Oh neomu neomu Yehpeo mamee neomu Yehpeo
Doo nooneh banhaeseo Kkok jibeun geol
Gee gee gee gee baby baby baby
Gee gee gee gee baby baby baby

Shana, Millenia dan Amalia sibuk bernyanyi dan mengikuti gerakan dance Gee di depan layar home theatre di kamar kelima Tuan Putri. Shiina dan Delvi sedang sibuk membaca komik, Changmin sedang membaca buku Harry Potter dan Junsu sedang bermain dengan kucing-kucingnya. Sedangkan Jaejoong, Yuchun dan Yunho asyik memperhatikan ketiga Tuan Putri yang sedang menari dan bernyanyi di depan home theatre mereka.

Satu tanda tanya besar, bagaimana kelima Pangeran itu bisa ada di kamar para Tuan Putri?

Begini. Sang Ratu tampaknya sudah tidak sabar untuk menyelesaikan perjodohan ini. Ia sudah hapal tabiat putri-putrinya, dan tidak mengherankan kalau ia khawatir. Jadi ia, Sang Raja, serta Raja dan Ratu negeri Cassiopeia membuat suatu keputusan; segala kegiatan yang mereka lakukan harus dilakukan bersama-sama selama perjodohan ini berlangsung.

Termasuk tidur.

Tetapi, tenang saja, karena walaupun mereka akan tidur di satu kamar, tempat tidurnya tetap terpisah.

"Boleh aku bergabung?" tanya Yunho pada Shiina, Amalia dan Millenia. Memang sedari tadi ia tampak tertarik dengan apa yang dilakukan ketiga tuan Putri tersebut.
"Tentu!" jawab Amalia riang.
"Bagaimana dengan kami? Aku dan Jaejoong-hyung boleh ikut?" tanya Yuchun
"Mwo? Tidak. Tidak ada kami, Yuchun. Kau saja." omel Jaejoong kesal.
Masa' laki-laki keren sepertiku disuruh menari seperti wanita begitu? tambahnya dalam hati. Setelah kejadian di perpustakaan, ia sadar bahwa perjodohan ini nantinya hanya akan menambah masalahnya. Adik-adiknya yang abnormal saja sudah cukup sangat mengganggu, apalagi nanti kalau mereka menikah dengan para tuan Putri yang bertabiat aneh ini? Masalah kuadrat. Membayangkannya saja sudah membuatnya sakit kepala.

Millenia menyuruh adik-adiknya memulai acara tanpanya dan berjalan mendekati Jaejoong.
"Kenapa tidak mau ikut?" tanya Millenia.
"Karena aku belum gila," jawab Jaejoong jujur.
Millenia tertawa kecil, "Berarti kau mengangap adik-adikmu gila?"
"Tidak. Hanya abnormal. Atau lebih tepatnya sangat abnormal," gerutu Jaejoong. Astaga, kenapa sih tuan Putri yang satu ini? Bahkan setelah kejadian di perpustakaan seminggu yang lalu ia masih belum menyadari keabnormalan adik-adikku? Mustahil, gerutu Jaejoong dalam hati.
Seolah dapat membaca pikiran Jaejoong, Millenia tersenyum. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, mengamati adik-adiknya satu persatu.
"Adik-adikku juga abnormal. Aku juga. Tapi abnormal itu tidak buruk kok. Malah menyenangkan. Kalau normal terus, lama-lama jadi membosankan, ya kan?" kata Millenia, memamerkan senyum polosnya ke Jaejoong.

[JAEJOONG'S POV]

Astaga, benar juga. Kenapa aku tidak pernah memikirkannya ya? Kalau normal terus jelas lama-lama akan jadi membosankan juga. Tuan Putri yang satu ini ternyata memang menarik.
K-kenapa wajahku terasa panas melihat senyumnya ya? Baiklah, harus kuakui senyumnya memang manis sekali, tapi... Aish, aku mulai terdengar seperti Changmin ketika ia melihat seorang gadis. Banyak kritik sana-sini. Aigoo, stop, Jaejoong, stop! Bagaimana kalau nanti ia menyadari kegugupanku?

"Berarti nanti hidup kita jadi abnormal kuadrat, ya?" Tanpa kusadari keluhan itu meluncur keluar dari mulutku. Aish, setelah wajahku memerah dan salah tingkah, mendadak malah mengeluh? Hanya Tuhan yang tahu apa yang akan dia pikirkan tentangku setelah ini.

"Well, belum tentu juga. Siapa tahu semakin mereka dewasa, keabnormalan mereka juga semakin berkurang dan akan menghilang? Jadi sepertinya bagus kalau kita nikmati saja apa yang ada saat ini." jawabnya.

Mwo? Bukannya terkejut, dia malah memberiku saran yang dewasa. Baguslah. Tapi... tapi wajahku jadi makin panas! Aigoo aigoo aigoo...

"Jaejoong-ah, lihat! Itu MV Tell Me Your Wish-nya SNSD! Itu lagu favoritku! Ayo, ayo, kita dance dan bernyanyi!" serunya tiba-tiba.
Ia lalu menarik tanganku dan berdiri sambil melambai-lambaikan tangannya yang bebas.
"Amalia, stop! Aku jadi Taeyoon-nya! Tunggu!" Ia lalu menoleh padaku, "Kau mau jadi Yoona-nya?"
"TIDAK BISA! Aku yang jadi Yoona!" seru Amalia.
"Baiklah, kau jadi Tiffany saja, tidak apa kan? Nah, ayo!" Millenia lalu menarik tanganku.

Hei, aku bahkan belum bilang kalau aku mau ikut. Apalagi dance-nya Tell Me Your Wish kan... Aduh, aku bodoh. Harusnya aku tidak terlalu terpikat dengan senyumnya, jadi kan aku bisa menolak untuk ikut. Tapi aku tidak bisa menahan diri. Senyumnya memang memikat. Atau jangan-jangan dia melakukan ini dengan sengaja, supaya aku mau ikut dance? Aigoo

[DELVI'S POV]

Aku mengangkat mataku dari komik yang sedang kubaca. Astaga, Millenia sangat hebat. Yang benar saja, masa' dia bisa mengajak seorang Pangeran dance mengikuti MV Tell Me Your Wish-nya SNSD? Jangankan dia yang laki-laki, aku yang seorang gadis pun takkan mau melakukannya.

Aku berusaha mengabaikan tingkah abnormal mereka dan berjalan ke arah kulkas untuk mengambil kue coklat. Ya ampun, apakah di keluarga ini hanya aku saja yang normal? Ah, biar sajalah. Yang penting sekarang ini ya kue coklat itu.
Aku duduk di sofa ditemani seloyang kue coklat di meja. Akupun mengambil sepotong dan mulai makan.

"Enak," kata seorang anak laki-laki yang mendadak ada di sampingku...dan yang mulutnya belepotan krim coklat. Dan memang, saat aku melihat piringku, isinya sudah tinggal tiga-perempatnya.
"YAH! Siapa sih sebenarnya kau ini! Kalau mau kue, ambil sendiri, babo! Jangan makan kue di piring orang seenaknya dong!" seruku kesal.
"Seenaknya saja mengataiku babo," katanya seraya mengambil sisa kue di piringku. "Kau harusnya tahu siapa aku. Kalau tidak tahu barulah pantas dipanggil babo. Aku adalah seorang Pangeran jenius bernama Shim Changmin, dari kerajaan Cassiopeia."
"Aku tidak peduli! Pokoknya kau babo! Lagipula kenapa kauhabiskan kueku, hah? Babo!" ujarku kesal. Seandainya dia bukan calon tunanganku sih pasti sudah kuhajar. Tapi aku tak mau mengambil resiko, jadi aku hanya mengambil sepotong kue lagi.
"Aigoo, aigoo, kasarnya. Kau ini perempuan bukan sih? Perempuan harusnya manis, contohlah kakak tertuamu itu." kata Changmin dengan nada santai, seolah-olah tak memedulikan ekspresi kesal di wajahku
Aku memutar mataku, "Astaga, babo, kau kedengaran seperti ibuku."
Dia tersenyum jahil dan mengambil sepotong kue dari loyang. "Astaga, babo, kautahu aku benar." tirunya.
Rasanya aku benar-benar ingin membunuhnya sekarang.
"Kuberitahu saja, dia itu tak seperti yang kelihatannya," kataku sinis. "Dia memang manis, feminin, anggun dan lembut... Tapi abnormal. Dan kalau dia marah dia bisa membunuh. Pokoknya hati-hati saja, diantara adik-adikku hanya aku yang normal."
Changmin tertawa sarkastis. "Kukira hanya kau yang abnormal. Menarik. Kakak-kakakku semuanya abnormal dan sekarang calon pendamping hidup mereka juga abnormal. Abnormal kuadrat."
"Seperti kau normal saja," balasku.
"Aku memang normal kok. Coba kau bandingkan saja," katanya santai.
Aku menelusuri ruangan dengan mataku. Yunho, Jaejoong dan Yuchun sekarang sedang dance ala Run Devil Run. Junsu sedang menanyakan sesuatu pada kucingnya, sambil menarik kedua pipi kucingnya, memaksanya menjawab. Yang membuatnya dicakar oleh kucing itu. Kuakui, mereka memang sangat sangat sangat abnormal. Tapi melihat ekspresi menang di wajah Changmin, entah kenapa aku jadi kesal.
"Hei, babo! Memang mereka itu sangat abnormal, tapi kau juga abnormal." jawabku sinis.
"Well, kau nona jelek yang menyebalkan." balas Changmin.
"Well, kau pria jelek yang SANGAT menyebalkan." tiruku.
"Seandainya kau bukan, wanita, pasti aku sudah menghajarmu sekarang," katanya sambil tersenyum menang.
Aish, dia melecehkanku? Berani-beraninya! Rasanya aku tak bisa menahan emosiku lagi sekarang.
"Seandainya kau bukan calon tunanganku yang nantinya bakal menangis dan mengadu pada ibumu, aku pasti sudah membunuhmu sekarang." balasku, merasa menang.

[SHIINA'S POV]

Aigoo, ada apa dengan dunia ini? Kenapa kamarku jadi seperti sirkus? Kurasa aku terlalu asyik membaca sehingga tidak menyadari apa yang sudah terjadi. Baguslah, aku juga tidak sedang berminat untuk menonton pertunjukkan sirkus sekarang.

Merasa terganggu dengan Changmin dan Delvi yang sibuk adu mulut di sebelahku, aku pun bangkit dari dudukku dan duduk di lantai di pojok ruangan. Sebenarnya aku ingin protes, tapi bagaimana ya, sepertinya itu hanya akan mengundang keributan lain. Dan aku tidak suka keributan.

Aku melihat sekelilingku. Di pojok lain ruangan, ada Amalia yang sibuk makan kue coklat sampai wajahnya belepotan, dan Yuchun mendekat ke arahnya membawa tisu basah. Lalu di depan home theatre ada Shana, Yunho, Jaejoong dan Millenia yang sedang dance mengikuti lagu Run Devil Run. Walaupun Shana adalah adik kembarku, entah bagaimana sifat kami sangat berbeda. Dan aku mensyukurinya, sebab aku jadi tidak perlu tertular keabnormalan Shana. Dan ada Junsu yang sedang mengajak kucingnya bicara... KUCING? Astaga, aku suka sekali pada kucing!

"Hai," sapaku. "Boleh aku ikut bermain dengan kucingmu?"
"Oh, hai!" balasnya riang sambil tersenyum kekanak-kanakan, mengingatkanku pada Amalia. "Tentu saja! Kau mau membantuku mengajarinya bahasa manusia?"
Apa dia gila? "Bahasa manusia? Yang mana? Ada banyak bahasa, bukan?"
"Entahlah, mungkin kita bisa mengajarinya bahasa Celtic?" jawabnya, terlihat seperti sedang berpikir keras.
"Kau harus bicara pada Millenia kalau begitu, dia ahlinya." jawabku, berusaha mempertahankan keramah-tamahanku.
"Mungkin nanti, kalau kucingku sudah bisa bahasa Inggris. Supaya unni-nya Shiina bisa lebih mudah mengajarinya. Tapi siapa yang bisa mengajari kucingku bahasa Inggris? Kira-kira Jiji bisa bahasa Inggris tidak, ya?" katanya, seolah-olah ia sedang bicara pada dirinya sendiri.

Unnie? UNNIE? Dia kan namja, demi Tuhan!

"Jiji?" tanyaku heran. Siapa Jiji?
"Itu, kucingnya Jaejoong." jawabnya riang

Demi Tuhan, harusnya aku sudah tahu sebelumnya.

"Jaejoong! Kucingmu bisa bahasa Inggris tidak?" tanyanya, setengah berteriak pada Jaejoong.
Jaejoong membalasnya dengan memutar mata. Tapi aku setuju dengan responnya, karena, astaga, mana ada sih kucing berbahasa Inggris? Kucing bisa bicara saja sudah suatu keajaiban.

Changmin benar. Abnormal. Abnormal kuadrat.