Balasan Review :
.
.
nam seulmi : iya udah tamat tapi aku bawa sekuelnya kok semoga suka. Makasih udh review
.
KyuHyunJiYoon : hehehe #nyengir watados. Maaf aku memang tidak ahli dalam EYD #ketahuan ga pinter b. Indonya. Makasih udh review
.
stevanie7227 : iya udah tamat. Benarkah kecepetan? #ga nyadar diri. Sebenernya memang aku cepetin sih hehehe. Iya saya juga ngerasa kok stevanie #sok akrab# kalau endingnya kuarang jadi aku bikin sekuel moga aja suka. Makasih udh review
.
Shyelf : iya udh berubah jadi Batman #Loh?. Ini sekuelnya. Makasih udh review
.
AngelFishy : selain di timpukin pake bunga mawar kita juag di timpukin pake duit tapi duit koin #benjol dong. Hyukkie hanya pelit di Ffku kalau yang asli aku ga tau hehehe. Waduh aku di kasih ingus siap2 bawa pemukul baseball biar tisunya balik lagi hehehe. Makasih udh review
.
endahhyukiELF : akan aku usahakan selalu happy ending hehehe. Gimana sekarang udah ga gensi lagikan? Makasih udh review
.
rainy hearT: iya ending itulah ciri khasnya hehehe makasih udh review
.
nyukkunyuk : iya cie akhirnya jadian juga #apa sih? Yap junjung gratisan terus #salah satu prinsipku #PLAK. Makasih udh review
.
Sakyu :ya udh hapus aja tulisan'the end' nya chingu. #lah emang bisa?. Iya. Makasih udh review
.
onew jinki : trus maunya yang kaya gimana chingu? Hohoho makasih dan makasih juga udh review
.
DeKyu : ini sequelnya. Makasih udh review
.
Chagyumin : ga ketinggalan jauh kok. Yap Onew nonggol #tapi dikit. Hyukkie hanya pelit di ffku kalau yang asli aku ga tau heheheh. Ini ada kisseunya. Makasih udh review dan makasih buat koreksinya
.
Syahita ehs: makasih. Sepertinya sudah mendarah daging #PLAK. Makasih udh review
.
Kang Hyera : Kembali kasih. Kalau Yewook aku usahain dech. Makasih udh review
.
mea hae : iya nanti aku usahain bikinin dech kalau FF aku udah pada tamat ya hehehe #Bocoran bagi yang pengen Eunhae lagi. di Profile..? aku ga nyantumin apa-apa lho chingu di profile aku kecuali nama twitter liat di profile mana nih? Makasih udh review
.
MargarethaELF : bagaimana ini panjang ga? #mana tau org blm baca. Iya kembali kasih makasih juga udh review
.
JiYoo861015: masalahnya emang nonggol di rada akhir hehehe. Hore prok prok prok #tepuk tangan buat Sungmin. Makasih udh review
.
FishyKyu: makasih dan makasih juga udh review
.
.
Mr. Pelit and Miss. Boros
Genre : Romance
Pair : Lee Hyukjae aka Eunhyuk (Namja)
Lee Donghae (Yeoja)
Rate : T
Warning : cerita abal dan gaje, OOC, Genderswitch.
Summary : Hubungan mereka sudah bersatu sayangnya saat hubungan mereka sudah semakin dekat ternyata Eunhyuk menjauh. Apa yang membuat Eunhyuk menjauh dari Donghae?
.
.
Sekarang tepat satu bulan hubungan percintaan antara Donghae dan Eunhyuk. Semua berjalan lancar yah walaupun ada bumbu-bumbu pertengkaran tapi itu pun tidak berujung dengan putusnya hubungan mereka. Mereka hanya bertengkar sebentar setelah itu mereka kembali bermesraan. Bukankah dengan adanya pertengkaran membuat hubungan mereka semakin dekat?
Sekarang mereka sedang berjalan berdua atau bisa di bilang kencan. Mereka sedang berjalan-jalan di pertokoan kota Seoul karena ini hari libur jadi jalanan kota Seoul ini pun cukup ramai. Eunhyuk dan Donghae berjalan saling bergandengan tangan sesekali mereka saling tersenyum. Mereka sangat serasi dengan penampilan Eunhyuk yang tidak menggunakan kacamatanya, rambutnya tidak klimis, dan bajunya juga tidak rapi dengan kata lain Eunhyuk berpenampilan sama seperti saat dia sedang men-DJ. Bukankah itu sangat keren?
"Hyukkie aku lelah~" Donghae menghentikan langkahnya dan nampaknya dia begitu lelah.
"Bagaimana kalau kita ke restoran kita makan atau minum gitu." Usul Eunhyuk.
"Siapa yang mau bayar? Aku tidak membawa uang sepersen pun."
Yap, Donghae memang tidak membawa uang selembar atau sekoin pun karena Eunhyuk yang melarangnya. Eunhyuk yang mengatakan kalau dia akan membayar dan akhirnya Donghae menurut dia tidak membawa selembar atau sekoin uang. Setelah mereka berangkat kencan taunya saat Donghae bilang ingin membeli sesuatu Eunhyuk memberi syarat yaitu barang yang harus di beli adalah barang dengan diskon 80%. Hey itu tidak mungkin dilakukan aleh Donghae!
Walapun Donghae sudah berubah tidak boros lagi tapi, tetap saja dia paling anti dengan barang yang diskonan. Apa lagi dengan barang yang di diskon sampai 80%. Dia benar-benar anti dengan barang yang seperti itu. Dan akhirnya mereka tidak membeli apa-apa hanya berjalan-jalan dan melihat-lihat saja.
Eunhyuk nampak berpikir dengan perkataan Donghae.
"Tentu saja aku yang akan bayar." Jawab Eunhyuk yakin. Donghae menatap Eunhyuk dengan tatapan tidak percaya. Eunhyuk yang menyadari tatapan Donghae yang sepertinya tidak percaya berkata, "Kenapa menatapku seperti itu? Kamu tidak percaya kalau aku yang akan membayarnya?" tanya Eunhyuk ke Donghae. Donghae mengangguk semangat dengan pertanyaan Eunhyuk.
"Aish, kau ini walaupun aku pelit tapi aku tidak akan segitunya juga kali." Eunhyuk kesal karena pertanyaannya di jawab dengan anggukkan semangat oleh Donghae. "Ya sudah ayo kita ke restoran." Ajak Eunhyuk dan menarik tangan Donghae ke salah satu restoran di kota Seoul ini.
.
Eunhyuk dan Donghae masuk ke salah satu restoran yang bisa di bilang besar dan tempat ini juga ramai. Sepertinya Eunhyuk salah membawa Donghae karena ini adalah restoran bintang tujuh (?).
Donghae menatap Eunhyuk yang berdiri di sebelahnya dengan tangan masih bertautan satu sama lain. "Kamu tidak salah mengajakku ke sini?" tanya Donghae menyakinkan.
"Tidak. Aku tidak salah kok." Eunhyuk menjawabnya tanpa menatap Donghae.
Mata Eunhyuk sedang sibuk mencari meja yang kosong. Dan akhirnya ketemu meja itu terletak paling tengah diantara orang-orang elit di sebelahnya. Beruntunglah Eunhyuk berpenampilan cukup keren kalau Donghae tentu saja sangat keren jadi mereka terlihat pantas di tempat ini.
Eunhyuk menarik tangan Donghae dan duduk di kursi yang kosong itu. Seorang pelayan datang dengan membawa buku catatan di tangannya.
"Mau pesan apa tuan?" tanya yeoja pelayan itu dengan mata yang mengedip-ngedip genit ke arah Eunhyuk.
Donghae melihat pelayan itu sedang main mata ke Eunhyuk walaupun Eunhyuk hanya tersenyum ke pelayan itu tetap saja itu membuatnya kesal.
"Hey kenapa mata eoh? Kelilipan?" Donghae membentak pelayan itu. Sepertinya cemburu mulai membakar hatinya. Pelayan itu terlihat ketakutan saat di bentak Donghae.
"Sudahlah Hae. Kau ingin pesan apa Hae?" tanya Eunhyuk ke Donghae yang mulai asyik membaca nama-nama makanan di buku menu itu.
"Aku pesan steak daging dan minumnya guava juice."jawab Donghae. Pelayan itu menulis apa yang di ucapan Donghae.
"Apa ada lagi?" tanya pelayan itu.
"Tidak itu saja." Jawab Eunhyuk.
"Baiklah tunggu beberapa menit lagi." pelayan itu meninggalkan mereka.
"Kau ini galak-galak sekali." Kata Eunhyuk.
"Dianya genit gitu. Ngapain coba matanya ngedip-ngedip gitu?" tanya Donghae sewot.
"Mungkin kelilipan kali." Bela Eunhyuk.
"Kenapa kau membelanya dan lagi kenapa kau tadi senyum ke yeoja itu?" tanya Donghae masih sewot.
"Aku tidak membelanya itu kan 'mungkin' dan kenapa tadi aku membalas senyuman yeoja itu? Itukan karena memang aku yang murah senyum." Jawab Eunhyuk.
Amarah Donghae mulai meredam. "Kenapa kau tidak memesan makanan?" tanya Donghae yang sudah tidak sewot.
"Itukan kita makan dan minum berdua." Jawab Eunhyuk santai.
"Mwoya?" tanya Donghae dengan kagetnya.
"Ne kita makan berdua. Bukankah itu lebih romantis kalau di makan dan diminum berdua? Apalagi itu kan bekas kamu dengan begitu kita seolah-olah ciuman secara tidak langsung." Jawab Eunhyuk yang masih saja santai.
"Romantis sih romantis tapi tidak segitunya juga kali." Gumam Donghae pelan.
"Kau bilang apa?" tanya Eunhyuk yang mendengar suara Donghae yang samar-samar.
"Ani." Jawab Donghae sambil menggelengkan kepalanya.
.
Mereka makan sesuai dengan perkataan Eunhyuk yaitu satu piring berdua satu gelas berdua dan itu sangat so sweet –kata Eunhyuk- dengan para pengunjung lain yang rata-rata orang elit itu menatap mereka aneh.
.
.
Skip time... (satu bulan kemudian)...
.
.
Donghae POV
.
Sakarang kalau di hitung mundur hubunganku dan Eunhyuk sudah dua bulan sesuatu yang bagus. Tapi kenapa akhir-akhir ini dia seolah menghindar dariku ya? Apa aku punya salah?
Aku bingung satu bulan belakangan ini atau kalau di ingat-ingat dia menjauhiku sejak kencan kita yang satu bulan yang lalu, apa dia marah karena aku memesan makanan itu? Kalau iya kenapa dia pelit sekali?
Teng... ting... ting... bel pulang sekolah berbunyi.
Aku segera memasukkan buku ke dalam tasku dan meninggalkan Sungmin yang memanggil-manggil namaku. Aku tidak peduli dengan panggilan Sungmin yang aku pentingkan sekarang adalah ke kelas Eunhyuk dan bertanya apa salahku hingga membuatnya menjauh dariku akhir-akhir ini.
Aku melihat Eunhyuk yang baru saja keluar dari kelasnya. Dan liat penampilannya saat sekolah benar-benar berbeda 180% saat aku dan dia kencan satu bulan yang lalu. Penampilannya sekarang adalah memakai kacamata bulat dan tebalnya, memakai baju super rapi dengan kancing baju yang dikancingkan sampai atas pokoknya berbeda 180% atau mungkin 360%.
"HYUKKIE!" teriakku dengan kerasnya dan membuat langkah namjachinguku itu berhenti. "Bisa kita bicara?" tanyaku setelah aku berdiri tepat di hadapan Eunhyuk.
"Mianhae chagi aku harus pergi." Ucap Eunhyuk dan mencium pucuk kepalaku. "Bye." Dia melambaikan tangannya dan pergi.
"Dia kenapa menjauhiku?" ucapku lirih.
.
.
Skip time (satu bulan kemudian (lagi) )...
.
Menyebalkan! Ini sudah keterlaluan secara ini adalah ke dua bulannya dia mencuekkan dan mengacuhkan aku di hubungan aku yang baru tiga bulan. Sungguh ironis kisah percintaanku ini tiga bulan pacaran dua bulan di acuhkan atau bisa dibilang dia menjauhiku tanpa sebab sangat aneh.
Ini semakin membuatku kesal dan jengkel karena dia tidak menelpon dan juga sms. Dan saat aku bertanya 'nelpon ga pernah sms ga pernah.' Dia Cuma bilang 'aku ga punya pulsaaaaa.' Dan itu menyebalkan!
Dan saat aku menelpon atan mengsms dirinya dia juga tidak mengangkat dan membalas smsku. Ok kalau membalas sms mungkin itu bisa di jawab dengan jawaban 'aku ga punya pulsaaaa' tapi kalau mengangkat telpon sepertinya itu tidak bisa di jawab dengan jawaban yang seperti itu.
Dan yang lebih membuatku kesal adalah dia susah sekali di ajak ke temuan entah itu disekolah atau pun diluar sekolah. Aku benar-benar kesal!
Sekarang aku ada di kamarku aku tidur-tiduran dengan malasnya beruntunglah hari ini hari libur jadi aku bisa malas-malasan sepuasnya. Hore!
Brak... pintu kamarku yang memang tidak pernah terkunci itu di buka dengan keras oleh yeoja imut.
Yeoja yang sudah diidentifikasi bernama Lee Sungmin itu datang langsung mendudukkan pantatnya di ranjangku yang empuk ini.
"Hae bangun~" dia menguncang-guncang badanku. Berusaha membangunkanku rupanya.
Padahal akukan hanya memejamkan mataku tidak benar-benar tidur.
"Hae aku bilang bangun!" dia mulai menguncangkan badanku dengan keras.
Aku terganggu dengan perlakuan Sungmin. Aku langsung terduduk. "Apa sih?" aku sedikit membantaknya. Dia memanyunkan bibirnya.
"Kenapa membentakku?" tanyanya dengan nada yang di buat-buat sedih.
"Kau sendiri kenapa menggangguku?" tanyaku ketus dan menidurkan badanku lagi.
"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Aku bosan di rumah." Nadanya masih saja di buat-buat sedih.
"Kenapa tidak dengan Kyuhyun?" tanyaku.
"Dia sedang menjemput ummanya di bandara." Lanjutnya.
Aku diam sejenak memikirkan sesuatu. Mengingat nama umma aku jadi ingat dengan ummaku. Semalam ummaku menelponku dan mengatakkan bahwa dia akan pulang besok. Ehm, sepertinya memberikan sesuatu ke umma adalah ide yang bagus juga.
"Bagaimana mau tidak Hae?" tanya Sungmin.
"Baiklah aku mau." Jawabku.
"Yey! Kajjia..." dia langsung menarikku.
.
.
Di tempat belanja..
.
"Wah Hae kita datang di saat yang tidak tepat." Ucap Sungmin.
"Tidak tepat apanya?" tanyaku ke Sungmin yang sekarang sedang menundukkan kepalanya.
Apa dia menyesal datang kemari?
"Sekarang sedang tidak ada diskon jadi aku tidak bisa beli apa-apa." Ucapnya masih menundukkan kepalanya.
Aku tersenyum tipis melihat sahabatku ini.
"Ya sudah sekarang antarkan aku membeli kalung." Aku menarik lengannya.
"Kemana?" tanyanya yang tentu saja –menurutku- tidak bermutu itu.
"Ke toko bangunan." Jawabku. Dia memberhentikan langkahnya aku yang menyadari itu pun ikut berhenti. Aku menatapnya nampak Sungmin sedang bingung.
"Kok ke toko bangunan?" tanyanya masih bingung.
"Tentu saja ke toko emas Lee Sungmin yeojachingunya Cho Kyuhyun." Jawabku menekan namanya dan Kyuhyun –namjachingunya-.
Dia tersipu malu. "Aku kira sungguhan di toko bangunan." Jawabnya malu-malu.
Aku menghela nafasku melihat sahabatku yang polos ini. "Kajjia kita kesana..." aku menariknya lagi ke toko emas yang ada.
.
.
Aku dan Sungmin tiba di depan toko emas yang menurutku sangat besar ini.
"Ehm, Sungmin kamu tunggu dulu di sini ya aku mau ke toilet dulu." Jawabku melepas gandengan tanganku dari Sungmin dan langsung berjalan ke toilet tempat perbelanjaan ini.
Donghae POV END
.
.
Sungmin POV
.
"Donghae lama sekali ke kamar mandinya." Gumamku sesekali aku melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku.
Aku masih berdiri dan kadang mondar-mandir di depan toko emas ini dan para penjaga toko emas ini mulai menatapku curiga. Apa mereka pikir aku akan merempok? Lebih baik aku masuk saja dari pada mereka menatapku dengan tatapan penuh curiga seperti itu.
Baru saja aku masuk ke toko emas sudah ada yang berhasil mengalihkan pandanganku. Aku melihat sosok namja kurus yang sepertinya aku kenal. Namja itu sedang memilih-milih cincin dengan sesosok yeoja yang seperinya lebih tua dariku dan Donghae. Aku menyimpitkan mataku berusaha mempertajam indera pengelihatanku ini dan benar aku mengenal namja yang sedang memilih cincin itu.
"Eunhyuk..." panggilku pelan.
Jarakku dan Eunhyuk cukup jauh. Aku mendekatinya perlahan. Good, tebakkanku benar dia Eunhyuk. Mereka berdua (read : Eunhyuk dan yeoja yang bersama Eunhyuk) sedang mencoba cincin yang di pilih Eunhyuk mereka tersenyum bahagia.
Aku memundurkan langkahku kembali keluar dari toko emas ini. Aku sudah keluar dari toko emas itu.
"Sungmin, sedang apa kamu disini? Kenapa tidak masuk?" ternyata Donghae telah berdiri di belakangku.
"Ehm... itu... aku...ehm... sebaiknya kita tidak usah di toko ini." Ucapku berusaha menarik tangan Donghae. Donghae melepaskan tanganku dari tanganya.
"Aku ingin toko ini." Jawabnya dan mulai berjalan ke toko emas itu. Aku berjalan dan berhenti di hadapannya membentangkan tanganku. Berusaha menghalangi langkahnya.
"Jangan masuk!" Ucapku berusaha menghalanginya.
"Kamu kanapa sih, Sungmin? Aku ingin masuk." Dia menggeserkan badanku dan masuk ke dalam toko itu.
Sial aku gagal menghalanginya masuk ke toko ini! Bisa-bisa perang dunia ke 3 nih kalau Donghae ngamuk!
Aku ikut masuk ke toko emas ini. Tepat aku mendapatkan Donghae tengah berdiri terpaku melihat Eunhyuk dan yeoja yang aku sendiri tidak tau ini sedang mencoba cincin.
"Donghae." Panggilku mengguncang-guncangkan badannya.
Donghae tidak menggubris panggilanku matanya masih fokus melihat Eunhyuk. Dia melangkahkan kakinya dan berjalan mendekati Eunhyuk. Tangannya mengepal kuat rupanya dia berusaha menahan amarahnya.
"Hyukkie.." panggil Donghae pelan, saat Donghae telah di samping Eunhyuk dan yeoja itu.
Semoga tidak terjadi perang dunia ke 3.
Sungmin POV END
.
.
"Hyukkie..." panggil Donghae pelan. Namja yang dipanggil Hyukkie itu menenggokkan kepalanya ke suara yang memanggil namanya.
"Hae..." panggil namja itu terkejut.
"Sedang apa kamu disini?" tanya Donghae mulai ketus. Sungmin hanya bisa berdiri di belakang Donghae, berdoa supaya Donghae tidak ngamuk.
"A... aku..."
Donghae melihat ke tangan Eunhyuk sedang membawa cincin dan matanya beralih ke jari manis yeoja yang ada di depannya. Tepat cincin yang di gunakan yeoja itu sama dengan cincin yang sedang dibawa Eunhyuk.
"Kalian.." Ucap Donghae tidak percaya.
"A... aku bisa jelaskan." Eunhyuk menaruh cincin itu dan berusaha menggenggam tangan Donghae. Donghae menghindari tangan Eunhyuk.
"Apa yang mau kau jelaskan padaku, Lee Hyukjae ? kau membohongiku!" Donghae menekan nada suaranya.
"Aku bilang aku bisa jelaskan." Eunhyuk masih berusaha menjelaskan ini ke Donghae.
PLAK... satu tamparan keras mendarat di pipi Eunhyuk.
Yap siapa lagi kalau bukan Donghae yang menamparnya. Donghae mulai menangis.
"Kenapa kau membohongiku LEE HYUKJAE ? Kalau kau memang tidak mencintaiku lagi katakan padaku. Jangan seperti ini!" Donghae mengusap air matanya kasar. "Lebih baik kita PUTUS." Ucap Donghae dan menarik lengan Sungmin. "Ayo Sungmin kita pulang." Donghae dan Sungmin meninggalkan toko itu.
Eunhyuk berdiri seperti patung. Dia terkejut dengan ucapan Donghae yang itu berarti hubungannya dan Donghae berakhir.
.
.
Skip time... (seminggu kemudian)
.
Donghae berubah menjadi pendiam tidak seperti biasanya yang bawel. Dia terus menghindar, mengacuhkan, dan bahan menganggap Eunhyuk tidak ada. Rupanya sakit hati yang sekarang ia rasakan membuatnya berubah.
"Huft..." dia menghembuskan nafasnya bosan entah sudah beberapa kali.
Donghae sedang bosan menunggu supirnya yang tidak kunjung datang. Dia duduk di kursi halte bus yang berada disebelahnya. Kakinya di goyang-goyangkan dan kepala tertunduk dan dia benar-benar bosan.
"Masih menunggu supirmu?" suara seorang namja yang membuat Donghae mendongakkan kapalanya menatap namja itu.
"Bukan urusanmu!" jawab Donghae ketus dan kembali menundukkan kepalanya.
Namja yang berdiri dihadapan Donghae itu tersenyum simpul dan mengamil kertas yang ada di kantong celananya.
"Datanglah ke sini." Namja itu memberikan kertasnya ke Donghae yang sedang tertunduk. Donghae mengangkat kepalanya dan menatap namja itu.
"Atas hak apa kau memerintahku Lee Hyukjae!" seru Donghae tidak terima di perintah.
"Aku ingin memberi taumu sesuatu," Jawab namja yang di ketahui benama Lee Hyukjae itu. Hyukjae atau Eunhyuk itu tersenyum dan mengacak lembut rambut Donghae. "Aku harap kau bisa datang. Dan jangan membawa uang sepersen pun." Setelah mengatakan itu Eunhyuk pergi meninggalkan Donghae.
Donghae melihat kertas itu malas. Membaca beberapa kalimat yang tertera di kertas itu dan rupanya kalimat itu menjelaskan tentang alamat dan Donghae tau alamat ini.
"Jadi dia mengajakku ke dunia fantasi." Gumam Donghae masih melihat ke kertas pemberian Eunhyuk. "Dan dia juga menyuruhku tidak boleh membawa uang," gumamnya dan meremas kertas itu dan membuangnya sembarangan.
"Kalau aku tidak membawa uang pasti kejadian waktu itu terulang lagi." Donghae kembali teringat saat kencannya bersama Eunhyuk yang berakhir dengan satu minuman dan makanan di makan dan diminum berdua.
.
.
Malam harinya Donghae berpikir keras apa dia harus ke tempat itu atau tidak. Dia terus berpikir hingga membuatnya tidak bisa tidur.
"Aaarrrggghhh!" Donghae mengacak-acak rambutnya frustasi. "Bagaimana ini apa aku harus datang?" tanyanya sendiri. Sungguh dia kalut dengan masalah ini.
"Apa sebaiknya aku datang? Lagian aku penasaran apa yang ingin dia berikan padaku?" Donghae masih saja bicara sendiri. "Baiklah aku akan datang saja."
.
.
Keesokkan harinya...
.
Donghae bersiap datang ke tempat yang Eunhyuk suruh hanya saja dia membawa tas kecil yang pasti berisi uang. Dia tidak mau kejadian waktu itu terulang lagi. Donghae menggunakan mantel tebal mengingat sekarang sedang cuaca cukup dingin.
Sekarang Donghae sedang berjalan ke gerbang masuk dunia fantasi ini. Terlihat di depan gerbang yang menjulang tinggi itu namja tanpa menggunakan kacamata, menggunakan mantel berwarna hitam dan tebal, sarung tangan, dan menggunakan sepatu.
Donghae sekarang berdiri di hadapan Eunhyuk yang sedang memasukkan tangannya ke kantong celananya.
"Ternyata kau datang juga." Eunhyuk tersenyum senang karena Donghae datang.
"Untuk mengisi waktu luang." Jawab Donghae masih saja cuek.
"Kajjia... ayo kita masuk!" Eunhyuk menarik tangan Donghae. Eunhyuk menyadari Donghae tidak menggunakan sarung tanganpun menghentikan langkahnya dan menatap tangan Donghae.
"Kamu tidak menggunakan sarung tangan?" tanya Eunhyuk. Donghae menggeleng. Eunhyuk tersenyum tipis dan melepas semua sarung tangannya dan memakaikannya ke tangan Donghae. "Bagaimana lebih hangat?" tanya Eunhyuk. Donghae hanya mengangguk.
"Tapi bukankah kalau begitu maka kamu yang akan kedinginan?" tanya Donghae. Mendengar itu Eunhyuk semakin senang berarti Donghae masih peduli dengannya.
"Lebih baik aku yang ke dinginan di bandingkan kamu yang ke dinginan." Eunhyuk tersenyum simpul. Donghae melepas sarung tangan yang ada di tangan kirinya lalu memasangkannya di tangan kiri Eunhyuk.
"Nah, dengan begini kita setengah dingin setengah hangat." Serunya dan tersenyum dan itu senyum pertama yang Donghae berikan saat terakhir dia mengatakan putus ke Eunhyuk. Eunhyuk langsung menautkan tangan kanan ke tangan kiri Donghae.
"Kalau begini kita pasti akan lebih hangat." Eunhyuk tersenyum ke arah Donghae. "Kita terlalu lama di sini lebih baik kita masuk saja. Tapi tunggu kenapa kamu membawa tas?" tanya Eunhyuk saat melihat tas kecil yang di gunakkan Donghae.
"Ini untuk jaga-jaga kau kan pelit." Eunhyuk yang mendengar itu pun mendengus kesal. Lagi-lagi di bilang pelit padahalkan Eunhyukkan irit.
"Aku tidak mau kau mengeluarkan uang biar aku saja yang membayar semua." Jelas Eunhyuk.
"Pasti ada syaratnya." Gumam Donghae tidak pelan.
"Tenang sekarang tidak akan ada syaratnya." Ucap Eunhyuk.
Akhirnya Eunhyuk menitipkan tas itu ke tempat penitipan barang yang memang ada sebelum kita masuk ke dunia fantasi ini. Dan liat sekarang Donghae tidak membawa uang seperser pun masuk ke dalam dan Donghae berdoa semoga ke jadian waktu itu tidak terulang lagi.
Donghae bingung darimana Eunhyuk dapat uang untuk tiket masuk ke dunia fantasi ini?
"Kamu ingin naik apa?" tanya Eunhyuk ke Donghae dan tangan mereka masih bertautan (bergandengan).
"Aku mau naik tornado." Jawab Donghae dengan mata yang berbinar-binar cerah.
Eunhyuk menelan salivanya kelu. Sebenarnya dia sangat takut kalau di suruh naik wahana sejenis itu. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi dahinya.
"Apa kau takut?" tanya Donghae saat melihat reaksi Eunhyuk yang hanya diam.
Eunhyuk menggeleng kaku dengan senyum yang di paksakan."Aku tidak takut. Aku kan namja mana mungkin aku takut." Jawabnya sok berani.
Senyum di bibir Donghae semakin melebar. "Bagus ayo kita naik!" Donghae menarik paksa Eunhyuk.
.
Mereka sudah duduk di wahana tornado ini.
"Kalian siap?" tanya petugas menggunakan speaker.
"SIAP!" teriak semua kecuali Eunhyuk. Eunhyuk masih mengatur detak jantungnya yang berdetak begitu hebat dengan keringat yang masih saja bercucuran dengan indahnya di dahi Eunhyuk.
"1... 2... 3..." hintung petugas itu dan wahana tornado itu pun langsung berputar dan membanting ke sana ke mari.
"HUWA...!" teriak mereka semua. Apa lagi Eunhyuk dia berteriak sangat keras.
"KYA!" Eunhyuk berteriak sangat keras membuat Donghae yang duduk di sebelahnya menutup ke dua telinganya dengan tangannya.
.
.
"Terima kasih telah menaiki wahana ini. Silahkan kembali lagi. " begitulah suara dari pengeras suara yang ada di sekitar wahana itu.
Greekk suara pengaman yang terbuka...
Donghae turun dari tempat duduk wahana itu dengan wajah cerah berbeda dengan Eunhyuk yang turun dengan wajah mendung dengan tangan kanan yang menutup mulut dan tangan kiri memegang perut sepertinya dia akan muntah.
Donghae berdiri dengan tegak senyumnya tidak pernah pudar dari wajahnya –efek dari rasa senangnya- sedangkan Eunhyuk sedikit membungkukan badannya dan dia benar-benar ingin muntah.
Donghae melirik sekilas ke Eunhyuk melihat keadaannya. Eunhyuk sekarang tengah jongkok dengan tangan yang masih menutup mulut dan memegang perut. Donghae mulai panik melihat Eunhyuk yang sepertinya buruk dia ikut berjongkok.
"Gwenchana?" tanya Donghae sambil mengelus punggung Eunhyuk.
Eunhyuk tidak menjawab dia diam dengan wajah yang semakin pucat dan pipi yang di kembungkan.
'sepetinya keadaannya buruk. Dan sepertinya dia akan muntah.' Pikiran itu terlintas di pikiran Donghae.
"Ayo berdiri kita ke tong sampah. Jangan muntah di sini." Donghae memapah Eunhyuk ke tong sampah yang tidak terlalu jauh dari tempat itu.
Tidak membutuhkan waktu lama setelah sampai di tong sampah Eunhyuk langsung memutahkan semuanya. Donghae hanya bisa memijit tengkuk belakang leher Eunhyuk walaupun dia juga sebenarnya jijik.
"Kenapa tidak bilang kalau kamu tidak bisa naik wahana itu?" tanya Donghae masih memijit tengkuk leher belakang Eunhyuk.
"Itu karena- huwekkk..." Eunhyuk muntah lagi.
Setelah puas memutahkan semua makanan. Donghae memapah Eunhyuk jalan untuk duduk di kursi panjang yang berada di bawah pohon. Donghae memdudukkan Eunhyuk di tempat itu dan dia menjulurkan tangannya seolah dia ingin meminta uang.
"Ada apa?" tanya Eunhyuk yang masih lemas.
"Tentu saja minta uang. Kau tau aku tidak membawa uang sepersen pun." Jawab Donghae dingin walupun terselip rasa khawatir di sana.
Eunhyuk merogoh kantong celananya setelah itu dia memberikan beberapa lembar uang ke Donghae, "Jangan beli yang macam-macam." Ucap Eunhyuk yang masih lemas. Donghae tidak menggubris ucapan Eunhyuk dia langsung mengambil uang itu dan pergi.
.
Eunhyuk masih duduk dengan wajah yang sudah tidak terlalu pucat dengan kepala yang tertunduk menatap ke bawah. Donghae datang dengan membawa sebotol air mineral yang tidak dingin dia memberikannya ke Eunhyuk. Eunhyuk mendongakkan kepalanya.
"Minumlah untuk mengganti cairan dalam tubuhmu." Donghae mengatakkannya tanpa menatap Eunhyuk.
Eunhyuk mengembilnya dan berkata, "Gomawo." Eunhyuk membuka tutup batol itu dan meminumnya.
"Ini kembaliannya." Donghae menyerahkan uang kembalian yang Eunhyuk tadi berikan.
"Kau tidak membali apa-apa?" tanya Eunhyuk setelah selesai meneguk air mineral itu.
"Aku sedang tidak nafsu jajan." Jawab Donghae masih tanpa melihat Eunhyuk.
Eunhyuk yang merasa sudah lebih baik dia berdiri dari duduknya sambil menepuk-nepuk celananya yang sedikit kusut.
"Sekarang giliranku yang memilih wahana selanjutnya," Eunhyuk mengenggam tangan Donghae. Donghae sempat kaget saat tangannya di genggam Eunhyuk tapi entah mengapa dia tidak berniat untuk menolak perlakuan Eunhyuk. "Ayo kita ke rumah hantu!" Eunhyuk berkata dengan semangatnya dan langsung menarik Donghae ke rumah hantu. Dia tidak peduli dengan protes yang di layangkan Donghae.
.
Di depan rumah hantu..
.
Eunhyuk masih menggengam tangan Donghae. Eunhyuk sedang membeli tiket masuk sambil menggengam tangan Donghae sedangkan Donghae sedang menekuk wajahnya. Kesal. Setelah membeli tiket Eunhyuk menarik tangan Donghae –lagi- untuk menunggu giliran mereka masuk. Beruntunglah sekarang tidak terlalu ramai jadi mereka tidak membutuhkan waktu yang lama.
"Sebentar lagi giliran kita yang akan masuk." Ucap Eunhyuk girang.
"Aku tidak mau." Jawab Donghae memanyunkan bibirnya.
"Kenapa kamu takut?" tanya Eunhyuk sedikit mengejek.
Donghae yang mendengarnya langsung salting., "Mana mungkin aku takut. Aku hanya sedang malas saja terlalu sering aku ke rumah hantu." Donghae mengeluarkan alasannya.
Dalam hatinya Donghae bersumpah tidak akan mau masuk ke rumah hantu itu dia sangat takut dengan hal-hal gaib yang menurutnya seram. Seumur hidup dia tidak akan mau masuk ke rumah hantu ucapannya itu hanya sebagai alasan.
"Kalau begitu temani aku saja. Bagaimana?" tanya Eunhyuk mulai menjaili Donghae.
"Aku bilang aku tidak_"
"Giliran selanjutnya." Seorang penjaga yang berdiri di depan pintu masuk rumah hantu itu mempersilahkan mereka berdua masuk.
Eunhyuk yang mendengar itu langsung menarik Donghae.
"Mau..." lanjut Donghae karena ucapannya terputus tadi.
.
Mereka memasuki ruangan gelap yang hanya sedikit cahaya yang ada. Mereka duduk di kereta duduk yang berjalan. Karena rumah hantu ini yang menyediakan satu kereta yang biasanya di naiki 4 orang berhubung hanya ada dua orang (read : Eunhyuk dan Donghae) jadi hanya mereka berdua yang ada sekarang. Kereta itu sudah berjalan membuat Donghae tidak bisa kabur kemana-mana. Donghae mencengkram tangan Eunghyuk keras –efek dari ketakutannya- Eunhyuk hanya tersenyum melihat tingkah Donghae yang ke takutan itu.
"Kau takut?" tanya Eunhyuk. Donghae yang mendengar pertanyaan atau meremahkan dari Eunhyuk itu melepaskan cengkraman tangannya dari Eunhyuk dan duduk dengan sok berani.
"Tentu saja aku berani." Jawab Donghae sok berani walau wajahnya tidak bisa di bohongi karena wajahnya yang sudah pucat.
.
Kereta itu sudah mulai berjalan dan Donghae masih bergaya sok berani. Baru beberapa meter kereta itu berjalan datang boneka hantu yang sangat menyeramkan tepat di wajah Donghae membuat Donghae berteriak sekencang-kencangnya.
"KYA!" Donghae langsung memeluk Eunhyuk. Eunhyuk tersenyum senang saat Donghae memeluknya. Lumayan kesempatan dalam kesempitan pikirnya.
"Tenanglah mereka hanya boneka." Eunhyuk menenangkan Donghae yang masih memeluknya dan menenggelamkan kepalanya di lengan Eunhyuk.
"Aku tidak mau." Jawab Donghae dengan suara yang ketakuan dan menggelengkan kelapanya di lengan Eunhyuk.
Eunhyuk tersenyum senang mendapat perlakuan seperti itu.
Sepanjang perjalanan di rumah hantu itu Donghae terus saja memeluk Eunhyuk dan menenggelamkan kepalanya di lengan Eunhyuk dia tidak berani melihat apapun barang sedikit pun. Sedangkan Eunhyuk terus saja senyam-senyum gaje yang mungkin membuat boneka hantu itu takut muncul karena menyangka Eunhyuk gila #PLAK. Hingga sekarang kereta itu telah berhenti –menandakan permainan selesai- Donghae masih saja memeluk dan mengenggelamkan kepalanya ke Eunhyuk.
"Terima kasih karena sudah berani memasuki rumah hantu ini." Suara pengeras suara yang ada di rumah hantu itu.
"Hey berhentilah memelukku. Sudah tidak ada lagi hantunya dan sekarang pemainan ini sudah selesai." Eunhyuk mengerakkan tangannya yang menjadi tempat Donghae menenggelamkan wajahnya itu.
Donghae yang mendengarnya langsung melepaskan pelukkannya dan menegakkan duduknya sok berani lagi.
"Katanya BERANI? Dan katanya juga sudah biasa. Kok gitu saja takut?" Eunhyuk mulai menggoda Donghae.
"Aku hanya acting." Jawab Donghae.
"Oh ya?" tanya Eunhyuk tidak yakin.
"Iya aku hanya_"
"KYA!" Donghae kembali berteriak ketakutan saat dia hendak menjawab pertanyaan Eunhyuk dan menatap Eunhyuk tapi sayang saat dia hendak menatap Eunhyuk, Eunhyuk malah memasang ekspresi menyeramkan membuat Donghae ketakutan.
"HAHAHAHA... Katanya BERANI masa gitu saja takut HAHAHAHA." Eunhyuk tertawa puas saat melihat ekspresi Donghae yang menurutnya lucu itu.
"Aish, Hyukkie itu tidak lucu!" Donghae memukul lengan Eunhyuk tidak pelan.
Tapi Eunhyuk tetap tertawa dan di dalam hatinya dia sedang senang kerana baru saja Donghae memanggilnya dengan sebutan 'Hyukkie' lagi.
"Kau menyebalkan!" Donghae turun dari kereta itu dengan raut wajah yang kesal dia berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil.
"Hey tunggu!" Eunhyuk ikut berdiri dan tawanya mulai mereda.
.
"Huft,... tak ku sangka jalanmu cepat juga ya." Akhirnya Eunhyuk bisa menyusul Donghae.
Donghae memberhentikan jalannya dan menatap Eunhyuk tajam. "Puas kau menertawaiku?" tanya Donghae.
"Mianhae," jawab Eunhyuk. "Sekarang bagaimana kalau kita naik kereta gantung?" tanya Eunhyuk.
Donghae nampak sedang berpikir. "Lumayan kita bisa melihat tempat ini dari atas." Lanjut Eunhyuk.
"Baiklah aku mau." Akihirnya Donghae mau menerima tawaran Eunhyuk.
"Kajjia!" Eunhyuk menarik tangan Donghae.
.
Antrian cukup panjang membuat Donghae bosan –bahkan sangat bosan-.
"Lama sekali." Gumam Donghae sebal.
"Sebentar lagi juga giliran kita." Eunhyuk masih meenggengam tangan Donghae.
Sekarang giliran mereka yang akan naik. Seorang petugas membukakan pintu kereta gantung yang sudah berhenti di hadapan mereka itu. Mempersilahkan mereka berdua masuk.
.
Di dalam kereta gantung...
.
Eunhyuk sudah melepaskan genggaman tangannya dari Donghae mereka sedang asik dengan kesibukkan mereka masing-masing yaitu melihat ke bawah melalui jendela yang berada di samping mereka. Mereka duduk saling berhadapan.
"Ehm, Hae." Eunhyuk memanggil Donghae. Donghae menatap Eunhyuk yang masih melihat ke luar jendela.
"Ada apa?" tanya Donghae.
"Mianhae," Eunhyuk menatap Donghae. "Maafkan aku. Aku mohon kembalilah padaku." Ucap Eunhyuk.
"Kau membuatku kecewa Eunhyuk." Jawab Donghae serius. Suasana di dalam kereta gantung ini menegang.
"Aku bisa menjelaskannya."
"Menjelaskan apa? Menjelaskan kalau yeoja yang bersamamu itu adalah tuanganmu dan setelah itu kau memintaku untuk kembali padamu? Kau benar-benar keterlaluan Lee Hyukjae!" Donghae mulai mengeluarkan emosinya.
"Aku bisa menjelaskan Hae," Eunhyuk memegang bahu Donghae membuat Donghae tidak bisa kemana-mana. "Sebenarnya yeoja yang bersamaku waktu itu adalah majikkanku." Eunhyuk mulai menjelaskan.
"Maksudmu?" tanya Donghae mulai tertarik dengan penjelasan Eunhyuk.
"Sebenarnya dia adalah majikanku. Namanya Nari dan dia sudah memiliki suami yang bernama Shindong. Aku bekerja di sana sebagai supir pribadi noona Nari. Aku bekerja sepulang sekolah. Bukan maksudku untuk tidak mau menemanimu jalan-jalan tapi aku harus bekerja." Jelas Eunhyuk.
"Lantas kenapa kau mencoba cincin itu?" tanya Donghae lagi.
"Maksudmu cincin ini?" Eunhyuk melepas pegangan tangannya dari bahu Donghae dan merogoh saku celananya mengeluarkan tempat cincin berbentuk hati. Donghae mengangguk imut.
"Aku juga memiliki alasan kenapa aku bekerja sebagai supir," Eunhyuk mulai berlutut di hadapan Donghae. "Untuk bisa membeli cincin ini dan bisa jalan-jalan di tempat ini. Dan saat itu aku tidak tau ukuran jarimu jadi aku mencobanya di tangan Noona Nari. Jadi, mau kah kau kembali padaku and would you marry me?" tanya Eunhyuk.
Donghae diam terpukau dengan penjelasaan Eunhyuk. Dia merasa bersalah karena tidak mendengarkan penjelasan Eunhyuk sebelumnya.
"Hey, would you marry me?" tanya Eunhyuk lagi.
Donghae mengangguk dan air mata mulai membasahi pipinya, "Yes, i would." Jawab Donghae.
Eunhyuk memasangkan cincin itu di jari manis Donghae lalu memeluknya.
"Terima kasih sudah menerimaku apa adanya." Eunhyuk mengatakannnya dalam pelukkanya dengan Donghae.
Donghae mengengguk dan berkata, "Maafkan aku juga karena tidak mendengarkan penjelasanmu dulu." Donghae berkata di sela tangisnya.
Mereka melepaskaan pelukan mereka. Mereka saling bertatapan dalam. Eunhyuk mengusap air mata dari pipi Donghae.
"Uljima," Eunhyuk menghapus air mata Donghae. "Kau terlihat jelek saat menangis." Lanjutnya. Donghae mengangguk.
Mereka mendekatkan wajah mereka menghapus jejak dan mempersempit jejak mereka hingga...
Chu~~
Mereka berciuman tidak dengan nafsu melainkan ciuman lembut dan mewakili perasaan mereka berdua. Mereka melepaskan ciuman mereka dan bertatapan dalam.
"Saranghae Lee Donghae." Eunhyuk menggenggam jemari Donghae.
"Nado saranghae Lee Hyukjae." Donghae mengatakannya sambil tersenyum lembut.
.
.
TAMAN/THE AND
.
Akhirnya tamat juga... ^_^ ini adalah FF terpanjang yang pernah aku buat #Bangga.
Ok salam dariku ninaanizz
See you and ThanKYU... ^_^
