Playful Kiss

Chapter 2

Yuna Mikuzuki

Rated : T

Genre : Romance, Comedy, Family

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Summary : Based on Korean Drama 'Playful Kiss'. Sakura Haruno adalah siswi SMU yang bodoh dan jatuh cinta kepada siswa yang sempurna sesekolah, Sasuke Uchiha. Namun Sasuke malah menolaknya habis-habisan di depan semua orang. Ketika rumah Sakura hancur, dia dan ayahnya pindah menumpang di rumah teman lama ayahnya. Ternyata teman lama ayahnya adalah ayah dari Sasuke Uchiha! Dan Sakura mempunyai kesempatan untuk mendekati Sasuke. Mampukah Sakura mengubah hati sang perfectionist, Sasuke Uchiha?

Annyeong haseo! Yap, saya balik lagi dengan chappie 2! Bakal kuusahain untuk sedikit berbeda dari drama aslinya! Silakan membaca!


Playful Kiss

Chapter 2 : Please Teach Me!

"Perlu kubawakan kopermu?"

Sakura menjawab tanpa menatap si penawar, "Tidak usah, aku bisa…" kata-kata Sakura terpotong saat ia membalikkan badannya.

"Ka-kau…!"

Orang yang berada di belakang Sakura ternyata adalah laki-laki berambut hitam, bentuk pantat ayam, dan memasang wajah datar emotionless. Dan tebak saja siapa dia, Sasuke Uchiha!

Sakura menepuk-nepuk, mencubit kedua pipinya. Berharap ini adalah mimpi. Tapi, meskipun dilakukan berkali-kali, tetap saja pipinya terasa sakit. Kemudian Sakura bertanya sambil mendelik pada Sasuke.

"Ke-kenapa kau berada di rumah ini? Jangan bilang kau-"

"Sasukeee… kenapa kau belum masuk? Sakuraa… ayo cepat masuuuk…" terdengar suara Mikoto dari speaker luar rumah. Sakura menganga, jadi ini rumah Sasuke? Tapi kalau diperhatikan, rumah ini 'kan katanya rumah keluarga Uchiha. Dan Sasuke itu Sasuke Uchiha. Kenapa Sakura tidak menyadarinya?

Sasuke tanpa melakukan apa-apa masuk ke rumahnya, meninggalkan Sakura yang masih bengong di mobilnya. Sasuke membalikkan kepalanya menghadap Sakura.

"Kenapa? Mau kubawakan kopermu?" tanya Sasuke. Sakura tersadar dan menggelengkan kepalanya cepat. Dan Sasuke langsung tertawa kecil. "Ah, benar juga," kata Sasuke. Sakura menaikkan alisnya tidak mengerti.

"Meskipun kau tinggal di kolong jembatan atau menjadi pengemis sekalipun, kau tetap tidak akan menerima bantuanku," kata Sasuke. Sakura tersentak dan ditinggal oleh Sasuke ke dalam. Sakura langsung merubah raut wajahnya menjadi ganas.

"Grrrr…..!"

.

.

.

.

Fugaku, Mikoto, Asuma dan Sakura berkumpul di ruang keluarga mengobrol-ngobrol, sampai Sasuke turun dari lantai atas. "Oh, Sasuke. Ayo kumpul di sini dulu," suruh Fugaku. Sasuke menghela napasnya dan duduk di sebelah Asuma. Sakura melirik sedikit ke arah Sasuke yang duduk di seberangnya. Mikoto duduk di sebelah Sakura.

"Aah… rasanya kita seperti sudah lama tidak bertemu, ya…" kata Mikoto sambil menempelkan kedua telapak tangannya. Fugaku dan Asuma tertawa. Sasuke sedikit tertawa karena terbawa suasana antara ayahnya dan Asuma.

Kemudian Fugaku turut bicara. "Ah, Asuma, kau tahu, waktu kita melihat apa yang terjadi menimpamu, Mikoto-lah yang langsung memintaku untuk menelpon stasiun TV untuk memberitahumu untuk tinggal di sini,"kata Fugaku. Asuma langsung menggaruk belakang kepalanya. "Ooh, aku sangat berterimakasih sekali," kata Asuma sambil membungkuk. Mikoto menggelengkan kepalanya. "Ah, itu bukan apa-apa. bahkan kata suamiku, dia sangat berhutang budi padamu, dan berharap mempersilakan kalian tinggal di sini bisa membalas kebaikanmu," kata Mikoto.

"Ah, tidak, tidak. Justru aku yang kelihatannya berhutang budi pada kalian," kata Asuma. Mereka bertiga tertawa dan Mikoto menoleh pada Sakura. "Ne, Sakura. Aku sangat senang kau tinggal di sini. Dan… apa kau dan Sasuke saling mengenal?" tanya Mikoto. Sakura hanya tertawa dan Sasuke hanya menatap mereka berdua bosan.

"Uuumm… begitulah. Sasuke-kun di sekolah sangat terkenal dan pintar…" kata Sakura memuji Sasuke jujur. Mikoto terenyum dan memegang kedua pundak Sakura. "Kau lihat, Sakura. Sasuke memang begitu sifatnya. Dia selalu melihat ke bawah, tak begitu berteman. Haah… kenapa putraku seperti itu, ya…" kata Mikoto. Sasuke langsung mendelik pada ibunya. Sedangkan Mikoto hanya tertawa tak mempedulikan Sasuke.

Kemudian anak laki-laki sekitar berumur 22 tahun turun dari lantai 2 membawa buku. Mikoto langsung menyuruhnya duduk di sebelah ayahnya.

"Ya, kenalkan. Ini anak pertama kami, Itachi," kenal Mikoto. "Itachi Uchiha," salam Itachi sambil membungkuk pada Asuma. Dan Asuma pun membungkuk balik. "Ahaha, bahkan anak pertamanya pun tampan. Pasti karena dari ibunya," canda Asuma. Mikoto memegang wajahnya dan tertawa. "Ah, kau bisa saja, Asuma-san."

Itachi melirik pada Sakura dan menyodorkan tangan kanannya pada Sakura. Sakura menoleh. "Itachi," katanya dengan senyum. Sakura membalas tangannya dan tersenyum pada Itachi. "Sakura."

Mikoto memperhatikan mereka berdua, kemudian melirik pada Sasuke. Sasuke masih emotionless. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun. Mikoto berpikir, apa Sasuke tidak cemburu? "Hei, Sasuke. Lihat, kakakmu dan Sakura akrab sekali, lho. Kau tidak cemburu?" kata Mikoto mengusili Sasuke. Sakura terkejut dengan pertanyaan Mikoto dan menoleh pada Sasuke. Sasuke memandang mereka berdua dan menghela napasnya. "Untuk apa cemburu segala? Kalau Aniki memang suka padanya, ambil saja," kata Sasuke dingin. Dia beranjak dari sofa dan berjalan ke tangga. Fugaku menghela napas. Sakura mengubah air mukanya menjadi wajah sedih. 'Uukh… di rumah atau di sekolah, sama saja sikapnya…"


Mikoto mengantar Sakura ke kamarnya yang berada di lantai 2. begitu Mkoto membuka kamar itu, Sakura menganga. Kamarnya sangat bernuansa girly. Dindingnya dilapisi wallpaper berwarna baby pink, lantainya diberi karpet, kasurnya sudah diberi sprei dan selimut berwarna pink, meja belajarnya sudah dihiasi dengan komputer yang sisinya diberi fur berwarna pink. Aah… pokoknya semua PINK. Mungkin karena ini kamar perempuan, makanya jadi warna pink.

"Tadaaa! Ini kamarmu, Sakura-chan!" Mikoto mempersilakan Sakura masuk dan Sakura menaruh bawaannya. Mikoto masuk dan duduk di kasur. Ia menepuk-nepuk kasurnya, menandakan pada Sakura untuk duduk di sampingnya. Sakura duduk dan Mikoto memeluknya.

"Duuh, senangnya! Serasa seperti punya anak perempuan. Kau tahu, Sakura. Begitu aku tahu Asuma punya anak perempuan, aku buru-buru mendekorasi kamar tamu ini. Kau suka?" tanya Mikoto. Sakura mengangguk, "Ya, Mikoto-san. Aku sangat menyukainya," Mikoto tertawa senang. "Aah, jangan panggil aku pakai san. Cukup 'ibu' saja, ya?" tawarnya sambil menaruh jarinya di bibir Sakura. Sakura mengangguk. Mikoto memeluk Sakura lebih erat lagi. Sakura terohok-ohok bersamaan datangnya Sasuke ke kamarnya.

"Bu, ini kopernya Sakura Haruno. Kutaruh di sini, ya," Mikoto menoleh dan melepaskan pelukannya. "Oh, terima kasih, Sasuke. Oh, iya, tolong temani Sakura sebentar, ya. Ibu ada yang harus diselesaikan di bawah. Jangan apa-apakan Sakura, ya…" kata Mikoto sambil melambaikan tangannya pada Sakura. Sakura membalas lambaian tangannya dan menoleh pada Sasuke. Sasuke yang sadar dilihat langsung berjalan ke kursi meja belajar.

"Heran, kenapa ibuku sangat senang mendekorasi kamar ini untuk orang sepertimu?" tanya Sasuke. Sakura tersentak dan menatap Sasuke geram. "Huh, aku juga heran. Kenapa ibumu yang sangat baik itu mempunyai anak sepertimu?" Sakura membalas balik. Sasuke menghela napas dan mulai membuka mulutnya. "Dasar orang aneh. Sudah untung diberi tumpangan."

Sakura menahan amarahnya. Sasuke Uchiha itu benar-benar dingin! "Apa maksudmu?" tanya Sakura kesal. Sakura ingin menampar Sasuke, tapi keburu ada Itachi datang ke kamar Sakura. "Lho, sedang asyik, ya?"

"Aniki, ada apa?" tanya Sasuke. Sakura beranjak dari kasurnya. "Tidak ada apa-apa. tumben saja kau tidak mandi. Biasanya 'kan kau mandi kalau sudah jam 8," kata Itachi. Sasuke langsung beranjak dari kursi dan keluar melewati Itachi. Sakura memperlihatkan wajah cemberut. Itachi hanya tertawa kecil dan meninggalkan kamar Sakura. Begitu kaamr Sakura benar-benar sepi, Sakura menutup pintu kamarnya. Setelah itu, dia mengambil bantal dari kasur dan membanting-bantingkan bantalnya.

"Dasar orang pintar brengsek! Sombong sekali mentang-mentang ini rumahnya! Awas saja dia! Begitu aku bisa melewati tes ruang khusus bulan depan, akan kubuat dia mati kutu! SHANAROOO!"

Sakura terus mengamuk sambil membanting-bantingan bantalnya selama 30 menit. Sakura tidak menyadari kalau Sasuke dari tadi mendengarkan amukan Sakura dari luar selama 10 menit setelah mandi selama 20 menit. Sasuke tertawa kecil dan masuk ke kamarnya.

'Hah... Dasar menggelikan...'

Setelah Sakura puas mengamuk, dia merebahkan badannya di atas kasur sambil memeluk bantalnya. "Tapi, tes itu 'kan diadakan 2 minggu lagi. Aduuuuh… apa aku bisa…" Sakura terus mengoceh sampai dia ketiduran. Dia bahkan lupa untuk mengganti bajunya dengan piyama. Padahal ini 'kan akhir-akhir Januari. Meskipun begitu, suhunya masih dingin.


Pagi harinya…

"HATCHII!"

Sakura bersin begitu bangun dari tidurnya. Ia benar-benar kelupaan untuk ganti baju tidur kemarin. Ini semua gara-gara Sasuke Uchiha! Keberadaanya di otak Sakura benar-benar membuat lupa diri. Sakura keluar dari kamarnya sambil membawa handuk dan baju sekolahnya, berniat ke kamar mandi. Saat berjalan dan tepat di pintu kamar mandi, pintunya dibuka dan terlihat Sasuke keluar dengan menggunakan baju handuknya. Sakura melihat dirinya yang masih basah dan rambutnya berair. Pesonanya setelah mandi pun masih terpancar di mata Sakura. Sakura bengong sampai Sasuke melambai-lambaikan tangannya.

"Oi, kau mau masuk ke kamar mandi atau tidak?" tanya Sasuke. Sakura sadar dan segera masuk ke kamar mandi setelah mengangguk pada Sasuke. Sebelum Sakura masuk, Sasuke mendengar Sakura bersin kecil. Tapi Sasuke tidak menghiraukan. Sasuke mulai masuk ke kamarnya untuk ganti baju.

Begitu Sakura masuk ke kamar mandi, bau-bau Sasuke sehabis mandi masih terasa. Bahkan sangat harum. Membuat Sakura tertarik untuk menciumnya. 'Uukh… bau Sasuke-kun masih terasa…' Sakura duduk di kloset sambil melakukan ritual pembuangan zat-zat sisa yang tak dibutuhkan. Terserah mau yang berbentuk cair atau padat. Setelah selesai, Sakura lega dan memutar kran showernya. 15 menit Sakura mandi, ia mengambil handuk dan mengeringkan dirinya sambil sikat gigi. Mikoto sudah memberitahu kalau sikat gigi untuk Sakura sudah disiapkan. Sakura melihat sikat gigi yang berwarna pink dan langsung mengambilnya. Pasti itu sikat gigi yang disiapkan oleh Mikoto untuk Sakura, karena tidak mungkin kedua bersaudara Uchiha itu menyukai warna pink. Sakura mulai sikat gigi, dan selesai dalam waktu 2 menit.

Keluarnya Sakura dari kamar mandi, dia dipanggil oleh Mikoto dari bawah. "Sakura-chan, ayo sarapan dulu…"

Sakura berjalan ke lantai bawah. Di meja makan sudah ada Fugaku, Asuma, Itachi, dan Sasuke. Sedangkan Mikoto masih memasak di dapur. Sakura mengambil tempat duduk di sebelah ayahnya dan seberangnya Itachi. Sarapan Sakura sudah disiapkan. Roti dengan selai strawberry, serta susu putih di sebelah piring roti. Sakura mengambil pisau untuk mengambil selai dan dioleskan roti. Lalu, Sakura makan dan mengunyahnya. Begitu semua orang masih sarapan, Sasuke sudah beranjak dari kursinya.

"Aku sudah selesai. Aku pergi dulu," Sasuke mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu utama. Mikoto melihat Sasuke yang membuka pintu rumahnya langsung mencegatnya. "Sasuke, pergi ke sekolahnya bareng Sakura-chan, dong! Dia 'kan belum tahu rute ke sekolahnya, Sasuke," kata Mikoto. Sasuke menghela napas dan menunggu Sakura. Sakura buru-buru makan dan langsung mengambil tasnya.

"Aku pergi du-HATCHII!"

Mikoto mendengar Sakura bersin. "Kau tida apa-apa, Sakura-chan?" tanyanya khawatir. Sakura menggeleng dan pergi ke luar bersama Sasuke.

"Hati-hati di jalan, yaa…"

.

.

.

Sasuke berjalan meninggalkan Sakura. Sakura mengejar Sasuke sambil ngos-ngosan. Begitu sudah mendekati Sasuke, Sakura menarik baju belakangnya. Sehingga Sasuke menghentikan langkahnya.

"Kau mau apa?" tanyanya agak terganggu. "Jalanmu terlalu cepat. Aku tidak bisa menyusulmu," kata Sakura sambil mengatur napasnya. "Salah sendiri kau pendek," kata Sasuke sambil berjalan kembali.

"H-hei! Tunggu!"

Sakura mengejar Sasuke lagi. Sasuke tidak lari, hanya jalan biasa. Sakura berhasil sampai ke tempat Sasuke. Sasuke menghela napas panjang.

"Aku tidak mau dekat-dekat denganmu karena orang lain bisa salah paham. Apalagi kalau kau menggembor-gemborkan hal tentang kau tinggal satu atap denganku. Dan kau ingat, kita tidak tinggal bersama, tapi tinggal satu atap. Mengerti?" Kata Sasuke men-deathglare pada Sakura. Sakura hanya mengangguk-ngangguk padanya. Dan Sasuke masih diam di tempat.

"Ka-kau tidak jalan, Sasuke-kun?" tanya Sakura. Sasuke mendorong Sakura ke depan. "Kau duluan saja. Kasihan kamu kalau kutinggal karena badanmu yang pendek," kata Sasuke. Sakura hanya menggembungkan pipinya kesal dan berjalan meninggalkan Sasuke. Sasuke hanya tertawa kecil.

'Huh! Aku dan Sasuke-kun tidak tinggal bersama, tapi hanya tinggal satu atap? Itu 'kan sama saja! Dasar Sasuke-kun baka!

'Tapi aku suka...'

.

.

.

Suasana kelas 3-7 riuh. Karena belum bel, semua murid dengan liarnya pergi ke sana-sini. Bahkan Tenten bermain dengan naginata kayunya. Dan Sakura masuk ke kelasnya dengan wajah lelah dan berjalan menuju bangkunya. Sakura menaruh tasnya dan duduk di kursinya. Temari yang barusan membaca buku langsung menutupnya begitu melihat Sakura duduk di bangkunya.

"Sakura, ohayou!" salam Temari. Sakura membalas dengan lesu. Temari menaikkan alisnya. "Hei, kenapa?"

Sakura menggeleng dan mengeluarkan buku-bukunya ke mejanya. "Aku bersumpah untuk belajar dengan serius! Agar aku bisa membuat Sasuke Uchiha itu mati kutu! Dan mulai sekarang, aku akan belajar untuk tes bulan depan!" kata Sakura mantap.

Temari dan Tenten hanya mengangkat bahu. Ya, itu 'kan sudah jadi keputusan Sakura. Tinggal Sakura yang bertindak. Dan Naruto datang ke kelas dan duduk di depan meja Sakura.

"Sakura-chan! Good morning...!" sapa Naruto pakai bahasa inggris. Sakura menoleh padanya dan melanjutkan belajarnya. Naruto langsung down dengan anime style.

"Sakura-chan! Kejam sekali! Padahal aku 'kan menyapa baik padamu...!" kata Naruto sambil menangis ala anime. Tenten dan Temari menarik Naruto dari kursi depan Sakura. "Hei, Naruto! Kau tidak lihat kalau Sakura sedang serius belajar? Lihat, wajahnya sangat serius," kata Tenten sambil menunjuk pada Sakura. Naruto melihat dengan seksama. Wajahnya memang kelihatan sangat serius. Apa dia sangat serius agar diakui oleh Sasuke?


Sakura dari pagi sampai pulang sekolah masih membaca buku dan belajar. Sekolah sudah sepi, tapi Sakura masih belajar. Meskipun begitu, semuanya blank di otaknya kecuali bahasa. Yang lainnya benar-benar tidak masuk ke otak!

"Aaahh! Aku mana mungkin bisa belajar ini semua dalam waktu 2 minggu!" teriak Sakura frustasi sambil mengacak-ngacak rambutnya. Sakura memutuskan untuk melihat ke ruangan khusus, di mana anak-anak yang terpilih 50 orang teratas masuk ke sana. Karena di ruangan khusus belajarnya lebih ketat lagi. Dan diberi waktu tambahan setelah pulang sekolah. Sakura sampai di ruangan khusus tersebut, tapi tidak masuk. Dia melihat dari dinding yang berada di depan ruangan tersebut. Terlihat di ruangan itu ada Sasuke sedang mendengarkan musik dengan i-podnya di meja. Padahal, murid-mirid lain sedang membuka buku atau belajar, dia malah menahan wajahnya dengan tangan kanannya yang bertumpu di atas meja sambil mendengarkan musik.

"Huh, yang lainnya pada belajar, dia sendiri malah enak-enakan mendengarkan lagu!" decak Sakura. Lalu, ada perempuan yang menghampiri Sasuke. Dia kelihatan mau meminta bantuan Sasuke. Sasuke menulis cara-caranya, sementara perempuan itu hanya melihat wajah Sasuke. Sudah jelas kalau dia suka pada Sasuke.

"Ooo... Dia suka sama Sasuke-kun. Bahkan bantuan yang diberi Sasuke-kun tidak dia dengarkan. Awas saja dia!" Kata Sakura mengutuki perempuan itu. Tiba-tiba Sakura bersin dengan suara besar.

"HATCHII!"

Semua orang di ruangan khusu tersebut langsung melihat ke luar jendela. Tak terkecuali Sasuke. Sakura yang sadar kalau dilihat oleh semua orang langsung kabur. Sasuke hanya menghela napasnya.

Sakura berhenti berlari di kantin. Dia membeli minuman di vending machine, dan keluarlah soda kalengan. Sakura membuka penutupnya dan meneguk secepat-cepatnya.

"Haah... Rasanya hari ini, aku sering bersin, deh. Kenapa?" Tanyanya pada diri sendiri. Kemudian, Sasuke datang ke kantin. Otomatis Sakura menoleh. Sasuke membeli minuman di vending machine, tapi sama lagi kayak dulu. Tidak mau keluar lagi. Dia langsung menoleh pada Sakura.

Sakura yang merasa ditoleh oleh Sasuke langsung memerah. Sasuke mengarahkan kepalanya ke vending machine. Oo... Dia minta bantuan Sakura lagi.

Sakura menolong Sasuke mengambilkan minuman dari vending machine dengan cara yang sama. Setelah berhasil, Sakura berikan pada Sasuke. Sasuke menerima minumannya dan membuka penutupnya. Sakura berjalan meninggalkan kantin, namun Sasuke menghentikannya.

"Oi."

DEG!

Sakura membalikkan kepalanya. Sasuke menatapnya dengan wajah datar. Kemudian Sasuke membuka mulutnya.

"Jaga kesehatanmu."

Perkataan Sasuke sukses membuat Sakura memerah. Sakura mengangguk dan meninggalkan Sasuke. Sasuke meneguk minumannya kembali.

.

.

.

Sakura membereskan semua barang-barangnya dan meninggalkan kelasnya. Tapi sayang, hujan malah turun. Sakura terpaksa harus menunggu di sekolah dulu. Sedangkan Sasuke sudah pulang dari tadi.

Sasuke sedang membaca buku di sofa ruang keluarga. Mikoto menghampiri Sasuke dengan wajah cemas. "Sasuke, kau tidak pulang bersama Sakura-chan, ya?" Tanya Mikoto. Sasuke masih membaca bukunya dan menjawab, "Tidak."

"Sasukeee... Sekarang 'kan sedang hujan, apalagi sekarang sudah setengah 6. Cepat kau jemput dia! Bagaimana kalau nanti dia sakit? Bagaimana kalau dia tidak pulang-pulang? Ayo, cepat!" Perintah Mikoto sambil membawakan payung dan mendorong Sasuke. Sasuke menghela napas dan mengambil payungnya. Saat mau membuka pintu, pintu utama dibuka dan terlihat Sakura dalam keadaan basah-basahan. Dari atas dan bawah Sakura, semuanya sudah basah. Pokoknya basah total! "Sakura Haruno? Kau basah semua," katanya setelah mempersilakan Sakura masuk. Sakura membuka sepatu dan kaos kakinya. Mikoto langsung ke depan saat mendengar Sasuke mengatakan nama Sakura. Mikoto terkejut melihat keadaan Sakura.

"Kami-sama! Kau kenapa, Sakura-chan?" Tanya Mikoto memegang wajah Sakura. "Tidak apa-apa, Bu. Aku hanya kehujanan," lalu Sakura memalingkan wajahnya dan bersin lagi. "HATCHII!"

"Sasuke, antar Sakura-chan ke kamarnya, ya. Ibu mau mengambil handuk dulu!" Kata Mikoto menyerah Sakura pada Sasuke. Sasuke menghela napas dan membawa Sakura ke kamarnya. Sasuke membuka pintunya dan menaruh Sakura di atas kasurnya. Sakura menggigil kedinginan. Sasuke yang melihatnya langsung memegang pundaknya, lalu melepaskan pita sekolahnya.

"Buka dulu bajumu, biar kau tak kedinginan lagi," perintah Sasuke. Sakura terkejut dan melepaskan tangan Sasuke yang berniat membuka kancing bajunya. Sasuke mengangkat alisnya. "Mesum! Jangan buka bajuku!" Teriak Sakura marah-marah sambil menutupi dirinya.

Sasuke memegang pundaknya erat. Sakura meringis kesakitan karena pundaknya dipegang dengan keras. "Dengar. Aku tidak mau macam-macam denganmu. Aku hanya memintamu untuk membuka bajumu karena kau kedinginan. Ibuku akan membawakan handuk untukmu. Jadi, cepat buka bajumu!" Perintahnya dengan nada memaksa. Sakura melihat wajah Sasuke yang geram. Akhirnya Sakura mengangguk.

"Jangan menghadap sini!" Perintah Sakura. Sasuke membalikkan badannya. Sakura mulai melepas semua bajunya, kecuali pakaian dalamnya. Kemudian Mikoto mengetuk pintu kamarnya.

"Sakura-chan, Ibu bawakan handuk, nih," kata Mikoto. Sakura membuka pintunya dan Mikoto kaget setengah mati. "Ya ampun, Sakura-chan! Kenapa kau hanya memakai pakaian dalammu!" Teriak Mikoto. Sasuke yang mendengarnya langsung memerah. Ini 'kan ide Sasuke, kenapa dia yang malu?

"Anu... Ini, Sasuke-kun yang memintaku untuk membuka bajuku agar tidak kedinginan," jelas Sakura malu-malu. Sasuke tambah memerah wajahnya.

Mikoto menghela napas lega. "Hooo... Syukurlah, kukira Sasuke mau macam-macam padamu, Sakura-chan," kata Mikoto sambil memberikan handuk pada Sakura. Sakura mulai mengeringkan badannya dan Sasuke keluar dari kamarnya. Sakura menatap punggung Sasuke yang keluar dari kamarnya dan menutup pintunya. Sakura membuka lemarinya dan memilih baju yang ingin dikenakannya. Setelah itu, Mikoto mengambil handuk yang dipakai Sakura dan mengajak Sakura untuk makan malam.


Dan saat makan malam, Fugaku dan Asuma kembali bercengkrama. Sasuke dan Itachi makan dengan tenang, sedangkan Sakura tidak begitu makan dengan lahap. Dia hanya mengambil beberapa suap, lalu diam sebentar sambil mengepalkan telapak tangannya di depan mulutnya.

"Uhuk, uhuk."

Mikoto langsung menoleh pada Sakura dengan wajah cemas. "Omo, Sakura-chan? Kau tidak apa-apa? Kau terbatuk-batuk," kata Mikoto beranjak dari kursi makannya dan berjalan ke arah Sakura. "Iya, Sakura. Wajahmu juga agak pucat," kata Asuma. Sakura menggeleng-geleng dan beranjak dari kursinya. Saat mau berjalan ke tangga, dia ambruk dan sempat ditahan oleh Sasuke. Sasuke menepuk-nepuk pipi Sakura. Wajahnya memerah dan napasnya terengah-engah. "Sakura Haruno? Sakura?" Sasuke memegang jidatnya. "Panas sekali. Pasti gara-gara hujan tadi dan kemarin tidak menggunakan piyama saat tidur," kata Sasuke. Sasuke membopong Sakura ke kamarnya dan menaruh Sakura di atas kasurnya.

Mikoto membawakan baskom berisi air dan saputangan untuk mengompres sekaligus termometer. Mikoto menaruh kompresnya di atas jidat Sakura termometer di mulutnya. Setelah 1 menit menunggu, Mikoto mengambil termometernya dan mengecek suhu badannya.

"Omo! Suhu badan Sakura-chan 38,5 derajat! Bagaimana ini!" Mikoto mulai panik. Sasuke menghela napas dan menenangkan ibunya. "Bu, Sakura diberi makan bubur saja. Dan biarkan dia istirahat beberapa hari. Paling 2-3 hari dia sudah sembuh," kata Sasuke. Mikoto menghela napas lega dan segera pergi ke dapur membuat bubur untuk Sakura. Sedangkan Sasuke menjaga Sakura di sebelah kasurnya. Wajah Sakura pucat, tapi memerah juga. Sasuke melihat sekeliling kamar Sakura. Meja belajarnya berantakan. Buku pelajaran tersebar ke mana-mana. Kertas-kertas berserakan. Apa dia belajar sampai semua buku dan kertasnya berserakan?

"Nngh..." Sakura bangun dari pingsannya. Sasuke menoleh pada wajahnya yang memerah karena panas. Sakura terbelalak saat melihat bahwa Sasuke-lah yang berada di samping tempat tidurnya. "Sa-Sasuke-kun? Kenapa kau ada di sini?" Tanya Sakura bingung. "Kau tadi pingsan. Kau demam, apalagi kau tadi kehujanan dan tidak memakai piyama saat tidur kemarin, 'kan? Kau itu bodoh, ya?" Kata Sasuke sambil menyentil jidat Sakura.

"Aaw!"

"Kau belajar habis-habisan atau mengacak-ngacak kamar? Meja belajarmu berantakan sekali," kata Sasuke sambil menunjuk meja belajar Sakura. Sakura ingat, dia 'kan kemarin sempat mengamuk. Bahkan meja belajar jadi korban.

"Uukh..." Sakura memanyunkan bibirnya. Kemudian, Mikoto datang membawakan bubur dan minuman untuk Sakura. "Oh, Sakura-chan. Kau sudah sadar?" Tanya Mikoto setelah menaruh bubur dan minumannya di buffet sebelah kasur Sakura. Sakura beranjak dari kasurnya, tapi dihalangi oleh Mikoto.

"Sakura-chan, kau jangan beranjak dari kasur dulu. Suhu badanmu 38,5 derajat. Kau tidak masuk sekolah dulu selama 2-3 hari, ya. Nanti akan ibu bawa berobat," kata Mikoto memperingatkan. Sasuke membawakan buburnya pada Sakura. Tiba-tiba, Mikoto mempunyai ide cemerlang.

"Ne, Sasuke. Suapi Sakura-chan, ya. Ibu 'kan mau cuci piring bekas makan malam tadi. Tolong, ya, Sasuke," kata Mikoto sambil mengecup pipi Sasuke. Setelah itu keluar dari kamar Sakura. Tinggallah kedua insan tersebut di kamar Sakura.

Sasuke menghela napas. Mau tidak mau, Sasuke harus menyuapi Sakura. "Haah... Ibu memang ada-ada saja," kata Sasuke agak kesal. Tapi dalam hati Sakura, sudah ada festival yang meriah.

'Yeah, Sasuke-kun menyuapiku!!' Kata hati nurani Sakura. Sasuke mulai mengambil satu sendok bubur dan melayangkannya ke mulut Sakura. Tapi, Sakura malah senyum-senyum tidak jelas. Sasuke malah tambah jengkel.

"Hei, kau mau makan atau tidak? Senyum-senyum sendiri seperti orang gila saja," kata Sasuke sambil memasukkan sendok berisi bubur ke mulutnya. "Ubh!" Sakura langsung mengunyah-ngunyah buburnya, lalu ditelan. Sasuke akhirnya menyuapi Sakura sampai bubur itu habis. Sehabisnya bubur itu, Sasuke mengambil minumannya untuk Sakura. Sakura teguk minuman itu sampai setengah gelas. Sasuke beranjak dari kursi sambil membawa mangkuk bekas buburnya berniat keluar dari kamar Sakura, tapi Sakura menghentikannya.

"Tu-tunggu, Sasuke-kun!" Cegat Sakura. Sasuke menoleh begitu dipanggil namanya. "Hn, ada apa?" Tanya Sasuke. Sakura memainkan rambutnya sambil berpikir. "A-anu, aku kesulitan untuk menghadapi tes bulan depan. Kau mau membantuku?"

Sasuke diam sejenak. Sasuke merapatkan tangan jarinya, memohon pada Kami-sama untuk mengabulkan permohonannya.

"Hn. Yah, boleh saja. Hitung-hitung untukku untuk belajar juga," kata Sasuke. Wajah Sakura mulai berseri-seri. Sakura sudah dapat dipastikan kadar senangnya mencapai stadium 4. "Terima kasih, Sasuke-kun!" Kata Sakura sambil membungkuk dalam keadaan duduk di kasur.

"Tapi, kau harus siap dengan sistem pembelajaranku, ya. Aku tidak mengenal dengan kata main-main," kata Sasuke, lalu keluar dari kamar Sakura. Wajah Sakura jadi agak kusut, tapi tak mampu mengalahkan senangnya diajari oleh Sasuke selama 2 minggu. Ya, Sakura bersiap-siap saja.


Esok harinya...

Kemarin Sakura didatangi dokter yang dipanggil oleh Mikoto. Sakura tidak boleh keluar dari rumah selama 3 hari. Alhasil, Sakura tidak masuk sekolah. Tapi, Sasuke tetap memenuhi janjinya pada Sakura. Mengajari Sakura selama 2 minggu.

Sakura sedang duduk di sofa, menunggu-nunggu Sasuke untuk pulang. Karena dia sudah tidak sabar. Mikoto sedang tidak ada di rumah, Fugaku dan Asuma kerja, Itachi masih ada kuliah malam. Jadi, Sakura sendirian di rumah. Berarti, Sakura hanya akan berduaan dengan Sasuke di rumah.

"Tadaima..."

Sakura berdiri dari sofa. Sasuke-kun sudah pulang. Sasuke yang melihat hanya Sakura yang ada di rumah langsung menaikkan alisnya.

"Hn, mana Ibu?" Tanya Sasuke pada Sakura. "Ibu pergi ke luar sebentar," jawab Sakura. Sasuke hanya berdeham pelan mengerti. Sasuke membuka sepatunya dan menaruhnya di rak sepatu. Kemudian, Sakura bertanya pada Sasuke.

"Ne, Sasuke-kun. Kau janji mau mengajariku untuk tes bulan depan?" Tanya Sakura dengan lembut, supaya tidak menyinggung Sasuke. Sasuke menoleh dan berjalan melewati Sakura. "Hn, kau ke kamarmu saja. Aku akan bawa barang-barangku ke kamarmu nanti. Aku mau ganti baju," katanya. Lalu, naik ke lantai atas lewat tangga.

Sakura senangnya setengah mati. Dia buru-buru ke kamarnya dan membereskan kamarnya biar tidak terlihat berantakan.

Sasuke membuka pintu kamarnya dan Sakura segera mempersiapkan kursi untuk Sasuke dan Sakura. Sasuke segera duduk dan menyiapkan beberapa kertas soal yang bertumpuk. Sakura terkejut setengah mati sekaligus meneguk ludahnya melihat beberapa soal yang bertumpuk menunggu untuk diisi. Sasuke memberikan 1 kertas soal pada Sakura dan Sakura melihat soalnya dulu.

Syukur, Sakura mendapatkan soal bahasa untuk pertama. Sakura cukup bisa dalam mengerjakan bahasa. Sakura sedikit melirik pada Sasuke yang sedang mengerjakan soal. Sasuke yang sedang menundukkan kepalanya melihat soal-soal tersebut sangat keren di penglihatan Sakura. Sakura terus menatap Sasuke sampai Sasuke melambai-lambaikan tangannya.

"Hei, sudah selesai?" Tanya Sasuke. Sakura tersentak dan melanjutkan pekerjaannya. Sasuke menghela napas dan melanjutkan pekerjaannya lagi.

10 menit mengerjakan soal, Sakura memberikan kertas soalnya pada Sasuke. Sasuke menerima soalnya dan mengecek kembali. "Yah, kau bagus juga dalam bahasa."

Sakura menepuk tangannya berhasil. Sasuke memberikan kertas soal lagi. Kali ini, soalnya membuat Sakura kusut.

"Kenapa? Ayo, kerjakan!" Perintah Sasuke. Sakura mengambil pensilnya dan segera mengerjakan soalnya. Sedangkan Sasuke melihat Sakura yang tengah mengerjakan soal.

Sakura menatap soal itu dengan pucat pasi. Sudah dipastikan bahwa Sakura tak dapat mengerjakan soal tersebut. Satu soal juga baru dikerjakan setengah.

"Kelihatannya kau tak bisa mengerjakan satu soal pun, ya?" Tanya Sasuke saat melihat soal yang Sakura kerjakan. Sakura menegeluarkan jurus puppy eyes-nya supaya Sasuke mau mengajarinya. Sasuke menghela napasnya. Mau tidak mau, Sakura diajari oleh Sasuke cara mengerjakannya.

"Soal nomor 12, kau bisa mengerjakannya? Ini 'kan pelajaran kelas 1 smp, masa' kau tidak bisa?" Tanya Sasuke keheranan. Sakura memanyunkan bibirnya. Aku 'kan sudah lupa, Sasuke-kun…! Batin Sakura. Sasuke menghela napasnya dan mulai membantu Sakura mengerjakan soalnya.

"ini caranya dikalikan ke angka ini, lalu ke yang ini, dan ini. Lalu…"

Sasuke terus mengoceh dan mengerjakan soalnya. Sedangkan yang harus memperhatikan malah melamun sambil melihat wajah si pengajar. Alias wajah Sasuke yang dilihat melulu. Sakura melihat gerak bibirnya yang mengajarkan lewat mulutnya. "Nah, mengerti, tidak?"

Sakura masih bengong melihat wajahnya sambil senyum-senyum. Dan Sasuke sudah naik pitam.

BRAAK!

"Sakura Haruno! Kau itu akan menghadapi tes untuk bulan depan! Mana semangat yang kau katakana padaku, hah!" geram Sasuke. Sakura terkejut melihat Sasuke yang marah seperti itu. Akhirnya Sasuke duduk dan melanjutkan pekerjaannya.

"Go-gomen, Sasuke-kun…" Sakura meminta maaf pada Sasuke. Sasuke menghela napsnya dan memberikan soal lagi. Sakura menerima kertas soal tersebut dan wajahnya tambah kusut.

"Ba-bahasa inggris? Aku benar-benar tidak bisa, Sasuke-kun…" keluh Sakura. "Tinggal diterjemahkan. Lagipula itu mudah," kata Sasuke sambil mengerjakan soalnya sendiri. Sakura melihat satu soal dari soal-soal tersebut. Soal yang Sakura lihat adalah…

5. I will match you.

Sakura langsung mengerjakan soal tersebut. Dalam 1 menit, Sakura memberikan soalnya tersebut. Baru ngerjain satu soal sudah lapor?

Sasuke menerima soal tersebut. Alisnya berkerut.

"Sakura Haruno. Kau benar-benar…"

Sakura berharap jika jawabannya benar dan Sasuke memujinya.

"INI SALAH! MASA' ARTI 'MATCH' DISINI SEBAGAI BERPASANGAN!" kesal Sasuke. Sakura melihat hasil jawabannya. Benar, kok! "Sasuke-kun, aku melihat arti ini dari kamus. Tidak mungkin salah!"

Sasuke menunjuk soalnya kesal. "Bahasa inggris itu mempunyai makna ganda. Arti match bisa bertarung, berpasangan, dan lain-lain. Untuk soal ini, arti match adalah bertarung, bukan berpasangan. Kalau dalam ujian nasional kau salah, kau kehilangan satu poin untuk lulus," jelas Sasuke. Sakura memperlihatkan wajah menyesal. Arti saja sampai serumit ini.

"Ya, sudah. Kalau menulis kanji, kau bisa, 'kan?"

Tambah-tambah penderitaan Sakura Haruno…

"KYAAAAAA!"


2 minggu penuh penderitaan, tes akhirnya datang. Sakura berjalan ke arah kelasnya bersama Sasuke. Sebelum masuk ke kelasnya, Sasuke sempat berbisik pada Sakura.

"Ganbatte."

Sakura langsung memerah. Hatinya berbunga-bunga mendengar kata-kata semangat dari Sasuke. Dengan mantap, Sakura masuk ke kelasnya.

Kertas soal sudah dibagikan. Tinggal para murid mengerjakan saja. Sakura menerima kertas soal dan dengan gesit mengerjakannya. Tenten dan Temari mengerjakannya dengan baik, sedangkan Naruto menggaruk-garuk kepalanya pusing melihat soal.

Butuh waktu seminggu untuk menunggu tes bisa diselesaikan oleh para guru. Seminggu kemudian, hasil tes ditempel di papan pengumuman. Para murid melihat hasil tes mereka berdesak-desakkan. Begitu Sakura tahu hasil tes tersebut, ia buru-bburu melihat hasil tesnya. Nama Sasuke Uchiha sudah tak perlu ditanyakan lagi, dia pasti di urutan pertama. Sasuke datang melihat hasilnya, lalu pergi menjauh. Sakura melihat hasil tes Sasuke dan memberi selamat padanya.

"Selamat, Sasuke-kun. Kau di peringkat pertama lagi," kata Sakura menyelamati Sasuke. Sasuke hanya berdeham. "Kau sendiri?"

"Hah?"

"Lihat hasil tesmu."

Sakura terkejut. Ia lupa melihat hasilnya sendiri. Ia balik ke papan pengumuman dan melihat hasilnya. 'Kami-sama, kumohon doakan aku!'

Sakura melihat hasil tes-nya. Dan napasnya tercekat.

"O-omo!"

To Be Continued


Sori lama. Aq akhirnya bisa lanjutin ni fic. Hope u like it! dan aq bkal hiatus mulai dari april. dan setelah tanggal 28 april, aku akan aktif lagi, hehehehe. dan klo mnurut klian ada kata2 korea yg familiar, mianhae...! dan kalo ada typo, mianhae. hbis aq ngetikny di bb, sih... MIANHAE...! dan aq bru download smash versi ovj, ngakak!

And review…. Please?