Setha's Café
PAIRING : SHIKATEMA, SASUSAKU
RATED : T
DISCLAIMER : NARUTO © MASASHI KISHIMOTO
SUMMARY : Setha's Café. Terkenal dengan Café yang konon katanya dapat menyatukan hati pasangan muda mudi kembali. Shikamaru dan Temari yang hubungannya retak karena suatu hal, apa bisa disatukan kembali?
CHAPTER 2
"Sasuke, hari ini kau mau makan apa? sepertinya persediaan di kulkasmu sudah habis," Sakura memanggil Sasuke.
"Lihat nanti saja."
"Baiklah. Apa kita akan belanja?"
"Hn," Jawab Sasuke tersenyum sambil memalingkan wajahnya ke Koran yang sedang dibacanya sore itu.
Sakura kembali terduduk diam sambil memandangi televisi. Tak ada satu pun yang angkat bicara sampai gadis musim semi ini terlihat bosan.
"Ne.. Sasuke-kun, apa mereka berdua akan berhasil?"
"Hn?"
"Mereka berdua.. ShikaTema," Jawab Sakura sembari memainkan telunjuknya.
"Hn. Tergantung pada mereka."
"Ah, iya benar juga," Sakura kembali menutup mulutnya. Sepertinya gadis musim ini kehabisan kata-kata untuk ditanyakan. Bosan terhadap sikap Sasuke yang dingin Sakura hanya mendesah pelan dalam hati.
Keheningan masih berjalan terus. Hanya suara televisi yang menggema di dalam apartemen sedang itu. Sakura terus terlihat bosan sampai ia teringat akan kejadian yang pernah menimpa hubungan mereka. Hubungan yang dirusak dan dapat utuh kembali karena cinta mereka dan juga Setha's Café.
FLASHBACK ON
Haruno Sakura adalah namaku. Kalian bisa panggil aku Sakura. Umurku 18 Tahun. Aku bersekolah di Konoha Senior High School. Kami para murid kelas 12 sedang di liburkan karena terlah menyelesaikan ujian nasional. Aku juga mempunyai kekasih. Mantan ketua OSIS. Uchiha Sasuke. Baru 6 bulan hubungan kami berjalan.
Hari ini tepat dimana kami akan merayakan Anniversary hubungan kami yang ke 6 bulan. Aku mencoba mengajak Sasuke untuk jalan jalan di taman. Kenapa? Setiap Anniversary Sasuke tidak pernah membawaku tau dia tidak suka hal seperti itu. Tapi, dia tidak pernah mengucapkan Anniversary padaku.
Waktu sudah menunjukan pukul 10. Sasuke janji akan menungguku di taman tepat di seberang sebuah Café yang sudah tua dan bergaya Eropa. Kalau tidak salah, Setha's Café. Tapi sebuah pesan singkat masuk begitu saja pada telepon genggamku. Aku tidak akan membukanya karena aku sedang di dalam bus yang penuh sesak.
Saat turun dari bus, aku berinisiatif untuk membukanya. Ternyata pesan dari Sasuke.
From:Sasuke
Sakura,
Maaf hari ini aku tidak bisa jalan jalan denganmu. Itachi-nii minta tolong sesuatu padaku. Mengerjakan tugas. Tolong kau tidak usah datang ke taman hari ini. Terima kasih
Hah? Apa apaan maksdunya ini. Kenapa kau tidak bilang dari tadi Sasuke-kun. Ah memang selalu saja kau tidak mencintaiku Sasuke? Karena sudah terlanjur disini, Aku memutuskan masuk ke Café dan duduk di meja yang mengarah ke taman itu.
Satu Capucino menemaniku. Suara musik hangat juga menemaniku disini. Entah kenapa aku merasa ingin Sasuke ada disini. Kulihat para tamu yang lain. Pasangan pasangan serasi. Sangat indah. Apa bisa aku dan Sasuke seperti ini?
Saat aku menyesap Capucinoku tak sengaja aku bertemu pandang dengan seorang lelaki bertubuh tegak berambut biru seperti pantat ayam? Hah? Itu kan Sasuke? Dengan.. Seorang perempuan berambut merah panjang. Astaga..
Aku bukan seorang gadis gegabah yang langsung menghakimi orang begitu saja. Aku pasti akan mempertanyakan dengan pasti. Aku mengambil telepon genggamku dan memfoto aksi mereka. Aku pergi kerumah sahabatku Ino yang bekerja sambilan sebagai fotografer.
Keesokan paginya aku mendatangi apartemen mereka. Aku melihat wanita itu lagi. Yang kemarin bersama Sasuke, masuk ke apartemen Sasuke. Dan Aku.. melihat mereka berciuman. Ah, Kami-sama tolong mata sudah mengalir di pipiku.
"Sasuke," Aku menggangu aksi mereka. Aku tau Sasuke. Dapat ku lihat ekspresi wajahnya yang kaget. Tentu wanita ini juga kaget.
"Jadi kemarin ini tugas dari itachi-nii yaa."
"….." Sasuke tidak menjawab namun memeluk pinggang gadis itu.
"Kemarin kau kemana?"
"Perpustakaan. Dengan Itachi-nii," Sasuke menjawab tegas sambil menyuruh gadis itu masuk kedalam.
"Kau bohong Sa-su-ke,"
"Percayalah," Sasuke mendekat padaku. Tapi aku menamparnya.
PLAK
Ia diam. Hanya diam. Katakan sesuatu padaku Sasuke. Tapi apa? Ia hanya diam seribu bahasa. Dengan memasang mimik wajah datar andalannya. Seperti seaakan, tidak terjadi apapun.
"Lalu apakah kegiatanmu di taman bersama wanita itu adalah salah satu pekerjaan dari Itachi nii-san Sasuke?" Tanyaku dengan sedikit tekanan. Aku juga menyodorkan padanya foto yang sudah ku cetak kepadanya.
Aku tau ia terkejut. Tapi berusaha menyembunyikannya. Karena masih tidak ada jawaban, dengan segala keterpaksaan, aku pulang tanpa menunggu jawabannya. Tanpa ingin bertemu dengannya lagi.
1 bulan kemudian, masih belum ada kabar darinya. Seolah dia sama sekali tidak mencintaiku. Dia tidak mencariku. Sama sekali. Setelah kejadian itu, tak satupun telepon masuk darinya. Bahkan pesan singkat sekalipun. Bertemu saja sudah tidak pernah. Aku yang masih sangat mencintainya hanya bisa menunggu, sampai ia mencariku.
Temari, sahabatku sejak SMP, hanya prihatin melihat badanku yang semakin hari semakin kurus. Dia berkata aku seperti mayat hidup. Memang. Karena hati dan jiwaku seakan dibawa pergi bersama Uchiha Sasuke. Saat aku dan Temari sedang duduk dikantin, seorang perempuan berambut pirang panjang yang juga sahabatku membagikan sebuah brosur,
"Saskura-chan? Temari-san? Tolong diambil ya. Aku disuruh keluargaku membagikan ini," Ino membagikan brosur sebuah Café yang baru di renovasi. Temari yang tidak tertarik hanya meletekannya di meja tanpa dilihat. Sementara aku mulai membacanya.
"Yang datang minggu pertama ini akan dapat minuman buy one get one free."
"Ini akan membuat dirimu lebih baik Sakura-chan, aku pergi dulu sampai ketemu dikelas," Tambah nasehat dari Ino teman sepermainannya sejak kecil. Mereka sekarang menjadi jarang bertemu karena Ino tengah sibuk dengan fotografer dan pacar barunya Sai.
"Kau tertarik Temari? Aku ingin kesini hanya untuk melepas penat."
"Baiklah. Dari pada kau terus murung seperti ini. Besok pagi ketemu disana ya. Aku sudah tau tempatnya."
"Baiklah. Aku juga sudah pernah ke tempat ini sebelumnya."
Keesokan harinya, kami bertemu di Setha's Café. Temari mengambil posisi duduk yang sama seperti aku duduk disini bulan lalu. Temari hendak memesan sesuatu sampai aku melihat dia tiba-tiba berdiri mematung.
"Ada apa Temari?" Aku ikut berdiri dan menghampirinya karena penasaran.
"I..Itu.. Sas.. Sas.." Temari mengeluarkan keringat. Sas? Sas apa sih? Tanyaku dalam hati
"Sas? Sas apa sih?" Temari tidak berani berkata-kata. Hanya telunjuknya yang bergerak. Memintaku untuk mengikuti arah pandang jari itu. Dan ternyata..
"Sasuke," Jantungku seolah berhenti berdetak saat melihat dia sedang duduk dengan seorang lelaki berambut nanas dan jabrik. Aku tidak menyangka dia bisa bertemu disini.
Tanpa basa-basi aku langsung menarik Temari keluar dari sini. Temari hanya diam dan mengikuti. Sepertinya dia sudah tau apa maksudku. Namun sayang sepertinya Dewi Fortuna sedang tidak berpihak pada kami karena si jabrik yang akrab dipanggil Naruto melihat dan memanggil kami.
"Temari! Sakura! Hei kalian!" Aku berbalik arah dan melihat Naruto melambaikan tangan pada kami. Sementara Sasuke sepertinya tersedak saat minum.
"Sakura.. apa sebaiknya.."
"Tidak apa-apa Temari. Kita pura-pura saja lupa dengan Sasuke. Kau pasti juga ingin bertemu dengan orang yang kau sukai kan?" Godaku sedikit untuk menenangkan suasana. Dan, bingo! Temari blushing.
"Ya ada apa Naruto?" Tanyaku tanpa melihat Sasuke sama sekali.
"Tidak, aku hanya ingin menyapa. Kalian dapat brosur dari Ino juga ya?" Tanya Naruto dengan mimik wajah seolah memancing Sasuke untuk marah.
"Yup. Dan aku juga tidak menyangka akan bertemu kalian berdua Naruto, Shikamaru," Jawabku sambil miris hatiku tidak menganggap Sasuke ada. Aku melirik kearah Sasuke yang menatap tajam mataku. Huh, apa kau lihat-lihat ayam jelek?
"Err, Sakura. Kami kan ber 3," Shikamaru yang tidak tau apa apa hanya membenarkan keadaan.
"Tidak kalian berdua kok. Ah hei bagaimana kalau kita pergi nonton film? Kita berempat bersama Temari," Sakura asal bicara sampai Shikamaru dan Temari kaget dan sama sama blushing.
"Wow! Ide yang bagus Sakura! Er, lalu bagaimana dengan Sasuke?" Tanya Naruto memanas-manasi. Sepertinya Naruto tau apa yang sedang terjadi antara aku dan Sasuke. Tentu saja mereka bersahabat.
"Oh aku lupa ada pantat ayam bersama kalian. Ah, dia kan punya kencan ditaman seberang sana dengan gadis berambut merah itu loh~ yang katanya tugas dari Itachi nii-san," Sakura tersenyum sinis mengejek sambil melihat Sasuke yang sudah mengeluarkan kerutan kesal diwajahnya
"Ah iya aku lupa! Namanya Karin Sakura! Yasudah, Teme! Kami pergi dulu!" Naruto mengajak Shikmaru beranjak dari kursi dan Sakura menyuruh Temari untuk duluan. Sementara Sakura akan memesan minuman untuk dibawa ke teater nanti.
Saat Sakura berdiri didepan pintu hendak keluar, sebuah tangan kekar meraih nya dengan paksa. Membawa Sakura yang meronta ronta kembali ke tempat dimana gadis itu duduk bersama Temari tadi.
"Ada apa?" Sakura mendelik kasar sambil melepaskan genggaman Sasuke.
"Aku minta maaf."
"Aku sudah memaafkanmu ayam."
"Aku akan jelaskan semuanya."
"Silahkan. Tapi itu tidak akan mengubah apapun. Mencium gadis lain di depan gadisnya sendiri. Pergi dengan gadis lain saat Anniversary dengan kekasihnya," Sakura mengangguk angguk sementara Sasuke menghela nafas.
"Kau tau namanya Karin. Dia, cinta pertamaku waktu aku berumur 14 tahun. Dia lebih tua dari kita. Dia dari Paris. Saat pulang dia tidak tau aku mempunyai kekasih. Dan dia langsung ingin menemuiku."
"kenapa kau tidak bilang kau punya kekasih?"
"Saat itu aku tidak percaya bahwa aku benar benar bertemu dengannya. Aku khilaf. Aku memang rindu padanya. Sampai aku melupakanmu Sakura. Maafkan aku."
Sakura hanya maklum mendengar penjelasan Sasuke. Namun apakah segitu besar cinta Sasuke pada cinta pertamanya?
"Sepertinya kau bahagia dengannya Sasuke."
"Dulu memang. Namun, ternyata dia sudah menikah. Dia kembali karena hanya dia berkelahi dengan suaminya. Dan mencoba membodohiku."
"Tapi kalau dia tidak membodohimu, pasti kau akan memilih dia bukan?"
"Tidak Sakura. Aku sadar aku salah. Dia memang cinta pertamaku. Dan aku memang mencintai 2 orang. Kau dan Karin."
"Lalu siapa yang akan kau pilih Sasuke-kun?" Sepertinya Sakura sudah pasrah menerima semua keputusan Sasuke.
"Kau."
"Eh? Aku?" Sakura sangat bimbang. Kenapa harus dia? Karin kan cinta pertamanya?
"Ya. Kau. Karena, kalau aku benar benar mencintai Karin. Aku tidak akan jatuh cinta padamu sakura."
"Hah? Aku masih tidak mengerti."
"Someone told me. If you love two people at the same time, choose the second one. Because if you really loved the first one, you wouldn't have fallen for the second."
Sakura tidak percaya dengan pendengarannya. Benar. Kau benar sekali Sasuke-kun. Keduanya kemudian saling hening sampai musik di Café itu berubah menjadi musik mereka. Seakan suasana Café itu menuntun hati mereka untuk bersatu kembali. Mereka berdua terdiam. Mendengarkan setiap kalimat demi kalimat dari lagu tersebut. Lagu yang berjudul Nothing – The Script
Sakura tersentak saat Sasuke menggenggam tangan Sakura. Namun ia hanya diam sambil menatap sorot mata kelam yang terlihat sedih itu.
"I'm smiling but I'm dying trying not to drag my feet," Suara Sasuke yang sangat bagus mulai terdengar lembut di telinga Sakura. Sakura dapat melihat sorot mata Sasuke yang menyatakan perasaannya lewat lagu itu
"They say a few drinks will help me to forget her.. But after one too many I know that I'll never.."
"Sa..Sasuke-kun," Sakura tidak menyangka Sasuke mengatakan hal tersebut
"And my mates are all there trying to calm me down.. 'Cause I'm shouting your name all over town.. I'm swearing if I go there now.. I can change her mind turn it all around.." Sasuke masih melanjutkan bernyanyi sambil mencium punggung tangan Sakura
"Sudah cukup Sasuke-kun!" Sakura berdiri sambil memeluk Sasuke
"…"
"Sasuke, ayo kita pulang. Aku memaafkanmu," Sakura menggenggam lengan kekar Sasuke
"Sakura.." Sasuke memutar tubuh sakura dan..
CUP
Sebuah kecupan yang mendarat di kening Sakura sukses membuat Sakura terkejut bukan main. Tak hanya itu saja, Sasuke memeluk Sakura sambil berkali kali meminta maaf. "Te Amo Haruno Sakura. Jangan tinggalkan aku lagi."
"Te Amo, Uchiha Sasuke."
FLASHBACK OFF
Setha's Café pukul 17.00 waktu Konoha
"Tuh kan, dasar pemalas. Tau gitu aku tidak usah hadir saja," Temari mendecih kesal. Shikamaru menyuruhnya segera datang kesini tapi ia sendiri belum datang.
"Aku memang pemalas. Tapi tidak selalu aku telat, Temari-chan," Shikamaru tiba tiba datang dari belakang yang sukses mengagetkan sekaligus membuat Temari merinding.
"Ce..cepat katakana apa maumu Nara-san. Aku ada urusan dirumah," Temari berusaha bersikap sedingin mungkin dan sejahat mungkin.
"Nara-san? Panggilan yang buruk. Aku disini hanya minta penjelasan darimu. Itu saja."
"Penjelasan? Penjelasan apa?"
"Penjelasan kenapa kau mengakhiri hubungan kita tiba-tiba dan menghilang begitu saja. Kau mau membunuhku pelan pelan ya Temari?"
"Oh. Aku, hanya bosan pacaran denganmu. Kau selalu sibuk dengan pekerjaan memburu Yakuzamu itu. Aku juga merasa terancam berada di dekatmu."
"Apa? Kau gila Temari. Ini bukan kau. Dulu kau yang mendukungku melakukan pekerjaan ini."
"Sekarang semua sudah berbeda."
"Baik! Aku hanya ingin tau kenapa kau seperti ini. Setidaknya ceritakan untuk terakhir kali. Setelah itu akan berhenti untuk menemuimu, jika itu maumu."
Jangan Shikamaru, tetaplah disini. Aku mohon. Aku sebenarnya tidak sanggup berpisah denganmu.. Tapi, Tapi..
Tiba tiba suasana Café berubah menjadi sejuk. Kembali sebuah lagu berputar mengiringi nuansa Café tersebut.
"If you're not the one then why does my soul feel glad today?.. If you're not the one then why does my hand fit yours this way?.. If you are not mine then why does your heart return my call.. If you are not mine would I have the strength to stand at all.."
Shikamaru dan Temari sama sama kaget mendengar lagu yang diputar. Lagu sangat mendukung tentang kisah mereka. Membuat keduanya terhanyut mendengarkan lagu ini.
"I'll never know what the future brings.. But I know you're here with me now
We'll make it through.. And I hope you are the one I share my life with.." Akhirnya seorang Nara Shikamaru bernyanyi sambil menatap sorot mata Temari.
"Shi-Shikamaru.."
"Aku mohon Temari, satu kali ini saja dan aku tidak akan menggangumu lagi.."
"I don't want to run away but I can't take it, I don't understand.. If I'm not made for you then why does my heart tell me that I am? Is there any way that I can stay in your arms?" Shikamaru masih terus bernyanyi meyakinkan Temari untuk menyatakan apa yang tersembunyi dari semua ini.
"Ini semua, karena Kaa-san Shikamaru.." Akhirnya Temari mau bercerita.
"Ada apa Temari? Apa dia tidak suka denganku? Apa dia tidak yakin kalau aku tidak bisa membahagiakanmu?"
"Bukan.. bukan itu.."
"Lalu?"
"Kau, adalah orang yang membunuh Tou-sanku."
DEG
Temari mengambil nafas pelan sambil hati-hati melihat Shikamaru yang mematung tidak bergerak. Apa mungkin dia shock? Tanya Temari dalam hati.
"Ta-Tapi Temari, Jii-san adalah Yakuza kan? Dan Yakuza harus dihukum dengan cara dibunuh. Hanya itu satu satunya cara," Shikamaru menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil mengigit bibirnya.
"Kaa-san bilang, hari dimana Tou-san akan dibunuh adalah saat ia baru selesai beribadah di gereja dan telah mengaku dosanya pada Romo. Saat ia keluar dari gereja, kalian para pemburu langsung mengahabisinya," Temari sedikit terisak. Seperti apapun Ayah mereka, pasti mereka menyayangi ayahnya kan?
"Ja-jangan bilang kalau Jii-san adalah bos Yakuza yang terkenal suka bersembunyi di padang pasir itu?" Mata Temari membulat seketika. Ya benar itu adalah Ayahnya.
"I-iya."
"Kalau begitu adalah kesalah pahaman disini Tema-chan. Sebenarnya benar saat itu aku dan Kiba yang memburunya sampai ke gereja. Aku melihat langsung dia masuk ke ruang pengakuan dosa. Aku juga sudah berniat memaafkannya tapi.." Shikamaru mengambil jeda dan itu membuat Temari merinding.
"Tapi?"
"Tapi kemudian ia keluar dengan wajah yang tidak ingin hidup. Dia mengenaliku dan Kiba. Karena kami telah membunuh beberapa dari anak buahnya. Tiba-tiba ia mengatakan sesuatu padaku.."
FLASHBACK ON
"Hei lihat dia sudah keluar dari gereja!" Kiba menepuk pundak Shikamaru yang sedang menunggu salah satu bos dari kelompok Yakuza terkenal
"Dia menuju kesini," Jawab Shikamaru sambil mempersiapkan senjatanya
"Aneh, biasanya dia pasti bersembunyi Shikamaru! Sekarang dia menghampiri kita!"
"Tenanglah Kiba.. Akamaru saja bisa tenang. Orang ini sudah benar benar bertobat. Kita hanya akan menghukumnya dengan penjara kau tau."
"Ah, hehehe.."
Seorang pria paruh baya menghampiri 2 orang dan satu anjing yang merupakan pemburu Yakuza terkenal. Walaupun bukan terkenal di kalangan umum, namun para Yakuza pasti mengenal mereka. Pria ini tampak lusuh, tak berdaya, dan seperti orang yang kehilangan harapan.
Pria ini menghampiri Shikamaru sambil berkata "Hei, anak muda. Apa kau sudah menikah?" Shikamaru kaget mendapat pernyataan seperti itu.
"Tentu saja belum Ji-san. Kenapa kau bertanya seperti itu? Aku masih sekolah."
"Ah, sepertinya umurmu sama dengan umur anak perempuanku," Pria ini mulai berbicara ngelantur.
"Apa yang kau mau Ji-san?" Tanya Kiba sambil menyiapkan borgol.
"Aku.. Aku kenal kalian. Nara Shikamaru dan Inuzuka Kiba. Pemburu Yazuka yang sedang di masa kejayaannya. Aku sudah banyak berdosa. Dan aku benar-benar minta maaf dan ingin bertobat."
"Sebaiknya katakan itu dipengadilan Ji-san," Kiba yang segera ingin memborgol pria ini ditahan oleh tangan Shikamaru.
"Tunggu KIba. Ada sesuatu yang ingin diceritakannya," Shikamaru mendapati sorot mata orang tua ini, langsung merasa iba dan kasihan.
"Terima kasih Nara-san. Kalian tau, aku tidak patut untuk hidup sekarang. Aku sudah menghancurkan nama baik keluargaku, hati istri dan anak anakku.." Shikamaru masih diam mendengarkan.
"Kau memang pria baik hati yang membiarkanku hidup. Padahal belum tentu aku ini pria jujur. Terima kasih Nara-san."
Shikamaru mengangguk. Kiba juga merasa iba lalu duduk di sebelah Shikamaru.
"Kalian tidak perlu tau keluargaku, tapi.. tolong kau sampaikan surat ini. Surat yang kusampaikan hanya untuk anak pertamaku. Anak perempuan yang sangat ku sayangi,"
"Baiklah Ji-san.. dimana aku har-" belum sempat Shikamaru selesai bicara pria itu langsung mengambil pisau dari saku Kiba dan menusuk jantungnya sendiri.
JLEB!
"Ji-san!" Keduanya kaget dan langsung menghampiri pria yang barusaja mengakhiri hidupnya sendiri. Sebelum dia benar benar mati, dia berkata..
"Kiba, Shikamaru.. jangan bilang pada siapapun kalo aku telah bunuh diri." Dan nafasnya hilang bersamaan dengan jiwanya.
FLASHBACK OFF
"Ja.. jadi.." Temari menangis saat itu juga. Ternyata semua yang diketahui ibunya tentang Shikamaru adalah kebohongan yang dibuat untuk mengetahui kematian Ayahnya yang sebenarnya. Temari benar benar terkejut mendengar pengakuan dari Shikamaru.
"Ini," Shikamaru menyodorkan kertas lusuh yang berisikan sebuah surat.
"Kenapa kau membawanya?"
"Setelah hari itu aku selalu membawa surat itu. Berharap suatu hari aku bisa menyerahkan isinya pada anak itu. Tapi, Ji-san tidak pernah memberi alamat. Hanya menyebutkan cirri-ciri bahwa anak itu mempunyai mata hijau, berambut pirang, dan sebaya denganku."
Temari membuka Surat itu. Ia terkejut. Ini benar-benar tulisan Ayahnya. Tulisan berantakan milik Ayahnya
Untuk anak perempuanku tersayang,
Maafkan Tou-san yang selalu membuatmu kerja keras seorang diri untuk menghidupi kami. Sementara aku hanya bersenang-senang dengan uang hasil kerjamu dan ibumu. Kau tau, setelah aku bertemu dengan pendeta, aku sadar betapa bodohnya aku.
Kau tau, aku sangat menyayangi ibumu. aku sangat mencintainya. Aku juga mencintaimu dan kedua adikmu. Aku tidak sanggup bertemu kalian karena rasa maluku. Terlebih dalam hatiku aku tau kalau kau sangat membenciku.
Semoga dengan surat ini, aku sudah menyampaikan semuanya. Dan kalian mau memaafkan Tou-sanmu yang jahat ini.
"Tou-san.." Temari menangis dambil memeluk surat itu. Ia sangat merasa bersalah atas kematian Tou-sannya. Hatinya sangat sakit membaca surat itu. Sementara Shikamaru hanya bisa menggenggam tangan Temari sampai panggilan masuk.
"Ha-halo?" Temari mengangkat telpon sambil berusaha menghapus air matanya.
"Nee-chan! Kaa-san masuk rumah sakit! Barusan jantungnya kambuh!"
Suara Kankuro sangat terdengar jelas di telinga Temari. Hati temari makin hancur berkeping keping. Sekarang apa? Kenapa sekarang Kaa-sannya? Kenapa Tuhan mengambil orang orang yang disayanginya?
"Temari.." Shikamaru berucap lirih sambil menguatkan Temari.
Temari langsung menutup flip handponenya tanpa berkata apa apa. Ia membereskan perlengkapannya serta surat tadi ia masukan dalam tas. Ia menatap Shikamaru sambil menangis.
"Shikamaru.. Kaa-san masuk rumah sakit. Antar aku kesana," Temari menahan semua amarah, sedih dan kesal. Shikamaru memang terkejut tapi dia mengerti dan langsung membawa Temari kerumah sakit.
JDAR! Temari membuka pintu ruangan dengan kasar ia bisa melihat banyak orang disana. Ada Gaara dengan Matsuri, Kankuro seorang para dokter dan suster serta Sakura dan Sasuke. Sakura? Ah iya. Dia memang sahabat sekaligus perawat Kaa-san.
"Kaa-san.." Temari mendekat sambil berucap lirih berharap Kaa-sannya akan siuman.
"Ugh.." Karura Masih bisa sadar dan memeluk Temari
"Anakku.. Gaara, Kankuro.." Karura memanggil ke 3 anaknya dan memeluknya satu persatu.
"Kaa-san.. Tou-san tidak jahat. Dan Shikamaru tidak membunuhnya kaa-san. Shikamaru justru membantu Tou-san untuk tidak bunuh diri. Ia orang baik bu. Ibu lihat ini surat dari Tou-san yang diberi lewat Shikamaru untuk disampaikan pada kita," Temari menyodorkan surat tersebut hingga Karura membacanya.
Dapat terlihat wajah terkejut dari Karura setelah membaca surat itu. Dan air mata bahagia sekaligus sedih mengalir di pipi putih yang sudah mulai berkerut akibat menua.
"Nara-san, Temari, kemarilah," Karura meletakan surat itu dan menyuruh Shikamaru dan Temari menghampirinya.
"Maafkan aku telah membuat takdir kalian yang seharusnya bersama menjadi rusak karena keegoisanku. Sekarang aku telah merestui hubungan kalian. Teruskan pekerjaan muliamu Nara-san. Jangan sampai Yakuza menghancurkan lebih banyak keluarga lagi. Temari, tolong jaga adikmu yaa.."
"Ibu jangan ucapkan selamat tinggal pada kami!" Kankuro berlari mendekati Karura dan menggenggam tangan Karura.
"Tidak Kankuro. Kaa-san tidak akan meninggalkan kalian ber 3. kau Kankuro, jadilah orang hebat yang ditakuti bawahanmu. Dan Gaara, jadilah pemimpin hebat untuk keluargamu. Aku yakin kau dan matsuri bisa mengatasinya.."
"Jangan jadi seperti Tou-san atau Kaa-san kalian. Kami adalah orang tua yang gagal untuk membuat keluarga ini harmonis. Aku mewakili Tou-san kalian untuk meminta maaf.."
"Kaa-san.. bagi kami kalian adalah orang tua terhebat yang pernah kami punya," Gaara yang sedari tadi diam akhirnya tak kuasa menahan rasa sakit akibat penyakit Kaa-sannya.
"Sakura, Sasuke, terima kasih sudah mau menjadi teman sahabat bagi keluarga kami. Semoga kalian bahagia bersama. Terima kasih kalian sudah mau merawat wanita tua yang tidak tau diri ini."
Sakura hanya menangis di pelukan Sasuke. Tidak tega wanita yang sudah dianggap ibunya sendiri ini seperti akan meninggal. Tak lama kemudian monitor pendeteksi jantung perlahan menunjukan bahwa Karura akan segera pergi meninggalkan mereka semua, Temari, Gaara, dan Kankuro sudah berteriak memanggil Karura agar tidak pergi.
Pesan terakhir Karura sebelum pergi "Aku sangat menyanyangi kalian semua."
5 Tahun kemudian..
"Kaa-chan, apa hari ini aku sudah cantik?" seorang anak berumur 4 tahun bernama Atsui berputar putar di depan cermin. Hari ini adalah hari pertama ia akan masuk taman kanak kanak.
"Hei Temari, ia mirip sekali denganmu. Cerewet. Merepotkan," Shikamaru Ayah dari Atsui hanya menggeleng sambil tersenyum wajar melihat tingkah putrinya yang genit dan imut itu.
"Lebih baik begini dari pada malas sepertimu," Gumam Temari sambil memakaikan tas pada anak perempuannya.
"Tapi kau mencintaiku kan Temari-Hime?" Shikamaru mendekat dan memeluk Temari dari belakang.
BLETAK!
"Aw.." Shikamaru mengusap jidatny yang barusan dijitak oleh Temari
"Sudah ku bilang jangan mesra-mesraan di depan anak kita!" Temari mendecah kesal sementara Shikamaru hanya membals dengan kata kata "merepotkan" khasnya.
"Kisuke-kun!" Atsui melambaikan tangan pada seorang anak laki laki berambut biru dengan gaya pantat ayam khas Uchiha.
"Ada apa?" Jawab laki laki itu dingin.
"Nanti aku duduk di sampingmu ya! Kita makan siang sama sama!" Atsui menggenggam tangan Kisuke dengan lembut dambil mengajaknya untuk cepat masuk sekolah. Sementara Kisuke hanya deg degkan tetapi tetap dingin menghadapi gadis yang diam diam dikaguminya ini.
"Wah, wah ada Sasuke kedua ternyata," Shikamaru meledek Sasuke dan Sakura di depan pintu gerbang sekolah sambil melihat anak anak mereka yang dekat sekali seperti perangko dengan amplop.
"Hn." Sasuke tetap dengan perasaan dingin seperti biasa. Sementara Sakura dan Temari hanya tertawa keras.
"Yah, kalau begitu kita lihat saja nanti umur berapa mereka akan memutuskan untuk pacaran," Sakura mengibas ngibaskan tangannya sambil bercanda. Tak lupa dengan Temari yang mengangguk setuju.
"APA?" Sasuke dan Shikamaru berteriak kaget dengan keputusan Temari dan Sakura yang ingin menjodohkan anak mereka.
Sepertinya keluarga bahagia akan dimulai dari kehidupan baru mereka dengan anak anak mereka. Temari tersenyum pada awan pagi itu. ia kembali mengucap syukur atas keluarga yang ia punyai. "Tou-san, Kaa-san, berbahagialah kalian disana. seperti kami berbahagia disini. bersama anak anak kami."
Tak lupa dengan Setha's café, yang telah menyatukan cinta banyak pasangan sekarang telah berjaya dan terkenal di seluruh pelosok jepang. Bahkan sampai luar Jepang.
OWARI
Yeay! Selesai!
Bagaimana? Apa ceritaku menghibur kalian semua? Semoga berkenan di hati Reader yang baik hati ;)
Cerita ini Ai buat sambil mendengar lagu lagu galau. #plak
Maklum mengisi liburan sambil menunggu hasil pengumuman kelulusan #plak
Kalo masih ada Typo dimaafkan yah..
Review?
