Disclaimer: Super Junior hanya milik mereka sendiri, SMent, dan Tuhan semata.
Chara: Cho Kyuhyun, other members of Super Junior and more (SMEnt's Artist)
Genre: Friendship, Romance
Rated: T+
Summary: Cho Kyuhyun, murid pindahan yang pintar dan pendiam, dimana di sekolah barunya ia mempunyai banyak masalah dengan para geng yankee (berandalan). First fic about Cho Kyuhyun ^^. Don't like, don't read, ya.
Warning: Abal, Typo(s), Maksa, OOC, Penuh dengan perkelahian dan kekerasan, AU, Tokoh bisa bertambah di setiap chapternya.
Author's list songs: I'm The Best – 2NE1, Majisuka Rock n Roll – AKB48, What The Hell – Avril Lavigne, Warrior – B. A. P
Enjoy this! ^^
.
.
Me vs Yankee
.
.
Chapter 8: 'Monalisa' Appear
Cho Kyuhyun's POV
Neul Param High School
Tidak terasa sudah sebulan aku duduk di kelas 2-2 Neul Param High School. Aku yang awalnya pesimis akan mempunyai teman dekat di sekolah baruku ini, ternyata salah. Dengan cepatnya, aku langsung mendapat tiga teman sekaligus, dan disusul Donghae hyung yang awalnya adalah musuhku. Mempunyai beberapa sahabat ternyata tidak seburuk yang kukira. Yaah... sejak kematian sahabat pertamaku, aku sempat dilanda trauma untuk menjalin persahabatan dengan orang lain.
Hari ini, di sekolah terasa sedikit berbeda. Rasanya, aku lebih leluasa menghirup udara segar pagi hari di sini. Langkahku terasa lebih ringan. Sempat aku heran akan perubahan di dalam diriku, tapi aku menikmatinya. Rasanya... semua bebanku terbang entah kemana. Aku berjalan di sepanjang koridor lantai tiga, lalu memutuskan untuk berhenti di depan jendela yang terbuka lebar, lalu menumpukkan kedua tanganku di kusen jendela. Angin berhembus lembut, membelai kulit wajahku yang putih pucat. Aku memperhatikan murid-murid yang berdatangan. Perlahan, aku menyunggingkan senyum manis di bibirku.
Setelah puas memandangi halaman sekolah dari jendela, aku pun bermaksud beranjak dari situ dan menuju kelas. Tapi, sedetik setelah berbalik, tak disangka aku menabrak seorang lelaki berambut cokelat terang dan bertubuh mungil—mungkin tingginya hanya setelingaku—yang tengah berjalan berlawanan arah denganku. Di tangannya terdapat beberapa tumpukan buku.
"Akh!" Pekik kami berdua tertahan. Orang yang tak sengaja kutabrak pun jatuh terduduk. Buku-buku yang ia bawa berjatuhan. Dengan kewalahan, ia mengambilinya.
"Ah, biar kubantu!" Tawarku dan langsung membantunya memungut buku-bukunya. Dengan cepat kami membereskan buku-buku yang berserakan. Aku melirik sebuah buku kecil yang terlempar agak jauh dan hendak memungutnya, tapi ternyata gerakanku bersamaan dengan gerakan tangan lelaki itu. Alhasil, tanganku dan dia bertumpukkan. Kami terhenyak sesaat dan pandangan kami bertemu. Aku bisa melihat wajah lelaki yang kini berada dihadapanku. Wajahnya manis dan... sedikit aegyo—mungkin. Aku sempat tak mempercayai bahwa dia seorang laki-laki.
"Mi-mianhae!" Cepat-cepat aku menarik tanganku, membuyarkan lamunan kami berdua. Aku bisa mengetahui ia menunduk malu walaupun aku tak sepenuhnya memandang ke arahnya. Lelaki aegyo itu segera memeluk buku-bukunya lagi dan membungkuk. Begitu juga aku.
"Ah! Kyuhyunnie!" Aku bisa mendengar suara Ryeowook menyapaku dari tangga di ujung koridor. Mendengarnya, aku segera melongokkan kepala dan membalas sapaannya dengan melambaikan tangan. Aku segera menyongsong sahabatku itu, meninggalkan lelaki bersurai cokelat terang itu. Sepeninggalanku, lelaki berwajah aegyo itu terus memandangiku yang mulai menjauh tanpa sepengetahuanku. Lelaki itu memandangiku sambil sesekali mengerjap imut hingga aku menghilang di balik tembok.
End of Cho Kyuhyun's POV
.
.
Normal POV
Terlihat tiga orang gadis dengan mode pakaian yang sama memasukki pintu gedung sekolah dengan angkuhnya. Pakaian mereka yang didominasi warna hitam membuat bayangan mereka terlihat mengerikan. Membuat bulu kuduk kita bergidik. Banyak para murid tidak berani melintas di dekatnya. Gadis berkucir kuda tinggi melihat sekelilingnya dengan menyunggingkan senyum sinis sambil menenteng tasnya di pundak, sementara kedua rekan yang berjalan di belakangnya sesekali menyentak beberapa murid yang menghalangi jalan mereka dengan serampangan.
"Haah... aku malas sekali sekolah hari ini. Mataku masih mengantuk..." Rengek sang rekan berjepit kupu-kupu. "Ne, Luna unni, kau bisa lihat mataku?"
"Yaah... kau harus bersabar, Sulli-ah... sekolah ini lama-kelamaan membosankan juga. Aku benci mendengarkan penjelasan guru-guru yang suka bertele-tele." Keluh Gadis berambut merah. "Ne, Victoria unni, akankah kita bisa menemukan sesuatu yang menarik hari ini?" Tanyanya pada sang leader. Mendengar pertanyaan rekannya, Victoria—gadis berkucir kuda—menghentikan langkahnya dan menoleh. Senyum sinis tersungging di bibir ranumnya.
"Semoga, Luna chagi..." Katanya seraya melanjutkan perlajanan.
Baru sampai di depan loker-loker sepatu, ketiga gadis beraliran black-gothic itu pun terhenti mendadak. Wajah mereka yang sebelumnya angkuh kini mendadak berubah tegang. Pasalnya, mereka kini sedang berhadapan dengan Park Jung Soo atau biasa dikenal dengan nama Leeteuk—orang ke dua paling berbahaya se-seantero sekolah. Mereka pun membungkuk memberi salam dengan sedikit canggung.
"Le-Leeteuk sunbae!" Kata mereka. Mata Leeteuk melihat ketiga gadis yankee di depannya—yang levelnya mungkin bisa dibilang di atas rata-rata, tapi masih jauh dibandingkan dirinya—dengan tatapan angkuh. Sambil bersandar di loker, ia menyedekapkan kedua tangannya. Dagunya terangkat sedikit dan bibirnya ia tarik, menyimpulkan senyum sinis.
.
.
"Ah... murid pindahan? Cho Kyuhyun sunbae kah?" Kata Luna mulai membuka suara. Ia menyebutkan nama Cho Kyuhyun dengan embel-embel sunbae agar terlihat berwibawa di depan Leeteuk.
"Karena kemunculannya di sekolah ini, para yankee jadi geger. Ulahnya sudah menjadi pembicaraan semua siswa di sini." Jawab Leeteuk yang kini bersandar di pilar koridor terbuka yang menghadap ke halaman belakang sekolah.
"Aah... tapi Leeteuk sunbae pasti bisa mengalahkannya dengan mudah." Sambung Sulli.
"Tapi Heechullie belum memerintahkan aku dan Yesungie untuk menyerangnya. Yaah... ia masih menimbang-nimbang seberapa kuatnya dia." Leeteuk memain-mainkan aksesoris yang tergantung di lehernya sambil melirik malas ke arah adik-adik kelasnya itu.
"Ne... Heechul sunbae mungkin benar. Kalau kalian terlalu cepat 'bermain-main' dengan dia, itu terlalu rendah." Victoria membuka suara, yang akhirnya mendapatkan tatapan tidak mengerti kedua rekannya juga Leeteuk.
"Mworago...?" Tanya Leeteuk.
"Ne, Leeteuk sunbae. Kau hanya akan mengotori tanganmu jika menghabisi anak baru itu terlalu cepat, sunbae." Sambar Victoria. "Untuk awalan, biar kami yang mengurusnya." Leeteuk terdiam dan mengernyitkan dahi sambil tersenyum sinis. Ia sedikit tertarik dengan pembicaraannya dengan Victoria.
"Geurae?" Leeteuk bertanya.
"Tapi, jika kami mencoba dan akhirnya berhasil menghabisi Cho Kyuhyun sunbae... apa imbalan untuk kami?" Kini Luna bertanya. Leeteuk sedikit tergelak, tapi kemudian terdiam penuh wibawa.
"Kalian... akan aku masukkan dalam 'Black Dragon' jika kalian mau..." Ucap Leeteuk seperti mengiming-imingi sambil menoleh ke arah tiga gadis di sebelahnya. Mendengar itu, para anggota geng yankee 'Monalisa' itu mendadak dilanda rasa senang. Bagaimana tidak senang? Diberi kesempatan untuk bisa menjadi salah satu anggota dari 'Black Dragon'? Geng yankee yang sudah melegenda itu? Ini benar-benar imbalan yang setimpal!
"Jaa... aku tunggu keberhasilan kalian." Kata Leeteuk sembari meninggalkan mereka bertiga.
"Ne!" Victoria, Luna dan Sulli sekali lagi membungkuk—yang kini sedang diliputi rasa senang.
Leeteuk berjalan dengan santainya menyusuri koridor halaman belakang sekolah. Sesekali beberapa murid memberinya hormat. Dengan mengangkat kepala dengan angkuh dan memasukkan kedua tangannya di jaket hitam yang ia pakai, ia bergumam.
"Bagaimana reaksimu, Cho Kyuhyun?"
.
.
Suasana kelas ketika jam istirahat terlihat ramai. Suara canda-tawa dan beberapa bunyi gaduh membahana di setiap sudut kelas. Murid-murid asyik menikmati bekal mereka, bergabung dengan teman-teman dekatnya.
Di barisan bangku dekat jendela, berkumpullah empat orang pemuda yang juga tengah menikmati bekalnya. Siapa lagi kalau bukan Ryeowook, Eunhyuk, Donghae dan Shindong. Walaupun mereka berbeda kelas, tapi mereka selalu kompak dan selalu bersama. Tapi... dimana Kyuhyun sekarang?
"Hei, kemana Kyuhyun? Dia tidak istirahat?" Tanya Donghae seraya menjepit nasi goreng kimchinya dengan sumpit.
"Kyuhyun mendadak ada rapat OSIS tadi. Sesaat sebelum istirahat, ia sudah dipanggil wakil ketua OSIS." Jelas Ryeowook yang notabene sekelas dengan pemuda berambut hitam bergelombang itu.
"Sejak dia masuk OSIS, dia jadi sedikit sibuk, ya?" Keluh Shindong.
"Tapi, itu bukannya lebih baik dari pada ia termenung sendiri seperti dulu?" Timpal Eunhyuk yang baru saja menyeruput jus strawberrynya.
"Aa... kau benar, Hyukkie-ah... kalau begini, dia jadi banyak kegiatan." Ucap Ryeowook menyetujui. Semuanya pun tergelak.
Apa boleh buat, untuk kali ini, empat sekawan itu harus melewatkan waktu istirahat tanpa Kyuhyun yang sedang ada urusan OSIS. Tapi, mereka bisa memaklumi betapa sibuknya Kyuhyun belakangan ini. Sedang asyik-asyiknya mengobrol, tiba-tiba mereka kedatangan tamu tak diundang.
"Annyeong... apakah Cho Kyuhyun sunbae ada?" Dan, empat sekawan itu segera menoleh. Mereka mendapati tiga gadis dengan penampilan dark-gothic berdiri di depannya. Cara biacra dan penampilan mereka terlihat kontras sekali. Tapi, itu memang disengaja—bersikap lembut kepada kakak kelas. Secara, mereka bertiga adalah murid-murid kelas satu. Eunhyuk, Ryeowook dan Shindong saling berpandang-pandangan sambil melahap bekalnya, sementara Donghae memandangi ketiga gadis itu dengan tatapan curiga. Yaah... murid dengan dandanan nyentrik begini... semua juga tahu kalau mereka adalah anggota yankee.
"Mau apa kalian?" Donghae pun berdiri. Ia mengangkat dagunya angkuh.
"Kami adalah penggemar berat Kyuhyun sunbae..." Ucap Luna dengan fangirling.
"Eeh?" Gumam Eunhyuk, Shindong dan Ryeowook sambil saling melempar tatapan heran.
"Kami dengar Kyuhyun sunbae sangat kuat sampai ditakuti banyak orang. Padahal... dia, kan, bukan yankee." Sulli berbicara dengan wajah yang imut. "Bahkan, 'Black Dragon' terlihat mewaspadai Kyuhyun sunbae. Itu sangat menarik! Tidak ada orang yang mejadi pusat perhatian 'Black Dragon' sebelumnya!" Lanjutnya dengan nada penuh kekaguman.
Donghae sambil berkacak pinggang, terlihat angkuh juga heran menanggapi sikap adik-adik kelas di depannya itu. Ia memiringkan kepala tak mengerti.
"Jadi, apa maksud kalian kemari?" Tanya Donghae sedikit tegas.
"Jadi, kami kesini untuk..." Ujar Victoria mengantung. Ia menoleh ke arah Luna dan Sulli bergantian, seakan memilih salah satu rekannya untuk melanjutkan kata-katanya.
"Kami kesini untuk menghabisinya!" Jawab Sulli melanjutkan dengan wajah yang imut.
"Haa?" Gumam Donghae terheran-heran. Dengan satu sentakan, Victoria melayangkan kakinya menendang perut Donghae yang tanpa persiapan.
"UUGH!"
BRAAKK!
Donghae terdorong ke belakang dan jatuh di atas meja, mengakibatkan kotak-kotak bekal sahabatnya berantakan dan berjatuhan. Shindong, Ryeowook dan Eunhyuk lantas tersentak sambil menghindar. Dua diantara mereka berteriak kaget. Sementara Donghae kesakitan karena tendangan Victoria dan punggungnya yang membentur meja dan tiga sahabatnya yang terlihat kelabakan, Victoria, Luna dan Sulli hanya tersenyum manis sambil memiringkan kepalanya ke kanan.
"YA! Kurang ajar kalian bertiga!" Seru Donghae yang mulai berdiri. Karena sudah dikuasai rasa emosional, Donghae lantas menerjang Victoria untuk memukulnya. Tapi, dengan mudah Victoria menghindar dan menghunjam punggung Donghae dengan sikutnya. Donghae pun kembali jatuh. Tak lupa Victoria juga menendang tubuh Donghae hingga membentur beberapa kaki meja. Donghae terlihat meringis kesakitan.
"Donghae hyung!" Jerit Ryeowook. Di sekitar kelas, murid-murid mulai tertarik dengan keributan ini dan berbondong-bondong ingin menyaksikan apa yang sedang terjadi.
"Oo... jadi inikah Donghae sunbae? Kudengar kau bawahan Kyuhyun sunbae, ya?" Ujar Victoria sinis sambil duduk di salah satu bangku yang ada. Luna terlihat berdiri sambil menyedekapkan tangan di dada dengan sombong, sementara Sulli duduk di meja sambil memelintir rambut panjangnya cuek.
"Dasar lemah! Babbonikka..." Gumam Sulli malas sambil menekankan kata-kata terakhirnya.
"YA! Jangan sembarangan menyebut Donghae hyung seperti itu!" Eunhyuk tidak terima. Oke... kini dia sudah berani menyolot. "Kalian kemari hanya untuk mencari masalah, hah?"
"Aah... aku tidak menyangka Donghae sunbae selemah ini. Dan yang mengagetkan lagi, dia menjadi bawahan Kyuhyun sunbae. Ahahaha... menggelikan!" Ejek Victoria. Lantas, ketiga 'Monalisa' tergelak keras.
"YA! Kau mau berkelahi, hah?" Eunhyuk lebih menyolot. Tunggu. Berkelahi? Eunhyuk? Oke, rupanya dia sudah mulai tertular Kyuhyun dan Donghae yang pintar berkelahi. Di belakang, Donghae terlihat terbelalak. Tak percaya dengan sikap Eunhyuk barusan.
"Hyukkie-ah..." Ryeowook mencoba menenangkan.
"Alaah..." Victoria mengibas-ngibaskan tangannya. "Kami tidak mau membuang-buang waktu untuk berkelahi dengan orang-orang lemah macam kalian."
"Kajja!" Luna mengajak kedua rekannya untuk segera pergi. Mereka bertiga berjalan dengan angkuh dan sedikit menyebalkan. Semua murid sontak mundur dan membuka jalan untuk mereka ketika Luna memukul pintu dengan keras.
Donghae dan Eunhyuk hanya menatap punggung mereka bertiga dengan tatapan tajam, sementara Shindong dan Ryeowook mulai khawatir.
"Kyuhyun dalam bahaya." Gumam Ryeowook.
.
.
Cho Kyuhyun's POV
Pulang sekolah...
Aku barusaja keluar dari halaman sekolah. Berjam-jam duduk dikelas, mendengarkan ocehan guru yang membuat kelopak mata terasa berat, belum lagi urusan-urusan OSIS yang padat membuatku mendesah lelah sambil melemaskan sedikit lehernya yang terasa pegal. Sambil mencangklong tas selempang, aku kembali berjalan menyusuri trotoar berkonblok abu-abu dan berbelok melewati jalan pintas.
Tapi, belum lama aku berjalan, tiba-tiba kakiku terhenti. Kepalaku yang tadi sedikit tertunduk kini otomatis menegak. Mataku yang tadi sayu dan terlihat kelelahan kini membulat. Aku mendapati tiga orang gadis degan pakaian serba hitam yang modis. Beberapa aksesoris bernada gothic bergerenjeng di tubuh mereka. Melihat penampilan mereka, aku bisa langsung mengetahui kalau mereka adalah yankee. Aku mengernyit.
"Kyuhyun-ah... pulang nanti aku minta kau waspada dan berhati-hati. Ada beberapa orang yang sedang mencarimu. Tiga gadis bernama Sulli, Luna dan Victoria yang menjabat sebagai leader. Mereka menyebut diri mereka dengan nama 'Monalisa'. Aku mohon, berhati-hatilah..."
Aku teringat akan perkataan Ryeowook sesaat sebelum pulang. 'Monalisa'? ya, aku tahu benar geng itu, dan aku tahu semua nama anggotanya. Mereka adalah geng yankee perempuan yang berisikan anak-anak kelas satu, dan... walaupun mereka masih kelas satu, kekuatan mereka tidak boleh diremehkan.
"Annyeong, Kyuhyun sunbae." Sapa Sulli sok ramah. Ia tertawa diikuti kedua rekannya. Tawa mereka terdengar menggema, begitu mengusik. Tawa yang membuat siapa saja merinding jika mendengarnya. Melihat mereka, aku perlahan memasang kuda-kuda dengan waspada. Mataku menyipit tajam.
"Let's start the game!" Ujar Victoria sambil memasang senyum sinis. Dengan sekali aba-aba, mereka pun berpencar mengepungku. Sempat tercekat juga mengetahui formasi mereka. Aku sesekali berbalik untuk melihat lawan-lawanku yang terus berputar-putar sambil terus waspada.
"HYAAHH!" Tiba-tiba Luna maju menerjang. Mengetahui kelebatan bayangan Luna, aku pun membalikkan badan dan menahan serangan Luna dengan sigap. Tapi, setelah itu, Sulli ikut menyerangnya, membuatku harus berkonsentrasi penuh karena lawanku kini ada dua orang. Sulli melayangkan kakinya menendang perutku. Beruntung aku bisa menepis tendangan Sulli dengan sigap dan cepat. Gantian Luna menyerang dengan berbagai pukulan. Aku berkonsentrasi penuh untuk bisa mengelak dari itu semua, plus aku juga berhasil menonjok perut Luna hingga gadis bersurai merah itu melangkah ke belakang.
"Kau lumayan juga, Kyuhyun sunbae..." Ujar Luna sinis sambil memegangi perutnya. Ujung bibirnya merah karena darah. Aku kembali dengan kuda-kudaku. Rambut hitam bergelombangku menutupi sebagian wajahku yang kini berubah mengerikan. Perlahan angin berhembus pelan, menyingkirkan helai-helai rambutku yang jatuh ke depan, memperlihatkan luka goresan di pipi sebelah kiri yang kudapatkan dari sang lawan.
PLOK, PLOK, PLOOKK...
Terdengar suara aplause dari sang leader—Victoria—yang kini menghampiri kami bertiga. Dengan senyum merendahkan ia mensejajarkan dirinya dengan kedua rekannya.
"Sabar, Kyuhyun sunbae... ini baru pemanasan." Katanya. "Ternyata, kau berdarah dingin juga, ya?" Ujar Victoria dengan nada merendahkan. Aku hanya diam, sibuk berkonsentrasi dengan lawannya. Aku melempar tatapan tajam kearah mata besarnya.
"Jangan menatapku seperti itu, babboya!" Victoria yang sedari tadi belum sama sekali mengeluarkan jurusnya, kini pun turun tangan. Dengan brutal ia menyerangku dengan berbagai serangan, dibantu oleh dua rekannya. Mereka memang sengaja mengeroyok demi membuatku bingung.
Sulli berhasil menonjok tulang pipiku hingga lebam, Luna juga berhasil membalaskan dendamnya dengan menonjok perutku hingga aku oleng. Tapi, beberapa detik kemudian, aku kembali tegak walau agak terhuyung. Aku mengepalkan kedua tangan dan berniat membalas perbuatan lawan-lawanku. Dengan cepat aku melayangkan lengan ke arah Luna, tapi gadis berambut merah itu berhasil menunduk dan menghindar.
"Woow... hati-hati dengan pukulanmu, sunbae..." Ejek Luna. Dengan cepat Luna menendang perutku lagi saat melihatku lengah karena mendapat serangan bertubi-tubi tadi. Menerima balasan darinya, aku hanya bisa meringis. Belum lagi Sulli yang sudah siap menyerang dan memberi pukulan. Tapi, untuk kali ini, aku berhasil menagkap tangannya, membuat Sulli tak bisa bergerak. Aku lalu memutar lengan Sulli dan membantingnya.
"Aakh...!" Rintih Sulli setelah berhasil mencium tanah. Dahinya memar karena membentur aspal. Aku hanya menatapnya tajam dengan napas terengah. Emosi mulai menjalari tubuhku. Kalau sudah begini, tak ada ampun lagi untuk mereka. Aku baru menyadari penampilanku kini menjadi berantakan. Rambutku terlihat mencuat kesana-sini, seragam juga setengah keluar dan kotor. Ditambah lagi beberapa percik darah di kerah dan lengan seragam putihnya. Karena gerah, aku melepas jas almamaterku dan melemparnya entah kemana. Wajahku mendapat beberapa lebam.
Aku mengambil posisi kuda-kuda. Bisa kurasakan lelerah darah segar dari ujung bibirku. Tatapan tajam dan waspada tak pernah lepas dariku.
"Kurang ajar...!" Geram Victoria melihat rekan terkecilnya tergeletak tak berdaya di aspal. Sulli terlihat merintih kesakitan.
"HYAAH! Kau tak akan kuampunii!" Luna yang mulai dikendalikan emosi kini menyerangku lagi. Kini, Luna dibantu oleh sang leader. Bersama-sama, kedua gadis itu maju dan melancarkan serangan. Dengan cepat aku berusaha mematahkan serangan mereka dengan tangan. Luna melayangkan tendangannya, tapi bisa kutahan dengan lengan. Tak lupa aku membalasnya dengan menonjok perut gadis berambut merah itu dan menendang wajahnya ketika dia lengah.
"Ohok! Aagh!"
BRUUAGH!
Dengan sukses Luna terjatuh dan sedikit menyerempet aspal hingga kulit lengannya terluka.
"Uugh..." Rintihnya kesakitan.
"B-beraninya kau..." Geram Victoria melihat dua rekannya berhasil dijatuhkan. Ia mengepalkan tangan di sisi pahanya hingga buku-buku kukunya memutih. Tanpa kusadari, ia segera mengambil balok kayu yang ada disekitarnya dengan cepat dan melayangkannya padaku yang tengah membelakanginya.
"Aaargh!" Seruya frustasi sambil menerjangku dari belakang. Aku menoleh ketika mendengar suara teriakannya. Aku terbelalak melihat apa yang Victoria bawa dan berlari menerjangku, mengingat aku belum melakukan persiapan.
"CHO KYUHYUUN!"
DUAAGH!
End of Cho Kyuhyun's POV
.
.
Normal POV
Seorang pemuda berambut cokelat terang tengah berjalan menyusuri jalanan setapak menuju halte bus terdekat. Dari pada berjalan melewati trotoar dan memutar, ia lebih memilih melewati jalan pintas. Tangan kanannya bertengger di tali tas selempangnya. Tatapannya lurus ke depan. Senyum tipis tersungging di bibirnya. Beberapa orang yang berpapasan dengannya terlihat gemas dengan wajah aegyonya.
Pemuda itu—Lee Sungmin—berjalan dengan santai melewati beberapa rumah warga yang saat itu terlihat sepi. Sesekali ia melihat ke arah jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 16.00 waktu setempat. Angin sore berhembus pelan menerbangkan helai-helai surai cokelat terangnya. Sedikit dingin mengingat bulan ini adalah awal musim gugur.
Lee Sungmin kembali berjalan menyusuri jalanan setapak beraspal. Ia menoleh ke kiri mendengar suara bising mesin pemotong keramik yang nyaring. Beberapa suara gaduh pekerja memukuli paku dan mesin pencampur semen melebur dengan suara-suara bising lainnya. Oke, ternyata ada proyek kecil di sini. Beberapa pekerja mengangguk pada Sungmin. Sungmin membalasnya dengan menunduk sambil tersenyum.
Setelah berpapasan dengan para pekerja proyek, Sungmin berbelok di tikungan jalan. Tapi, sedetik kemudian, perlahan langkahnya terhenti. Matanya membulat sempurna dan bibirnya terbuka sedikit melihat apa yang ia lihat di depan matanya. Dua gadis terlihat terkapar dengan tak berdaya di atas aspal. Salah satu dari mereka terbatuk dan mengeluarkan percikan darah dari mulutnya. Satu lagi gadis tengah berdiri menatap bergantian teman-temannya dan seorang lelaki di depannya—yang tengah membelakanginya—dengan nanar. Bibirnya bergetar menahan emosi.
"B-beraninya kau..." Geramnya. Melihat pemandangan di hadapannya itu, Sungmin segera meringsut di balik tembok.
'Ada apa ini? Perkelahiankah?'
"Aaargh!" Seru seorang gadis frustasi sambil membawa sebuah balok kayu di tangannya. Gadis berambut pirang kucir kuda itu terlihat menerjang seorang pemuda berambut hitam bergelombang yang kini mulai menoleh ke belakang.
"CHO KYUHYUUNN!" Teriak si gadis—Victoria—seraya melayangkan balok kayunya. Sungmin terbelalak melihatnya. Lelaki berambut hitam itu...
Tanpa diberi aba-aba, Sungmin segera mengambil sebuah tongkat bambu yang ada di sekitarnya—yang ia tebak berasal dari bahan-bahan proyek tadi—dan berlari menuju tempat perkelahian itu, hendak menyelamatkan lelaki bernama Cho Kyuhyun—lelaki yang ia temui di koridor pagi tadi.
DUAAGH!
"AAKH!"
BRUUGH!
Lee Sungmin berhasil memukul pinggang si gadis dengan tongkat bambu hingga gadis itu limbung. Kyuhyun tercekat dan menoleh. Melihat Victoria terguling, Sungmin segera memposisikan dirinya di depan Kyuhyun.
"Beraninya hanya bermain dari belakang..." Desis Sungmin sambil mengacungkan tongkatnya ke arah Victoria. Kyuhyun menatapnya tak mengerti, sekaligus shock.
'Tunggu! Laki-laki ini... lelaki yang aku temui di koridor...?' Batinnya. Ia tak percaya dengan aksi Sungmin barusan.
"Siapa kau babboya! Beraninya kau mencampuri urusanku!" Victoria kembali bangun dan membalas serangan dari Sungmin.
"Hyaah!" Seru Victoria serak seraya menerjang ke arah Sungmin. Urusannya dengan Kyuhyun terabaikan sudah. Sungmin dengan sigap memasang kuda-kuda sambil memposisikan tongkatnya di depan dadanya. Sungmin menahan serangan Victoria dengan tongkatnya. Kini gadis yang menjabat leader 'Monalisa' itu berubah gusar menyerang Sungmin. Ia layangkan tendangan dan pukulannya, tapi itu semua sia-sia karena Sungmin bisa menghindar dengan mulus dan kembali memukul pinggang, pundak dan punggung Victoria hingga ia limbung. Tidak mau kalah, Victoria pun mencoba bangkit dan hendak memukul Sungmin lagi. Tapi, dengan sigap Sungmin menangkap tangan Victoria dan melayangkan kakinya ke atas. Dengan tiba-tiba, ia menghempaskan kakinya ke bawah, menghunjam puncak kepala Victoria dengan keras.
"AAGH!" Victoria kini terkapar di atas aspal sambil memegangi kepalanya yang nyeri dan pusing mendadak itu. Hempasan kaki Sungmin yang kuat membuat matanya berkunang-kunang. "Uungh..." Rintihnya kesakitan. Melihat lawannya sudah tidak berdaya, Sungmin segera mundur dan membuang tongkat bambu yang ia dapatkan dengan gratis itu sembarangan. Ia mensejajarkan dirinya dengan Kyuhyun yang selama ini memperhatikannya dengan tatapan tak percaya. Ya, tentu saja. Kyuhyun tak mengira lelaki berwajah aegyo dan bertubuh mungil itu ternyata pandai beladiri. Sungguh mengejutkan! Kyuhyun seperti tertipu dengan keperawakan Sungmin.
"Gwaenchanayo...?" Tanya Sungmin seraya menoleh dan tersenyum. Kyuhyun yang masih shock melihat aksi Sungmin tadi hanya bisa menoleh lambat. Matanya yang terbelalak memperhatikan sosok pemuda Lee itu.
'Siapa sebenarnya dia...?'
.
.
Leeteuk terlihat melangkahkan kakinya mondar-mandir di sebuah ruangan lama di sudut koridor. Ruangan dengan aura gothicnya yang kental. Ia memperhatikan corak ruangan yang notabene adalah markas geng yankee bernama 'Monalisa' itu dengan tatapan datar. Ia lalu berjalan menuju jendela dan menyibakkan gordennya. Sinar matahari yang tidak begitu menyengat masuk ke dalam ruangan gelap itu. Lelaki bernama asli Park Jung Soo itu terdiam menatap lurus ke luar jendela. Tapi, tak sampai satu menit, aura wajahnya berubah drastis. Sambil mengeratkan gigi-giginya di balik mulutnya, tangan lebar Leeteuk meremat sebuah foto yang tadinya ia sambar dari papan panahan yang tergantung tak jauh darinya. Ia merematnya hingga kumal.
'Cho Kyuhyun...!' Geramnya kesal dalam hati.
.
.
TBC
A/N: Yap! Chap 8 ngebut nih. Yang minta Sungmin dimunculin, sekarang udah pada puas, kan...? *kedip-kedipin mata* *cling-cling*. Pertama kalinya bikin ff dengan Sungmin yang beradegan beladiri begini. Hehehe...
Oke, saatnya jawab review:
Choikyuhae: Bingung, ya? Maksud saia gini... pisahnya Siwon n Kyu itu pisah sekolahnya. Siwon itu dulunya, kan, satu SD sama Kyu n Changmin. Dan pas SMP, mereka kan gak satu sekolah lagi. Yang satu sekolah cuma Kyu n Changmin aja. Siwon beda SMP. Gitu. Yap! Sungmin akhirnya saia munculin. Hehehe... banyak yang minta, sih... makasih buat ripiuwnya, ya! ^^
Dhian KyuHae ELF: Untuk kali ini yang dilihatin emang WonKyu n HaeHyuk dulu. Entah nanti yang lain. Hihihi... makasih buat ripiuwnya ya! ^^
Takishika Rinku imnida: Rencana couplenya apa aja? Hm... tunggu kelanjutannya, ya... hehehe... masih rahasia soalnya. Buat penggebrakan nanti. Hehehe... ^^ Kalo KyuWook mungkin ada, tapi cuma sahabatan aja.
Choi Jimin: Bantu Kyuhyun berkelahi? Udah ada, kan, yang bantuin. Hehehe... sayangnya bukan Hae or Wowon *dijitak Donghae n Siwon* coz, udah banyak yang minta Sungmin dimasukkin ke sini. Tunggu tanggal mainnya mereka bantuin Kyuhyun, ya! ^^
Anin WonKyushipper: Waks? Endingnya WonKyu? Hm... tunggu nanti kelanjutannya, ya... makasih ripiuwnya! ^^
Schagarin: Aa... iya, sih. Saia juga ngerasanya juga gitu. Tapi, berhubung otak lagi mampet, ya yang keluar segitu dulu. Hehehe... makasih buat ripiunya, ya! ^^
Terimakasih buat yang udah baca dan review. Buat teman-teman yang setia sama ff ini juga. Makasih bgt! XD XD. Oh, iya! Untuk aksi-aksi para anggota 'Black Dragon', nanti saia kasih di klimaks-klimaksnya, ya? Biar seru. Kan, emang mereka lebih berperan di klimaksnya. Saia juga mau mengingatkan aja, mungkin nanti di chap-chap depan ada sesuatu yang bikin kalian merasa gimana gitu. Kaget mungkin, atau apalah itu. Tapi, ya itulah namanya cerita. Hehehe... mohon bersabar, ya? Maap kalo bikin kalian penasaran duluan. Kalo gak gitu, gak seru namanya.
Akhir kata, saia cuma mau minta reviewnya lagi, boleh? Biar saia lebih bersemangat ngelanjutinnya. Boleh saran, nasihat, pujian. Hehehe... maaf kalau masih ada typo. Saia sudah berusaha semaksimal mungkin. Saia tidak menerima FLAME or BASHING! Hargai karya-karya orang lain! Caiyo! XD
Ms. Simple :D
