Disclaimer: Super Junior hanya milik mereka sendiri, SMent, dan Tuhan semata.
Chara: Cho Kyuhyun, other members of Super Junior and more (SMEnt's Artist)
Genre: Friendship, Romance
Rated: M
Summary: Cho Kyuhyun, murid pindahan yang pintar dan pendiam, dimana di sekolah barunya ia mempunyai banyak masalah dengan para geng yankee (berandalan). First fic about Cho Kyuhyun ^^. Don't like, don't read, ya.
Warning: Abal, Typo(s), Maksa, OOC, Penuh dengan perkelahian dan kekerasan, AU.
Author's list songs: Don't Don – Super Junior, Majisuka Rock n Roll – AKB48
Enjoy this! ^^
.
.
Me vs Yankee
.
.
Chapter 12: Leeteuk, The King of Violation, Laugh
Neul Param High School
Kegiatan belajar mengajar di Neul Param High School kembali berlangsung pagi ini. Sambil menunggu bel masuk, Cho Kyuhyun dan kawan-kawannya nampak sedang serius membicarakan sesuatu.
"Leeteuk sunbae?" Seru Ryeowook dengan suara cemprengnya yang lantas mendapat bekapan dari sahabat-sahabatnya.
"Ssstt! Jangan keras-keras!" Desis Eunhyuk memperingatkan.
"Ini serius! Jangan sampai menyebar!" Sambung Shindong.
"Kudengar dia kembali terlibat dalam kasus kekerasan..." Lirih Eunhyuk.
"Jinjjayo? Aiish... aku menyerah bila sudah membicarakannya!" Donghae angkat tangan.
Kyuhyun nampak tak begitu mengerti dengan apa yang dibicarakan empat sahabatnya itu.
"Eem... memangnya... ada apa dengan Leeteuk sunbae?" Tanya Kyuhyun lirih. Bisa dilihat, semuanya menoleh ke arahnya dengan cepat.
"Ah, Kyuhyun-ah. Kau tahu, kan, bagaimana Leeteuk sunbae..." Eunhyuk memulai pembicaraan dengan penuh semangat. "Dengar, Kyu-ah..."
"Leeteuk sunbae... orang kedua terkuat di sekolah ini..." Shindong memotong pembicaraan Eunhyuk. Oke... kelihatannya mereka berdua terlihat antusias sekali menceritakan tentang Leeteuk of the 'Black Dragon' itu pada Kyuhyun—si anak baru. Terang saja dia belum tahu-menahu tentang seluk-beluk Leeteuk. Alhasil, Eunhyuk dan Shindong malah ribut rebutan bagian untuk bercerita. Melihat kedua sahabatnya sibuk sendiri, akhirnya Donghae angkat bicara.
"Leeteuk, anggota kedua 'Black Dragon' terkenal mempunyai dua kepribadian yang signifikan!" Jelasnya. Ryeowook ikut memperhatikan.
"Ne! Donghae hyung benar! Leeteuk sunbae... aargh! Dia itu yankee terparah!" Komentar Eunhyuk di sela-sela 'kesibukannya' dengan Shindong.
Kyuhyun mengernyit, lalu melirikkan matanya ke arah Ryeowook, menunggu komentar dari teman sekelasnya itu. Ryeowook hanya menggeleng cepat. Ryeowook memang bukan anak baru, hanya saja ia juga tak begitu mengerti dengan asalah Leeteuk. Cukup mengetahui kalau Leeteuk adalah yankee terparah di sekolah ini.
"Aah... bagaimana mengatakannya, ya...?" Kata Eunhyuk ragu sambil menggaruk kepalanya. Ia melirik ke arah Donghae.
"Dia itu tidak waras!" Desis Donghae pada Kyuhyun. "Kau, kan, tahu... kalau dia itu Psycho!" Shindong mengangguk yakin.
"Ia sangat menyukai kekerasan. Ia suka sekali menyiksa lawan bertarungnya!" Lanjut Shindong setengah berbisik. "Bahkan, kalau ia disakiti, ia akan tertawa kesenangan daripada mengaduh sakit!" Kyuhyun mengernyit. "Kalau sudah kumat, dia sulit dihentikan!" Lantas semua mengangguk, kecuali Ryeowook yang hanya bergidik dan Kyuhyun yang masih mengernyit serius. Sedetik kemudian, bel masuk pun berbunyi nyaring. Mau tak mau, Eunhyuk, Donghae dan Shindong harus kembali ke kelas mereka masing-masing. Mereka bertiga pun bangun dan berlalu sambil melambai.
"Hiii... Leeteuk sunbae itu berbahaya!" Ryeowook mengacak-acak rambutnya frustasi. Kyuhyun hanya tertawa melihat sahabatnya itu sebegitu takutnya. Tapi, tak lama kemudian, Kyuhyun tercenung di bangkunya.
'Separah itukah?'
.
.
Jam istirahat tiba dan bel berdering nyaring. Bunyi derap langkah terdengar bergemuruh dari lantai bawah. Berbondong-bondong mereka menyerbu kafetaria untuk membeli makanan dan minuman ringan.
Kyuhyun berjalan menyusuri halaman belakang sekolah. Terlihat di sekitarnya murid-murid tengah asyik menyantap bekal mereka di bangku-bangku yang tersedia dan di atas rumput. Berbagai macam slayer warna-warni mulai menghiasi leher jenjang mereka. Udara semakin dingin saja. Sepertinya, musim dingin akan segera tiba. Banyak pepohonan yang daunnya sudah rontok.
Pemuda berambut hitam bergelombang itu menghembuskan napasnya hingga mengepul di udara. Ia menelusuri pemandangan yang ada di depannya sambil memegang PSPnya, berusaha mencari tempat yang nyaman untuknya beristirahat sambil bermain PSP. Kyuhyun mengeratkan slayer di lehernya. Beberapa detik kemudian, tak sengaja ia mendapati lelaki beramput pirang dan berslayer hitam-merah muda tengah duduk di salah satu bangku yang ada di halaman belakang. Ia nampak berkutat dengan sebatang bolpoin dan sebuah buku tipis. Di pangkuannya terdapat sebuah gitar cokelat.
'Sungmin hyung...?'
Kyuhyun pun berniat untuk menghampiri kakak kelasnya itu. Sepertinya serius sekali...
"Sungmin hyung? Sedang apa di sini?" Tanya Kyuhyun seraya merendahkan tubuhnya.
"Ah! Kyunnie!" Sungmin terperanjat. Kyuhyun hanya tertawa.
"He? Kau sedang menulis apa, hyung?" Tanya Kyuhyun ketika melihat buku di tangan Sungmin penuh dengan coret-coretan. Ia pun duduk di sisi Sungmin.
"Ne, Kyu-ah... aku sedang menulis lagu." Jelas Sungmin seraya memetik gitarnya.
"Lagu?" Nada bicara Kyuhyun meninggi. "Kau bisa? Keren..." Mata Kyuhyun berbinar. "Kira-kira... lagu seperti apa, hyung?"
"Mm... Semacam lagu perpisahan, mungkin. Wali kelasku memintaku untuk mengaransemen sebuah lagu bersama beberapa teman untuk paduan suara kelasku besok saat purnasiswa." Jawab Sungmin. Kyuhyun mengangguk-angguk.
"Hoo... itu pasti mengasyikkan sekali." Kata Kyuhyun. "Aku ingin kau memainkan lagu ciptaanmu itu dengan gitarmu, hyung." Pinta Kyuhyun serambi menunjuk kertas di tangan Sungmin. Ia tersenyum manis. Melihat itu, Sungmin terbelalak. Entah kenapa... perlahan hatinya luluh. Jantungnya berdegub lebih kencang. Wajahnya... juga merona merah. Ada apa ini?
Melihat sang senior hanya terdiam, Kyuhyun heran. Ia pun menggerak-gerakkan telapak tangannya di depan wajah Sungmin.
"Hyung?" Panggilnya. "Ne, hyung... waeyo?" Sungmin pun tersadar dari lamunannya.
"Ah! Anni. Mianhae..."
"Ayo! Mainkan lagu itu untukku! Aku ingin dengar..." Kyuhyun sudah diserang rasa penasaran. Sungmin memandangi Kyuhyun sejenak, lalu tersenyum.
"Baiklah..."
Sungmin mulai memetik senar gitarnya membentuk deretan irama lembut yang menyentuh hati. Sesekali ia juga bergumam seiring nada yang tercipta dari petikan gitarnya. Kyuhyun menikmati lantunan lagu itu sambil mencocokkannya dengan not-not balok yang baru ditulis sang kakak kelas. Lagu yang begitu indah dan berirama lambat. Liriknya memiliki makna tersendiri tentang kelulusan dan perpisahan. Lagu ini membuat hatinya tentram dan damai. Semilir angin awal musim dingin berhembus pelan. Membuat siapapun beridik kedinginan. Kyuhyun tak menghiraukan. Ia terus mendengarkan permainan gitar Sungmin dengan seksama.
"Yaa... mungkin seperti ini lagunya. Maaf, baru setengah jadi. Judul saja belum kutemukan. Hehehe..." Sungmin cengar-cengir. Kyuhyun terdiam, masih terpesona dengan indahnya lagu yang barusaja ia dengarkan.
"Lagu yang bagus, hyung..." Lirih Kyuhyun memuji. Ia tersenyum lembut pada Sungmin. "Lagu yang menentramkan hati... walaupun berkesan agak sedih." mendengar pernyataan adik kelasnya itu, Sungmin senang sekali. Ia jadi salah tingkah dan malu-malu.
"A-ah... itu tidak seberapa, Kyu..." Sedang asyik-asyiknya bercengkerama, tiba-tiba Kyuhyun dipanggil seseorang.
"Kyuhyuuun! Kau tidak beli makanaaan?" Kyuhyun dan Sungmin yang mendengar lantas menegakkan kepalanya dan melihat ke arah depan.
"R-Ryeowook? Ne, ne! Chakaman!" Jawab Kyuhyun. "Ne, Sungmin hyung, kutunggu lagu itu dinyanyikan saat purnasiswa musim semi nanti." Bisik Kyuhyun seraya menyerahkan kertas dan berlalu. Ia berlari menyongsong Ryeowook yang langsung menarik tangan Kyuhyun ke kantin.
Sungmin berdiri sambil meletakkan gitarnya sejajar dengannya. Di tangan kanannya tergenggam kertas dan bolpoin yang ia gunakan tadi. Mata cokelat gelapnya memandangi punggung Kyuhyun yang menjauh. Ia bisa melihat Kyuhyun dan Ryeowook saling melempar tawa renyah, membuat bibirnya tak dapat menahan senyum. Ya, Sungmin tersenyum. Senyum yang susah diartikan. Senyum yang manis seperti halnya orang mengagumi orang lain. Senyum yang...
"Ya! Sungmin-ah!" Tiba-tiba seseorang datang dan merangkul pundak Sungmin, membuatnya tersentak bukan main.
"D-Donghae-ah! Kau ini!" Seru Sungmin kelabakan karena kaget.
"Ne... apa yang kau perhatikan dari tadi, Minnie-ah...?" Donghae meluruskan pandangan temannya itu. Ia menyipitkan matanya. Setelah mengetahui siapa yang dipandangi Sungmin, Ia melebarkan matanya serta mulutnya.
"Hoo? Kyunnie? Heyoo... kau menyukainya, ya?" Goda Donghae sambil menaik-turunkan alisnya. Mendengar perkataan Donghae yang tepat mengenai sasaran, Sungmin tergagap. Ia bingung harus menjawab apa.
"A-anniyo! Aku tidak..." Sangkal Sungmin seraya menggerak-gerakkan kedua tangannya di depan wajah Donghae.
"Aah... arraseo... aku mengerti akan perasaanmu, Sungmin-ah... terlihat jelas di wajahmu, lho!" Donghae tertawa. Ia pun menatap Ryeowook dan Kyuhyun yang sudah jauh. Masih dengan tangan bertengger di pundak Sungmin, ia pun bergumam.
"Tapi setahuku... Kyuhyun itu menyukai Siwon." Gumaman lirih itu langsung saja menembak Sungmin. Dengan polosnya Donghae berkata demikian di depan Sungmin yang tak tahu apa-apa. Sungmin seakan tersambar petir di siang bolong. Matanya terbelalak dengan sukses sambil menoleh ragu ke arah Donghae tanpa diketahui. Donghae hanya mengangguk-angguk serius sambil terus menatap ke depan, sama sekali tak menyadari bahwa kata-katanya tadi telah melukai hati Sungmin.
Sungmin mengalihkan pandangannya ke samping, bertolak dari Donghae. Ia menatap rerumputan yang bergoyang. Perasaan Sungmin jadi tak menentu.
'Benarkah... Kyuhyun menyukai Siwon?'
.
.
Kyuhyun berjalan keluar dari pintu gedung sekolahnya sambil mencangklong tas selempangnya. Tak lupa ia mengenakan coat cokelatnya karena udara terasa dingin. Salju mulai turun sedikit demi sedikit. Ia melangkahkan kakinya agak cepat karena ingin cepat sampai rumah dan menghangatkan tubuh.
Baru beberapa langkah meninggalkan gedung sekolah, sebuah tangan menepuk pundaknya. Kyuhyun tercekat dan menoleh.
"Ryeowook?" Orang yang menepuk pundaknya itu hanya berhehe-ria.
"Mau pulang bersama?" Tawarnya. Kyuhyun hanya tersenyum lembut dan mengangguk menyanggupi ajakan sahabatnya. "Ne! Kajja!"
Di perjalanan, keduanya saling membicarakan sesuatu yang sesekali membuat salah satu dari mereka tertawa renyah. Karena sekelas dan umur yang tidak terpaut jauh, mereka jadi mudah sekali untuk mengutarakan pikiran mereka. Rasanya, udara dingin hari ini jadi tak terasa dingin berkat kehangatan persahabatan mereka. Tak terasa mereka sudah berjalan jauh menuju halte bus terdekat dan melewati jalanan sepi sebagai jalan pintas.
"Entah kenapa, saat itu temanku baru bisa membayangkan apa perbedaan dari cokelat parfait dan cokelat sundae." Ryeowook tergelak geli. "Aku tak menyangka ia baru menyadarinya hari itu!" Kyuhyun hanya terkekeh.
"Aa, Kyu-ah... aku jadi ingin makan es krim..." Rengek Ryeowook. "Ne! Kita mampir ke kedai es krim, mau?" Kyuhyun menoleh.
"Kau yakin? Siang ini dingin sekali, lho."
"Aish, Kyuhyun-ah! Ayolah..." Mohon Ryeowook. Kyuhyun hanya terkikik.
"Baiklah..." Akhirnya Kyuhyun mengalah. Toh, ia juga suka es kri. Tak apa, kan, sesekali bandel, makan es krim ketika cuaca dingin. Hehehe... "Eem... aku tahu kedai es krim yang menyajikan es krim enak di dekat sini. Kau mau?"
Ryeowook lansung sumringah. "AAA! Ne, ne! Aku mauu!" Serunya kesenangan. Kyuhyun hanya tertawa karena melihat tingkah sahabatnya yang antusias itu.
Mereka berjalan beriringan sambil tertawa-tawa hingga akhirnya Kyuhyun melihat sesuatu yang janggal di atas aspal. Tawanya surut dan dahinya mengernyit heran. Ryeowook yang sedang berbicara sendiri karena saking senangnya pun menyadari keanehan Kyuhyun yang tak menggubris omongannya.
"Ne, Kyu-ah? Waeyo?" Tanyanya heran. Ia pun meluruskan pandangan Kyuhyun. Setelah melihat apa yang Kyuhyun lihat, matanya lantas terbelalak. Ternyata, sesuatu yang janggal di atas aspal itu adalah bercak-bercak darah yang masih merah dan segar. Begitu banyak dan berceceran di mana-mana.
"D-darah siapa ini..." Kata Ryeowook terbata karena tak mempercayai apa yang ia lihat. Tanpa berkata-kata, Kyuhyun mengikuti jejak darah itu.
"Ah! Kyu-ah! Tunggu aku!" Ryeowook mau tak mau akhirnya mengikuti sahabatnya itu melangkah. Dan setelah usut-diusut, akhirnya Kyuhyun dan Ryeowook menemukan asal-muasal dari ceceran darah tersebut. Mereka berhasil membelalakan matanya ketika melihat tiga orang gadis—dengan tangan diikat di tiang listrik yang ada di sepanjang jalan dan tubuh penuh luka—di depan mereka. Mereka terlihat tak berdaya. Salah satu dari mereka ada yang pingsan di atas aspal. Tak salah lagi. Ketiga gadis itu...
"Kalian!" Seru Ryeowook yang lantas menyongsong ketiga gadis itu. Tak salah lagi. Mereka adalah para anggota geng 'Monalisa'.
"Ada apa ini sebenarnya?" Dengan cekatan, Ryeowook melepaskan ikatan di tangan mereka, diikuti Kyuhyun. "Aiish... susah sekali melepasnya! Kyu-ah! Lepaskan juga ikatan Sulli!" Kyuhyun hanya menuruti perkataan sahabatnya dan berusaha melepaskan ikatan di tangan gadis yang sudah pingsan dengan darah menodai sebagian wajahnya.
"Sulli-ah?" Sesekali, Kyuhyun mencoba membangunkan adik kelasnya itu. Tapi tetap saja. Sulli yang sudah tak berdaya itu tak juga membuka mata.
"Ryeowook sunbae... Kyuhyun sunbae... hentikan..." Tolak Victoria dengan nada lemas. Wajahnya berpeluh dan bercampur dengan darah yang amis. Rambut panjangnya terlihat tak beraturan. Mendengar perkataan Victoria, Ryeowook dan Kyuhyun lantas terdiam dan saling berpandangan.
"Lari... Kyuhyun sunbae..." Lanjut Luna. Kyuhyun tertegun. Tapi, tak berapa lama perasaan itu bersemayam, Kyuhyun dan Ryeowook sudah dikagetkan oleh sesuatu yang lain.
Terdengar suara ujung payung bergesekkan dengan aspal, begitu memekakan telinga. Kyuhyun dan Ryeowook menolehkan kepalanya ke asal suara. Seorang lelaki berambut cokelat-hitam harajuku berjalan dengan santai sambil menyeret sebuah payung transparan. Ia tersenyum dan tatapan matanya tajam. Di sekitar tubuhnya terdapat bercak-bercak darah. Di baju, tangan, wajah...
Melihat siapa yang datang, Ryeowook lantas ciut dan menyembunyikan diri di balik punggung Kyuhyun.
"D-dia... Leeteuk sunbae..." Lirihnya tertahan. Takut. Kyuhyun tercekat.
'Jadi, diakah...'
Lelaki itu—Leeteuk—berjalan mendekati Kyuhyun dan Ryeowook. Ia memainkan payung yang sudah bermandikan darah itu di tangannya, membuat tangannya merah. Bunyi kecipak darah membuat ngeri siapa saja yang mendengarnya. Dengan tatapan tak bersalah, Leeteuk memandangi korban-korbannya, 'Monalisa' yang udah tak berdaya di belakang Kyuhyun dan Ryeowook. Ia tersenyum senang. Tak lama kemudian, ia menatap Kyuhyun.
"Ya..." Panggilnya, masih dengan senyum polosnya. Ryeowook sudah gemetaran di belakang Kyuhyun.
"Apa kau marah?" Tanya Leeteuk dengan nada innocent. Dan secara tiba-tiba, Leeteuk membuka payung berdarahnya hingga menimbulkan bunyi. Payung itu sudah tak berbentuk. Besi-besi penyangganya sudah banyak yang patah dan mencuat-cuat keluar. Kainnya sudah sobek-sobek. Mengenaskan.
Leeteuk terkekeh. Ia berjalan lagi, lebih mendekati Kyuhyun yang hanya terdiam sambil memutar-mutar payung naasnya.
"K-Kyuhyun-ah..." Ryeowook makin erat mencengkeram bagian belakang seragam Kyuhyun. Leeteuk dengan cepat melirikkan mata tajamnya ke arah Ryeowook dan sukses membuatnya terlonjak luar biasa. Leeteuk kemudian menatap Kyuhyun dan 'Monalisa' bergantian.
"Aku..." Kata Leeteuk sambil menggigiti kuku-kuku tangannya. "...baru saja menghabisi mereka! Ahahahaha!" Leeteuk tertawa keras sampai kepalanya tersentak ke atas. Ia sama sekali tak bersalah dan malah tertawa senang telah membuat adik-adik kelasnya itu babak belur. Saking puas dan senangnya, ia sampai memukul-mukulkan payungnya ke aspal. Ryeowook merinding melihat tingkah laku kakak kelasnya itu. Beginikah orang psikopat itu?
Tak lama kemudian, Leeteuk tiba-tiba berhenti tertawa. Wajahnya berubah serius. ia makin mendekatkan diri pada Kyuhyun dan mengamati wajah putih pucat itu. Sesekali, ia kembali menggigiti kukunya. Mata tajamnya perlahan menyipit dan ia mulai tersenyum. Melihat begitu tenangnya Kyuhyun membuat nafsu psikopatnya muncul lagi. Leeteuk kemudian berhasil tertawa lagi.
"Ahahaha! Hihihihi... hahahaha!" Suara tawanya menggema ke seluruh sudut-sudut jalanan setapak itu.
"Lihat saja, Cho Kyuhyun..." Ujarnya. "Aku akan menghabisimu!" Tegasnya di akhir, diikuti lengkingan tawa yang mengerikan. Masih sambil tertawa, Leeteuk mulai berjalan meninggalkan Kyuhyun dan Ryeowook.
'Leeteuk... orang yang sulit dipercaya.'
.
.
Leeteuk berjalan perlahan di pelataran atap sekolah. Salju turun dengan malasnya siang ini. Membuat jalanan basah dan licin. Lagi-lagi, darah mengotori beberapa bagian tubuhnya yang tertutup oleh seragam maupun tidak. Di sekitar wajah dan lehernya terdapat banyak percikan darah.
'The Four Princesses' terlihat tergeletak tak berdaya di atap sekolah. Jesicca, Yuri dan Hyoyeon terlihat tergeletak di atas pelataran berkonblok abu-abu sembari terbatuk-batuk. Darah mengalir dari jidat, hidung, mulut, dan beberapa bagian lain tubuh mereka. Mereka juga tak dapat menahan rasa sakit yang mereka rasakan akibat serangan brutal yang didapatkannya dari Leeteuk. Yang tersisa hanya Sunny, yang nampak masih bisa bergerak dan berusaha menghindari Leeteuk yang terus berjalan mendekatinya. Sunny sesekali terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.
Leeteuk menggigiti kuku-kuku jarinya yang sudah berlumuran darah. Melihat darah berceceran di pelataran atap sekolah membuat matanya berbinar. Sunny yang tak lagi bisa berdiri hanya bisa menyeret tubuhnya demi mencapai pintu atap sekolah dan kabur.
"Aargh! Andwaeyo... Aaakh!" Seru Sunny seraya meraba pintu. Tapi, sesaat setelah tangannya menggapai gagang pintu, Leeteuk menendangnya dan menahan pintu itu.
BRAAKK!
Sunny tak dapat berkutik.
"Nee... mau kemana kau, Sunny-ah...?" Kata Leeteuk dengan nada mengancam seraya tersenyum. Sunny yang sudah ketakutan bukan main hanya bisa memundurkan tubuhnya hingga tak ia sadari punggungnya menabrak tembok. Kini, ia tersudut.
"Andwae... andwae, oppa..." Rintih Sunny ketakutan seraya menggeleng kaku. Dirinya yang sudah lemas tak bertenaga, dengan darah mengotori mulutnya hingga gigi-giginya memerah. Panik segera menerjang ketika ia ketahui tak ada lagi jalan untuk menghindar. Melihat itu, Leeteuk hanya bisa tersenyum. Sambil terkikik, ia mengeluarkan sebatang pensil dari saku jas almamaternya.
"Bagaimana... kalau aku bersenang-senang dengan ini...?" Tanya Leeteuk sambil memutar-mutar pensil tersebut di depan mata Sunny. Sunny jelas saja merasa ketakutan melihat ancaman pemuda yang umurnya hanya berkisar beberapa bulan denganya itu.
"Andwae, oppa... j-jebal..." Sunny terus saja merintih memohon.
Beberapa menit setelah Leeteuk mendengar Sunny memohon, secara tiba-tiba ia tercetik dan berhenti memainkan pensilnya. Dengan tatapan ragu, ia menatap pensil di tangannya dan Sunny bergantian. Sunny gemetar bukan main dan berharap Leeteuk segera pergi. Tapi, tak terpikirkan olehnya kalau ternyata Leeteuk kembali terobsesi dengan pensilnya. Dengan menebar senyum evil, ia kembali memainkan pensil di tangannya dan kini mematahkannya jadi dua.
"Mungkin, begini lebih baik." Katanya. Dengan tiba-tiba Leeteuk menahan kepala Sunny, membuat gadis berambut pendek itu tersentak bukan main.
"Aargh! Oppa! Oppa, andwaee!" Sunny mulai berteriak. Leeteuk mendekatkan patahan pensil tersebut ke salah satu mata Sunny. Sunny merasa ngeri dan terus memberontak. Tapi apa daya, tenaga yang menahan lebih besar darinya.
"Nee... apa kau maraah? Hihihihi... ahahaha..." Kikikan mengerikan kembali melengking dari tenggorokan Leeteuk. Jessica, Hyoyeon dan Yuri tak bisa menolong dan hanya menatap miris rekannya itu.
"Andwae, oppa! Jebal! Oppaaa!" Sunny tak bisa lagi berbuat apa-apa. Pensil itu makin lama makin dekat dengan bola matanya.
"KYAAAA!"
.
.
Heechul berjalan cepat memasuki sebuah gedung rumah sakit di pusat kota. Pulang sekolah ia tak berniat untuk mengunjungi markasnya, tapi malah kemari. Ia ingin menjenguk salah satu sahabatnya yang sedari dua hari lalu tak terlihat di sekolah. Sesekali, beberapa perawat berpapasan dengannya dan mengangguk walaupun ragu. Tapi dengan yakin, Heechul membalas anggukkan para perawat yang lewat. Dengan kedua tangan bersemayam di saku jas almamater, ia mempercepat langkahnya menuju lantai lima rumah sakit.
"Khamsahamnida, ne." Heechul mendengar suara seseorang ketika ia baru tiba di depan kamar bernomor 106. Dengan sekali sentakan, pintu pun terbuka dan keluarlah seorang perawat. Heechul dan si perawat sama-sama tercekat dan saling membungkuk meminta maaf.
"Ah, Heechullie?" Heechul melongokkan kepalanya melewati pundak si perawat.
"Yesungie..." Heechul segera masuk, sementara si perawat berlalu. Heechul tak lupa menutup pintu. "Gwaenchana?" Tanya Heechul sedikit khawatir. Yesung memposisikan tubuhnya duduk di atas ranjangnya dengan susah payah sambil tersenyum.
"Nan gwaencahana, Heechullie..." Katanya dengan nada yang terdengar sedikit lemas. Heechul duduk di kursi tepat di sebelah ranjang Yesung.
"Heechul." Panggil Yesung. Heechul menoleh.
"Ne."
"Mianhae..." Heechul tertegun mendengarnya. "Aku minta maaf... sudah membuatmu dan Leeteuk khawatir..." Lanjut Yesung. Heechul hanya terdiam seraya menunduk.
"Anniyo... gwaenchana." Heechul tersenyum simpul. Yesung ikut tersenyum walaupun tipis.
"Aku... tak menyangka Kyuhyun akan mengeluarkan jurus itu. Jurus yang jarang sekali digunakan..." Yesung menerawang.
Sunyi sesaat.
Yesung menoleh pelan. "Heechul, kuharap kau hati-hati dengan Kyuhyun jika kau berhadapan dengannya nanti." Heechul mengerjap beberapa kali, lalu mengangguk.
"Arraseo." Jawabnya.
"Bagaimana kabar sekolah?"
"Tak ada yang menarik. Seperti biasa." Jawab Heechul datar. "Kemarin, Kyuhyun kembali berulah di taman hiburan."
"Geurae?"
"Ne. Aku dengar dari salah satu teman." Heechul mendesah. "Ia berkelahi dengan musuh bebuyutan kita." Yesung mengangguk dan memposisikan pandangannya lurus ke depan. Suasana kembali sunyi. Tak ada yang bebicara. Ruang arawat itu hanya dipenuhi dengan suara-suara dari alat-alat rumah sakit. Yesung menolehkan kepalanya ke arah Heechul dan menatapnya lekat-lekat walaupun tersirat rasa ragu. Ia nampak berpikir. Ia nampak ingin mengutarakan sesuatu, tapi ia ragu untuk berbicara.
"Heechul-ah..." Panggilnya.
"Ne, Yesung?"
"Kemarin, Leeteuk mengunjungiku." Mendengar nama Leeteuk disebut, Heechul seketika menoleh cepat. Rasa antusias pun mulai menguasainya.
"Leeteuk? Benarkah? Akhir-akhir ini aku tak pernah melihatnya di sekolah.
"Dia..." Frase Yesung menggantung, membuat Heechul mengernyit.
"Mwoya?"
"Leeteuk... Kyuhyun..." Ujar Yesung tak pasti. Mengetahui maksud rekannya itu, Heechul lantas terbelalak lebar. Mulutnya setengah terbuka. Leeteuk... sudah mulai beraksi.
.
.
"Ahahahaha!" Terdengar tawa nista melengking di ujung koridor halaman belakang sekolah. Suara pukulan dan tendangan pun juga membahana karena sepi.
"Argh!"
BRUGH! PRAAKK!
Seorang pemuda terpental hingga menabrak pagar kawat di belakangnya. Napasnya terengah dan beberapa bagian tubuhnya luka-luka. Merasa belum puas menghajar lawannya, si pemilik lengkingan tawa—Leeteuk—segera menuyudutkan pemuda berambut pirang itu di pagar dan mencekik lehernya.
"Sungmin-ah...? Ahahaha!" Leeteuk tertawa melihat lawannya terbatuk-batuk karena sulit bernapas.
"Kau!" Geram Sungmin dan segera saja ia memukul pipi Leeteuk hingga ia terhuyung. Tapi bukannya kesakitan, ia malah tertawa-tawa. Ia pun membalas Sungmin dua kali lipat hingga Sungmin terjatuh di dekat parit. Ia terbatuk hingga mengeluarkan darah dari mulutnya. Ia sudah tak bisa lagi berdiri. Melihat lawannya sudah terduduk lemas, Leeteuk hanya bisa terkikik geli sambil menggigit-gigit kukunya yang tertutup merahnya darah.
"Ne... apa kau marah?" Dengan cepat Leeteuk melepas sepatu Sungmin dan memukulkannya ke wajah sang pemilik.
"Aargh!" Teriak Sungmin kesakitan.
"Ahahahaha!" Mendengar Sungmin kesakitan, tawa Leeteuk makin membahana.
"Sungmin-ah... teman Cho Kyuhyun?" Tanya Leeteuk di sela-sela tawanya. Sungmin hanya menatap Leeteuk dengan tatapan tajam seraya menyeka darah di bibirnya.
"Aku bukan temannya... hubungan kami tidak sekedar berteman... bukan sekedar sahabat..." Geram Sungmin sedikit tertahan. Bibirnya bergetar. Tak lama kemudian, Sungmin kembali terbatuk. Leeteuk terdiam.
"Hubungan kami... tak hanya sekedar itu!" Tegas Sungmin. Ia meludahkan darah yang keluar dari gusinya. Mata Sungmin berkilat saat menatap Leeteuk.
"Aku mencintainya." Leeteuk membulatkan matanya. Mendengar kata 'cinta' keluar dari mulut teman sepantarannya itu membuat perutnya geli. Ia pun terbahak.
"Cinta?" Ejeknya di sela-sela tawanya. "Kau seriuus? Ahahahaha!" Leeteuk tertawa geli sambil menepuk-nepukkan sepatu Sungmin di tangannya. ia kemudian menendang Sungmin.
Sungmin memegangi dadanya yang nyeri karena tendangan Leeteuk. Napasnya naik turun. "Jangan... remehkan kata cinta...!" Tegas Sungmin. Ia terbatuk-batuk. Leeteuk yang tadi asyik tertawa karena menganggap omongan Sungmin itu tak berakal, sekejap terhenti. Ia menatap Sungmin sambil mengerjap-ngerjap serius. didekatinya Sungmin yang terduduk lemas itu. Ia menyamakan tingginya dengan Sungmin dan kembali menggigiti kuku-kukunya. Leeteuk mengernyitkan keningnya, membuat Sungmin heran. Tapi, tak lama kemudian Leeteuk terkikik dan kembali bediri lagi.
"Ihihihi... jinjjayo, ne...?" Leeteuk memutar lehernya hingga berbunyi. Ia kemudian membungkukkan tubuhnya, tangannya menjambak rambut Sungmin dengan kasar hingga kepalanya terangkat.
"A-aargh..." Rintih Sungmin kesakitan. Leeteuk menikmati rintihan Sungmin yang kesakitan itu dan tertawa terbahak.
"Kubunuh kau!" Kata Leeteuk serak. Tanpa pikir panjang, ia langsung membenturkan kepala Sungmin ke pinggiran parit yang terbuat dari semen keras.
"UAAARGH!"
BRUAAGH!
.
.
Kyuhyun berjalan gontai menyusuri koridor lantai tiga. Ia baru saja kembali dari kamar mandi dan mendapat kabar kalau teman-teman dan sahabat-sahabatnya menjadi incaran massal seorang King of Violation, Leeteuk. Matanya menatap lantai marmer koridor kosong. Tiba-tiba, ia kembali teringat wajah Leeteuk saat pertama kali ia temui di tikungan jalan waktu itu bersama Ryeowook. Wajah yang putih mulus dengan beberapa percikan darah di pipi, senyum yang tak dapat dibaca, suara gesekkan payungnya di aspal, tatapannya yang memancarkan kehausan akan darah, lenkingan tawa nistanya, perkataannya waktu itu...
'Apa kau marah?'
'Aku... baru saja menghabisi mereka! Ahahahaha!'
Semua itu menyita pikiran Kyuhyun. Kembalinya Leeteuk dalam mode Psycho seperti sekarang ini sama saja dengan ancaman besar. Dia adalah murid terparah di Neul Param High School ini. Murid-murid yang tak sengaja berpapasan dengan Kyuhyun terus saja menatapnya sebelah mata. Mereka berbisik-bisik tak jelas di belakang Kyuhyun. Kyuhyun hanya melirik kecil, tak peduli dengan omongan mereka. Kyuhyun terus berjalan pelan hingga seseorang memanggilnya.
"Oh? Ya! Kyuhunnie!" terdengar seseorang memanggil. Mendengar suara yang sudah familiar di telinganya itu, Kyuhyun terhenti. Ia menoleh lambat ke arah asal suara. Ia baru sadar kalau ia kini berdiri tepat di depan pintu kelasnya sendiri. Kyuhyun mendapati Eunhyuk, Ryeowook dan tiga gadis 'The Four Princesses' tengah menoleh ke arah Kyuhyun. Para 'The Four Princesses' terlihat lebam-lebam dan terluka di bagian wajah dan tangan. Beberapa plester dan kapas bertengger di bagian-bagian tertentu wajahnya.
"Ne, Kyuhyunnie... Mereka baru saja diserang oleh Leeteuk sunbae..." Eunhyuk menerobos ketiga 'The Four Princesses' dan menghampiri Kyuhyun. Kyuhyun sedikit terbelalak saat mendengar hal itu. Merasa tidak terima akan kejadian ini, Jessica, Yuri dan Hyoyeon ikut melanjutkan omongan Eunhyuk sembari menghampiri Kyuhyun.
"'Monalisa' juga diserang! Dan kau tahu? Leeteuk berani menggunakan pensil dan berhasil melukai mata kiri Sunny!" Potong Jessica.
"Leeteuk sudah berhasil membungkam kami, 'Monalisa', bahkan Lee Sungmin sekalipun..."
"Yuri benar! Apa kau tahu artinya dengan semua ini!" Serobot Hyoyeon.
"Ani, ani! Jadi, kalian semua menuduh Kyuhyun yang menyebabkan ini semua?" Serobot Ryeowook dengan suara cemprengnya seraya mendorong Jessica, Yuri dan Hyoyeon. Dan dengan bantuan Eunhyuk, Ryeowook berusaha mengusir ketiga gadis itu. Mereka sudah tak setakut dulu sebelum 'The Four Princesses' berhasil ditaklukan Kyuhyun.
"Kyuhyun-ah! Semuanya menjadi target iblis itu untuk dihabisi!" Seru Jessica yang sudah didorong-dorong Ryeowook agar segera pergi.
"Jangan diam saja! Lakukan sesuatu!" Sambung Hyoyeon. Kyuhyun yang berdiri membelakangi mereka semua pun serasa disambar pertir ketika mendengar seruan Hyoyeon. Entah kenapa... untuk saat ini, sedikit rasa gentar menyelimuti benaknya.
Kyuhyun berdiri terdiam. Tangannya yang sedari tadi menggenggam PSP kini menjadi tambah erat. Pikirannya seakan sedang bertarung dengan benaknya, membuat alisnya mengernyit dalam. Ia menatap lantai lekat-lekat. Tak ia sadari, seseorang menghampirinya dari arah berlawanan dengan tertatih-tatih. Seorang pemuda berambut spike itu mengulurkan satu tangannya yang berlumuran darah demi menyentuh pundak Kyuhyun, namun sesaat meleset hingga mengenai pipi pemuda berambut hitam bergelombang itu. Meninggalkan berkas merah kejinggaan di pipi putih adik kelasnya itu. Dengan susah payah, pemuda berambut spike itu akhirnya bisa mempertahankan tubuhnya yang sudah lunglai dengan bertumpu pada pundak Kyuhyun. Kyuhyun sedikit goyah. Betapa terkejutnya Kyuhyun ketika mengetahui siapa pemuda itu. Rasa takut dan ngeri segera menyergapnya saat melihat wajah orang dihadapannya itu babak belur dan berdarah-darah. Ia tak bisa berkata apa-apa dan hanya bisa terbelalak lebar.
'Donghae hyung...?'
"Kyuhyun-ah... aku mohon..." Kata Donghae lirih. "Menjauhlah dari lingkungan sekolah... untuk sementara..." Belum selesai berbicara, Donghae lantas ambruk tak sadarkan diri. Eunhyuk, Ryeowook dan ketiga 'The Four Princesses' yang tadi sedang asyik berdebat akhirnya diam saat mengetahui seseorang ambruk di samping mereka.
"Omona! Donghae hyung!" Seru Ryeowook yang segera menolong kakak kelasnya itu.
"Donghae hyung! Apa yang terjadi? Gwaenchana? Hyung!"Eunhyuk lantas panik bukan main. Ia segera bergabung dengan Ryeowook, disusul ketiga gadis yang lain.
Kyuhyun masih terdiam tak bergerak. Kedua manik matanya bergerak-gerak gelisah.
"Lagi?" Lirih Kyuhyun. Tiba-tiba ingatannya terbang ke saat-saat ia kehilangan Changmin. Changmin celaka karena dirinya. Dan hari ini, teman dan sahabat-sahabatnya kembali celaka yang—lagi-lagi—akibat kesalahannya. Untuk kali ini, Kyuhyun kembali menyalahkan diri sendiri.
"Ini semua... salahku." Kyuhyun lalu berjalan lagi—dengan gontai.
.
.
Kyuhyun berjalan tak menentu saat pulang sekolah. Setelah ia mengganti sepatu khusus sekolahnya dengan sepatunya sendiri, langkah kkainya seakan tak terbaca. Ia berjalan sambil mencangklong tasnya. Tapi ia tak menyadari kakinya akan membawanya kemana. Tak terasa ia terhenti di sekitar gudang sekolah yang ada di halaman belakang. Kepalanya yang sedari tadi menunduk, kini ditengadahkannya. Seketika matanya terbelalak mendapati Leeteuk ada di hadapannya—membelakanginya. Leeteuk terlihat sibuk menghajar seseorang—yang lagi-lagi sangat familiar di mata Kyuhyun. Pemuda China berheadband hitam, Tan Hangeng. Kyuhyun terpaku sesaat. Tubuhnya tak bisa ia gerakan. Begitu brutalnya Leeteuk saat menghabisi seseorang. Sambil terus tertawa nista, ia memukuli, menendang sampai menghunjamkan sesuatu ke tubuh korbannya. Melihat itu, Kyuhyun benar-benar tak tahan. Amarah tiba-tiba menyelimuti. Ia tidak terima. Dengan yakin, Kyuhyun menggenggam kain celananya erat.
Menyadari ada seseorang di belakangnya, Leeteuk pun berbalik. Tatapan matanya tajam seperti elang. Ia kini tertarik pada Kyuhyun dan alhasil, Hangeng dibungkam dengan tonjokkan terakhirnya. Hangeng seketika lemas dan tergeletak tak berdaya dengan mulut penuh darah. Leeteuk tergelak sembari menghampiri si adik kelas. Penampilannya yang berantakan dan berlumuran darah masih setia menyelimuti. Kyuhyun menatap datar calon lawannya itu namun tajam. Dengan yakin, Kyuhyun mendekatkan diri pada Leeteuk seraya mengernyit. Ia melirik ke arah Hangeng yang sudah tak berdaya di belakang Leeteuk.
"Kau... kenapa kau melakukan ini semua?" Tanya Kyuhyun sedikit menggertak. Mendengar perkataan Kyuhyun, Leeteuk hanya tersenyum mengejek.
"Kau marah?" Tanya Leeteuk polos. "Teman-temanmu... sahabat-sahabatmu... telah kuserang. Kau pasti marah! Ahahaha!" Leeteuk kini tertawa keras. Kyuhyun geram melihatnya. Masih dengan menahan emosi, Kyuhyun mengeratkan kepalan tangan di sisi kakinya.
"Kurang ajar...!" Ucapnya tertahan. Bibirnya gemetar menahan amarah.
"Ahahaha! Kau marah!" Leeteuk tertawa senang telah berhasil membuat Kyuhyun kesal. Tanpa menunggu lama, Leeteuk lantas menerjang Kyuhyun dan mendorongnya hingga membentur tembok. Sambil tertawa ia terus memukuli Kyuhyun. Kyuhyun berusaha menahan semua serangan Leeteuk dan menonjok pipi tirus lawannya dengan sekuat tenaga.
"Ahahaha! Kau benar-benar marah... Kyuhyun-ah...!" Ucap Leeteuk di sela-sela tawanya. "Aaargh!" Leeteuk dengan senang hati kembali menyerang Kyuhyun dan terjadi sedikit pergulatan yang sengit. Di tengah-tengah pergulatan itu, Leeteuk berhasil menyudutkan Kyuhyun di sudut tembok dan menggigit cuping telinganya. "Aarkh!" Merasa risih dan kesal, Kyuhyun pun berusaha mendorong Leeteuk dan menendangnya garang. Dengan sekejap, Leeteuk terlempar masuk ke ruang gudang yang lumayan luas itu karena pintunya sedang terbuka lebar. Bunyi gaduh barang-barang terdengar keras seiring jatuhnya Leeteuk.
BRUUGH! GRAAKK!
"Aakh!" Rintih Leeteuk. Ia pun terkekeh. "Kau serius?" Leeteuk terus saja tertawa. Entah itu bisa diartikan sebagai tawa kesenangan atau tawa mengejek. Mungkin dua-duanya termasuk. Kyuhyun pun masuk. Dengan penuh dendam ia menonjok pipi Leeteuk dua kali hingga lawannya itu terhuyung. Darah mengalir di sudut bibirnya. Hampir saja kepala Leeteuk membentur tumpukan meja di dalam gudang itu. Leeteuk hanya terkekeh. Setelah puas disakiti, sekarang gilirannya membalas. Walaupun begitu, Leeteuk masih punya amarah. Ia membalas Kyuhyun dua kali lipat. Leeteuk menangkap kaki Kyuhyun dan memukul wajahnya hingga terdorong ke belakang. Kyuhyun menghantam tumpukan kursi hingga jatuh semua. Untung kepala Kyuhyun tak apa-apa.
"Ihihihi! Hahahaha!" Leeteuk tertawa senang seraya menyentak-nyentakkan kepalanya. Merasa tidak terima, Kyuhyun mulai menyerang. Kini ia berhasil membuat Leeteuk babak belur. Darah mulai mengucur dari jidat dan hidungnya. Masih sambil terkekeh tak jelas, Leeteuk kembali membalas. Ia berniat menendang wajah Kyuhyun, tapi meleset. Alhasil, ini kesempatan untuk Kyuhyun menahan serangan si lawan. Dengan sigap Kyuhyun segera menyikap leher Leeteuk dengan lengan dari belakang. Sedikit ia eratkan, membuat Leeteuk sedikit terbatuk karena napasnya tertahan. Leeteuk berusaha memberontak dan melepaskan lengan Kyuhyun yang memenjarakannya. Ia sedikit kesulitan dan terpojok. Tak sengaja, manik cokelat kehitaman Leeteuk melirik ke arah kursi-kursi yang terjatuh tadi. Dengan cepat tangannya mengambil satu kursi dan menghantamkannya ke arah belakang—mengenai kepala Kyuhyun.
DUAAGH! GRAAKK!
"Aarkh!" Teriak Kyuhyun tertahan. Dengan begitu, ambruklah dia. Kyuhyun tergeletak kesakitan. Ia pun mengerang sambil memegangi kepalanya. Dan, oh! Jidatnya lebam dan berdarah akibat hantaman kursi tadi. Leeteuk tersenyum lebar melihat Kyuhyun kesakitan. Ia pun berdiri—walaupun terhuyung—mendekati Kyuhyun yang masih tergeletak. Leeteuk menghampiri Kyuhyun dan mendudukki perut adik kelasnya itu. Segera saja ia memberinya serangan bertubi-tubi. Leeteuk tanpa ampun memukuli pipi Kyuhyun hingga kepalanya tersentak-sentak ke samping.
BUGH!
"Akh!"
BUGH!
Aarkh!" Erang Kyuhyun. Ia tak bisa berbuat apa-apa, sementara Leeteuk tertawa penuh kemenangan.
"Kyuhyun-ah!" Sebuah suara memanggil nama Kyuhyun. Mendengar seruan itu, Leeteuk berhenti memukuli Kyuhyun dan menoleh ke arah pintu gudang. Didapatinya Lee Sungmin, Lee Donghae dan Jessica berdiri di sana. Sambil tersenyum dan menggigiti kuku, Leeteuk berdiri.
"Brengsek kau, Park Jung Soo!" Serapah Donghae serak. Leeteuk memperhatikan ketiga manusia dengan berbagai luka diperban itu dengan tatapan polos bak anak kecil tak berdosa. Sambil menggigiti kuku-kukunya, ia pun berjalan mendekati mereka.
"Kalian... teman Cho Kyuhyun?" Tanyanya polos. Matanya berkedip-kedip. Sungmin dan Donghae geram melihat kepolosan—yang dibuat-buat—Leeteuk. Sementara Jessica hanya bisa mengeratkan telapak tangannya. sejak ia dan anggota gengnya berhasil di taklukkan Kyuhyun, entah kenapa kini ia sadar dan mulai membela Kyuhyun.
"Leeteuk oppa..." Ujarnya tertahan mengingat perbuatan pemuda berambut harajuku itu saat melukai rekannya, Sunny.
"Teman?" Leeteuk mulai tersenyum licik. Dengan cepat, ia mengambil kursi di dekatnya dan hendak melemparnya. "Kubunuh kalian semua!" Serunya seraya melempar kursi tersebut. Tapi dengan sigap Sungmin menangkis lemparan kursi itu.
GRAAKK!
"HYAA!" Donghae mulai menyerang dengan memukul Leeteuk, disusul Sungmin dan Jessica.
"Ya! Kyuhyun-ah!" Donghae berlutut di sisi Kyuhyun yang masih tergeletak kesakitan, sementara Sungmin dan Jessica mengurus Leeteuk. "Kyuhyun-ah!"
Jessica menedang Leeteuk hingga menabrak tembok.
"Ogh!" Rintihnya. Leeteuk sedikit terbatuk. Tak sengaja, ia mendapati sebuah tongkat pel yang sudah tak terpakai bersandar di sudut tembok, tidak jauh darinya.
"ARRAAA!" Jessica menerjang Leeteuk hendak menyerangnya, diikuti Sungmin di belakang. Leeteuk melirik ke arah dua lawannya dan tongkat pel di dekatnya bergantian. Dengan cepat dan tiba-tiba, Leeteuk merampas tongkat pel itu dan melayangkannya hingga mengenai leher Jessica dengan keras.
DUAGH!
"AKHH!" Jessica tersentak ke samping dan ambruk. Leeteuk terkikik. Sungmin yang berada di belakang Jessica lantas hendak membalas dan menahan tongkat pel itu. Perhelatan terjadi beberapa saat, mengadu kekuatan mereka berdua hingga tongkat pel itu terlempar ke samping beberapa detik kemudian.
"Leeteuuk!" Sungmin memukul pipi Leeteuk beberapa kali hingga ia terhuyung. Tapi, bukan Leeteuk namanya kalau tidak membalas berkali-kali lipat. Leeteuk menarik tangan Sungmin dan menendang punggungnya hingga dagu Sungmin membentur tembok. Masih belum puas, Leeteuk membalikkan tubuh Sungmin dan memukuli wajahnya berkali-kali. Luka-luka Sungmin yang sudah ditutup plester dan perban kembali mengeluarkan darah. Detik kemudian, ia jatuh terduduk dan terbaring lemas.
"AHAHAHAHA!" Tawa Leeteuk penuh kemenangan. Mendengar kerasnya tawa Leeteuk, Donghae dan Kyuhyun yang masih kesakitan pun menoleh. Melihat rekan-rekannya dengan mudah dihabisi oleh iblis macam Leeteuk, Donghae jadi geram. Ia pun bangun dan berlari ke arah Leeteuk.
"AAARGH! Kurang ajaarr, kau, ibliiss!" Donghae menapakkan kakinya di dudukan kursi dan melompat untuk menghajar Leeteuk. Ia berhasil memukul wajah Leeteuk hingga pemuda itu terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Leeteuk pun jatuh terseok. Dengan paksa, Donghae mengangkat kerah baju Leeteuk dan menonjok pipinya lagi. Darah dengan indahnya menghiasi wajah Leeteuk, babak belur. Donghae melayangkan kakinya hendak menendang perut lawannya itu, tapi keburu ditangkap oleh si iblis Leeteuk. Leeteuk tak segan-segan menggigit kaki Donghae hingga pemuda berambut spike itu berteriak kesakitan. Leeteuk menjatuhkan tubuh Donghae di sisinya dan segera menindihnya. Tangan Leeteuk terjulur menggapai sebuah kursi dan dihunjamkannya pada Donghae.
GRAAAKK!
"AAARGH!" Teriakan pilu terdengar memekakkan telinga.
"Hihihihi! AHAHAHAHA!" Leeteuk tertawa penuh kemenangan. Melihat teman dan sahabatnya dihabisi tanpa ampun, Kyuhyun merasa miris dan marah. Dendam membuncah di dadanya. Sambil menggeram ia bangun perlahan.
"Ne, Kyuhyun-ah... lihat! Ahahaha!" Leeteuk bangun seraya tertawa. "Teman? Sahabat? Omong kosong!"
Kyuhyun mengeratkan gigi-giginya di balik mulutnya. "Jangan remehkan teman atau sahabat...!" Geramnya seraya berdiri.
"Ahahaha! Teman? Sahabat?" Ejek Leeteuk. Ia pun kembali menyerang Kyuhyun yang sudah berdiri itu dengan kursi di tangannya. "HYAAA!" Teriaknya serak. Dengan cepat, Kyuhyun bisa menahannya. Ia melempar Leeteuk keluar gudang hingga terjatuh. Kursi yang tadi digenggam Leeteuk terlempar entah kemana. Lagi, Kyuhyun menyerang Leeteuk bertubi-tubi. Ia tak mau lagi memberi kesempatan lawannya itu untuk membalas.
Kyuhyun berhasil menguasai pertarungan. Kyuhyun menindih tubuh Leeteuk di lantai dan memukulinya. Tapi sesekali posisi mereka berubah dan berubah. Leeteuk sempat berada di atas Kyuhyun, dan beberapa menit kemudian Kyuhyun berhasil menindih Leeteuk lagi. Di posisi ini, Kyuhyun terus berada di atas dan tak henti-hentinya menonjokki wajah Leeteuk yang sudah berdarah-darah itu. Anehnya, bukannya berteriak kesakitan, Leeteuk malah makin keras tertawa. Membuat Kyuhyun makin kesal. Hingga akhirnya, Kyuhyun memberikan pukulan terakhir dengan sekuat tenaga.
BUAAGH!
Leeteuk tak lagi tertawa keras. Ia hanya terkekeh seraya terbatuk-batuk. Kyuhyun terengah-engah dan mulai bangun. Matanya datar menatap Leeteuk yang sudah tak berdaya.
.
.
Kim Heechul tengah berjalan santai melewati persimpangan koridor dekat halaman belakang sekolah. Dengan tatapan kosong, ia memain-mainkan aksesoris rerantaiannya. Ia pun berbelok ke kanan. Perlahan ia menengadahkan kepalanya. Ia tak sengaja mendapati Leeteuk dan Kyuhyun tengah berkelahi di sekitar gudang. Matanya berhasil terbelalak. Ia melihat Kyuhyun tengah memukuli Leeteuk bertubi-tubi. Ternyata... seorang Leeteuk pun tak bisa diharapkan. Heechul menngeratkan telapak tangannya.
Kyuhyun terengah-engah dan mulai bangun. Matanya datar menatap Leeteuk yang sudah tak berdaya.
"Uhuk! Ohok, ohok!" Leeteuk terbatuk-batuk. Tubuhnya menggeliat kesakitan. Leeteuk mulai mendesis walaupun sesekali tertawa lemah. Kyuhyun berdiri dan berniat untuk beranjak dari sana. Penampilannya kini sama berantakannya dengan Leeteuk. Rambutnya yang tadi rapi, kini mencuat kesana-sini. Beberapa helai juga menutupi sebagian matanya, membuatnya jadi mengerikan. Kyuhyun berdiri membelakangi Leeteuk dan tak sengaja mendapati Kim Heechul berdiri di hadapannya—agak jauh darinya. Heechul menatap Kyuhyun dengan tatapan tajam, sementara Kyuhyun hanya mentapanya datar. Hal itu terjadi hingga beberapa menit. Tanpa disadari, sebuah tangan menepuk pundah Kyuhyun.
"Cho Kyuhyun..." Lirih seseorang. Ya. Jessica yang memanggil dan menepuk pundak Kyuhyun. Di belakangnya terlihat Sungmin tengah memapah Donghae yang sesekali terbatuk-batuk. Mereka sudah keluar dari gudang.
"Kyuhyun-ah... gwaenchana?" Tanya Sungmin dengan nada lemas. Napasnya terengah. Sungmin meluruskan tatapan mata Kyuhyun. Tak ada siapa-siapa di depan sana. "Apa yang kau lihat, Kyu...?"
Suasana untuk sementara menjadi sunyi. Hanya terdengar suara batuk-batuk dari beberapa orang di sisi Kyuhyun.
"Kalian... lebih baik cepatlah ke ruang kesehatan." Nasihat Kyuhyun.
"Anni, Kyuhyun-ah. Kau juga..." Kata Donghae lirih. Terjadi sedikit percakapan antara Kyuhyun, Donghae, Sungmin dan Jessica hingga mereka tak menyadari seseorang di belakang mereka kembali terbangun. Orang itu mengambil sebuah gunting rumput yang tergeletak di lantai dan hendak menghunjamkannya pada Kyuhyun.
"HEYAAA!"
"Awas! Kyuhyun-ah!" Dengan cepat Jessica mendorong Kyuhyun kesamping beserta dirinya. Dengan begitu, serangan itu—yang tak lain dan tak bukan dilakukan oleh Leeteuk—tak berbuah apa-apa. Gunting rumput itu segera terlempar jauh. Menyadari itu, Kyuhyun kembali merasa kesal. Leeteuk benar-benar keras kepala. Ia pun bangun dan menendang Leeteuk dengan sekali sentakkan. Leeteuk pun ambruk lagi. Jessica, Sungmin maupun Donghae tak menyangka Leeteuk masih bisa berdiri dan menyerang Kyuhyun dengan gunting rumput. Akhirnya, dengan tidak langsung, Leeteuk mengakui kekalahannya. Ia pun bangun seraya tertawa-tawa.
"Hahahaha...! Cho Kyuhyun... Ohok!" Leeteuk terbatuk. Telapak tangannya refleks menutupi mulutnya. Darah beserta satu giginya keluar. Giginya copot akibat tendangan Kyuhyun barusan. "Ahahaha! Hahahaha...!" Tapi Leeteuk hanya tertawa geli melihatnya. Jessica, Sungmin dan Donghae hanya menatapnya tak wajar.
"Cho Kyuhyun... kau iblis. Kau lebih iblis dariku...!" Kata Leeteuk seraya berbalik arah. "Kau... seakan dewa kematian...! kau lebih sadis dariku!" Leeteuk kembali tergelak. "Ya! Kalian bertiga! Kuharap kalian berhati-hati dengan Kyuhyun. Dia berbahaya. Ahahahaha!" Tawa nista lagi-lagi terdengar, mengantar kepergian Leeteuk yang masih terhuyung-huyung itu. Kyuhyun hanya berdiri dalam diam, menatap punggung Leeteuk yang menjauh dengan tatapan datar.
Sungmin menatap Kyuhyun diam-diam. Melihat Kyuhyun diam saja membuatnya khawatir. Ia menatapnya dengan tatapan prihatin.
"Kyu, gwaenchanayo?"
.
.
Hari sudah mulai sore. Kim Heechul terduduk di singgasananya di markas 'Black Dragon'. Kedua kakinya ia letakkan di atas meja yang ada di depannya. Matanya menatap lurus ke arah pintu markas seraya tangannya memainkan sebuah pin hitam berbentuk naga. Ia nampak disibukkan oleh pikirannya. Ia teringat kembali akan aksi Kyuhyun saat membuat Leeteuk KO tadi siang. Perlahan matanya berubah tajam. Tangannya yang tadinya santai memainkan pin naganya itu kini menggenggamnya erat. Bibirnya bergetar.
"Aku tak akan membiarkan... Cho Kyuhyun terus mmebuat kekacauan!" Ujar Heechul tertahan.
"Tak akan kubiarkan!"
.
.
TBC
A/N: HUWAAAA! Kenapa jadinya panjang bangeeet! DX DX DX. Maaf, ya, kalau malah jadinya molor gini. Ini sudah sesuai prosedur cerita *halah! Bahasamu!* Tapi benaran! Kalo misalnya dibikin TBC ditengah-tengah, rasanya ngegantung banget. Gomen ne! Mianhae! *sujud-sujud* DX DX DX
Oke, lupakan permintaan maaf saia *lho?*. Thanks a lot to:
Aul, Anin WonKyushipper, Sunny, Karin, Blackyuline. Leenahanwoo, Mrs. Simple, Just 4Hae, Little Angel, Fitri MY.
Yaah... segitu dulu keluhan saia *?* *pundung dipojokan ngeliat ff panjangnya minta ditelen*. Mohon sabar buat bacanya, ya? *ikut prihatin sama ceritanya yang panjang*. Akhir kata, saia masih mohon buat reviewnya, lho! ^^. Maaf kalau ada kesalahan. Saia nerusinnya malem-malem, solanya. Hehehe. Mianhae n gomawoyo! XD
Ms. Simple :D
