Disclaimer : Aoyama Gosho

Warning : Aneh, gaje, typo(s), BL (Sho-ai)

Pairing : HeijiXShinichi, KidXShinichi (kali ini banyak KidXShinichi)

Don't Like, Don't Read


My Diamond


Kid tersenyum, arah mulut pistol kali ini mengarah ke leher Shinichi, "Kau pikir aku ingin menembak, Cowok Osaka itu? Itu hanya akan membuang peluruku saja." Shinichi terbelalak.

"KID!" Heiji berteriak marah. Dia tidak ingin Shinichi terluka sedikitpun.

Kid tersenyum lalu mengecup lembut pipi Shinichi, "Selamat tidur, Tantei-kun."

-DOOR-

.

.


Suara letusan terdengar, membuat Shinichi memejamkan matanya dengan erat.

1 detik...

2 detik…

Shinichi memaksa mengintip apa yang terjadi, kenapa dirinya tidak merasa sakit setelah di tembak oleh Kid.

"Wah… Wah… ternyata aku salah membawa pistol." Ujar Kid santai sambil memperlihatkan mulut pistolnya yang mengeluarkan bendera-bendera seluruh Negara dengan pita yang bertebaran dimana-mana.

Heiji yang tadi memejamkan mata juga mulai membuka matanya,"Kau itu… Disaat seperti ini pun kau tetap bercanda!" Seru Heiji sedikit jantungan, dia bersyukur Shincihi tidak apa-apa, bila sesuatu terjadi pada cowok itu, dirinya tidak peduli kalau itu pesulap sombong ataupun teroris, dia bakal mengejarnya sampai akhirat.

Kid melirik ke arah jam tangannya, waktu pertunjukannya sudah habis. "Maaf Ladies and gentleman, tetapi pertunjukanku sudah berakhir. Aku harus pergi dulu." Kid berseru ke arah orang-orang yang mengelilinginya itu. Beberapa suara menyatakan kecewa ketika Kid harus pergi secepat itu. Kid tersenyum kemudian menarik salah satu tangan tamu cewek di pameran itu, mengecup punggung tangannya lembut yang langsung membuat histeris para gadis.

"Selalu rindukan aku, Nona manis." Ujar Kid sambil mengedipkan mata ke cewek tadi yang kontan langsung berteriak layaknya fan's girl. Shinichi yang melihatnya hanya memutar bola matanya malas.

"Wah.. Wah.. sepertinya Tantei-kun cemburu. Tenang saja, aku selalu jatuh cinta padamu." Kecupan lembut Kid mendarat di pipi kenyal Shinichi.

"HEI..!" Heiji berteriak protes, dia saja belum pernah mencium Shinichi, pesulap sombong ini sudah mencuri ciuman cowok manis itu sebanyak dua kali. Bayangkan, dua kali! Itu cukup membuat Heiji murka dengan wajah merah karena marah.

Kid yang mengerti bahwa Heiji cemburu hanya terkikik geli. Sungguh menyenangankan merebut mainan orang lain. Eits, tapi Shinichi adalah mainan miliknya, bukan mainan cowok berkulit gelap itu.

"Baiklah! Aku harus pergi dulu. Pesta telah usai. Selamat tinggal Ladies and Gentleman!" Kid mengambil dua buah bola asap kemudian melempar ke sekelilingnya, membuat asap dan kabut menghalangi pandangan Heiji.

Heiji menerjang masuk ke dalam asap, tetapi Kid sudah menghilang. Matanya beralih menatap langit, diatas sana terlihat Kid yang sedang memakai gantole dari jubah putihnya yang dimodifikasi dengan roket yang berada di kedua sisi. Kid mendekap Shinichi dengan erat agar tidak jatuh.

Pesulap brengsek itu… Heiji menatap bayangan putih itu dengan murka. Matanya beralih mencari kendaran yang dapat dipakainya untuk mengejar penculik itu.

Sebuah mobil polisi yang terpakir di dekat sana menjadi pilihan Heiji. "Maaf, aku pinjam dulu mobilnya!" Seru Heiji sambil menarik polisi yang juga bersiap-siap mengejar Kid. "Hei…" Seruan polisi tadi tidak digubris Heiji, kepalanya penuh dengan sosok Shinichi yang berada di dekapan Kid.

.

.


"Langit malam indah'kan, Tantei-kun." Kata Kid lembut, Shinichi yang berada di bawahnya tidak mendengarkan sama sekali ocehan Kid. Shinichi berusaha keras memutar otak agar bisa bebas dari Kid, sayangnya alat bius dan peralatan detektif milik 'Conan' tertinggal di hotel. Sial… pikir Shinichi.

"Lepaskan aku, Kid! Turunkan aku sekarang!" Seru Shinichi sambil terus berusaha berontak. Kid menatapnya lama kemudian tersenyum. "Baiklah.."

Kid melepaskan pegangannya pada cowok detektif itu, membuat Shinichi meluncur ke tanah dengan cepat. "GWAAAAAAAA…." Shinichi berteriak. Kid malah tersenyum menatapnya. Sedetik kemudian Kid meluncur menuju Shinichi, dengan jarak beberapa meter lagi dari tanah, Kid berhasil menangkap Shinichi.

"Bagaimana terjun bebasnya? Mau lagi, Tantei-kun?" Ujar Kid tenang, di dekapannya Shinchi sudah pucat pasi. Napas Shinichi tidak beraturan, dia juga merasakan jantungnya seperti mau keluar dari tulang rusuknya. Kid yang menatap Shinchi hanya tersenyum geli, kemudian- lagi-lagi mencium kening Shinichi. "Kau terlalu manis untuk berakhir menjadi mayat."

Shinichi mendeliknya dengan marah, membuat Kid terkikik geli. Dia tidak menyangka dapat melihat ekspresi lain dari seorang detektif yang arogan seperti Shinichi.

Kid masih menatap Shinchi yang digendongnya dengan bridal style, tubuh Shinichi masih gemetaran. "Lingkarkan lenganmu di leherku, itu membantuku untuk menggendongmu." Ujar Kid lagi. "Tsk.. aku tidak mau." Ujar Shinichi keras kepala. Kid menghela napas berat,"Baiklah, kalau begitu kau kujatuhkan saja." Kid mulai mengendurkan gendongannya pada Shinichi.

"Kid..!" Seru Shinchi kaget, dengan cepat dia mengalungkan lengannya di leher Kid, membuat pesulap itu tersenyum tipis. "Anak pintar." Sahut Kid lagi tanpa mempedulikan delikan marah dan malu Shinchi.

-DOR-

.

Suara tembakan membuat Kid kaget, terlebih lagi beberapa peluru meluncur ke arahnya. Dengan cepat Kid mengelak peluru yang ingin menembus tubuhnya. "Fiuuhh.. selamat." Kid bersyukur tubuhnya tidak berlubang sama sekali, kemudian matanya beralih ke arah jalan raya. Di bawahnya, sebuah mobil polisi mengejarnya dengan cepat, Heiji yang berada di dalam mobil itu mengarahkan mulut pistol ke sasarannya. Heiji bersyukur di mobil ini ada pistol polisi tadi.

DOR… DOR…

Tembakan kali ini terus diluncurkan Heiji yang benar-benar marah pada Kid. Seenaknya mencuri Shincihi tanpa permisi. Shinichi itu miliknya dan akan terus menjadi miliknya.

"Sepertinya pacarmu itu gelap mata ya?" Kata Kid sambil bersiul kagum melihat Heiji yang mengendarai mobil polisi dengan ugal-ugalan. "Dia bukan pacarku. Dia sahabatku." Koreksi Shinichi lagi, Kid tersenyum. "Baguslah, karena kau akan menjadi pacarku."

Shincihi mendelik marah,"Aku tidak berniat." Ujarnya lagi yang lagi-lagi membuat Kid tertawa. "Aku tidak memintamu jadi pacarku, tapi memaksamu menjadi pacarku." Kali ini dengan penuh tatapan tajam ke mata Shinchi.

.

DOOR…

"Arghh….!" Kid berteriak kesakitan, peluru Heiji sedikit menyerempet lengan kanannya, membuat gendongannya pada Shinichi mengendur. "Ki..Kid…" Shinchi panik, matanya menatap luka yang tadi terkena tembakan Heiji.

"Kau khawatir padaku? Aku merasa tersanjung…" Ujar Kid menahan nyeri di lengannya sambil tersenyum. Shinichi bingung, dia tidak tahu harus berbuat apa. Darah mulai mengalir dari lengan Kid.

.

.

"Cih, peluruku mulai habis." Bisik Heiji pada dirinya sendiri. Matanya menatap berkeliling melihat apakah masih ada peluru yang tersisa. Tetapi nihil, tidak ada peluru lagi yang tersisa, hanya satu peluru di dalam pistolnya. Mudahan berhasil… Doa Heiji lagi kemudian sedikit mengeluarkan sebagian tubuhnya dari jendela mobil, tangannya mulai membidik Kid.

.

DOR…

"Argghh…!" Kid berteriak lagi, kali ini peluru menyerempet kakinya. Tangan Kid mulai mengendur,"Sial, aku tidak tahan lagi." Bisik Kid tapi masih dapat di dengar Shinchi. Keringat dingin mulai bermunculan di wajah Kid, rasa nyeri melanda lengan dan kakinya, matanya pun mulai berkunang akibat kehilangan darah. "Hei, Tantei-kun. Kalau… Aku mati… apa kau mengasihaniku?" Kid masih dapat berbicara disela-sela rasa sakit yang mendera tubuhnya. Kid tersenyum, tetapi Shinichi tau ini sudah limit sang Phantom Thief.

"Kita berhenti di gedung itu." Tunjuk Shinichi ke salah satu gedung yang mempunyai atap yang luas. Kid mengerang kesakitan lagi. Dengan terpaksa dia mendarat di salah satu atap gedung.

.

-BRUUK-

Kid terjatuh, tangan kirinya berusaha menahan darah yang terus mengalir di lengan kanannya. Matanya menampakan rasa sakit yang luar biasa. Tuxedo putihnya kini bersimbah darah. Membuat Shinichi mengerinyit ngeri.

"Sini berikan lukamu." Shinichi menarik lengan Kid, kemudian memperbannya dengan sapu tangan yang berada dikantungnya. Kid tersentak sesaat kemudian tersenyum,"Hei Tantei-kun. Apa aku… sangat menarik bagimu?"

"Jangan berbicara saat bersimbah darah begini." Shinichi tetap fokus terhadap luka di lengan dan kaki Kid.

"Jawab aku, Tantei-kun. Apa sekarang… aku kelihatan menarik?" Kid masih tetap terus mengoceh di sela napasnya yang mulai putus-putus. Tetapi perkataan Kid tidak terlalu digubris Shinichi.

Kid mulai agak kesal karena dari tadi di diamkan oleh sang detektif. Tangan sang pencuri menyentuh pundak Shinichi kemudian….

-BRUK-

Kid menerjang Shinichi, memposisikan dirinya berada di atas Shinchi,"Ap..Apa yang kau lakukan?" Sang detektif protes. Di atasnya, Kid masih tetap menatap Shinichi dengan menahan rasa sakit. "Tantei-kun… kalau kubilang aku menyukaimu bagaimana?" Kid memaksakan tersenyum walau harus menahan rasa sakit. "Kid, Jangan bodoh! Sekarang pikirkan dulu tentang lukamu." Seru Shinichi galak.

Kid menggeleng, "Aku tidak butuh diobati."

"jangan seperti anak kecil, Kid.. Luka~"

"DIAM!.." Teriak Kid penuh emosi, kesadarannya mulai hampir hilang tapi dapat dikuasainya kembali. Mata kid menatap tajam ke arah Shinichi, sikapnya berubah dari sikap pesulap sombong penebar pesona menjadi sikap seorang cowok yang tertekan dan putus asa. Mata Kid tidak dapat berbohong.

"Tantei-kun… Cium aku." Pernyataan Kid membuat Shinichi terbelalak. Jangankan mencium cowok, mencium Ran saja dia belum pernah. Tapi sekarang, seorang pesulap gila bersimbah darah menyuruhnya mencium dia sekarang?

"Ukhh…" Kid mengerang kesakitan. "Ki..Kid..?" Shinichi khawatir.

"Aku mohon Tantei-kun. Cium aku." Kid menatap sekali lagi Shinichi. Tubuhnya mulai mendekati Shinichi membuat cowok detektif itu mendorong Kid, sialnya dia mendorong luka di lengan Kid yang malah terbuka lagi. "Ukhhh… sakit.." Kid mengerang lagi.

Shinichi yang berada dihadapannya menatap penuh bimbang. "Aku… mohon… Tantei-kun." Suara Kid mulai terputus-putus, keringat mulai membasahi wajah sang pencuri.

Shinichi menggigit bibir bawahnya, dia masih berpikir keras, dia tidak mau memberikan ciuman pertamanya pada seorang cowok apalagi musuh kepolisian, tetapi begitu melihat Kid yang berada di depannya dengan menahan rasa sakit, membuat prinsip Shinichi goyah seketika. Maaf'kan aku, Ran… Shinichi memejamkan matanya.

Tangan Shinichi menggapai belakang kepala Kid, mendorong wajah maskulin itu mendekati bibirnya. "Hmmphh…" Shinichi mencium bibir Kid, menekannya kemudian membukanya dengan lidah. Kid seperti menikmati permainan gulat lidah dengan Shinichi.

Beberapa hisapan dan lumatan disekitar bibir shinichi membuat segaris benang dari air liur mereka. Kid menjilat bibir Shinichi membuat cowok detektif mengeluarkan suara-suara aneh.

"Ki..Kid.. hmpphhh~ sudah.. Henti~..Mmmhhhpp.." Shinichi berusaha menolak bibir Kid yang terus menerus menekan mulutnya. Kid langsung menghentikan kecupannya di bibir Shinichi kemudian mengambil oksigen sebanyak mungkin untuk mensuplai paru-parunya. Matanya menatap sang detektif yang gelisah di depannya ini.

"Sekali lagi…" Kid membuka suaranya, membuat sang detektif bingung. "Kumohon, sekali lagi, Tantei-kun." Kid menggenggam tangan Shinichi, sebelum sang detektif protes, Kid sudah mengunci lagi bibir Shinichi dengan kecupan yang panjang. Tangan Kid meraih kancing kemeja Shinichi, memperlihatkan lekuk dada yang putih milik sang detektif.

Kid menenggelamkan kepalanya diantara leher Shinichi, membuat beberapa tanda merah disana yang pastinya akan membekas. Kecupan dan hisapan Kid di leher nya membuat Shinichi mendesah pelan. jari-jari sang detektif menelusuri rambut sang pencuri legendaris, mencengkramnya dengan erat bersamaan desahan yang keluar dari bibirnya.

-DOOR-

.

Suara tembakan memaksa Kid dan Shinichi berpisah dari pagutan dan keintiman mereka. di hadapannya Heiji masih mengacungkan mulut pistol yang berada di genggamannya, pistol yang diambil secara paksa dari satpam yang sedang bertugas menjaga gedung tersebut.

"Lepaskan Shinichi, Brengsek!" Heiji menatap Kid marah terlebih melihat bekas tanda 'kiss mark' di leher Shinichi. Matanya terpejam berusaha mengusir pikiran untuk membunuh sang pencuri legendaris.

"Kudo, Kesini." Heiji menarik Shinichi dari Kid. "Aku tidak apa-apa, Heiji." Jawab Shinichi sambil berusaha menenangkan cowok berkulit gelap ini.

Kid tertegun sesaat, kemudian memaksa dirinya berdiri lalu merubah sikapnya lagi menjadi Kaito Kid yang penuh dengan senyum jahil dan senyum mengejek. "Wah.. Wah.. pertunjukanku gagal hari ini. Tapi aku mendapatkan hadiah yang menarik." Kid menjilat bibirnya sambil terus memandang Shinichi, hal itu makin membuat Heiji murka.

"DIAM..!" Heiji berteriak, matanya terpejam berusaha menolak apa yang tadi dilihatnya. Kid dan Shinichi berciuman. Pasti… pasti si pesulap murahan ini yang memaksanya. Mata Heiji terbuka lagi.

"Pergi…! Aku tidak mau melihatmu, kalau bersikeras tidak mau pergi aku akan menembakmu!" Mata Heiji berkilat marah, Kid lagi-lagi terkikik geli tapi rasa nyeri langsung menghentikan tawanya. "Baiklah.. Baiklah… Aku menyerah." Kid mengangkat kedua tangan, dia mundur perlahan hingga sampai di pagar atap gedung.

"Good Bye, Tantei-kun. Terima kasih untuk hadiahnya." Kid menyapu lembut bibirnya sambil menyeringai puas, kemudian menjatuhkan dirinya dari gedung.

"KID..!" Shinichi berteriak, tetapi yang dilihatnya adalah Kid terbang dengan jubah gantole-nya menyelami langit malam. Shinichi menghembuskan napas lega.

Shinichi kemudian berbalik menatap Heiji yang bergetar menahan amarah. "He.. Heiji?"

Heiji mencengkram tangan cowok yang di hadapannya ini, Shinichi mengerang kesakitan. "KENAPA!" Heiji berteriak.

"Kenapa Kau Membiarkan Laki-laki Itu Melecehkanmu!" Kali ini Shinichi dapat melihat emosi dari mata Heiji. Rasa sakit, terluka, benci dan marah. Perasaan yang membuat Shinichi bergidik ngeri.

"JAWAB, KUDO!" Heiji menaikkan oktaf teriakannya membuat Shinichi tersentak kaget. "A..Aku tidak tahu." Shinichi tidak dapat menjawab pertanyaan Heiji, pikirannya panik dan takut.

Heiji melepaskan genggamannya pada Shinichi lalu memijat keningnya yang sedikit terasa nyeri. "Jangan… Jauh dariku lagi… Aku ketakutan." Heiji berpaling dari Shinichi, matanya terlihat sedih.

"Aku tidak apa-apa, Heiji." Shinichi berusaha menyentuh wajah Heiji yang terlihat memendam rasa sakit. "Jangan sentuh…" Heiji menepis dengan cepat, matanya melirik Shinichi tajam.

"He..Heiji.." Shinichi berusaha memanggil cowok berkulit gelap itu, tetapi pikiran Heiji saat ini dipenuhi rasa cemburu. "Untuk saat ini…. Tolong jangan menyentuhku dulu." Ujar Heiji lagi sambil berjalan pelan menuju pintu keluar dari atap gedung.

.

.


"Heiji..! Kau tidak apa-apa?" Kazuha memeriksa Heiji yang saat itu sudah berada di luar gedung bersama beberapa polisi yang mulai berdatangan.

Di luar halaman gedung terlihat banyak polisi mondar-mandir menginterogasi Shinchi yang menjadi korban penculikan. Heiji tau Shinichi berbohong dan mengarang sedikit cerita mengenai kejadiannya, terlebih kejadian ciuman itu. Hal itu langsung membuat amarah Heiji muncul lagi.

"Inspektur, tolong jangan di sebarluaskan kejadian ini. Aku tidak mau tersorot media. Aku masih ada tugas penting. Aku mohon." Heiji mendengar Shinichi yang memohon pada ayahnya agar kejadian ini tidak tersiar apalagi bocor pada media massa maupun masyarakat luas. Inspektur Hattori menyetujuinya yang membuat Shinichi menghela napas lega.

"Shinichi, kau baik-baik saja?" Ran mendatangi Shinichi yang saat itu selesai diinterogasi oleh polisi. Shinichi hanya tersenyum, "Ya, aku baik-baik saja." Jawab Shinichi sekenanya.

Ran berbicara panjang lebar di hadapan Shinichi tentang kekhawatirannya saat Sang detektif itu menghilang, ataupun ketakutannya ketika tau Shinichi diculik Kid. Tapi Shinichi tidak memperhatikan sama sekali omongan Ran, matanya lebih tertarik menatap Heiji yang sejak kejadian Kid tadi menjadi pendiam hingga sekarang. Pertanyaan Kazuha pun hanya dijawab dengan senyuman saja.

"Lalu, saat Kid membawamu di gedung ini. Aku dan Kazu~.."

"Maaf, Ran… tapi aku harus menemui Heiji dulu." Shinichi langsung menghentikan cerita Ran, dengan tersenyum sebentar, dia bergegas menuju ke arah Heiji. "Eh.. ta..tapi.." Omongan Ran pun tidak digubrisnya, sekarang yang dikhawatirkannya hanya cowok berkulit gelap itu. Dia tidak ingin Heiji membencinya.

"Heiji…" Suara Shinichi membuat obrolan Kazuha dan Heiji terhenti sesaat. Heiji memalingkan wajahnya ketika bertemu pandang dengan Shinichi. "Aku harus pergi dulu, Kazuha. Maaf.." Ujar Heiji pamit meninggalkan Kazuha yang bengong, sedangkan Shinichi berusaha mengejar Heiji yang menjauh pergi.

"Tu..Tunggu Heiji.." Shinichi menarik tangan Heiji tapi lagi-lagi di tepis Heiji dengan kasar. "Jangan menyentuhku!" Heiji tidak berani menatap mata Shinichi yang menyiratkan kesedihan.

"Aku harus berbicara denganmu, ini tentang Kid, dia~.."

"Cukup! Aku mau istirahat, maaf…" Jawab Heiji lagi sambil memijat keningnya yang tiba-tiba terasa nyeri.

Heiji berjalan cepat ke arah mobil patroli menemui ayahnya, berbicara sebentar kemudian masuk ke mobil lalu pergi meninggalkan Shinichi yang masih menatap kepergian Heiji dengan tatapan terluka. Apa Heiji membenciku karena aku mencium Kid? Dan tidak mau berteman lagi denganku karena aku berciuman dengan cowok? Apa dia pikir aku penyuka sesama jenis? Apa karena itu dia menjauhiku? Pikir Shinichi lagi sambil terus menatap mobil Heiji hingga menghilang dibalik tikungan.

.

.


Di sebuah atap gedung yang lain, Kid menatap Shinichi yang terlihat bimbang melalu monocle-nya. Membiaskan sosok detektif manis itu yang sedang terlihat gelisah. Kid tersenyum, kemudian matanya beralih ke luka di lengan kanannya. "Sepertinya, bersaing dengan cowok Osaka itu tidak mudah, apalagi memperebutkan hadiah yang lebih menarik dibandingkan sebuah permata." Kid menjilat bibirnya, berusaha merasakan lagi kehangatan ciuman dari seorang detektif kesayangannya, kemudian tersenyum.

"Selamat malam, Tantei-ku dan sampai berjumpa lagi." Bisik Kid lagi kemudian merentangkan jubah putihnya yang terdapat gantole, lalu terbang menembus langit malam yang saat itu memperlihatkan sinar bulan yang sangat terang.

.

.

.

~ TBC~

Waahh maaf... sekali lagi maaf bagi yang ga suka cerita ini... hiks.. hiks..

saya masih belum pinter bikin cerita... *nangis di pojokan*

Chapter depan masih tentang Heiji yang marah karena cemburu dan berusaha berbaikan dengan Shinichi... lalu... jreng.. jreng.. KID datang lagi...

Review plis... ^_^