Disclaimer: Super Junior hanya milik mereka sendiri, SMent, dan Tuhan semata.
Chara: Cho Kyuhyun, other members of Super Junior and more (SMEnt's Artist)
Genre: Friendship, Romance
Rated: T
Summary: Musim semi telah datang. Hari kelulusan murid-murid kelas tiga pun tiba. Akankah Cho Kyuhyun menyatakan cintanya pada Choi Siwon? First fic about Cho Kyuhyun ^^. LAST CHAPTER! Don't like, don't read, ya.
Warning: Abal, Typo(s), Maksa, OOC, AU. WonKyu slight other couple.
Author's song list: Because of My Heart – A Little Thing Called Love OST, Sakura no Shiori – AKB48, Secret That Cannot Be Told – Jay Chou
Enjoy this! ^^
.
.
Me vs Yankee
.
.
Chapter 15: Finally
Sebulan kemudian...
Tak terasa musim semi telah tiba. Es-es salju yang bertengger di ranting-ranting pohon, dedaunan dan atap rumah telah mencair sepenuhnya, digantikan dengan bermunculannya bunga-bunga beraneka warna. Bau menyengat musim dingin telah hilang dan digantikan hangatnya sinar matahari.
Di kanan-kiri jalan terlihat bunga-bunga sakura mulai menunjukkan kuncupnya. Ah! Beberapa ada yang sudah mekar! Tapi belum seberapa...
Pagi ini, terlihat orang-orang mulai menjalani rutinitas hariannya seperti biasa. Bekerja, membersihkan rumah, sekolah, berdagang, dan lain sebagainya. Jalan raya kembali dijejali berbagai kendaraan dan manusia-manusia berlalu-lalang.
Neul Param High School
Suasana sekolah Neul Param High School ramai seperti biasanya. Tapi kini sedikit ada yang berbeda. Setelah 'Black Dragon' jatuh beberapa minggu lalu, suasana sekolah terlihat lebih santai. Tak ada lagi kerusuhan para yankee, dan—walaupun ada—itu tak separah sebelumnya. Cho Kyuhyun yang berperan dalam 'kejatuhan' 'Black Dragon' kini mulai disegani. Murid-murid mulai menatapnya hati-hati. Tapi, Cho Kyuhyun yang kini sudah lebih bisa berbaur dengan yang lain sedikit menepis rasa takut para murid akan aksinya yang tak terduga kemarin. Apalagi... kini dia diangkat sebagai ketua OSIS yang baru. Menggantikan Choi Siwon yang terpaksa pensiun akibat jadwal ujian yang padat.
Kini bulan sudah memasukki awal bulan Maret. Hari paling membahagiakan bagi murid-murid senior di setiap sekolah. Kenapa? Karena bulan ini adalah bulan kelulusan bagi mereka. Dari sekolah dasar hingga menengah pasti akan dipajang papan berbingkai dengan ukuran besar yang bertemakan kelulusan. Upacara wisuda, penerimaan ijazah, perpisahan, akan mewarnai hari kelulusan mereka. Perpisahan... semua pertemuan pasti ada perpisahan. Walaupun mereka senang karena berhasil lulus dengan nilai memuaskan, tapi di sisi terdalam, mereka juga merasa sedih karena harus berpisah dengan teman dan guru mereka di sekolah terdahulu.
Di Neul Param High School kini sedang berjalan upacara penerimaan ijazah sekaligus pesta perpisahan. Murid-murid kelas tiga terlihat duduk di barisan depan dan menyematkan pita biru di seragam atau jas almamaternya yang menandakan mereka adalah seorang wisudawan dan wisudawati. Sementara murid kelas satu dan dua duduk tepat di belakang mereka, menyaksikan kelulusan sang kakak kelas.
Cho Kyuhyun duduk di sisi Eunhyuk dan Ryeowook di barisan siswa-siswa kelas dua. Eunhyuk dan Ryeowook tengah mengobrol seru sambil menunjuk-nunjuk ke arah deretan kursi kelas tiga. Sesekali mereka tertawa renyah. Kyuhyun hanya terdiam saat ini, terkadang Eunhyuk ataupun Ryeowook mengajaknya berbicara sedikit-sedikit. Wajahnya dipenuhi rona bahagia karena beberapa kakak kelas yang ia kenal berhasil lulus dengan baik. Senyum puas tersungging di bibir tipisnya.
"Saatnya penyerahan ijazah." Ucap seorang MC. Tepuk tangan terdengar riuh, membahana ke segala penjuru ruang olah raga. Tak lama kemudian murid-murid kelas tiga dipanggil satu-satu ke atas panggung.
"Ijazah pertama diberikan kepada Choi Siwon dari kelas 3-1, dengan perolehan nilai tertinggi."
"Khamsahamnida, Sonsaengnim." Jawab Siwon seraya membungkuk saat menerima ijazahnya. Tepuk tangan dan decak kagum mewarnai acara penerimaan ijazah pagi ini. Tak usah ditanya, Siwon memang teladan di sekolah ini. Peringkatnya dalam pelajaran selalu yang tertinggi. Saking pintarnya Siwon, siswa-siswa yang lain sampai mengira jangan-jangan Siwon adalah robot dari masa depan yang tersesat di zaman kini.
"Waah... Siwon hyung memang hebat! Dia susah sekali dilengserkan!" Puji Eunhyuk seraya bertepuk tangan.
"Sebentar lagi, kita juga akan menjejakkan kaki di kelas tiga, Hyukkie-ah! Aduuh... aku gemetaran..." Komentar Ryeowook. Dari deretan tempat duduk yang sama, Kyuhyun menatap lurus ke depan. Ia nampak kagum akan sosok pemuda yang kini sedang menghadap ke arahnya seraya membungkuk dan tersenyum ramah. Siwon memang benar-benar hebat. Selama ini, ia juga sering diajari berbagai mata pelajaran olehnya. Maka dari itu, Kyuhyun terus-terusan berada di peirngkat atas di kelasnya. Tapi... selain itu, Kyuhyun juga menatapnya dengan tatapan yang sedikit berbeda. Kagum dalam konteks seperti ini, sih, ada... tapi, kagum dalam konteks lain... ah, ayolah! Kalian pasti tahu maksudku! Kyuhyun tersenyum kecil.
Setelah penerimaan ijazah, acara dilanjutkan dengan pesta perpisahan. Berbagai hiburan dan persembahan ditampilkan ketiga tingkat kelas. dari kelas satu hingga tiga. Untuk kali ini, giliran persembahan dari kelas 3-1, kelas Siwon dan Lee Sungmin. Menyadari itu, Kyuhyun langsung membulatkan matanya, sementara yang lain bertepuk tangan dengan antusias. Sungmin... Kyuhyun begitu menunggu-nunggu saat ini. Sungmin pernah bilang, kelasnya akan membawakan sebuah paduan suara yang lagunya diciptakan olehnya. Akan jadi seperti apa lagu ciptaannya setelah dibawakan bersama-sama?
Sebagai pencipta lagu sekaligus penanggung jawab, Sungmin mewakili teman-teman sekelasnya untuk memberikan hormat.
"Pada kesempatan kali ini, kelas 3-1 akan membawakan sebuah lagu yang diciptakan sendiri oleh kami sendiri, murid kelas 3-1 dengan mengumpulkan berbagai usulan kata dan nada. Khusus diperuntukkan pada acara ini." Begitulah kata sambutan dari Sungmin. Lagi-lagi suara tepuk tangan bergemuruh. Sungmin segera membungkuk dan berjalan menuju piano yang ada di sebelah kiri. Seorang gadis—yang berperan sebagai konduktor—segera menempatkan diri di tengah. tak lama kemudian, suasana jadi sepi. Dentingan piano yang dimainkan oleh jari-jari Sungmin mulai terdengar. Sebuah lagu perpisahan akan dipersembahkan sebentar lagi.
Angin musim semi
Dari manakah ia berhembus
Merubah warna
Jalanan yang begitu familiar di mataku
Di musim ini
Terdapat kebahagiaan sekaligus kesedihan di masa lalu
Kami akan memulai perjalanan kami
Di jalan yang baru
Melodi pertama terdengar lembut. Pembagian vokal terdengar sangat baik, dari suara satu, dua tiga, dan seterusnya. Dentingan piano mengalun dengan indahnya. Membuat semua orang terbius.
Bunga Sakura, tanda perpisahan
Aku malihat wajah teman-temanku
Seiring mereka melambai ke arahku
Bunga Sakura, menandakan air mata
Aku berdo'a bahwa aku tak akan pernah lupa
Saat-saat ini
Kyuhyun terhanyut akan lagu yang dibawakan Sungmin dan kawan-kawan. Setiap lirik yang dilantunkan begitu sendu dan menggambarkan tentang perpisahan yang dirasakan setiap kelulusan. Lagu yang membuat hati tentram, tapi juga sedih. Bisa dilihat matanya kini sedikit berkaca-kaca. Ia memperhatikan setiap wajah yang ada didepannya. Wajah Sungmin, Siwon dan yang lainnya.
Ketika aku menatap langit biru
Mereka berarak begitu cepat
Seakan memperlihatkan padaku
Begitu panjang jalan yang akan kutempuh
Entah di saat hari cerah atau hujan
Hari esok pasti akan datang
Jadi, aku akan tetap tersenyum
Seiring langkah yang kuambil
Bunga Sakura, tersemat dalam hatiku
Masa mudaku bagaikan hangatnya mentari
Bersinar terang melewati celah dedaunan
Bunga Sakura, yang menandai hari ini
Tak ada satupun yang akan lupa
Impian yang kini mulai bermekaran
Kelulusan, ya? Wajah-wajah yang kini ada di depan, esok hari tak lagi terlihat di sekolah ini. Pasti sedikit aneh rasanya tidak melihat wajah-wajah itu lagi. Senang melihat mereka berhasil lulus, tapi juga sedih karena kehilangan kebersamaan dengan mereka kelak. Lee Sungmin, Choi Siwon, Jessica Jung, Tan Hangeng, Lee Donghae... masihkah kita akan bertemu lagi?
.
.
Halaman depan sekolah begitu ramai setelah upacara penerimaan ijazah dan pesta perpisahan. Angin musim semi berhenbus lembut, menerbangkan helai-helai kelopak bunga sakura. Menambah semarak perayaan kelulusan tahun ini. Para wisudawan dan wisudawati sibuk berfoto, mengabadikan saat-saat indah ini bersama teman-teman, guru-guru dengan memamerkan gulungan ijazah dan pita tanda kelulusan. Beberapa ada yang berteriak saking senangnya. Ada pula yang menangis karena tak mengira akan lulus dengan nilai yang cukup memuaskan.
Sebagai murid kelas dua, Eunhyuk, Ryeowook, Shindong dan Kyuhyun bersama murid-murid lain sibuk membagi-bagikan setangkai bunga mawar untuk kakak-kakak kelas mereka yang lulus. Mereka juga sempat mengabadikan moment kebahagiaan ini dengan kamera pocket atau kamera ponsel mereka.
"Ne, Hyukkie-ah! Kyuhyun-ah! Wookie-ah!" Panggil seseorang seraya melambai ke arah mereka bertiga.
"Ah! Donghae hyuung!" Seru Ryeowook dengan suara khasnya. Donghae segera berlari ke arah mereka.
"Selamat atas kelulusannya, hyung." Kata Kyuhyun sambil tersenyum manis. Ia pun memberikannya bunga.
"Ne, chukkae! Aku tak membayangkan kau bisa lulus dengan nilai yang baik, hyung. Daebak!" Komentar Shindong.
"Aah... gomawoyo. Ya, Shindong-ah! Kau kira aku ini bodoh, apa?" Donghae segera meghadiahi Shindong sebuah jitakan. "Aish, jinjja! Aku senang sekali hari ini!" Kata Donghae setengah berteriak. Dikala Kyuhyun, Ryeowook dan Donghae sedang bersukacita, Eunhyuk hanya terdiam di belakang mereka. Ia sedikit cemberut dan matanya berkaca-kaca.
"Eh? Hyukkie-ah? Waeyo?" Tanya Ryeowook yang menyadari kebisuan Eunhyuk. Kyuhyun dan Donghae lantas menoleh.
"D-Donghae hyung... setelah lulus nanti... akankah kita bisa bertemu lagi?" Tanya Eunhyuk dengan nada sedikit bergetar. Kyuhyun dan Ryeowook nampak terdiam. Donghae hanya tersenyum. Ia pun menghampiri Eunhyuk dan membelai rambut blondenya yang halus.
"Pasti, Hyukkie-ah. Kita pasti bertemu lagi. Kita akan sering mengirimi SMS. Atau aku akan sering berkunjung ke rumahmu." Goda Donghae di akhir. Ia segera mendapatkan pukulan di perut. Ia mengaduh lirih.
"Jangan menggodaku di saat-saat begini, hyung!" Protes Eunhyuk. Semua pun tertawa. Donghae merangkul pundak Eunhyuk dan mendekatkan pemuda berambut pirang itu ke dekapannya. Eunhyuk yang masih manyun sedikit terlonjak. Sementara semua tertawa, Kyuhyun perlahan terdiam. Tawanya kini digantikan dengan senyum puas di bibirnya.
"Cho Kyuhyun." Panggil seseorang. Kyuhyun pun menoleh. Ia terbelalak. Keempat sahabatnya juga menoleh beberapa detik kemudian.
"He-Heechul sunbae...?" Gumam Shindong.
"Yesung sunbae dan Leeteuk sunbae juga...?" Lanjut Ryeowook. Ya. bisa dilihat sekarang ketiga anggota 'Black Dragon' berdiri di hadapan Kyuhyun dan kawan-kawan. Pemandangan itu menyita banyak pasang mata di sekitarnya. Tak ketinggalan para grup-grup yankee yang lain—'The Four Princesses', 'Monalisa', dan lain-lain—yang kebetulan juga berada di dekat situ. Dengan gaya yang—masih—angkuh mereka bertiga mendekati Kyuhyun.
"Heechul sunbae...? Yesung sunbae dan Leeteuk sunbae...?" Gumam Kyuhyun. Heechul nampak sedang membawa gulungan ijazahnya beserta setangkai bunga yang ia dapatkan dari murid lain. Yesung dan Leeteuk berada di belakang mereka—Yesung menenteng ijazahnya di pundak dengan tangan kiri dan menggenggam bunga di tangan kanan, sementara Leeteuk menggenggam ijazah dan bunganya di tangan kiri. Seperti biasa, ia masih kebiasaan menggigiti kuku-kuku tangan kanannya.
"Ihihihii... hahahaha..." Leeteuk berjalan lebih mendekat lagi ke arah Kyuhyun hingga Kyuhyun sedikit memundurkan tubuhnya. Tapi, sebelum kebablasan, Heechul segera menahan Leeteuk dengan tangannya. Menyadari itu, perlahan raut wajah Leeteuk berubah. Donghae, Eunhyuk, Ryeowook dan Shindong tak pernah menyangka ia bisa jadi seperti ini. Bahkan Kyuhyun sekali pun yang kini mengernyit heran. Leeteuk tiba-tiba memasang tampang kaku dan menunduk. Ia seperti merasa bersalah. Apalagi hingga ditahan oleh Heechul—sebagai peringatan. Wajahnya seakan berubah menjadi anak yang habis ditegur orangtuanya dan disuruh untuk minta maaf. Ekspresi ini... belum pernah muncul sama sekali. Membuat semua orang yang melihat tercengang.
"A-aku..." Leeteuk mulai berbicara dengan nada terbata. "Aku minta maaf!" Tegasnya setengah berteriak. Ia juga membungkuk dalam.
"HAAA?" Keempat sahabat Kyuhyun sontak berseru. Kyuhyun malah kedip-kedip mata tak mengerti.
"Aku... aku tak akan mengulang kejadian kemarin lagi!" Ujar Leeteuk lagi. Kali ini benar-benar... Kyuhyun tak dapat berkata-kata. Kemana sisi gelap Leeteuk yang dulu? Kalau begini... malah terlihat tambah mengerikan, kau tahu? Setelah acara heran-heranan akibat perubahan Leeteuk yang drastis, Heechul pun mulai angkat bicara, mencairkan suasana. Semua murid yang ada di situ lantas saja memperhatikan pembicaraan mereka.
"Kyuhyun-ah..." Panggil Heechul. Kyuhyun menengadah. "Aku ingin mengatakan sesuatu." Kyuhyun mengangguk kaku. Tiba-tiba saja ia didatangi begini... rasanya jadi aneh. "Aku... mengaku kalah olehmu. Kalaupun aku ingin mengajakmu berduel lagi, aku yakin aku tak akan bisa menang darimu." Kyuhyun mencoba bersikap normal.
"Tak disangka, bertemu dan bergelut masalah denganmu adalah sebuah berkah tersendiri bagi kami." Kata Yesung tiba-tiba sambil mengedikkan pundak. Kyuhyun memiringkan kepala.
"Entah kenapa... di balik semua ini aku merasa perlu bersyukur dan berterimakasih pada Tuhan karena telah dipertemukan denganmu." Mendengar kata-kata Heechul, Donghae, Eunhyuk, Shindong dan Ryeowook saling berpandang-pandangan.
"Secara tidak langsung... kau banyak mengajarkanku tentang arti 'serius'. Aku tak tahu kenapa kau begitu terobsesi akan kata-kata itu, tapi... hal itu menyadarkanku akan sesuatu." Kata Heechul. Beberapa detik kemudian, ia terlihat sedang mencari sesuatu di dalam saku jas almamaternya. Tak lama kemudian ia mengeluarkan benda itu dan menyerahkannya pada Kyuhyun. Kyuhyun menatap lekat-lekat benda di tangan kakak kelasnya itu. Benda itu, pin berbantuk naga berwarna hitam-perak...
"Mulai hari ini dan seterusnya, aku berhenti menjadi yankee... dan aku akan serius menjalani hidupku. Aku ingin memperbaikki semua yang sudah terjadi dan membersihkan nama baikku dan keluargaku." Heechul meraih tangan Kyuhyun dan menyerahkan pi tersebut pada Kyuhyun. Suasana yang tadu nyaris sunyi mendadak riuh. Mendengar Heechul akan berhenti jadi yankee, para siswa yang lain lantas berbisik-bisik tak percaya. Seorang Kyuhyun... bisa memberhentikan seorang Heechul sebagai yankee?
Kyuhyun tertegun dengan tindakkan dan kata-kata Heechul. Ia teringat akan cerita tentang latar belakang pemuda yang ada di hadapannya ini. Ya... ia memang harus berubah... untuk kebaikkannya.
"Heechul sunbae..."
"Anni. Panggil aku 'hyung'." Potong Heechul. Ia menyunggingkan sebuah senyum. Kyuhyun tercekat. Senyum itu...
"He-Heechul hyung..."
"Kau benar. Hidup harus serius. Kalau tidak... mau jadi apa nanti kita? Apalagi... kini aku sudah lulus." Kyuhyun melirik ke arah Yesung dan Leeteuk. Diam-diam ia mendapati mereka berdua tersenyum walaupun kecil dan tipis. Memnag bukan tipe mereka mengumbar senyum penuh arti. Melihat itu, Kyuhyun merasa lega... juga terharu. Ia merasa senang bisa membantu mereka menyadari keseriusan dalam hidup, walaupun awalnya melalui kekerasan.
"Maafkan aku... sudah melukai kalian tempo hari." Kyuhyun menunduk lalu membungkuk sambil memeluk sebuket mawar yang belum selesai ia bagi-bagikan.
"Tapi karena itu... kami jadi seperti ini, Cho Kyuhyun. Setelah kelulusan ini, kuharap kita bisa bertemu lagi... dan berteman." Kata Yesung. Kyuhyun terhenyak. Ia kemudian tersenyum dan kembali membungkuk.
"Mohon bantuan kalian..."
Setelah pernyataan Heechul dan kedua rekannya itu menyebar, para yankee yang masih bertahan pun berpikir untuk membubarkan geng mereka. Benar. Hidup harus serius dan bukan begini caranya. Bertarung tidak perlu dengan cara kekerasan, saling melukai bukan bertarung namanya. Iya, kan? Kyuhyun tidak hanya menyadarkan 'Black Dragon', tapi semuanya. Bisa dilihat, ternyata Kyuhyun berhasil membuat sebuah perubahan yang besar dan bermakna. Tak disangka, ya? Kyuhyun melemparkan pandangannya ke sekitar. Semua orang tengah tersenyum padanya dan mengklarifikasikan bahwa pendapatnya tentang keseriusan hidup ada benarnya juga. Dari kejauhan, Tan Hangeng, 'The Four Princesses', 'Monalisa', Lee Sungmin dan keempat sahabatnya menyimpulkan senyum bangga. Bahkan Choi Siwon yang kini sedang berada di atap sekolah—diam-diam menatap gerak-gerik Kyuhyun—pun merasa senang dengan keberhasilan tetangga dekatnya itu, walau sempat membuatnya khawatir.
Heechul menatap Kyuhyun sambil tersenyum.
"Aku serius, Cho Kyuhyun."
.
.
Cho Kyuhyun's POV
"Kyuhyun-ah... ppalli...!"
"Ch-Chakaman! A-aku..."
"Aah... kau tidak lihat Siwon hyung sedang di sana sendirian! Ini kesempatan!"
Oke. Siang ini, setelah aku berbincang sejenak dengan para 'Black Dragon' dan kakak kelasku yang lain, aku segera diseret ketiga sahabatku—Ryeowook, Eunhyuk dan Shindong—ke atap. Berhubung bunga mawarku tinggal satu, mereka memintaku untuk menyerahkannya pada Siwon hyung yang sedari tadi sedang menyendiri di atas. Mungkin sedang memotret moment kelulusan dari sana. Dia, kan, pintar dalam memotret. Kini aku dan sahabat-sahabatku sedang berdiam di salah satu ambang pintu atap sekolah. Bisa di lihat, di depan sana—walaupun agak jauh—Siwon hyung sedang menjepret-jepret gambar dan tersenyum puas ketika jepretannya terlihat cukup bagus. Oh... aku tak tahan melihat senyumnya...
"Eunhyukkie... jangan dorong-dorong seperti itu!" Protesku sedikit mendesis, takut terdengar oleh Siwon hyung.
"Serahkan bunga mawar itu pada Siwon hyung! Sekalian kau ungkapkan perasaanmu padanya, Kyu-ah! Kami akan menjagamu dari sini!" Ryeowook ikut mendesakku agar aku cepat-cepat menghampiri Siwon hyung.
"M-mwo?" Pekikku tertahan.
"Aiish...! Kau pasti menderita terus menyimpan perasaan itu, kan! Maka dari itu, mumpung masih ada kesempatan, ungkapkanlah! Hari ini, kan, terakhir kali kau melihat Siwon hyung ada di sekolah ini. Ingat itu, Kyu!" Kata Shindong. Aah! kalian membuatku bingung! Di satu sisi, kata-kata Shindong ada benarnya juga. Tapi di sisi lain, aku tak berani mengungkapkan perasaanku ini. Dadaku langsung saja berdebar kencang tak karuan. Apalagi aku terus didesak ketiga sahabatku itu. Astaga... mengungkapkan kata cinta itu tak semudah yang kalian kira!
"Aah... bagaimana ini... itu tidak mudah, arraseo!"
"Kau pasti bisa, Kyuhyunnie! Siwon hyung pasti mengerti! Tembak dia, Kyuhyunnie! Katakan padanya kalau kau mencintainya! Go, go, go!" Lagi, Kini punggungku didorong keras oleh Ryeowook hingga tubuhku pun terdorong ke luar. Jelas saja aku terlonjak.
"Huwaa!" Seruku tertahan.
"Semoga berhasil!" Ujar Eunhyuk sambil melambai, diikuti Ryeowook dan Shindong. Mereka segera bersembunyi di balik pot-pot tanaman yang berada tak jauh dari tempatku berdiri.
Aakh! Sial, kalian! Oke, aku harus berpikir jernih sekarang. Shindong benar, ini adalah sebuah kesempatan untukku berkata jujur pada Siwon hyung. Oh, jantung... janganlah kau berdegub lebih kencang lagi... aku bisa mati! Aku pun mengambil langkah perlahan dan menghampiri Siwon hyung seraya membawa setangkai mawar. Napas panjang berkali-kali kuhirup dan kubuang perlahan. Aku harus tenang! Di sisi lain dekat pot-pot bunga ketiga sahabatku bersembunyi dan mengamatiku dari jauh.
Siwon berbalik dan mendapatiku berjalan ke arahnya. Ia sedikit tercekat dan tersenyum ke arahku. Jantungku serasa ingin keluar ketika melihatnya menoleh ke arahku. Ia segera mengarahkan kameranya dan menjepret beberapa gambarku. Aku jadi salah tingkah.
"Kyuhyun-ah?" Sapanya sambil tersenyum manis. Aku membalasnya dengan kaku.
"S-Siwon hyung..." Panggilku setelah posisiku berada di hadapannya.
"Ne, Kyuhyun-ah?"
"Selamat atas kelulusanmu..." Kataku sambil memaksakan senyum manis. Aduuh... aku gugup sekali! Siwon hyung tersenyum.
"Terimakasih, Kyunnie. Kau juga selamat, ya?"
"He? U-untuk apa?"
"Kau, kan, diangkat menjadi ketua OSIS selanjutnya. Menggantikan aku." Siwon berhehe ria. Aku tersenyum geli seraya menunduk. Malu.
"Hyung..."
"Hm?"
"Setelah kau lulus... aku tidak akan pernah melihatmu di sekolah ini lagi." Siwon hyung terdiam. Ia menatapku dengan bola mata membulat. "Aku... merasa kesepian." Lirihku.
"Mm... geurae?" Tanya Siwon hyung sambil tersenyum. Ia memain-mainkan kameranya yang tergantung di leher. "Jangan begitu. Aku bisa kapan saja main ke rumahmu, kan? Atau kalau tidak... aku akan main ke sini jika ada waktu." Siwon hyung melirikku.
"Jeongmalya?" Siwon hyung mengangguk. Aku tersenyum, memperlihatkan deretan gigi putihku.
Suasana mendadak sunyi sejenak. Hanya terdengar suara desir angin dan bunyi cekrekkan dari kamera Siwon hyung. Kelopak-kelopak bunga sakura berterbangan hingga sampai di atap sekolah. Aku terdiam menunduk. Di balik pot-pot tanaman, Ryeowook, Eunhyuk dan Shindong masih senantiasa memperhatikan gerak-gerikku bersama Siwon hyung. Aah... apakah ini saatnya untukku bicara jujur tentang perasaanku pada Siwon hyung? Kenapa waktu berlalu begitu cepat? Aku menoleh ke belakang, menatap ketiga sahabatku. Mereka nampak mengangguk dan komat-kamit menyuruhku segera bicara. Aku sedikit ragu untuk mengatakannya. Tapi... tak ada jalan lain! Lagi pula, sahabat-sahabatku juga sudah mendukungku. Ini demi kebaikanku sendiri. Aku menelan ludah.
"S-Siwon hyung?" Panggilku. Aish! Kenapa aku terbata-bata begini?
Siwon hyung berbalik. "Ya?"
"A-aku... bolehkah berkata sesuatu?" Tanyaku. Ketiga sahabatku lantas menjadi gusar di belakang sana. mereka segera bertos-tos ria.
"A-aku..." Aku menggantung. masih memikirkan kalimat berikutnya. Aku menunduk seraya menggigit bibir. Kedua tanganku menggenggam erat tangkai bunga mawar. "Saat aku pertama kali mengenalmu... aku merasa begitu nyaman. Kau begitu lembut dan baik..." Kataku. Siwon hyung mulai tertarik dengan perkataanku.
"Aku menyukai caramu tersenyum, tertawa, bercanda..." Aku menjeda. Sesekali aku menggenggam celana panjangku dan menggigit bibir. "Aku suka caramu memperhatikanku..." Entah kenapa, nada bicaraku mulai bergetar. Pipiku memanas.
Siwon hyung mulai merasa aneh dengan wajahku yang memerah dan perkataanku yang tak biasa. Ia melihat air mata menggenang di pelupuk mataku. Aku terus saja berusaha tersenyum.
"K-Kyuhyun-ah..."
"Entah kenapa... akhir-akhir ini... ada sesuatu yang berbeda dengaku saat melihatmu." Potongku. "Aku merasa nyaman bila didekatmu... a-aku..." Satu air mataku menetes. Ada apa denganku? Kenapa aku sampai menitikkan air mata begini? Sebegitu takutnyakah aku mengungkapkan cinta pada Siwon hyung hingga aku menangis? Atau... sebegitu takutnyakah aku kehilangan sosoknya di sekolah ini nanti? Aah... dua hal itu mungkin benar. Mengingat hari ini adalah hari kelulusan... membuatku serba salah dan sedih.
Aku menundukkan kepala sejenak. Berusaha menyembunyikan wajahku. Siwon sudah mulai panik dan bingung melihat ekspresiku.
"K-Kyuhyun-ah, waeyo...?" Tanyanya simpatik. Tangannya terulur hendak menyentuh pundakku.
"Aku pun mulai menyadari... setelah sekian lama aku mencari jawaban dari perasaanku ini..." Potongku. Aku menegakkan kepalaku. Bisa kulihat, Siwon hyung tak jadi menyentuh pundakku. Aku mengambil napas panjang agar air mataku tak jatuh lagi.
"Aku menyukaimu, hyung..."
Akhirnya, aku berhasil mengatakannya. Mengatakan perasaanku walaupun berat sekali rasanya. Segera saja aku menyerahkan bunga mawarku padanya. Mendengar pernyataanku, Siwon hyung lantas terdiam seribu kata. Dahinya mengernyit. Ia menerima bunga mawarku dengan lembat. Sepertinya... ia sedikit kaget.
Dengan segera aku mengusap air mataku. Aku memaksakan tawa mengingat tindakanku yang begitu konyol. Menyatakan cinta saja sampai menangis begini. Ada apa denganku?
"Ahahaha... kenapa sampai menangis begini?" Tanyaku pada diri sendiri sambil memaksakan tawa yang terdengar kaku.
"Kyuhyun-ah..." Aku menengadah ketika mendengar suara Siwon hyung menyebut namaku. Aku melihat wajahnya yang masih shock itu. "Benarkah... kau berkata seperti ini padaku?" Tanyanya.
DEG!
Mendadak, aku jadi ragu. Marahkah dia?
"Aku tak percaya... kau berani melakukan ini padaku..." Katanya lagi. Aku mengernyit bingung. Apakah aku salah telah jujur padanya? Di belakang, ketiga sahabatku yang tadinya merasa lega dan senang karena aku berhasil menyatakan cinta, mendadak mereka jadi bingung dan panik.
"S-Siwon hyung... b-bukan maksudku..." Aku berusaha menjelaskan.
"Aku tak percaya... kau begitu berani..." Gumamnya. Membuatku takut kalau saja dia benar-benar marah. Tapi ternyata, dugaanku salah. Perlahan, Siwon hyung tersenyum ke arahku. Senyumnya begitu lembut. "Kau benar-benar berani, Kyuhyun-ah..." Aku tak mengerti dengan ucapannya.
"A-apa maksudmu?" Siwon hyung segera mendekatkan tubuhnya ke arahku. Ditatapnya wajahku lekat-lekat.
"Aku tak mengira kau akan mengatakan ini juga." Katanya. Aku mengernyit. "Kau tahu? Sudah lama aku menantinya." Aku mebelalakkan mata. Menantinya? Apakah mungkin... dia...
.
.
Normal POV
Lee Sungmin sedang menatap halaman sekolah yang sekarang dipenuhi siswa-siswa yang baru saja lulus. Mereka tampak senang sekali. Ada yang sedang berfoto-foto bersama teman-teman dan guru, melempar gulungan ijazah sambil berseru, mengobrol, dan lain-lain.
Angin musim semi berhembus lembut. Sungmin mengambil napas dan membuangnya pelan. Oke. Mulai hari ini ia sudah resmi menjadi mantan murid Neul Param High School dan akan menjadi alumni untuk kedepannya. Sambil menumpukkan kedua lengannya di pagar atap sekolah dan menggenggam gulungan ijazah, Sungmin menikmati detik-detik akhir ia menginjakkan kaki di sekolah ini.
Tiba-tiba pikirannya melayang. Sesosok wajah terbayang olehnya walau hanya sekejap. Ia teringat akan Kyuhyun, adik kelas yang diam-diam ia sukai. Hari ini adalah hari kelulusannya. Sudah pasti ia akan berpisah dengan Kyuhyun dan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Selain senang, Sungmin juga merasa kehilangan. Ia seakan tak sampai hati untuk hengkang dari sini. Ia pasti akan merindukan sosok Kyuhyun di sisinya. Teringat kata-kata Donghae waktu itu membuatnya gelisah dan risau. Membuat hatinya mencelos.
'Benarkah Kyuhyun menyukai Siwon?' Batinnya khawatir.
Setelah puas berdiam diri di atap, Sungmin memutuskan untuk turun. Setelah beberapa langkah menuju pintu atap, ia mendengar samar-samar suara dari arah yang tak jauh darinya. Suara yang begitu familiar di telinganya. Karena penasaran, Sungmin pun memutuskan untuk mengintip dari balik tembok.
'Kyuhyun...?' Katanya dalam hati ketika menemukan sosok Kyuhyun terlebih dahulu. Tapi kemudian mata kelincinya menemukan sosok pemuda bertubuh atletis dan berlesung pipit sedang berhadap-hadapan dengan Kyuhyun. Wajahnya terlihat tak percaya. Membuat Sungmin tambah penasaran.
"Aku menyukaimu, hyung." Kata Kyuhyun bergetar. Matanya basah karena air mata.
DEG!
Napas Sungmin bagaikan tersendat ketika mendengar kata-kata yang Kyuhyun ucapkan itu. hatinya mulai tidak tenang. Ternyata... apa yang dikatakan Donghae waktu itu...
Sedikit agak lama ia menunggu jawaban yang akan Siwon lontarkan. Sungmin sangat berharap Siwon akan menjawab 'maaf, aku tidak bisa', tapi ternyata harapannya pupus.
"Kyuhyun-ah... aku juga menyukaimu." Ungkap Siwon sambil tersenyum. Rasanya jantungnya berhenti berdetak dan darahnya berhenti mengalir ketika mendengar frasa tersebut. Rasanya seperti disambar petir di siang bolong saat itu juga. Dadanya tiba-tiba sesak dan air mata melesak ingin keluar. Sungmin begitu kecewa.
Matanya yang kabur karena air mata bisa melihat Kyuhyun menangis bahagia ketika cintanya dibalas oleh Siwon.
"Aah, Kyuhyun-ah... uljimayo..." Kata Siwon seraya tertawa geli. Tak tega melihat Kyuhyun terus menangis, Siwon memelukannya. Ia kemudian membelai surai hitam Kyuhyun dengan sayang.
"Jeongmal saranghaeyo, Kyuhyun-ah..." Katanya lembut. Dengan perlahan, ia menarik wajah Kyuhyun dan mencium bibirnya lembut.
Pupus sudah. Harapannya pupus sudah untuk berkata jujur pada Kyuhyun kalau dia menyukainya. Ia pun meremat gulungan ijazahnya sambil menggeretakkan gigi-giginya di balik bibirnya. Kakinya mengambil langkah mundur perlahan sebelum berlari kencang meninggalkan tempatnya berpijak tadi.
'Tapi setahuku... Kyuhyun itu menyukai Siwon...'
Kata-kata Donghae waktu itu... ternyata benar.
Sungmin berlari dengan gusar sambil menutupi hidung dan mulutnya dengan punggung tangannya. Air matanya terus saja mengalir. Ia tidak menghiraukan pertanyaan teman-temannya kenapa ia seperti itu.
Tak sengaja Sungmin berpapasan dengan Donghae yanga sedang sedang ingin menanyakan kemana Eunhyuk.
"Sungmin-ah, dimana Eunhyukkie..." Belum selesai frasa itu diucapkan Donghae, Sungmin sudah main lari. Melihat itu, Donghae bertanya-tanya.
"Ya! Sungmin-ah!" Serunya. "Kenapa dia?" Tanyanya dalam lirih.
Sungmin berlari ke halaman belakang yang saat itu sepi. Kakinya seakan tak mengenal lelah mengambil langkah begitu cepatnya dan tak disangka, saking gusarnya berlari, Sungmin menabrak pohon yang ada di sekitar.
"Akh!" Pekiknya tertahan. Jidatnya seketika memerah. Sungmin terdiam seraya mengelus jidatnya dalam tangis. Kenapa hari ini ia begitu sial. Ia harus menyaksikan adegan yang seharusnya tak ia saksikan di atap tadi, menabrak pohon pula. Tangis Sungmin yang tadi sempat tertahan ini mulai bersuara. Ia menundukkan kepalanya dan memutuskan untuk duduk berjongkok. Ia membenamkan mulutnya di sela-sela tumpukkan tangannya dan tangisnya pun pecah. Rasa pilu menjalar.
Ia begitu menyesal juga kecewa. Belum sempat ia utarakan perasaannya yang terpendam itu pada orang yang ia sukai, dan saat itu orang yang ia sukai barusaja menjalin hubungan dengan orang lain. Begitu menyakitkan. Sudah ia usahakan untuk memberi tanda-tanda agar orang yang ia sukai menyadari kalau ia menyukainya, tapi ternyata tidak. Kyuhyun sama sekali tidak menyadari.
Sungmin sudah terlambat. Ia sama sekali tidak tahu kalau saja Kyuhyun sudah menyukai Siwon, dan ia tidak mau tahu setelah Donghae mengatakan hal tersebut waktu itu. Apakah Tuhan tidak merestui cintanya untuk Kyuhyun? Sungmin tidak tahu. Ia begitu menyesal... dan kecewa.
Ia hanya bisa menangis.
.
.
Tiga bulan kemudian...
Neul Param High School
Tak terasa sudah hampir lima bulan berlalu setelah hari kelulusan waktu itu. kini Kyuhyun, Ryeowook, Eunhyuk dan Shindong sudah duduk di kelas tiga. Mereka beruntung karena berhasil duduk di kelas yang sama. Kelas 3-2. Sejak ia menjabat sebagai ketua OSIS, sosialisasinya dengan warga sekolah makin bagus dan meluas. Ia tak lagi tampil sebagai murid yang selalu menyendiri seperti dulu.
Di musim panas ini, Kyuhyun diundang Eunhyuk dan Donghae—seniornya—untuk berkumpul, mengadakan reuni kecil-kecilan di cafe milik Donghae. Yaah... sudah tiga bulan tak pernah lagi bertemu dan berkumpul, pastinya rindu, kan?
Oke. Sejak Donghae lulus dari SMA, ia membuka bisnis cafe bersama Tan Hangeng. Cafe milik Donghae—dan Hangeng ini terletak di dekat pantai. Memang ini tak bisa dipercaya karena sejak dulu ia dan Hangeng tidak pernah terlihat bersama-sama. Siapa yang menyangka kalau kini mereka malah berteman dekat.
"Kyuhyun-ah?" Sapa seseorang ketika ia membuka pintu rumahnya. Ia terbelalak ketika mendapati seseorang yang begitu ia kenal di hadapannya. Wajahnya mendadak merona merah.
"S-Siwon hyung...?"
"Ne, kajja. Kita pergi ke cafe Donghae. Yang lain sudah menunggu di sana." Ajak Siwon seraya menggapai tangan Kyuhyun. "Sekalian kita pergi main di pantai." Kyuhyun segera saja ditarik oleh Siwon. Kyuhyun sedikit gelagapan.
"Ah! C-chakaman, hyung!"
"Ahra noona, aku pinjam Kyuhyunmu, ya!" Teriak Siwon dari luar.
"Arraseo! Selamat berkencan adik-adikku yang manis!" Ahra melambaikan tangan dari jendela lantai dua. Sedikit menggoda Kyuhyun yang malu-malu.
"YA! NOONA-AH!"
.
.
Kyuhyun nampak terduduk di atas pasir putih yang hangat. Angin pantai berhembus menerbangkan helai-helai rambutnya. Ia sedikit menyipitkan matanya, menghindari sinar matahari yang silau. Di hadapannya, teman-temannya nampak asyik bermain air. Eunhyuk asyik menyiprat-nyipratkan air ke arah Shindong dan Donghae. Siwon yang sedang asyik mengambil beberapa gambar juga ikut dikerjai. Untung kameranya tahan air. Sebelumnya, ia sudah mengajak Kyuhyun untuk bergabung, tapi Kyuhyun menggeleng pelan sembari tersenyum. Yaah... Siwon tak bisa memaksa. Di belakang, Hangeng sedang menyiapkan minuman dingin dan beberapa cemilan untuk mereka semua seraya dibantu Ryeowook dan Sungmin. Hangeng juga sedikit mengatur pelayan-pelayan cafenya untuk melayani para pelanggan yang datang.
"Kyuhyunnie! Kajja! Ikut bermain bersama kami!" Ajak Eunhyuk. Kyuhyun tergelak dan menggeleng.
"Anniya. Kau bersenang-senang saja." Tolak Kyuhyun halus. Eunhyuk sempat mendengus dan mengerucutkan bibirnya. tapi, karena mendapat serangan tiba-tiba dari Donghae, ia pun kembali terhanyut dalam permainan. Kyuhyun tertawa melihatnya.
"Ne, Kyuhyun-ah." Panggil Siwon yang duduk agak jauh di sisi Kyuhyun. Ia meminta untuk Kyuhyun mendekat. Ia melambaikan tangan kanannya seraya membawa kamera di tangan kiri. "Lihat foto-foto ini." Kyuhyun sejenak menatap Siwon sambil mengedip beberapa kali, lalu mendekat. Siwon pun juga lebih mendekatkan tubuhnya pada Kyuhyun—kekasihnya.
"Lihat." Kata Siwon seraya berbagi kamera dengan Kyuhyun. Jari lentiknya menekan tombol pemindah agar gambar-gambar di kameranya berganti-ganti. Kyuhyun terlihat antusias dan senang melihat-lihat hasil jepretan Siwon yang—sungguh—bagus. Siwon memang berbakat jadi fotografer. Foto-foto iseng Siwon tidak sejedar iseng. Ia menjepret berbagai gambar—dari yang simpel hingga yang 'wow' bila dilihat. Kagum. Semuanya terlihat bagus. Foto-foto masa-masa SMA—dengan nekatnya menjepret beberapa gambar yankee yang sedang lewat, pemadangan halaman sekolah dari atap, dan berbagai kegiatan sekolah lainnya. Kyuhyun tertawa geli saat melihat foto-foto yankee yang berhasl dijepret Siwon.
"Hyung! Kau ini nekat sekali! Bagaimana kalau mereka sadar? Kau bisa dikeroyok!" Siwon tertawa.
Melihat keasyikkan mereka beruda, Eunhyuk, Donghae dan Shindong yang sudah basah-basahan ikut bergabung. Mereka ikut tertawa-tawa ketika melihta gambar yang lucu. Sempat kamera Siwon dipinjam Donghae beberapa hari sebelum kelulusan. Ia pun bernarsis-narsis ria bersama teman-teman sekelasnya.
"Ini karyaku!" Pamer Donghae. Semuanya pun berhuuu ria dengan serempak.
"Hei. Bagaimana kabar para ex-'Black Dragon' dan mantan-mantan yankee lainnya?" Tiba-tiba Eunhyuk bertanya.
"Aiish... kenapa kau malah ingat mereka, Hyukkie chagi..." Donghae merasa malas. Eunhyuk segera mempoutkan bibirnya. Wajahnya merona. Oke, ternyata Donghae sudah berani memanggil Eunhyuk dengan embel-embel 'chagi'. Yaah... mereka baru saja jadian dua bulan lalu.
"Aah, benar juga. Sudah lama aku tak mendengar kabar mereka." Timpal Siwon. Kyuhyun hanya memandangi teman-temannya satu-satu.
"Kudengar, mereka benar-benar sudah berhenti jadi yankee." Tiba-tiba Hangeng datang seraya membawakan nampan berisi beberapa gelas orange jus dingin.
"Kau, kan, juga." Komentar Donghae. Semua tertawa.
"Kalau tidak salah, beberapa waktu lalu, Jessica noona mengabari kalau ia masuk jurusan desainer fashion. Katanya, prestasinya bagus sekali." Kata Eunhyuk. "katanya juga, Sunny noona dan Hyoyeon noona lebih memilih masuk komunikasi."
"Sejak kapan kau jadi dekat dengan Jessica?" Tanya Donghae menyelidik.
"A-anni! Dia hanya mengabariku!" Elak Eunhyuk. Donghae hanya bisa tertawa melihat Eunhyuk panik dan memeluk pundaknya.
"Kudengar, Leeteuk hyung kini kuliah di jurusan musik bersama dengan Yesung hyung." Kata Shindong.
"Hee? Jinjja? Wah, aku tak tahu kalau mereka mempunyai bakat musik." Donghae geleng-geleng.
"Heechul hyung?" Tanya Kyuhyun. Oke, kini mereka sudah berani—atau merasa nyaman menyebut para ex-'Black Dragon' dengan sebutan 'hyung'.
"Heechul kini kuliah di jurusan arsitek dan sedikit usaha kecil-kecilan bersama kakaknya yang sekarang sudah menikah." Jelas Hangeng.
"Kakaknya? Bukankah kakaknya sedang sakit?" Eunhyuk ikut nimbrung.
"Sudah lebih baik setelah menjalani berbagai pengobatan yang diusahakan heechul dan suaminya. Kurasa akan sembuh dengan cepat. Apalagi, ia kini sudah menikah. Akan ada yang selalu menjaganya selain Heechul, kan?" Kata Hangeng lagi.
"Sepertinya, ia sudah lebih serius menjalani hidupnya, ya?" Kata Siwon seraya melirik ke arah Kyuhyun. Kyuhyun sedikit tercekat dan menunduk malu. Ia kembali memencet-mencet kamera Siwon, melihat-lihat hasil jepretan kekasihnya lagi. Tapi, beberapa saat kemudian, ia melambat. Kyuhyun membelalakkan matanya. Ia mendapati banyak gambar-gambar dirinya di kamera tersebut. Berbagai ekspresi berhasil diabadikan oleh kamera itu. Saat jalan-jalan ke taman hiburan, hari kelulusan, hingga ia menemui Siwon di atap sekolah. Hati Kyuhyun mencelos menahan malu. Wajahnya memerah.
"Bagaimana? Lucu, kan?" Goda Siwon tiba-tiba. Kyuhyun terperanjat dan menoleh cepat. Ia tak dapat menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Siwon hyuuung! Kenapa kau mengambil gambarku diam-diam!" Seru Kyuhyun. Hampir saja ia melempar kamera Siwon, tapi berhasil ditahan oleh Eunhyuk dan Donghae. Shindong dan Hangeng hanya bisa tertawa geli.
Sedang sibuk-sibuknya membantu Ryeowook memasak, Sungmin sempat memalingkan wajahnya menatap Kyuhyun yang sedang bercanda dengan yang lainnya di bawah sana. Matanya menatap sayu kebahagaiaan di sana—yang bukan miliknya. Rasanya tak tega melihat Kyuhyun bisa tertawa lepas seperti itu pada Siwon dan bukan padanya. Sungmin hanya bsia tersenyum getir dan berusaha menerimanya. Bagaimanapun juga, Sungmin akan bahagia bila melihat Kyuhyun bahagia juga, kan? Mungkin, Kyuhyun memang diciptakan bukan untuknya. Mau bagaimana lagi.
Sungmin kemudian membalikkan badannya. Tapi secara tiba-tiba ia tak sengaja menabrak Ryeowook yang sedang membawa nampan berisi seteko orange jus yang akan ia bawakan pada teman-temannya di bawah.
"Akh!" Pekik mereka tertahan.
"Astaga! M-mianhae, Sungmin hyung..." Ryeowook merasa sangat bersalah telah membasahi baju Sungmin. Ia buru-buru meletakkan nampannya di meja dapur dan merampas lap.
"Anni, gwaencahana... bisa dibersihkan." Sungmin tersenyum. Sesekali ia sudah menolak Ryeowook untuk membersihkan bajunya, tapi Ryeowook tetap membantah. Alhasil, mereka membersihkannya bersama. Sejenak, Sungmin melirik wajah Ryeowook yang nampak panik—membersihkan bajunya yang basah. Wajahnya yang lucu itu terlihat manis. Sebuah perasaan kecil terbesit di benaknya. Sungmin sedikit tercekat dan memalingkan wajahnya cepat-cepat. Semburat merah sedikit mewarnai pipinya. Ia bingung dengan ini semua. Tangannya refleks menutupi mulutnya.
'Ada apa ini sebenarnya? Kenapa... wajah Ryeowook terlihat begitu manis hari ini...?'
"Hyung? Waeyo? Adakah yang sakit? Aigoo... maafkan aku..." Sesal Ryeowook makin menjadi. Sungmin gelagapan menanggapi juniornya itu.
"Ah, a-anni, Wookkie-ah. Tak apa-apa..." Kata Sungmin. Ia kembali melirik Ryeowook diam-diam. Ia jadi merasa gelisah. Jantungnya berdebar kencang.
'Apakah... aku menyukainya?' Batin Sungmin bingung.
Ryeowook membereskan tumpahan orange jus dengan menggunakan lap basah yang ada di sekitar tempat cuci piring. Melihat Ryeowook bekerja sendiri, Sungmin jadi tak tega.
"Ah, Ryeowookkie, biar kubantu..." Tawarnya sedikit malu-malu.
"Ah! N-ne, hyung. Gomawoyo."
Ah, kenapa jadi canggung begini?
.
.
Setelah memutuskan untuk pindah ke Neul Param High School, Kyuhyun banyak mempelajari arti hidup yang sebenarnya. Setelah sekian lama terpuruk karena kehilangan sahabat pertamanya, ia malah diberi Tuhan empat sahabat yang tak tanggung-tanggung menyayanginya. Ajaran untuk hidup serius yang sempat dicetuskan Changmin ia pegang kuat-kuat dan dijadikan pedoman. Ia tak akan pernah melupakan sahabatnya itu walaupun ia tak ada di sisinya.
'Jika kau menolak sesuatu yang tak kau sukai, kau bisa saja bertindak keras. Keluar dari kontrolmu.' Itulah kamusnya. Kata-kata itu memang bukan apa-apa, tapi hal itu adalah hal terserius yang pernah ia temukan. Jika kau tidak serius, kau bisa kalah. Kalah dalam segala hal.
Terkadang, orang sering salah kaprah dengan kata 'berkelahi'. Berkelahi tak selamanya berarti menyakiti. Hal itu kadang dipakai oleh sebagian orang untuk memberi pelajaran tertentu. Tentunya pelajaran untuk membuat orang sadar. Bukankah Kyuhyun sebenarnya tak mau berkelahi karena sudah berjanji pada sahabatnya dulu? Tapi, hal itu terpaksa dilalaikan karena ini demi mempertahankan keseriusannya. Di sana, Changmin pasti mengerti. Iya, kan?
Kyuhyun akhirnya sedikit demi sedikit berhasil menggapai jati dirinya yang ia cari sejak dulu. Mengambil hikmah dari ini semua. Dan... mendapatkan cintanya yang sudah ia nanti sejak lama. Teruslah berlari untuk mencari jati dirimu, impianmu, cintamu selagi kau masih muda. Lagi, semua itu harus kau dapatkan dengan serius, atau kau tak akan pernah mendapatkannya.
Kyuhyun merasakan angin pantai berhembus seraya memegangi gelas orange jusnya. Ia sandarkan kepalanya di pundak Siwon yang duduk di sampingnya. Suasana di sini begitu menentramkan. Apalagi kalau bersama dengan kekasih. Mulai saat ini, ia tak akan berkelahi lagi. Cukup sampai di sini saja. Ia sudah lelah harus adu pukul seeprti itu. Sekarang saatnya menikmati masa muda dengan lebih santai... namun tetap terus serius. Merasakan hangatnya persahabatan... juga cinta.
Kyuhyun menengadahkan kepalanya menatap langit biru dan awan yang berarak. Matanya memperhatikan burung-burung camar yang beterbangan. Ia mengambil napas dalam dan mengeluarkannya sekali hembus. Bibirnya menyunggingkan senyum puas. Tiba-tiba ia seakan ingat sesuatu. Ia menundukkan kepalanya menatap kalung perak berbandul huruf 'K' di lehernya. Ia tertegun sejenak melihatnya, lalu ia mainkan dengan tangan. Senyum lembut terukir di bibir tipisnya. Kalung ini... banyak menyimpan kenangan yang begitu mempengaruhi dirinya sejak kalung itu tergantung di leher jenjangnya. Ia pun meluruskan pandangannya ke depan, menatap gelombang air laut yang bergulung-gulung. Angin berhembus pelan. Kyuhyun menghela napas panjang, masih dengan tersenyum.
"Kyuhyun-ah... apa cita-citamu?"
"Entahlah. Yang penting, itu sesuai dengan kemampuan dan minatku, aku sudah senang. Kau sendiri?"
"Aku... ingin sekali menjadi dokter."
"Dokter? Kau sudah banting setir? Bukannya dulu kau ingin jadi penyanyi? Aa... tapi tak apa. Itu juga bagus. Apa karena itukah... kau terlihat tidak mau menyerah?"
"Ne... Hidup tidaklah mudah, Kyu-ah... pilihan selalu menghantui. Tidak jarang kita juga harus mengejar apa yang kita inginkan dan bertarung melawan apa yang tidak kita inginkan."
"I-itu ada benarnya juga, sih..."
"Hidup harus serius, Kyuhyunnie. Semua ini demi kebaikan dan cita-citaku. Ini memang bukan apa-apa, tapi ini adalah hal terserius di dunia. Kalau kau tidak punya tekad untuk hidup serius, mau jadi apa, kau, nanti?"
.
.
FIN
A/N: Hyaaa... tamat sudah. Gak terasa sampai 15 chapter sudah selesai saia ketik.
Oke, di akhir, saia memutuskan Sungmin sama Ryeowook aja. Memang sebenarnya banyak yang suka Ryeowook sama Yesung, tapi couple MinWook juga gak kalah tenar, kok. Setahu saia, sih... ==. Yang penting Sungmin ada tambatan hati baru setelah pupus sama Kyuhyun. Wkwkwk... dari pada ngegantung ceritanya dia. Hayoo... :P
Wokeeh! Saia ucapkan banyak-banyak terimakasih buat yang udah baca fic ini. Jujur aja, saia juga ngerasa sedih karena fic ini udah tamat *hiks, hiks*. Fic ini terinspirasi dari drama 'Majisuka Gakuen' yang dimainkan para member AKB48, SKE48 dan SDN48. Tentu saja ceritanya saia bikin beda banget dari dramanya, walaupun yankeenya tetep ngikut. Hehehe... :P. Kalau Majisuka, yankeenya cewek semua. Kalau ini, cewek ada, cowok ada. Hehehe... :D. Gak tahu kenapa kok saia pingin buat anak-anak SMent, khususnya member Super Junior jadi sangar kayak mereka. XP
Fic ini sudah cukup panjang. Jadi... jangan mohonkan saia untuk membuat sekuelnya, ya? Makin panjang cerita, ntar malah makin molor jadinya. Membosankan. Jadi sinetron banget, deh, nantinya =3=. Hehehe... oke? XD. Biarkan kisah ini jadi kesan tersendiri bagi kalian *sok bijak* hehehe... XP
Oke, sampai di sini dulu cuap-cupa saia. Maaf kalau ada kesalahan dan beberapa hal yang mungkin tidak memuaskan. Saia hanya menulis sebagaimana ide yang muncul di kepala saia. Sampai jumpa di fanfic-fanfic saia selanjutnya. Jeongmal khamsahamnida, yeorubuun! XD XD
Ms. Simple :D
