Mr. Pelit and Miss. Boros
Genre : Romance
Pair : Lee Hyukjae aka Eunhyuk (Namja)
Lee Donghae (Yeoja)
Jessica (Yeoja)
Lee Sungmin (Yeoja)
Cho Kyuhyun (Namja)
Rate : T
Warning : cerita abal dan gaje, OOC, Genderswitch, dan lagi di sini umur mereka sama kecuali Kyuhyun..
Summary : Seorang yeoja yang hanya bisa menghambur-hamburkan uang bertemu namja yang sangat-sangat pelit apa jadinya?
Chapter 5
Normal POV
Pagi ini matahari mulai mengeluarkan bentuk (?) seutuhnya. Sinar matahari mulai masuk melalui selah-selah jendela rumah namja kurus (read: Eunhyuk). Terlihat sesosok yeoja yang sedang tertidur dengan kaki yang di balut perban dan namja yang sedang tertidur di sebelahnya,
"eung..." erang yeoja itu mulai membuka matanya dan mengucek-ucek matanya.
Yeoja itu membuka matanya sesekali mengerjabkan matanya membiasakan dengan cahaya matahari yang masuk ke iris matanya.
Yeoja itu membalikan badannya (tadinya tidurnya munggungin Eunhyuk. Tau kan maksudnya) dan bertapa terkejutnya saat di depannya ternyata namja yang selalu menganggunya. Yeoja itu menutup mulutnya dengan telapak tangannya berusaha tidak teriak dan berusaha untuk tidak menganggu namja yang tidur di sebelahnya.
'kenapa aku bisa tidur di sini dan ini dimana? Dan lagi kenapa ada Eunhyuk di sebelahku apalagi aku tidur seranjang lagi apa yang kami lakukan tadi malam?' batin yeoja itu yang di ketahui bernama Donghae. Donghae menatap Eunhyuk horor.
Perlahan Donghae mengangkat selimutnya dan melihat keadaan tubuhnya.
"hah, syukurlah aku masih memakai baju. Aku kira aku sudah tidak memakai baju." Gumam Donghae yang sepertinya benar-benar parno.
Donghae kembali menutup badannya dengan selimut yang tadi diangkatnya di tidurkan lagi tubuhnya di samping namja yang masih tertidur pulas itu. Di miringkan badannya dan sekarang Donghae menghadap ke wajah Eunhyuk. Donghae terus memandangi Eunhyuk yang sedang tertidur pulas.
"benar-benar tampan." Ucap Donghae sambil tersenyum.
Tangannya terulur ke wajah Eunhyuk dan menyibakkan poni yang menutup dahinya (inget MV Sorry Sorry). Tanpa di sadari yeoja itu memperlihatkan senyumnya. 'aigo benar-benar tampan.' Batinya girang.
Tanganya sekarang sedang mengambil guling yang ada di sebelahnya dan di peluk guling itu dengan eratnya."kau tau saat seperti ini kau benar-benar tampan." Ucap Donghae gemas. Donghae terus memandangi wajah Eunhyuk dan tidak lupa dengan senyum yang selalu menempel di bibirnya.
"aku tau aku tampan. Tapi tidak usah menatapku seperti itu. Kau tau kau menatapku seolah ingin memakanku." Ucap Eunhyuk tiba-tiba dengan keadaan matanya yang masih terpejam. Perlahan tapi pasti Eunhyuk mulai membuka matanya.
Donhae yang mendengar ucapan Eunhyuk tersebut buru-buru mendudukkan badannya hingga tanpa ia sadari Donghae menyenggol kakinya yang di perban dengan keras.
"aaww,... sakit." Rintih Donghae sambil memegang kakinya yang di perban. Sempat terpintas di pikiran Donghae 'siapa yang mengobati kakinya?' tapi dia tidak peduli yang dia pedulikan sekarang adalah rasa sakit yang mendera kakinya akibat ulahnya juga.
Eunhyuk yang mendegar rintihan ke sakitan Donghae buru-buru mendudukan badannya dan sekarang duduk di sebelah Donghae.
"apanya yang sakit?" tanya Eunhyuk panik tingkat akut.
"tentu saja kakiku babo." Ucap Donghae sambil meniup-niup kakinya.
"siapa tau kan sakit yang lain." Ucap Eunhyuk pelan tapi masih terdengar oleh Donghae.
"maksudmu apa?" tanya Donghae bingung. Donghae memberhentikan aktivitas yang meniup kakinya dan menatap Eunhyuk dengan wajah kebingungan.
"a..a...tidak kok. Ti...tidak papa hehehe." Tawa Eunhyuk memperlihatkan gummy smilenya.
Normal POV END
Donghae POV
"aaww,... sakit." Rintihku sambil memegang kakinya yang di perban.
Aku melihat kakiku yang di perban. 'kenapa kakiku di perban? Dan kenapa sangat sakit?' batinku dangan nada yang kesakitan (?).
Eunhyuk buru-buru mendudukkan badannya dan bertanya. "apanya yang sakit?" tanya namja yang sekarang duduk di sampingku terdengar nada penuh kekhawatiran di nada suaranya.
"tentu saja kakiku babo." Ucapku dengan nada yang ketus sambil meniup-niup kakinya.
"siapa tau kan sakit yang lain." Ucap Eunhyuk pelan yang membuatku bingung.
"maksudmu apa?" tanyaku bingung aku memberhentikan aktivitasku yang meniup kakiku dan menatap Eunhyuk dengan wajah kebingungan.
"a..a...tidak kok. Ti...tidak papa hehehe." Tawa Eunhyuk memperlihatkan gummy smilenya.
'kenapa aku jadi berdebar seperti ini?' tanyaku dalam hati.
"tadi kau bilang 'siapa taukan sakit yang lain' Memangnya tadi malam kita melakukan apa?" tanya Donghae dengan nada penuh ketakutan.
"aku mengambil keperawananmu." Ucap Eunhyuk dan menatap Donghae dengan tatapan mesum. Tidak lupa Eunhyuk mengatakan itu sambil menggigit bibir bawahnya sok sexy.
"APA KAU BILANG KAU MENGAMBIL KEPERAWANANKU?" tanya Donghae dengan penuh murka. Melihat Donghae seperti itu buru-buru Eunhyuk mengeluarkan gummy smilenya.
"hehehe nggak kok tenang aja. Aku hanya bercanda." Ucap Eunhyuk yang lupa atau sengaja malah memukul kaki Donghae yang masih di perban itu.
"aaww, sakit Lee Hyukjae." Ucap Donghae terdengar suaranya yang sudah mulai gematar.
"omo, aku lupa." Ucap Eunhyuk sambil memukul dahinya pelan.
Dengan sigap Eunhyuk mendekati kaki Donghae yang masih di perban itu dan meniupnya.
"cup..cup jangan nangis." Ucap Eunhyuk menenangkan Donghae yang hampir menangis. Eunhyuk terus meniupi kaki Donghae. "apa masih sakit?" tanya Eunhyuk dengan raut wajah penuh dengan kekhawatiran. Aku yang masih dengan mata berkaca-kaca hanya bisa menggeleng lemah.
"hah, syukurlah kalau sudah tidak sakit lagi." ucap Eunhyuk lega dan kembali menidurkan badannya di ranjang ini dan mulai memejamkan matanya.
"gomawo." Ucapku lirih sambil menundukkan kepalaku.
Donghae POV END
Eunhyuk POV
Aku terus meniupi kakinya. Padahal kau di pikir kan tidak nyambung sama sekali bayangkan saja kakinyakan tergilir masa aku harus meniupinya tapi ya sudahlah tidak papa yang penting sekarang sudah tidak sakit lagi.
"apa masih sakit?" tanyaku dengan nada penuh kekhawatiran. Jujur saja sekarang ini aku sangat khawatir apa lagi dia sempat hampir menangis dan Donghae hanya menggelengkan kepalanya.
"hah, syukurlah kalau sudah tidak sakit lagi." ucapku lega. Aku mulai membantingkan (?) tubuhku dan kembali tertidur aku mencoba memejamkan mataku.
"gomawo." Entah itu suara siapa tapi itu terdengar sangat lirih.
Aku membelakkan mataku dan kembali duduk tidak lupa aku menatap Donghae dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana tidak bayangkan saja seorang Lee Donghae yang terkenal akan ke sombongannya atau keangkuhannya yang jarang sekali mengucapkan kata 'mianhae dan gomawo' sekarang mengucapkan kata 'gomawo' setelah kemarin mengucapkan kata 'mianhae' ini suatu keajaiban. Aku kembali menatap Donghae dengan tatapan tidak percaya.
"kenapa menatapku begitu?" tanyanya mulai memberanikan diri menatapku.
"kau tadi bilang apa? 'gomawo' benarkah?" tanyaku tidak percaya.
"ti...tidak ka..kata siapa?" tanyanya balik dengan suara yang terputus-putus.
Setelah bertanya seperti itu dia cepat-cepat memalingkan wajahnya dan menatap ke arah lain tidak lupa wajahnya yang telah merah padam dan itu membuatku yakin bahwa dia baru saja mengucapkan kata 'gomawo'. Aku tersenyum melihat wajahnya yang merah pada 'saatnya untuk menggodanya.' Ucapku dalam hati.
"ah, sudahlah jangan bohong tadi kau bilang apa?" tanyaku mulai menggodanya.
"a...aku.. hanya bilang 'gomawo'." Ucapnya lirih.
"apa? ga kedengaran." ucapku mendekatkan telingaku ke wajahnya.
"aku bilang 'gomawo'." Ucapnya dengan suara yang mulai normal.
"hah, masih ga kedengeran." Ucapku lagi dan semakin mendekatkan telingaku ke mulutnya.
"YA, KAU LEE HYUKJAE AKU BILANG 'GOMAWO' KENAPA KAU MASIH TIDAK MENDENGARNYA? APA KAU TULI HEH?" teriaknya dengan penuh amarah dan itu tepat di telingaku. Aku cepat-cepat menjauhkan telingaku dan mengelus-elus telingaku.
"bisakah tidak usah pakai teriak-teriak." Protesku sambil mengelus-elus telingaku. "bisa tuli sungguhan nih aku." Protesku lagi.
"salah sendiri dari tadi aku ngomong masih ga kedengeran ya udah aku teriak aja." Dia mulai membela dirinya sendiri.
Hening...
"kau tidak marah lagi padaku?" tanyanya padaku.
"kalau di tanya sih tentu saja aku masih marah tapi mana mungkin aku meninggalkanmu begitu saja saat kakimu terigilir. itu benar-benar tidak berperi kamanusiaan." ucapku panjang lebar. dan dia hanya diam mendengarkan ucapanku.
"ehm, Hyukie kenapa aku bisa di sini?" tanyanya bingung sambil mengedarkan pandangan matanya ke seluruh ruangan ini.
"kenapa kau tidak suka dengan rumah ini? Kau merasa kalau rumah ini jelek gitu?" tanyaku yang pura-pura dengan nada marah.
"he'emtz, rumahnya jelek bahkan bukan hanya jelek bisa di bilang ini kecil, kotor, kumuh lagi." ucap Donghae yang kelewat jujur. Aku yang mendengarnya hanya bisa sweatdrop 'jujur banget' itulah kata yang terlintas di pikiranku.
Donghae yang menyadari kalau aku hanya diam. Memberhentikan pandangan matanya yang sedang menatap ke ruangan ini dan menatapku.
"kau marah? Lagian ini dimana sih? Apa jangan-jangan ini sungguhan rumahmu lagi?" tanyanya pelan dan aku hanya mengangguk. "ja..jadi ini sungguhan rumahmu?" tanyanya memastikan dan aku hanya bisa mengangguk lagi. "aku tidak tau kalau ini rumahmu lagiankan aku hanya bicara faktanya." Ucapnya dengan tampang tanpa dosanya.
Aku menundukkan kepalaku 'benar-benar jujur' kata itu terlintas di pikiranku.
"oh ya, kenapa aku bisa disini? Dan lagi kenapa kakiku di perban?" tanyanya dan menatapku dalam.
"hah, baiklah jadi begini kemarinkan sepatu yang kau gunakan patah terus..." penjelaskanku terputus.
"aku kan bertanya kenapa aku bisa disini dan bukan bertanya kenapa kakiku bisa begini. Kau ini gimana sih." Protesnya lagi.
"baiklah jadi begini saat aku menggendongmu dan ingin membawamu pulang ternyata kau tertidur ya karena aku tidak tau rumahmu ya sudah aku bawa saja ke rumahku dan lagi aku kasihan melihat kakimu yang seperti itu ya sudah aku perban saja." Jelasku panjang lebar. Aku melirik ke Donghae dan dia hanya mengganguk mengerti.
"apa kau melihat ponselku?" tanyanya kebali mengedarkan padangannya ke seluruh penjuru (?) ruangan ini.
"untuk apa?" tanyaku balik.
"tentu saja menghubungi keluargaku. Kaukan belum membawaku ke rumah sakit." Ucapnya mulai meraih ponselnya yang ada di meja sebelah tempat tidurnya.
Aku yang mendengar ucapan Donghae hanya bisa diam.
"mian, aku tidak bisa membawamu ke rumah sakit. Kau tau kan aku tidak memiliki uang." Ucapku pelan dan menundukan kepalaku.
"eh?" tanyanya bingung.
Donghae yang menyadari aku hanya terdiam cepat-cepat meralat ucapannya.
"maksudku kan tidak mungkin kau membawaku ke rumah sakit malam-malam lagiankan rumah sakit mana sih yang buka jam 4 pagi." Ralatnya dan tersenyum kepadaku sedangkan aku hanya bisa tersenyum miris.
Donghae mulai mencari nama seseorang di kontak ponselnya, setelah menemukan nomer yang ingin di panggilnya Donghae memencet tombol hijau di ponselnya.
"yoboseo." sapa Donghae dengan suara yang ada di seberang.
"..."
"cepat jemput aku di alamat." Donghae menutup ponselnya dengan telapak tangannya dan bertanya padaku. "hey, ini alamatnya apa?" tanyanya.
"alamatnya xxxx (aku ga tau alamat di sana)." Jawabku dan dia hanya menggangguk. Dia mendekatkan lagi ponselnya ke telingganya tidak lupa sebelumnya dia melepas tutupan telapak tangannya dari ponsel itu.
"alamatnya xxxx. Cepat jemput aku dan jangan lama-lama." Perintahnya lagi.
Setelah mengucapkan kata-kata itu Donghae memutuskan sambungan teleponnya.
"Hyukie bisa kau bawa aku ke depan rumah kamu?" tanyanya sedikit ragu.
"hah, baiklah." Ucapku.
Aku turun dari ranjangku dan berjalan mendekati Donghae aku rendahkan badanku supaya bisa menggendong belakang dirinya. Setelah aku menggendong belakang dirinya aku berjalan ke teras depan menunggu seseorang yang tadi di teleponnya.
"apa masih lama?" tanyaku masih menggendong Donghae dan Donghae hanya mengganguk. "bisakah kau menyuruhnya cepat. Kau tau kau sangat berat." Protesku.
"tadi supirku bilang dia akan segera datang mungkin dia masih di perjalanan." Ucapnya.
'oh,jadi itu hanya supirnya.' Batinku lega.
Eunhyuk POV END
Donghae POV
"oh ya, Hyukie kenapa di rumahmu sepi?" tanyaku.
Aku melirik ke wajahnya raut wajahnya berubah menjadi seseorang yang memiliki dendam dan seolah ingin membalas dendam itu.
"apa pedulimu?" tanya Eunhyuk dingin.
'nah lho balik lagi jadi dingin.' aku kebingungan sendiri.
"aku kan hanya bertanya." Aku membela diriku.
"mereka bekerja." Ucapnya singkat.
Kami kembali diam setelah pembicaraan ini. Hingga supirku sudah datang.
"mianhae nonna saya terlambat." Ucap supirku langsung membukakan pintu bagian belakang mobilku.
"ok no problem." Ucapku.
Eunhyuk membawaku ke arah pintu belakang mobilku setelah itu dia menurunkan gendongannya dan menaruhku di jok bagian belakang. Belum sempat aku mengucapkan terima kasih tapi dia sudah berjalan memasuki rumahnya.
"dia kenapa?" tanyaku bingung.
"maaf nonna kakinya saya mau menutup pintunya." Aku yang menyadari itu pun langsung memasukkan kedua kakiku.
Keesokan harinya...
Aku ke sekolah dengan membawa tongkat untung tongkat yang aku beli ini menggunakan bahan yang ringan jadi aku tidak kesusahan mengangkat tongkat ini yah, walaupun harganya sangat mahal tapi biarkan saja. Aku memasukki kelasku dengan susah payah setelah itu aku dudukkan pantatku di kursi Sungmin. Kenapa di kursi Sungmin karena Sungmin masih mengerjakan tugasnya.
"lho Donghae kakimu kenapa?" tanya Sungmin setelah menyadari kehadiranku.
"tergilir." Jawabku singkat sambil meletakkan tongkatku di samping kanan kiriku.
"oh." Jawabnya tak kalah singkat setelah itu dia kembali mengerjakan tugasnya.
"oh ya, kenapa kemarin kamu tidak sekolah?" tanya Sungmin mengalihkan tugasnya dan menatapku.
"aku kemarin di rumah Eunhyuk." Ucapku jujur sambil kembali menatapnya.
"APA?" tanyanya membuka mulutnya lebar dan itu tepat di mulutku.
"aigo, Sungmin kau imut imut mulutmu bau juga." Protesku sambil menutup hidungku.
"hehehe, mian aku belum makan." Dia ketawa innocent. "eh, jangan mengalihkan pembicaraan cepat jawab aku." Dia kembali dengan suara kagetnya.
"memang kau tanya apa?" tanya dengan wajah innocent juga.
"aku bilang 'ap..."
"STOP!" teriakku heboh. "jangan lanjutkan omonganmu bagaimana kalau aku di kasih bau nafasmu itu lagi. Aku tidak mau menciumnya lagi." ucapku.
"makanya kasih tau aku."
"baiklah aku kemarin memang di rumah Eunhyuk gara-gara kemarin lusa aku ketempat kerjanya dan aku ketiduran di tempat kerjanya ketika aku bangun ternyata semua orang yang ada di tempat itu sudah kosong. Ya sudah aku cepat-cepat keluar dari tempat itu untuk mengejar Eunhyuk nah pas aku mengejarnya ternyata sepatu hak yang aku gunakan patah ya sudah aku tergilir." Ucapku panjang x lebar x tinggi. #PLAK ngaco.
"wait, you say 'mengejar Eunhyuk' untuk apa?" tanya Sungmin lagi sok Inggris.
"ehm, mau tau aja." Ucapku dengan wajah yang aku yakini sudah memerah.
"hah, ya sudahlah kalau tidak mau memberi tauku juga tidak papa." Ucap Sungmin.
Sungmin melihat tongkat yang aku gunakan dengan dengan teliti.
"bandrolnya masih menggantung tuh." Ucap Sungmin sambil menunjuk ke tongkatku.
"biarkan sengaja." Jawabku mulai menopang daguku dengan tanganku.
"hay, Donghae kau tau aku sangat bingung dengan sikapmu. Kenapa kau tidak pernah melepas bandrol di barang yang kau gunakan?" tanya Sungmin penuh kebingungan.
"nih ya Sungmin." Aku membenarkan posisi dudukku dan sekarang aku menatapnya. "kau tau kan aku selalu menganti barangku dengan yang baru setiap satu hari sekali." Sungmin hanya mengangguk. "nah setelah itu kan pasti di buang dan pasti di ambil pemulungkan?" tanyaku yang hanya di balas anggukan oleh Sungmin (lagi).
"pasti pemulung itu akan menjualnya kan nah di situ kan ada bandrolnya jadi dia bisa menentukan harganya dengan pas bagaimana kalau dia menjualnya dengan harga murah pasti rugi donk apa lagi kan semua barangku bermerk semua. Apa lagi sepatu yang appa aku belikan dari Italia itu sangat mahal." Jelasku panjang lebar Sungmin masih saja menjawabnya dengan anggukan.
"dan kalau daleman kamu apa masih pake bandrol?" tanyanya lagi.
"tentu saja." Jawabku dengan penuh kepercayaan diri. Sungmin yang mendengarnya hanya bisa shock.
"apa tidak gatal?" tanya Sungmin heran.
"tentu saja tidak kan aku sudah kebal." Jawabku tidak kalah percaya diri seperti yang tadi. "semua barangku itu bermerk termasuk sepatu pembelian appaku. Kau tau kan Sungmin?" tanyaku yang di balas anggukan.
Aku terdiam...
Teng... aku baru ingat sepatu pemberian appaku tertinggal di rumah Eunhyuk.
"AH, SUNGMIN SEPATU PEMBERIAN APPAKU YANG SANGAT MAHAL ITU TERTINGGAL DI RUMAH EUNHYUK. BAGAIMANA INI?" teriakku histeris.
"aish Donghae jangan teriak sehisteris itu baiklah nanti aku dan Kyuhyun akan mengantarkanmu. Dan kau tau Kyuhyun sekarang bawa mobil lho." Ucap Sungmin mulai menyombongkan diri.
"aku tidak peduli." Ucapku ketus Sungmin yang mendengarnya hanya diam seolah sedang memikirkan 'niatnya mau sombong eh, palah di bales gitu jadi ga jadi sombong aja'.
Pulang Sekolah...
"Donghae mana rumah Eunhyuknya?" tanya Sungmin.
"masih lurus." Ucapku sambil melihat ke kanan kiri jendela mobil Kyuhyun.
Ne, memang sekarang aku, Sungmin, dan Kyuhyun sedang berada di dalam mobil Kyuhyun dengan posisiku yang duduk di belakang sedangkan Sungmin dan Kyuhyun duduk di depan. Kami memang sedang berada di perjalanan ke rumah Eunhyuk.
"nah, itu dia rumahnya." Aku menunjuk ke rumah yang bisa di bilang kecil.
"baiklah." Ucap Kyuhyun dan mulai menancapkan gas mobilnya menuju rumah itu.
Kami sudah berada di tepat depan rumah Eunhyuk.
"baiklah aku turun sini saja." Ucapku mulai turun dari mobil Kyuhyun sambil menggunakan tongkat tentunya.
"apa tidak papa aku tinggal disini?" tanya Sungmin mulai khawatir.
"tidak papa aku nanti bisa menelpon supirku supaya menjemputku." Ucapku sambil menutup pintu mobil Kyuhyun.
"ya sudah kalau begitu aku pergi dulu ya Hae jaga dirimu." Ucap Sungmin dan aku hanya mengangguk sambil tersenyum setelah itu Kyumin couple itu pergi.
Aku langkahkan kedua tongkatku ke pintu rumah itu.
Tok...tok..tok...
Tidak lama kemudian pintu itu terbuka terlihat sosok yeoja yang sepertinya sebaya denganku.
"mencari siapa ya?" tanya yeoja itu.
"ehm, aku mencari Eunhyuk." Ucapku.
"oh ya sudah silahkan masuk." Ucap yeoja itu mempersilahkanku masuk.
Aku memasuki rumah ini lagi yeoja tadi menutup pintu dan menghampiriku.
"sini eonnie aku bantu." Tawar yeoja itu dan membantuku berjalan ke kursi yang ada di rumah ini.
Setelah sampai di kursi tempat tamu ini aku segera duduk.
"tunggu ya eonnie aku ambilkan minum." Ucap yeoja itu aku hanya mengganguk. Yeoja itu berjalan ke arah dapur.
Aku melihat ke sekeliling ruangan ini benar-benar sangat kecil. Bayangkan saja ruangan ini langsung tersambung ke segala ruangan di sebelah kiri aku duduk adalah dapur yang hanya di tutup dengan gorden sebelah kananku kamar mandi yang ditutup dengan pintu dan belakangku kamar Eunhyuk yang hanya di tutup dengan pintu. Sungguh keadaan rumah yang sangat kecil.
"ini eonnie minumnya silahkan di minum." Suara itu membuatku berhenti memperhatikan ruangan ini dan menatap yeoja ini. "oh ya eonnie perkenalkan namaku Jessica (Sone saya minjem dulu ya)." Yeoja itu menjulurkan tangannya.
"namaku Donghae."ucapku dan kami pun bersalaman.
"oh ya eonnie ada apa ke sini?" tanya Jessica dan mulai mendudukkan pantatnya di kursi sebelahku.
'dari tadi dia terus saja memanggilku eonnie. Memangnya dia tau kalau aku lebih tua? Apa dia tidak sadar wajahku inikan baby face.' Protesku dalam hati.
"eonnie." Panggil yeoja bernama Jessica itu.
"oh, iya jadi gini aku kesini ingin mengambil sepatu yang waktu itu tertinggal di sini." Ucapku.
"eh, tunggu dulu aku cari di kamar Eunhyuk oppa dulu." Ucap yeoja itu dan mulai berdiri dan masuk ke kamar Eunhyuk. Tidak lama kemudian yeoja itu membawa sepatu yang aku maksud dan mendekatiku. "apa yang ini?" tanya yeoja itu aku hanya mengganguk. Yeoja itu menaruhnya di meja yang ada di hadapanku setelah itu dia duduk di kursi sebelahku.
"Eunhyuk kemana?" tanyaku sambil menatapnya.
"Eunhyuk oppa sedang kerja." Jawabnya.
"oh ya kau sebenarnya siapanya Eunhyuk?" tanyaku memberanikan diri.
"oh, sebenarnya aku tunangannya Eunhyuk oppa." Jawabnya enteng.
'what, dia bilang dia tunangannya. Pupus sudah harapanku terus selama ini untuk apa dia bersikap baik padaku kalau pada akhirnya dia ingin menghancurkanku.' Batinku miris.
TBC
Balasan review
rainy hearT : ya, saya update apa masih lama nih aku updatenya. (iyalah aku ga sadar diri). Udh aku lanjut...
pumpkinkyu : udah aku lanjut... oh ya panggil akunya Nina aja ya biar terbiasa...
JiYoo861015 : tenang Haenya ga di apa-apain kok Cuma di obatin aja kakinya. Kalau mau Ncan nanti aja hahaha
endahhyukiELF : tidak di apa2an Cuma di grepe doan #PLAK just kidding.
Sakyu : udah aku lanjut.
ma'on clouds : waduh aku di panggil author.. panggil aja aku nina ok biar terbiasa aja. Untuk masalah kenapa Donghae yang jadi uke karena ini sesuai dengan fakta Eunhyuk kalau Eunhyuk itukan pelit jadi aku jadikan dia seme.
AngelFishy : udh aku lanjut...
Shyelf : ceritanya panjang? Ga salah nih kalau sama yang ini panjangan yang mana? Hae di bawa ke rumah Eunhyuk mau ngapain? Mau nagih hutang hahaha #just kidding.
hyera : lah yang ini di bilang pendek ceritanya. Gimana yang ini udh panjang? Maklum aku ga suka yang panjang-panjang (?). Kyumin tidak terdengar lagi tapi di sini nonggolkan yah walaupun Cuma numpang lewat hehehe
yayank jewELF : aku ga update kilat ya sorry. Yang bola voly itu baru di ketik judulnya doang hhehe
hyuti: udh update walaupun ga cepet.
KimHanKyu : wah, aku di panggil thor. Paggil aja aku Nina ok. Yap di sini Hyukielah yang jadi yeoja.
Ronah : wah aku di panggil thor lagi. panggil aku Nina aja ya.. udh di lanjut.
Minimi : udh di lanjut..
