Disclaimer:
Vampire Knight © Matsuri Hino
Warning!
Awas ada Out of Character, typo(s), gajebo, abal-abal, dan lain-lain.
Special thanks to:
Lenacchi, for reviewing the 1st Chapter. Big thanks for you~
Happy reading on~
.
.
.
-a drabble collection fic about ZeYuu or YuuZe-
50 WORDS FOR YOU
© Killen
.
.
.
-Bagian Dua : Takut-
Kening Zero berlipat-lipat, menahan jengkel dan bosan disaat bersamaan. Salahkan saja gadis mungil berambut ebony disampingnya ini, yang menyeretnya masuk ke sebuah toko baju dan sekarang sedang menempelkan sebuah jins di kakinya untuk mencocokkan panjang jins tersebut.
"Wah, pas! Kalau begitu yang ini saja," Yuuki menarik jins di tangannya dan menyerahkan benda itu pada kasir tanpa persetujuan dari yang bersangkutan.
"Apa sudah selesai, Nee-chan?"
"Tunggu sebentar, Zero. Kita masih harus mencari mantel dan sweater untukmu. Tahun kemarin, mantelmu sudah nyaris tidak muat, tahu–dan jangan panggil aku Nee-chan!" Yuuki memperingatkan seraya berkacak pinggang dan menggembungkan pipi, karena tahu bahwa panggilan itu hanya untuk mengolok-oloknya.
Mau bagaimana lagi. Kalau menyangkut tentang Zero, gadis yang sekarang menginjak bangku SMP itu bisa sangat cerewet dan protektif, membuatnya seperti figur seorang kakak.
"Aku bisa beli sendiri nanti. Sekarang, ayo pulang."
"Tidak." Yuuki membayar sejumlah uang pada kasir dan menerima jins yang sudah terbungkus plastik, lalu menyerahkannya pada Zero yang–seperti biasa–menjadi seksi angkut-angkut barang. "Aku juga harus membeli peralatan merajut. Tahun ini aku akan membuatmu dan Kepala Sekolah syal rajutan!"
Zero mendengus mendengarnya. "Tidak perlu repot-repot. Sarung tangan rajut darimu dua tahun lalu bahkan lebih mirip kaus kaki–AGH!"
Sikutan maut di tulang rusuk Zero membuatnya bungkam seketika.
"Jangan bicara macam-macam. Ayo, jalan!" Yuuki berbalik dan berjalan duluan menuju pintu keluar, sementara Zero menggerutu sambil mengikuti langkah 'Nee-chan'-nya dari belakang, memutuskan untuk tidak protes lagi.
Dan saat sudah berada diluar toko, dia tak menemukan sosok Yuuki.
Zero menoleh kesana-kemari, mencoba mencari sosok gadis mungil itu diantara lalu lalang orang di jalanan yang cukup ramai. Tak kunjung ketemu, dia mulai menyusuri jalan sambil terus mengawasi orang-orang di sekelilingnya dengan saksama, lalu masuk ke beberapa toko yang mungkin dikunjungi Yuuuki tertarik dan–
–nihil.
Yuuki tidak ada dimanapun.
"Ck, bodoh. Kemana lagi dia?"
.
.
.
Napas Yuuki terputus-putus, tapi dia tak peduli. Dia berlari di sepanjang trotoar yang mulai memutih karena salju mulai menumpuk, sambil berharap bisa menemukan sosok pemuda berambut perak itu diantara orang-orang asing yang bertebaran di jalan.
Tidak ada.
Tidak ada.
Zero tidak ada.
Perasaan takut mendekapnya semakin erat.
Sejujurnya, Yuuki masih takut berada diluar lingkungan Akademi sendirian. Hal itu selalu mengingatkannya pada sosok vampir yang menyerangnya saat dia berumur lima tahun dulu. Rasanya semua tempat dan orang di sekelilingnya asing, jauh, dan dingin.
Semakin banyak langkah yang dia ambil, semakin besar pula rasa takut dan kalut dalam hatinya.
Yuuki ingat saat terakhir kali dia pergi ke kota seorang diri. Saat itu dia sedang mencari Kaname dan bertemu dengan seorang pria yang… dari bau serta auranya–ya, Yuuki bisa mengenali mana manusia biasa dan mana yang vampir–dia memastikan bahwa pria itu adalah vampir. Saat itu, dia beruntung saat itu Kaname menemukannya lebih dulu.
Tapi, sekarang? Siapa?
"Zero…" lirihnya, nyaris terisak.
Dia tak tahu lagi dimana dia berada. Dia ingin segera menemukan pemuda berambut perak itu dan pulang. Meski kedua kakinya sangat lelah karena terus berlari, tapi dia tidak mau berhenti. Seperti ada yang mengejarnya dari belakang. Kalau dia berhenti, dia akan tertangkap. Hal itu membuat langkahnya kian lebar dan cepat.
"Zero… aku takut…"
.
.
.
Zero melirik jam tangannya; pukul delapan malam. Sudah dua jam dia mencari Yuuki, dan anggapan bahwa seharusnya Yuuki tak akan terlalu jauh dari tempatnya semula itu salah. Sampai sekarang, dia belum menemukannya. Tapi, dia tak mau berhenti mencari. Dia tahu trauma apa yang dialami Yuuki di masa lalu. Dia tahu bahwa saudara angkatnya itu takut pergi ke kota seorang diri, makanya hari ini dia diajak menemaninya.
Dan akhirnya… ketemu.
Gadis itu duduk di sebuah bangku kayu yang ada di dekat sebuah toko es krim. Kedua kakinya dilipat dan diapit oleh dua lengannya, sementara kepalanya terbenam diantara celah kedua lututunya.
Ah, Zero ingat. Itu toko yang biasa didatangi Yuuki, tentu saja.
Setelah meletakkan semua barang belanjaan diatas trotoar, dia menjatuhkan dirinya di sebelah Yuuki.
"Kau membuatku repot, tiba-tiba menghilang begitu." Dia menghembuskan napas lega. Tubuh gadis disebelahnya menegang. "Apa kau tahu daritadi aku–"
"Ze-Zero…?" Yuuki menoleh. Dan tampakah sebuah wajah yang basah oleh airmata dengan kedua mata sembab. Bibirnya membiru, sementara kulitnya terlihat pucat. Zero terdiam.
Sebelum pemuda calon Vampire Hunter itu sempat mengatakan atau mengatakan apapun, Yuuki sudah meraupnya dalam pelukan.
"A-aku takut sekali, Zero…" Dan tangisnya pecah lagi.
Zero tak berkata apa-apa, membiarkan Yuuki menangis dan membasahi mantelnya dengan airmata. Kedua tangannya terangkat, satu di punggung Yuuki sementara tangan yang lain membelai rambutnya, menyingkirkan salju yang menempel disana.
"Maaf."
.
.
.
"Lain kali, jangan pergi duluan. Kau ini belum pernah ke kota sendirian, mana mungkin hapal tiap jalannya."
"Aa, maaf. Aku tadi melihat toko kedai berjejer-jejer dan mencari kedai ramen. Dan saat ketemu… aku tersesat."
"Huh. Bodoh."
"Ngg, Zero?"
"Apa?"
"Turunkan aku. Aku bisa jalan, kok."
"Sebentar lagi juga sampai di rumah."
Yuuki tak lagi mendebat, tahu bahwa itu percuma. Tapi, tetap saja, dia merasa tak enak hati. Zero sudah mencarinya dua jam, dan sekarang menggendongnya di punggung menuju rumah setelah turun dari bus. Ditatapnya sosok Zero dari belakang. Bahu dan punggung lebar dan hangat, nyaman sekali.
"Terima kasih, ya," Yuuki berkata, senyumnya terkembang. "Padahal, tadi aku takut sekali. Tapi, begitu mendengar suara Zero, entah pergi kemana rasa takut itu. Aku… aku sangat lega."
"Makanya, jangan jauh-jauh dariku lagi."
"Ya!" Yuuki mengeratkan pelukan di sekeliling leher Zero, menyandarkan kepala di bahunya. Sama sekali tak menyadari bahwa tindakannya barusan membuat rona samar menjamur di pipi hingga telinga Zero.
"Kalau ada Zero, aku tidak akan ketakutan lagi," bisiknya.
"Hm."
.
~ To Be Continued? ~
.
Bagian dua apdet! A-ahahah, awesome! Biasanya saya paling males update-update fic multichapter lho~ *nebar konfeti* *dibuang*
Di bagian kedua ini, timeline-nya saat Zero dan Yuuki saat kelas satu SMP. Err, ada yang tahu, sebelum tinggal di asrama, rumah yang ditinggali Zero dan Yuuki–alias rumah Kaien–itu berada di Cross Academy atau terpisah? Disini saya buat terpisah, sih. Maaf kalau salah. m(_ _)m *ditembak Bloody Rose*
Kalau ada yang punya usulan ide tentang kata yang pas buat menggambarkan Zero atau Yuuki, silakan. Saya terbuka, kok~ ;D Siapa tahu ide dari kalian bisa saya jadiin bahan fic di bagian selanjutnya.
Semoga suka, ya. Akan saya apdet bagian tiga secepatnya.
Oke, bacotan is the end.
Terakhir; mind to review, minna?
.
Presented from Hi dden Heart Village. 24052012. 11:16 WIB.
