Badai Cemburu Yukimura

Inazuma Eleven GO (c) Level-5

Warning: OOC. Abuse chara. Hina Dina tumpah ruah.

.
Beta by Ratu Obeng (id: 1658345)
Plot & Written by ALPUCAT

.

.

.


CHAPTER 02


"Someoka-kun, mau coklat hangat lagi?"

"Someoka-kun, hari ini aku akan masak tamagoyaki kesukaanmu."

"Someoka-kun, bagaimana kabar Endou-kun?"

Someoka-kun…

Someoka-kun…

SOMEOKA-KUN!

Fubuki-senpai sepertinya tidak ingat kalau aku masih satu ruangan dengannya.

"Ah, aku lupa!" Senpai melepas cepat pelukannya pada makhluk jelek itu dan segera bangkit berdiri, "Aku sudah masak air hangat untuk mandi…"

Senyumku mengembang, siap untuk membuka mulut menjawab kegelisahan Fubuki-senpai.

"Someoka-kun."

HUH!?

"Kamu mau mandi?"

Fubuki-senpai! Bukankah kamu membuatkan air hangat itu untukku? Kenapa malah bertanya duluan padanya? Apakah senpai benar-benar sudah menganggap aku tidak ada lagi disini?

"Yah, bolehlah. Lagipula cuacanya dingin seperti ini." jawaban nanas sial itu merusak semuanya. Tapi dari sejak dia datang, semua rencana memang sudah rusak. Walau aku tidak ingat pernah membuat rencana apapun.

"Baiklah." senpai membalas dengan senyum yang seharusnya itu ditujukan untukku, "Yukimura."

"Eh? I-iya?" pekikku kaget.

"Kita mandi bersama saja ya."

Eh?

"Aku membuat air hangat tidak banyak. Karena Someoka-kun juga ingin mandi, jadi lebih baik kita mandi bersama..."

Mandi bersama senpai?

"Tidak apa kan? Atau—"

"TIDAK APA! Maaf aku merepotkan!" ujarku setengah menjerit. Kesempatan seperti ini TENTU SAJA TIDAK AKAN KUSIA-SIAKAN.

Senpai (akhirnya) tersenyum padaku sebelum kemudian pamit untuk mengambil baju ganti. Aku pun melirik kearah orang jelek yang bernama Someoka itu. Matanya masih terus mengikuti ke arah darling-nya berjalan, sementara aku hanya bisa geram. Tapi paling tidak, dengan Fubuki-senpai yang mengajakku mandi bersama bisa dibilang kalau senpai lebih memilih aku daripada dia, kan? KAN?

"Ayo Yukimura, sebelum hari makin malam dan cuaca makin dingin."

Tanpa disuruh lagi, aku segera beranjak mengikuti senpai menuju kamar mandi.

"Fubuki! Kenapa tidak mau mandi bersamaku?" teriak Someoka jelek itu tiba-tiba.

Fubuki-senpai pun hanya menjawabnya dengan tawa pelan khasnya, "Kasihan Yukimura." sementara dahiku hanya bisa mengkerut mendengar jawaban senpai.

Maksudnya…?

.

.

.

Baiklah, sekarang akan aku jelaskan keadaannya.

Aku berada di kamar mandi bernuansa balok kayu. Kamar mandi yang kecil, tapi lengkap dengan bath tub dan juga shower. Pintunya juga terbuat dari bahan dasar sama, begitu pula dindingnya. Tempat macam ini sangat identik dengan onsen jaman dulu mengingat ornamentnya menjadi sangat berguna karena menyerap panas dan membuat kamar mandi ini nyaman, hangat, serta terhindar dari cuaca dingin dari luar.

Dan posisiku saat ini…

Di dalam bath tub, menatap dinding kayu, sambil sesekali melirik ke arah… ehem… senpai yang sedang membasuh dirinya dengan sabun.

KALIAN TAHU! GARIS TUBUH SENPAI SANGAT INDAH! Badannya yang terlihat sangat terlatih, otot yang kencang, kulit yang putih, dan tentu saja—CANTIK!

Hei, jangan berpikir macam-macam! Aku tidak berusaha melihat ke bagian-bagian aneh! Ok Aku ingin sekali, tapi kalau senpai menyadari sesuatu yang mencurigakan jangan-jangan aku bisa langsung dilempar keluar melalui jendela kamar mandi.

"Yukimura aku masuk, ya."

Aku hanya bisa diam terpaku, mendengar percikan air yang jatuh dan juga gelombang air yang menghantam tubuhku secara perlahan. Agak sedikit canggung mengingat jarak kami tidak sampai satu meter, belum pernah aku dan senpai sedekat ini. Rasanya tubuh itu bisa kupeluk kapan saja.

"Kulit Yukimura lembut, ya..."

"Eh?" aku segera membalikkan badan begitu merasa tangannya menyentuh bahuku, "Ku-kulit senpai juga lembut!" meskipun aku belum menyentuhnya, aku tahu, pasti lembut!

"Ahahaha, tapi tidak selembut kulit Yukimura. Karena sering melakukan pekerjaan kasar, aku tidak terlalu memikirkannya."

"…senpai, kenapa harus memikirkan kelembutan kulit?" ini mungkin terdengar aneh, tapi itu wajar kan?

"Hmm, mungkin karena… entahlah hahahahaha!"

Senpai…

"Aku punya teman, namanya Hiroto. Dia selalu bilang kalau kemampuan saja tidak bisa menarik perhatian seseorang. Karena itu menjaga tubuh harus tetap dilakukan."

Hiroto? Kira Hiroto presiden perusahaan Kira yang terkenal itu maksudnya?

...yang benar saja.

"Tapi buat apa memikirkan itu?" desakku lagi.

"Hummm… Someoka-kun mungkin lebih suka kulit yang lembut kan?"

Kenapa nama itu harus disebut, SENPAI!

"Apa sih yang membuat senpai mau dengannya!" tanyaku frontal.

Jujur, ya! Sejak aku bertemu dengannya setengah jam yang lalu, melihat dia bermesraan dengan senpai, dan caranya memeluk senpai sungguh membuatku muak! Apa yang membuat senpai mau dengan orang sejelek dia!? Masih banyak yang lebih tampan darinya! Lagipula senpai, kamu itu ikemen! Banyak gadis yang tergila-gila padamu. Sebetulnya aku tidak begitu mempermasalahkan gender, karena aku sendiri laki-laki dan aku juga menyukai senpai! Tapi kenapa? Kenapa harus dengan makhluk nista seperti si 'Someoka' itu!

"Someoka-kun? Hmmm…" kulihat Senpai nampak berpikir, "Dia tidak jahat loh, walau tampangnya kurang bersahabat."

"Tampangnya itu jelek, senpai!" jujurku tanpa memikirkan perasaan senpai. Aku tidak mau tahu dan aku tidak mau terima sekalipun senpai sudah bilang kalau dia adalah my darling bagi senpai!

"…Yukimura." panggilnya dengan senyum, "Someoka-kun itu…orang baik kok. Walau aku tidak bisa mengelak apa yang kamu katakan tadi, haha haha haha haha~"

…senpai, apa itu berarti kamu sendiri menyadarinya bahwa darling-mu itu JELEK! LANTAS KENAPA SENPAI! KENAPA!?

Bahkan aku lebih rela kalau senpai bersama temannya bernama Hiroto itu daripada dengan makhluk yang dipastikan bisa merusak penglihatan secara permanen.

Karena terlalu banyak berpikir, aku jadi tidak bisa menikmati saat-saat langka bersama senpai. Setelah sedikit lagi merasakan nikmatnya rendaman air panas, kami memutuskan untuk selesai mandi dan mengenakan pakaian. Senpai memakai piyama, sementara aku memakai pakaian masa kecilnya, cocok dan hangat sekali.

"Someoka-kun~ kamar mandinya sudah kosong. Kamu bisa mandi sekarang." panggil senpai pada si jelek itu yang dengan kurang ajarnya sedang menonton TV sambil tiduran.

"Oooh, baiklah." dia bangkit berdiri, berjalan kearah senpai kemudian, "Hmmm, wangi apel…?" godanya. Jelas-jelas kami tidak memakai sabun beraroma yang dia maksud.

KEPARAT! Sudah sana cepat mandi! Tinggalkan aku dan senpai!

"Oh ya, Fubuki. Ambilkan bajuku."

Kurang ajar sekali ya? Sudah menumpang, merintah-merintah lagi!

Tunggu dulu… ambilkan baju?

Dan senpai berjalan menuju lemari bajunya, mengambil sepasang piyama berwarna hitam kemudian diberikan padanya?

Senpai, entah apakah dia yang meninggalkan bajunya disini, atau senpai yang sengaja menyimpan bajunya, atau… OK! Aku tidak peduli apapun alasannya. AKU TIDAK MENYETUJUINYA!

"Yukimura, suka tamagoyaki?" tanya senpai padaku yang masih uring-uringan. Setelah banyak kejadian di luar dugaan yang kualami, wajar saja aku gondok setengah mati.

"Apa saja aku suka." asal itu masakan senpai.

"Suka yang biasa atau pedas?"

"A-apapun tidak masalah..."

Senpai kembali ke dapur dan mulai membuat tamagoyaki untuk makan malam. Aku terus menatap punggungnya dari ruang tengah yang memang tidak jauh. Sejujurnya aku masih penasaran untuk mendapatkan jawaban memuaskan. Tapi apapun yang kutanyakan, dia tidak menjawaban dan hanya tersenyum. Sebentar aku melirik kearah pintu kamar mandi, membanyangkan si jelek itu tenggelam di bath tub dan tidak akan pernah keluar lagi.

Sungguh, aku heran dengan selera senpai. Dan aku juga tidak tahu apa yang si jelek itu lakukan sehingga senpai bisa tergila-gila padanya.

"Haaaaah…." kuhela nafas panjang sambil mengistirahatkan daguku di meja kecil di depan televisi.

Senpai…

Apa aku memang sudah tidak ada harapan lagi?

…...

…...…

AKU BELUM MAU KALAH!

.

.

.

Menu makan malamku hari ini, tamagoyaki spesial buatan Fubuki-senpai. Ditambah dengan miso soup hangat, aaah—sungguh menyenangkan.

Ujung hari ini pun terasa sangat sempurna, apabila tidak ada makhluk gagal cipta yang duduk tepat di depanku dan sedang merayu Fubuki-senpai untuk menyuapinya makan.

"Kalau bertiga seperti ini, kita seperti keluarga ya?" kata-kata polos senpai membuatku hampir tersedak. Satu keluarga dengan makhluk yang genetiknya minus? SUNGGUH TIDAK SUDI!

"Senpai…" panggilku untuk mengalihkan perhatian, "Boleh aku tambah miso soup…?"

"Oh? Ah, baiklah, akan aku ambilkan..." Sejenak senpai berdiri, mengambil mangkok miso soupku kemudian berjalan kembali menuju dapur.

Aku berhasil memisahkan mereka, hufff!

"Namamu Yukimura, ha?" tanyanya tiba-tiba.

Untuk apa aku peduli?

"Kamu murid Fubuki? Berarti semestinya kau sudah kenal denganku sebelum kita berkenalan sekarang, kan?"

"Huh, Fubuki-senpai tidak pernah bercerita tentang anda. Mengejutkan karena ternyata senpai punya teman dari luar." sahutku sambil memicingkan mata, "Salam kenal ya, Someoka-san." imbuhku sedikit sinis terutama pada sufiks '-san'.

"Ini miso soupnya~!" Fubuki-senpai datang dan segera meletakkan mangkok itu di meja kemudian mengelus lembut kepalaku, "Makan yang banyak ya, Yukimura."

Aku tersenyum dan sedikit tersipu sebelum merahnya mukaku berubah menjadi amarah, karena tiba-tiba si jelek itu menarik senpai untuk duduk di pangkuannya dan mereka makan dari piring dan sumpit yang sama. Melihat semua itu membuatku menjadi tidak selera makan!

Tapi ini masakan senpai…

Dan enak…

"someoka-kun…" Aku mendengar suara senpai yang protes, "Kasian Yukimura."

Maksudnya…?

"Ahahaha, Fubuki, kenapa kamu tidak cerita pada anak didikmu tentang aku?" si jelek mulai merajuk.

"Ummm, karena—"

"Senpai tidak perlu cerita, kalaupun senpai cerita, toh kami tidak akan ada yang mengingat cerita tidak penting seperti itu!" bibirku menjawab ketus, TIDAK PEDULI LAGI TENTANG PERASAAN SI JELEK ITU! Yang aku tahu sekarang, senpai menatapku kaget dan makhluk di belakangnya menatapku heran. Beberapa saat senyap sebelum kemudian dia meledak dengan tawanya yang sama hancurnya dengan tampangnya itu.

"Fubuki! Yukimura ini… ppfff… huwahahahahahaha!"

"Ma-maafkan dia yang Yukimura, Someoka-kun memang terkadang begini... haha haha haha haha~"

Luar biasa, Ini namanya pelecehan!

Aku semakin membencimu, jelek!

Tertawalah! Tertawalah sampai lepas rahang! Kalau saja bukan karena senpai, aku sudah menejejal botol kecap asin ini ke mulutnya, atau melemparkan rice cooker yang letaknya tidak jauh dariku ini ke mukanya! Argghh! Senpai! Kenapa kamu mau dengan orang seaneh dia! Apa yang telah dia lakukan padamu! Apakah senpai dikutuk? SENPAIIIIIII!

"Yukimura? Kamu kenapa?" Aku buru-buru mendongakkan kepalaku, membalas tatapan mata senpai yang sedikit membuatku tenang, "Kamu terlihat tidak senang."

"A-a-a…"

"Mungkin dia lelah Fubuki. Lagipula ini sudah malam. Jam anak kecil untuk tidur, kan?"

Sial! Dia mengatakan itu dengan senyum picik dan melirik kearahku.

"Ah, aku sebaiknya menelepon keluargamu, Yukimura. Kamu tidak mungkin pulang dalam keadaan badai begini. Lagipula sudah malam, sebaiknya kamu menginap malam ini."

Aku hanya bisa mengangguk dan menerima tawaran hangat senpai sebelum dia beranjak dan menelpon orang tuaku. Dan tinggalah aku dengan Someoka si buruk rupa. Setiap kali menatap mukanya aku merasa muak. Pertanyaan itu tidak akan pernah padam, kenapa senpai mau dengan orang seperti ini!?

Ekor mataku mencuri-curi ke arah senpai yang sepertinya sedang menjelaskan keadaanku sekarang melalui telepon. Sebenarnnya aku ingin saja bilang pada senpai kalau tidak perlu repot-repot karena orang tuaku tidak akan terlalu khawatir. Toh, memang begitulah mereka.

Di sela-sela lamunanku memandang senpai, Someoka jelek ini tiba-tiba berdiri dan mengambil mangkuk-mangkuk kosong lalu membawanya ke dapur… KEMUDIAN MENCUCINYA.

Apa?

"Yukimura, aku sudah mintakan ijin. Jadi kamu tidak perlu khawatir ya." jelas senpai santai dan langsung duduk, sementara makhluk berambut merah jambu tadi sedang mencuci mangkuk kotor.

"Someoka-kun, kalau sudah selesai tolong buatkan teh hangat juga, ya."

"Baiklah. Kau mau Oolong-cha seperti biasa?"

"Uhm~"

Dan aku, hanya bisa memandang si jelek dan senpai secara bergantian dengan heran. Apakah ini salah satu hal yang membuat senpai mau dengannya?

Hari semakin malam, cuaca semakin dingin, tapi aku semakin panas karena senpai dan si jelek itu sekarang sedang bercanda ria di belakangku. Ah, iya, aku sedang menonton acara TV sementara mereka sedang asik mengobrol di belakang. Sebuah obrolan bernuansa mesra yang membakar amarahku sejak setengah jam yang lalu. Aku benar-benar naik pitam sampai tidak ingat sudah berapa kali aku mengatakakan kata 'JELEK' dalam hati hari ini.

"Senpai…" panggilku, "Aku mengantuk…" tentu tanpa menoleh ke belakang.

"Ah, sudah lewat tengah malam. Sebaiknya kita tidur. Aku akan siapkan futon."

"Hey, Yukimura." Aku menoleh ke belakang menanggapi panggilan si jelek itu dengan malas.

"Kau senang diajar oleh Fubuki?"

Bukan urusanmu bertanya hal seperti itu!

"Apakah dia melatih kalian dengan baik?"

Apa pedulimu kalau dia melatih kami dengan baik atau tidak? Memangnya apa hubungannya denganmu!

"Hmmmm…."

Tiba-tiba terdengar suara mengeluh senpai yang sedang bersimpuh di depan tumpukkan futon dan bantal.

"Kenapa, Fubuki?"

"Apakah tidak apa-apa kalalu kita tidur bersama? Tidak akan merasa sempit kah?"

"Kenapa senpai?"

"Futon-nya hanya ada dua, haha haha…"

"Aku—"

"Tidak masalah, Fubuki! Yukimura kan masih kecil." kurang ajar dia memotong kalimatku!, "Lagipula kita sudah biasa tidur di kasur yang sama, kan?!" tambahnya lagi.

MAKSUDNYAAAAA!?

"Someoka-kun!"

Dan Fubuki-senpai, kenapa kamu menanggapinya dengan muka memerah begitu?

AKhirnya waktu tidur tiba. Ketika kasur digelar di ruang tengah, meja makan dirapikan—disimpan di pojokkan agar tempat semakin luas. Aku tidur di sisi kanan dengan bantal warna biru, sementara senpai di tengah dan si jelek di sebelah kiri.

Sebelum kami semua masuk ke futon, senpai berkata untuk saling berbagi tempat agar tidak kesempitan. Namun kenyataannya, aku mendapat futon sendirian. Senpai dan dan si jelek itu berada di futon yang sama.

Oh, shit!

Tapi…

Paling tidak, mereka diam. Aku berharap tidak akan terjadi apa-apa. Karena kalau memang terjadi sesuatu yang mencurigakan jangan harap aku akan tetap pura-pura tidur!

SAMPAI KAPANPUN AKU TIDAK MAU MERELAKAN SENPAI!

Aku membalikkan badanku dan memunggungi mereka berdua. Perlahan menutup mata, mencoba untuk tidur. Karena menurutku sendiri mereka pasti juga sudah tidur karena tidak ada suara sedikitpun dari senpai maupun dari si kepala nanas.

"…."

"…..a…"

Ha?

"…nhh….."

…apa?

"….ki…"

…tunggu!

Telingaku seperti menangkap suarau-suara pelan dari balik punggung. Tetap dalam posisi yang sama, aku mencoba untuk mempertajam pendengaran, sebisa mungkin mencari tahu hal yang tengah berlangsung di antara keduanya sambil berdoa semoga apa yang aku takutkan tidak terjadi.

"Someoka-kun… terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk berkunjung ke Jepang. Aku sangat senang."

"Asal kau tahu Fubuki. Aku lebih senang untuk tetap bisa di Jepang."

"Hahaha, tapi tidak bisa. Kamu kan ace striker liga Italia."

"Tapi aku tahu mana yang lebih penting."

"…Someoka-kun…"

"Sst…"

Percakapan mereka membuatku merinding. Si jelek itu sangat jago menggombal!

"Ryuugo-kun…"

APA!?

"Shirou…"

Oke, jadi sekarang mereka saling memanggil nama kecil. INI! INI MELEWATI BATAS!

Sengaja, aku langsung memutar badanku dan mencengkeram piyama senpai. Menguburkan wajahku ke punggungnya. Aksiku tentu saja membuat mereka berdua mengeluarkan reaksi kaget.

"Yukimura?"

"…senpai, aku… tidak bisa tidur."

"Eh?"

"…mungkin karena tidak dengan bantalku sendiri. Aku jadi susah tidur." aku mencoba memberi alasan logis. Kupakai kesempatan itu untuk semakin menempelkan wajahku pada punggung senpai.

"Ha? Dasar manja!" ledek Someoka jelek padaku.

Tapi tentu, itu tidak membuat senpai untuk tidak kasihan padaku. Karena tiba-tiba saja yang kupuja berbalik untuk memeluk tubuhku erat, mengusap-usap kepalaku perlahan.

"Yosh-i, yosh-i…"

Aku tertawa kemenangan dalam hati. Kurasakan senyum picikku semakin lebar. Kugerakkan tanganku untuk merangkul lebih erat sambil tetap mengeluh bahwa aku tidak bisa tidur. Dan tentu saja, hal itu membuat senpai untuk semakin memeluk dan mengusapku. Menyenangkan.

"Senpai…" panggilku, "Senpai, wangi apel…" kuucapkan dengan volume agak keras yang disengaja. Benar saja, tidak lama terdengar umpatan kecil dari balik punggung senpai yang tak lain itu adalah milik Ice-Striker-liga-Italia yang jelek.

Huh! Sampai kapanpun, aku—Yukimura Hyouga, tidak akan menyerah! Aku tidak akan merelakan senpai dengan orang sepertimu!

"Selamat tidur, senpai~"


To be continued…

.

.

.

A/N:
Makasih buat semua yang udah review... Komentar dan kerusuhan (?) kalian sangat berarti...! (((*°v°*)八(*°v°*)))

Semoga chapter ini berkenan, walau scriptwriter maupun beta sama2 merinding kalau lagi nulis bagian Someoka :'D
DUH GEMES YA! AYO YUKIMURAAA! LEBIH SEMANGAT LAGIII! TANTE DUKUNGGG! #ditendang Alpucat

R&R maybe? C: