Disclaimer: Super Junior hanya milik mereka sendiri, SMent, dan Tuhan semata.

Chara: Cho Kyuhyun, other members of Super Junior and more (SMEnt's Artist)

Genre: Friendship, Romance

Rated: T+

Summary: Cho Kyuhyun, murid pindahan yang pintar dan pendiam, dimana di sekolah barunya ia mempunyai banyak masalah dengan para geng yankee (berandalan). First fic about Cho Kyuhyun ^^. Don't like, don't read, ya.

Warning: Abal, Typo(s), Maksa, OOC, Penuh dengan perkelahian dan kekerasan, AU, Tokoh bisa bertambah di setiap chapternya.

Author's song list: Can't Let Go of You – 49 Days OST, Coagulation – Super Junior KRY, Blind – TRAX

Enjoy this! XD

.

.

Me vs Yankee

.

.

Chapter 5: I Don't Need Any Friends

Cho Kyuhyun's Home

Kyuhyun berjalan melewati lorong demi lorong yang gelap. Hanya ada cahaya remang-remang yang meneranginya. Tangannya meraba-raba dinding di sekitarnya. Kepalanya melongok-longok mencari jalan keluar. Matanya membulat waspada, dan sesekali rasa takut menyelubunginya.

Setelah berhati-hati dan waspada melewati lorong remang-remang itu, Kyuhyun akhirnya melihat seberkas cahaya di ujung lorong. Seketika matanya berbinar senang dan ia pun lari menuju cahaya itu. Sesampainya di ujung lorong, Kyuhyun merasa matanya silau. Dengan refleks ia menaungi pandangannya dari cahaya itu. Setelah bisa menyesuaikan dengan keadaan sekitar, Kyuhyun membuka matanya lebar-lebar. Di hadapannya nampak ruangan putih maha luas. Di samping kiri dan kanannya terdapat banyak benda-benda berkilauan seperti berlian. Kakinya yang polos serasa menapaki pasir putih pantai nan lembut. Ia takjub melihatnya. Manik cokelat gelapnya bergerak-gerak mengamati sekitar.

'Dimana ini?' Tanyanya dalam hati. 'Apakah ini mimpi?'

Dengan langkah ringan dan riang, Kyuhyun tersenyum menelusuri ruangan menakjubkan ini. Ia begitu menikmati benda-benda berkilauan di sekitarnya itu. Begitu berbinar dan bersinar. Ia kembali berjalan menyusuri hamparan pasir putih yang tak berujung ini. Tapi, ditengah keriangannya, ia harus mengakui diri untuk menghentikan langkah ringannya setelah ia mendapati seorang lelaki berdiri di hadapannya—yang nampaknya sedang membelakanginya itu. Ekspresinya mendadak berubah. Kedua alisnya berkerut, bertanya-tanya akan sosok di hadapannya.

Kyuhyun memiringkan kepalanya sambil menyipitkan mata. Ia merasa familiar dengan sosok tersebut. Tapi... entahlah siapa. Hatinya berkata bahwa Kyuhyun terlihat mengenalnya. Tapi ia ragu. Tak lama kemudian, lelaki di hadapannya itu pun berbalik. Wajahnya nampak damai dan berbinar. Senyuman lembut terpatri di bibirnya.

Melihat seseorang yang ada di hadapannya, Kyuhyun mendadak membelalakkan matanya. Ia tidak bisa mempercayai apa yang ia lihat saat ini. Tubuhnya terasa lemas, jantungnya berdegub lebih kencang. Ia mengenal lelaki di hadapannya. Sangat, malah. Orang yang telah ia rindukan selama ini. Orang yang sangat ia sesali kepergiannya.

"K-kau..." Ucap Kyuhyun tergagap. Bibir ranumnya bergetar menahan emosi yang ingin sekali meluap. Sementara lelaki itu hanya terus tersenyum sambil memandangi Kyuhyun yang perlahan berjalan ke arahnya.

Namun tiba-tiba lelaki yang sepertinya dikenali oleh Kyuhyun itu mendadak berubah wujud. Perlahan tubuh lelaki itu berubah menjadi serpihan-serpihan pasir yang butirannya berkilauan—dari ujung kaki dan terus naik. Kedua mata Kyuhyun melihatnya panik. Ia takut kehilangan sosok tersebut untuk kedua kalinya. Kepalanya bergeleng-geleng samar. Sementara orang di hadapan Kyuhyun itu terus saja tersenyum, seakan tak sadar akan kondisi tubuhnya yang perlahan menghilang itu.

"Andawe..." Lirihnya. "Andwaeyo!" Serunya dengan nada yang naik satu oktaf. Kyuhyun berlari menuju lelaki itu. Tapi entah kenapa... jarak menuju dirinya terasa jauh sekali. Padahal, lelaki itu tak begitu jauh di matanya. Dengan panik, Kyuhyun terus memacu larinya. Tapi tetap saja tidak lekas sampai. Tubuh lelaki itu terus berubah menjadi butiran pasir hingga akhirnya habis tak tersisa tertiup angin. Kyuhyun kecewa melihat hal itu terjadi. Dadanya mendadak didera rasa sakit yang amat sangat hingga tangannya meremat dada itu. Satu air mata jatuh begitu saja dari pelupuk matanya, yang diikuti oleh satu teriakan.

"ANDWAEEE!"

"Andwae..."

"Kyu...?"

"Andwaeyo..." Ucap Kyuhyun sembari bergerak gelisah.

"Kyuhyun-ah...? Waeyo? Bangun, Kyuhyun-ah..."

"ANDWAEYOO!" Sontak Kyuhyun terbangun dari tidurnya. Napasnya terengah-engah. Keringat dingin mengucur bagitu saja dan mengalir melewati pelipisnya. Kyuhyun menelan ludah yang entah kenapa rasanya seperti menelan batu. Kedua matanya bergerak-gerak panik.

"Waeyo, Kyu-ah? Kau baik-baik saja?" Tanya seorang wanita—yang diketahui adalah Cho Ahra, kakak perempuan Kyuhyun satu-satunya—yang kini terduduk di pinggir ranjang Kyuhyun. "Kau mimpi buruk?" Saat ditanyai, Kyuhyun hanya terdiam. Dia masih shock dengan mimpinya barusan.

"Sebaiknya lekaslah. Nanti kau terlambat ke sekolah." Kata Ahra sambil mengelap keringat yang mengalir di pelipis adiknya itu. Setelah itu, Ahra lantas meninggalkan adiknya agar bersiap sambil sesekali memperhatikannya dengan tatapan khawatir.

.

.

Hari-hari pun berlalu, bulan pun berganti. Kyuhyun melangkah gontai memasuki halaman sekolahnya. Matanya sayu menatap tanah yang ia pijak. Ia tak peduli dengan keadaan sekelilingnya yang sangat kontras dengan dirinya. Siswa-siswa disekitarnya saling memamerkan ekspresi cerianya pagi ini. Dengan gembiranya mereka berlari menyongsong temannya dan mengajaknya berbincang. Terkadang mereka bercanda dan tertawa sambil berjalan menuju gedung sekolah. Kyuhyun mendongakkan kepalanya menatap ke depan. Ia melihat siswa-siswa yang lain terlihat bersemangat. Sangat berlawanan dengan Kyuhyun yang kini seakan tak bertenanga.

"Ne, Kyuhyun-ah!" Sapa seseorang sambil menepuk pundak Kyuhyun. Ya, pemuda berambut pirang bersama temannya yang gendut tengah melahap seplastik keripik kentang—Eunhyuk dan Shindong.

"Pagi, Kyu-ah..." Sapa Shindong kemudian. Mendengar itu, Kyuhyun hanya menoleh sebentar dengan wajah tak bersemangat, lalu kembali berjalan. Sama sekali tidak mempedulikan dua makhluk yang tadi menyapanya. Hal itu menyebabkan dua temannya itu terheran-heran.

"Hei. Ada apa dengan Kyuhyun pagi-pagi begini?" Eunhyuk nampak menaikkan satu alisnya.

"Tidak biasanya..." Sambung Shindong yang mulutnya masih penuh dengan kripik kentang.

"Aiish... ya! Telan dulu keripik kentangmu! Lihat! Keripik kentangmu muncrat-muncrat, tahu!" Gerutu Eunhyuk. Shindong buru-buru menahan keripik kentangnya agar tidak keluar dari mulutnya.

"Mianhae, Hyukkie-ah..." Lirih Shindong sambil memelas. Sementara Shindong masih sibuk dengan keripik kentangnya, Eunhyuk terus memperhatikan Kyuhyun yang sudah berjalan jauh meninggalkannya. Ia merasa sedikit janggal dengan kelakuan teman yang satu itu.

"Ada apa dengannya, ya?" Gumamnya.

.

.

Pelajaran Sejarah sedang berlangsung pagi ini. Semua siswa terpaku pada guru dan papan tulis di hadapan mereka. Sesekali mereka mencatat hal-hal yang penting ke buku catatan mereka. Tapi, beberapa juga ada yang nampak mengantuk dan tertidur di kelas.

Pelajaran Sejarah adalah salah satu pelajaran favorit Kyuhyun. Tapi, entah kenapa, hari ini ia terlihat tidak berminat untuk mengikuti pelajaran ini. Di deret bangku dekat jendela baris ke tiga dari belakang, Kyuhyun terlihat memalingkan wajahnya menatap keluar jendela, melamun. Sepanjang pelajaran, ia hanya sibuk menatap pemandangan di luar jendela dengan tatapan sayu. Satu tangannya menyangga dagunya. Seluruh ocehan sang guru tak ia hiraukan sama sekali, seakan ia tidak mendengar apapun.

Kembali otaknya teringat akan mimpinya semalam. Entah kenapa, mimpi itu begitu mengusik pikirannya. Sudah lama ia tidak memimpikan orang yang muncul dalam mimpinya tadi. Tapi... kenapa setelah sekian lama ia melupakan, hal itu tiba-tiba saja muncul lagi dalam ingatannya? Ya. Padahal, ia sudah berusaha untuk melupakan orang itu. Mengingatnya hanya akan membuka luka lama di hati Kyuhyun.

'Shim Changmin... kenapa kau muncul lagi dalam mimpiku setelah sekian lama?' Tanya Kyuhyun dalam hati. Kedua alis Kyuhyun mengerut. Dadanya terasa sesak dan sakit. Satu tangannya yang tadi menopang dagunya kini berpindah, meremat kerah seragamnya.

Di deret bangku dekat pintu kelas baris paling belakang, Ryeowook tak sengaja menangkap bayangan Kyuhyun yang gelisah. Lelaki berparas cantik itu mengerutkan alisnya bertanya-tanya. Ryeowook nampak seperti berpikir, menebak-nebak apa yang terjadi pada temannya itu.

'Ada apa dengannya hari ini?' Batinnya.

Jam istirahat pun tiba. Banyak dari teman-teman sekelas Kyuhyun pergi ke kantin. Tapi dia hanya berdiri di koridor dekat kelasnya. Ia menumpukkan lengannya di kusen jendela koridor, menikmati angin siang hari yang kering. Matanya menatap awan putih yang berarak-arakan di langit biru. Sesekali, rambut hitamnya berkelebat tertiup angin.

"Ne, Kyuhyun-ah..." Sapa Ryeowook yang saat itu melintas. "Kau mau ke kantin?" Tanyanya. Beberapa detik, Kyuhyun tidak menjawab. Tapi kemudian ia menggeleng sebagai jawaban.

"Hee? Waeyo, Kyu? Biasanya kau selalu ikut jika kuajak ke kantin. Kau kenapa? Sejak tadi kau hanya diam dan menyendiri terus. Kau sakit?" Tanya Ryeowook khawatir sambil menyentuh jidat Kyuhyun. Tapi, Kyuhyun tidak mempedulikannya. Ia menyentak tangan temannya itu pelan dan kemudian bertolak menuju kelas, meninggalkan Ryeowook yang masih terpaku di tempatnya.

"Ah! Hei, Kyuhyun-ah!" Cegah Ryeowook. Tapi, ia mengurungkan diri untuk mengikuti temannya itu setelah diketahui Kyuhyun sama sekali tidak meresponnya. Ia hanya menatap punggung Kyuhyun yang sudah menjauh itu dengan tatapan khawatir.

.

.

Kyuhyun melangkahkan kakinya menyusuri koridor sekolah. Pandangannya kosong menatap ke depan. Ia ingin cepat-cepat pulang dan berniat untuk bolos les. Ia benar-benar tidak enak badan. Bukannya sakit, hanya saja... moodnya sedang tidak baik. Ia hanya ingin merenung, menyendiri di dalam kamar untuk jangka waktu yang belum bisa ia pastikan.

"Ya! Kyuhyunie!" Panggil Donghae sambil berlari menyongsong Kyuhyun. Sambil mencangklong tasnya di salah satu pundaknya, ia pun menepuk pundak Kyuhyun. "Hei! Sepanjang hari ini, kita baru bertemu sekarang. Entah kenapa, aku sibuk sekali hari ini." Donghae tergelak. Sementara Kyuhyun hanya terdiam. Ia juga sama sekali tidak menoleh ke arah kakak kelasnya itu.

"Ne, Kyuhyunie... kenapa kau hari ini? Aku mendengar cerita dari tiga temanmu. Hari ini kau terlihat tidak bersemangat. Ada apa?" Tanya Donghae sambil menyamai langkah adik kelasnya itu. Kyuhyun hanya terus berjalan dalam diam.

"Adakah masalah yang sedang kau pikirkan, Kyu-ah?" Tanya Donghae tiba-tiba yang berhasil membuat Kyuhyun tercetik sesaat. Ia mengerutkan alisnya dan mengerjap-ngerjapkan matanya panik karena Donghae—secara tidak langsung—dapat membaca pikirannya. Tapi, Kyuhyun berusaha untuk menyembunyikan kepanikannya itu agar tidak diketahui oleh kakak kelasnya itu.

Karena seperangkat pertanyaan terus keluar dari mulut Donghae yang ada di sampingnya, Kyuhyun merasa sedikit terganggu karena Donghae terlihat seperti ingin mencampuri urusannya. Dengan sedikit gusar, Kyuhyun pun mempercepat langkahnya.

"Ah! Kyu-ah! Tunggu sebentar!" Donghae pun berusaha mengejar langkah Kyuhyun dan menyamainya lagi.

"Tinggalkan aku sendiri." Kata Kyuhyun dengan nada geram.

"Waeyo?" Kata Donghae setelah berhasil menyamai langkah Kyuhyun lagi. "Waeyo, Kyuhyunie? Kenapa kau suka sekali menyendiri? Nee, Kyuhyun-ah... sebaiknya kau berbagilah cerita dengan teman-temanmu... sahabat-sahabatmu... bila kau menyimpannya sendiri, itu hanya akan menambah dadamu sesak dan sakit. Iya, kan?" Nasihat Donghae. "Hei, bukankah kita bersahabat? Aku siap mendengarkan semua keluh-kesahmu." Melihat Donghae seakan bersikeras, Kyuhyun menjadi sedikit kesal.

"Tinggalkan aku!" Ujar Kyuhyun dengan sedikit membentak, masih terus berjalan.

"Kau seperti menyembunyikan sesuatu. Ayolah... percaya padaku. Ceritakanlah... Bukankah itu gunanya sahabat?" Oceh Donghae lagi, yang kini berhasil menyulut emosi Kyuhyun. Dengan sekejap, Kyuhyun pun berbalik dan melayangkan sebuah tinju ke arah Donghae.

DUAGH!

Donghae refleks memejamkan matanya. Ia sungguh tersentak dan ketakutan mengingat kekuatan Kyuhyun saat menghajarnya dulu. Ia sempat melihat Kyuhyun melayangkan pukulannya sekilas sebelum ia memjamkan matanya. Tapi... kenapa ia tidak merasakan apa-apa? Ia tidak merasakan linu dan anyir darah di bibirnya. Dengan memberanikan diri, Donghae membuka matanya perlahan.

Kyuhyun terengah-engah setelah ia melayangkan pukulannya yang kini tepat mengenai tembok di samping wajah Donghae. Donghae benar-benar bersyukur karena pukulan Kyuhyun tidak dilayangkan ke wajahnya. Tapi tetap saja hal itu membuat Donghae kaget hingga ia membelalakan kedua matanya. Kejadian itu terjadi begitu cepat. Donghae berusaha mengatur detak jantungnya yang mendadak senam karena ulah adik kelasnya itu.

"Sudah kubilang..." Ujar Kyuhyun serak. "Jangan ikuti aku! Tinggalkan aku sendiri!" Lanjutnya dengan aura mengerikan. Kedua manik matanya menatap Donghae tajam, sebagian poninya jatuh menutupi satu matanya. Membuat Donghae bergidik.

Setelah beberapa detik, Kyuhyun pun menarik kepalan tangannya yang berhasil membuat semen dan cat tembok itu retak samar. Ia tak peduli kalau tangannya kini lebam karenanya. Kyuhyun pun berbalik.

"Aku tidak butuh sahabat." Katanya dingin sebelum akhirnya kembali berjalan, meninggalkan Donghae yang masih tercengang.

Donghae masih terbelalak ketika Kyuhyun pergi. Kedua matanya bergerak-gerak takut sambil menatap punggung Kyuhyun yang perlahan menjauh. Setelah Kyuhyun berbelok, seketika itu tubuh Donghae melemas. Ia pun perlahan jatuh terduduk. Satu tangannya meremat rambut cokelatnya. Sungguh. Ia sungguh beruntung karena Kyuhyun tak jadi memukulnya. Kyuhyun begitu mengerikan di matanya, setidaknya untuk saat ini.

.

.

Kyuhyun berjalan menyusuri trotoar yang kini padat oleh pejalan kaki. Langkah kakinya terlihat lambat. Kyuhyun meremat tali tas selempangnya erat, sementara matanya sayu menatap trotoar yang ia injak. Setelah sekian lama, otaknya kembali mengingat masa-masa manis penuh kenangannya bersama teman dekatnya semasa SMP, Shim Changmin. Kyuhyun dan Changmin adalah sepasang sahabat yang sangat bertolak belakang dari segi sifat dan latar belakang. Kenangan yang begitu manis... tapi juga menyakitkan. Rasanya terlalu sedih untuk dikenangkan.

FLASHBACK DUA TAHUN LALU

BUAAGH! DUUGH! BRAAKK!

Terdengar suara gaduh di salah satu gang kecil di antara deretan pertokoan di salah satu kawasan di Seoul. Kawasannya masih terlihat lebih sepi daripada pusat kota. Gang itu berbeda dari gang-gang pada umumnya. Entahlah, sebenarnya juga tidak begitu berbeda. Hanya saja... auranya sedikit berbeda. Gang dengan jalan buntu, yang di sudut-sudutnya terdapat beberapa box-box kayu, botol-botol minuman keras yang beberapa sudah pecah-pecah, tembok dengan berbagai coretan dan catnya yang sudah mengelupas di beberapa bagiannya. Sampah-sampah kertas dan plastik banyak berserakan. Membuat suasana makin mencekam.

"Uuh..."

Terdengar samar suara rintih kesakitan. Suara yang begitu lemah daripada suara teriakan-teriakan dan umpatan yang diucapkan dengan begitu keras.

BUUGH!

"APA HANYA SEGITU SAJA KEMAMPUANMU, HAH?"

"SHIKUROOO!"

BRUUAAK!

Bisa ditebak, di gang kecil tersebut sedang terjadi perkelahian. Perkelahian yang sepertinya sudah mendarah daging sejak lama. Seorang remaja lelaki semampai nampak sedang dikepung tiga orang yang nampaknya tidak terima karena satu rekannya ambruk akibat dihajar oleh lawan mereka. Rekan mereka nampak merintih kesakitan di sudut gang dengan bibir berdarah dan wajah lebam-lebam.

"SHIM CHANGMIIIN!" Seru salah satu lawan remaja lelaki yang diketahui bernama Shim Changmin itu. Dengan brutal ia pun berlari menerjang Changmin yang diikuti dua rekannya yang masih bertahan. Changmin dengan sigap menepis serangan yang dilayangkan tiga lawannya itu. Dasar pengecut! Tiga lawan satu?

Changmin menendang perut satu lawannya hingga limbung plus melayangkan satu pukulan ke wajahnya. Tapi, baru saja ia berhasil menghajar lawannya itu, serangan baru sudah menunggunya. Karena lengah, satu pukulan berhasil bertengger di wajah Changmin hingga membuat bibirnya berdarah. Belum lagi tendangan demi tendangan dari dua lawannya yang menyerangnya tiba-tiba. Walaupun mendapat serangan yang membabi buta, Changmin masih sempat untuk membalas serangan walaupun tidak dapat mematahkan dua lawannya sekaligus.

"Dasar pengecut! Beraninya main keroyokan! Kalian benar-benar lemah!" Cibir Changmin. Tanpa ampun, ia pun dipukul hingga terjatuh. Wajahnya kini lebam-lebam dan satu atau dua luka lebamnya mengeluarkan darah. Changmin menyeriangi sambil mengusap darah di bibirnya. Setelah mengumpulkan tenaga lagi, ia pun berhasil menjegal lawannya yang tersisa dan memukulinya hingga benar-benar K.O. Tak butuh waktu yang lama, empat orang itu berhasil ditaklukan, walaupun Changmin harus mendapat beberapa luka di wajahnya sebagai bayarannya.

Penampilan Changmin kini benar-benar berantakan. Seragam sekolahnya keluar-keluar dan kusut. Sedikit bercak-bercak darah merembes di kemeja putihnya. Beberapa kancingnya lepas karena diserobot oleh lawan-lawannya. Jas almamaternya entah kenapa bisa terlepas dan jatuh teronggok di belakangnya—yang selama pertarungan tadi sempat terinjak-injak dan kini jadi kotor. Changmin membersihkan telapak tangannya sebelum ia mengambil jas almamater dan tas selempangnya.

"Suatu hari nanti... akan kubalas perbuatanmu..." Lirih salah satu lawan Changmin yang kini nampak kesakitan dan tak berdaya di tanah dengan nada bicara penuh dendam. Tapi, Changmin sama sekali tidak mempedulikan dan tidak habis pikir dengan ancamannya. Dengan santai ia mengambil tas dan menenteng jas almamaternya di atas pundak, lalu berlalu begitu saja.

.

.

Changmin berjalan menyusuri trotoar sambil mencangklong tas selempangnya di pundak. Jas almamaternya sudah kembali dipakainya, walaupun terlihat kotor dan lusuh. Sesekali ia meringis kesakitan akibat luka yang diterimanya saat berkelahi tadi. Ia mengusapkan punggung tangannya pada sudut bibirnya yang masih mengeluarkan darah segar. Di sekitar wajahnya ia merasakan nyeri dan perih. Rasanya seperti ditusuk jarum-jarum kecil. Tapi, Changmin berusaha menepis rasa sakit itu dan terus berjalan menuju halte bus.

Tapi, saat ia berbelok di persimpangan jalan, kedua manik matanya menangkap seseorang yang tidak asing lagi di matanya. Orang itu berjalan berlawanan arah dengannya. Kedua matanya terbelalak sedikit, langkah kakinya terhenti. Tak lama kemudian, seseorang yang dipandanginya itu ternyata juga menatapnya. Orang itu nampak melambatkan langkahnya saat menatap Changmin.

"Changmin-ah?"

.

.

Seorang remaja lelaki bersurai hitam tengah berjalan menyusuri jalan setapak sambil memegangi tas selempangnya. Mimik wajahnya terlihat lelah karena serentetan pelajaran dan kegiatan tambahan di sekolah. Bukankah itulah tugas seorang pelajar? Apalagi, ia kini sudah duduk di kelas tiga SM Junior High School, yang bisa dikatakan dalam waktu dekat ini, ia mau tidak mau harus mengikuti ujian kelulusan.

Sambil menenteng beberapa buku di satu lengannya, ia berjalan dengan tempo sedang menyusuri trotoar yang lebarnya sekitar delapan kaki. Di sepanjang trotoar terdapat banyak pertokoan dari toko aksesoris hingga kedai makanan.

Jalanan raya kini juga sedang ramai karena sudah menunjukkan waktu pulang sekolah dan pulang kerja. Manik cokelat gelap lelaki itu melirik ke arah kiri, memperhatikan jalanan yang kini sedang padat dengan kendaraan maupun segerombolan manusia yang sedang menyeberang. Tiba-tiba, ia mendesah sambil sedikit menggembungkan pipinya.

Baru saja ia memalingkan pandangannya ke arah depan, kedua matanya menangkap sesosok pemuda yang begitu ia kenal. Pemuda itu terlihat mendesis kesakitan sambil mengusap bibirnya yang... berdarah? Ya... bibir pemuda itu biru dan berdarah. Di sekitar wajahnya juga terdapat banyak lebam. Tunggu! Habis berkelahikah, dia? Dalam waktu yang bersamaan, pemuda yang berjalan berlawanan arah itu pun juga menatap ke arahnya dengan sedikit terbelalak.

"Changmin-ah?" Panggilnya sambil menatap pemuda itu heran. Satu alisnya naik.

"Kyuhyunie...?"

.

.

"Aiish... pelan-pelan! Sakit, tahu!" Rintih Changmin.

"Aah... mianhae... kalau tidak diobati segera, nanti bisa infeksi, kan?" Balas Kyuhyun.

Shim Changmin dan Cho kyuhyun adalah sepasang sahabat sejak kelas lima SD. Hanya dari sebuah PSP, mereka menjadi akrab dan akhirnya bersahabat sampai sekarang. Walaupun mereka mempunyai kesamaan hobi, tapi kepribadian mereka jauh berbeda. Cho Kyuhyun yang pendiam dan kalem, sedangkan Shim Changmin sedikit urakan dan suka berkelahi, walaupun ia bukan berandal sekolah. Musuhnya banyak dan tidak hanya murid dalam satu sekolah saja, tapi beda sekolah pun ada.

Kini, mereka berdua nampak sedang duduk-duduk di pinggir sungai yang terletak di dekat kompleks perumahan mereka. Rumah Changmin dan Kyuhyun saling berdekatan walaupun berbeda blok. Kyuhyun yang melihat keadaan sahabatnya yang babak belur dengan sigap mengeluarkan peralatan P3K yang selalu ia bawa meski kecil-kecilan. Ia pun mengobati luka-luka dan lebam-lebam di wajah pemuda yang lebih tinggi darinya itu.

"Kau, sih... kebiasaan berkelahimu itu apa tidak bisa dikurangi?" Tanya Kyuhyun yang sedikit protes sambil menempelkan plester di atas tulang pipi Changmin.

"Ya! Bukankah kau juga bisa berkelahi? Kenapa selama ini kau selalu menyembunyikannya? Itu bukan berarti kau takut, kan?" Tanya Changmin.

"Hei! Aku bukan orang seperti itu! Aku tidak akan berkelahi untuk hal yang tidak penting!" Kyuhyun menyolot.

"Dengar, ya, Kyuhyunie, Aku berkelahi hanya ingin membuktikan kalau para yankee itu pengecut! Bisanya hanya bermain keroyokan!"

"Tapi itu malah tambah memunculkan musuh-musuh baru...!" Potong Kyuhyun serius. Changmin terdiam. Ia melirik sahabatnya yang kini sedang menatapnya. Sedetik kemudian, ia mendesah keras.

"Ne, ne... arraseo..." Changmin melengos.

Sepi.

Hanya terdengar desah angin yang berhembus. Menerbangkan daun-daun merah momiji yang berserakan di jalan setapak tepat di belakang mereka berdua.

"Tidak terasa... musim semi nanti, kita sudah harus mengikuti ujian kelulusan. Rasanya baru kemarin kita masuk SMP..." Gumam Changmin yang kini sudah selesai diobati oleh Kyuhyun.

"Kyuhyun-ah... apa cita-citamu?" Tanya Changmin tanpa memalingkan pandangannya dari sungai di depannya.

"Eh?"

"Kok, eh, sih? Aku tanya apa cita-citamu, kenapa malah jawab 'eh'?" Seru Changmin sambil menempeleng kepala Kyuhyun bercanda. Kyuhyun hanya terkekeh.

"Entahlah. Yang penting, itu sesuai dengan kemampuan dan minatku, aku sudah senang." Jawab Kyuhyun sambil menoleh ke arah Changmin. "Kau sendiri?"

Changmin melirik ke arah Kyuhyun. Ia pun tersenyum sambil menghembuskan napas. "Aku... ingin sekali menjadi dokter."

Mendengar perkataan itu, entah kenapa Kyuhyun melongo.

"Wae?" Protes Changmin. Tak lama kemudian, Kyuhyun terbahak. Membuat Changmin benar-benar ingin menempeleng kepala Kyuhyun lagi.

"Dokter? Kau sudah banting setir? Bukannya dulu kau ingin jadi penyanyi? Aa... tapi tak apa. Itu juga bagus." Puji Kyuhyun diakhir. Changmin tertawa renyah.

"Maka dari itukah... kau terlihat tidak mau menyerah?" Tebak Kyuhyun. Nada bicaranya kini melemah.

"Ne... Hidup tidaklah mudah, Kyu-ah... pilihan selalu menghantui. Tidak jarang kita juga harus mengejar apa yang kita inginkan dan bertarung melawan apa yang tidak kita inginkan." Kata Changmin serius. Mendengar kata-kata itu, Kyuhyun terdiam seribu kata. "Mulai sekarang... aku tidak akan lagi berkelahi sampai saatnya ujian kelulusan nanti. Semua demi kebaikan dan cita-citaku. Hidup harus serius." Changmin menoleh ke arah Kyuhyun. Kyuhyun merasa tertegun mendengarnya.

"Haah... entah kenapa... udara di sini terasa sejuk sekali..." Changmin merentangkan tangannya lebar-lebar sambil menghirup udara banyak-banyak, sementara Kyuhyun masih sibuk dengan pikirannya.

"Mm..." Gumam Kyuhyun. "Kau... sekarang berubah, ya?"

"Hee?"

"Iya... sekarang kau berubah. Kau jadi makin dewasa." Kyuhyun menyunggingkan senyum manis kepada sahabatnya itu. "Aku tidak menyangka kau mempunyai tekad sebesar itu."

"Kau juga harus punya. Ini memang bukan apa-apa, ini adalah hal terserius di dunia. Kalau kau tidak punya tekad untuk hidup serius, mau jadi apa, kau, nanti?"

"I-itu, sih, tentu saja." Jawab Kyuhyun sedikit tergagap.

Sementara Kyuhyun memasukkan peralatan P3Knya, Changmin teringat akan sesuatu. Ia pun segera merogoh tasnya dan mengeluarkan sesuatu.

"Hee...? Apa itu?" Tanya Kyuhyun saat tidak sengaja melihatnya.

"Oh, ini." Changmin menyerahkan barang itu pada Kyuhyun. "Ini kalung sebagai tanda persahabatan kita." Jelas Changmin.

"Mwo? Kalung ini? Serius?" Kyuhyun pun tertawa geli.

"Heeii! Apanya yang lucu untuk ditertawakan?" Protes Changmin.

"Aniyo... hanya saja... seorang Changmin membawa-bawa kalung seperti ini? Hhmmfftt..." Kyuhyun tertawa lagi.

"Ini juga demi kamu, tahu!" Changmin menyenggol lengan Kyuhyun sedikit keras hingga Kyuhyun mengaduh.

"Dengar," Changmin mengawali. "Kalung perak ini aku berikan padamu sebagai tanda persahabatan kita. Kalung dengan bandul 'K' ini untukmu... dan kalung dengan bandul huruf 'C' ini..." Changmin menunjukkan kalung yang sudah tergantung di lehernya. "Untukku. 'K' untuk 'Kyuhyun', 'C' untuk 'Changmin'. Keren, kan?"

Kyuhyun menatap kagum kalung berbandul 'K' di tangannya. Kalung itu memang sederhana, tapi berkesan indah di matanya. "Ini bagus sekali... gomawo, ne!"

"Jangan sampai hilang!" Ancam Changmin bercanda sambil menggerak-gerakkan telunjuknya di depan wajah Kyuhyun.

"Ye... arraseo..." Kyuhyun mendesah. Changmin tersenyum.

"Jadi... mulai besok, kita akan mulai belajar serius?" Tanya Changmin yang menyiratkan suatu ajakan.

Kyuhyun mengangguk. "Tentu saja."

"Jangan lupa janji kita..." Kata Changmin sambil memperlihatkan kalungnya. "Yakssok!"

Kyuhyun pun memakaikan kalung pemberian sahabatnya itu pada leher jenjangnya. "Yakssok!" Changmin dan Kyuhyun pun tertawa renyah.

Angin musim gugur pun berhembus pelan, menerbangkan helai-helai rambut Kyuhyun dan Changmin. Daun-daun momiji yang sudah berguguran tersapu oleh angin dan tambah berserakan.

"Ne, Changminie..."

"Hm...?"

"Musim gugur kali ini indah, ya?"

.

.

Beberapa hari kemudian...

Kyuhyun berjalan menyusuri trotoar yang tak jauh dari sekolahnya menuju halte bus terdekat. Wajahnya sumringah dan terlihat segar. Hari ini, Changmin akan datang ke rumahnya untuk belajar bersama. Sudah lama ia menantikan saat-saat serius seperti ini. Ujian juga sudah dekat, sih. Ia bersyukur sahabatnya itu akhirnya mau berhenti berkelahi dan memutuskan untuk serius belajar. Changmin memang terkenal gampang emosi dan mudah sekali terlibat perkelahian. Tapi, walaupun begitu, Kyuhyun tetap ingin menjadi sahabatnya. Menurutnya, Changmin adalah sahabat terbaik yang pernah ia temui seumur hidupnya.

Sedang asyik-asyiknya berjalan dengan ringan dan bahagia menyusuri trotoar berkonblok abu-abu itu, tiba-tiba beberapa orang menghadang Kyuhyun. Kyuhyun sedikit tercekat saat menyadarinya. Langkahnya terpaksa ia hentikan. Satu, dua, tiga—tidak—semuanya ada enam orang. Keenam orang yang kini menghadang Kyuhyun berpenampilan layaknya geng berandalan sekolah. Seragam mereka yang berantakan dan beberapa aksesoris bergerenjeng di sekitar tubuhnya... tidak salah lagi... mereka pasti salah satu dari sekian yankee yang bermusuhan dengan Changmin.

"Ya!" Panggil si ketua geng. "Kau pasti teman Changmin, kan? Dimana Changmin? Kami ada urusan dengannya." Lanjutnya dengan nada bicara yang dingin dan sok-sokan. Kyuhyun yang tadinya santai, sekarang berubah waspada. Matanya tajam memperhatikan satu per satu orang yang kini berdiri di hadapannya. Walaupun begitu, ia berusaha menyembunyikan kewaspadaannya dan bersikap biasa saja.

"Changmin sudah tidak mau berkelahi lagi. Ia sadar berkelahi itu tidak menguntungkan." Kyuhyun menjeda sesaat.

"Haa?"

"Sudahlah... Hentikan masalah kalian dan berdamailah. Anggap saja aku mewakilinya untuk memaafkan kalian." Lanjut Kyuhyun. "Jadi... bolehkah aku pergi sekarang?"

Mendengar kata Kyuhyun barusan, mereka pun tergelak dengan suksesnya. Sementara Kyuhyun hanya terdiam.

"Memaafkan?" Tanya si ketua geng dengan nada merendahkan. "Ohohoho... kalau begitu, bagaimana jika kau bersujud di depan kami mewakili temanmu itu untuk meminta maaf padaku, hah? Dia juga mempunyai banyak kesalahan terhadap kami!" Serunya di akhir sambil menunjuk trotoar tepat di bawah kakinya. Kyuhyun mengernyit yang menyiratkan ketidaksetujuan. Bersujud? Yang benar saja?

"Mwoya?" Tanya si ketua geng menyolot. "Kau tidak mau bersujud, he?" Kyuhyun mengernyit keberatan. Tapi, mau bagaimana lagi, ini demi sahabatnya. Sambil mengeratkan kepalan tangannya, Kyuhyun dengan gusar membuang tas selempangnya ke samping. Ia menghela napas berat dan kemudian perlahan merendahkan tubuhnya, bersujud. Ia bisa mendengar gelak tawa kemenangan dari pihak lawan yang begitu memekakan telinganya. Tapi, baru saja ia menundukkan kepalanya dalam, sebuah tangan dengan kasarnya menjambak rambut hitamnya sehingga kepalanya tersentak ke atas.

"Nee... sekarang, panggilkan Changmin kemari." Kata si ketua geng yang seakan menyuruh Kyuhyun seperti bawahannya. Mendengar itu, amarah Kyuhyun menyulut sedikit demi sedikit. Bukankah setelah dirinya bersujud, semua akan selesai? Dengan tatapan tajam Kyuhyun menatap si ketua geng. Karena diperhatikan dengan tatapan seperti itu, si ketua geng marah dan mendorong kepala Kyuhyun hingga membentur trotoar.

JDDUAKK!

"Tatapan macam apa itu, baboya!"

Kyuhyun kini benar-benar sudah diperlakukan secara rendah. Ia bersujud bukan untuk menjadi budak mereka, melainkan demi sahabatnya. Kemarahannya sudah mencapai ubun-ubun. Ia mendongak, menatap lawan bicaranya itu dengan tatapan mengerikan sambil berusaha berdiri. Langkahnya sedikit terhuyung karena kepalanya sedikit pening.

"Kalian..." Desisnya. "Kalian tidak akan kubiarkan bertemu dengan Changmin!" Serunya. Mendengar seruan Kyuhyun yang berani, si ketua geng dan anak-anak buahnya terdorong untuk menghabisinya karena sudah berani melawan mereka.

"Berani sekali kau melawan kami! Dasar SAMPAH!" Dan mulailah serangan pertama terhadap Kyuhyun. Dengan brutal si ketua geng menyerang Kyuhyun. Namun Kyuhyun bisa menghindar dengan baik. Dua anak buahnya pun dikerahkan untuk maju membantu. Hal ini sedikit mempersulit Kyuhyun untuk menghindar, dan alhasil, pipinya berhasil dipukul hingga lebam. Tapi, memang amarah bisa menguasai kita kapan saja. Karena sudah marah, Kyuhyun pun segera membalas tindakan lawannya itu.

"AAARRGH!" Sambil berteriak, ia pun menonjok si ketua geng itu hingga terjatuh kesamping.

BUAGH!

"Aagh!" Erang si ketua geng seraya merintih.

Tapi, setelah tangannya lepas dari pipi si lawan, sedetik kemudian Kyuhyun pun sadar akan kelakuannya. Dengan mata terbelalak, ia melihat apa yang telah ia perbuat.

'Mulai sekarang... aku tidak akan lagi berkelahi sampai saatnya ujian kelulusan. Semua ini demi kebaikan dan cita-citaku.'

'Jangan lupa janji kita...'

Kata-kata itu tiba-tiba terngiang di telinganya. Membuat tubuhnya lemas seketika. Sambil memperhatikan telapak tangannya yang merah-merah karena bercak-bercak darah si lawan, Kyuhyun benar-benar merasa menyesal. Ia... barusaja melanggar perjanjiannya dengan Changmin. Berkelahi.

"AARRGH! Kurang ajar, kau!" Teriak si ketua geng yang amarahnya sudah memuncak. Suara si lawan menyadarkan Kyuhyun yang sempat melamun. Tapi, setelah ingatan itu, Kyuhyun tak berani lagi melanjutkan perkelahiannya. Sedikit demi sedikit, ia melangkahkan kakinya ke belakang. Lebih baik lari daripada dirinya melanggar janji lebih banyak. Dan dengan segera, Kyuhyun pun berbalik dan berlari menjauhi lawan-lawannya.

"HEI!" Seru salah satu dari yankee tersebut.

"Kejar dia!" Seru si ketua geng dengan suara lantang sambil menunjuk-nunjuk Kyuhyun yang sudah berlari di depannya.

Kyuhyun yang sudah berlari menoleh ke belakang. Orang-orang itu mengejarnya dengan gusar dan sedikit demi sedikit jaraknya dengan mereka pun menipis. Dengan sigap, Kyuhyun mempercepat larinya menyusuri trotoar berkonblok abu-abu. Kyuhyun nampak terdesak. Orang-orang itu lumayan juga larinya. Jarak mereka dengan Kyuhyun dalam sekejap tinggal beberapa meter saja. Hampir saja tas selempang Kyuhyun tersambar tangan milik salah satu dari mereka. Tapi dengan cepat Kyuhyun menghindar dan menambah kecepatan larinya, walaupun ia terengah-engah dan sedikit terhuyung-huyung.

.

.

Changmin berjalan santai menyusuri trotoar berkonblok abu-abu dengan langkah ringan. Senyum sumringah menghiasi bibir tipisnya. Ia mencangklong tasnya di satu pundak. Tangan kanannya membawa sebuah tas plastik berisi es krim yang baru saja ia beli di kedai es krim langganannya bersama Kyuhyun. Yaa... ia berpikir untuk membeli es krim itu untuk cemilannya saat belajar bersama Kyuhyun nanti. Kyuhyun yang suka es krim pasti senang.

Changmin tak sabar ingin cepat-cepat sampai di rumah Kyuhyun, takut es beliannya meleleh. Dengan cepat ia memacu langkah kakinya. Tapi, saat ia berbelok di persimpangan jalan, kedua matanya tak sengaja menangkap seseorang—dengan posisi membelakanginya—berlari dengan panik. Di belakangnya disusul beberapa orang—dengan seragam sekolah yang sepertinya Changmin mengenalnya—mengejar orang itu dengan brutal. Hal itu terjadi dengan cepat. Changmin jadi heran dan penasaran. Entah kenapa, dadanya terasa tak enak. Changmin seakan mencurigai sesuatu. Ia pun melongokkan kepalanya agar bisa melihat apa yang terjadi sebenarnya. Setelah sekian menit memperhatikan dengan seksama, ia pun bisa melihat siapa orang yang dikejar anak-anak brutal itu. Kedua mata Changmin segera terbelalak kaget. Tubuhnya seakan membatu di tempat itu juga. Tas plastik yang tadi ia bawa jatuh begitu saja di samping kakinya dan es krim di dalamnya tumpah kemana-mana.

"Kyuhyun!"

Changmin dengan sigap ikut mengejar gerombolan orang tersebut dan berpikir untuk menyelamatkan Kyuhyun dari kejaran mereka.

.

.

Kyuhyun terus berlari dan membelok saat menjumpai persimpangan. Kepalanya tak sengaja menoleh ke arah jalan raya. Kyuhyun memutuskan untuk menyeberang untuk lebih melengangkan jaraknya dengan para yankee itu. Sekilas Kyuhyun melihat lampu lalu lintas masih merah dan segeralah ia menginjakkan kaki ke zebra cross sambil memegangi tas selempangnya agar tak bergoyang-goyang. Para yankee yang notabene adalah musuh-musuh Changmin tadi sudah berada di bibir jalan dan siap menyeberang. Sambil menoleh ke belakang, Kyuhyun terus memacu larinya. Tapi, baru setengah jalan, lampu sudah berganti hijau. Kendaraan mulai berjalan lagi, dan Kyuhyun belum juga sampai di seberang.

TIN TTIINN!

Bunyi klakson mobil membuat Kyuhyun menolehkan kepalanya yang sedari tadi menoleh ke belakang. Jantungnya terasa terhenti ketika ia melihat sebuah truk melaju ke arahnya. Tubuhnya sekalipun tak dapat ia gerakkan, seakan membatu begitu saja. Mata cokelat obsidiannya terbelalak dengan sempurna. Mulutnya terbuka. Apa yang harus ia perbuat?

"Ah! HEII!" Seru si ketua geng yankee yang melihat kejadian itu.

"KYUHYUN-AH!"

Saat-saat Kyuhyun benar-benar bingung dan membatu di tengah jalan, Changmin yang saat itu juga ada di sekitar bibir jalan berlari ke arah Kyuhyun dan mendorongnya hingga terjatuh ke samping.

"Akh!"

Setelah Kyuhyun berhasil disingkirkan dari saat-saat menegangkan itu, kini tinggallah Changmin yang terpaku di tengah jalan. Awalnya, ia seperti tak sadar akan bahaya saat mendorong tubuh sahabatnya ke samping. Tapi, kini ia benar-benar sadar. Changmin terbelalak melihat truk berwarna putih itu sudah berjarak beberapa centi di depannya. Tak ada kesempatan lagi untuknya mengindar.

"Changmin-ah!"

BRRAAKKK!

Changmin berhasil tertabrak truk putih itu dan terpental hingga beberapa meter dari tempatnya berdiri tadi. Para yankee yang berdiri di bibir jalan tak mempercayai apa yang mereka lihat. Begitu juga dengan Kyuhyun. Melihat apa yang menimpa sahabatnya itu, Kyuhyun benar-benar tak bisa berkata-kata. Kedua manik matanya melihat sahabat tersayangnya itu berlumuran darah merah yang keluar dari ubun-ubun kepala, tangan dan kakinya. Tubuh Kyuhyun gemetar seketika. Pikiran-pikiran aneh segera melanda benaknya.

Kyuhyun dengan perlahan menghampiri sahabatnya yang sudah tergeletak tak berdaya di tengah jalan itu.

"Ch-Changmin...?" Kyuhyun mencoba menyentuh pipi sahabatnya dengan satu tangannya yang gemetaran. Ia memperhatikan tubuh Changmin yang kini berlumuran darah, mengenaskan. Kyuhyun merasa pipinya panas. Satu air matanya jatuh begitu saja diikuti oleh isakannya yang pertamanya.

"Changmin-ah..." Katanya sambil berusaha memeluk dan meletakkan kepala sahabatnya itu di pangkuannya. Ia memperhatikan tangan-tangannya yang kini juga berlumuran darah milik sahabatnya itu. Begitu banyak darah itu keluar, membuat Kyuhyun bertambah panik. Kyuhyun menangis sambil merintih. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan harapan ada orang yang menolongnya sesegera mungkin. Tapi, sepertinya orang-orang di sekitarnya masih terpaku dengan apa yang mereka lihat ketimbang memberikan pertolongan pertama pada Changmin.

"Eottokae..." Rintihnya sambil sesekali mengguncang tubuh Changmin pelan.

Kyuhyun menangis tertahan melihat nasib Changmin yang kini tergeletak di pangkuannya.

"Changmin-ah... aku mohon bangunlah..." Walau Kyuhyun terus memanggil-manggil namanya agar ia bangun, Changmin tak juga membuka matanya. Akhirnya, pertolongan medis pun datang, entah siapa yang memanggilnya. Sesegera mungkin para medis berusaha memisahkan Kyuhyun dengan Changmin karena Changmin harus segera dibawa ke rumah sakit terdekat. Tapi Kyuhyun yang keras kepala tak ingin dipisahkan dengan sahabatnya itu. Bagaimanapun, ini juga kesalahannya karena membiarkan Changmin mendorongnya dan Changminlah yang menjadi korban.

"Andwae, Changmin-ah..." Tangisnya pun kini pecah. Sekali lagi, para medis mencoba untuk memisahkan mereka. Kyuhyun terus memeluk Changmin dengan erat. Tangisnya makin menjadi ketika ia tak lagi merasakan napas Changmin. Changmin meninggal seketika di tempat itu.

"ANDWAAEE!"

END OF FLASHBACK

.

.

Kyuhyun berdiri di bibir jalan dekat zona penyeberangan. Matanya sayu memperhatikan jalan raya dan orang-orang yang sedang menyeberang. Jalan ini... jalan dimana dua tahun yang lalu ia kehilangan sahabat yang begitu ia sayangi. Mengingat kejadian itu, dada Kyuhyun terasa sesak. Ia pun merematnya bersama kalung perak miliknya dan sahabatnya itu—yang dulu sempat ia ambil setelah jenazah Changmin diotopsi. Ia merasa kakinya melemas. Pipinya terasa panas, air matanya pun jatuh satu per satu. Perlahan ia pun duduk berjongkok di pinggir trotoar. Sambil berjongkok, Kyuhyun pun menangis tertahan sambil sesekali terisak. Ia tak peduli dengan tatapan-tatapan orang-orang padanya.

"Changmin-ah..." Panggilnya lirih ditengah-tengah tangisnya. Ia merasa menyesal juga merasa bersalah. Andai saat itu Changmin tidak mendorongnya, tak akan begini jadinya. Dan sejak saat itu juga, Kyuhyun tak lagi percaya dengan apa yang disebut dengan sahabat. Ia hanya cukup mengenal teman-temannya di sekolah atau dilingkungan tempat tinggalnya, tidak untuk ia jadikan sahabat. Paling tidak ia hanya berteman biasa jika memang perlu. Tidak lebih. Sejak kejadian itu, Kyuhyun trauma untuk mempunyai sahabat.

Dan untuk saat ini saja, Kyuhyun ingin menangis sepuas-puasnya, menumpahkan semua perasaannya. Ditengah-tengah lautan manusia, memandang lurus jalanan yang sempat merenggut separuh jiwanya. Sendirian.

.

.

TBC

A/N: Oke... chap ini selesai juga. Gimana, nih... kepanjangankah? Habis... fic yang ini tanggung banget kalo dipotong dan dijadikan chap baru. Yaah... mohon maaf aja, deh, kalau misalnya tidak berkenan. Maaf... banget! DX

Oke. Kita adakan evaluasi *berasa penggojlokan MOS kemarin*

Banyak yang tanya couple di sini siapa aja. Saia si berharap ada Wonkyu di sini. Dan yang lainnya nanti bisa disesuaikan. Maaf kalo adegan romantisnya belum keluar banyak. Adegan itu memang masih saia simpen. Hwehehehe... Saia kasih sedikit clue kalo Changmin di sini bukan kekasih Kyuhyun. Sungmin juga ternyata ditunggu-tunggu, nanti bisa saia pikirkan lagi buat memasukkan Sungmin kemari. Harap sabar menunggu. Masih dalam proses *kayak apa aja*

Saa, yeorobeun, sampai sini aja cuap-cuap saia. Bingung mau ngomong apa. Saia berterimakasih banget untuk semuanya yang udah bersedia baca dan review. Tapi, saia tidak pernah berhenti buat memohon reviewnya... ^^ boleh nasihat, komentar, pujian, dll. Saia tidak menerima FLAME or BASHING! Hargai karya-karya orang lain! Caiyo! XD

Ms. Simple :D