Disclaimer: Super Junior hanya milik mereka sendiri, SMent, dan Tuhan semata.
Chara: Cho Kyuhyun, other members of Super Junior and more (SMEnt's Artist)
Genre: Friendship, Romance
Rated: T+
Summary: Cho Kyuhyun, murid pindahan yang pintar dan pendiam, dimana di sekolah barunya ia mempunyai banyak masalah dengan para geng yankee (berandalan). First fic about Cho Kyuhyun ^^. Don't like, don't read, ya.
Warning: Abal, typo(s), maksa, OOC, penuh dengan perkelahian dan kekerasan, AU, tokoh bisa bertambah di setiap chapternya.
Author's song list: AKB48 – Majisuka Rock n Roll.
Enjoy this! XD
.
.
Me vs Yankee
.
.
Chapter 2: The Yankees
Neul Param High School
Lee Donghae terlihat sedang termenung di kelasnya ketika waktu istirahat tiba. Terdapat beberapa plester menempel dan lebam-lebam di wajahnya. Ia tidak mempedulikan teman-teman sekelasnya mengabiskan waktu istirahat dengan memakan bekal, ataupun bercanda. Wajahnya nampak gelisah dan terlihat tidak santai. Sesekali ia malah mengacak-acak rambutnya frustasi. Tapi tak sengaja tangannya menyenggol salah satu lukanya.
"Aiish! Jinjja!" desisnya kesakitan.
Donghae benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia alami malam itu. Dia bersama rekan-rekan satu gengnya babak belur dalam waktu singkat. Apalagi... lawannya hanya satu orang. Anak baru, lagi. Harga dirinya seakan jatuh begitu saja sebagai leader salah satu geng yankee terkenal di sekolah ini. Tapi... mau bagaimana lagi. Kemampuannya memang berada jauh di bawah si lawan. Ia ingat bagaimana sorot mata anak baru itu setelah membuatnya dan rekan-rekannya K.O. Begitu dingin dan menusuk. Baru kali ini... Donghae merasa takut dengan yang namanya murid baru. Akhirnya juga, ia mengakui kalau dirinya bukan apa-apa.
Donghae menyandarkan kepalanya pada kusen jendela yang ada di sampingnya. Matanya menelusuri pemandangan halaman depan sekolah dari atas. Lapangan sekolah begitu sepi. Daun-daun berguguran tertiup angin. Donghae hanya bisa mendesah sambil bergumam.
"Cho Kyuhyun..."
.
.
Di sebuah ruangan yang kelihatannya sudah tua di belakang sekolah, terdengar suara ribut-ribut. Suara gaduh terdengar jelas karena suasanannya yang sepi. Terkadang samar-samar terdengar pula suara rintihan.
"YA! BABBOYA!"
BUUAAGH! PRAAKK!
"Uurgh...
"Aaargh! Dasar lemah! Bangun kau!"
"Ahahaha! Aku ingin sekali membuangmu ke tempat sampah, BABBONIKA!"
BRRAAKK!
"LEMAH! TIDAK BERGUNA!"
Di dalam ruangan tua yang gelap remang-remang itu terdapat empat orang gadis dengan style harajuku-emonya—yang tergabung dalam geng yankee tengah sibuk dengan kegiatan mereka. Dua orang gadis sedang ia tawan untuk memuaskan dahaga mereka. Dengan senang hati, mereka menghajar dua gadis yang notabene adalah lawan geng mereka hingga babak belur. Dua gadis tersebut terlihat sudah tak berdaya di ruangan itu. Darah mengucur dari hidung dan mulutnya hingga membuat gigi-gigi putih mereka bernoda warna darah. Tapi, walaupun begitu, empat orang gadis itu tak puas hanya segini saja. Dengan sifat darah dinginnya, salah satu dari mereka menjambak rambut satu mangsanya dan meninjunya hingga gadis itu terpental ke arah lain. Gadis yang satunya ditendangnya hingga tersungkur ke samping.
JDUAAGH!
"Uugh..."
"Ooh... 'Butterflys'... dimana kekuatan kalian...? Hanya segini sajakah?" Ejek salah satu dari mereka—gadis berambut panjang bergelombang berwarna pirang dengan high-light biru—yang berlagak layaknya leader sambil berjongkok.
"Mereka begitu lemah, Sica-ah... Apa itu! Kekuatan mereka yang sebelumnya hanya sesumbar belaka. Hah! Babbonika!" Timpal rekannya yang memiliki rambut pendek pirang yang poninya dihigh-light warna pink. Wajah aegyonya terlihat sengak.
"Sunny-ah... Tidakkah kau ingat bagaimana mereka sesumbar ingin mengalahkan kita?" Kata gadis berambut hitam panjang yang bagian kiri rambutnya dihigh-light berwarna merah sambil berjongkok di depan dua lawannya.
"Ne... ingatanku sangat tajam, Hyoyeon-ah..."
"Jessica unni... setelahnya, kuserahkan padamu." Sambung anggota terakhir yang mempunyai rambut sepunggung berwarna cokelat kehitaman dengan high-light hijau muda di sisi kanan rambutnya.
"Mwo, Yuri-ah...? Kau menyerahkan sampah-sampah ini padaku? Haruskah aku menghabisi mereka semua...?" Tanya gadis bernama Jessica itu sambil menoleh ke arah rekannnya.
"Ne, unni-ah... aku ingin kau melakukannya..." Jawab gadis yang bernama Yuri sambil menatap mangsa-mangsanya dengan tatapan merendahkan. Mendengar siasat mereka, dua gadis yang tergabung dalam geng 'Butterflys' terlihat gelisah dan panik. Ingin sekali mereka kabur saat itu juga. Tapi, empat gadis di depannya sudah mengepungnya.
"Ne..." Kata Jessica sambil bangun dari duduknya. "Akan kuberi kalian sebuah kenang-kenangan agar kalian selalu mengingat kami berempat." Jessica pun menekan-nekan jari-jari tangannya hingga menimbulkan bunyi. Dua 'Butterflys' di hadapannya terbelalak seketika itu juga.
"Rasakan ini!"
DUGGH! BUAAGH! BRAAKK!
Yuri segera membuka pintu dan melempar dua gadis babak belur itu keluar ruangan. Tangan putih mulusnya berlumuran darah dan meninggalkan noda merah itu di daun pintu.
"Keluar kau semua, orang-orang LEMAH!" Bentak Yuri serak sambil mendorong mereka berdua hingga terjatuh.
"Berani sekali mereka dengan kita berempat." Sunny mencibir sambil menyedekapkan kedua tangan di dadanya.
"Belum tahukah mereka akan kita berempat?" Tanya Yuri sambil memperhatikan dengan jijik satu telapak tangannya yang berlumuran darah.
"Asal kalian berdua tahu. Kami tidak akan terkalahkan. Kami bukan PECUNDANG seperti kalian." Setelahnya, terdengar gelak tawa dari mulut mereka. Tawa kemenangan yang terdengar kejam dan mengerikan.
.
.
Cho Kyuhyun's POV
TENG, TENG, TEENG...
Aku baru saja selesai membereskan semua buku-bukuku ketika kusadari kelas sudah sepi. Pelajaran hari ini rasanya melelahkan. Tak ada yang menyenangkan. Ingin sekali aku segera pulang dan bermain game sepuasnya. Aah... tapi setelah ini, aku harus mengikuti bimbingan belajar. Aiish! Benar-benar membosankan.
"Kyuhyun-ah...!" Seseorang memanggilku dari belakang. Aku pun menoleh. Ya. Pemuda yang memangilku itu adalah salah satu dari tiga sahabat—bukan—mereka bertiga adalah teman sekelasku. Karena mereka dekat denganku, mereka berpikir bahwa mereka bersahabat denganku. Tapi, aku menganggap mereka hanya sekedar teman. Tidak lebih. Kembali lagi ke TEMANku yang satu ini. Dia Kim Ryeowook. Aku sempat beranggapan bahwa dia mirip sekali dengan perempuan karena perawakannya yang kecil dan imut. Tapi, jujur saja. Ia baik sekali padaku.
"Sudah mau pulang?" Tanyanya.
"Aku masih akan ke tempat bimbingan belajar." Jawabku singkat.
"Ooh?" Ryeowook terlihat antusias. "Waah... kau rajin sekali, ya? Pantas saja kau pintar." Katanya lagi sambil menepuk pundakku. Aku hanya tersenyum kecil.
Kami pun berjalan keluar menuju gerbang sekolah. Kami juga beberapa kali berpapasan dengan beberapa yankee, tapi mereka tak mempedulikan murid-murid biasa seperti kami.
"Kyuhyun-ah..." Bisik Ryeowook setelah berhasil melewati mereka.
"Ne?"
"Kau kan baru sebentar di sini. Aku harap... kau berhati-hati dengan mereka." Katanya sambil melirik ke arah yankee-yankee itu. Aku pun meluruskan pandangannya.
"Kenapa dengan mereka?" Tanyaku sok polos.
Ryeowook terlihat heran karena pertanyaan polosku. Aku bisa melihat ia memutar bola matanya. "Dengar, Kyu-ah. Kau tahu...?" Ryeowook terlihat sangat bersemangat ingin menceritakan hal ini. Dan... baru pertama kali ini aku dipanggil dengan nama akrab. "Di sekolah ini, banyak sekali geng yankee. Semuanya parah-parah. Jangan sekali-kali kau melibatkan diri dengan mereka!" Aku pun hanya diam dan mendengarkan ceritanya, walaupun aku sudah tahu.
"Aku tak tahu pasti jumlah mereka ada berapa. Tapi yang pasti, mereka menyebar di sekolah ini. Aliran mereka juga berbeda-beda. Mereka semua berbahaya, tidak hanya yankee laki-laki, tapi juga yankee perempuan! Hiii... kenapa harus ada manusia seperti mereka di dunia ini!" Katanya geregetan.
Aku hanya bisa memperhatikan para yankee yang sedang melintas itu dari jauh. Yah... memang parah, sih...
"Yankee yang sangat terkenal di sini adalah Tan Hangeng—murid pindahan dari China, geng yankee 'The Princes' milik Lee Donghae... lalu... 'The Four Princesses', geng yankee perempuan yang dipimpin oleh Jessica. Lalu... Aaargh! Sepertinya masih banyak lagi!" Jelasnya frustasi. Aku memang tahu di sini banyak sekali yankee, tapi aku tidak begitu tahu karakteristik mereka lebih lanjut.
"Benarkah?" Tanyaku sedikit datar.
"Yep! Dan... yang paling berbahaya adalah geng yankee yang diketuai oleh Kim Heechul. Namanya 'Black Dragon'. Mereka adalah geng yankee senior dan musuhnya tersebar di mana-mana!" Aku hanya berjalan sambil mendengarkan. "Dari nama-nama yang aku sebutkan tadi... kebanyakan mereka sudah kelas 3, walaupun geng yankee yang lain juga masih banyak yang beranggotakan anak kelas 2... atau bahkan anak kelas 1! Hiiish... Aku merinding setiap melihat mereka melintas, walaupun mereka tidak berbuat apa-apa padaku."
Kami pun melanjutkan perjalanan. Aku memalingkan pandanganku ke arah lain. Aku tak bisa lagi menyembunyikan ekspresi antusiasku saat itu, walaupun tipis. Aku kini baru tahu, ternyata ada juga yankee yang menempati peringkat teratas. Geng yankee yang paling berbahaya dari geng-geng yankee yang lain.
Kami baru saja melewati dua gang untuk mencapai halte bus terdekat. Tapi, baru asyik-asyiknya berjalan, kami berdua sudah dihadang oleh seseorang. Lee Donghae. Terlihat wajahnya banyak ditempeli plester-plester dan terdapat beberapa lebam. Terpaksa kami berhenti. Ryeowook terlihat kaget melihat salah satu leader yankee berdiri di depannya, sementara aku hanya memasang tampang biasa.
"L-Lee Donghae sunbae...?" Kata Ryeowook terbata.
"Kyuhyun-ah." Panggilnya. Aku pun mendongak. Ryeowook terlihat heran.
"Kyu-ah! Kau kenal dengannya?" Tanyanya tak percaya dengan setengah berbisik padaku. Aku hanya terdiam.
"Kyuhyun-ah... aku ingin berbicara denganmu." Kata Donghae yang... sepertinya bermaksud baik-baik. Ryeowook sendiri sampai heran seheran-herannya mendengar Donghae berkata dengan nada yang biasa. Padahal biasanya, ia suka sekali berteriak dan membentak. Aku terdiam sambil memandang Donghae dengan tatapan polos.
"Aku..." Donghae terlihat ragu. "Maafkan aku untuk tempo hari!" Lanjutnya sambil membungkuk. Melihatnya, aku hanya memiringkan kepala, sedangkan Ryeowook... bisa-bisa ia menganga hingga rahang bawahnya menyentuh tanah saking tidak percayanya. Seorang Lee Donghae... meminta maaf? Dunia sudah jungkir balikkah?
"MWO?" Seru Ryeowook tak percaya.
"Aku mengakui aku kalah. Aku memang tak pantas disebut leader yankee." Lanjutnya. 'Ya... memang benar. Kau tak pantas dengan sebutan leader. Apalagi leader untuk geng yankee.' Batinku datar. Tapi, aku sama sekali tidak menghiraukan perkataan maaf dari Donghae. Aku pun dengan santai berjalan melewatinya, sementara Ryeowook mengikutiku sambil berjingkat-jingkat sedikit saat melewati Donghae. Menyadari aku yang tak peduli, Donghae pun berbalik dan dengan sigap menarik tanganku. Ryeowook tercekat hingga menahan napas melihat tindakkannya yang cepat itu.
"Aku mohon, Kyuhyun-ah..." Pintanya. Aku merasa sedikit risih karna ulahnya itu. Aku menyentakkan tanganku, tapi malah makin erat genggaman Donghae pada tanganku. Heh! Keras kepala sekali dia!
Tanpa kusadari, tiba-tiba saja Donghae memelorotkan tubuhnya dan berlutut di hadapanku. Perlahan, aku pun terbelalak. Ryeowook yang melihatnya juga terbelalak tak percaya. Saking tidak percayanya, ia sampai mencubit pipinya sendiri. Ia mengira ini mimpi. Tapi... sakit. Berarti ini kenyataan. Walaupun sakit... Tetap saja ia belum bisa mempercayainya.
"D-Donghae hyung..." Yep. Untuk pertama kalinya, aku menyebutnya dengan sebutan 'hyung'. Agak aneh memang rasanya di lidahku. Tapi, mau bagaimana lagi. Dia juga kakak kelasku.
"Izinkan aku mengikutimu, Kyuhyun-ah..." Katanya masih sambil berlutut. "Aku bersedia menjadi bawahanmu." Lanjutnya. Aku menatapnya tak percaya sambil mengerutkan kedua alisku. Sementara Ryeowook menatapku dengan tatapan yang seakan berkata; apa-yang-kau-lakukan-padanya-hingga-ia-menjadi-seperti-ini? Kau menjampi-jampinya-ya?
"Aa..."
"Aku mohon, Kyuhyun-ah..." Potong Donghae hyung mendesakku. Aku tak bisa menjawabnya. Bagaimanapun juga, dia manusia sepertiku.
"A-Aku mohon, Donghae hyung, jangan seperti ini..." Kataku akhirnya. "Jangan menjadi bawahan maupun pengikut. Kau..." Sungguh! Rasanya berat sekali mengatakan ini. Tapi... hanya ini jalan satu-satunya.
"Kau jadi temanku saja."
Dengan refleks, Ryeowook menatapku sambil terbelalak lebar. Sementara Donghae hyung terlihat sumringah saat itu juga.
"WHAT?"
"JINJJAYO?"
Kata-kata dari Ryeowook dan Donghae hyung terdengar bercampur di telingaku. Dan... semua itu dikatakan dengan berseru. Telingaku langsung berdengung seketika. Aku sendiri pun juga tak menyangka bakal berkata demikian.
"N-Ne..." Hanya itu yang bisa keluar dari bibirku.
"Kyuhyun-ah... gomawoyo!" Seru Donghae hyung yang lantas bangun dan menjabat tanganku erat.
"N-ne, hyung..." Kataku sambil tersenyum simpul, walaupun terlihat sedikit terpaksa. "Gomawoyo, Wookie-ah...!" Kini ia berganti menjabat tangan Ryeowook tiba-tiba.
"W-Wokie-ah?" Protes Ryeowook dengan wajah tak percaya. Baru pertama kali Ryeowook dipanggilnya dengan sebutan 'Wookie'. Itu benar-benar membuat jantung Ryeowook seakan berhenti. Seorang yankee macam dia... berani sekali menyebutnya dengan nama akrab seperti itu. Apalagi... mereka sama sekali tidak akrab. Itu tentu saja!
Donghae pun segera berlalu sambil melambai ke arahku dan Ryeowook. Aku hanya tersenyum sambil membungkukkan badan. Sementara Ryeowook membalas lambaian tangan Donghae hyung dengan patah-patah.
"Kyu-ah! Ini sulit dipercaya! Apa yang kau lakukan padanya hinga membuatnya... Aish! Apa sih, yang ada di pikiranmu? Aku pikir aku sudah gila!" Serunya sambil mengacak-acak rambut hitamnya. Aku hanya meliriknya heran. Diam-diam, aku tersenyum, walaupun kecil sambil terus melangkah.
"Hei, Kyu-ah! Tunggu aku!"
Kami pun terus berjalan menuju halte bus tanpa menyadari seorang gadis tengah memperhatikan kami di balik tikungan jalan di belakang kami. Gadis berambut panjang pirang bergelombang dengan high-light biru. Seragamnya terlihat serba mini dan banyak aksesoris menghiasi leher, tangan dan di beberapa bagian tubuhnya. Matanya menyipit dan senyum liciknya menyungging.
"Diakah Cho Kyuhyun?" Gumamnya pada diri sendiri.
.
.
Black Dragon's basecamp
Di sebuah bangunan kecil di dekat jembatan kereta api—yang pintunya terdapat coretan pilox hitam bernada 'Black Dragon's—tak jauh dari sekolah, berkumpullah tiga orang pemuda dengan gaya harajukunya yang kental bersama tiga bawahan mereka yang seakan menjadi bodyguardnya.
Sang leader nampak terduduk membelakangi dua rekan dan tiga bawahannya yang berbaris rapi di sudut ruangan. Kakinya bertengger di kusen jendela yang berada tepat di depannya. Dengan santai, tangannya memainkan bulu kemoceng berwarna hitam. Satu rekannya nampak sedang santai membaringkan tubuhnya di kursi panjang yang terdapat di ruangan itu sambil memainkan ponselnya. Sedangkan rekan yang satunya terduduk di meja yang ada di sisi kursi panjang itu sambil menunduk. Gaya duduknya cool dengan kaki terbuka.
"Apakah maksudmu... anak baru itu menyembunyikan kekuatannya dengan bersikap polos seperti itu, Heechul-ssi?" Tanya salah satu bawahannya. "Jika memang benar, kita harus segera mematahkannya."
"Ahahahaha! Babbonika!" Tiba-tiba rekan Heechul yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya tergelak. Suaranya yang sedikit cempreng terdengar merendahkan. "Kau dengar itu, Heechulie?" Tanyanya pada teman di sampingnya.
"Teuki-ah... kau terlalu menganggap remeh!" Timpal pemuda yang duduk di atas meja dengan nada tertahan.
"Mwoya, Yesungie? Ckckck... seberapa kuat, sih, anak itu...?" Pemuda berambut harajuku berwarna cokelat muda yang dicampur dengan warna kehitaman itu pun bangun dari pembaringannya. "Entah kenapa seorang Park Jung Soo ini begitu penasaran dengan anak baru itu..." Lanjutnya. Salah satu ujung bibirnya naik.
Sementara rekan-rekan dan anak-anak buahnya ribut membicarakan tentang si anak baru, sang leader, Kim Heechul nampak terdiam. Matanya serius menatap ke depan, menelusuri pemandangan di luar jendela. Tangannya yang sedari tadi mengelus-elus bulu kemoceng tiba-tiba terhenti.
'Siapa sebenarnya anak baru itu?'
.
.
TBC
A/N: Oke... chapter dua langsung aja keluar. Nyelesaiinnya juga cepet. Entah juga. Mungkin karena lagi mood aja. Saia bingung mau bahas apa di sini. Yang jelas... saia mohon review, saran, dan nasihatnya... saia masih newbie di sini. Karya saia yang pertama berjudul 'Believe and Promise' *promosi terselubung* bila ada yang berminat baca, monggo lho... :D *plak!*
Saia juga berterimakasih buat yang sudah baca dan review. Saia gak bisa balas satu-satu. Mungkin ada beberapa yang bener-bener butuh dijawab:
Jjon96: Ah! Kau benar juga adikku! Nih, udah kutulis miring, kok. Komplen atau komplain? Ah! Saia selalu menemukan dua-duanya ==. Lain kali bakal saia perbaiki. Makasi ya... :D
Rose, IamSPARKYU, lilin: Waah... pada minta WonKyu, ya? Oke, deeh... tapi harap sabar, ya... :D
Hottahae: Crack pair? Aaa... kayaknya gak bisa. Maaf, ya... saia udah ngetik sampek chap 5 soalnya... T,T
Sekian dulu deh, cuap-cuap gaje dari saia. Maaf kalo ada kesalahan teknis (?). Saa~ yeoreobun... saia tunggu reviewnya... XD XD
Mr. Simple :D
