THE FUTURE

Disclaimer : Naruto©Masashi Kishimoto

Semi Canon

First SasuSaku Angst FanFiction

for

Nagi Sa Mikazuki Ananda

:+:+:+:+:+:+:+:+:+:+:

Malam indah di daratan yang dulunya bernama Konoha, kini tidak lagi. Konoha telah runtuh sejak kurang lebih empat tahun yang lalu. Kini desa itu dihuni oleh shinobi-shinobi dari klan Uchiha saja. Konoha dan penduduknya telah hilang dari dunia shinobi setelah penyerangan besar-besaran yang dilakukan oleh Madara dan pasukannya―para shinobi berkekuatan legendaris yang dibangkitkan dengan edotensei.

Sebenarnya tidak semua penduduk dan shinobi Konoha yang gugur dalam perang. Beberapa shinobi yang selamat terpaksa menerima kekalahan desa mereka dan menyingkir ke desa lain. Jumlah yang selamat pun bisa dihitung dengan jari. Satu darinya adalah seorang kunoichi didikan mendiang godaime hokage, Haruno Sakura yang kini dikenal sebagai Uchiha Sakura.

Di bawah sinar bulan yang temaram malam itu Sakura duduk di beranda kediamannya yang menghadap halaman samping. Tangan halusnya mengusap-usap pucuk kepala seorang bocah laki-laki yang tengah dibuai bunga tidur di pangkuannya. Sesekali jari-jari rampingnya memainkan bagian belakang rambut putranya yang berantakan.

Tatapan matanya menatap lembut pada wajah rupawan putranya, kasih sayang teramat dalam terpancar di emeraldnya saat ia mulai mengelus lembut wajah rupawan itu. Perasaan hangat makin membuai hatinya yang terlalu lama membeku dan dingin. Selalu. Sosok mungil ini yang selalu bisa membawa kesadarannya kembali, membuatnya bisa 'merasa' kembali. Perasaan bahagia melambungkan hatinya hingga ia tak bisa menahan bibirnya untuk selalu mengulas senyum. Ia begitu bahagia memiliki putranya.

Namun...

Dengan buaian perasaan hangat ini, menatap sosok tersayangnya, Sakura selalu teringat kenangan terpahitnya seumur hidup. Selain rasa bahagia itu, duka yang teramat dalam dan mengoyak hatinya juga muncul di saat bersamaan. Membuatnya bersyukur dan menangis darah di saat bersamaan.

Matanya menerawang halaman luas yang remang-remang akan cahaya bohlam mungil di seberang. Pikirannya melambung pada tragedi pilu hidupnya lima tahun yang lalu.

.

"NARUTOOOOO!" Sakura menjerit sejadi-jadinya ketika tubuh yang terluka parah itu menabrak dinding tebing dengan teramat keras. Air mata mengalir deras hingga membuat matanya perih. Dengan lutut bergetar ia bergerak berusaha mencapai tubuh Naruto yang tergeletak lemah dengan napas terputus-putus.

Rasa sakit menjalari kulit kepalanya ketika dengan kasarnya seorang gadis berambut merah berkacamata menjambak rambutnya hingga ia terjungkal ke belakang. Ia menatap nyalang pada gadis beriris ruby yang menatapnya dengan tatapan benci.

"Kau mau apa? Bocah rubah itu sudah mau mati." ejek Si rambut merah, Karin.

Sakura merasakan napas yang tercekik di tenggorokannya ketika emosi yang begitu besar melandanya mendengar ucapan Karin. Sekujur tubuhnya bergetar menahan amarah. Ingin sekali ia hajar perempuan bengis itu hingga mati, tapi bergerak pun ia sudah susah payah.

Matanya beralih pada tubuh Naruto di seberang sana yang tampak tak bergerak. Hatinya teriris sakit menatap sahabatnya yang sekarat sementara ia tak bisa apa-apa. Apanya yang murid bimbingan Godaime jika menolong temannya saja dia tidak bisa? Sakura benar-benar merasa seperti sampah dan marah pada dirinya sendiri.

Dengan perasaan mulai putus asa ia menatap Sasuke yang berjalan mendekati Naruto. Dalam hati ia bertanya-tanya, dalam keadaan seperti ini mungkinkah Sasuke kembali pada mereka? Berpihak pada Konoha? Lagi-lagi hatinya menjerit saat jawaban paling logis yang ia temukan bahwa, itu TIDAK MUNGKIN.

Air matanya menderas kala menatap Sasuke yang mengangkat kusanaginya, kedua matanya mengalirkan darah.

Sakura merasakan darahnya berdesir dan jantungnya berdegup makin kencang, rasa takut yang amat sangat menerjangnya tanpa ampun. Dengan sekuat tenaga yang tersisa ia menjerit, "jangan Sasuke!"

Rasa sakit menggerayangi tenggorokannya setelah teriakan yang begitu dipaksakan. Ia dapat melihat Sasuke yang awalnya meliriknya kini benar-benar menatap wajah menangisnya. Dengan sepenuh hati ia berharap Sasuke mau mendengarnya. Tidak peduli semustahil apapun, yang ia butuhkan sekarang adalah keajaiban. Dan di saat yang begitu membuat putus asa ini, ia sangat mempercayai keajaiban itu sendiri.

Ia menatap mangekyou Sasuke dengan tatapan memohon sejadi-jadinya, masih dengan derai air mata. Dalam cemas ia berharap Kakashi-sensei segera datang menyelamatkan mereka seperti biasa. Ia berusaha membayangkan pria berambut perak itu datang di tengah-tengah mereka lalu menyelamatkan mereka bagaimanapun caranya. Ia putus asa, dan ia mulai berangan-angan.

.

Seketika harapannya pupus ketika sesosok tubuh lain terlempar ke sisi Naruto. Kakashi. Pria itu tertatih bangun dengan tubuh bersimbah darah. Sakura menjerit tertahan menatap keadaan senseinya. Ia tak peduli tenggoroknya yang sepertinya terluka.

Ia menangis terisak hingga sulit bernapas. Ditatapnya dua pria tersayangnya yang sekarat seolah menunggu kematian menjemput. Ia menatap kaki kiri Kakashi yang bersimbah darah dan buntung selutut. Hatinya benar-benar hancur melihat keadaan ini.

Konoha yang porak-poranda,

Mayat-mayat penduduk dan shinobi yang bergelimpangan dengan darah-darah segar bercipratan,

Api hitam melalap apa saja didekatnya,

Naruto dan Kakashi yang meregang nyawa,

Dan dirinya yang terkulai lemah tanpa bisa apa-apa, ia juga sama parahnya.

'Apa berakhir? Apa berakhir di sini?' tanyanya dalam hati dengan air mata yang setia mengairi pipinya.

Sosok yang tadi melempar tubuh Kakashi menepuk pundak Sasuke, "Selesaikan sekarang." ucapnya dengan tegas. Sasuke melirik Sakura lagi. Di tengah keputusasaan Sakura hanya menatap onyx Sasuke pedih. Ia tak sanggup.

Bibirnya bergerak menggumamkan permohonan tanpa suara, 'kumohon.'

Duak!

Sakura merasakan sesuatu yang teramat keras menumbuk tulang pipi kirinya hingga kepalanya tergeser ke kanan. Cairan merah amis mengalir dari pipinya yang ngilu luar biasa.

"Kau hanya menunggu waktu hingga Sasuke menghabisimu juga." Lagi-lagi Karin mengejeknya setelah menendang wajah Sakura. Sakura mengabaikannya, ia menatap Tobi yang mengambil ancang-ancang mendekati Kakashi yang tertunduk.

Jantungnya bertalu-talu keras melihat langkah pria bertopeng itu mendekati senseinya. Jangan mereka, ia rela... Ia rela untuk mati jika mereka tidak membunuh Kakashi dan Naruto. Ia akan lakukan apa saja untuk menyelamatkan mereka.

Tobi berdiri di hadapan Kakashi yang setengah mati berusaha menjaga kesadarannya dan terus bernapas. Sakura menahan napas saat Tobi menarik kepala Kakashi dan mengambil sebilah pedang. "Kau perlu belajar, Sasuke."

Semua tiba-tiba terasa begitu lambat bagi Sakura. Mata klorofilnya membelalak melihat senseinya. Matanya berganti menatap pedang yang terayun ke arah pria jounin itu. Ia tak sanggup berteriak lagi, bernapas pun sulit.

Ia menatap senseinya lagi. Tatapan obsidiannya mengarah pada Sakura, membuatnya sakit. Sakura merasakan pedih menatap mata itu, mata senseinya. Mata yang seolah minta maaf padanya. Mata 'ayah'nya. Mata yang mengucapkan selamat tinggal. Tidak! Ia tidak mau! Kakashi tidak salah!

.

Kakashi tersenyum,

"Senseeeeeei!"

JRASSS!

.

Sakura merasakan neraka saat itu juga. Kepala perak itu menggelinding jatuh, seiring jeritan tanpa suara milik Sakura. Sakura menatap frustasi dan tertekan pada jasad tak utuh gurunya. Napasnya sesak hingga dadanya naik turun dengan cepat. Senseinya sudah pergi, senseinya sudah pergi dan dia tak bisa apa-apa!

Ia menatap luar biasa marah dan keji pada Tobi. Ia merasakan tubuhnya menggigil penuh amarah dan kemurkaan.

"Kalian... bedebah!" ucapnya susah payah, melawan bibirnya yang pecah.

.

Sasuke mengangkat kusanaginya, dan kali ini membuat Sakura tak sadar untuk sepersekian detik akan apa yang dilakukan pemuda itu. Matanya terbelalak lebih lebar, seolah kelereng hijau itu akan keluar dari rongganya. Ia ingin menjerit pilu, namun tak ada yang keluar. Ia menggigit bibirnya hingga berdarah. Ia ingin mati sekarang. Ia benci mereka. SAKURA BENCI SASUKE UCHIHA.

Matanya membelalak liar menatap bagaimana Sasuke menusuk tubuh penuh luka Naruto, menahan kusanagi itu menembus dada Naruto, dan dengan kejinya menyeret pedangnya hingga mengoyak daging pemuda jinchuuriki kyuubi itu.

Belum hilang delikan mata Sakura, Karin kembali berulah. Diinjaknya kencang perut Sakura hingga medic-nin itu terbatuk. "Sebentar lagi kau akan menyusul mereka." ujarnya sadis.

"Kau cukup bermain-main, Karin?" Tobi tiba-tiba saja sudah berada di samping gadis Uzumaki itu.

"Huh?" Karin menatap penuh tanya pada pria berjubah akatsuki itu.

"Jika kau sudah selesai, kami punya urusan dengan Nona Haruno." Ia melirik Sakura melalui lubang di topengnya. Sakura memelototinya seolah dengan begitu dapat menguliti pria itu hidup-hidup.

"Apa maumu dengannya?" Karin menginjak bahu kanan Sakura.

"Cih! Aku-tidak sudi... berurusan dengan. Ukh, iblis macam kalian!" Sakura menatap mereka dengan tatapan penuh kebencian dan dendam, termasuk Sasuke.

"Diam, jalang!" Karin menendang tubuh Sakura yang terluka.

Duak!

Tubuh ninja persepsi itu terlontar dua meter, lebih jauh lagi jika ia tak segera memusatkan cakra di kakinya dan menstabilkan bobotnya. Sasuke menebas gadis berambut merah itu dengan kusanaginya.

"S-Sasuke?" Karin menatap tak percaya pada Sasuke. Ini untuk yang kedua kali, Sasuke ingin membunuhnya. Tak pernah terpikirkan olehnya untuk yang kedua kali terjadi.

"Aku tak butuh kau lagi." Sasuke memandang gadis Uzumaki itu dengan dingin.

"Kh..." Gadis itu merintih menahan luka sabetan di perutnya dengan posisi tertelungkup tak jauh dari Sakura.

"K-kenapa? Sasuke?" Karin masih tak bisa menerima maksud Sasuke, apa yang salah? Ia sudah membuktikan kesetiaannya pada mereka. Bahkan setelah Sasuke berniat membunuhnya.

"Kau tidak bisa menjadi bagian dari kami. Jika dengan klanmu saja kau tidak bisa dipercaya, bagaimana jika kau berada di antara Uchiha? Kau akan jadi musuh dalam selimut." Tobi mendekati Karin dan dengan cepat mengambil nyawa gadis yang sudah di ujung tanduk itu dengan pedang yang masih berlelehkan darah Kakashi.

Sakura menatap langit di atasnya masih dengan wajah frustasinya. Terbayang-bayang di benaknya bagaimana mereka menghabisi senseinya dan Naruto. Perasaan sesak terus mencekiknya hingga ia merasa lebih baik mati saat itu juga. Lebih baik ia juga mati di sini daripada ia hidup tapi tak ada sisa apapun dari Konoha yang ia cintai, tidak desanya, tidak penduduknya, tidak teman-temannya, tak ada gurunya, tak ada apapun yang tersisa.

Kedua Uchiha berbeda generasi itu menghampiri kunoichi yang terluka dan tergeletak di tanah dengan rambut pink acak-acakan. Sasuke menatapnya datar. Dan Tobi masih dengan misteriusnya menatapnya dari balik topeng.

"Bunuh aku!" Sakura mendesis penuh kebencian. Tangannya yang berpasir bergetar menahan emosi yang berkecamuk.

Tobi hanya menatapnya dalam diam. Begitupun Sasuke.

"Kenapa kalian diam brengsek? Tebas aku!" Sakura berteriak frustasi, sejak tadi ia memang tak peduli dengan suaranya yang nyaris menghilang.

Tobi berujar tanpa menatap Sasuke, "Bagaimana dengan dia Sasuke? Kau tidak keberatan kan?"

"Hn. Aku tak peduli. Cepat selesaikan ini." Sasuke menjawab tak acuh. Ia menatap Sakura dengan dingin.

Tobi terkikik pelan dengan nada agak serak, "Anak muda,"

"Nah, Haruno. Masih ada yang harus kau lakukan. Istirahatlah."

...dan saat itu kesadaran Sakura pun menghilang.

.

Ditemani cahaya bulan, senandung pilu tergumam lirih dari pemilik emerald berpipi basah.

:+:+:+:+:+:+:+:+:+:+:

Sasuke terbangun dari tidurnya dengan beberapa peluh membasahi wajah nonekspresinya. Sasuke merapikan yukata tidurnya dengan gestur tenang. Ia melirik futonnya dan mendudukkan diri di atasnya. Keberadaan sang istri yang di saat larut tak juga tampak tak terlalu mengganggunya―itu yang ia yakinkan pada dirinya sendiri. Ia menatap nanar ruangan yang tak terlalu benderang yang hanya ditemani cahaya lilin ini. Entah kenapa tiba-tiba matanya beralih ke jendela dan bersirobok dengan bulan sabit besar di luar sana. Ia terpaku... pikirannya mendadak kosong beberapa saat.

Ia menundukkan wajahnya dan memijit pelipisnya. Mungkin ia kelelahan pikirnya sendiri. Menatap bulan sabit selalu membuatnya gelisah, sangat bukan dirinya memang. Tapi ini selalu mengganggunya sejak tiga tahun terakhir. Pikirannya selalu membawanya pada suatu perasaan yang tak mengenakkan. Dan ia benci ketika mau tak mau ia mulai sedikit banyak terbawa perasaan.

Belum lagi mimpi-mimpi yang menghantuinya. Tidak lagi mimpi tentang pembantaian klan, ia sudah lama tak memimpikannya. Toh mereka semua kini hidup kembali―memang tidak semua sebenarnya. Mimpi ini mimpi yang berbeda namun tetap berkaitan dengan dirinya.

Ia selalu merasa takut dengan mimpi itu, ia menyesalinya, mimpi itu. Dan ia sangat benci rasa takut, karena itu bisa menjadikannya seseorang yang lemah. Ia menegakkan tubuhnya dan berjalan keluar dari kamar tidurnya dan Sakura.

Mungkin udara segar di tengah malam mampu menyegarkan pikirannya dan membuatnya rileks. Ia melewati ruang keluarga dan kamar Itachi―yang masih sama dengan kamarnya yang dulu. Ia menemukan anak dan istrinya berada di beranda, di larut malam seperti ini. Ia berjalan mendekat.

Dilihatnya Sakura yang menatap lembut putra mereka yang tengah tertidur lelap. Tenggorokannya terasa gatal ingin berkata sesuatu. "Kenapa kalian di sini?" tanyanya dengan ekspresi datar.

Sakura menatapnya, dan sorot matanya langsung berubah datar. Sasuke selalu menyadari itu.

"Sasuke-sama," sapanya dengan tundukkan kepala.

"Saya baru mau mengantar Yuu ke kamar, kami permisi." Ia pun undur diri perlahan dari beranda seraya menggendong Yuu kecil. Sasuke menatap punggung mereka dalam diam. Terpikir olehnya, keluarganya tidaklah normal. Tidak sehangat keluarga lain. Bahkan keluarganya dulu jauh lebih hangat meski sifat ayahnya tak jauh berbeda dengan dirinya kini, cenderung diam.

Sebuah tarikan miring bibirnya memancarkan kesangsian. Tentu saja, jika diawali dengan sesuatu yang dipaksakan, beginilah hasilnya. Sedikit perasaan bersalah kembali mencubit hati pria dua puluh satu tahun itu. Namun dengan cepat ia menepisnya ketika terpikir olehnya perasaan macam itu hanya membuatnya tampak konyol dan cengeng.

Ia menatap bulan sabit yang benderang dari beranda. Wajahnya tampak kesal, kesal dengan 'kedinginan' istrinya mungkin. Lama ia menatap kesal bulan tak bersalah itu.

"Apa niatmu dengan sharingan itu, Sasuke?" Suara tenang itu memecah keheningan malam di sekitar Sasuke.

Sasuke menonaktifkan sharingannya yang ia sendiri tidak tahu entah kapan ia mulai mengaktifkannya. Ia menatap kakak semata wayangnya dengan pandangan penuh arti.

"Apa yang kau lakukan malam-malam?" tanya Sasuke tak kalah tenang.

"Itu yang tadi ingin kutanyakan padamu?" Itachi balas menatap Sasuke. Wajahnya terlihat damai dengan rambut panjangnya yang terurai. Sasuke memalingkan wajahnya, dan kembali menatap bulan sabit di atas sana dengan tatapan kesal bukan main.

Itachi tersenyum tipis menatap tingkah adiknya yang seperti remaja labil. "Ada hubungannya dengan Sakura?"

Sasuke malah balas menatap kakaknya kesal, "tidak."

Itachi hanya diam. Ia berjalan menuju dapur. "Kau mau segelas ocha?" tanyanya kemudian.

"Hn."

:+:+:+:+:+:+:+:+:+:+:

Kedua kakak beradik Uchiha itu sekarang tengah menikmati suasana tengah malam dengan satu gelas ocha masing-masing. Keduanya terdiam seolah-olah suara jangkrik yang mendominasi sangatlah menyenangkan untuk didengar. Sasuke melirik Itachi sesekali. Kakaknya itu tampak tenang dan terus menatap gelapnya malam.

"Apa ada sesuatu di wajahku?" Itachi bertanya tenang tanpa menatap Sasuke.

Sasuke berhenti meliriknya dan menjawab pelan, "tidak."

Keduanya terdiam lagi. Kali ini Sasuke lebih memilih mengikuti jejak kakaknya. Menatapi rimbunan gelap di halaman. Sesekali matanya memicing.

"Ini sudah malam. Sebaiknya kita istirahat." Itachi bangkit dari beranda dan masuk ke dalam rumah mereka.

Sasuke menatap punggung lebar Itachi, lalu mengekornya ke dalam setelahnya. "Hn."

.

Keduanya berjalan dengan Itachi di depan dan Sasuke di belakang. Itachi sampai di depan kamarnya dan Sasuke terus berjalan menuju kamarnya dan Sakura. Itachi menatap adiknya, dan memanggilnya pelan setelahnya.

Sasuke berbalik dan menatapnya, "apa?"

"Jangan membantah perasaanmu sendiri." Itachi menatapnya serius.

"Apa yang kau bicarakan?" Sasuke mengerutkan alisnya meski sebenarnya ia sedikit mengerti maksud Itachi.

"Tidak," Pemuda berkerutan di mata itu segera menarik gagang pintu kamarnya.

"Oyasumi, Sasuke." Ia tersenyum.

"Ya." Sasuke tersenyum tipis dan berbalik menuju kamarnya.

:+:+:+:+:+:+:+:+:+:+:

Sasuke menutup pintu itu setenang mungkin. Ia menuju futonnya dan membaringkan diri di sebelah Sakura. Wanita itu tengah tertidur dengan desau napas halus. Sasuke menatapnya lama dan teringat ucapan Itachi,

Jangan membantah perasaanmu sendiri...

Ia memejamkan matanya dan mencoba mendapatkan kembali tidur berkualitas yang sudah lama tak dia kecap.

Bersambung

(30 Mei 2012. 10.21 PM)

Cuap-cuap author: selamat malam! Akhirnya bisa update. Dua hari lagi ujian dan saya malah nulis fic. Tapi apa mau dikata, idenya nubruk gitu aja. Kan sayang, lagipula mood nulis jg lagi baik. Moga aja hasilnya sebagus mood nulis'y yap. Apa yg ini udh berasa angst'y? Mohon kritik dan saran, saya brasa canggung kikuk gmnaa gitu nyoba genre ini. Review, ne? ;D