"fukai fukai
mune no kizu wo..."
Millenia menyisiri rambut hitam panjangnya seraya bernyanyi pelan, samasekali tidak merasa terbebani akan fakta bahwa ia sedang bersiap untuk jamuan makan malam resmi yang juga merupakan awal dari perjodohannya. Berbalikan dengannya, Delvi sibuk mengomel kesal. Sementara itu Amalia malah sibuk memasang pitanya, yang kelihatannya tidak mau diam di tempat sejak tadi. Shiina sedang membongkar lemarinya, mencari gaun barunya dan Shana sedang sibuk dengan Ipodnya.
Millenia bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Amalia. Ia membetulkan letak pita Amalia.
"Makasih, Mi," ujar Amalia. Millenia hanya mengangguk pelan.
"Kalian tidak ingin menggagalkan perjodohan ini?" tanya Delvi heran.
"Mau saja, sayangnya aku tak punya rencana," jawab Shiina seraya menarik sebuah gaun sutra putih dari lemari.
"Jangan pakai yang itu. Ini kan acara malam. Warnanya tidak match," kata Millenia santai
"Language displacement-nya Mii kambuh lagi," kata Amalia
"Jangan ingatkan dia. Kita bisa repot kalau dia berbicara dengan bahasa Polandia seperti minggu kemarin," tegur Shana
"Hei, Millenia! Kau tidak membuat rencana? Kalau tidak ada rencanamu bisa-bisa perjodohan ini lancar!" seru Delvi.
"Biarkan saja. Aku mau ini jadi lancar. Aku tidak mau menggagalkannya," ucap Millenia santai, seraya menarik keluar gaun sutra hitam yang elegan.
Kalau Millenia sudah berkata begitu, yang lain hanya bisa mendesah kesal.
[MILLENIA'S POV]
Tepat dihadapanku duduk lima orang pangeran. Mereka kah kelima pangeran itu? Mereka lumayan juga... Tapi ada satu yang menarik perhatianku, yang berambut hitam dan berwarna kulit paling putih. Sepertinya ia yang paling tua diantara mereka. Kalau begitu baguslah, karena aku jadi bisa... Apa sih yang kupikirkan? Astaga!
"Satu saja pesanku dan kuharap kalian mengingatnya baik-baik, kalau ingin mendapatkan cinta sejati, jadilah diri sendiri," nasihat sang peramal. Nasihat yang bagus. Kalau ingin mendapatkan cinta sejati, jadilah diri sendiri. Hmm, aku suka.
Kelihatannya Delvi tidak memerhatikan nasihat ini, wajahnya penuh kekesalan begitu. Nantilah kalau marahnya sudah hilang kunasihati dia-kalau aku ingat. Astaga, harusnya kuingatkan Amalia untuk tidak makan sebanyak itu, semoga para pangeran itu tidak membatalkan perjodohan ini hanya karena melihat selera makannya. Shiina dan Shana sibuk menata rambut mereka daritadi... Aku yakin pasti ada headset di baliknya. Ya Tuhan.
[AUTHOR'S POV]
"Kami ingin berbincang sebentar. Para Pangeran dan Tuan Putri keberatan kalau diminta menunggu di perpustakaan istana?" tanya Ratu, memasang senyum termanisnya.
Sebagai yang tertua, Millenia dan Jaejoong berinisiatif mengangguk.
"Terimakasih atas kerjasamanya. Aku akan menyertakan beberapa pelayan kalau-kalau Pangeran dan Tuan Putri butuh sesuatu. Seandainya tak berkeberatan, kami sangat berharap Pangeran dan Tuan Putri telah saling mengenal sekembalinya dari perpustakaan."
Sang ratu memanggil beberapa pelayan wanita dan meminta mereka menyertai para Pangeran dan Tuan Putri. Millenia senang sekali mendengar bahasa baku diucapkan, tapi sebaliknya, Delvi malah cemberut.
Sesampainya mereka di perpustakaan, mereka segera duduk di sofa-sofa beludru putih yang telah disediakan.
Jaejoong berinisiatif bangkit dari sofanya dan berlutut di hadapan Millenia, mengambil tangan kirinya dan menciumnya.
"Annyeonghaseo, saya-"
"Perkenalkan, Yang Mulia, nama saya Yunho dari kerajaan Cassiopeia. Bisakah saya mendapatkan kehormatan untuk mengetahui nama anda?"
Ternyata, di saat yang sama Yunho juga berlutut dan mengambil tangan Millenia, bedanya yang diambilnya itu tangan kanan Millenia. Jaejoong benar-benar kesal karena telah didahului oleh adiknya.
"Annyeong, Jaejoong dan Yunho. Namaku Millenia," jawab Millenia riang. Jaejoong heran, bagaimana Millenia bisa tahu namanya?
"Seperti biasa ya, kau selalu saja yang pertama dilirik," ujar Shana datar.
"Mii cantik sih!" seru Amalia riang. Mendengar suara Amalia yang riang, Yuchun tersenyum. Kelihatannya Yuchun tertarik pada Amalia. Amalia, merasakan Yuchun tersenyum padanya, membalas senyum Yuchun dengan pipi memerah.
Shiina dan Shana mengambil dua komik dari rak dan membacanya tanpa suara. Delvi juga melakukan hal yang sama.
"Yunho-sshi, Jaejoong-sshi berapa usianya?" tanya Millenia lembut
"Duapuluh empat," jawab Jaejoong.
"Aku duapuluh tiga," jawab Yunho.
"Berarti aku seumur dengan Jae-sshi ya?" ujar Millenia. Tetapi, seolah tak ada siapapun di ruangan itu, Millenia menghampiri rak buku dengan santai, mengambil sebuah buku dan membacanya dengan tenang.
"KEMBALIKAN IPODKU!" seru Changmin tiba-tiba
Refleks, Jaejoong dan Yunho menoleh. Mereka sadar, kalau Junsu dan Changmin bertengkar nantinya akan memicu efek domino, jadi ini harus dihentikan sebelum terjadi.
"Enak saja, ini milikku!" balas Junsu.
"Yah! Diamlah! Kau mengganggu konsentrasiku!" seru Shana kesal.
"Aku akan diam kalau Yuchun-hyung meyakinkan Changmin kalau ini Ipodku!" seru Junsu.
"Mwo? Aku? Tidak. Aku tidak tahu itu Ipod siapa."
"Kenapa sih yang kalian ributkan selalu, selalu dan selalu saja Ipod?" seru Yunho kesal.
Wajah Changmin merah karena kesal, dan iapun berteriak dengan suara tenornya, melepaskan kekesalannya.
"Astaga! BERISIK! Bisa tidak sih kalian diam!" seru Delvi penuh emosi.
"Oo, tidak bisa," jawab Junsu santai.
Mendengar kata-kata tersebut, wajah Delvi seolah-olah mengatakan bahwa ia ingin menggoreng Junsu hidup-hidup dan memakannya saat itu juga.
Melihat situasi yang semakin memanas, Amalia dan Shiina yang paling cinta kedamaian cepat-cepat memanggil Millenia. Dia yang paling ahli mengontrol situasi-situasi seperti ini. Tapi melihat Millenia tidak bergeming, mereka mulai curiga
"Jangan bilang..." ujar Amalia dan Shiina dengan khawatir, seraya menghampiri Millenia.
"Mi?" panggil Amalia khawatir
"Oui?" jawab Millenia dengan logat Prancis yang kental. "Ah, Mademoiselle, bonjour! Heureux de vous en rencontrer tous."
"Oh, tidak!" seru Shiina frustrasi.
"Ada apa?" tanya Jaejoong penasaran.
"Well, tidak ada apa-apa. Hanya saja..." Amalia menatap dengan khawatir ke arah Delvi, Shana, Changmin, Junsu dan Yunho yang sedang adu teriak, "..hanya saja kekacauan besar akan dimulai beberapa menit, atau bahkan detik lagi, tapi satu-satunya orang yang bisa mengontrol suasana sedang terkena language displacement, yang secara tidak langsung berarti, dia takkan bisa membantu kita."
