Disclaimer: bukan punya saya :'(
Warning: ShounenAi, implicit mature content, crack, OOC, gaje
Kida's POV
Aku memandangi wajah tidurnya yang begitu damai. Sudut bibirnya sedikit tertarik, membentuk lengkung senyum yang indah. Bahkan saat tidur pun dia terlihat bahagia.
Tanganku terulur, menyematkan helai rambutnya yang kecoklatan ke balik telinga. Kemudian aku membungkukkan badanku untuk mengecup keningnya dengan lembut. Mataku terasa panas dan tanpa sempat kucegah, bulir air mata jatuh membasahi pipinya yang nampak pucat.
"Maaf, Saki.." aku hanya bisa berbisik. Begitu lirih seperti hembusan angin. Karena aku tidak akan tega melihat sepasang bola matanya yang begitu polos itu. Karena aku tidak ingin lengkung sesempurna pelangi itu meninggalkan parasnya.
"Kida-kun."
Saat itu tiba-tiba tubuhku terasa membeku. Aku kenal betul dengan suara itu.
Sebuah tepukan pelan mendarat di pundakku. Aku menegakkan badanku dan berbalik menghadapnya. Dia dan seringainya yang biasa.
Kepalaku tertunduk dan orang itu melingkarkan lengannya di pundakku, yang terasa seperti ular berbisa yang siap kapan pun untuk mematukku. Menusukkan taringnya ke dalam kulitku, menyebarkan racun yang perlahan akan membunuhku.
"Sudah saatnya kita pergi."
Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan bernuansa putih itu aku menolehkan kepalaku, menatapnya yang terbaring di atas ranjang dengan siraman sinar keemasan matahari sore. 'Saki...'
Dan pintu ruang rawat itu tertutup di belakangku.
...
Orang itu membuatku terjebak di antara dinding yang solid dan dingin, dan tubuhnya yang hangat. Cahaya bulan yang menerobos lewat celah-celah tirai jadi satu-satunya penerangan kamar ini, membuat nuansa remang-remang yang aku akui sebagai sesuatu yang romantis, namun bukan di posisiku saat ini.
Nafasnya yang hangat dan memburu menerpa wajahku yang sudah terlebih dahulu menghangat, memerah seperti tomat. Dia menghirup dalam-dalam aroma rambutku seperti ekstasi. Tangannya menjelajahi setiap jengkal tubuhku tanpa bisa aku melawan. Karena aku tidak punya hak untuk melawan.
Sepasang mata merahnya yang berkilauan menatapku penuh tanda tanya.
"Hmm? Tidak biasanya kau begitu diam, Masaomi?"
Menggertakkan gigi-gigiku, mengencangkan rahangku, apapun untuk mengurangi gemetar tubuhku.
"Berhenti melakukan hal itu, Masaomi. Kau hanya akan merusak gigimu,"
Dia meraih daguku pelan dan menempatkan sebuah kecupan lembut di bibirku. Membuatku meleleh seperti mentega di atas penggorengan. Membuatku tubuhku terkulai lemas. Kalau bukan karena sepasang lengannya yang melingkari pinggangku, aku pasti sudah terjatuh.
Karena dia seperti merampas semua oksigen yang kuhirup.
"Hari yang menyebalkan di sekolah, kurasa?" Perlahan dia merengkuhku ke dalam lengannya. Membawaku ke tempat tidur King Size dan dengan penuh hati-hati menurunkanku. Sepasang mata merahnya yang berkilauan tertuju padaku. Menelanjangiku bulat-bulat, seperti predator yang siap menyantap mangsanya.
Kemudian hal yang sama terulang kembali. Harga mahal yang harus kubayar untuk menebus penderitaan gadis yang kini tengah terbaring lemah di rumah sakit. Untuk menebus sakit yang dirasakan Saki.
...
