahasa mesum* heeh, iya itu ichigo, masa gue? *plak* xD oke, makasih ya reviewnya, semoga berkenan dihati ya chapter kali ini.

Ichigo : …. *capek dikacangin*

Ruke : nejigaa dan nobOdeh, udah update nih! Gimana? Maaf nggak bisa hot banget. Aku pengen ngutamain romancenya, tapi kayaknya jadi aneh ya? *cengo sendiri* ya sudahlah, terimakasih reviewnya xD

Ichigo : Nggak aneh koq… *ngomong walau menduga kalau gak bakal dijawab*

Ruke : -aru? Bilang apa barusan?

Ichigo : *blushing* ti-tidak ada apa-apa! A-aku ha-

Ruke : *motong pembicaraan* oh ya sudah. Rio-Lucario aaaah? Masa sih? Padahal aku bego bikin lemon hahaha. Terima kasih reviewnya, aduuuh, jangan ditendang donk Ichigo, kasihan kan xD *padahal dalam hati seneng* okeee, semoga chapter kali ini berkenan dihati mu yaaa, xD

Ichigo : *duduk pasrah mendengarkan Ruke berbicara sambil ngangguk2 geje*

Ruke : NaTsu1212 Whadoh, lha kalo chapter lalu kurang hot, lha chapter ini tambah lebih super bener-bener nggak hot TTATT maafkan aku naTsu! Kau ini yang dI fb itu bukan? Maafkan aku ya, maaf, maaf! Aku nggak isa bikin yang kaya chapter lalu lagi, style nulisku BUEDA sekarang. Entah jadi makin jelek atau bagus, penilaiannya saya serahkan ke anda xD

Ichigo : *muntah denger Ruke bilang kalo style Ruke membaik*

Ruke : *nutup hidung* vvvv, uhm…. Yah, begitulah, maaf nggak hot ya : makasih udah mau review saya, semoga chapter kali ini berkenan di hati. *sob sob sob* maaf… kalau nggak hot TTATT


Oke, semua! Terima kasih bagi yang sudah baca, saya lebih berterima kasih lagi kalau kalian meninggalkan review =))

Maafkan aku ya, kalau saya jadi berubah mendadak puitis atau puitis yang jelek atau… *cengo* bingung mau ngomong apa xD

Boleh minta satu hal? xD

REVIEW YA!