[DELVI'S POV]
Apa-apaan sih anak itu? Seenaknya saja suruh cium. Dia pikir ciuman itu apa? Mainan?
Pikiran-pikiran itu memenuhi benakku sementara aku berjalan di tengah pesta, mencari Millenia. Awas saja kalau kutemukan, tamatlah riwayatnya!
"MILLENIAAA!" Aku langsung menghampirinya begitu menemukan anak pendek itu di paviliun halaman belakang, sedang duduk bersama Amalia.
"Oow. Mm, hai! Apa kabar… Mm," katanya salah tingkah.
"Apa maksudmu menyuruh makhluk itu menciumku lagi?" seruku kesal.
Millenia, seperti biasa, memiringkan kepalanya sedikit dan melebarkan matanya, sesuatu yang ia selalu lakukan kalau berusaha menarik perhatian orang. Manis, tapi tak mempan untukku. Aku membalas tatapannya dengan garang.
"Kupikir kau menyukainya. Kalian kelihatan manis setelah ciuman itu, dan aku jelas tak ingin kalian saling menghajar di altar pernikahan kalian hanya karena kalian tak bisa mengatakan perasaan kalian yang sebenarnya, jadi…" Millenia akhirnya buka mulut. Aku terdiam. Dia sedikit benar… Sedikit.
"Sudahlah, kau tak perlu menyembunyikannya. Kau menyukai Changmin kan? Kalian berdua juga menikmati ciuman waktu itu, aku yakin. Lagipula apa salahnya sih menyukai dia?" Amalia ikut bicara.
Aku, yang kehabisan kata-kata, hanya mendengus kesal dan berlalu pergi.
"TUAN PUTRI! TUAN PANGERAN! Kembali ke aula, SEKARANG!" Astaga, si dayang galak itu lagi.
Menjawab panggilannya, aku berjalan masuk ke Istana, diikuti Millenia, Amalia, Shiina dan Shana.
"Hai." Seseorang menepuk bahuku pelan. Changmin! Astaga. Aku cepat-cepat lari kedalam aula utama istana, tanpa memedulikan panggilan Changmin. Amalia bodoh! Kenapa harus frontal begitu sih? Aku jadi malu bertemu Changmin kan!
"Para pasangan kerajaan akan memulai dansa bersama, dimulai berurutan dari Putri Mahkota sampai Putri Termuda…" MC mengumumkan. Para hadirin menyingkir, bagian tengah aula dibiarkan kosong, lampu yang bercahaya keemasan menyoroti bagian itu… dan aku punya firasat buruk.
Millenia melangkah anggun bersama Jaejoong, siap untuk memulai dansa pertama. Mereka menari dengan anggun, diiringi tatapan iri para bangsawan muda yang hadir. Aku juga merasa agak iri… Tidak! Untuk apa aku merasa iri? Menjijikkan. Tidak penting.
"Delvi…" bisik Changmin pelan.
Oh, sudah saatnya. Tanganku terasa dingin dan gemetar, tapi genggaman Changmin terasa hangat dan mantap, menenangkan…
Oh, tolong. Tidak, jangan lagi. Tatapan yang itu lagi, jangan! Seperti saat Seven Minutes In Heaven, tatapan Changmin begitu lembut dan seolah hanya terfokus padaku… Atau memang benar-benar hanya terfokus padaku?
Pipiku terasa panas, tetapi kulitku meremang dan entah kenapa aku merasa kedinginan.
"Tanganmu gemetar, kenapa?" tanya Changmin, sambil meneruskan dansanya denganku. Aku tidak merasa seperti berdansa di aula Istana dengan dilihat 10.000 tamu, tetapi aku merasa seolah aku hanya berdansa berdua dengan Changmin…
"Aku tidak apa-apa," kataku, mencoba tersenyum. Mungkin Millenia ada benarnya juga, kalau menyukai seseorang, cobalah lebih frontal sedikit. Sekali ini, aku ingin Changmin melihatku sebagai seorang gadis, bukan seorang anak laki-laki yang biasa bertengkar dengannya. Sejauh ini, hanya dia yang bisa membuatku merasa begitu. Daebak.
"Bagaimana dengan darenya?"
Dasar perusak suasana! Bisa tidak sih bicarakan itu lain kali saja? Mendengar kata-kata Changmin, 10.000 tatapan tamu dan aula istana yang dipenuhi tamu mendadak muncul kembali di hadapanku. Babo itu melemparku ke kenyataan, DENGAN SANGAT KASAR!
"Hey, tidak perlu merengut seperti itu. Aku takkan mengambilnya kalau kau menolak. Aku tidak sejahat itu juga," katanya sambil tertawa gugup.
"Lalu, yang di dalam lemari itu?" tuntutku tak sabar.
"Jujur sajalah, kau menginginkannya kan?" godanya.
ANAK INI! Apa dia pikir aku akan melipat-lipat harga diriku dan membuangnya ke tempat sampah?
"Kalau kau tak mau jujur soal itu, tak apa, tetapi jawablah pertanyaan ini, apakah kau mau melakukan dare itu?" kata Changmin akhirnya.
"Kau?" tanyaku, berusaha tidak terdengar gemetar. Hatiku meneriakkan kata YA begitu keras sehingga aku hampir yakin dia bisa mendengarnya.
"Kenapa tidak? Kau tidak mendengarkan ya waktu itu? Perlu kukatakan sekali lagi? Aku mencintaimu," jawabnya tegas, tangan kanannya mengelus pipiku lembut. Matanya itu, astaga…
Aku memejamkan mata, membiarkan semua indraku terfokus pada satu orang. Changmin.
"Oppa, aigoo, ok, aku menyukaimu, sangat suka... Ottoke?" Kubiarkan kata-kata itu meluncur keluar dari mulutku. Anehnya, aku merasa nyaman dan lega setelah mengatakannya.
Changmin tersenyum. Dia mendekat... Bibirnya selembut kue krim, menempel di bibirku. Rasanya sekarang tak ada lagi aku ataupun dia, hanya ada kami. Rasanya seolah meleleh, melebur menjadi satu…
Dan Handphone Changmin berdering.
Astaga! Berhentilah merusak suasana!
Tetapi beberapa detik kemudian, akhirnya Changmin mengalah dan melepaskan bibirku. Wajahnya merah dan ia terengah-engah, kehabisan napas. Aku juga terengah-engah kehabisan napas. Kami berpandangan dan saling tersenyum malu, diiringi tatapan kaget para tamu. Darenya selesai! Tapi bukan itu yang terpenting, yang terpenting adalah adanya kata kami yang menggantikan kata Babo sekarang! Aku lega sekali!
Changmin menunjukkan handphonenya padaku. Sebuah pesan terpampang di layar handphonenya itu.
From: Millenia
Itu ciuman terlama yang pernah kulihat, astaga! Kalian keren. Kalian begitu penuh cinta, dengan begini sudah pasti kalian takkan saling membunuh di altar kan?^ ^ Itulah tujuanku. Nah, sekarang bantu aku. Lemparkan darenya ke Yunho. Kita buat dia dan Shana berbaikan, ok? Caranya serahkan saja padaku^ ^ Oh iya, Chukkae! 3
