[MILLENIA'S POV]
Aku menguap lebar-lebar. Di tangan kananku ada boneka teddy bear biru kesayanganku, sedangkan tangan kiriku kugunakan untuk menutupi mulutku. Disampingku, Amalia sudah tertidur dengan lelapnya. Aku hampir tak bisa menahan kantukku, seandainya saja ini bukan malam tahun baru, pasti aku...
"Hey, princess! Bangun!" Terdengar suara Yunho.
"Iya, seratus tahun lagi..." gumam Amalia yang masih tertidur. Changmin merasa kesal dan akhirnya menarik seprai tempat tidur yang kutempati bersama Amalia, menyebabkan kami berdua terjatuh.
"Aku yakin ada jutaan cara yang lebih menyenangkan untuk membangunkan seseorang," sindirku. Aku baru tertidur beberapa detik, dan rasanya benar-benar menyebalkan dibangunkan, apalagi dengan cara seperti itu.
"Ada apa? Sudah pagi?" Amalia mengerjap-ngerjapkan mata coklat besarnya, terlihat heran.
"Di ruangan ini, hanya kalian berdua yang tidur, tahu," jawab Delvi. Ia sedang duduk santai di depan perapian, tangan kanannya menggenggam mug, yang kalau kutebak pasti berisi coklat panas.
"Wajar saja kan, ini sudah malam," kataku sambil naik ke tempat tidurku lagi. Tapi Yunho menggendongku di lengan kanannya, dan Amalia di lengan kirinya, lalu mendudukkan kami ke sofa depan perapian.
"ASTAGA!" teriakku kesal, tapi selain itu aku tak bisa berkata apapun. Aku terlalu capek untuk dapat berpikir...
"Ini," Jaejoong mengulurkan segelas teh hangat. Aku menerimanya dan mengucapkan terimakasih.
"Perhatian, semuanya!" seru Yunho keras-keras. Untunglah kamar kami dipasang peredam suara, kalau tidak nanti dayang-dayang di luar bisa berpikir yang tidak-tidak.
"Bagaimana kalau kita memainkan suatu permainan?" usul Yunho
"Bagus, aku bosan," dengus Changmin dan Delvi bersamaan.
"Apa yang akan kita mainkan?" tanyaku. Entah kenapa aku punya firasat buruk.
"Seven minutes in heaven," jawab Yunho sambil tersenyum jahil.
SEVEN MINUTES IN HEAVEN? Astaga, aku tidak sanggup berkata-kata.
"Apa itu seven minutes in heaven?" tanya Amalia dengan ekspresi polos.
"Itu-" Aku baru akan menjelaskan padanya apa itu seven minutes in heaven ketika Delvi menjambak rambutku.
"WHAT THE..." Aku pasti sudah mengomeli Delvi kalau saja dia tidak segera mengedipkan mata kirinya. Berarti dia akan membiarkan Amalia bermain seven minutes in heaven tanpa memberitahunya apa itu seven minutes in heaven? Adikku memang benar-benar kejam. Membanggakan sekali.
"Baiklah, ayo kita mulai permainannya!" kata Junsu dengan nada riang, seraya mengedarkan kantung satin kecil berwarna putih.
Para Pangeran sudah memasukkan satu barang milik mereka, dan yang harus kami lakukan sekarang adalah mengambil salah satu barang itu dengan mata tertutup dan tanpa mengetahui apa saja yang ada di dalam kantung itu.
Delvi yang pertama. Setelah beberapa detik merogoh-rogoh, ia akhirnya menarik keluar sebuah...
[DELVI'S POV]
Headset? Headset?
Aku menatap benda di tanganku itu dengan penuh rasa heran. Tapi, entah kenapa ekspresi terkejut di wajah Changmin membuatku punya firasat buruk. Jangan-jangan...
"Milik siapa ini?" tanyaku dengan wajah datar.
Keempat kakak-kakak Changmin tertawa keras-keras dan menunjuk Changmin yang wajahnya memerah.
Changmin...
CHANGMIN?
Berarti aku harus...
TIDAKKKK!
"Nah, nah," kata Yunho seraya menyeret Changmin dan aku ke depan lemari dan membuka pintunya. "GAME STARTS NOW!"
"MWO?" seru Changmin kaget, "Ah, tidak, hyung, TUNGGU!" Tetapi Yunho sudah keburu mengunci pintunya dari luar.
"WHAT? BUKA! BUKAA!" seruku sambil menggedor pintu lemari. Tak apalah kali ini aku dibilang tidak sportif, apapun asalkan aku tidak perlu berciuman...
...dengan musuh terbesarku. Tapi sebelum aku berhasil menyelesaikan kata-kata dalam pikiranku, aku merasakan ada sesuatu yang lembut dan hangat menempel di pipiku.
Jangan-jangan itu...?
Aku menarik sesuatu itu dengan kedua tangan dan melemparnya ke pintu lemari. Dan dugaanku benar, sesuatu itu adalah...
Bibirnya Changmin.
"Babo! Apa yang kaulakukan, hah?" serunya kesal. Lemari ini sangat gelap, jadi aku tidak bisa melihat wajahnya.
"Hei babo kuadrat! Harusnya aku yang menanyakan hal itu padamu!" seruku kesal. Enak saja dia, main cium-cium orang seenaknya. Dia pikir siapa dia? Tapi... Apa ini? Kenapa wajahku panas? Astaga, panas sekali! Untung saja lemarinya gelap, kalau Changmin melihat ekspresiku ini pasti dia akan mengira bahwa aku malu... Tapi kan aku hanya kegerahan! Tapi, mungkin saja kan... TIDAK! TIDAK MUNGKIN!
"Kau mau keluar dari lemari ini tidak?" seru Changmin, membuyarkan lamunanku.
"Hanya orang bodoh yang akan menjawab dengan kata tidak," jawabku sinis.
"Kalau begitu, saat salah satu dari hyungku membuka pintu, dia harus melihat kita sedang berciuman. Kalau tidak dia tidak akan membiarkan kita keluar," jawabnya dengan nada menang.
"Dengar ya," kataku tajam, "ciuman pertamaku bukan untuk dibarter dengan kunci lemari. Paham?"
"Lalu apa yang kauinginkan?" tanya Changmin. Kenapa aku merasa kalau ia benar-benar penasaran ya? Aigoo, Delvi, kau benar-benar aneh.
"Cinta," jawabku singkat
"Delvi," bisiknya lembut di telingaku. Entah bagaimana ia sudah memegang wajahku, dan wajahnya dekat sekali dengan wajahku.
"H-hei! Hentikan, babo!" seruku panik. Astaga, seluruh tubuhku terasa kedinginan, tapi juga kepanasan, dan wajahku! Wajahku panas sekali. Mayday, mayday!
"Boleh aku mengakui sesuatu?" tanyanya lembut. Astaga, napasnya wangi sekali, mempercepat debaran jantungku. Rasanya aku mau pingsan saja.
"T-terserah kau saja, babo!" Aku menggigil. Aku tak bisa bernapas. Tapi, rasanya menyenangkan, menghanyutkan... AKU HARUS HENTIKAN INI SEBELUM TERJADI! ASTAGA... Tapi, aku tidak bisa... Tidak mau... Rasanya aku...
"Aku," katanya sambil menarik wajahku supaya menghadap ke arahnya. Tangannya dingin dan lembut. Tanganku refleks bergerak menggenggam tangannya yang berada di pipiku. SESEORANG TOLONG HENTIKAN!
"Cinta..." lanjutnya. Ibu jari kirinya mengelus bibirku dengan lembut. Aku harus menghentikannya! HARUS! Tapi bagaimana, rasanya menyenangkan, seperti melayang...
"Padamu." Dengan tenang, ia menarikku kedalam pelukannya, dan menempelkan bibirnya ke bibirku. Bibirnya halus dan hangat, dan hal itu membuat semua logikaku menghilang entah kemana. Tidak, jangan pergi, aku butuh logikaku sekarang... Amalia, Millenia, siapapun, tolong aku sekarang... Sebelum aku terlena lebih dalam...
Ia mepererat pelukannya dan menciumku lebih dalam, membuatku merasa nyaman. Aku tidak bisa menahannya lagi, aku...
"Changmin? Delvi?" Mendadak lemarinya jadi sangat terang. Aku dan Changmin cepat-cepat menjauh.
"Butuh tujuh menit tambahan?" goda Millenia.
"Aku dapat fotonya!" seru Jaejoong dengan nada ceria. Ada sebuah kamera di tangan kanannya. Rasanya aku benar-benar ingin menghancurkan kamera itu jadi serpihan-serpihan kecil, tapi tubuhku lemas dan menggigil.
Changmin beranjak bangun. Dan diluar dugaan, dia mengulurkan tangannya padaku. Wajahnya merah sekali, lucu!
Changmin membimbingku sampai ke sofa. Terpaksa kuabaikan tatapan mengejek Millenia dan Amalia.
Setelah aku duduk, Changmin melempar sehelai selimut tebal padaku. "Nih, pakai ini agar kau tidak mati kedinginan. Kuambilkan coklat panas dulu. Berhentilah jadi babo dan jangan banyak bergerak!" Perintahnya. Tapi entah bagaimana aku tahu apa maksud sebenarnya di balik sikap sinisnya...
[AUTHOR'S POV]
Yunho tersenyum jahil melihat dua 'pasangan baru' itu.
"Nah, setelah kita berhasil memasangkan Ms. D and Mr. C, ayo kita lanjutkan kesuksesan ini!" kata Yuchun dengan nada jahil.
"Selanjutnya giliran Millenia," kata Junsu riang
Millenia berjalan pelan-pelan mendekati Junsu. Ia merogoh isi kantung tersebut dan mengeluarkan...
