"Nah sekarang giliran A-"
"AKU TIDAK MAU!" potong Amalia cepat.
"Kau HARUS mau," kata Delvi tajam, tapi matanya berkilat jahil.

Millenia mendadak bangkit dari sofa yang didudukinya dan mulai mencari-cari sesuatu.
"Cari apa?" tanya Shiina
"Tali. Kalau Amalia tidak mau kita gunakan cara paksaan saja," jawab Millenia santai.
"Ah, benar juga. Bagaimana aku bisa lupa? Kita paksa saja," kata Delvi.
"Kalau tidak salah talinya ada di dalam laci itu," ujar Shana.
"HEI! Mau kalian apakan aku?" seru Amalia panik.

Millenia menggenggam talinya, dan memukulkan tali itu ke udara seolah-olah tali itu cambuk.
"Sebenarnya mudah. Kau pilih saja, mau cara yang nyaman," Millenia mengulurkan kantung satin putih yang diambilnya dari tangan Junsu. "...atau cara yang menyakitkan?" Dan sekali lagi ia memukulkan tali tersebut ke udara.
Amalia membeku. Ia sudah tahu betapa sadisnya kakak-kakaknya, terutama kakak tertuanya ini.
"Mmm, kalau boleh aku mau tidak memilih saja..." Delvi segera memelototi Amalia begitu mendengar jawaban tersebut.
"Iya, iya! Aku ambil cara yang nyaman-apalah-itu," kata Amalia kesal.

Junsu merebut kembali kantung satin tersebut dari tangan Millenia, dan mengulurkannya kepada Amalia seraya memamerkan senyum terpolosnya. Amalia hanya merengut dan menarik sesuatu dari kantung itu dengan asal-asalan.
"Buka telapak tanganmu!" perintah Changmin.
Amalia membuka telapak tangannya dan terlihatlah...

[AMALIA'S POV]

Nngng, ini adalah, ini... Apa ya? Rasanya sangat familiar.
Sesuatu yang dibungkus kertas keperakan kecil, berbentuk tidak beraturan dan menguarkan wangi manis yang enak...
Ini kan coklat! Astaga, coklat! Aku cinta coklat!
Tapi, punya siapa ya?

Seolah bisa membaca pikiranku, Yuchun mengangkat tangannya dan beranjak dari duduknya.
"Milikku." katanya singkat.
Aku berusaha tersenyum ramah, tapi Yuchun hanya membuang muka.
Rasanya minggu kemarin dia masih baik padaku, kenapa sekarang dia menyebalkan? Biarlah. Nanti juga dia jadi baik lagi.

"GAME STARTS NOW!" seru Yunho seraya mengunci pintu lemari.
Tunggu dulu, kapan aku masuk ke lemari ya? Ya sudahlah.

"Kamu kenapa?" tanyaku ramah.
"Kenapa? Well, aku terperangkap di game seven minutes in heaven bersama dengan seorang gadis yang jelek, menyebalkan, cerewet dan kekanak-kanakan. Bagaimana menurutmu?"
Aku celingukan. Apa ada gadis lain disini? Tidak, rasanya tidak. Apa itu berarti...
"Apa aku yang kau maksud?" tanyaku dengan nada datar.
"Astaga, ya. Siapa lagi? Kau kan yang paling abnormal diantara kakak-kakakmu."
"Aku rasa tidak seburuk itu juga..." Nadanya offensive sekali, menyakitkan dan menusuk. Rasanya... sakit. Kesal
Yuchun tertawa sarkastis. "Tidak seburuk itu."
Aku merasa sangat kesal. Mataku dibasahi airmata kemarahan.
Aku memukulkan tinjuku ke tembok, merasa kesal tanpa bisa melampiaskannya.
Mendadak Yuchun bergerak cepat ke arahku. Rasa panik mendesakku untuk buru-buru mendekat ke pintu lemari...

[MILLENIA'S POV]

"Apa yang sedang mereka lakukan di dalam ya? Dengan mood Amalia yang jelek begitu, aku tidak yakin Yuchun bisa keluar hidup-hidup," kataku seraya menyeruput teh hijauku pelan.
"Mana kutahu? Lagipula anak itu kan jujur, kalau nanti kita tanyakan juga dia akan menjawab yang sebenarnya," jawab Delvi santai.

"Tuan Putri, Tuan Pangeran."
Kami semua menoleh panik.
Dan kepanikan tersebut beralasan, karena Raja dan Ratu dari kedua negeri-lah yang sedang berada di ambang pintu kamar kami. Aku melirik panik ke arah jamku. Empat menit lagi. Gawat!

"Ah, Yang Mulia." Aku cepat-cepat membungkuk memberi hormat. "Bulan di taman bersinar sangat indah malam ini, bagaimana kalau kita berbincang di taman?"
"Benar, Yang Mulia." Shiina menambahkan.
"Ah, jangan panik begitu Tuan Putri. Kami tidak bermaksud mengganggu, hanya ingin mengajak kalian berbincang sebentar... Bagaimana perjodohannya?" tanya Ratu negeri Cassiopeia sambil duduk di sofa. Raja dan Ratu yang lainnya juga mengikuti Ratu negeri Cassiopeia duduk di sofa.
Adik-adikku melirikku, dan dengan ngeri aku menyadari mereka mengharapkanku menyelesaikan 'masalah' ini.

Rasanya aku ingin menangis saja.

[AMALIA'S POV]

"Yuchun!" seruku, karena dia mendekat ke arahku, menggenggam tanganku kuat-kuat agar aku tak bisa melawan.
"Sakit..." desisku pelan. Tapi kelihatannya Yuchun tidak bisa mendengarnya.
"Maafkan semua perkataanku tadi. Aku hanya berusaha mencari alasan untuk membencimu. Tapi tidak bisa, aku tidak bisa membencimu." Wajahnya dekat sekali dengan wajahku, rasanya gerah! Tapi jantungku... Debarannya keras sekali... Ada apa denganku?

"K-kau tidak harus membenciku." Itu pertanyaan atau pernyataan? Aku bahkan tak bisa menjawabnya. Aku tak bisa berpikir. Aku gemetar. Aku kepanasan. Aku kedinginan. Aku gugup. Aku malu.
"Dan aku memang tidak mau membencimu."
Bersamaan dengan diselesaikannya kata-kata tersebut, Yuchun menarikku ke dalam sebuah ciuman yang... bergairah? Well, yang aku tahu dia terus, terus, dan terus mendesak ke arahku, padahal aku sudah kehabisan napas. Dan bibirnya terus menerus bergerak, ke kanan, ke kiri, melumat pelan bibirku sesekali
Dan tiba-tiba, diiringi suara benda patah yang keras, pintu lemari yang kami sandari roboh keluar. Menyadari hal itu, aku sempat merasa panik, tetapi Yuchun seolah tak peduli, melanjutkan ciumannya. Ciuman itu terasa seperti obat bius... Memabukkan, membuatku lupa pada dunia...

"A-amalia..." Samar-samar terdengar suara Millenia, panik dan khawatir. Ada apa ya?
"Kurasa kalian semua sudah siap untuk bertunangan." Lalu terdengar suara tegas yang kukenali sebagai suara...

RAJA? DAN RATU JUGA?

Aku merasakan aura pembunuh milik Millenia, tatapan sadis Delvi, kekesalan Shana dan tatapan tajam Shiina.
Bagus. Sekarang saudari-saudariku akan membunuhku. Tapi tanpa dibunuh pun kurasa aku sudah akan keburu mati malu duluan.

SESEORANG TOLONG AKU!