Disclaimer: Super Junior hanya milik mereka sendiri, SMent, dan Tuhan semata.

Chara: Cho Kyuhyun, other members of Super Junior and more (SMEnt's Artist)

Genre: Friendship, Romance

Rated: T+

Summary: Cho Kyuhyun, murid pindahan yang pintar dan pendiam, dimana di sekolah barunya ia mempunyai banyak masalah dengan para geng yankee (berandalan). First fic about Cho Kyuhyun ^^. Don't like, don't read, ya.

Warning: Abal, Typo(s), Maksa, OOC, Penuh dengan perkelahian dan kekerasan, AU, Tokoh bisa bertambah di setiap chapternya.

Author's song list: AKB48 – Majisuka Rock n Roll, 2NE1 – I'm The Best

Enjoy this! XD

.

.

Me vs Yankee

.

.

Chapter 3: The Four Princesses

Cho Kyuhyun's POV

Neul Param High School

Pagi ini aku sudah disibukkan oleh sesuatu. Sejak pemilihan pengurus OSIS yang baru, aku terlipih menjadi sekretaris dan harus bergulat dengan kertas-kertas dan tulisan. Selain menyelesaikan pekerjaan sekolah, aku juga mulai disibukkan dengan mengetik beberapa dokumen dan proposal dari OSIS itu sendiri. Melelahkan, memang. Tapi, bagaimana lagi. Itu adalah pekerjaanku.

"Adakah yang perlu kubantu, Kyuhyun-ah?" Tanya Siwon hyung yang sedang membereskan ruang OSIS bersamaku. Aku tersentak mendengar suaranya yang tiba-tiba berbicara padaku. Aku yang sedang membawa tumpukan dokumen hampir saja oleng dan menjatuhkan semuanya. Aduuh... jantungku tiba-tiba saja berdegub kencang!

"Aa... a-aniyo, hyung. Aku bisa sendiri." Kataku tanpa melihat ke arahnya.

"Ah, Kyuhyun-ah... kau tidak melihat tumpukan dokumen yang kau bawa?" Siwon hyung menunjuk tumpukan dokumen di atas lenganku. Yaah... tingi mereka sudah hampir menutupi pandanganku.

"Sudahlah, biar kubawakan setengahnya." Tanpa seizinku, Siwon hyung langsung mengangkat setengah dari dokumen-dokumen yang kubawa. Sebenarnya, lebih dari setengah, sih. Dengan tersenyum, ia pun membantuku membawakan dokumen-dokumen itu. Aku tak bisa mencegah dan melihat ekpresinya saat itu. Wajahku sudah merah merona.

Kami berjalan keluar ruang OSIS. Bisa dilihat, pagi ini bel masuk kelas belum berdering. Banyak siswa-siswa yang menghabiskan waktu mereka di koridor sekolah. Bercanda, tertawa, berbagi cerita, dan semuanya. Terakhir aku hampir saja ditabrak oleh dua gadis yang sedang kejar-kejaran.

"Ah! Mianhae!" Ujar seorang gadis dengan singkat sambil terus mengejar kawannya itu. Aku hanya bisa mendesah pelan. Saat sedang berjalan menuju kelas, tiba-tiba aku menginjak sesuatu di lantai. Sejenak, aku berhenti dan melihat apa yang sebenarnya kuinjak.

"Waeyo, Kyuhyun-ah?" Tanya Siwon hyung yang sudah berada agak jauh di depanku.

"Ah! Aniyo. Siwon hyung duluan saja. Aku akan menyusul." Kataku.

"Geurae? Baiklah... dokumen ini biar aku yang bawa. Sepulang sekolah, aku akan antar ke rumahmu." Jawabnya. Aku hanya mengangguk. Sepeninggalan Siwon hyung, aku pun berjongkok dan mengambil benda yang kuinjak tadi. Selebaran kertas yang sudah kumal.

'The Four Princesses'

Aku mengernyit. Kertas selebaran berwarna pink pudar ini penuh dengan coret-coretan. Berbagai kata-kata kasar tertulis di situ. Di tengah-tengah kertas terdapat tulisan berwarna hitam dan merah yang bernada 'The Four Princesses'. Sepertinya, aku pernah mendengar kata-kata ini. Tapi... aku tak yakin. Adakah sesuatu yang berhubungan dengan sekelumit kalimat ini?

.

.

"The Four Princesses?"

Donghae hyung mengernyitkan kedua alisnya saat mendengar pertanyaanku. Ya, istirahat ini, aku memutuskan untuk menanyakan tentang selebaran tadi ke kelas Donghae hyung.

"Ne. Aku menemukan selebaran ini di koridor tadi pagi. Sepertinya, aku pernah mendengar kalimat itu. Apakah ini sebuah nama?" Tanyaku.

"Aah..." Donghae hyung terlihat mengulet sambil menurunkan kedua kakinya yang tadi bertengger di atas meja. "Dengar, Kyuhyun-ah..." Donghae hyung menarik kursinya agar bisa lebih dekat denganku.

"'The Four Princesses' adalah geng yankee perempuan yang melegenda di sekolah ini." Jelasnya dengan nada serius. "Merekalah yang pertama kali membentuk geng yankee perempuan." Aku membuka mulutku sedikit. Benar juga. Geng yankee di sini tidak hanya laki-laki, tapi juga ada yang perempuan.

"Begitukah?" Tanyaku sedikit bergumam.

"Mereka beranggotakan empat orang gadis, dengan leader bernama Jessica. Tiga diantara mereka sudah kelas tiga, sama sepertiku. Dan yang satu lagi sepantaran denganmu." Katanya. Aku hanya terdiam sambil mendengarkan.

"Walaupun mereka perempuan, tapi kehebatannya tak bisa diremehkan." Lanjut Donghae hyung sedikit menerawang ke arah papan tulis di depan. Aku mengernyitkan alis.

"Apa maksudmu, hyung?"

"Mereka... seperti nenek sihir. Mereka kejam dan liar. Pernah beberapa hari lalu, dua anggota geng perempuan dihabisinya hingga babak belur. Aku juga dengar kabar, salah satu dari korbannya jatuh pingsan. Aku juga pernah berkelahi melawan mereka dan hasilnya... satu tanganku retak." Aku tercetik sejenak mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Donghae hyung. Donghae hyung lalu menoleh ke arahku.

"Kuharap... kau terus berhati-hati dan waspadalah. Sebab... mereka tahu ada rumor bahwa terdapat siswa baru di sekolah ini yang pernah menghabisi satu geng dalam waktu singkat." Kata Donghae hyung yang sedikit menyangkut-pautkan dirinya sendiri. "Mereka tak akan membiarkan itu." Aku lantas terdiam.

'Separah itukah... hingga mereka berhasil membuat satu tangan Donghae hyung retak?'

.

.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Semua kegiatan belajar-mengajar dan klub telah selesai. Waktunya pulang.

"Kyuhyun-aah!"

Aku lantas menoleh saat mendengar seseorang memanggilku. Mataku bisa mendapati Eunhyuk berlari ke arahku sambil menenteng tasnya di pundak.

"Eunhyuk-ah?" Tanyaku. "Waeyo?"

"Aiish... kau ini. Bisa-bisanya kau bertanya seperti itu! Ini!" Eunhyuk menyondorkan sesuatu padaku. "PSPmu tertinggal. Kupikir kau pasti bakal uring-uringan jika tidak ada ini bersamamu." Katanya sambil sedikit manyun. Mataku membulat. Ah... kenapa aku jadi teledor begini?

"Gomawoyo." Ucapku sambil menundukkan kepalaku.

"Aah... tidak apa-apa." Katanya. "Uum... mau pulang bersama?"

Aku mengedipkan kedua mataku sekali. Pulang bersama? Sudah lama aku tidak merasakan pulang bersama teman.

"Boleh juga." Kataku. Aku bisa melihat Eunhyuk membisikkan kata 'yes!' sambil mengepalkan tangan. Aku hanya menatapnya heran.

Kami pun menyusuri jalan setapak, melewati belokan satu ke belokan yang lain. Selama perjalanan, Eunhyuk tak pernah berhenti mengoceh. Aku sama sekali tak bisa menyelanya sedikitpun. Di dalam hati, aku merasa geli sekaligus heran. Aku sampai tidak mengira bakal mempunyai teman macam dia. Aku diam-diam menyunggingkan senyum tipis tanpa ia ketahui.

Matahari bersinar terik sekali hari ini. Aku sedikit mengeluhkan tentang hal ini. Peluhku perlahan meleleh melewati pipiku.

"Aah... kenapa hari ini panas sekali..." Keluh Eunhyuk sambil mengibas-ngibaskan kerah seragamnya. Eunhyuk memang bukan berandalan atau semacamnya. Tapi, gayanya sedikit santai dan tidak suka sesuatu yang terlalu ketat. Ya... aku juga baru mengetahui kalau dia adalah anggota dari klub dance. Kemampuan dancenya memang hebat dan aku mengakuinya. Biasanya, anak-anak anggota klub dance memang lebih fashionable. Aku bisa melihat rambutnya kini berubah warna lagi. Rasanya, baru kemarin dia mengecat rambutnya dengan warna cokelat. Tapi kini berubah menjadi blonde. Model rambutnya pun berubah. Aku menggeleng samar saat mengetahui itu.

"Kau mengecat rambutmu lagi?" Tanyaku.

"Ah! Yaah..." Katanya. "Aku menyukai rambut blondeku yang sekarang."

"Kau terlihat jadi lebih muda." Celetukku datar.

"Mwo? Jinjja yo?"

"Ne." Jawabku sambil melirik ke arahnya. Eunhyuk tergelak.

.

.

"YA! BABBOYA!"

PRAAKK! BRUGH!

"Dasar lemah! Berani sekali kau menantang kami, HAH?"

PRAANG!

"Uugh...!"

BUAAGH!

Di sebuah jalan kecil di belakang sebuah gedung, terdengar suara teriakan dan bentakan yang sesekali diselingi suara gaduh dan rerintihan. Terlihat empat anggota 'The Four Pricesses' sedang memberi pelajaran salah seorang musuh mereka.

"Aah... aku lelah menghadapi orang-orang yang sok kuat seperti ini."

"Sunny-ah... kerjamu hari ini bagus sekali."

"Hyeyeon-ah! Kau kira aku ini apa, hah?"

"Aiish... mianhae, Sunny-ah..."

"Jessica unni... mohon bantuannya."

"Haruskah aku mematahkan semua tulang-tulangnya...?" Jessica melirik ketiga rekannya. Lalu melirik lagi lawannya yang kini sudah babak belur. "Haruskah...?"

"Sica-ah... kau selalu yang mendapat tugas untuk menghabisi sampah-sampah busuk seperti dia. Lumayan, kan, kau mendapat gongnya." Komentar Sunny sambil membersihkan rok mininya dari kotoran yang menempel. Jessica tersenyum licik sambil menatap tajam korbannya.

"Okey..." Katanya sambil berbalik. Ia pun memutar lehernya serta melemaskan jari-jari tangannya. Tapi, saat mereka berempat lengah sedikit, sang korban buru-buru bangun dan kabur. Yuri yang pertama mengetahui itu lantas terbelalak dan segera mengejar, diikuti oleh Hyoyeon.

"Lawan yang menyusahkan!" Bentak Sunny kesal. Sementara Jessica hanya mendesah sambil tersenyum merendahkan. Dengan malas, Sunny dan Jessica menyusul dua rekannya.

Belum jauh Yuri dan Hyoyeon mengejar lawan lemahnya itu, mereka sudah keburu melihat dua orang pemuda melintas dengan santainya melewati mereka. Mengenali salah satu dari pemuda itu, dua gadis yankee tersebut pun terhenti dan melupakan korbannya. Mereka pun terhenti, berbalik dan menghampiri dua pemuda itu dengan angkuh.

"Ya!"

.

.

Kyuhyun dan Eunhyuk berjalan menyusuri beberapa pertokoan di pinggir jalan. Di samping kiri mereka bisa terlihat ramainya jalan raya. Eunhyuk baru saja mentraktir Kyuhyun milk shake di salah satu kedai. Di ujung jalan, mereka pun berbelok ke arah gang kecil yang merupakan jalan pintas menuju halte bus. Jalan kecil itu terlihat lengang dan sepi.

Baru berjalan sebentar, Eunhyuk melihat seorang gadis dengan darah mengucur di jidat, hidung dan bibir tengah berlari panik. Kepala Eunhyuk refleks mengikuti kemana gadis itu berlari. Tapi, setelah gadis itu berlalu, dua gadis—Yuri dan Hyoyeon—dengan seragam serba mini dan terlihat sedikit nyentrik tengah mengejar sambil berteriak memanggil gadis malang tadi. Terlintaslah sebuah pikiran di kepala Eunhyuk bahwa gadis yang babak belur tadi baru saja dikeroyok oleh Yuri dan Hyoyeon yang mengejarnya. Eunhyuk yang memang anti berandalan lantas menarik kepalanya, menatap konblok yang ia injak. Alisnya berkerut tegang. Perasaannya berubah tidak enak. Ia melirik Kyuhyun yang ada di sampingnya. Kyuhyun terlihat tenang-tenang saja. Ia terus saja menatap ke arah depan. Eunhyuk benar-benar tidak percaya dengan temannya sendiri. Bagaimana ia tidak merasa tegang sedikitpun?

"Ya!" Tiba-tiba Hyoyeon memanggil Eunhyuk dan Kyuhyun yang tengah melintas dengan nada keras. Eunhyuk merasa bulu kuduknya berdiri. Karena merasa dipanggil, Kyuhyun dan Eunhyuk terhenti.

Kyuhyun berbalik dengan tenang sementara Yuri dan Hyoyeon tengah menghampirinya dan Eunhyuk dengan angkuhnya.

"Yuri-ah, Hyoyeon-ah! Apa yang sedang kalian lakukan?" Tiba-tiba saja, Jessica dan Sunny menyusul dan mendapati mereka sedang mengepung dua pemuda. Jessica memperhatikan dua pemuda itu dari kejauhan. Gadis berambut pirang bergelombang dengan high-light biru itu meyipitkan matanya dan terbelalak saat mengetahui salah satu dari pemuda itu.

"Jessica unni-ah... orang yang kau cari ada di sini." Kata Yuri tanpa berbalik sama sekali.

Medengar kata 'Jessica', Kyuhyun teringat akan perkataan Donghae tadi pagi. 'Jessica? Merekakah 'The Four Princesses'?' Batin Kyuhyun.

"Aah... jinjja." Kata Jessica seraya menghampiri Kyuhyun dan Eunhyuk sambil menepuk-nepukkan telapak tangannya. "Aku dengar ada murid baru di sekolah kita. Inikah orangnya? Cho Kyuhyun?" Tanya Jessica dengan nada yang angkuh.

"Annyeonghasaeyo." Kyuhyun membungkuk dan mengucap salam. Jessica hanya bisa mendecih merendahkan.

"Tak kusangka kita bisa bertemu di sini." Jessica mulai mengitari Kyuhyun dan Eunhyuk sambil mengamati mereka secara intens. Mulutnya nampak bergerak-gerak seperti mengunyah permen karet. Sementara Sunny, Hyeyeon dan Yuri berada agak jauh dari Jessica, berjaga-jaga sambil berkacak pinggang. Kyuhyun nampak santai saja walaupun tengah dikerumuni yankee perempuan yang sangat melegenda seperti 'The Four Pincesses' ini. Sementara Eunhyuk sedikit tegang sambil terus waspada.

"Kudengar... kau sangat kuat, Cho Kyuhyun." Ujar Jessica tepat di depan Kyuhyun. Tapi, pemuda di hadapannya tidak menjawab sama sekali. Kyuhyun dengan cuek mengabaikan pertanyaan Jessica dan berjalan melewatinya. Melihat itu, Jessica sedikit naik pitam. Sementara Sunny—yang memang gampang emosi—lantas menarik tas selempang Kyuhyun dengan kasar hingga jatuh saat Kyuhyun melintas di dekatnya.

"Dia tidak ingin bicara sama sekali!" Bentaknya.

"Kyuhyun-ah!" Eunhyuk berusaha mencegah, tapi ia keburu dihadang oleh Hyoyeon dan Yuri.

"Mwoya!" Tanya Yuri angkuh sambil memasang tampang sengak.

Jessica hanya bisa tersenyum licik ketika melihat isi tas Kyuhyun berserakan di atas konblok. Kedua mata bulatnya tertumpu pada PSP Kyuhyun yang saat itu tergeletak agak jauh dari tasnya.

"Apa ini?" Jessica mengambilnya. "PSP? Orang pintar sepertimu ternyata suka juga bermain ini." Katanya sambil menggoyang-goyangkan PSP itu di tangannya.

"Hanya untuk selingan." Jawab Kyuhyun santai. Jessica melirik Kyuhyun dengan tatapan dinginnya. Ia lantas menyondorkan PSP itu pada Kyuhyun. Tapi, saat Kyuhyun akan mengambilnya, Jessica dengan usil menariknya.

"Kau ingin ini?" Tanya Jessica mengejek sambil memain-mainkan PSP itu di depan Kyuhyun. Dengan gerakan tiba-tiba, Jessica lantas membanting PSP itu ke atas konblok hingga cassingnya pecah. Tak lupa, dengan sadis ia juga menginjak-injaknya hingga rusak. Eunhyuk yang melihat itu lantas terbelalak tak percaya. Ia merasa kecewa saat benda itu hancur. Bagaimanapun, benda itu adalah benda kesayangan temannya.

"Apa yang kalian lakukan!" Bela Eunhyuk.

"Diam, kau!" Sambar Hyoyeon. Eunhyuk tercekat.

Kyuhyun hanya menatap datar PSPnya yang hancur ditangan gadis berambut pirang berhigh-light biru itu. Jessica menolehkan kepalanya ke arah Kyuhyun. Ia salut dengan ekspresi Kyuhyun yang nampaknya tidak peduli dengan PSPnya yang naas itu. Ia terkekeh licik. "Seperti yang dikatakan... dia memang terlalu kuat." Lagi-lagi, Kyuhyun dengan sikap tak peduli dan mengambil semua barang-barangnya—kecuali PSPnya yang sudah rusak, memasukkannya ke dalam tas dan berlalu. Tapi, kali ini Jessica benar-benar tidak bisa membiarkannya. Rasa kesalnya sudah memuncak. Ia pun dengan segera menarik tangan Kyuhyun dan bersiap memukulnya.

"Beraninya kau!" Bentaknya serak sambil melayangkan satu pukulannya. Dari jauh Eunhyuk menahan napas saat melihatnya. Tapi untungnya, dengan sigap Kyuhyun menghindar dan menangkap tangan Jessica, lalu menyentaknya. Kesabarannya sudah habis. Ia menjatuhkan tas selempangnya ke samping dan memasang kuda-kuda. Di hadapannya, Jessica hanya bisa tertawa keras melihat tindakan Kyuhyun.

"Ahahahaha! Kau serius?" Ejeknya. Dengan tatapan tajam dan dingin, Kyuhyun menatap lawannya. Poninya sedikit menutupi kedua matanya. Mendadak auranya berubah menjadi menakutkan. Eunhyuk yang menyadari itu bergidik dibuatnya.

'Apakah benar dia Cho Kyuhyun?' Batinnya tak percaya.

"Jessica Jung, kau harus hidup dengan serius atau hidupmu tak akan berarti!" Ujar Kyuhyun geram. Jessica dan ketiga rekannya serta Eunhyuk benar-benar tak percaya dengan perkataan Kyuhyun barusan. Kata-kata yang begitu pedas dan nada bicaranya yang mengerikan. Apalagi, Kyuhyun memanggil nama Jessica tanpa embel-embel. Padahal, Jessica adalah kakak kelasnya. Ini jelas bukan Cho Kyuhyun yang biasanya.

"Serius, katamu?" Jessica benar-benar mati kutu. "Kau bisa juga berkata serius seperti itu, Cho Kyuhyun!" Dengan sigap, Jessica pun mengambil kuda-kudanya. Dengan begini, pertarungan akan segera dimulai. Untuk pertama kalinya, Kyuhyun akan berkelahi dengan seorang perempuan. Walaupun dia perempuan, tapi ia tak akan kenal ampun mengingat pernyataan Donghae tadi pagi.

"Kau bilang hidup dengan serius? Hah! Itu benar-benar tidak mungkin!" Jessica pun memulai serangan.

"Awas kau!" Jessica berlari ke arah Kyuhyun sambil melayangkan sebuah pukulan. Dari jauh, Eunhyuk merasa was-was ketika itu.

"Kyuhyun-ah! Awas!"

Tapi, dengan mulus Kyuhyun berhasil menghindarinya dan memberi balasan hingga Jessica terhuyung.

"Sica-ah!" Seru Sunny yang kini ikut berdiri di sisi Yuri dan Hyoyeon, menjaga Eunhyuk.

Jessica menatap Kyuhyun dengan tatapan tajam penuh dendam. Ia benar-benar marah sekarang. "Jangan campuri urusanku, CHO KYUHYUN!" Sekali lagi, Jessica mencoba untuk membuat Kyuhyun goyah. Mereka saling menyerang, melayangkan pukulan demi pukulan dan tendangan demi tendangan. Jessica mempunyai kesempatan memutar lengan Kyuhyun, tapi, tangan Kyuhyun yang lain malah mengempit tangan Jessica.

"Akh!" Erang Jessica tertahan. Kyuhyun menatap tajam lawannya dan mmeutar tubuhnya serta Jessica. Tapi, tidak sampai beberapa detik, Jessica berhasil meloloskan diri dan menonjok perut Kyuhyun hingga pemuda itu terdorong beberapa langkah ke belakang.

"Kyuhyun-ah!" Seru Eunhyuk khawatir.

"Shikuro! Babboya!" Tanpa ampun lagi, Yuri memukul perut Eunhyuk hingga terbatuk. Eunhyuk memegangi perutnya yang sakit. Matanya menyipit, terus mengamati pertarungan Kyuhyun.

Walaupun untuk beberapa saat, Kyuhyun terhuyung, ia pun kembali berdiri tegak. Ia kembali mengambil kuda-kuda. Eunhyuk bisa melihat terdapat leleran darah segar di sudut bibir Kyuhyun. Eunhyuk terbelalak saat melihat itu.

"Hyaaahh!" Jessica kembali mmeulai serangan. Untuk beberapa saat, Kyuhyun dan Jessica saling menepis serangan satu sama lain, tapi untuk kedepannya, Kyuhyun berhasil memukul wajah Jessica hingga lebam. Saat menyadari Jessica lengah, Kyuhyun lantas menedang perut Jessica hingga ia terhuyung ke belakang. Kyuhyun terdiam dengan kuda-kudanya, menunggu Jessica memulai serangan lagi.

"CHO KYUHYUUNN!" Jessica berteriak kesal sambil terus menyerang lagi. Jessica berusaha menendang tubuh Kyuhyun, tapi Kyuhyun bisa mengelak sambil menunduk. Kyuhyun bersiap memukul Jessica, tapi Jessica juga bisa menghindarinya. Dengan sigap, Jessica menangkap tangan Kyuhyun dan menguncinya tubuhnya di tembok. Jessica meninju pipi Kyuhyun hingga lebam. Lagi, Kyuhyun membalas serangan yang sama kepada Jessica. Untuk saat-saat ini, mereka terlihat imbang. Mereka sama-sama terluka.

Kyuhyun yang kesal karena Jessica berhasil meninju wajahnya, lantas menjegal kaki Jessica hingga Jessica nyaris jatuh. Tapi ia masih bisa mengatasinya. Melihat ada kesempatan, Kyuhyun kembali memukul wajah Jessica hingga gadis itu terjatuh.

"Jessica!" Seru Hyoyeon. Bagaimanapun, ia ingin membantu rekannya itu melihat dia sudah lebam-lebam. Tapi, ia tahu Jessica tak suka dicampuri. Kyuhyun kembali dengan kuda-kudanya.

"Aaarrgh!" Jessica kembali menyerang setelah mengelap darah di bibirnya dengan punggung tangan. Jessica menerjang Kyuhyun dengan cepat. Tapi Kyuhyun berhasil mengelak ke samping dengan lebih cepat. Kyuhyun segera memukul tengkuk Jessica dengan telapak tangan.

"Akh!" Seru Jessica. Jessica pun terjatuh dan tak bisa bangun lagi.

"Unni-ah!"

"Jessica!"

Yuri dan lainnya lantas menghampiri Jessica yang sudah tergeletak tak berdaya itu. Sunny dan Hyoyeon mencoba membantu sang leader untuk duduk, sementara Jessica terbatuk-batuk hingga mengeluarkan darah. Kyuhyun hanya menatap keempat gadis itu dengan tatapan datar. Kyuhyun mengepalkan tangannya erat hingga bergetar. Kelihatannya, ia masih kesal dan hanya bisa menyimpannya dalam hati. Kyuhyun akhirnya mengambil tas selempangnya dan berjalan ke arah Eunhyuk. Eunhyuk yang melihat Kyuhyun berjalan ke arahnya sedikit takut.

"K-Kyuhyun-ah..."

Tapi, baru saja Kyuhyun akan mengajak Eunhyuk untuk meninggalkan tempat mereka berada, tiba-tiba saja Yuri menerjangnya dari belakang. Sang anggota termuda tidak terima leadernya disakiti.

"CHO KYUHYUUNN!" Seru Yuri sambil menerjang Kyuhyun. Melihat itu, Eunhyuk dan Hyoyeon terbelalak.

"Kyuhyun! Awas! Di belakangmu!"

"Yuri-ah!" Hyoyeon ikut berseru, berusaha mencegah adik kelasnya itu.

Yuri tak peduli dengan dengan peringatan kakak kelasnya itu. Ia terus saja menerjang Kyuhyun.

"Awas kau, bocah tengik!" Seru Yuri. Mendengar seruan Eunhyuk, Kyuhyun dengan cepat berbalik dan menghindar. Yuri merasa kesal karena pukulannya tak tepat sasaran. Ia pun berbalik dan bersikeras menyerang Kyuhyun yang terus berhasil menghindarinya.

"Aaarrgh!" Yuri mulai frustasi dan mulai menyerang Kyuhyun dengan serabutan. Tapi, karena hal itu, Kyuhyun jadi lebih gampang menemukan celah-celah utnuk menyerang balik lawannya itu. Dengan mudah, Kyuhyun menahan tangan Yuri dan memukul perutnya. Tak ketinggalan, ia juga menonjok wajah Yuri hingga bibir kecilnya berdarah. Dalam waktu beberapa detik, Yuri pun jatuh tersungkur.

"Yuri-ah!" Hyoyeon pun menghampirinya. Kyuhyun menatap Yuri dengan tatapan datar, sementara Yuri sempat melirikkan matanya ke arah Kyuhyun. Pandangan mereka bertemu untuk beberapa detik. Tapi, di detik selanjutnya, Kyuhyun memilih tidak mempedulikannya dan berbalik ke arah Eunhyuk.

"Ayo, kita pulang." Ajaknya sambil membalikkan tubuh Eunhyuk, lalu berlalu. Dari jauh, Jessica menatap kepergian mereka dengan tatapan kesakitan.

"Kau... serius...?" Gumamnya lirih.

.

.

Hari sudah mulai malam. Matahari sudah ditelan bumi beberapa menit yang lalu. Langit oranye kini bertemu dengan langit berwarna violet. Eunhyuk berjalan di belakang Kyuhyun yang berjalan dengan santai sambil mencangklong tas selempangnya. Sebenarnya, Eunhyuk agak shock melihat pertarungan tadi. Tidak disangka Kyuhyun begitu hebat. Menyadari Eunhyuk tak ada di sampingnya, Kyuhyun tiba-tiba sambil berbalik. Eunhyuk yang mengetahui itu pun tersadar dari lamunannya dan mendongakkan kepalanya menatap Kyuhyun.

"Kenapa jalanmu pelan sekali?" Tanya Kyuhyun.

Eunhyuk tak menjawab dan hanya diam saja. Sementara Kyuhyun sedikit khawatir dengan tingkah temannya itu yang mendadak jadi pendiam. Eunhyuk terdiam dan mendapati sebuah luka di sudut bibir Kyuhyun. Dengan cekatan, ia pun mengeluarkan sapu tangan dengan mengusapnya perlahan. Kyuhyun sedikit tersentak saat itu. Matanya membulat.

"Aku tak tahu kalau kau bisa berkelahi." Kata Eunhyuk sambil terus mengusap luka merah itu. Tapi, kemudian Kyuhyun mengambil alih sapu tangan itu dan mengusap lukanya sendiri.

"Maaf kalau kau baru tahu." Kata Kyuhyun singkat.

"Aku memang benci perkelahian, tapi... hal itu sah-sah saja jika digunakan untuk membela diri." Kata Eunhyuk. "Aku salut melihat kemampuan bela dirimu." Tapi kemudian, Eunhyuk terdiam. Ia menatap mata Kyuhyun dalam. "Hanya saja... Aku tidak suka melihatmu terluka seperti ini. Itu menyakitkan." Kyuhyun tercenung.

"Mianhae..." Lirih Kyuhyun sambil membungkukkan tubuhnya sedikit.

"A-aa... aniyo... gwaenchana..." Eunhyuk tiba-tiba menjadi kelabakan. "Bagaimana kalau kau ke rumahku dulu? Biar kubantu kau membersihkan luka-lukamu." Tawar Eunhyuk.

"Aah... tidak usah..."

"Ayolah... tidak apa-apa. Sekalian kau main ke rumahku dan istirahat sebentar." Eunhyuk merangkul pundak Kyuhyun sambil mengajaknya berjalan lagi. "Kau tidak lihat bagaimana kondisimu?"

"Aa... tapi..."

"Okey... aku akan meminta ibuku membuatkanmu sup rumput laut agar kau merasa lebih baikan! Ayo!" Seru Eunhyuk penuh semangat. Kalau begini jadinya, Kyuhyun tidak bisa menolak. Diam-diam, ia menyunggingkan senyum kecil. Bagaimanapun, ini adalah ajakan temannya. Tidak enak untuk ditolak.

Eunhyuk kembali cerewet selama perjalanan pulang, dan itu membuat Kyuhyun kembali memutar-mutar bola matanya pasrah. Tapi, di balik itu semua, Kyuhyun menyukai tingkah-laku temannya itu. Sesekali, ketika ia tak sengaja mendapati ekspresi Eunhyuk yang lucu, ia akan tersenyum kecil.

Kyuhyun menatap lurus ke depan, menatap jalan setapak yang ramai oleh pejalan kaki. Deretan pertokoan di samping kanannya sudah mulai menyalakan lampu dengan berbagai warnanya. Kyuhyun mendesah sambil menengadahkan kepalanya menatap langit. Matanya sayu menatap burung-burung yang berarak pulang. Saat sedang asyik menikmati langit sore, tiba-tiba sudut bibirnya terasa nyeri. Ia terpaksa berhenti sejenak—tanpa Eunhyuk ketahui. Luka yang tercipta saat melawan empat gadis tadi. Kyuhyun mengernyit sakit sambil mendesis tertahan. Tangannya meraba sudut bibirnya. Memang benar sakit. Tapi, eskpresinya tak bertahan lama. Wajah Kyuhyun berubah datar. Matanya menatap konblok jalan yang ia pijak dengan tatapan kosong. Rasa sakit ini... membuat pikirannya melayang. Refleks, tangannya mendekap dadanya.

"Kyuhyun-ah!" Kyuhyun tersentak bukan main saat mendengar suara Eunhyuk yang cempreng berseru ke arahnya. Dengan sigap ia menengadahkan kepalanya, menatap temannya yang sudah berjalan jauh darinya. Kyuhyun melihat Eunhyuk melambaikan tangan ke arahnya—menyuruhnya berjalan ke arahnya.

"N-ne!" Jawab Kyuhyun. Ia pun segera berlari-lari kecil menuju Eunhyuk. Entah kenapa... pikirannya tadi melayang. Entah kenapa juga... rasanya sakit saat mengingat hal itu. Kenapa dengannya?

.

.

TBC

A/N: Fiiuh... akhirnya kelar juga. Aiih... chap ini kok rasanya panjang, ya... maaf, deh kalau kepanjangan. Idenya lagi membludak, niih... makasih buat yang sudah review... gak bisa bales satu-satu. Maaf, ya... yang penting udah saia bikin ucapan terimakasih buat perwakilan. Hehehe... #dilempar sendal sama readers.

Park Nara Quinnevil: EEHH? Saia nulis 'pembaringannya' dsb, ya? Kok, saia lupa, ya... haduu... oke, deh. Itu cuma saia variasi aja kosa katanya. Maaf kalo mungkin salah... *eh? Salah ya?* hehehe... arigato buat ripiuwnya... ^^

Okeh... untuk kesekian kalinya, saia mohon reviewnya, ya... biar saia semangat buat ngelanjutin ficnya. Maaf kalo apdetnya ngadet. Banyak tugas ni... SMA emang gak bisa terlalu santai! DX. Arigato, nee... Gamsahamnida... ^^ #deep bow

Ms. Simple :D