Yuu : Hihi … akhirnya sempat juga buat sekuel 'Perkataanmu'~ X"D #banzai! \\TwT/
.
Suara hentakan kaki yang dibuat-buat oleh seorang anak berambut indigo itu terdengar sangat keras. Wajahnya tampak merah padam—wajahnya tampak sangat marah. Ia kepalkan kedua tangan mungilnya secara paksa. Membuat beberapa mata yang melihatnya merasa keheranan.
"Oi, Uchiha!" seseorang yang berada di belakang Si Gadis yang marah tadi tiba-tiba menyebut nama keluarga gadis tersebut. Wajah Si Pemanggil tampak sangat khawatir. Bahkan, bisa dilihat juga peluh yang membasahi wajahnya. Ia tampak berusaha mendekati Si Gadis yang kelihatannya sedang marah itu—dan memang, Si Gadis sedang marah.
Si Gadis tidak mempedulikan sahutan dari sahabatnya. Ia terus saja berjalan semakin cepat dengan hentakan kaki yang semakin terdengar dengan jelas. Wajahnya semakin memerah. Tangannya ia kepal semakin keras. Dress terusan tanpa lengan berwarna putih yang ia kenakan pun tampak agak basah di bagian ujungnya. Iris hitam sekelam malamnya juga ia semakin pertajam jarak pandangnya. Seolah siap untuk memakan siapapun yang menghalangi langkahnya saat ini.
Si Pemanggil yang berjenis kelamin laki-laki itu menghela napas pendek ketika Si Gadis tidak membalas sahutan darinya. Ia berhenti mengejar gadis itu, kemudian menggaruk bagian kepalanya yang tidak gatal itu sambil bergumam, "ck, padahal aku sudah dapatkan infonya,"
.
Ceritakan, Ibu!
.
Narutobelong to Masashi Kishimoto
Ceritakan, Ibu! is by Yuu Gojou
.
Attention! Apabila ada kesamaan cerita, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka! Ini hanya fanfiksi, dan kita bebas untuk berkarya!
Warning(s)! Semi-canon, OOCness, GaJeness, Typo(s), Rush, boros kalimat,second generation, DLDR!
.
1ststory : Ceritakan, Ibu!
Sreeeg!
Si Gadis membuka pintu rumahnya sendiri dengan sangat kasar. Setelah itu, tanpa membuang banyak waktu lagi, ia langsung mencari-cari sosok yang ia ingin temukan sambil berlari—membuat suara langkah kaki yang sangat jelas terdengar; bahkan oleh orang yang ia ingin temukan.
"!" Begitu menemukan sosok yang ia temukan di teras belakang rumah, ia langsung menyerukan panggilan sosok yang ia cari dengan panggilannya yang seperti biasa. Tanpa tahu adat, waktu, dan juga kesopanan memanggil seseorang yang telah diajarkan kedua orangtuanya. Terutama, kesopanan seorang perempuan ketika memanggil seseorang yang diajarkan oleh ibunya—sepertinya kali ini ia akan mengabaikan pesan dari ibunya: tidak berteriak seenaknya di rumah sendiri seperti laki-laki.
"IBUUUU!" suara yang sangat keras itu langsung mengagetkan seorang wanita yang berambut sama persis dengan si pemanggil. Tangan kanannya yang tadi memegang jarum jahit beserta benangnya pun langsung tertusuk oleh jarumnya sendiri. Walau tidak terlalu parah tusukannya.
Wanita yang dipanggil oleh ibu oleh si gadis itu hanya tersenyum lembut. Tangan kanannya—atau lebih tepatnya jari kelingkingnya yang tertusuk jarum ia usap-usap beberapa kali, sampai darah yang keluar dari jari kelingkingnya hilang secara sempurna. Kemudian, ia letakkan jarum itu pada tempatnya, dan menggesernya sedikit untuk memberi ruang anak perempuannya untuk duduk di sampingnya.
"Ada apa, sayang?" tanya si ibu sambil mengajak si gadis untuk duduk di sampingnya. Sebelumnya, ia rapikan sedikit kimono birunya yang sedikit acak-acakan. Sebuah senyum lembut yang terlukiskan dengan indah ia berikan: hanya untuk sang putri tunggal tercinta yang sedang kesal.
Si gadis tidak bisa menahan bendungan air mata yang sudah ia tahan sedari tadi. Dan pada akhirnya, air mata yang sangat deras langsung mengalir dari kedua sudut matanya. Kemudian, ia berlari mendekati ibunya yang telah mengizinkannya untuk mendekati ibunya.
Drap! Drap! Drap!
Bagaikan dikejar oleh setan, gadis itu berlari sekencang-kencangnya sambil berusaha menghilangkan bulir air mata yang masih saja mengalir di kedua sudut matanya. Tangan kirinya ia gunakan untuk menutup mulutnya yang sebenarnya ingin berteriak lebih kencang daripada yang tadi.
Dan ketika ia sudah sampai pada pelukan ibunya, ia langsung menggumamkan sesuatu. "Ibu …" ia kembali menyebut ibunya sendiri yang sudah berada di dekatnya: memeluknya dengan penuh kehangatan. Nada suara si gadis tampa bergetar, membuat sang ibu menjadi keheranan. Namun, wanita yang dipanggil ibu tersebut tetap menunjukkan wajah bijaksananya yang selalu ia perlihatkan kepada anak tunggalnya ini.
Bermaksud menjawab panggilan dari anaknya, ia hanya mengucapkan kata kunci yang sama persis dengan si ayah. Namun, dengan nada pengucapan bertanya tentunya. "Hn?" wanita yang berumur kurang lebih tiga puluh tahunan itu menepuk-nepuk bahu mungil anak tunggalnya dengan lembut: membiarkan si gadis merasa jauh lebih tenang.
Anaknya yang sudah berumur enam belas tahun itu kini berangsur-angsur menjadi lebih baik perasaannya. Ia seka air matanya secara perlahan-lahan, kemudian langsung menceritakan masalah yang sedang ia hadapi kepada sahabat abadinya: ibu kandungnya. "Ibu, mau dengarkan ceritaku tidak?" tanyanya dengan wajah memohon. Ia buat wajahnya sememelas mungkin, agar si ibu mau mendengarkan apa keluh kesahnya untuk hari ini.
Si Ibu yang bernama lengkap Hinata Uchiha hanya tersenyum lembut ketika melihat iris anaknya yang sama persis dengan milik suaminya, kini menatapnya dengan perasaan memohon. Setelah itu, ia elus-elus dengan lembut surai indigo milik anaknya yang sama persis dengan surai indigo milik Hinata sendiri. Kemudian bergumam, "katakanlah apa yang ingin hatimu katakan, Suhi sayang."
Gadis bernama lengkap Suhi Uchiha itu hanya tersenyum. Kemudian menyenderkan kepalanya di bahu kanan sang ibu. Menutup matanya, mencoba untuk lebih rileks ketika akan menceritakan keluh kesahnya terhadap sang ibu tercinta. "Tapi, apa ibu … mau jawab pertanyaanku?" Suhi kembali bertanya kepada Hinata yang dengan setianya tetap mengelus rambut Suhi dengan lembut. Membuat perasaan Suhi menjadi nyaman. Sangat nyaman.
"Benar, yah?" Suhi meminta kepastian dari Hinata yang tangan kirinya mulai membereskan sesuatu yang tadi ia ingin sulam.
Hinata hanya tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Suhi. "Ibu berjanji. Tenang saja," jawab Hinata sambil menepuk puncak kepala Suhi dengan lembut. Membiarkan Suhi untuk mengeluarkan keluh kesahnya hari ini kepada dirinya.
.
.
Krik krik
.
.
"IBU, TORA JAHAT PADAKUUUU!" rengek Suhi tiba-tiba. Kemudian mendekap Hinata dengan sangat amat erat. Sampai-sampai Hinata sendiri nyaris tidak bisa bernapas. "Masa' tadi dia bilang, dia tidak mau membantuku? Padahal dia sudah janji ibuuuuuu!" lanjutnya dengan nada kesal, kemudian melepaskan pelukannya dari Hinata. Lalu, mulailah Suhi untuk menceritakan kekesalannya itu dengan semangat empat limanya yang membara.
Hinata yang hanya mendengar curahan hati dari Si Anak Tunggalnya itu hanya bisa memaksakan untuk tersenyum semanis mungkin. Telinganya—sebenarnya sudah terasa sakit karena selalu mendengar curhat anaknya yang selalu dilakukan dengan cara berteriak seperti tadi. Namun, sepertinya Hinata sudah mulai terbiasa dengan cara curhat Suhi yang memang aneh: selalu berkata dengan suara keras.
23 minutes laters …
"Pokoknya dia itu jahaaaaaaat!" Akhirnya Suhi menghentikan acara curhatnya terhadap sang ibu dengan menutupnya dengan teriakan 'jahat' yang kesekian kalinya. Nafasnya terlihat tida beraturan, mungkin karena telah menghabiskan pasokan oksigen di paru-parunya karena berteriak tanpa memikirkan jeda sama sekali.
Hinata yang ternyata sedaritadi sedang menyulam ketika Suhi curhat di sampingnya, langsung menghentikan aktifitasnya secepat mungkin sambil menanyakan, "sudah selesai curhatnya, Suhi sayang?" sebuah senyum manis penuh kelegaan terukir dengan lembut dan indah di bibir Hinata. "Lalu … apa maksudnya dengan 'ringkasan cerita kehidupan ayah dan ibu'?" Hinata kembali mempertanyakan sebuah kalimat curhat Suhi yang menurutnya agak mengganjal di hati Hinata.
Ups! Suhi langsung menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan mungilnya ketika Hinata menanyakan kalimat yang seharusnya tidak ia beritahukan kepada Ibunya. Wajahnya yang tadi tampak menunjukkan wajah kelegaan karena sehabis berkeluh kesah kepada ibunya pun, kini berubah pucat pasi.
"Suhi? Ada apa?" tanya Hinata dengan wajah khawatir. Hinata langsung mendekatkan dirinya dengan Suhi: mencoba mencari tahu kenapa Suhi tiba-tiba menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya. "Apa … ucapan Ibu salah?" lanjut Hinata dengan wajah bersalah.
Suhi tidak menjawab pertanyaan Hinata. Ia hanya menatap iris amesthyst terang milik Hinata yang menunjukkan perasaan khawatir. Onyx-nya bagaikan mengiisyaratkan kepada Sang Ibu untuk tidak khawatir maupun penasaran dengan kalimat yang dipertanyakan oleh Hinata.
Setelah melihat onyx Suhi yang terlihat memohon kepadanya, terbesit sebuah ide jahil dari otak Hinata. Entah sejak kapan Hinata berubah menjadi usil seperti ini. Tapi, sifat seseorang itu bisa berubah kapan saja bukan?
Hinata mengulum sebuah senyum manis kepada Suhi. Ia mendekatkan wajahnya sedekat mungkin ke arah Suhi sambil tetap mempertahkan senyum manisnya yang dianggap Suhi adalah sebuah pertanda buruk. "Suhi~" Hinata memanggil nama Suhi dengan nada bicara yang aneh. Iris amesthyst terang itu terlihat sedang err—menggoda, eh?
Suhi yang masih menutupi mulutnya berusaha menjauh dari Hinata. Ia berusaha menjauhi Ibunya yang terus saja mendekatinya; walau Suhi tahu percuma saja untuk menjauhi Hinata yang kini sedang merangkak mendekatinya.
"Suhi sayang~" Lagi-lagi Hinata memanggil nama Suhi dengan nada yang sangat tidak menyenangkan bagi Suhi. "Beritahu Ibu atau jatah uang saku dan waktu untuk mengunjungi keluarga Saku-baasan akan dipoto—"
Mendengar ancaman dari Sang Ibu, Suhi langsung angkat bicara. "Iya iya! Aku minta Tora untuk mencari informasi kenapa Ibu dan Ayah bisa menikah! Tapi si Tora malah bilang tidak menemukannya! Apa sekarang Ibu puas—" Ups! Baiklah, kali ini Suhi kembali bicara secara blak-blakan tanpa berpikir terlebih dahulu. Dan itu membuat kedua tangan mungil Suhi yang awalnya terbuka dan sudah mengepal itu kembali menutupi kedua mulutnya.
"Nani?"
.
To be Continued …
.
A/N : Oke. Yuu akui ini adalah fanfic pertama SasuHina non-oneshot pertama di akun iniiii! X"D
.
Oh, iya. Apa si flamer Chaos Seth, Laguna Stream, Anon, dll itu udah kabur dari FFn? Yuu lagi kepengen di-flame sama Mereka semua, nih! OwO #OOT
Ah, iya. Bagaimana kesan para Readers sekalian? Baguskah? Jelek? Silahkan berikan komentar ^^
Sekedar pemberitahuan. Fanfic ini adalah sekuel dari 'Perkataanmu' yang pernah Yuu buat. Yuu memutuskan untuk membuat fanfiksi ini menjad twoshot. Alasannya? (1) Saya males nulis panjang-panjang, (2) penyakit males mulai menyerang Yuu pas Yuu mau publish. XD
.
Menerima perlakuan Readers berupa RnR, RnC, CnF (concirt and flame), etc XD
.
A lot of Thanks for reading ^^
.
Feedback? :3
Sign, YuuKina ScarJou™
