Disclaimer : Aoyama Gosho

Warning : OOC, Typo(s), Grammar berantakan, BL (Sho-ai)

pairing : HeijiXShinichi, KidXShinichi

Don't Like, Don't Read


My Diamond


Shinichi masih merawat Heiji yang terluka dan pingsan akibat pertarungannya dengan Kid. Sesekali di kompresnya kening Heiji dengan handuk kecil basah.

"Dia masih belum sadar? Haahh.. Lemah sekali." Suara Kid membuat cowok detektif itu melotot, "Memangnya salah siapa yang membuat Heiji pingsan?" Jawab Shinichi dengan tatapan galak ke arah Kid yang hanya terkikik geli.

Pakaian kid sekarang bukanlah tuxedo putih dengan topi dan jubah tetapi hanya kemeja putih dan celana hitam, wajahnya pun terlihat jelas tanpa ditutupi oleh monocle atau kulit palsu.

"Kau tidak takut memperlihatkan identitasmu padaku?" Ujar Shinichi masih tetap memandang Kid yang berada di pintu kamar. Cowok pencuri itu hanya menaikan satu alisnya tanda dia bingung, "Untuk apa aku takut? Kau tidak mungkin melaporkan ku pada polisi, lagipula kau tidak ada bukti bahwa aku pencuri legendaris itu'kan?" Kata Kid sambil menatap Shinichi yang masih mengompres Heiji.

"Tapi…" Shinichi membuka suara lagi,menyita perhatian Kid untuk mendengarkan, "Aku bisa saja melaporkanmu pada polisi karena sudah seenaknya tinggal dirumah orang." Shinichi menatap Kid yang kali ini menutup mulutnya untuk menahan seringainya.

"Hei detektif, aku tinggal disini bukan seenaknya tetapi karena persetujuanmu'kan?" Kali ini Kid mendekati Shinichi dan bersender di dinding tepat dihadapan sang detektif tersebut. Shinichi memalingkan wajahnya, "Memaksaku untuk mengatakan 'iya' bukan termasuk dalam persetujuanku tetapi keterpaksaan."

Kid lagi-lagi menatap Shinichi dalam diam, dia terus memperhatikan cowok manis itu merawat Heiji dengan baik dan penuh perhatian, membuat sang pencuri sedikit ada rasa cemburu di hatinya. "Kau memperbolehkanku tinggal karena cowok Osaka ini?" Kid menunjuk dengan malas Heiji yang sedang terbaring di ranjang, "Memangnya ada apa dengan itu? Kau tidak suka?" Tantang Shinichi sambil melotot ke arah Kid yang sekarang mulai duduk di sebelah Shinichi.

"Aku tidak suka. Kau itu milikku." Kata Kid lagi menyembunyikan rona merah di wajahnya, "Kau kekanakan." Jawab Shinichi lagi.

"Aku memang masih anak-anak." Kali ini Kid menyeringai jahil membuat Shinichi cemberut, "Jangan bertingkah sok imut." Shinichi menatapnya malas lalu beralih lagi menyentuh kening Heiji.

"Tapi…" Kid mulai berbicara lagi, tangannya merengkuh Shinichi dari belakang membuat cowok detektif itu tersentak kaget, "Ki..Kid…" Shinichi berusaha berontak tetapi Kid tetap memeluknya dengan erat. "Tapi aku memang menyukaimu, aku jujur." Kata Kid lagi sambil menyentuh kulit leher Shinichi dengan bibirnya. Cowok detektif itu hanya diam tanpa menjawab pernyataan yang dikeluarkan Kid.

-BRET- Tiba-tiba sebuah tangan menghentikan adegan pelukan-Kid-dengan-Shinichi-dari-belakang itu dengan cepat. Wajah Heiji yang tiba-tiba terbangun membuat Shinichi kaget.

"Kau tidak apa-apa?" Tanya Shinichi agak khawatir, tetapi Heiji tidak terlalu mempedulikannya matanya terus menatap Kid yang daritadi menyeringai mengejek ke arahnya.

"Kenapa dia masih disini..?" Tunjuk Heiji dengan napas tersengal-sengal ke arah sang pencuri. "Hei..hei.. Osaka-san… sekarang aku tinggal disini bersama Shinichi." Jawab Kid lagi yang kontan membuat Heiji kaget. "A..APA!"

Drrrttttt…. Dddrrtt…. Hp Kid bergetar membuat cowok itu meninggalkan kamar yang berisik karena Heiji terus-terusan marah kepada Shinichi.

Kid sudah berada di luar kamar, matanya beralih ke layar Hp yang menampilkan nama Aoko sedang memanggilnya.

"Ya halo?" Kata Kid membuka suara.

"Kaitooo… kau kemana saja?" Suara Aoko terdengar marah bercampur khawatir membuat Kid harus menjauhkan Hp nya dari telinga. "Maaf.. maaf.. Aoko. Tetapi mungkin beberapa hari ini aku tidak bisa pulang, aku sedang menginap di rumah teman." Jawab Kid sambil tertawa pelan.

"A..apa? kau menginap dimana? Bagaimana dengan sekolahmu?" Tanya Aoko kali ini penuh dengan nada cemas membuat Kid tersenyum. "Aku tidak bisa memberitahumu aku menginap dimana,yang pasti beberapa hari ini aku akan ijin masuk sekolah." Jawab Kid lagi.

"Ta..tapi, Kaito. Kau tidak akan lama'kan?" Ujar cewek yang berada di seberang telepon itu, "Tentu saja tidak, aku cuma beberapa hari bukan beberapa minggu. Kau tenang saja." Kali ini Kid berusaha menenangkan cewek teman masa kecilnya itu. "Uhmm.. baiklah.. jaga dirimu baik-baik ya." Kata Aoko, Kid hanya mengiyakan saja kemudian memutuskan sambungannya setelah mengatakan 'sampai jumpa'.

"Siapa yang meneleponmu?" Suara Shinichi kontan membuat Kid berbalik kaget, dengan kelabakan dia cepat- cepat memasukkan Hp miliknya ke kantong celana. "Hanya salah sambung." Jawab kid ngasal dengan tawa hambar.

Shinichi mengangkat alisnya, "Salah sambung mengatakan 'sampai jumpa'? bagaimana bisa, dua orang yang tidak saling kenal dan hanya salah sambung mengatakan 'sampai jumpa' seperti sudah lama berteman?" Kata Shinichi lagi meminta jawaban dari Kid. "Hahahaha~ begitulah…" Ujar Kid sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal.

Shinichi hanya mendengus kemudian berbalik masuk kamar, "Kalau ingin berbohong, pintar-pintarlah sedikit." Kata cowok detektif itu yang sukses membuat Kid tertusuk dengan perkataanya.

.

.

.


"Heiji, belum pulang juga ya?" Tanya Ran pada Kazuha yang sedang asyik menatap layar tivi, "Iya ya, padahal hanya mengantar kotak bekal darimu tapi sudah selama ini belum pulang. Apa terjadi sesuatu ya?" Kata Kazuha khawatir, dia berdiri dari sofa kemudian mengambil Hp miliknya yang tergeletak di atas meja. "Kau ingin menelepon Heiji?" Tanya Ran masih menatap Kazuha yang memencet beberapa nomor, "Iya, aku khawatir padanya." Kazuha mendekatkan Hp tadi ke telinganya mendengarkan suara dering lalu terdengar suara seseorang mengangkat telepon.

"Halo, Heiji?" Kata Kazuha cepat-cepat membuat seseorang yang berada diseberang telepon tertawa pelan. "Ya kazuha, ada apa?"

"Kau kemana saja? Kenapa tidak pulang?" Ujar Kazuha lagi membuat Ran sedikit penasaran dengan ekspresi Kazuha yang kaget.

"Apa? Kau ingin menginap di rumah Shinichi?" Tanya Kazuha lagi, Ran yang mendengar nama Shinichi disebut-sebut langsung mendekatkan telinganya di dekat Hp Kazuha. "Iya, aku ingin menginap disini. Shinichi sedikit bingung dengan kasus yang ditanganinya kali ini, aku hanya ingin membantunya." Jawab Heiji lagi. Kazuha sedikit berpikir kemudian menghela napas pelan.

"Baiklah, ku ijinkan. Nanti akan kuberitahu pada paman bahwa kau tidak bisa pulang beberapa hari ini karena membantu kasus Shinichi." Perkataan kazuha kontan membuat detektif Osaka itu bersorak gembira. "Terima kasih, Kazuha."

"Ya, sama-sama. Kau hati-hati ya, sampai jumpa." Kata Kazuha lagi kemudian menutup teleponnya dengan malas.

"Kenapa? Dia tidak bisa pulang ya?" Tanya Ran lagi yang melihat Kazuha hanya mengangguk mengiyakan. "Huufftt… aku harus pulang ke Osaka sendirian deh." Kata Kazuha lagi, Ran hanya tersenyum prihatin.

.

.

.

"Kau menginap disini juga?" Suara Kid membuat Heiji yang meletakkan Hpnya di atas meja mulai melotot lagi ke arahnya.

"Tentu saja, aku tidak mungkin meninggalkan Kudo dengan siluman seperti kau." Tunjuk Heiji penuh marah, "Hei, Osaka-man, aku bukan siluman, aku ini pangeran nya Shinichi." Kata Kid sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Apa? Enak saja kau bilang dirimu itu pangeran. Dan jangan panggil aku Osaka-man!" kata Heiji lagi dengan marah, Kid lagi-lagi menyeringai jahil.

"Oya? Kau'kan super hero namamu Osaka-man. Hanya saja kau itu lemah." Kid terkikik geli mendengar perkataannya sendiri membuat Heiji naik darah. "Kau menantangku ya?" Heiji mulai bangkit dari ranjang ketika sebuah tangan menghentikan pertarungan mereka.

"Sudahlah hentikan kalian berdua. Ini rumahku, kalau ingin berkelahi jangan disini tapi di luar." Kali ini Shinichi yang melotot ke arah dua perusuh yang telah merusak beberapa perabotan rumahnya. "Maaf…" Jawab Kid dan Heiji berbarengan, Shinichi menghela napas berat. "Sudahlah, sebaiknya kalian makan dulu. Aku sudah menyiapkan beberapa makanan." Kata Shinichi sambil menunjuk malas ke ruang dapur.

"Waahh… terima kasih, Sayang." Kid mencium pipi Shinichi lalu melarikan diri ke dapur sebelum di lempar lemari oleh Heiji. "Si brengsek itu benar-benar kelewatan." Kata Heiji lagi sambil berjalan ke arah Shinichi. "Uhmm.. terima kasih telah memperbolehkanku tinggal disini." Sambung heiji lagi salah tingkah.

"Ya, sama-sama. Lagipula, kalau aku cuma berdua dengan Kid entah bagaimana jadinya." Ujar Shinichi tersenyum pada detektif Osaka itu. Heiji ingin juga mencium pipi Shinichi seperti yang dilakukan Kid sebelumnya.

Hanya sebuah ciuman singkat di pipi- Heiji mulai mendekatkan bibirnya ke wajah Shinichi.

Hanya sebuah ciuman dari seorang 'sahabat'- Kali ini Shinichi melihat mata Heiji terpejam.

Hanya sebuah ciuman yang membuat jantung Heiji deg-deg-an- bibir cowok Osaka itu sedikit lagi menyentuh pipi Shinichi.

"Hooii…Osaka-man. Kau tidak mau kare ya? Nanti ku habisin lho." Kid yang berada tepat dihadapan mereka hanya memandang Heiji tanpa rasa bersalah dengan tangan memegang mangkok kare.

"Kau itu…." Urat-urat kemarahan mulai terlihat di kening Heiji membuat Kid meneguk liurnya. Mampus aku…

"KESINI KAU… PESULAP SIALAN!" Kid yang merasakan fiarasat buruk mulai melarikan diri dari amukan Heiji. Shinichi hanya menatap perkelahian itu dengan berurai air mata, apalagi mendengar suara-suara bantingan perabotan dapur yang menurut Shinichi pecah semua. Biaya hidupku lebih mahal dari yang ku kira…

.

.

.

XXXxxxXXX


"Hei..Hei Osaka-man. Ngapain kau juga disini?" Kid memandang malas ke Heiji yang kini tidur di sebelah kanan Shinichi sedangkan Kid berada di sebalah kiri Shinichi.

"Untuk menjaga cowok ini dari kemesuman mu." Kata Heiji sambil menunjuk Shinichi yang berada ditengah-tengah mereka. Shinichi hanya bisa menghela napas pasrah ketika mereka memaksa untuk tidur di satu kamar yang sama dengannya.

Kriing.. Kriiing… -Suara telepon rumah membuat pertengkaran Heiji dan Kid terhenti sesaat. "Biar aku yang angkat, kalian tunggu disini saja." Ujar Shinichi sambil beranjak dari ranjang ke luar kamar.

"Hei, Kudo. Aku ikut." Seru Heiji lagi yang mengekor Shinichi dari belakang. Kid hanya memandang kedua orang itu keluar kamar, matanya menatap sekeliling kamar yang didesain minimalis kemudian tatapannya beralih ke remote tivi di sebelahnya.

"Mungkin ada berita yang menarik." Bisik Kid lebih kepada dirinya sendiri. Remote diarahkan ke TV membuat kotak audio-visual itu menyala langsung. Kali ini layar di Tv menampilkan beberapa berita kiminal, Kid berusaha duduk senyaman mungkin lalu mulai memperhatikan berita lagi.

"Berita malam ini, seorang buronan polisi sedang bersembunyi di suatu tempat setelah pelaku kabur dari pencurian permata di toko Santa's Diamond. Menurut kepolisian pelaku akan melakukan transaksi dengan bandar narkoba di sekitar daerah Tropical Marine Land." Suara reporter TV malah makin menyita perhatian Kid. Mata Kid berubah serius ketika mendengar sebuah pencurian permata yang kini sedang melarikan diri tanpa menghiraukan kegaduhan di luar kamar.

.

"Hei, Kudo, kau serius diajak kencan oleh Ran besok di Tropical Marine Land?" Suara Heiji langsung membuat mata Kid beralih ke luar kamar.

"Iya, besok aku akan pergi dengannya sekitar jam 8 pagi." Kali Ini suara Shinichi yang berbicara. "Kenapa tidak kau tolak sih?" Suara Heiji terdengar frustasi, Kid berusaha menahan gelak tawanya.

"Kenapa harus kutolak?" Tanya Shinichi sedikit kebingungan, tangannya memutar kenop pintu kamar, membuat Kid cepat-cepat mematikan TV yang ditontonnya. "Tentu saja, besok aku ingin mengajakmu ke suatu tempat." Kata Heiji tegas sambil mengikuti Shinichi yang memasuki kamar.

"Wah, kalian sudah kembali? Ada apa ribut-ribut?" Kid bertanya dengan sok polos membuat kedua orang itu tidak sadar bahwa Kid sudah tau permasalahannya. "Dia ini…" Heiji menunjuk Shinichi malas, "Katanya besok akan pergi kencan dengan Ran."

"Wooow…" Kid hanya berpura-pura kaget, "Lalu memangnya kenapa kalau Shinichi kencan dengan Ran?" Sambung Kid yang langsung dapat pelototan dari Heiji.

"Ikut aku…" Tegas Heiji sambil menarik Kid keluar kamar. Heiji menatap Shinichi yang masih bingung di dalam kamar kemudian berbisik pelan ke telinga Kid. "Kau itu bodoh atau apa? Besok Shinichi akan kencan. Memangnya kau rela kalau dia kencan dengan orang lain?" Bisik Heiji sambil menahan emosinya untuk berteriak-teriak frustasi.

"Siapa bilang aku rela kalau dia kencan. Aku hanya memperbolehkannya jalan dengan cewek yang bernama Ran itu kok." Jawab Kid malas yang ditanggapi dengan tatapan bingung Heiji, "Maksudmu apa?" Tanya Heiji lagi. Kid memperlihatkan seringai liciknya kemudian menarik Heiji lebih mendekat lagi.

"Dengar ya, bila mereka kencan kita yang akan menggagalkannya… Besok, kita akan mengikuti mereka diam-diam. Bagaimana?" Tawar Kid yang langsung mendapat seringai setuju dari Heiji, "Kau jenius, Kid."

.

.

.


Pagi ini Shinichi sudah bersiap-siap menunggu Ran di depan rumah. Kid dan Heiji hanya menatapnya dari jendela rumah. Mereka sudah di wanti-wanti oleh Shinichi agar jangan melakukan ulah ketika dia pergi. Kid dan Heiji hanya mengangguk mengiyakan saja.

"Sudah lama, Shinichi?" Tanya Ran yang langsung dapat senyuman cowok manis itu. "Tidak kok, ayo kita pergi." Shinichi menarik tangan Ran agar segera pergi tanpa menyadari tatapan cemburu Heiji.

"Hoi, Kid. Ayo kita pergi juga." Heiji sudah berbalik ketika dilihatnya Kid memakai pakaian norak. Jas dan pakaian serba hitam, juga kacamata tebal dan rambut klimis. Heiji shock.

"Bagaimana penyamaranku? Bagus tidak?" Tanya Kid di depan kaca sambil memamerkan pakaian yang dikenakannya. Heiji menepuk jidatnya keras. "Aku mohon, Kid. Untuk kali ini saja jangan membuatku malu di depan umum."

Heiji langusung mengacak-acak dandanan Kid, merubahnya secara drastis walaupun harus bergulat dulu dengan pesulap itu karena dia suka style nya yang tadi. "Begini lebih baik." Ujar Heiji yang kini menatap Kid dengan rambut yang seperti biasa dan pakaian kasual. Kid berusaha protes lagi tetapi tangannya sudah ditarik paksa oleh Heiji untuk segera mengejar Shinichi.

.

.

Di Tropical Marine Land, Ran berjalan santai sambil sesekali menunjuk ke arah stand-stand yang menjual ice krim. "Kau ingin es krim?" Tanya Shinichi yang langsung mendapat anggukan senang dari Ran.

"Baiklah, tunggu disini. Aku akan membelikannya untukmu." Kata Shinichi yang langsung menuju stand es krim.

Heiji dan kid bersembunyi di balik semak-semak dengan teropong di mata mereka masing-masing. "Ini mulai memburuk." Kata Heiji lagi. Kid hanya meliriknya sekilas.

"Aku sudah mulai bosan." Rengek Kid yang kini bersender di punggung Heiji.

"Hentikan sifat kekanakanmu, Kid. Dan jangan mengganggu ku." Protes Heiji lagi, Kid hanya melirik kesal. Mata pesulap itu lebih memilih memandang beberapa atraksi dan badut yang memberikan salam pada anak-anak, tatapannya beralih lagi pada seorang pria yang terlihat mencurigakan.

Dua orang pria, yang satu agak gendut dan yang satu kurus memiliki rambut pirang panjang dengan dandanan serba hitam. Kid memandang mereka malas. Dandanan mereka mencolok sekali, seperti mafia saja… Pikir Kid dalam hati tidak terlalu mengubris mereka yang kini memasuki sebuah café.

"Hei, Kid. Kau dengar aku tidak?" Heiji berusaha mengembalikan lamunan Kid ke alam sadar. "Ah, ya? Kenapa?" Tanya Kid ketika kesadarannya sudah pulih seutuhnya. "Mereka mau pergi lagi." Tunjuk Heiji ke Shinichi dan Ran yang kini juga memasuki sebuah café.

"Ayo kita ikuti." Kid dengan sigap langsung menarik tangan Heiji ke dalam café yang merupakan tempat dua orang pria berbaju hitam tadi masuk.

.

.

"Shinichi, kau terlihat tegang sekali. Ada apa?" Tanya Ran sedikit cemas ketika melihat raut wajah Shinichi yang berubah pucat. "Aku tidak apa-apa." Jawab shinichi di sela senyumannya. Ekor mata Shinichi tidak beralih ke arah dua orang pria yang tepat berada di belakangnya. Sepertinya mereka tidak menyadari kehadiran Shinichi.

Salah satu dari pria itu terlihat serius ketika berbicara pada pria berambut pirang panjang. "Apa kita kan melakukan transaksi disini, Kak?" Tanya pria gendut yang dipanggil oleh pria berambut panjang itu sebagai 'Vodka'.

"Mungkin kita agak sedikit mencolok, tapi tidak apa-apa karena atraksi disini juga menampilkan sebuah cerita mafia, kita bisa membohongi orang sebagai peran pengganti di salah satu atraksi disini." Kata pria berambut pirang panjang yang dipanggil 'Gin'.

"Begitu ya, tapi kenapa orang itu tidak datang?" Tanya Vodka lagi sambil berusaha melihat-lihat ke sekitar mereka. Shinichi yang melihat Vodka sedang menatap sekeliling langsung mengalihkan pandangannya.

"Hei, Shinichi. Kau terlihat pucat." Ran berusaha menyentuh kening Shinichi tetapi langsung di tepis cowok manis itu. "Ah, maaf, Ran. Tapi sekarang aku sedang tidak enak badan. Bisa kita pergi kapan-kapan saja?" Kata Shinichi lagi yang langsung menyeret Ran keluar dari café.

"Maaf, Ran. Tapi kau bisa pulang sendiri'kan? Aku masih ada urusan… Bye.." Shinichi terlihat tergesa-gesa memasuki café tadi, meninggalkan Ran yang memiliki firasat buruk seperti dulu ketika Shinichi pergi dan tidak kembali lagi. Ran berusaha menepis pikiran buruknya. Tidak apa-apa.. Shinichi akan baik-baik saja… dia pasti kembali… Pikir Ran berusaha menghibur hatinya yang mulai gelisah lagi.

.

.

Heiji dan Kid masih berada di dalam café, mereka duduk di kursi paling pojok agar terhindar dari pandangan Shinichi yang kini masuk ke dalam café tanpa Ran. "Dia kembali tanpa cewek itu." Kata kid lagi sambil menyeruput jus miliknya.

"Mungkin ada suatu masalah, lihat saja Shinichi, dia seperti sedang berusaha mendengarkan apa yang dua orang pria baju hitam itu bicarakan." Tunjuk Heiji ke Shinichi kemudian beralih ke arah dua pria yang tepat berada di belakang detektif manis itu.

"Ada hubungan apa mereka dengan Shinichi?" Tanya Kid lagi sambil terus menatap sosok Shinichi yang terlihat tegang. Heiji berusaha berpikir, matanya tetap terpaku pada dua pria yang memakai pakaian mencolok itu. Apa hubungan mereka dengan Shinichi? Kenapa Shinichi terlihat begitu tertarik dan takut di saat bersamaan? Jangan-jangan…. Mata Heiji terbelalak ketika mengingat sesuatu kemudian pandangannya beralih pada Shinichi.

Siaaall… mereka laki-laki berjubah hitam yang pernah di ceritakan Shinichi… ini berbahaya… aku harus melakukan sesuatu… Kata Heiji dalam hati.

"Kid, kau tunggu disini dan awasi Shinichi. Aku ada perlu sedikit. Jaga Shinichi dari dua orang pria itu." Kata Heiji tiba-tiba kemudian pergi secepat kilat meninggalkan café.

"Sebenarnya ada apa ini?" Bisik Kid pada dirinya sendiri yang masih saja kebingungan dengan perintah Heiji.

.

.

Dua orang pria itu merasa sedikit risih ketika Shinichi tanpa sengaja menatap dengan ekor matanya. "Anak Itu membuatku gelisah, kak." Kata Vodka yang hanya di tanggapi Gin dengan delikan tajam.

"Aku juga. Coba kau interogasi anak itu." Gin menyuruh Vodka untuk menginterogasi Shinichi yang berarti 'bunuh saja anak menjengkelkan itu', Vodka hanya menyeringai seram, kemudian beranjak dari tempat duduknya ke arah Shinichi.

Melihat Vodka yang mulai mendekatinya, membuat tubuh Shinichi gemetar, Sial, aku ketahuan… Rutuk Shinichi dalam hati. Hatinya berusaha untuk mengatakan tenang tetapi tubuhnya tidak mau di ajak kompromi.

-POK- Sebuah tepukan dari Vodka di pundak Shinichi makin membuat cowok itu gemetaran. "Bisa berbicara sebentar?" Kata Vodka kepada detektif itu yang lebih merupakan perintah daripada ajakan.

Shinichi masih menundukan wajahnya. Kalau dia melihat wajahku, matilah aku…

"Hei, jangan diam saja!" Protes Vodka lagi tidak sabaran.

Shinichi meneguk liurnya susah payah kemudian mulai menegakkan wajahnya.

.

.

.

~TBC~


Maaf, agak lama update nya.. hehehe

masih sambungan kemaren.. maaf kalau yang sekarang terasa sedikit jelek...

Chap depan sedikit ada pertarungan lagi.. hehehehe... kali ini organisasi jubah hitam agak sedikit nyempil... hahaha