Disclaimer: Super Junior hanya milik mereka sendiri, SMent, dan Tuhan semata.
Chara: Cho Kyuhyun, other members of Super Junior and more (SMEnt's Artist)
Genre: Friendship, Romance
Rated: T+
Summary: Cho Kyuhyun, murid pindahan yang pintar dan pendiam, dimana di sekolah barunya ia mempunyai banyak masalah dengan para geng yankee (berandalan). First fic about Cho Kyuhyun ^^. Don't like, don't read, ya.
Warning: Abal, Typo(s), Maksa, OOC, Penuh dengan perkelahian dan kekerasan, AU.
Author's list songs: Flashback – Secret OST, Majisuka Rock n Roll – AKB48
Enjoy this! ^^
.
.
Me vs Yankee
.
.
Chapter 13: Black Dragon's Kim Heechul vs Cho Kyuhyun, Begin
Kim Heechul tengah berjalan santai melewati persimpangan koridor dekat halaman belakang sekolah. Dengan tatapan kosong, ia memain-mainkan aksesoris rerantaiannya. Ia pun berbelok ke kanan. Perlahan ia menengadahkan kepalanya. Ia tak sengaja mendapati Leeteuk dan Kyuhyun tengah berkelahi di sekitar gudang. Matanya berhasil terbelalak. Ia melihat Kyuhyun tengah memukuli Leeteuk bertubi-tubi, membuat emosinya naik. Heechul mengeratkan telapak tangannya.
Kyuhyun berdiri membelakangi Leeteuk dan tak sengaja mendapati Kim Heechul berdiri di hadapannya—agak jauh darinya. Heechul menatap Kyuhyun dengan tatapan tajam, sementara Kyuhyun hanya mentapanya datar. Wajahnya berlumuran darah yang keluar dari sudut bibir, jidat dan hidungnya. Rambutnya acak-acakan. Heechul manatap adik kelasnya itu seakan ingin memangsanya. Ia berdiri dengan memasukkan kedua telapak tangannya di saku jas almamaternya.
'Cho Kyuhyun...!'
.
.
Neul Param High School
Berita jatuhnya Leeteuk tersebar cepat dan masih bertahan hingga beberapa hari. Kabar bahwa dua anggota 'Black Dragon' berhasil ditaklukkan membuat semua siswa shock. Berita itu tersebsr dari mulut ke mulut, pesan singkat, artikel di papan mading... dan lain sebagainya. Mereka seakan tak percaya dan tak menyangka bahwa mereka berdua—yang dikenal dengan kesangarannya—bisa ditundukkan oleh seorang anak baru nan polos bernama Cho Kyuhyun. Baru pagi hari, mereka sudah sibuk membicarakan Kyuhyun dan 'Black Dragon'.
"Kau sudah tahu? Leeteuk sunbae... yang dikenal dengan dua kepribadiannya yang mengerikan itu juga berhasil dijatuhkan oleh Cho Kyuhyun!"
"Gurae? Aigoo... ini sulit dipercaya!"
"Sekuat itukah Cho Kyuhyun? Kelihatannya... dia anak yang biasa-biasa saja."
"Kau jangan menganggap remeh dirinya, pabbo! Kau bisa diremukkannya!"
"Hiii... dia begitu misterius. Jangan-jangan, sikapnya selama ini hanya demi menyembunyikan kekuatannya saja?"
"Bisa jadi..."
Para siswa sibuk bergosip ria di sepanjang koridor dan di dalam kelas. Saling berbisik dan berdecak tak percaya. Ada yang merasa senang juga ketika mendengar 'Black Dragon' bisa disudutkan, tapi ada juga yang tak sampai membayangkan akan begini jadinya.
Cho Kyuhyun berjalan menyusuri koridor lantai tiga menuju kelas. Ia segera saja dihujani tatapan-tatapan tak enak dari siswa-siswa yang ada di sekitarnya. Beberapa berbisik sambil memandangnya, membuat Kyuhyun heran dan sedikit menundukkan kepalanya.
"Kudengar ia berhasil membuat Yesung sunbae masuk rumah sakit."
"Mwo? Jadi... Yesung sunbae masuk rumah sakit karena dia?"
Beberapa percakapan tak sengaja ditangkap telinga Kyuhyun saat melintas. Membuatnya tak nyaman.
"Leeteuk sunbae juga babak belur karenanya. Ck! Benar-benar sulit dipercaya. Dia, kan, anak baru di sini. Hebat sekali dia..."
"Akankah Kim Heechul-ssi akan membalas kekalahan dua rekannya?" Kalimat itu langsung saja menusuk benak Kyuhyun. Benar. 'Black Dragon' masih ada satu orang lagi. Diam-diam Kyuhyun menolehkan kepalanya ke belakang.
"Bisa jadi... Heechul-ssi akan menantangnya berduel satu lawan satu."
Mendengar itu, Kyuhyun lantas menarik kepalanya. Ia terdiam sejenak dan memiringkan kepalanya.
'Berduel?' Tanyanya dalam hati. 'Seperti apa... Kim Heechul itu?'
.
.
"Udara hari ini dingin, ya? Tadi malam, saljunya deras sekali..." Keluh Pemuda berambut blonde sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya.
"Ne, Hyukkie... kalian tahu? Tubuhku sampai tak mau digerakkan pagi harinya!" Keluh pemuda berambut spike. "Ne. Shindong tak ikut makan?"
"Molla, Donghae hyung. Mungkin dia sedang merencanakan program diet." Ryeowook terkekeh setelah berkata demikian, diikuti Eunhyuk dan Kyuhyun.
"Wahahaha! Kau mungkin benar!" Donghae kini ngakak, mencuri perhatian siswa lain yang sedang menyantap makanan di halaman belakang ini hingga menatap aneh ke arahnya. Sadar diperhatikan, Donghae pun terdiam. Ia salah tingkah. Ia menganggukkan kepalanya kaku seakan minta maaf. Eunhyuk, Kyuhyun dan Ryeowook hanya bisa cekikikkan.
Mendadak suasana hening. Hanya terdengar dentingan sendok dan suara-suara obrolan yang berbaur di ruang kantin. Keempat pemuda di meja tengah itu nampak sibuk dengan makanan dan pikiran sendiri. Ryeowook tengah asyik memakan roti lapisnya, sedangkan Donghae dan Eunhyuk sibuk berdua. Mereka nampak sedang serius mencoret-coret kertas dan menggambar banyak lingkaran dengan teratur. Mungkin... mereka sedang membuat posisi dance mereka.
Kyuhyun terlihat memainkan sendok pada supnya yang tinggal kuah saja itu. Matanya serius menatap kotak susu putihnya. Pikirannya melayang ke saat-saat ia bertemu dengan Kim Heechul di koridor. Ia yang baru saja membuat Leeteuk tak berdaya tiba-tiba mendapati Heechul sudah berdiri di hadapannya—walaupun agak jauh. Sorot mata sang kakak kelas itu terlihat tajam dan penuh dendam. Tapi Kyuhyun hanya menatapnya datar, sedikit menatapnya lemas. Sepertinya... Heechul sudah marah dan ingin cepat-cepat menghabisinya waktu itu. Sayangnya saja hal itu ditundanya karena merasa belum saatnya. Wajah Heechul saat itu... masih tergambar jelas di kepalanya. Begitu menyita pikirannya.
"Kyu?" Ryeowook yang menyadari keanehan sahabatnya lantas memanggil. Tapi Kyuhyun tetap terdiam. Eunhyuk dan Donghae bertatap-tatapan.
"Ne, Kyu-ah! Waeyo?" Eunhyuk menggoyangkan sedikit pundak Kyuhyun agar pemuda itu tersadar dari lamunannya. "Wajahmu serius sekali."
"Ah! A-anni..." Kyuhyun tersentak dan menggerak-gerakkan kedua tangannya. Tapi, ia kembali diam.
"Tuh, kaan... pasti ada apa-apanya!" Protes Ryeowook sambil cemberut. Kyuhyun bingung harus tersenyum atau bagaimana.
Donghae memajukkan tubuhnya. "Ne... ada yang ingin kau bicarakan, Kyu-ah?" Kyuhyun ragu sejenak dengan pertanyaan kakak kelasnya itu.
Kyuhyun melirik tiga sahabatnya itu bergantian. "Sebenarnya... Heechul sunbae itu... orang yang seperti apa?" Tanya Kyuhyun tiba-tiba. Ketiga sahabat itu pun mendadak terdiam. Mereka saling bertatap-tatapan.
"H-he? Kenapa kau tiba-tiba bertanya begitu?" Kata Ryeowook tak mengerti.
"Iya. Kenapa kau seakan terobsesi padanya akhir-akhir ini?" Eunhyuk ikut bertanya. Tapi, boro-boro Kyuhyun menjawab pertanyaan kedua sahabatnya itu, ia malah menatap mereka dengan tatapan tajam dan serius. Membuat Eunhyuk dan Ryeowook tercekat. Donghae hanya menatap Kyuhyun diam-diam. Ia mengerti maksud tatapan serius adik kelasnya itu.
"Kau benar ingin mengetahuinya, Kyu-ah?" Pancing Donghae tiba-tiba, membuat Ryeowook dan Eunhyuk menoleh cepat ke arahnya. Kyuhyun mengalihkan tatapannya ke arah Donghae.
"Walaupun kelihatannya ia tegas dan menakutkan, tapi dibalik itu semua ia kesepian." Ryeowook, Eunhyuk membulatkan matanya, sedangkan Kyuhyun hanya mengernyit tak mengerti. Donghae menerawang murid-murid lain yang berseliweran.
"Apa... maksudmu?"
.
.
Heechul berjalan menyusuri koridor lantai dua, hendak menuju kelasnya. Ia berjalan di sisi kiri sambil menegakkan kepalanya angkuh. Wajahnya datar dan matanya menatap lurus ke depan. Satu tangannya mengayun-ayunkan aksesoris rantainya yang tergantung di celana panjangnya. Murid-murid yang berpapasan dengannya dengan merendahkan diri menunduk ke arahnya, sementara Heechul hanya cuek dan terus berjalan.
Sejenak, wajahnya yang angkuh kini berubah serius. Ia berhenti memainkan aksesorisnya. Matanya menatap tajam jalan di depannya. Dadanya mendadak bergejolak.
"Minggir!" Serunya sambil menyamplak seorang murid yang berjalan di dekatnya hingga terjatuh. Heechul pun berjalan makin jauh, meninggalkan murid itu begitu saja—yang kini mulai ditolong beberapa temannya.
Baru saja Heechul melewati koridor dan berbelok, ia segera dikejutkan kedua rekannya yang sedang terduduk di sisi tangga. Melihat itu, mendadak Heechul menghentikan langkah. Matanya membulat. Dua rekannya yang sedari tadi membelakanginya itu perlahan berbalik ketika mengetahui ada orang di belakangnya.
"Yesung? Leeteuk?"
Heechul, Leeteuk dan Yesung terduduk di anak-anak tangga dalam diam. Beberapa siswa yang lewat tak mereka hiraukan. Hanya sesekali melirik mereka tajam. Yesung tiba-tiba berdiri dan bersandar di dinding.
"Tak terasa sudah sampai di sini." Katanya sambil memainkan uang koin di tangannya. Heechul yang duduk di anak tangga yang agak tinggi hanya bisa melirik Yesung sekilas. Leeteuk hanya terkekeh. Heechul menatap lurus ke satu titik di depannya. Ia meremat-remat kedua telapak tangannya.
"Apakah kau... berencana menantangnya seorang diri?" Tanya Yesung tiba-tiba—masih sambil terobsesi dengan koinnya. Heechul menoleh cepat. Ia menatap Yesung intens.
"Aku tidak akan main-main. Ini semua demi 'Black Dragon'." Gumam Heechul geram. "Aku serius."
.
.
Kyuhyun terlihat tercengang saat ini. Begitu juga Ryeowook dan Eunhyuk yang tak bisa menautkan bibirnya. Mereka mendengarkan semua pembeberan Donghae soal Heechul yang sebenarnya. Donghae hanya menatap santai ketiga sahabatnya itu, menyandarkan punggungnya ke kursi dan menghela napas.
"Mungkin tidak banyak yang tahu tentang hal ini. Tapi, asal kalian semua tahu saja, Aku sempat sekelas dengannya saat kelas satu dulu. Jadi... aku tahu bagaimana sifatnya dahulu." Ia kembali menyesap teh hangatnya. Eunhyuk dan Ryeowook menelan ludah.
"Heechul... walaupun ia terlihat tegas dan menakutkan, tapi di dalamnya ia tidak seratus persen seperti itu. Kedudukkannya sekarang ini hanyalah kedok belaka." Kata Donghae.
"Kedok?" Kyuhyun buka suara.
"Ya... awalnya ia tidak seperti sekarang. Hanya saja, sejak keluarganya retak dan berujung perceraian, batinnya mulai terbebani. Ditambah lagi ayahnya yang tak mau bertanggung jawab mengasuhnya bersama kakak perempuannya yang sakit-sakitan. Entah kemana ayahnya sekarang." Kyuhyun mengernyit mendengar cerita Donghae.
"Sejak saat itu, perekonomian keluarga Heechul jadi kacau. Ia bahkan harus bekerja untuk mengihupi dirinya dan kakaknya, sekaligus membiayai sekolahnya sendiri sehingga ia stress. Tak ada yang menyayanginya... mempedulikannya... ia merasa kesepian. Sebagai pelampiasan, ia pun menjadi yankee. Setiap ia memukul lawannya, ia merasa seperti memukul ayahnya, mencaci ibunya. Ia seakan mengutuk dunia ini. Ia terlihat begitu marah..." Kyuhyun tertegun, begitu juga Ryeowook dan Eunhyuk yang saling berpandangan.
"Tak disangka..." Gumam Eunhyuk bersimpati.
"Ne, Hyukkie-ah..."
"Karena kehidupannya yang kacau, sifatnya yang dulu ceria kini jadi kasar dan pemarah. Ia juga begitu sensitif..." Kata Donghae. "Sejak saat itu... Ia jadi hanya memikirkan keegoisannya saja." Mendengar percakapan itu, Kyuhyun tercenung. Ia menundukkan kepalanya sedikit. Matanya menatap lekat kedua tangannya yang bersembunyi di bawah meja kantin. Rasa gentar dan tak tega mulai merasukki benaknya.
'Haruskah... aku melawan orang seperti dia?'
.
.
Kyuhyun melangkahkan kakinya menuju ruang loker sepatu. Sambil mendesah lelah ia membuka pintu loker dan mengeluarkan sepatunya. Tapi, sesaat setelah lokernya terbuka, sebuah kertas jatuh dengan malasnya. Kyuhyun yang melihatnya sedikit tercekat dan segera mengambil kertas itu.
'Aku lawan berikutmu. Kau sudah menjatuhkan dua rekanku, jadi aku pun akan menjatuhkanmu. Ini duel. Kuharap kau datang.
Black Dragon's Kim Heechul.
Kyuhyun terbelalak saat membaca kertas itu. Surat ini... surat ini adalah surat tantangan dari Heechul, sang leader of 'Black Dragon'. Entah kenapa, tangan Kyuhyun mendadak gemetar. Kedua matanya bergerak gelisah. Apakah ia harus berhadapan dengannya? Rasa gentar entah kenapa kembali menyelimutinya. Keberaniannya tiba-tiba mengecil. Ia sudah merasakan aura hitam di sekitar kertas yang ia pegang. Aura yang mengerikan, yang sialnya sampai menggentarkan benak Kyuhyun. Sekuat inikah... Kim Heechul itu?
Lee Sungmin baru saja menuruni tangga dan berjalan menuju ruang loker. Ia merentangkan kedua tangannya tinggi-tinggi sambil mengulet. Sesekali ia melemaskan lehernya yang terasa kaku. Tapi, langkahnya terhenti ketika sampai di dekat deretan loker-loker. Mata kelincinya mendapati Kyuhyun tengah berdiri kaku sambil memegang sebuah kertas. Sungmin memiringkan kepalanya. Ada apa dengan Kyuhyun? Ia pun berniat untuk menyapa adik kelasnya itu.
"Ne, Kyuhyun-ah? Kau baik-baik saja?" Tanyanya lembut sambil menepuk pundak Kyuhyun. Tapi sialnya, orang yang ia tepuk sebegitu terlonjaknya sehingga ia ikut kaget.
"Eh? Waeyo, Kyuhyunnie?" Tanya Sungmin ketika mendapati betapa kagetnya Kyuhyun. Matanya terbelalak dan sedikit panik, membuat Sungmin mengernyit samar. Kyuhyun hanya terdiam sambil menatap lekat kedua mata Sungmin. Tatapan mata Kyuhyun... mencerminkan betapa bimbangnya ia saat ini. Sungmin menyadarinya... juga mengerti akan hal itu.
.
.
Kyuhyun duduk termenung di sudut kedai es krim langganannya bersama Sungmin. Kepalanya menoleh ke samping, menatap lurus ke luar jendela. Kedua matanya kosong memperhatikan jalanan yang ramai serta orang-orang yang lalu-lalang. Telinganya juga bisa mendengar bunyi bel pintu kedai yang senantiasa bergemerincing ketika pelanggan datang.
"Ini pesananmu, Kyuhyunnie..." Sungmin baru saja kembali dari meja pemesanan sambil membawa dua gelas es krim. Lamunan Kyuhyun segera buyar.
"A-ah, ne..." Gumamnya seraya menerima sodoran es krimnya. Sungmin lantas duduk di hadapannya.
"Kyuhyun-ah... hari ini kau kelihatan aneh. Ada apa?" Tanya Sungmin bersimpati. Mata Kyuhyun membulat.
"Uum..."
"Apakah karena Heechul?" Tebak Sungmin yang lantas menohok hati Kyuhyun. Hampir saja ia tersedak es krimnya sendiri. Kyuhyun mulai salah tingkah, sedangkan Sungmin—tentu saja—menatapnya curiga.
"Kau... mengkhawatirkan saat-saat untuk berhadapan dengannya, kan?" Tanya Sungmin menyelidik. Hal itu berhasil membuat Kyuhyun bungkam. Ia menunduk.
"Aku..." Gumam Kyuhyun yang kemudian berjeda. "Aku tak mau bertarung melawannya." Sungmin tercekat mendengarnya.
"Waeyo?" Kyuhyun menatap mata Sungmin dengan tatapan sulit dibaca.
"Kurasa... dia bukan lawan yang pantas untukku..." Katanya seraya menatap ke arah lain. Ekspresi wajahnya terlihat seakan keberatan. Ia kembali teringat akan perkataan Donghae tadi siang. Cerita itu cukup membuat Kyuhyun shock dan merasa tak nyaman. Apa iya... ia tega melukai orang seperti itu?
"Kyuhyun-ah..." Saat Sungmin ingin meminta penjelasan, Kyuhyun lantas memotong.
"Dia... bukan orang yang seperti ini. Dia begini hanya karena masa lalunya yang kelam. Dia menjadi yankee hanya untuk melampiaskan kekecewaannya. Aku tidak ingin mencampuri urusannya..." Kata Kyuhyun tak berjeda. "Dia... dia punya alasan tersendiri akan kedudukkannya saat ini, hyung..."
'Sama sepertiku saat ini... yang telah kehilangan sahabat baikku.'
Sungmin hanya terdiam seraya menatap Kyuhyun penuh arti.
"Aku... tidak bisa, hyung..." Gumam Kyuhyun. Sungmin mendesah. Tak lama kemudian ia tersenyum.
"Kyuhyun-ah." Panggilnya, membuat sang adik kelas menengadahkan kepalanya. "Aku tahu kau orang yang selalu mengandalkan keseriusan." Kata Sungmin. "Kalau begitu... apakah kau akan mengabaikan keseriusan orang lain?" Mendengar itu, Kyuhyun terhenyak.
"Kau tahu? Heechul sangat serius ingin berhadapan denganmu." Sungmin menerawang. "Apa kau tega mengabaikannya?" Kyuhyun menatap es krimnya. Sungmin tersenyum dan memegang kedua tangan Kyuhyun.
"Kyuhyun-ah... kau bukan akan melukai perasaan dan mencampuri urusannya." Ujar Sungmin lembut. Ya. ia juga tahu latar belakang Heechul. "Melukai seperti itu bukan bertarung namanya. Saat ini kau hanya sedang mencari apa yang harus kau dapatkan dari masa lalu, yaitu jati diri. Heechul pun juga sama."
Kyuhyun tertegun mendengar kata-kata bijak yang keluar dari mulut Sungmin. Membuat bebannya berangsur-angsur menghilang. Sungmin mengelus punggung tangan Kyuhyun dengan lembut.
"Gwaencahana, Kyuhyun-ah. Kau pasti bisa. Jangan sekalipun bersikap kau itu lemah." Ucapnya seraya tersenyum lebar dan yakin. "Balaslah keseriusan lawanmu itu." Entah kenapa, setelah mendengar kata-kata terakhir Sungmin, semangat Kyuhyun kembali merebak. Rasa gentar yang sesaat menguasai benaknya itu lama-lama menghilang.
Boleh saja Heechul menjadi yankee karena masa lalunya yang tidak menyenangkan, seperti Kyuhyun yang begini karena kehilangan sahabat baiknya. Tapi... sekali lagi. Heechul benar-benar serius mengajaknya berduel satu lawan satu dan itu adalah kehormatan bagi Kyuhyun sendiri.
"Aish! Kyuhyun-ah! Esnya mulai mencair, tuh!" Sungmin segera melepaskan genggaman tangannya ketika melihat es krimnya dan es krim Kyuhyun mulai meleleh dan lembek. Kyuhyun juga tercekat dan segera menampung lelehan es krim yang hampir keluar dari bibi gelas. Menyadari begitu panik dan konyolnya mereka, mereka pun terkikik dan mulai tertawa.
Benar kata Sungmin, Kyuhyun bertarung melawan Heechul bukan dilihat dari masalah dan latar belakang masing-masing, tapi dari keseriusan mereka sendiri. Ia bukannya mencampuri atau melukainya. Jadi, tidak masalah. Ini demi mencapai jati diri... dan menjunjung keseriusan masing-masing.
.
.
Keesokan harinya...
Neul Param High School
"Ne, kau dengar? Heechul sunbae menantang Cho Kyuhyun untuk berduel!"
"Jinjjayo? Aiish... persaingan mereka semakin panas saja."
"Kali ini akan jadi seperti apa, ya... apakah Heechul-ssi akan bernasib sama dengan dua temannya?"
"Hush! Itu tidak akan! Kau bisa lihat sendiri Heechul-ssi itu seperti apa! Jangan sembarangan..."
Oke. Hari ini, Neul Param High School terlihat ramai. Mereka asyik membicarakan perihal ditantangnya Cho Kyuhyun berduel dengan Kim Heechul 'Black Dragon'. Tak disangka berita itu cepat seklai menyebar dan jadi bahan pembicaraan yang hangat. Benar saja. Siapa, sih, yang mau melewatkan berita menarik seperti ini. Seorang siswa baru—yang baru sebulan sekolah di sini—akan ditantang duel oleh murid senior berpredikat yankee terkuat di sekolah ini? Memang kedua orang itu begitu menarik dan mencolok. Mereka juga terkenal di kalangan murid-murid di sini.
Di koridor, beberapa murid juga nampak membicarakan hal tersebut. Ekspresi wajah mereka terlihat antusias dan tak percaya. Mereka mulai menjagokan Heechul dan Kyuhyun dan sampai-sampai ada pula yang bertaruh siapa yang bakal menang nantinya. Ohohoho... pertarungan ini seperti pertarungan penting saja.
"Menurutmu... Apakah Kyuhyun bisa menaklukkan Heechul oppa, Unni-ah?" Tanya seorang gadis berambut hitam dengan aksen high-light merah pada seniornya. Sang senior yang sedang bersandar di tembok dekat jendela koridor pun hanya bisa mendesah sambil bersedekap.
"Haah... entahlah, Yuri-ah... aku juga penasaran." Kata sang senior—Jessica—sambil melirik ke arah luar jendela. "Semua murid, bahkan guru sekalipun sedang panas-panasnya membicarakan tentang duel ini." Gumamnya.
"Kurasa... Heechul oppa dalam masalah." Yuri memberi pendapat. Jessica hanya melirik kecil ke arah rekan termudanya itu, lalu kembali menatap ke luar jendela.
'Bagaimana hasilnya nanti?'
Di markas 'Black Dragon', Heechul nampak terduduk sendirian sambil memainkan rantai-rantaiannya. Bola matanya mengikuti gerak-gerik si rantai dengan seksama.
"Aku sudah bosan terus-menerus diam seperti ini." Gumamnya. "'Black Dragon' lah yang berhak menempati ranking teratas." Ia perlahan menengadahkan kepalanya ke depan. Kedua matanya menatap lurus dengan tajam.
"Aku akan menjatuhkanmu. Cho Kyuhyun."
.
.
Suasana kelas 2-2 terlihat sunyi. Yang terdengar hanya ocehan guru sejarah yang sedang menerangkan tentang perang Korea dan suara jam berdetik. Beberapa murid tengah sibuk menulis dan beberapa lagi tertidur pulas hingga menciptakan pulau di buku mereka.
Di bangku barisan tengah, Kyuhyun nampak terdiam. Kedua matanya menerawang ke arah sudut depan kelas, memperhatikan sebuah lemari sebagai titik konsentrasi. Pikirannya melayang ke saat-saat ia menerima surat tantangan dari Heechul dan pembicaraannya dengan Sungmin kemarin. Tapi tak lama kemudian, ia menarik pandangannya. Kyuhyun mengepalkan tangannya di atas meja dan menatapnya lekat. Perlahan kepalannya mengerat.
Tak jauh dari bangkunya, sepasang mata memperhatikannya dengan sedikit khawatir. Ya, siapa lagi kalau bukan teman sekelasnya, Kim Ryeowook. Ia nampak sedang memain-mainkan bolpoinnya seraya menatap Kyuhyun. Ia sedikit gelisah mengetahui Kyuhyun akan berduel dengan the most yankee di sekolah ini. Apalagi... Kyuhyun hanyalah anak baru di sini. Bagaimana pendapat orang nantinya?
"Wokkie-ah!" Panggil salah satu murid sambil sedikit berbisik. Ryeowook yang merasa dipanggil pun menoleh.
"Ne?"
"Kudengar... Kyuhyun ditantang Heechul sunbae untuk bertarung, ya?" Tanyanya. "Aiish... aku tidak mengira akan begini jadinya."
"Kau pikir aku juga akan mengiranya!" Potong Ryeowook dengan nada tinggi yang sekuat tenaga ia tahan.
"Aah... anni... aku tahu, sebagai sahabatnya, kau pasti mengkhawatirkannya." Katanya sambil mengibas-ngibaskan tangannya. "Hanya saja... apa kau yakin Kyuhyun akan berhasil? Lawannya Heechul sunbae, lho... Kim Heechul!" mendengar itu, Ryeowook sempat ragu. Ia jadi takut kalau sahabatnya itu nanti akan kalah dan malah jadi tak berdaya. Tapi... ia tahu siapa sahabatnya itu. Perlahan tapi pasti, ia pun mulai mempercayai kekuatan Kyuhyun dan ia yakin bahwa Kyuhyun pasti bisa.
"Yaah... kuharap Kyuhyun bisa memenangkan duelnya. Kalau berhasil menjatuhkan Heechul sunbae, sejarah yankee di sekolah ini mungkin akan selesai. Kita bisa hidup dengan tenang." Harap sang teman sungguh-sungguh. Ryeowook menolehkan kepala ke arah temannya itu dan menatapnya sweatdrop.
"Hahaha... kau ini ada-ada saja!" Tapi, benar juga kata temannya itu. Sekolah ini perlu perbaikkan yang mendasar tentang masalah yankee-yankee-an seperti ini! Begitu meresahkan!
Ryeowook kembali menatap Kyuhyun. Ia menatapnya penuh harap.
'Aku yakin, kau pasti bisa mengalahkan Heechul sunbae... Cho Kyuhyun.'
.
.
Bel pulang sekolah pun berbunyi nyaring. Suara gaduh murid-murid mulai terdengar lagi. Tapi kali ini tak terdengar suara teriakan bahagia, tapi sebagai gantinya malah terdengar gerumulan mereka yang menyatu di udara. Mereka berkelompok, berbisik-bisik tentang 'acara' yang tidak biasa siang ini.
"Kau akan melihat duel mereka?"
"Inginnya, sih, begitu. Tapi... itu tidak akan mungkin..."
"Heechul-ssi tidak akan membiarkan siapapun mengganggunya. Ia pasti akan menyeret Cho Kyuhyun itu ke markasnya yang tertutup dan mengerikan itu."
"Aah... sayang sekali! Aku ingin menyaksikannya..."
"Ya! Siang ini akan menjadi hari bersejarah untuk sekolah ini. Cho Kyuhyun dari kelas 2-2 ditantang berduel dengan Kim Heechul-ssi dari 'Black Dragon'? Ini tidak biasa!"
"Hei! Kau menjagokan siapa?"
"Aku mungkin akan menjagokan Cho Kyuhyun. Kuharap dia akan membawa perubahan untuk sekolah kita."
"Perubahan? Kau yakin? Lawannya Kim Heechul, lho!"
"Kau benar... Heechul-ssi pasti tidak akan membiarkan anak baru seperti dia melengserkan kedudukkannya sebagai yankee teratas di sekolah ini!"
"Haah... semoga saja Cho Kyuhyun bisa selamat dari cengkeraman maut si 'iblis'. Kasihan dia."
Semuanya ramai membicarakan duel Heechul vs Kyuhyun yang katanya akan berlangsung siang ini. Banyak yang penasaran dengan jalannya duel dan ingin melihatnya langsung. Tapi, mungkin tidak akan bisa karena tempat duel ada di markas 'Black Dragon' yang sudah bercap khusus itu. Siapa yang menyusup, akan tahu akibatnya. Itu sudah pasti. Baru asyik-asyiknya membereskan buku-buku dan tas mereka sambil bergosip ria, dari arah ujung koridor berjalanlah seorang pemuda berambut hitam bregelombang—dengan sangat tenang dan santai. Tapi walau begitu, wajahnya sedikit datar dan serius. lantas semua langsung terdiam dan tatapan tertuju pada pemuda itu. Semua murid yang ada disekitar pemuda itu saling berbisik dan menatapnya dengan tatapan bermacam-macam. Antara penuh harap, tak percaya, pesimis, juga sinis pun menghujani tubuh si pemuda.
Ya. pemuda yang terlihat percaya diri dan santai itu tak salah lagi adalah Cho Kyuhyun. Murid pindahan yang baru sebulan lebih sekolah di Neul Param High School ini. Waktu yang masih singkat untuknya beradaptasi dan secara tidak sengaja ia malah mengalami 'sedikit' masalah dengan para yankee di sekolah ini.
Cho Kyuhyun berjalan lurus ke depan dengan mantab. Tak lama kemudian, di belakangnya Kim Ryeowook muncul dari balik tembok dan berjalan mengikutinya. Wajahnya yang biasanya polos dan sedikit penakut, kini perlahan berubah. Ia kini menampakkan ekspresinya yang beda, sedikit berani dan percaya pada Kyuhyun, sahabatnya. Setelah melewati koridor lantai tiga, di bagian tangga turun berdiri dua laki-laki berambut spike dan blonde. Ryeowook dan Kyuhyun sedikit tercekat saat mendapati mereka.
"Yo!" Sapa si pemuda spike. Kyuhyun hanya bisa tersenyum dan kembali berjalan bersama Ryeowook—yang kini diikuti dua pemuda tadi—Lee Donghae dan Lee Hyuk Jae. Selama perjalanan menuju keluar gedung sekolah, Kyuhyun dan yang lainnya tak bisa lepas dari tatapan-tatapan dan lirikkan-lirikkan miring dari semua siswa yang ada.
"Aku tak yakin anak itu bisa mengalahkan Kim Heechul-ssi. Mungkin... Heechul-ssi akan menang telak."
"Kau biacara apa? Cho Kyuhyun tidak selemah itu!"
Kyuhyun mendengar sedikit bisikkan murid-murid di sekitarnya, tapi ia pura-pura tuli. Terserah apa kata mereka, tapi yang jelas, sejarah baru akan terjadi mulai saat ini. Kyuhyun dan yang lainnya kembali berjalan lagi dan bertemu dengan empat orang gadis dengan rambut berhigh-light di koridor lantai dua. Siapa lagi kalau bukan 'The Four Princesses'. Mereka manpak bersandar pada tembok koridor sembari bersedekap.
"Kami akan ikut denganmu." Kata Jessica seraya tersenyum yakin, yang diikuti anggukkan dari tiga rekan lainnya.
"Gomawoyo, noona-ah..."
"Aku juga akan mendukungmu!" Tiba-tiba seseorang muncul dari salah satu kelas yang sudah kosong. Ia berjalan keluar sambil menenteng tasnya.
"Sungmin hyung!" Seru Ryeowook.
"Jangan lupakan pembicaraan kita kemarin, Kyuhyun-ah. Aku yakin, kau pasti bisa." Kata Sungmin seraya mendekat. Kyuhyun hanya tersenyum sambil mengangguk. Kyuhyun pun kembali melanjutkan perjalanan. Di lantai satu dekat ruang loker, ia dan semuanya kembali dikejutkan oleh sesosok pemuda serba hitam, Tan Hangeng, dan tak jauh darinya berdiri tiga gadis berpenampilan drak gothic. Oke, siang ini, Kyuhyun mendapat banyak pengikut dan pendukung. Orang-orang yang dulu adalah musuhbya, kini mendadak berbalik seratus delapan puluh derajat. Mereka begitu mendukung Kyuhyun untuk berhadapan dengan Heechul.
"Kami semua percaya padamu, Kyuhyun sunbae!" Kata Victoria.
"Ne, gomawoyo." Kata Kyuhyun. Sementara Hangeng hanya bisa menarik ujung bibirnya sambil menatap Kyuhyun yakin.
"Kau sudah ditunggu." Katanya singkat sambil menyentakkan kepalanya ke samping. Kyuhyun menatap serius kakak kelasnya itu dan mengangguk.
Dari sudut yang agak jauh, sepasang mata cokelat legam menatap Kyuhyun dengan tatapan sdikit cemas. Pemuda pemilik mata itu—pemuda berlesung pipit—terlihat mengikuti kemana perginya si adik kelas dengan matanya.
"Kyuhyun-ah... jaga dirimu."
.
.
Suasana markas khusus 'Black Dragon' terlihat sepi. Salju putih mulai turun lagi siang ini, menebarkan hawa dingin menusuk tulang. Ryeowook dan Eunhyuk segera mengeratkan coat mereka. Kyuhyun sudah mulai memasukki kawasan 'berbahaya' milik 'Black Dragon'. Di hadapannya kini berdiri dua anggota 'Black Dragon' Yesung dan Leeteuk. Yesung terlihat angkuh sementara Leeteuk tengah menggigiti jari-jarinya sambil sesekali terkikik tak jelas. Hawa mengerikan mulai terasa menggerayang, membuat Ryeowook dan Eunhyuk sedikit bergidik.
"Mulai dari sini, hanya Kyuhyun yang diizinkan lewat." Kata Yesung.
"Mwoya?" Donghae yang begitu membela Kyuhyun nampak memprotes. Tapi dengan sigap Kyuhyun mencegahnya.
"Gwaenchana. Aku tak apa-apa. Kalian tunggu di sini saja." Ujar Kyuhyun meyakinkan. Setelah menghela napas, Kyuhyun pun melangkahkan kakinya menuju pintu markas yang sudah berada tepat di hadapannya itu dengan mantab. Donghae dan yang lainnya terlihat sedikit khawatir melihat punggung Kyuhyun yang mulai menjauh.
"Kami akan menunggumu... Kyu-ah..."
Kyuhyun berjalan melewati Yesung dan Leeteuk. Melihat Kyuhyun mendekat, Leeteuk terlihat senang sekali—dalam konteks yang tidak biasa—sambil menggigiti jari-jarinya dan terkikik. Ia hendak mendekati Kyuhyun, tapi segera dicegah Yesung.
"Kau tidak usah ikut campur, Leeteukkie." Gumamnya pada Leeteuk.
"Ihihihi... arrayo, Yesungie..." Leeteuk pun tergelak, tawanya membahana. Tak lama kemudian, Kyuhyun pun lenyap di balik pintu markas.
Suasana dalam markas terlihat sedikit gelap dan remang-remang. Hanya ada sedikit cahaya yang masuk lewat celah-celah jendela yang setengah terbuka. Markas terlihat sudah diset ulang sehingga terasa begitu lebar. Barang-barang yang awalnya berantakan, kini sudah disingkirkan, bangku-bangku yan tak terpakai sudah ditumpuk rapi. Di salah satu bangku yang masih tersisa, duduklah Kim Heechul sambil memutar-mutarkan aksesoris rerantaiannya. Melihat lawannya sudah masuk, ia pun berpaling dengan tatapan tajam.
"Kau sudah datang, Cho Kyuhyun?" Tanyanya dengan nada yang sedikit mengerikan. Kyuhyun terdiam sesaat. Ada rasa bergidik saat merasakan aura di sekitar markas ini, tapi tak jadi masalah baginya.
"'Black Dragon's... Kim Heechul sunbae..." Gumam Kyuhyun seraya menatap lurus ke arah calon lawannya itu. Heechul pun bangun.
"Sudah lama aku menunggu saat-saat ini." Kata Heechul seraya berjalan menghampiri Kyuhyun. "Aku sudah muak dengan segala aksimu itu, Cho Kyuhyun." Heechul kini berjalan mengitari adik kelasnya itu. Kyuhyun terlihat waspada dan mengikuti perpindahan Heechul dengan matanya.
Heechul tersenyum sinis. Dengan sigap ia memposisikan dirinya di hadapan Kyuhyun. Ia melepas jaket cokelat kehitamannya dan melemparnya sembarangan. Tak lupa mengambil sesuatu dari kantung jas almamaternya. Sebah pin berwarna perak dan hitam berbentuk naga—dan memakaikannya di sisi kiri bawah jasnya. Kyuhyun menatapnya dengan tatapan tajam.
"Jaa, Cho Kyuhyun. Ayo, kita mulai."
Masing-masing segera memasang kuda-kuda. Suasana berubah tegang, di luar maupun di dalam. Hanya terdengar suara detak jam dinding yang sudah kusam dan hembusan angin musim dingin di luar. Suara detak jam dinding menjadi mesin penentu awal mulai pertarungan. Setelah jarum jam menunjukkan angka tiga dan jam berdentang tiga kali, pertarungan pun resmi dimulai. Kyuhyun dan Heechul yang sempat menahan gejolak di dada mereka—dengan meremat-remat kepalan tangan—kini pun bebas mengekspresikan emosinya. Tanpa diberi aba-aba lagi, mereka pun saling menerjang.
"HYAAA!"
.
.
TBC
A/N: Hyaaa! Maaf baru sempet apdet sekaraang! *stres sendiri*. Tugas numpuk banyak, niih... belum disuruh bikin karya ilmiah, bikin kostum drama musikal, musyawarah kemah, haduu... pusing-pusing deh, saia. ==
Ff chap ini sengaja saia putus di sini karena sudah menghabiskan 13 halmaan word. Biar kalian semua penasaran dulu, huwakakakak! *digantung*. Mau gimana lagi, kalo diterusin, saia yakin ini bakal molor dan kelihatan monoton banget. Jadi sabar dikit, ya... ini aja setelah selesai langsung saia apdet. Jadi, kalo ada kesalahan, tanggung sendiri, ya... wkwkwkwk. XP
Oke, lah! Daripada kebanyakan cuap-cuap dan makin malam aja nih hari, mending saia cukupkan sekian dulu, deh. Kurang lebihnya mohon maaf... deadline banget, nih. Hehehe... saa, yeorubeun... saia mohon reviewnya lagi... XD
Ms. Simple :D
