Mr. Pelit and Miss. Boros

Genre : Romance

Pair : Lee Hyukjae aka Eunhyuk (Namja)

Lee Donghae (Yeoja)

Lee Jinki aka Onew (Namja)

Rate : T

Warning : cerita abal dan gaje, OOC, Genderswitch, dan lagi di sini umur mereka sama kecuali Kyuhyun..

Summary : Seorang yeoja yang hanya bisa menghambur-hamburkan uang bertemu namja yang sangat-sangat pelit apa jadinya?

Chapter 7

Normal POV

Eunhyuk melihat kepergian Donghae dengan tampang bingungnya.

"Dia kenapa sih?" gumamnya.

Eunhyuk teringat dengan headphonenya yang sudah di injak dengan brutalnya oleh Donghae. "Oh iya headphoneku." Eunhyuk jongkok dan betapa kesalnya dia ketika melihat headphonenya sudah tak berbentuk sama sekali.

Eunhyuk mengangkat headphone yang sudah hancur itu tepat di hadapan wajahnya. "Headphoneku rusak dan tidak berbentuk lagi bagaimana ini?" Eunhyuk meratapi nasib barang barunya yang sudah hancur itu dengan penuh kesedihan.

Eunhyuk menadahkan kedua tangannya dan mengambil bangkai (?) headphonenya yang sudah hancur berkeping-keping. "Hancur sudah headphoneku mana ini gratis lagi kan jarang jaman sekarang ada yang gratis." Eunhyuk terus saja meratapi headphonenya yang sudah hancur dan mulutnya terus saja mengomel tidak jelas.

Eunhyuk berdiri dan berjalan ke rumahnya dengan kedua tangannya yang masih mengakup untuk membawa headphone yang sudah hancur itu terliat raut wajahnya yang menyiratkan akan kesedihan.

"Padahalkan ini bagus, mahal dan yang paling spesial inikan GRATIS kenapa palah rusak?" Eunhyuk terus saja mengomel di sepanjang perjalanan menuju rumahnya.

Dia terus mengomel tidak jelas mulutnya terus saja manyun-manyun hingga akhirnya langkahnya terhenti karena sudah berada di depan pintu rumahnya. "HEY, BUKA PINTUNYA!" Eunhyuk berteriak-teriak dari pintu luar rumahnya.

Cklek~~

Pintu itu terbuka memperlihatkan namja kecil dengan tangan kirinya yang membawa kertas mungkin masih mengerjakan pekerjaan yang di berikan Eunhyuk tadi.

Eunhyuk masuk dengan kepala tertunduk dengan kedua tangannya membawa barang yang seharusnya sudah di buang. Eunhyuk duduk dan menaruh bangkai (?) headphone itu di atas meja lalu Eunhyuk duduk di kursi yang tidak jauh dari meja itu. Sedangkan namja kecil tadi kembali mengerjakan pekerjaannya yang belum selesai yaitu mewarnai.

Eunhyuk terus saja meratapi headphonenya. "Aku harus membuat acara pemakaman untukmu headphoneku sayang." Dia mulai meracau tidak jelas.

"AKU PULANG!" teriakkan seorang namja dari pintu.

"Hey hyung..."

"Hey oppa..." sambutan dari namja dan yeoja kecil itu kompak.

"Hey, juga adik-adikku sayang." Ucap namja itu sambil menutup pintu yang di bukanya tadi.

Namja itu mengedarkan pandanganya dari pintu masuk sepertinya mencari seseorang. "Kemana lagi nih Eunhyuk hyung?" dia bertanya dengan dirinya sendiri.

Dia terus melihat ke seluruh ruangan yang ada di sini dan akhirnya ketemu dia menemukan Eunhyuk yang sedang duduk memunggunginya dengan kepala yang tertunduk sangat dalam. "Nah, itu dia." Namja itu menunjuk Eunhyuk yang masih saja tertunduk lalu berjalan menghampiri Eunhyuk.

"Hey hyung kau kenapa?" namja itu menepuk bahu Eunhyuk yang masih saja tertunduk.

Eunhyuk tidak menggubris ucapan namja yang menepuk bahunya dia masih sibuk dengan pikirannya yang sedang kalut itu. Namja itu melihat ke atas meja.

"Benda apa ini jelek sekali tidak pantas ada di sini." Namja itu mengangkat headphone Eunhyuk yang sudah hancur itu lalu membantingnya kelantai dengan sangat keras dan tanpa perasaan menginjak-injak headphone itu tak kalah brutal (?).

"JANGAN DI INJAK!" Eunhyuk berteriak sangat nyaring sambil mengibas-ngibaskan tanganya dengan gaya slowmosion.

Namja itu menghentikan injakkannya dan mengangkat headphone Eunhyuk yang sudah hancul makin hancur. "Memangnya kenapa?" tanya namja itu dengan tampang watados.

"Berikan padaku." Eunhyuk menadahkan kedua tanganya.

Namja itu berjalan dengan membawa headphone yang sudah hancur itu dan menaruhnya di tangan Eunhyuk. "Aigo sudah hancur makin hancur saja." Eunhyuk meratapi headphonenya yang sudah parah stadium akhir ini.

"Ya sudah buang saja." Namja itu mengatakannya dengan sangat enteng lalu duduk di sebelah Eunhyuk.

"APA KAU BILANG BUANG?" Eunhyuk mulai naik darah dan menatap namja itu dengan tatapan ingin membunuh.

"Iya buang mau buat apa barang jelek kaya gitu? Merusak pemandangan." Namja itu masih saja mengucapkannya dengan enteng dan memandang Eunhyuk dengan tampang watadosnya.

Kepala Eunhyuk mulai ngebul. "Enak saja buang kau tau ini barang GRATIS aku ulangi GRATIS." Eunhyuk makin geram dengan tingkah namja yang di sampingnya ini yang palah menatapnya dengan tatapan tidak bersalahnya.

"Bukannya kalau gratis itu palah lebih enak kalau di buang ya?" masih setia dengan tampang watadosnya.

"HEY, KAU LEE JINKI BARU DATANG SUDAH MEMBUATKU KESAL. KAU TAU INI GRATIS." Eunhyuk makin naik darah dan marahnya sudah tak terbendung lagi.

"Hey juga Lee Hyukjae." Namja itu menyapa Eunhyuk dengan tampang mengejek.

"Kau ini." Eunhyuk nyaris saja memukul namja yang sudah di ketahui bernama Lee Jinki itu dengan headphone masih ditangannya.

"Hehehe, mianhae hyung. Habisnya kau segitunya sekali dengan benda itu lagian kan itu gratis kenapa juga tidak dibuang? Itu sudah tidak bisa di betulkan dan lagi bukannya kalau gratis itu tidak akan membuat kita rugi ya." Lee jinki yang lebih di kenal dengan nama Onew itu mengeluarkan pendapatnya.

"Tentu saja kita rugi." Eunhyuk mulai meredamkan amarahnya dan menaruh headphone tak berbentuk itu kembali ke meja.

"Kok rugi?" Onew menggaruk kepalanya yang memang gatal.

"Baiklah aku jelaskan sesuatu padamu ini tentang pelajaran ekonomi kau siap mendengarkannnya?" Eunhyuk mengatakannya sangat serius dan Onew hanya membalasnya dengan anggukkan.

"Begini ini barang aku dapat gratis bukan?" Eunhyuk menunjuk headphone yang ada di atas meja itu diikuti anggukkan oleh Onew. "Kalau sudah rusak begini pasti aku harus membelinya dan membeli harus pakai uang bukan?" tanya Eunhyuk (lagi) yang di jawab oleh Onew dengan anggukkan (lagi).

"Kau taukan kalau ini gratis dan kau juga tau akan arti gratis itu apa?" Eunhyuk semakin serius.

"Ne, aku tau gratis artinya tidak perlu mengeluarkan uang untuk mendapatkan sesuatu." Onew menjawabnya dengan serius juga. Di pikiran Onew sekarang adalah 'jarang-jarangkan di ajarin pelajaran ekonomi gratis kaya gini jadi lebih baik aku serius saja.'

"Nah saat kita mendapatkan barang gratis dan barang gratis itu hancur terlebih kita sangat menyukai barang gratis itu pasti kita mengingikan barang itu lagi kan? Dan yang lebih pasti kita akan membelinya dan hal yang paling aku benci adalah aku harus mengeluarkan uang untuk hal itu." Onew hanya sweatdrop mendengar hal itu sekarang yang di pikirannya 'aku kira dia akan memberikanku teori ekonomi apa gitu eh, ini sih teori kepelitanya. '-_-

"Aku rugi sekarang." Eunhyuk menyenderkan badanya di senderan kursi.

"Ya sudah tidak usah beli saja gitu saja kok repot." Onew mengatakan itu dengan santai yang tanpa di sadari mendapat deathglare dari Eunhyuk. "Memangnya hyung mendapatkan itu dari siapa?" tanya Onew sambil menatap Eunhyuk yang sedang memejamkan matanya.

Eunhyuk membuka matanya."Dari yeoja yang menembakku kemarin."

"Hyung menerimanya?" tanya Onew yang mulai antusias.

"Tentu saja tidak."

"MWO? Hyung menolaknya tapi mengambil barangnya?" tanya Onew terkejut.

"Hey, aku bukan mengambilnya dia saja yang memberikannya padaku yang sudah aku terima." Eunhyuk kembali duduk dengan posisi tegak. "lagian suruh siapa memberikannya padaku?" Eunhyuk menyenderkan badanya lagi disenderan kursi.

"Benar-benar pelit."Onew mengumam pelan.

"Aku bukan pelit aku hemat." Eunhyuk tidak terima di bilang pelit.

"Ya sudah terserah. Memangnya siapa yang merusak headphone itu?" tanya Onew makin antusias.

"KAU." Eunhyuk menatap Onew tajam dan mengatakannya dengan penuh penekannan.

"Yey sebelum aku injak juga sudah rusak kali." Onew merasa tidak terima di salahkan.

"Oh itu yeoja yang aku sukai." Eunhyuk menjawabnya dengan enteng. Onew membelakkan matanya yang sipit itu.

"Mwo? Yeoja yang kau sukai siapa dia? Apa dia cantik terus apa dia kaya terus apa dia seksi terus apa dia pntar terus apa dia-" ucapan Onew terputus.

"Dari tadi terus mulu nanyanya. Ne, dia sempurna." 'hanya dia boros dan sombong' lanjutnya dalam hati.

"Kok bisa dengan yeoja yang kau sukai bagaimana bisa? Ayo ceritakan!" Onew semakin penasaran. Eunhyuk menegakkan duduknya kembali dan memulai ceritanya.

"Jadi begini tadi dia kesini terus dia menanyakanku begini 'kau dapat dari mana headphone itu?'" Eunhyuk menirukan gaya bicara Donghae. "Aku jawab dong 'oh ini dari yeoja yang menembakku.' Terus dia bertanya lagi 'APA KAU BILANG?' aku perjelas lagi bahwa itu dari yeoja yang menembakku eh dia menyuruhku melepas headphone ini dari leherku setelah aku lepas dia menyuruhku membuangnya tentu saja aku protes eh, dia langsung mengambil headphone dari tanganku dan menginjaknya dengan brutal." Eunhyuk menyelesaikan ceritanya di ikuti anggukkan mengerti dari Onew.

Eunhyuk menyenderkan badanya di senderan kursi (lagi) dan memejamkan matanya mungkin perasaan kesalnya masih menyelimuti hatinya.

"Dia menyukaimu kali makanya dia cemburu waktu kau bilang dari yeoja yang menembakmu." Onew menyimpulkan cerita yang di ceritakan Eunhyuk tadi.

Eunhyuk yang mendengarnya langsung duduk tegak kembali sambil membelakkan matanya. "MWO? Benarkah?" terlihat raut wajah terkejut dari Eunhyuk.

"Hhmm, biasanya begitu." Onew mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Huft, tidak mungkin dia terlalu jauh untuk aku raih dan lagi aku tidak mau berharap dengan hal yang tidak akan mungkin aku dapat." Terdengar nada menyerah dari Eunhyuk.

"Kenapa menyerah terlebih dahulu?" Onew meyakinkan Eunhyuk yang hanya di jawab senyuman sinis.

"Lebih baik aku menyerah karena aku sudah tau akan hasil akhirnya."

Ddrrrttttt...ddddddrrrrrrtttttttt...

Ponsel Eunhyuk bergetardan Eunhyuk merogoh kantong celananya. "Yoboseo." Sapa Eunhyuk.

"..."

"Ne benar. Ada apa?"

"..."

"Jinjja? Baiklah saya kesana sekarang." Eunhyuk memutuskan sambungan teleponnya.

Terlihat raut wajah yang sangat khawatir Eunhyuk berdiri dan langsung mengambil jaket yang ada di sebelahnya masih menggunakan kacamata yang terbal itu lalu berjalan ke arah pintu.

"Hyung kau mau kemana?" tanya Onew yang masih saja duduk di kursi.

"Aku akan ke rumah sakit keadaan Minho dan Jessica memburuk." Eunhyuk terlihat tergesa-gesa. "Tolong jaga adik-adikku aku akan pergi dulu."

Blam...

Pintu tertutup dengan kerasnya.

Di rumah sakit...

"Bagaimana keadaan Minho dan Jessica dok?" Eunhyuk semakin khawatir saat bertemu dokter yang menagani keduanya.

"Keadaan Minho semakin parah sedangkan Jessica juga sama." Dokter itu menarik nafas dan menghembuskan perlahan. "Minho harus mendapatkan perawatan lebih sedangkan Jessica juga sama."

"Terus saya harus melakukan apa?" Eunhyuk masih saja khawatir bahkan sekarang sangat khawatir.

"kita harus membawanya ke UGD hanya saja anda harus mengurus administrasi lebih lanjut setelah semua lunas maka kami akan cepat menangani." Eunhyuk hanya bisa diam mendengar penjelasan dari sang dokter. (sumpah yang ini aku ngarang banget).

Melihat Eunhyuk tidak memberikan reaksi apapun akhirnya dokter itu permisi pergi. "Saya harus melanjutkan tugas saya." Dokter itu pergi.

Normal POV END

Eunhyuk POV

"Aku harus cari uang dimana?" gumamku.

Aku bingung harus mencari uang dimana sekarang dua adikku yang sangat aku sayangi sedang terbaring lemah tak berdaya. Aku mundurkan langkahku setelah badanku membentur tombok aku turunkan badanku dan aku hanya bisa duduk dengan membenamkan kepalaku di kedua lututku.

"Aku harus cari uang dimana?" aku hanya bisa mengumam.

"Hyukkie?" suara seorang yeoja yang membuatku harus melihatnya. "Ah benar itu kau. Sedang apa kau di sini dan kenapa duduk di lantai bukankah ada kursi?" yeoja itu jongkok sehingga tingginya setara denganku.

"Ternyata kau Hae." Aku mengeluarkan senyum terpaksaku.

"Tidak usah tersenyum kalau kau tidak ingin tersenyum." Hae memberikan senyum tulusnya aku kembali menundukkan kepalaku di kedua lututku. "Kau ada masalah?" tanyanya lagi aku menggeleng lemah.

"Dasar bohong." Dia memukul lenganku pelan.

"Permisi." Aku mendongkrakkan kepalaku.

"Ada apa?" tanya Donghae ke perawat yang tadi menyapaku.

"Apa tuan bisa mengurus administrasinya sekarang? Pasien sudah semakin parah keadaanya." Suster itu menanyakan padaku.

"Akan segera aku urus." Aku menjawab dengan suara lemahku.

"Baik tuan." Suster itu pergi.

"Administrasi? Kau sedang membutuhkan uang?" tanya Donghae padaku aku mengangguk lemah. "Kenapa tidak bilang?" tanpa menunggu jawaban dariku Donghae langsung berdiri dan menuju tempat pembayaran.

Aku kembali menundukkan kepalaku di kedua lututku."Apa yang harus aku lakukan untuk mencari uang?" aku masih saja mengumam.

Tidak terlalu lama Donghae datang menghampiriku lagi. "Baiklah sudah aku bayar. Sekarang berdirilah." Donghae menjulurkan tangannya membantuku berdiri.

Aku berdiri dari dudukku. "Kau membayarnya?" tanyaku dia mengangguk semangat. "Gomawo." Ucapku merasa tidak enak.

"Ne." Jawabnya singkkat masih dengan tersenyum.

"Aku akan menggantinya."

"Tidak usah di ganti juga tidak apa-apa." Donghae masih saja tersenyum padaku. Dia melirik jam yang melingkar di tangannya. "Sepertinya aku harus pulang."

"Kau pulang sendiri?" aku bertanya dengan suaraku yang sudah kembali seperti biasa.

"Ne, supirku sedang tidak bisa menjemputku."

"Aku antar." Aku mengatakan itu sambil menggenggam jarinya.

"Baiklah. Aku tidak memaksamu untuk mengantarkanku lho." Dia membalas genggamanku akhirnya jari kami saling bertautan (gandengan).

Kami berjalan ke luar dari rumah sakit ini. "Mau naik apa?" tanyaku.

"Taksi." Jawabnya.

"Bagaimana kalau menunggu taksinya di halte bus jadi kita bisa jalan-jalan dulu?" usulku yang diikuti anggukkan olehnya.

Aku dan Donghae berjalan ke tempat halte bus yang cukup jauh dari kami masih dengan tangan yang bergandengan.

"Siapa yang sakit?" aku mulai pembicaraan.

"Pembantuku tanganya gosong gara-gara kena minyak goreng yang masih panas." Dia menjawab tanpa ada rasa kasian sama sekali.

Aku terkikik geli melihatnya.

"Kalau kau siapa yang sakit?" dia bertanya dengan menatapku dengan memiringkan kepalanya.

"Minho dan Jeessica keadaan mereka semakin memburuk jadi harus dirawat lebih intensif."

"Oh begitu. Memang sakit apa?"

"Jessica seminggu yang lalu terkena DBD sedangkan Minho.." aku menggantungkan kalimatku.

"Kenapa?" tanyanya tidak sabaran.

"kau tau alasanku tidak masuk sekolah akhir-akhir ini?" tanyaku dan menatapnya lembut dan dia hanya menggeleng imut.

"dialah alasan yang membuatku tidak sekolah. Di rumah itu hanya aku, Minho, dan Jessica yang bisa mencari bekerja. Saat itu saat dimana Minho baru pulang kerja dan saat dia baru menyebrang dia di tabrak oleh mobil yang melanggar lalu lintas dan pengendara mobil itu kabur. Sejak itulah dia tidak bekerja dan aku harus bekerja menggantikannya dan hasil uangnya bisa untuk penggobatan Minho dan Jessica." Aku menjelaskannya panjang lebar.

"Oh, begitu." Dia mengangguk mengerti.

Kami kembali diam dengan tangan kami yang saling bergandengan.

"Ehm, Hyukkie kenapa kau tidak pernah mencuci baju dan sepatumu?" tanya Donghae memecahkan keheningan di antara kami berdua.

"Bukankah aku sudah memberi taumu."

"Kapan aku tidak ingat?" dia mengingat-ingat dan mukanya terlihat sangat lucu.

"Sudah jangan diingat-ingat akan aku beritau. Kau tau kalau mencuci baju dan sepatu itu harus memakai sabun bukan?" tanyaku padanya yang sekarang menatapku serius. "Saat kita mencuci baju dan sepatu maka kami membutuhkan sabun dan sabun itu semakin lama semakin habis dan saat habis kita harus membelinya lagi dan membeli membutuhkan uang. Kau tau kan aku hemat?" tanyaku setelah menjelaskannya.

"Kau bukan hemat tapi pelit." Dia meralat pertanyaanku.

"Aku bukan PELIT tapi HEMAT." Aku kembali ke pendirianku.

"Ih, kamu tuh_" ucapanya terputus oleh ucapanku.

"Iya-iya terserah kamu." 'dari pada berantem lagi.' lanjutku dalam hati.

"Terus kalau kau mengeluarkan uang kenapa?" tanyanya lagi.

"Maka aku akan rugi jadi lebih baik aku tidak mencuci baju dan sepatuku. Aku kan mencucinya kalau sepatuku sudah berubah menjadi coklat pekat dan bajuku juga sama kau sudah menjadi coklat pekat." Donghae sweatdrop mendengar ucapanku.

"Pantas kalau di dekatmu bau" Donghae menggumam pelan. "Hyukkie sebenernya kau ini siapa sih?"

"Maksudmu?" aku bingung mendengar pertanyaannya. "Iya kau tau kau sangat misterius kau bisa merubah penampilanmu saat di sekolah penampilanmu sangat buruk dan saat menjadi DJ tampilanmu sangat keren tapi liat sekarang jaket yang kau gunakan memang bagus tapi kacamatamu." Dia melepas kacamata tebal milikku. "Sangat jelek. Kau lebih tampan kalau begini." Dia tersenyum kearahku walaupun samar-samar aku melihatnya karena kacamataku yang dilepas olehnya.

Dia memberikan kacatamu di tanganku."Sekarang jawab pertanyaanku sebenarnya kau siapa?"

Aku mengarti maksudnya. "Sebenarnya aku..."

TBC

Maaf kalau ga ada Humornya sama sekali. Wah aku ga nyangka loh ternyata silent reader di FF ku BUANYAK BUANGAET aku sampe terharu ternyata ada yang mau baca Ffku. Oh ya FF ini akan segera TAMAT, THE END, BUBAR, FIN DLL jadi mau cepet atau enggaknya saya publish liat dulu ya apa masih ada yang minat dengan FF saya yang ini? Kalau ada yang ga minat juga gpp dan ga ush di bikin aja sama kaya 3 Ffku yang aku biarin palah terkesan aku hapus dua di antaranya. Makasih Semua.. buat silent reades juga makasih udh mau membaca ff kayaku

Blasan Review :

rainy hearT : ok dech udh di lanjut. Gimana Hae udh sadar belum nih hehehe makasih udh review

KyuHyunJiYoon : Heyo juga. Ehm, berapa chapter ya..? tenang bentar lagi the end kok jadi kayang ga panjang2. Makasih udh review

Liu HeeHee : Gimana udh cepet belum aku updatenya..? maklum cemburu menguras bak #PLAK maksudku menguras hati jadi di luar kendalinya dech. Makasih udh review

Park Ha Rin : Annyeong juga. Berapa chapter ya... ehm, bentar lagi tamat kok. Kan ini Pair utamanya Eunhae jadi yang lebih di bahas Eunhaenya bukan Hanchulnya. Makasih udh rieview

Eunhaechild : Hore dpt eonnie lagi jadi ngerasa muda hehehe. Maklum insomiaku kambuh jadi ga bisa tidur . Udh di lanjut Makasih udh review

Kang Hyera : status mereka memang belum jelas. Gimana udh update asap belum? makasih udh review

RosaHeartfilia : wah, aku di panggil thor lagi panggil Nina aja ok udah di lanjut makasih udh review

RiriSparkyu : gimana udh kilat belum..? wah dapet yang seumuran hore.. makasih udh review

AngelFishy : ayo kita buat GB dengan aliran musik kosidahan hahaha #mulai ngaco. Wah, aku ga bisa yadong aku masih polos #PLAK. Makasih udh review

endahhyukiELF : Hore dapet eonnie *abaikan juga. Ehm Hyukkie kaya ga ya..? tunggu aja ya. Makasih udh review

ma'on clouds : udh di lanjutin makasih udh review

JiYoo861015 : iya biar keliatan lbh muda gitu hehehe. Gimana udh kilatkah..?makasih udh review

Sychoshawolelf : iya aku maafkan dengan senang hati lagian ga ush minta maaf juga gpp akukan baik #PLAK mulai narsis. Sebelumnya salam kenal juga Sycho aku Nina semoga bisa kita bisa berteman hehehe. Makasih udh review

Shyelf : wah, aku rajin ga salah tuh aku kan males hehehe. Aku ga bisa bikin ciuman yang lama aku masih polos hehehe makasih udh review

nyukkunyuk :yap, panggilnya saeng aja biar karab gitu hehehe udh di lanjutin makasih udh review

stevanie7227 :yang ini juga sama ya humornya ga ada? Lambat laun akan aku buat Eunhae bersatu. Gimana lama ga nih updatenya? Makasih udh review

DeKyu : aku ga bisa bikin NC soalnya aku masih polos #PLAK. Masalah Hae sadarnya kapan tenang aja bentar lagi sadarkok. Gimana updatenya lama ga eonn? Makasih udh Review

KimHanKyu : gimana-gimana udah update kilat belum eonnie...?makasih udh review :_)