Badai Cemburu Yukimura
Inazuma Eleven GO (c) Level-5
Warning: OOC. Abuse chara. Hina Dina tumpah ruah.
.
Beta by Ratu Obeng (id: 1658345)
Plot & Written by ALPUCAT
.
.
.
CHAPTER 03
Pagi tiba.
Dapat kurasakan cahaya-cahaya samar menyelusup dari balik tirai jendela melalui indera penglihatanku. Perlahan kubuka kelopak mata. Mendapati wajah tenang senpai yang tertidur lelap tepat di depan mukaku.
Aku terpukau, menelan ludahku karena tegang. Ini pertama kalinya aku berada sedekat ini dengan senpai. Wajahnya tenang, damai, tanpa dosa, benar-benar seperti anak kecil yang lugu. Sejenak senyum kecilku mengembang saat memandangnya, merasakan tangannya yang masih berada di sekitar badanku. Tapi senyum itu berubah kecut ketika menyadari ada tangan nista yang merengkuh pinggang senpai.
"Enghh…" senpai terbangun seraya membuka matanya perlahan, "Sudah pagi ya…?"
"Selamat Pagi, Senpai." sapaku, tentu masih di jarak yang sama.
Senpai tersenyum manis, "Selamat Pagi, Yukimura…" sahutnya, mengusap pelan kepalaku. Kalau saja waktu bisa berhenti. Kalau saja aku terus bisa dalam posisi ini. Pagi ini rasanya sangat indah, sebelum kemudian buyar karena adanya eluhan parau dari belakang punggungnya.
"Aah, sudah bangun? Selamat pagi, Someoka-kun…" senpai memutar sedikit kepalanya untuk menyapa si Someoka jelek itu. Membuat senyumnya hilang dari pandanganku.
"Ahn… selamat pagi, Fubuki…"
KEPARAT!
Someoka ini benar-benar tidak tahu apa yang dinamakan tata karma! Bisa-bisanya dia mencium kening senpai di hadapanku! Heh! Kamu menyulut api semakin besar, brengsek!
"Senpai!" Aku menyela, "…sekolah…"
"Ah!" Fubuki-senpai langsung menegakkan badannya, "Maaf, Someoka-kun…!" tentu saja, karena gerakan tiba-tiba itu, sikunya tidak sengaja membentur keras dagu si jelek.
Hal yang membuatku lebih bahagia lagi—senpai yang tidak melakukan apa-apa selain menanyakan keadaannya tapi langsung beranjak berdiri dan mengambil bajuku untuk dirapikan sebelum nanti akan kupakai ke sekolah.
"Yukimura, ini sikat gigi untukmu. Cuci muka dan gosok gigimu dulu ya, aku akan buatkan sarapan."
Aku mengangguk. Kuambil sikat gigi berwarna kebiruan dari tangan senpai lalu berjalan menuju kamar mandi.
Setelah selesai menyikat gigi, aku mendapati senpai yang sedang mengoles selai blueberry ke atas roti panggang. Dia memanggilku untuk duduk dan memakan sarapan seadanya yang sudah disiapkan olehnya. Sekali lagi aku hanya menjawab dengan anggukan untuk kemudian duduk dan mulai menyantap hidangan yang berupa dua roti panggang serta telur setengah matang. Tidak lupa juga senpai beranjak untuk mengambil susu dari kulkas lalu menuangkannya untukku. Aku tersenyum menikmati sarapan dan berterima kasih pada senpai. Bukan hanya karena sarapan, tapi juga karena seluruh perhatian yang tercurah hanya padaku. Sementara Someoka jelek itu hanya terdiam, mengompres dagunya dengan es batu.
Tentu saja! Senpai bahkan tidak sempat untuk mengusap-usap dagu pacar jadi-jadiannya yang sakit, karena sekarang dia sibuk menyetrika bajuku dan baju miliknya sendiri.
Senpai benar-benar seperti ibu rumah tangga yang sempurna. Dia bisa melakukan semuanya dengan cekatan hanya dalam waktu singkat.
Sasuga, Fubuki-senpai. Luar biasa.
Aku menikmati sarapanku sembari terus memandang senpai. Kukerutkan sedikit dahiku karena rasanya ada yang aneh dengannya.
Mengunyah roti panggang dengan perlahan, aku tetap memerhatikan senpai yang entah kenapa terasa berbeda bagiku saat itu. Aku merasa sedikit asing, seperti ada sesuatu yang berubah.
"Yukimura, bajumu sudah aku setrika." dia menyerahkan baju Hakuren yang sudah terlipat rapi, "Jersey dan seragam olah raga juga sudah kurapikan di dalam tasmu, ya."
Wow, senpai merapikan secara keseluruhan!
"Fubuki! Untuk apa kau merapikannya semua?" nanas sial itu akhirnya berbicara, mungkin dia merasa tidak diperhatikan.
Sakit, kan! Tidak enak, kan!
"Jangan bicara begitu Someoka-kun. Yukimura jadi kesiangan karena kita tidur terlalu malam!"
Iya senpai~ bela aku senpai~ tolong aku senpai~. SENPAIIII~! HAHAHAHA!
"Ya ya ya ya ya!" kudengar nada sumbangnya agak meninggi, si jelek itu membuang muka. O-ho? Mereka akan bertengkar? Baguslah.
"Tapi jangan sampai kau sendiri lupa merapikan diri!"
"Aku baru mau merapikan diriku!"
Aku yang salah dengar atau suara Fubuki-senpai pun ikut meninggi, Hmm? Apakah ini sebuah huru-hara kecil? Semua karena aku? Tidak apalah, itu berarti kesempatanku makin besar kan? Good thing to know.
"Yukimura.." kontras, sekarang senpai berbicara padaku dengan intonasi lembut, "Aku akan siap-siap dulu. Nikmati sarapanmu, ya. Kalau sudah selesai langsung ganti baju."
"Ya!"
Sekali lagi senpai mengusap kepalaku sebelum buru-buru beranjak ke kamar mandi untuk merapikan dirinya.
Selesai dengan sarapan, Aku langsung mengambil seragam dan mencari celah untuk mengganti baju secepat kilat. Aku tidak sudi ada makhluk nista melihatku ganti pakaian. Kulipat kembali dengan rapi baju yang senpai pinjamkan padaku. Meletakannya di dekat futon dan duduk manis menunggu senpai kembali.
Tak lama senpai pun keluar dari kamar mandi.
Ini. Ini baru senpai yang aku kenal.
Kembali aku megerutkan dahiku sambil mengawasi senpai yang sedang buru-buru memakan roti panggangnya.
Apa yang membuat senpai tadi berbeda?
Apa?
Apa…?
AH! Aku tahu!
Jambul yang biasanya mencuat di dekat poni senpai sekarang ada—tadi tidak ada. Sebelum ini rambut senpai semuanya turun, makanya dia terlihat sangat manis dan lugu seperti anak kecil. Ahh, senangnya bisa mengetahui satu lagi rahasia senpai.
"Yukimura kamu sudah siap?" masih ada potongan roti tersisa di mulutnya. Membuatku kembali dari imajinasi lain yang baru berhasil kuciptakan.
"Ah, iya."
"Kalau begitu ayo berangkat."
Fubuki-senpai langsung beranjak, mengambil tasnya.
"Someoka-kun, aku pergi ke sekolah dulu." katanya berpamitan pada si jelek yang sepertinya tidak mempedulikan hal itu, "kau bisa bikin sarapan sendiri, kan? Aku dan Yukimura sudah terlambat." ucap senpai lagi, dengan berjalan menuju rak sepatu dan mengambil alas kaki yang tersedia. "Kita… akan bicara soal itu lagi nanti."
Itu?
Kulihat air muka senpai menjadi sedikit sedih. Begitu juga dengan darling sialannya itu. Apa ada suatu hal yang tidak kutahu sedang terjadi?
Aku hanya mengikuti alur senpai berjalan, sedikit menengok dan tidak ada respon berarti dari si jelek maupun senpai yang berusaha untuk diperhatikan. Karena sekarang senpai hanya memperhatikan untuk memakai sepatunya. "Kalau tidak ada rapat, aku akan kembali siang nanti." imbuhnya lagi, dan tetap tidak ada respon.
Aku melirik pada wajah senpai yang agak sedikit kesal.
Aaah, kalian bertengkar? Tenang senpai, kalau bersamaku pasti akan ceria lagi. Lupakanlah si jelek itu. Ada Yukimura Hyouga di sini!
"Baiklah, kami pergi dulu. Yukimura berpamitanlah pada Someoka-kun."
Aku membalik badanku malas kemudian sedikit menunduk, "Permisi, Someoka-san. Senang berkenalan dengan anda." DAN SELAMAT TINGGAL JELEK!
.
.
.
Setelah itu, kegiatanku selama belajar di sekolah berjalan sangat lancar. Apalagi mengingat Fubuki-senpai berada di sekolah sepanjang hari karena kegiatan yang diberikan oleh klub sepak bola Hakuren. Setidaknya aku sedikit tenang karena pujaanku tidak hanya di rumah dan berduaan dengan Someoka brengsek itu untuk melakukan hal yang tidak pantas dilakukan.
Dan tentu saja sekarang menjadi hal yang paling kutunggu-tunggu; Latihan bersama tim sepakbola Hakuren sepulang sekolah. Jantungku berdebar semakin kencang saat melihat senpai berada di tengah lapangan.
"Senpai~!"
"Ah! Yu-Yukimura… maaf aku tadi melamun…"
Aku terdiam, menghela nafas seraya memasang muka kecut. Sudah tiga kali aku memanggil senpai sejak latihan dimulai, dan semuanya tidak ada yang ditanggapi kecuali jika aku berteriak seperti tadi. Masa iya senpai sedang memikirkan Someoka sialan itu? Kenapa harus memikirkan dia? Apa karena lupa diberi makan? Atau karena takut rumah senpai diobrak-abrik?
"Yukimura?" kali ini giliranku yang kaget ketika namaku dipanggil. Kucoba untuk tetap fokus, menghilangkan imajinasi yang tidak perlu—termasuk imajinasi kapan kira-kira senpai akan memanggilku dengan nama kecil.
"Kita sudah selesai latihan di lini defense, senpai! Sekarang latihan apa lagi?"
"Hmm… bagaimana kalau kamu coba untuk memperkuat Phanter Blizzard?"
Phanter blizzard, jurus turunan dari Eternal Blizzard yang senpai ajarkan padaku.
"Baiklah…"
Aku segera berlari dan memulai latihan shoot ini. Bola demi bola aku tendang, menuai berbagai pujian dari senpai yang berkata,"Tendangan bagus, Yukimura!" atau, "Tendang tadi sangat kuat. Lanjutkan, Yukimura!"
Tentu saja tendangan ini kuat! Dan akan terus bertambah kuat. Karena setiap melakukan tendangan, aku membayangkan bola di kakiku ini menjadi wajah si someoka jelek. Apalagi ketika mengingat kembali kejadian tadi pagi, saat dia mencium kening senpai.
SIAL!
"Wahh! Tendangan barusan luar biasa! Bagus, Yukimura!"
Aku tersenyum pada senpai dan kembali konsentrasi pada bola di kakiku.
Hmmm…
Apa sebaiknya aku manfaatkan kesempatan ini dan menciptakan jurus baru? Seandainya bisa, aku akan menamakannya 'Someoka's disaster!'. Jadi, ketika aku menendang, maka bolanya akan berubah menjadi wajah sang nanas jahanam. Aku yakin ini akan menjadi jurus tendangan yang sangat kuat! Tidak akan ada kipper yang bisa menahan jurus ampuh tersebut! Mereka semua pasti menghindar karena tidak ada yang bisa tahan melihat wajah jelek itu!
SEMUA!
Kecuali satu orang…
Fubuki senpai…
Senpai…
Hatiku sakit…
Bagai dilanda badai semalam…
SEMUA GARA-GARA SOMEOKA BRENGSEK!
Dalam hati aku berteriak dan menendang bola dengan penuh amarah, kecemburuan dan juga kekesalan.
Tapi—
Tidak ada pujian yang muncul.
"Senpai?" mataku mencari sosoknya yang seharusnya belum lama berada tidak jauh. Kulihat punggung senpai yang sekarang malah berlari menjauhi lapangan. Bahkan senpai tidak pamit padaku, mau ke mana dia? Masa iya mau pulang dan bertemu si jelek itu? Ini kan masih jam latihan?!
"Ooy!" panggilku pada salah seorang teman klub, "senpai mau kemana?"
"Tadi ada yang mencari Fubuki senpai."
APA!
"Siapa yang cari?"
"Entahlah, wajahnya asing… sepertinya bukan orang dari daerah Hokkaido…"
Perasaanku tidak enak.
"Se-seperti apa orangnya…?!"
"Hmm… dia memakai jas putih dan topi putih…"
Ksjhfaknksjdhrfksjdfhn!
"Rambutnya pink?"
"Entahlah, tertutup topi."
"Kulitnya hitam!"
"Iya…"
"WAJAHNYA JELEK!"
"Eh—i-iya…"
Tanpa basa basi aku langsung meninggalkan lapangan dan meluncur untuk menyusul Fubuki-senpai.
Kurang ajar! Berani-beraninya dia datang ke Hakuren! Aku berlari tanpa henti mencari keduanya ke setiap sudut sekolah, di mana senpai dan si jelek itu mungkin berada. Hal terakhir yang terpikirkan adalah halaman belakang sekolah. Biasanya di cerita-cerita anime, mereka akan bertemu diam-diam di sana karena jarang ada orang lewat disana, kemudian…
…
TIDAK!
Tidak tidak tidak tidak tidak tidak tidak! Jangan sampai!
Setelah akhirnya tiba di halaman belakang sekolah, dengan napas yang terengah-engah, aku berjalan cepat dan benar saja! Aku melihat punggung Fubuki senpai. Anime-anime itu tidak berbohong!
Aku baru saja akan segera berlari dan memeluk senpai dari belakang sebelum kemudian melihat pemandangan belakang sekolah dengan full-view.
…
…yeah.
Fubuki senpai sedang berciuman dengan si jelek itu.
Dan entah kenapa aku…
…membatalkan niatku untuk memeluk senpai. Kuputuskan untuk bersembunyi di balik tembok, berupaya memantau keadaan. Aku menekan gigiku penuh amarah. Apakah ini karena wajah yang terlihat dari sisiku adalah wajah si jelek yang sedang menikmati ciumannya dengan Fubuki senpai!?
Menjijikkan menjijikkan menjijikkan! Hilanglah dari pikiranku!
Enyahlah, pikiran kotor!
"Fubuki, soal Italia…"
"Uhn… aku sudah memikirkannya."
He? Italia?
"Untuk kesekian kalinya Fubuki! Ikutlah bersamaku…"
Apa! Apa maksudnya dia sedang berusaha mengajak senpai ke Italia!
"Someoka-kun, aku…"
"Kau tahu Fubuki, aku tentu lebih memilih untuk tetap tinggal di Jepang. Aku tahu apa yang paling penting! Dan kau pasti tahu aku tidak kuat untuk meninggalkanmu di sini…."
"Tapi Someoka-kun adalah ace striker di sana, kan? Itu membuatku sangat bang—"
"Fubuki! Ikutlah aku ke Italia besok!"
GAD DEM! BESOK? Kenapa setiap aku membalikkan tubuhku dan ingin menghentikan mereka berdua, selalu wajah nista yang sedang menikmati ciuman itu yang kembali terlihat!
Aargh! Kuatkan mentalmu Yukimura Hyoga! Demi senpai!
"FUBUKI SENPAI!" tidak tahan, aku keluar dari tempat persembunyian—meneriakkan nama senpai sekuat tenaga. Dadaku sakit, tapi aku tidak boleh lari. Aku berusaha berdiri mantap di hadapan mereka berdua yang kini memandangku terkejut.
"Yukimura?"
Sesuai dugaan, Fubuki-senpai langsung mendorong si jelek itu menjauh.
"Senpai! Senpai akan ke Italia?"
"Aah, itu... aku…"
"Senpai akan meninggalkan Jepang!?"
"…."
"Senpai!"
"Aku sudah memikirkannya, Yukimura."
"Eh?"
"Sejak pertandingan dengan Raimon, ketika kalian berada di bawah fifth sector, hingga sekarang kalian menjadi kuat."
Aku terdiam, menatap mata senpai yang memancarkan keseriusan.
Senpai… serius?
"Senpai benar-benar akan meninggalkan Jepang? Meninggalkan Hakuren!"
"Someoka-kun sudah selalu bertanya padaku, tapi aku selalu mengulur untuk menjawabnya. Hari ini aku harus memantapkan jawabannya, karena besok—"
"Senpai akan meninggalkan Hakuren lagi! AKAN MENINGGALKAN AKU LAGI! KAMU MENGKHIANATIKU LAGI!"
"Bukan, Yukimura… aku—"
"AKU SUKA PADAMU SENPAI!"
Akhirnya aku berani mengatakannya! Oh my! Apa yang kau pikirkan, Yukimura!?
"Yukimura…"
"He…? Kau suka Fubuki?" Someoka jelek mencibir, kelimatnya berubah menjadi ejekan di telingaku. Oi, oi…kau hanya anak kecil—"
"DIAM!" potongku, "Lantas kenapa kalau aku anak kecil!? Aku benar-benar suka pada Fubuki-senpai!"
"Yang benar saja! Fubuki itu senpaimu! Dan dia adalah milikku!"
"DIAM KAMU JELEK!"
Ah kukatakan lagi…
"Apa!?"
Aku tidak menghiraukan protes si jelek itu dan langsung mendekap lengan senpai, berusaha untuk meraih wajah senpai yang jauh lebih tinggi dengan kedua tanganku. Membuatnya hanya melihat ke arahku.
"Senpai!"
"…"
"AKU SUKA PADAMU SENPAI!"
"…Yukimura…"
"SENPAI!"
"Aku juga suka Yukimura…"
"O-ooi… Fubuki!"
Eh? Apa? Apa tadi jawaban senpai? Apa aku salah dengar?
"Senpai…?"
Senpai tersenyum ssambil mengelus pelan kepalaku.
"Yukimura kan salah satu anak Hakuren yang aku sangat sayangi…"
Apa?
Dia bilang apa?
Bukan itu maksudku, senpai!
"Pffft!"
Aku melirik malas ke arah Someoka yang sekarang—dengan muka kampungannya—sedang menahan tawa. Kemudian kembali menatap senpai yang masih dengan senyum manisnya mengelus-ngelus kepalaku.
"Huu…"
"Eh?"
"Huuu….uuuwaaaaahhhhh~"
"Ara? Yukimura kenapa kau menangis?"
"Fubuki…"
"someoka-kun?"
"Anak luar biasa ini sudah berani mengutarakan perasaannya padamu. Jadi? Bagaimana keputusanmu?"
"….un... aku rasa… aku tidak akan mengubah jawabanku."
Mendengar jawaban senpai aku sudah tidak peduli lagi, aku menangis sejadi-jadinya sambil tetap memeluk senpai. Mau kau ejek aku sebagai anak cengeng pun aku tidak peduli! Aku sedih! Senpaiiii bisa-bisanya kau lakukan hal ini padaku! Senpaaaiiii!
Apakah aku benar-benar tidak bisa mendapatkan dirimu?
Apakah aku benar-benar harus menyerah?
Huwaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhh~!
.
.
.
'Kepada para penumpang pesawat IT179FS menuju Italia, diharapkan untuk masuk ke ruang tunggu. Terima kasih.'
Di sini aku berdiri, terdiam dan merasa hampa. Di tengah kerumunan kesibukan orang yang berlalu lalang di bandara Internasional Narita. Menatap kosong pada pintu keberangkatan yang tidak akan bisa dicapai lagi jika orang yang kita sayangi sudah berada di baliknya.
Kuhela nafasku dengan berat. Aku siap untuk melepas Fubuki senpai.
Haaah—
Yah, asal kalian tahu. Aku di sini bukan untuk mengantar Someoka sialan ini, tapi aku melakukannya karena Fubuki senpai.
"Kau senang aku pergi, huh!?"
Aku memicingkan mata menyambut wajah jeleknya. Walau dia berdiri agak jauh, tapi suaranya yang terkesan mencemooh itu membuatku mengepalkan tangan lebih kencang. Kucoba menghela nafas sekali lagi untuk meyakinkan diriku melepas Fubuki senpai…
—mendekati kekasihnya-yang-tidak-akan-pernah-kuakui itu.
"Someoka-kun, kalau sudah sampai langsung kabari aku, ya."
"Tentu saja, Fubuki. Kau adalah orang pertama yang harus tahu ketika aku sampai di Italia."
"Ahahaha… Yukimura berpamitanlah pada Someoka-kun."
"…sampai jumpa lagi.." ucapku datar. Bagaimanapun persaingan di antara kami belum berakhir, kan? Karena keputusan Fubuki Senpai untuk tetap tinggal di Jepang merupakan awal mula yang baik bagiku untuk kembali berjuang.
Someoka hanya diam seraya memandangku sejenak sebelum kemudian mendekat untuk menepuk-nepuk kepalaku.
"Kau masih kecil! Perjalananmu masih panjang."
"…"
"Aku sudah mengenal Fubuki lebih lama darimu. Jadi sudah sering merasakan hal-hal yang kau alami kemarin… ppfftt… WAHAHAHAHHAHAHAHAH!"
Ha? Apa maksudnya?
LALU APA MAKSUD TERTAWANYA ITU! MENYEBALKAN!
'Diberitahukan kembali kepada para penumpang pesawat IT179FS menuju Italia, diharapkan untuk masuk ke ruang tunggu. Terima kasih.'
"Aah, sudah saatnya aku pergi."
"uhn, hati-hati di jalan Someoka-kun!"
"Fubuki… terima kasih untuk boosting semalam. Itu cukup untuk menjadi bekal sebelum aku kembali lagi ke Jepang."
WAT?
"So-Someoka-kun!" kali ini wajah Senpai benar-benar memerah.
Apa dia sengaja…?
Dia sengaja mengatakkannya di depanku! Bahkan sambil melihat ke arahku!
….kurang ajaaar!
"Baiklah sampai bertemu lagi. Kalian berdua jaga diri kalian!"
"Hati-hati di jalan, SOMEOKA-SAN!" hardikku sambil menekan dalam saat mengucapkan namanya. "Dan Jangan kembali lagi…"
"…..aaahahahaha sampai bertemu lagi, Yuki-mura-KUN!" dia membalas sindiranku tajam. "Aku pasti kembali secepatnya!" Beberapa saat kami sama-sama saling tatap tidak mau kalah. Kurasakan aura mengerikan tak kasat mata terpancar di antara kami berdua.
"Wah kalian sudah akrab, ya~"
Aku hanya bisa hening, melihat kesal pada Fubuki senpai.
Yah, seperti biasa. Ucapan senpai yang terlalu polos dan kadang tidak tahu situasi itu malah membuatku tidak berselera melanjutkan perang dingin ini. Tapi itulah kelebihan senpai. Dia selalu menghangatkan suasana kapanpun dan di manapun.
"Yukimura… jaga Fubuki baik-baik. Aku percaya padamu…"
Sejenak aku tertegun ketika mendengar kata-kata yang diucapkan Someoka jelek itu padaku dengan volume kecil—di mana hanya aku yang bisa mendengar kalimatnya. Kutinjau lagi matanya yang terlihat serius, menanti jawabanku.
Kulirikkan irisku cepat ke arah senpai yang masih tersenyum. Dia tidak berusaha mencuri dengar pembicaraan kami.
Aku mengangguk samar.
Tidak usah kau suruh, tentu saja aku akan melindungi senpai. Apapun taruhannya.
Dan pergilah si jelek itu. Sementara aku masih menemani senpai sampai pesawat yang dinaikinya hilang dari pandangan. Kuperhatikan Fubuki-senpai yang masih melihat gerbang keberangkatan dengan wajah senang, berkilau, nyaris bersinar.
TCH!
"Yukimura?"
"…"
"Kenapa kamu merangkul tanganku tiba-tiba?"
Aku tidak sadar kini tanganku meraihnya, menenggelamkan jari-jariku di dalam jemarinya yang jenjang dan indah. Senpai, aku menyukaimu. Perasaan ini sungguhan. Suatu saat aku pasti bisa membuatmu mengerti.
"Tidak apa-apa… mungkin karena... aku merasa dingin..."
"Begitukah? Baiklah, ayo kita pulang. Aku akan buatkan coklat hangat untukmu."
"Uhn~ terima kasih, senpai!"
Kami berjalan menyusuri selasar bandara. Mengamati pesawat-pesawat yang terbang jauh di atas kami. Entah yang mana pesawat milik Someoka-san. Untuk sesaat, aku tidak ingin mengejeknya. Sebagai gantinya aku berteriak dalam hati khusus hanya untuknya—menyerukan genderang perang sekali lagi.
SAMPAI KAPANPUN AKU TIDAK AKAN MENYERAH!
END
.
.
.
A/N:
YAAAAY AKHIRNYA FIC NISTA INI BERES JUGAAAA! ((┌|o^▽^o|┘))
(Ihhhh...BT yah guwe. Kalo ini fic pribados, guwe bikin habis itu Yukimura nge-raep Fubuki pas nyampe rumah! #giling)
Makasih banyak buat semua review, dan semua yang udah membaca fic gaje ini. Untuk ALPUCAT selaku writer, untuk anak2 YM dan terutama segenap warga Inazuma Chit Chat di FB yang menemani menggalau setiap ngetik, juga laptop tercinta.
R&R maybe? C:
