Disclaimer: Super Junior hanya milik mereka sendiri, SMent, dan Tuhan semata.

Chara: Cho Kyuhyun, other members of Super Junior and more (SMEnt's Artist)

Genre: Friendship, Romance

Rated: T+

Summary: Cho Kyuhyun, murid pindahan yang pintar dan pendiam, dimana di sekolah barunya ia mempunyai banyak masalah dengan para geng yankee (berandalan). First fic about Cho Kyuhyun ^^. Don't like, don't read, ya.

Warning: Abal, Typo(s), Maksa, OOC, Penuh dengan perkelahian dan kekerasan, AU, Tokoh bisa bertambah di setiap chapternya.

Author's list songs: Majisuka Rock n Roll – AKB48, Xiaoyu Theme – Secret OST

Enjoy this! ^^

.

.

Me vs Yankee

.

.

Chapter 6: Absence

Neul Param High School

Pagi kembali muncul di hari yang baru. Matahari bersinar cerah. Burung-burung berkicau, bersahut-sahutan. Angin berhembus pelan, menimbulkan suara-suara renyah dari gesekan dedaunan. Seperti biasanya, Neul Param High School kembali ramai didatangi para murid untuk mengikuti kegiatan belajar-mengajar.

Lima menit lagi, kegiatan belajar-mengajar akan dimulai. Di ruang kelas 2-2 terlihat sedikit semrawut. Karena usut punya usut, guru yang akan mengisi pada jam pelajaran pertama pagi ini adalah guru yang terkenal galak dan killer. Siapa lagi kalau bukan guru fisika. Kemarin, sang guru memberikan tugas pada murid-muridnya dan harus dikumpulkan tepat waktu. Tapi, bisa dilihat sekarang. Banyak murid-murid yang sibuk menyalin jawaban teman-temannya karena belum menyelesaikan tugas tersebut. Keadaan kelas jadi seperti pasar. Wajah-wajah para murid yang belum menyelesaikan tugas terlihat gelisah dan tegang. Dengan sedikit gusar mereka menyalin jawaban dari buku temannya ke bukunya masing-masing.

Kim Ryeowook terlihat gelisah di sudut belakang ruangan dekat pintu kelas. Ia gelisah bukan karena belum mengerjakan tugas. Ia bukan tipe anak yang suka menyelewengkan tugas, kecuali memang benar-benar sibuk. Sementara buku tugasnya dipinjam temannya, Ryeowook sibuk melongokkan kepalanya melewati pintu belakang kelas. Matanya mengamati koridor di depan kelas dan tangga yang ada di ujung koridor. Ryeowook nampak seperti menunggu seseorang. Ia berdecih kesal karena orang yang ia tunggu belum juga memperlihatkan batang hidungnya. Pasalnya, orang itu tidak pernah sekalipun terlambat ke sekolah. Ryeowook melihat jam dinding yang tergantung di atas papan tulis. Sudah jam 07.27. Astaga! Dua menit lagi, bel berbunyi. Ryeowook berharap dalam hati agar orang yang ia tunggu itu segera datang. Semoga orang itu masuk hari ini.

Dalam dua menit, bel pun berbunyi nyaring. Para murid gedabrugan menuju bangkunya masing-masing. Seusai bel berbunyi, sang guru fisika pun datang dengan wajah dinginnya. Semua murid duduk dengan tenang—atau malah lebih tepat dibilang tegang daripada tenang. Sang guru memandangi seisi kelas sebelum dia memulai pelajaran. Tapi, sedetik kemudian, ia memicingkan kedua matanya tajam saat melihat satu muridnya menyeleweng.

"Kim Ryeowook! Sedang apa kamu? Apa yang kau lihat di luar?" Tanyanya dengan nada keras. Lantas saja Ryeowook terlonjak dan segera menutup pintu belakang kelas, lalu memposisikan duduknya dengan rapi.

"M-mianhamnida, Seonsaengnim." Jawabnya tergagap. Sang guru pun berdeham.

"Oke, kita mulai pelajarannya."

Semua murid segera membuka buku fisika mereka yang tebal. Ekspresi mereka terlihat berbeda-beda pagi ini. Ada yang tenang, takut, tegang, dan sebagainya. Ryeowook pun juga terlihat berbeda pagi ini. Ia yang biasanya ceria dan sedikit cerewet, kini mendadak jadi pendiam. Sambil mengeluarkan buku pelajaran, Ryeowook menoleh pelan ke arah deretan bangku di sebelah jendela kelas. Matanya terpaku pada bangku pada barisan ketiga dari belakang. Kosong.

Ia mendengus kecewa.

'Kyuhyun-ah, kenapa kau belum datang?'

.

.

Bel tanda waktu istirahat berdering. Para murid bersorak gembira dan segera mengambil bekal mereka dari tas. Sementara yang tidak membawa bekal, mereka lantas berlarian menuju kantin. Selain memakan bekal, para murid juga menyempatkan diri untuk bermain atau sekedar ngobrol di koridor. Di kelas, Ryeowook mengambil bekal buatannya sendiri dari dalam tas hitamnya. Wajahnya sedikit mengerut karena sahabatnya tidak masuk hari ini.

"Ryeowook-ah!" Seru seseorang dari pintu. Ryeowook yang merasa dipanggil pun menengadahkan kepalanya. Orang yang memanggilnya itu lantas masuk ke kelasnya, menghampiri Ryeowook.

"Hyukkie hyung...?" Kata Ryeowook.

"Aiish... sudah kubilang! Kita ini hanya beda setahun. Apalagi kita setingkat. Kenapa kau masih saja memanggilku dengan sebutan itu?" Eunhyuk sedikit protes. Ryeowook bingung mau menjawab apa. Eunhyuk kemudian ikut makan bersama sahabatnya itu. Ia membuka roti yang baru saja ia beli di kantin.

"Kyuhyun kemana? Ia tidak masuk hari ini?" Tanya Eunhyuk yang mulutnya masih penuh dengan roti. Kebetulan ia melihat bangku Kyuhyun yang kosong. Ryeowook mengangguk lemah.

"Ia tidak masuk hari ini."

"Kenapa? Apa dia sakit?"

"Entahlah..." Ryeowook mengangkat kedua bahunya.

"Yaah... kenapa begini? Apakah tidak ada kabar?"

"Tidak. Sama sekali tidak." Jawab Ryeowook kecewa.

"Yeah... dan kau terlihat seperti kesepian begitu..."

"Yah, kau tahu, kan? Di kelas ini, teman yang paling dekat denganku hanya dia." Jelas Ryeowook. Eunhyuk hanya terkekeh. Tapi kemudian, ia terdiam. Pikirannya melayang. Ada apa dengan Kyuhyun?

Sedang asyik-asyiknya menyantap bekal sambil bercanda-tawa, tiba-tiba suasana menjadi gusar ketika seseorang berseru dari luar.

"Semuanya! 'Black Dragon' kemari!" Seketika setelah mendengar seruan itu, semua murid berjejer rapi di sepanjang koridor. Yaah, semua murid di Neul Param High School takut dengan mereka. Supaya tidak direkcokki oleh geng ternama di sekolahnya itu, mereka segera memberinya hormat atau sekedar diam berdiri sambil menundukkan kepala. Itu sudah tradisi.

Eunhyuk dan Ryeowook berdiri di belakang murid-murid lain. Mereka nampak sedikit melongokkan kepalanya agar bisa melihat anggota geng yang terkenal mengerikan di sekolahnya itu. Eunhyuk dan Ryeowook sedikit tegang ketika melihat mereka melintas dengan angkuhnya. Saat tegang-tegangnya, terdengar suara bisikan di dekat mereka.

"Mereka... para anggota geng 'Black Dragon'..." Eunhyuk dan Ryeowook melirik ke arah suara. Sesekali, mereka juga berpandang-pandangan.

"Kau bisa lihat itu?"

"Ne."

Eunhyuk dan Ryeowook menyimak pembicaraan dua gadis di depannya yang kini sedang berbisik-bisik.

Heechul, Leeteuk dan Yesung melintas dengan angkuhnya melewati koridor di depan kelas 2-2. Heechul—yang berjalan di tengah—nampak berjalan dengan santainya sambil memain-mainkan aksesoris rantainya yang ia lepas dari pinggangnya. Senyum angkuh terpatri di bibirnya. Di sebelah kirinya, Yesung mengikutinya dengan gaya cool—seperti biasa—sambil memasukkan kedua tangannya di saku jaket baseball hitam-putih yang ia kenakan. Kepalanya sedikit terangkat dan tatapannya lurus ke depan. Leeteuk berjalan di sisi kanan Heechul. Ia melempar pandangannya ke seluruh bagian koridor. Leeteuk memandangi murid-murid yang tengah berdiri tegang di sekitarnya. Tatapannya seakan berkata; 'Dasar kalian semua bodoh! Lemah!' Senyum sinis tersungging di bibirnya sambil sesekali terkekeh merendahkan.

"Kau bisa lihat? Dari sebelah kiri ke kanan—Yesung sunbae, Heechul sunbae, dan Leeteuk sunbae... aah... aura mereka begitu kuat. Mengerikan! Lihat! Bulu kudukku sampai berdiri!" Bisik gadis berambut lurus panjang. Eunhyuk dan Ryeowook meluruskan pandangan si gadis sambil terus menyimak pembicaraan.

"Kudengar, mereka pernah menghabisi orang sampai hampir mati." Bisik temannya—gadis berambut pendek—yang tak sengaja kelepasan. Yesung mendengar ada yang sedang membicarakan mereka. Ia pun membalikkan tubuh—masih sambil berjalan. Dua gadis tersebut langsung bungkam. Yesung pun kembali menoleh ke depan.

"Hus! Kau ini biacara apa! Jangan sembarangan!" Si gadis berambut lurus segera menyikut temannya itu.

"Mianhae..." Si gadis berambut pendek tadi meminta maaf.

"Level mereka mencolok sekali, ya ketimbang geng-geng yang lain..."

"Kau benar... secara, mereka adalah geng pertama di sekolah ini..."

Eunhyuk dan Ryeowook masih terpaku pada tiga orang yang menyandang level teratas itu. Mereka tak sengaja melihat Leeteuk mendorong seorang murid hingga membentur pintu dan menendangnya.

BRAAKK!

Eunhyuk dan Ryeowook meringis melihatnya. Eeiiuuh... pasti sakit sekali...

"Heechul-ah... kudengar geng yankee dari Hyeongeul High School mulai membuat masalah lagi kemarin." Yesung berkata.

"Aku juga sudah mendengarnya dari anak-anak buahku." Jawab Heechul dingin.

"Aah... sudah lama aku tidak berkelahi, Heechullie. Apakah kita akan menghabisi mereka?" Leeteuk menghampiri Heechul dan ikut masuk dalam pembicaraan. Heechul terdiam sesaat sambil memainkan aksesoris rantainya. Tapi, saat sedang asyik diputar-putarkan, rerantaian itu tiba-tiba putus dan jatuh. Heechul dan kedua rekannya seketika itu berhenti dan menatap rerantaian itu. Heechul terdiam sambil menyipitkan mata.

Heechul membungkuk untuk mengambil rerantaian itu. Ia pun kemudian merematnya dalam genggaman tangannya.

"Mungkin ini adalah saatnya... untuk menghabisi mereka." Katanya sedikit berat. Kemudian ia kembali berjalan, diikuti Yesung dan Leeteuk.

"It's time to war!" Seru Leeteuk sedikit serak seraya menendang sebuah kursi—yang entah kenapa berada di koridor—dengan sedikit brutal.

GRRAAKK!

Dari jauh, Eunhyuk dan Ryeowook masih memperhatikan mereka. Sedikit pembicaraan mereka terdengar di telinganya karena ketiga kakak kelasnya itu berbicara dengan nada yang sedikit keras. Eunhyuk dan Ryeowook jadi merasa ciut dan takut.

'Kenapa Kyuhyun mesti tidak datang hari ini...?'

.

.

Lee Donghae berjalan menyusuri koridor yang kini sudah mulai sepi sambil mengunyah permen karet di mulutnya. Ia mencangklong tas sekolahnya di satu pundak. Sesekali ia berpapasan dengan beberapa murid. Murid-murid itu nampak menunduk ketika berpapasan dengannya. Takut. Yaah... walaupun Donghae berhenti dari geng yankeenya, ia masih saja seorang yankee. Sesekali ia juga masih berkelahi, walaupun tidak sesering dulu. Donghae meliriknya dengan tatapan masa bodoh dan kembali berjalan.

Ia hendak menginjakkan kaki menuruni tangga, tapi segera diurungkan niatnya itu ketika melihat pintu ruang klub dance sedikit terbuka. Ia sedikit memiringkan kepalanya. Tanpa pikir panjang, ia pun bermaksud untuk mengintip keadaan di dalam. Ia melongokkan kepalanya melewati pintu yang terbuka.

Di dalam ruangan yang setengahnya berdinding cermin itu nampaklah seorang pemuda berambut blonde lurus terlihat sedang menggerakkan badan dengan hentakan-hentakan yang kuat. Matanya memagut bayangan dirinya di cermin. Suara musik dengan beat kuat mengalun dari tape di pojok ruangan. Sesekali rambutnya tersentak-sentak seiring gerakan yang ia ciptakan. Peluh terlihat meleleh dari jidatnya.

Donghae terpaku memandangi pemandangan yang kini ada di hadapannya. Pemuda itu, Lee Hyuk Jae atau Eunhyuk, adik kelasnya. Donghae terpana dengan aksi dance Eunhyuk yang luar biasa. Matanya perlahan membulat dan mulutnya terbuka sedikit. Gerak-geriknya, ekspresinya, penjiwaannya, wajah seriusnya, peluh yang menetes dari ujung-ujung poninya... entah kenapa, itu semua menyita pandangan Donghae.

Tak lama kemudian, Eunhyuk terhenti. Napasnya sedikit tersengal-sengal. Ia lalu berjalan untuk mematikan tape. Butiran-butiran keringatnya berluncuran dari ujung-ujung rambutnya ketika ia menunduk. Oke. Latihan hari ini selesai. Saatnya pulang. Eunhyuk mengambil handuk dan segera mengelap keringatnya. Ia mengangkat tangannya, melihat jam tangan.

"Omo! Sudah sore!" Serunya tertahan. Ia segera bergegas. Ia menyampirkan handuknya di leher dan menyambar tasnya. Ia segera meninggalkan tempatnya berpijak tadi dan berbalik. Tapi, sedetik kemudian, ia tercekat saat melihat seorang lelaki sedang memperhatikannya sambil bersedekap di ambang pintu. Eunhyuk terbelalak.

"D-Donghae hyung?" Tanyanya. Donghae hanya tersenyum sambil terus bersedekap.

"Dance yang bagus. Kau ternyata sangat berbakat, ya?" Pujinya. Eunhyuk sedikit malu-malu dan tersenyum.

"Aah... itu bukan apa-apa..." Katanya sambil mengusap tengkuknya.

"Kau belum pulang?" Donghae menghampiri Eunhyuk.

"Eum... ini baru mau pulang. Kenapa, hyung?"

"Ah... anni. Mau pulang bersama? Biar kuantar dengan motorku." Tawar Donghae.

"Eeh? Jinjjayo?" Eunhyuk terlihat antusias. Donghae mengangguk sambil tersenyum. Eits! Entah kenapa, sore ini, Donghae merasa manusia di hadapannya itu terlihat imut sekali! Eunhyuk malah ber-yes-yes ria. Lumayan, untuk menghemat uang jajan. Hehehe...

Yaah... sejak Donghae kenal dengan Kyuhyun, Eunhyuk—yang notabene adalah sahabat Kyuhyun—pun jadi kecipratan untuk kenal dengan Donghae. Dan seiring waktu berlalu, mereka sedikit demi sedikit menjadi akrab, walaupun Donghae seorang yankee. Yankee, sih, yankee. Tapi, lihat sekarang. Lumayan, lah... sudah tidak separah dulu.

"Ne, Kajja! Sekolah sudah sepi dari tadi, tahu!" Katanya sambil mengobrak-abrik rambut blonde Eunhyuk. Eunhyuk memberontak. Tapi Donghae malah tertawa-tawa.

Eunhyuk dan Donghae berjalan menyusuri koridor dan turun menuju lantai satu. Sepanjang perjalanan, mereka mengobrol. Erm... mengobrolkan banyak hal.

"Apa klub dance itu asyik?" Tanya Donghae.

"Ahahaha... tentu asyik, hyung! Beruntung sekali aku masuk ke sekolah ini." Jawab Eunhyuk dengan nada yang riang.

"Eum... apakah aku bisa masuk sebagai anggota, ya?" Gumam Donghae sambil mengetuk-ngetuk dagunya. Matanya melirik ke atas. Mendengar gumaman kakak kelasnya itu, Eunhyuk tertarik.

"Ho? Kau mau menjadi anggota?"

"Errm... kalau bisa. Sebenarnya, aku bisa melakukan beberapa gerakan dance, tapi aku belum begitu mahir..." Donghae ber-hehehe ria.

"Aaah... itu masalah gampang, hyung! Aku bisa mengajarimu." Eunhyuk mengibas-ngibaskan tangannya.

"He? Geurae?"

"Yap! Kalau tertarik, besok datang saja ke ruang latihan. Aku juga akan sampaikan ini pada ketua."

"Baiklah..." Donghae tergelak ringan.

Tiba-tiba, percakapan terhenti. Di antara dua manusia yang kini sedang berjalan menuju pintu gedung sekolah ini tak mengeluarkan suara sedikit pun. Mereka seakan sibuk dengan pemikiran masing-masing.

"Eh, Eunhyuk-ah..." Akhirnya, setelah sekian menit terdiam, Donghae pun mengawali pembicaraan. Eunhyuk menoleh ke arahnya. "Hari ini, aku tidak melihat Kyuhyun. Kemana dia?" Tanyanya. Eunhyuk tercekat mendengarnya. Ia pun menolehkan kepalanya ke depan, lalu sedikit menunduk.

"Ne... Kyuhyun tidak masuk hari ini." Katanya sambil mendesah.

"Eh? Waeyo?" Donghae sempat membelalakkan mata tak percaya.

"Aku tadi sempat ke kelasnya dan menanyakannya pada Wookie. Dia yang sekelas saja tidak tahu-menahu tentang absennya Kyuhyun, apalagi aku." Kata Eunhyuk lirih sambil mengerucutkan bibirnya, membuat Donghae sedikit gemas melihatnya. Tapi, kembali lagi pada pembicaraan. Ekspresi wajah Donghae berubah ketika mendengar penjelasan dari pemuda berambut blonde itu. Ia menghentikan langkahnya, membiarkan Eunhyuk terus berjalan mendahuluinya. Donghae mengernyitkan jidat. Setahunya, bila Kyuhyun tidak masuk, dia akan memberitahukan pihak sekolah. Tapi kini? Donghae merasa curiga dan khawatir.

'Apa yang terjadi pada anak itu?'

.

.

Ryeowook terlihat berlari tergopoh-gopoh menyusuri jalanan menuju rumahnya. Sesekali ia berhenti dan membungkukkan badan. Napasnya tersengal-sengal.

"Aiish... sial! Kenapa aku harus ketinggalan bis begini? Mana sudah sore, pula..." Keluhnya. Setelah berhasil menyelaraskan napasnya, ia pun kembali berlari lagi. Tapi, baru setengah jalan, ia terhenti. Kedua manik matanya mendapati seseorang melangkah masuk ke sebuah cafe kecil di pinggir jalan. Karena merasa mengenalnya, Ryeowook pun memanggil nama orang itu.

"Siwon hyung!"

Ryeowook duduk di kursi di sebuah cafe kopi sederhana. Di hadapannya terhidang secangkir cappuchino yang sudah berkurang setengahnya. Di depannya duduk seorang lelaki bertubuh atletis. Siapa lagi kalau bukan Choi Siwon, sang ketua OSIS. Ryeowook terlihat membulatkan matanya, menatap kakak kelasnya itu lekat-lekat sambil menunggu-nunggu kalimat yang akan dilontarkan pemuda berambut hitam yang panjangnya sudah hampir menyentuh kerah seragamnya itu.

Siwon mengernyit seraya menatap adik kelasnya. Ia benar-benar tak mengerti apa yang barusan ditanyakan Ryeowook.

"Kau bilang... Kyuhyun tidak masuk sekolah hari ini?" Tanya Siwon balik.

"Aduuh... Siwon hyung ini. Aku itu tanya, kenapa hyung malah balik tanya?" Ryeowook melengos. "Bukannya hyung rumahnya dekat dengan Kyu?"

"Aa... itu benar. Tapi, untuk belakangan ini, aku sedikit sibuk. Bila berangkat sekolah, aku selalu berangkat lebih pagi dan aku tidak bertemu dengannya. Saat di sekolah juga. Kalaupun bertemu, itu pun hanya sekedar berpapasan. Kau tahu, kan, sebentar lagi aku akan ujian...?" Jelas Siwon. Ryeowook terlihat kecewa dengan jawaban kakak kelasnya itu.

"Waeyo?"

"Hyung... Kyuhyun tidak mengabari kalau dia absen hari ini. Aku tanya padamu karena kupikir kau tahu alasannya. Kau kan dekat dengannya..." Ryeowook mendengus. "Di kelas aku kesepian, hyung..."

Siwon menautkan alis tebalnya. Ia berpikir keras kenapa tetangganya yang sudah akrab selama bertahun-tahun itu tidak muncul di sekolah hari ini. Dan lagi, ia tidak memberitahukan alasan kenapa dia absen. Kenapa dengan Kyuhyun hari ini?

"Ah, sudahlah. Kalau begitu, aku duluan. Sudah sore. Aku bisa dimarahi ibu. Terimakasih sudah mau mentraktirku cappuchino. Annyeong, hyung!" Ryeowook pun pamit ketika diketahuinya hari mulai gelap.

"Ah! Ne! Hati-hati Wookie-ah!"

Sepeninggal Ryeowook, Siwon kembali terdiam. Otaknya berkelana mencari jawaban apa yang terjadi pada Kyuhyun. Seraya berpikir, ia pun menyesap kopi hitamnya. Saat ia menyesapi kopinya, tiba-tiba ponselnya berdering. Segera ia keluarkan ponsel itu dari saku jas almamaternya dan memencet timbol hijau.

"Yeoboseyo?"

"Ah! Siwonnie!"

"Eh? Ahra noona?" Siwon kaget ketika mengenali suara si penelpon. Cho Ahra—kakak perempuan Kyuhyun. "Waeyo, noona-ah?"

"Aa... begini, Woonnie-ah. Untuk dua hari kedepan, bisakah aku titip Kyuhyun?" katanya. Yaah... Siwon kenal baik dengan keluarga Kyuhyun. Mereka sudah sangat dekat, sudah seperti keluarga sendiri.

"Untuk dua hari kedepan, aku tidak bisa pulang. Aku kira setelah kemarin tidak pulang, hari ini aku bisa pulang. Tapi, tiba-tiba saja, atasanku menjadwalkanku untuk pergi ke luar kota. Aku titip Kyuhyun, ya? Sejak tadi, ponselnya kuhubungi tidak juga diangkat." Jelas Ahra. Siwon mengernyit. Ponsel Kyuhyun tidak diangkat?

"Siwonnie?"

"Ah! N-ne... aku akan menjaganya. Kebetulan ayah dan ibu juga sedang pergi ke luar negeri dan baru pulang minggu depan. Tidak masalah..."

"Aah... jinjja yo? gomawoyo, Wonnie-ah!" Ahra berterimakasih. "Tolong jaga dia, ya? Kalau kau yang menjaganya, perasaanku bisa tenang." Ahra membuang nafas.

Siown tergelak. "Ne, noona-ah..."

"Oke, sampai bertemu lagi. Pulang nanti, akan kubelikan kau puding kesukaanmu! Aku janji!" Janji Ahra sebagai imbalan karena Siwon sudah bersedia menjaga adik kesayangannya itu.

"Ahahaha... kau selalu bisa mengerti aku, noona." Siwon tergelak lagi.

"Sampai jumpa."

PICK!

Setelah sambungan telepon terutus, Siwon pun juga mengakhiri pembicaraannya dengan kakak Kyuhyun itu. Ia pun memasukkan ponselnya ke saku. Pikirannya melayang pada perkataan Ahra di telepon tadi.

'Sejak tadi, ponselnya kuhubungi tidak juga diangkat.'

Siwon mengernyit heran. "Kenapa dengan Kyuhyun akhir-akhir ini?" Gumamnya.

.

.

Menjelang petang, Siwon bermaksud mengunjungi rumah Kyuhyun. Sejenak ketika ia hendak membuka pintu gerbang, ia melihat keadaan luar rumah Kyuhyun. Lampu-lampu belum ada yang menyala, padahal langit sudah berubah menjadi violet. Siwon hanya bisa mengernyit sambil mendengus. Kenapa lagi dengan Kyuhyun? Sudah tidak masuk sekolah, lampu-lampu rumah juga belum dinyalakan. Kemana Kyuhyun sebenarnya?

Setelah membuka pintu gerbang, Siwon segera masuk. Ia mengambil kunci di bawah pot—sesuai instruksi dari Ahra siang tadi. Ia lalu membuka pintu rumah Kyuhyun. Yaah... suasana di dalam rumah kini gelap. Siwon meraba-raba dinding untuk mencari sakelar lampu. Seketika, lampu pun menyala. Siwon berjalan dan mencari sakelar-sakelar lampu lain dan menyalakannya. Sepi sekali rumah ini. Seperti tak ada orang di rumah. Apa Kyuhyun pergi? Ah! Itu tidak mungkin. Mau pergi kemana dia? Ke sekolah saja ia tidak berangkat. Apa iya dia bolos dan keluyuran di luar? Kyuhyun bukan anak seperti itu.

"Kyuhyun-ah?" Panggil Siwon sambil celingak-celinguk. Ia pun menaikki tangga menuju lantai dua. Lagi, Siwon menyalakan lampu-lampu di lantai dua. Aiish... benar-benar sepi rumah ini. Siwon heran dengan rumah ini. Kemana penghuninya?

"Ne, Kyuhyun-ah... kau dimana?" Siwon memanggil nama Kyuhyun lagi. Hingga akhirnya ia terhenti di depan kamar berpintu cokelat dengan hiasan berbentuk huruf 'K' tergantung di daun pintunya. Siwon berpikir, apakah Kyuhyun ada di dalam? Apakah dia sakit hingga ia tertidur seharian di dalam kamar? Ragu-ragu, Siwon pun mencoba membukanya. Eh? Tidak dikunci? Siwon makin mengernyitkan alisnya. Ia pun membuka pintu dan melihat sekeliling. Gelap.

"Kyuhyun...? Apa kau di dalam?" Tanyanya. Ia pun mencari sakelar lampu dan menyalakannya.

PATS!

Lampu pun menyala terang, Siwon pun bisa melihat keadaan kamar dengan leluasa. Tapi sedetik kemudian ia membulat. Astaga! Ia tersentak kaget ketika melihat isi kamar Kyuhyun ini berantakan. Siwon mendapati beberapa barang pecah dan berserakan di lantai. Selimut terlihat menggantung di bibir kasur dengan tidak elitnya, dan... sebuah cermin terlihat pecah dan retak. Sepertinya ada yang sengaja memecahkan cermin itu dengan melempar benda keras. Hei, ada apa ini sebenarnya?

Ia menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan—mencari sosok Kyuhyun yang selama ini ia cari. Tapi, ketika ia sedang menelusuri sudut demi sudut kamar itu, tak sengaja manik mata bulat Siwon menangkap sesuatu. Ketika dirasanya ia mengenal sosok itu, Siwon pun terbelalak. Ya, ia terbelalak. Pasalnya, sosok yang ia lihat adalah Kyuhyun sendiri. Terlihat Kyuhyun terduduk di sisi tempat tidurnya sambil memeluk lutut. Kyuhyun membenamkan mulutnya di sela-sela lututnya. Siwon menatapnya sambil memiringkan kepala sedikit. Entah ini benar atau tidak, ia merasa pundak Kyuhyun berguncang samar. Sedang menangiskah ia?

"K-Kyuhyun-ah...?" Paggilnya lirih sambil menghampiri Kyuhyun. Kyuhyun pun megangkat kepalanya pelan dan memandang ke arah tetangganya itu. Betapa kagetnya Siwon ketika melihat kedua mata Kyuhyun sembab. Sesekali, Kyuhyun terisak.

"Siwon hyung..." Ucap Kyuhyun. Sedetik kemudian, ia pun menangis. Siwon yang tak tega melihat Kyuhyun seperti ini lantas duduk di sisinya dan mendekapnya erat, sementara tangis Kyuhyun pun pecah. Ia meremat bagian belakang baju Siwon sambil membenamkan wajahnya di dada bidang milik Siwon.

Siwon terlihat tak mengerti dengan ini semua. Walaupun terheran-heran, ia tetap berusaha menenangkan Kyuhyun—yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri itu. Kyuhyun masih terus mengeluarkan air matanya dalam dekapan Siwon, sementara Siwon hanya bisa terdiam—masih dalam keadaan tak mengerti.

'Ada apa ini sebenarnya?'

.

.

TBC

A/N: Huuft... selesai juga chapter barunya. Mungkin, dari chapter ini dan chapter depan adegan berantemnya saia pause dulu, ya... saia mau ngefokusin masalah Kyuhyun dulu. *angguk-angguk*

Wokeehh! Saia juga tidak lupa mau berterimakasih pada readers yang sudah bersedia baca dan setia meriview fic saia. Khamsahamnida, ne! Arigato gozaimasu! Buat kedepannya, saia juga masih setia memohon riview anda-anda semua. *eleh, sok formal* hehehe... sampai jumpa di chapter selanjutnya! *cling!*

Ms. Simple :D