Yuu : Halooo! Yuu kembali dengan penpik 2-shot Yuu yang pertama (di akun ini). :*

Oh, iya. Sekedar pemberitahuan lagi, yah (soalnya kemaren gak sempet ngasih tahu di A/N). Chap. 2 ini bakalan jadi full lanjutannya 'Perkataanmu' (namanya juga sekuel, ye? XD). Oh, iya. Kalau mau penjelasan lebih lanjut mengenai flashback-nya, silahkan RnR fic Perkataanmu~ XD #promosididalamkesempitan (?) wkwkwkwk~ XD. Tapi Yuu serius, loh~ OwO. Kalau mau tahu isinya yang sebenernya apa, harus baca fic Perkataanmu~ X"3

.

Happy reading!

.

Ceritakan, Ibu!

.

Narutobelong to Masashi Kishimoto

Ceritakan, Ibu! is by Yuu Gojou

.

Attention! Apabila ada kesamaan cerita, itu hanyalah sebuah kebetulan belaka! Ini hanya fanfiksi, dan kita bebas untuk berkarya!

Warning(s)! Semi-canon, OOCness, GaJeness, Typo(s), Rush, boros kalimat,second generation, beberapa bahasa tidak baku, DLDR!

.

2nd story : My Memories With Your Father

.

"Nani? Hinata-chan mau menikah sama Teme! Serius?" Tampak seorang Hokage berambut jabrik itu menunjukkan rasa terkejutnya akibat berita dari istrinya yang sedang menuangkan segelas teh untuknya. Beberapa lembar kertas yang berisikan pekerjaan pun langsung ia letakkan ke atas mejanya. Agar iris biru cerah itu bisa melihat sosok gadis yang sudah resmi menjadi istrinya sejak satu tahun yang lalu.

Gadis berambut soft pink itu hanya mengangguk pelan, bertanda bahwa pertanyaan dari Sang Suami itu benar apa adanya. Lalu, sembari mendekati suaminya yang masih kebingungan dengan berita itu, ia meletakkan secangkir teh hangat untuk suaminya. "Iya. Hinata sendiri yang bilang kepadaku minggu lalu. Katanya dia akan menikah dengan Sasuke-kun bulan depan," ucap wanita bernama Sakura Uzumaki itu pelan.

Rokudaime Hokage yang bernama lengkap Naruto Uzumaki itu hanya menunjukkan cengir khasnya setelah mendengar penjelasan dari Sakura: istrinya tercinta. Tak lama setelah itu, Naruto tertawa. "Hahaha! Akhirnya Teme dan Hinata-chan bisa nikah juga!" seru Naruto sambil memukul-mukul meja kerjanya sendiri seperti orang kesetanan. Sakura diam keheranan karena sikap sekaligus ucapan Naruto yang aneh.

Sakura mengernyitkan dahinya karena semakin heran: melihat sikap Naruto yang semakin melenceng dari biasanya. Lihatlah. Naruto yang biasanya akan langsung memberitahukan maksud dari perkataannya kepada Sakura jika Sakura sudah memandangannya dengan tatapan aneh. Tapi, sekarang tidak?

"Maksudmu?" tanya Sakura sambil mencari tempat duduk yang paling nyaman untuk ia duduki.

"Eh? Iya?" Naruto yang tadi terkikik geli sambil membaca beberapa laporan yang sempat ia telantarkan, kini menengok Sakura yang tengah menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang tidak jauh dari tempat Naruto duduk saat ini. Ia melebarkan iris biru lautan itu, kemudian menatap lurus manik zamrud mengatakan 'apa-maksudnya?' dengan tatapan seperti orang bodoh.

Mengetahui bahwa Naruto tidak mengerti pertanyaannya, ia menghela napas berat. "Maksudnya 'akhirnya-Teme-dan-Hinata-chan-bisa-nikah-juga' itu! Apa maksudnyaaa?" tanya Sakura sambil mengelus-elus perutnya yang agak besar.

Naruto yang mendengar penjelasan dari Sakura hanya bisa ber-oh-ria ketika mendengarnya. "Yah … maksudku, si Teme pernah bilang kalau pernah ada 'rasa' sama Hinata-chan. Yah, namanya pernah jadi sahabat, `kan?" cerita Naruto sambil terus berusaha mengingat-ingat: bagaimana raut wajah Sasuke waktu memberitahukan perasaannya yang sesungguhnya. Sangat aneh menurut Naruto.

"Ng?" Sakura sedikit terkejut mendengar ucapan dari Naruto. Dan untuk menunjukkan rasa keterkejutannya, Sakura melebarkan sedikit iris klorofilnya sejenak. "Sejak kapan Sasuke-kun punya rasa terhadap Hinata?" tanya Sakura bingung.

"Ah, anu… Sakura-chan," Tiba-tiba Naruto memanggil Sang Istri dengan agak ragu. Puluhan kertas \berisi laporan yang seharusnya ia baca, masih tetap setia berada di telapak tangan kanan Naruto. Naruto gunakan tangan kirinya untuk menopang dagunya. Sedangkan kertas laporan itu ia letakkan kembali ke meja. "Sakura-chan … apa ingat saat-saat Teme mau meninggalkan Konoha?" tanya Naruto dengan mimik muka serius.

Sekilas, Sakura melebarkan kedua iris hijaunya itu. Bagaimana tidak? Sakura tadi mendengar sebuah pertanyaan yang dulu paling ia tidak suka bicarakan. Tapi sekarang malah menanyakannya sendiri. "Ng, iya. Aku masih ingat," Sakura menjawab pertanyaan sang Suami dengan anggukan kecil sekaligus ucapan 'ya' dari bibir ranumnya sendiri.

"Lalu, apa Sakura-chan ingat kata-kata terakhir yang diucapkan Teme?" Lagi, Naruto bertanya kepada Sakura yang mulai bingung dengan arah pembicaraan mereka sekarang.

Sakura mengangguk. Menandakan bahwa ia masih bisa mengingat bagaimana kata-kata terakhir yang pernah ia dengar dari mulut Sasuke. "Ng, yang kuingat, hanyalah ucapan 'terima kasih' kepadaku." Manik emerald itu melihat ke atas. Tangan kanan—tepatnya jari telunjuknya menyentuh bibir bawahnya. Seolah sedang memikirkan sesuatu. "Ah, iya. Memangnya apa maksudnya? Apa hubungannya pertanyaanmu dengan pertanyanku—"

Tok tok tok!

Pintu yang berada tepat di depan Naruto tiba-tiba berbunyi karena diketuk seseorang. Pintu ruangan itu seolah menginsyaratkan 'ada-orang-penting'; baik kepada Naruto maupun Sakura: yang tadi sempat menghentikan ucapannya karena ketukan pintu tersebut.

"Masuk." Naruto hanya mengucapkan kata 'masuk', kemudian kembali berkutat dengan puluhan kertas laporan yang sama sekali belum ia baca karena selalu terhenti oleh Sakura. "Omong-omong Sakura-chan, apa lanjutan pertanyaanmu tentang si Teme tadi?" tanya Naruto yang matanya bahkan tidak sempat melirik tamunya. Ia tampak sudah sibuk dengan kegiatan membaca laporannya yang tak kunjung selesai-selesai. Ah, Naruto yang sekarang benar-benar berbeda dengan Naruto dulu.

"Wah, jadi sekarang aku jadi bahan pembicaraan kalian?" tanya Si Tamu yang tengah diberi 'kacang' oleh Naruto: yang tidak mengetahui bahwa tamunya adalah si Teme Naruto sendiri: Sasuke Uchiha. Diulangi, Sasuke Uchiha.

.

.

.

"Ulangi lagi, Sakura-chan?" Sakura yang mendengar pertanyaan Naruto diam tanpa kata: Sakura sama sekali tidak mengerti dengan permintaan Naruto-kun-nya. Padahal, ia bahkan tidak mengulangi ucapan yang tadi sempat terpotong karena ketukan pintu dari tamu Naruto—Sasuke Uchiha.

Bisa diulangi lagi?

.

Tamu Naruto Uzumaki sang Rokudaime Hokage adalah Sasuke Uchiha. Sa-su-ke U-chi-ha. Akan diulangi kembali. Sasuke Uchiha: seorang mantan missing-nin Konoha, laki-laki yang sering dianggap yaoi-an sama Naruto (karena beberapa insiden 'kecil' yang pernah dialami oleh mereka berdua), sekaligus ANBU Konoha.

"Bisa ulangi lagi, Thor?"

.

.

.

"Hoy, Nar!" Lelaki yang menjadi tamu sekaligus sahabat baik Naruto dan Sakura di tim tujuh itu pada akhirnya naik pitam. Ia menggebrak meja kerja Naruto dan memasang death glare terampuhnya yang mampu membuat Naruto langsung melihat ke atas—melihat rupa si Bungsu Uchiha yang menyeramkan itu.

"A-ah, Sasuke Teme rupanya!" Naruto berpura-pura memasang mimik wajah tidak bersalah. Naruto tampak sedang berusaha tersenyum—walau senyumnya kini malah membuat setitik keringat dingin muncul di wajah Naruto.

Lelaki berambut biru dongker itu menghela napas kesal. Pakaian ANBU Sasuke yang membalut tubuh si Uchiha itu dengan sempurna membuat penampilan Sasuke tampak sempurna. Ditambah lagi, iris hitam sekelam malam itu memincing: melihat iris biru langit itu seolah ingin mengatakan 'gue-hajar-loe-Nar'.

"Hahaha … kalian berdua memang tidak pernah berubah. Jadi ingat tim tujuh dulu," ucap Sakura yang kini tertawa kecil berkat Sasuke dan Naruto yang seperti waktu berada di tim tujuh. Bedanya, sekarang guru mereka telah tiada—sejak sepuluh tahun yang lalu. Dan Naruto bukanlah seorang Hokage. "Jadi, ada apa Sasuke-kun kemari? Tidak bersama Hinata-chan?" tanya Sakura sambil tersenyum lembut—dan pada saat itu juga, Sakura bangkit dari sofa itu dan mendekati Sasuke yang berada tepat di depan Naruto.

Sasuke menggangguk kecil. Onyx-nya ia pertemukan dengan manik emerald milik Sakura yang meneduhkan. "Aku ada urusan dengan Dobe. Si Hinata, dia tidak bisa ikut karena muntah-muntah tadi pagi. Rencana Hinata nekat mau ikut denganku, tapi sudah terlanjur dilarang Hiashi-sama," ucap Sasuke datar.

"Ng? Muntah kenapa memangnya? Apa Hinata-chan salah makan?" Sakura yang diketahui adalah seorang medic-nin yang paling hebat (setelah Tsunade yang telah meninggal dunia) penasaran dengan keadaan Hinata yang tidak seperti biasanya.

Padahal, Hinata sebelumnya tidak pernah menderita penyakit apapun. Karena dengan telaten Sakura selalu menjaga Hinata—pesan yang diberikan oleh Sasuke kepada Sakura sebelum Sasuke meninggalkan Konoha sewaktu masih menjadi genin di desa Konoha. Dan ucapan 'Arigatou' dari Sasuke, adalah karena sebelumnya hanya Sakura yang mau menemani Hinata, jikalau Hinata dijauhi oleh teman-temannya semenjak di akademi.

"Tidak," jawab Sasuke datar—dan tanpa sadar, sebuah senyum yang sangat amat tipis terukir dengan samar di wajah tampan Sasuke. Membuat Sakura yang berada di dekatnya langsung bingung dengan perubahan sikap Sasuke.

Naruto yang mulai memikirkan hal yang aneh-aneh, langsung membuat sebuah pertanyaan yang sebenarnya harus diakui—dan memang Naruto sudah akui: pertanyaan sangat sangat amat gila. "Hei, Teme. Jangan bilang kalau—"

"Iya."

Braaaak!

Naruto menggebrak meja kerjanya dengan kedua tangannya seperti saat Sasuke menggebrak mejanya. Ia tampak syok hanya dengan satu kata 'iya' yang terlontar dari mulut Sasuke. "WHAAAAAAT! Kapan Teme? Kapan kau melakukannya! Beritahu aku Temeeeeee! Please, yayayaya?" Seketika, wajah Naruto yang tadinya tampak ketakutan dengan pertanyaan yang ia ingin lontarkan kepada Sasuke, langsung berubah menjadi wajah penuh semangat. Entah semangat apa yang sedang melanda lelaki klan Uzumaki ini.

Sasuke memalingkan wajahnya. Mencari objek untuk ia lihat—kecuali wajah Naruto yang tampak bersemangat dan juga wajah bingung Sakura. "Nanti aku ceritakan," ucap Sasuke datar—walau pada kenyataannya, wajah Sasuke merona akibat pertanyaan antusias dari sahabat Dobe-nya ini.

"Kalian bicara apa, sih?" tanya Sakura yang merasa aneh dengan sikap keduanya yang berubah-ubah tak menentu. Tadi takut, sekarang semangatnya seperti semangat empat lima. Yang tadinya berwajah cool seperti biasa, malah blushing aneh-aneh begitu.

"Hehe … nanti kuceritakan," jawab Naruto sambil mengedipkan mata kirinya, yang membuat Sakura kesal dibuatnya: kesal karena Naruto tidak mau memberitahukannya secara langsung.

~o0o~

"Oh … jadi begitu rupanya," Suhi hanya mangut-mangut mengerti dengan cerita singkat—atau lebih tepatnya sangat panjang dari Hinata.

Hinata tersenyum manis sambil mengelus-elus puncak rambut indigo Suhi. "Yah, beberapa bagian cerita ini, ada yang Ibu dapatkan dari Sakura ba-san. Soalnya, waktu Ibu bertanya kepada Ayahmu: kenapa dia pergi ke kantor Hokage, Ayah bahkan tidak menjawab sama sekali. Makanya Ibu nekat tanya ke Sakura ba-san. Hihihi …." Hinata tertawa kecil ketika mengingat bagaimana ia memaksa Sakura untuk menceritakan kejadian—coret—'insiden' yang terjadi antara Naruto dan Sasuke waktu itu.

"Tapi …." Suhi merasakan ada sesuatu yang aneh dari kisah Ibunya. Entah apa itu. Maka dari itu, Suhi pun akhirnya memasang pose bak orang berpikir. "Ah, iya. Kenapa Ibu muntah-muntah? Tapi Ayah bilang tidak sakit. Memangnya kenapa, bu?" tanya Suhi dengan wajah antusias. "Dan, rasanya Ibu seperti menghilangkan beberapa bagian di cerita Ibu!"

Dan cukup dengan beberapa kalimat pertanyaan sekaligus permintaan dari Suhi, cukup membuat Hinata terkejut. Wajahnya pun tiba-tiba merona memerah. Membuat Suhi yang melihat wajah aneh Ibunya menjadi ingin melakukan balas dengan terhadap perlakuan Ibunya. "Ah, Ibu tidak mau jawab, nih?" tanya Suhi sambil tersenyum penuh arti.

Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya kuat. Mencoba menghilangkan perasaan aneh yang muncul di dalam dirinya. "Ah, t-tidak, Suhi sayang. Ibu sengaja melompati beberapa bagian. Karena bagian itu sangatlah tidak pantas untuk Suhi yang belum pantas untuk mengkonsumsinya." Hinata mulai beragumen agar Suhi tidak memaksanya untuk melanjutkan cerita mengenai Sasuke dan Hinata yang bisa bersatu begitu saja—walau ada alasan cinta yang berada di keduanya.

"Tidak mau! Ibu harus cerita! Atau aku nanti bakalan tidak percaya bahwa Ibu dan Ayah itu saling mencinta—"

"Cukup, Suhi. Kalau Ibumu bilang tidak pantas, jangan membantah!" bentak seseorang—yang entah sejak kapan sudah berada di belakang Suhi dan Hinata. Wajahnya tampak sangar: membuat Suhi langsung menghentikan ucapannya. Ditambah lagi dengan penampilan Sang Ayah yang mengenakan pakaian ANBU: tentu saja akan membuat Suhi agak ketakutan.

"Ih, Ayah jahat, jahat, jahat!" Suhi menjulurkan lidahnya kesal. Kemudian bangkit dari duduknya dan meninggalkan Hinata dan Ayahnya—Sasuke Uchiha yang menyenderkan bahunya di pintu geser rumah keluarga Uchiha.

"Si Tora nyariin, tuh." Tiba-tiba, Sasuke dengan senyum nakalnya memberi kabar bahwa Tora—sahabat sekaligus rekan satu tim Suhi berkunjung ke rumah mereka. "Dianya sekarang ada di gerbang rumah. Dia bilang dia bawa handycam yang kau pasti akan suka," lanjut Sasuke.

Suhi tidak menggubris pernyataan Sasuke. Ia malah terus saja berjalan keluar rumah dengan langkah setengah berlari. Meninggalkan kedua orangtuanya di teras belakang rumah. Ya. Hanya Sasuke dan Hinata sekarang, yang ada di teras belakang mereka.

"Ah, Sasuke-kun. Sudah pulang ternyata. Okaeri," ucap Hinata lembut sambil melihat sosok Sasuke Uchiha yang sedang mencari tempat yang paling nyaman untuk duduk di sebelah Hinata: di sebelah kiri Hinata.

"Hn." Hanya itu yang Sasuke berikan sebagai balasan ucapan selamat datang dari istrinya tercinta: Hinata Uchiha. "Kenapa si Suhi tanya soal masa lalu kita?" tanya Sasuke yang kini tengah duduk di samping Hinata. Ia melihat wajah Sang Istri dari samping: sangat cantik, lembut, dan juga manis.

Hinata hanya tersenyum. Amesthyst terangnya ia gunakan untuk melihat keindahan taman belakang di rumah keluarga Uchiha yang sangat menenangkan itu. Sembari melihat pemandangan indah yang disungguhi oleh taman belakang keluarga Uchiha, ia menjawab pertanyaan Sasuke. "Dia, masih ragu apakah kita benar-benar saling mencintai. Yah, walaupun Suhi sama sekali tidak memberitahukan alasannya, tapi aku yakin seperti itu."

"Kalau begitu, Tora datang kemari pada saat yang tepat," balas Sasuke sambil tersenyum tipis. Iris obsidian itu ikut melihat pemandangan taman belakang rumahnya. Melihat betapa indah dan tenangnya keadaan rumah mereka jika hanya Sasuke Hinata yang ada di teras belakang itu,

"Maksud Sasuke-kun?" tanya Hinata tidak mengerti. Iris lavender itu melirik iris onyx milik Sasuke yang masih asyik melihat pemandangan taman belakang Uchiha, yang jarang-jarang Sasuke lihat—karena tugasnya sebagai ANBU.

"Tahu sendiri nanti,"

Hinata memanyunkan bibirnya kecewa. "Ah, Sasuke-kun, beritahu aku, yah?" pinta Hinata manja. Ia mendekap tangan kanan Sasuke dengan lembut. Memasang wajah memelas agar Sasuke mau mengasihani Istri Sasuke yang sangat manis jika wajahnya memelas seperti itu.

"Handycam," ujar Sasuke tiba-tiba. "Handycam itu punya rekaman tentang kejadian waktu aku menyatakan cintamu kepadaku," lanjutnya: berusaha memperjelas arah pembicaran di antara Sasuke dan Hinata.

"Oh … kukira apa. Ternyata." Hinata melepaskan dekapannya. Kemudian melihat pemandangan taman itu lagi dengan polosnya—dan juga penuh kelengaan.

.

.

.

Krik krik

.

.

.

"Nani? Kejadian setelah … Sasuke-kun menyatakan cinta kepadaku?"

"Hn,"

.

.

.

"TIDAAAAAAAAAAAAK!"

Owari~

A/N :

Selamat Hari Pendidikan Nasional, Minna-san! X""D

Ayo, ayo, ayo! Semangatnya ke mana kalian, Anak Mudaaaaaaa? Ramaikan hari pendidikan nasional ini dengan fanfiksi-fanfiksi yang berkualitaaaaaaaaaaaaaaaasss! Ayo, ayo, ayo! XDDD #ditimpuk

Ne, yang merasa Yuu lama apdet, gomen! Ada alasannya, sih. (1) Yuu pengen publish tepat pada hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada hari ini, (2) kebetulan si Kina lagi baik ngasih saran kapan Yuu bagusnya buat apdet chappie 2. Wakakakak! Trims, Kina! You are my everything~ X"D #iklan #plak!

Btw, gomen ne kalau ceritanya hancur. (_ _). Yuu waktu bikin ini fanfic lagi pusing dengan beberapa tugas yang bener-bener merepotkan T^T. Sekali lagi mohon maaf jika ada kesalahan~ Dan lagi adengan SH-nya bener-bener kurang QAQ.

And then, Yuu berencana bikin side story-nya, nih. Yang bagian pas Naruto tanya 'WHAT' blab la bla itu. Hihi, kira-kira readers tahu apa maksudnya nggak? Yuu udah kasih spoiler lewat bagian terakhir, loh XD

A lot of thanks for Reading this fanfiction ^^

~REVIEW?~

YuuKina ScarJou™