[MILLENIA'S POV]
Cincin?
Well, mudah sekali menebak ini milik siapa. Pasti milik Yunho. Atau Jaejoong. Mereka memakai cincin yang sama sih, aku jadi rancu kadang-kadang. Yah, bagaimanapun tak ada salahnya bertanya, ya kan?
"Milik siapa ini?" tanyaku dengan nada ceria.
Semua adik-adik Jaejoong menunjuk Jaejoong.
Astaga! Aku hampir tidak bisa menahan diriku untuk melompat kegirangan. Habis, sepertinya aku suka Jaejoong deh. Well, aku tahu, aku tahu, memang kedengarannya aku seperti orang yang mudah sekali jatuh cinta. Tapi dia punya semua alasan untuk dicintai seorang perempuan...
Kecuali fakta kalau dia cantik. Sangat cantik. Lebih cantik dariku malah.
Hanya saja, sepertinya rasa sukaku belum cukup untuk bisa berciuman dengannya deh. Lagipula, ciuman pertama di lemari? Astaganaga, tidak. Aku mau ciuman pertama yang romantis. Dillematis sekali.
"Nah," Yunho menyeret aku dan Jaejoong ke dalam lemari. "GAME STARTS NOW!" Lalu dia mengunci pintunya.
"Astaga..." gumamku, sambil berusaha berdiri. Lemari ini sangat luas, dan aku mulai meraba-raba tembok, mencari tombol lampu. Uh, astaga, untuk apa aku mencari tombol lampu? Aku bahkan tidak yakin lemari ini ada lampunya. Baiklah, kurasa aku hanya panik. Dan sedikit uneasy. Dan sangat gugup.
Akhirnya aku kembali duduk.
"Jadi... kita tidak akan melakukan apa-apa disini?" tanya Jaejoong, ia kedengaran ragu.
"Well, aku tidak tahu," jawabku jujur.
"Kau tidak menyukaiku?" Astaga, dia frontal sekali.
"Bukan begitu, tapi aku memikirkan tempat lain yang lebih romantis untuk ciuman pertamaku." Aku berusaha memilih kata yang tepat. Firasatku berkata bahwa is sangat sensitif, dan jelas aku tak mau menyakiti perasaannya.
"Jadi kau belum pernah berciuman?" tanyanya heran. Aku jadi malu, rasanya pertanyaan itu sangat... tajam?
"Well," kataku seraya memegang pipiku yang panas. "Belum. Kau sudah pernah?"
"Ya, dengan Changmin. Waktu itu ia susah sekali dibangunkan,. padahal ada acara jamuan kerajaan yang sangat penting. Jadi, yah, kucium saja. Dan memang dia bangun sih.."
HAH? "Tapi, kau tidak..." Aku kehilangan kata-kata.
"Oh, tidak! Tidak, tidak, tidak, aku straight kok." Balasnya gugup.
Aku menarik napas lega. Kukira dia tak bisa menyukaiku. Untunglah dia straight.
Pintu lemari terbuka sedikit, dan kepala Yunho menyembul dari luar lemari.
"Ah," serunya kecewa. "Tidak terjadi apa-apa. Beri mereka tujuh menit lagi." Ia lalu menutup pintu, meninggalkan aku dan Jaejoong di dalam.
Dan lagi-lagi terjadi keheningan yang tidak menyenangkan. Rasanya ingin bicara, tapi tidak tahu apa yang mau dibicarakan.
Aku menyandarkan tubuhku ke dinding lemari dan menarik napas panjang.
Rasanya ada sesuatu yang hangat dan lembut menempel di sudut kanan bibirku, jangan-jangan...
"Jaejoong?" tanyaku. Aku tahu apa itu. Itu pasti bibir Jaejoong. Tapi aku tidak bisa apa-apa, rasanya lemas dan tubuhku gemetaran.
"Ya?" tanyanya ringan, seolah ia tidak hampir merebut ciuman pertamaku.
"Kalau kau tidak punya perasaan apapun terhadapku, jangan cium aku." kataku tegas.
Jaejoong menarik napas panjang. Ia lalu menarikku kedalam pelukannya.
"Sulit sekali untuk mengatakannya, tapi lebih sulit lagi untuk tidak mengatakannya." Ia menatap mataku dalam-dalam "Millenia, aku mencintaimu. Kau adalah makhluk tercantik yang pernah kulihat..."
"Kau bohong," kataku seraya melepaskan pelukannya. Ekspresi heran muncul di wajah Jaejoong.
Aku memasang tampang cemberut seperti anak kecil yang tidak dapat mainan. "Kau jauh lebih cantik dariku."
Ia tersenyum menenangkan seraya menggenggam kedua tanganku yang dingin. Tangannya hangat sekali, astaga...
"Tidak apa-apa, asalkan kau mencintaiku aku tidak akan peduli apakah aku cantik atau tampan." katanya serius.
Rasanya aku akan meleleh.
Tanpa peringatan,Jaejoong mencengkeram bahuku dan menciumku. Bibirnya menempel di bibirku, lembut, tetapi di sisi lain juga kuat. Aku pikir, kalau aku merespon berarti dia akan menyadari perasaanku, jadi aku menutup mata dan mendekat padanya, membalas pelukan eratnya. Tanganku memeluk punggungnya sementara tangannya bermain di rambutku dan mengelus-elus kepalaku. Tubuhku serasa dipenuhi sensasi yang hangat dan menyenangkan, dimulai dari hati dan menjalar ke seluruh tubuhku. Rasanya nyaman sekali, aku tidak mau menghentikannya...
"Astaga, lihat!"
"Wah, cinta orang dewasa!"
"Astaga, Mi!"
"Hei, lihat, aku dapat rekamannya!"
"Uhh.." Aku mengerang pelan dan membuka mataku, kaget akan pintu lemari yang terbuka tiba-tiba. Ada apa sih? Padahal tadi kan sudah...
APA?
Waktunya sudah habis? Bagaimana...
BERARTI MEREKA MELIHAT AKU DAN JAEJOONG BERCIUMAN?
"Butuh bantuan?" Jaejoong mengulurkan tangannya padaku. Wajahnya masih memerah, kontras sekali dengan kulitnya yang putih susu.
"Aku lemas sekali," kataku dengan suara parau. Dan aku tidak berbohong, rasanya seluruh tenagaku hilang entah kemana.
Lalu tanpa mengatakan apapun, Jaejoong menggendongku ke sofa depan perapian, dan menyelimutiku. Ia lalu duduk di sampingku, dan menyandarkan kepalanya di leherku.
Aigoo... Aku rasa aku akan meleleh lagi.
[AUTHOR'S POV]
"Aigoo, pasangan yang satu ini dewasa sekali ya," kata Junsu seraya mengocok-kocok kantung satin putih di tangannya.
"Aku tidak heran," jawab Changmin sinis. Delvi tertawa.
"Yah, mereka kan yang paling tua di antara kita, wajar saja kan," jawab Yuchun.
"Baiklah, selanjutnya Shiina!" seru Junsu riang, tanpa memedulikan komentar saudara-saudaranya.
Shiina maju dan merogoh-rogoh. Dan akhirnya dia mengeluarkan sebuah..
[SHIINA'S POV]
Gantungan kunci anime? Rasanya aku tidak bisa menyembunyikan rasa heranku.
Oh iya, bagaimana aku lupa? Junsu. Pasti ini miliknya.
TIDAKKK! MASA AKU BERCIUMAN DENGAN ANAK POLOS SEPERTI DIA?
Rasanya berdosa kalau menciumnya. Seperti mencium anak kecil. Bagaimana ini?
Junsu maju ke arahku. "Itu milikku kan? Ah iya! Bagus sekali," katanya sambil tersenyum.
Dan aku membeku di tempat, tidak tahu harus mengatakan apa.
"Nah, nah, aku sudah bawa kucingku. Ayo, ayo, kita masuk." ujar Junsu riang. Yang lainnya, termasuk aku, hanya bisa melongo.
HEI! SEBENARNYA DIA TAHU TIDAK SIH SEVEN MINUTES IN HEAVEN ITU APA? UNTUK APA DIA BAWA-BAWA KUCING SEGALA?
Dan aku hanya bisa melangkah gontai ke lemari, dan menjatuhkan diriku ke lantai lemari sementara Shana mengunci pintunya dari luar.
Aku akan membuang tujuh menit berharga hidupku untuk mengajari kucing bahasa celtic. Fantastis.
Aku menghela napas dalam dan menyenderkan tubuhku ke tembok lemari.
"Kau tidak mengerti apa itu ciuman kan?" Setelah beberapa menit, akhirnya aku melempar sebuah pertanyaan retoris.
Junsu menatapku, terlihat seperti sedang berpikir. "Well, dua orang saling menempelkan bibir, itu saja kan?"
Seseorang, tolong aku!
"Bukan," aku berusaha bersabar dan menjelaskannya. "Ciuman itu adalah..." Oh ya, aku lupa, aku bukan Millenia si ahli bahasa. Bagaimana cara menjelaskannya supaya aegi ini mengerti?
"Adalah?" tanya Junsu, menunggu penjelasanku.
Aku menarik napas dalam-dalam. "Adalah sesuatu yang dilakukan oleh dua orang yang saling jatuh cinta untuk menunjukkan rasa cintanya, kira-kira seperti itulah. Kalau kau mau tahu lebih lanjut, tanyakan saja pada Millenia."
"Shiina cinta sama Junsu tidak?" tanyanya polos.
IYA! "Aku tidak tahu."
"Kalau Junsu sih cinta sama Shiina... Berarti boleh ciuman tidak?"
Aku mulai merasa tidak tega... "Kalau kau tahu caranya, ya..."
Tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang dingin dan basah di bibirku. Lalu sesuatu itu menghilang.
"Begitu kan?" tanya Junsu polos.
Aku tertawa malu. Tampaknya aku sudah meremehkannya. "Iya, tapi itu baru dasarnya. Ada yang lebih kompleks lagi."
"Seperti yang dilakukan Millenia dan Jaejoong?"
"Iya."
"Begitu..."
"Ta-da! Apa yang sudah terjadi disiniiiiiiiii?" Tiba-tiba Shana muncul dan menanyaiku seperti guru TK menanyai anak muridnya."
"Aish, tidak-"
"Aku mencium Shiina lho!" seru Junsu bangga.
HEIIIIII!
"Benarkah?" tanya Shana padaku. Aku hanya bisa mengangguk lemas.
"Sedetik pas." jawabku lemah.
"Untuk ke depannya bisa lebih lama kok, kau hanya perlu memberinya contoh dan menjelaskan sedikit." jawab Millenia, yang tiba-tiba muncul di pintu lemari. Ia mengulurkan segelas coklat panas. Aku menerimanya dengan penuh rasa syukur.
Junsu hanya menatap kami dengan bingung, lalu ia berlari ke arah kakak-kakaknya.
"HYUUUUNG~" teriaknya dengan nada ceria, seolah ia habis memenangkan suatu pertandingan atau apa. "Aku habis mencium Shiina lhooooo..."
Menanggapi hal tersebut, wajah kakak-kakak Junsu berubah aneh. Ada yang seperti mau menahan tawa, ada yang tersedak teh hangat...
RASANYA AKU MAU MATI SAJA!
