Disclaimer:
Vampire Knight © Matsuri Hino
Warning!
Awas ada Out of Character, typo(s), gajebo, abal-abal, dan lain-lain.
Special thanks to:
Kanami Gakura, yuki, FairyLucyka dan Guest 1 and Guest 2 for reviewing the 2nd Chapter. Yang login sudah saya reply via PM.
yuki: Err... entah kenapa saya lebih suka ZeYuu/YuuZe daripada ZeKi/KiZe :B *dor* Tapi, maklum saja saya jarang ke FVKI jadi tidak tahu, so I fix it! Terima kasih sudah memberitahu saya.
Guest 1: maaf, agak lama yang chapter ini. Biasa, WB bertamu. Terima kasih sudah baca dan review.
Guest 2: ini sudah saya update. Terima kasih sudah baca dan review.
Happy reading on~
.
.
.
-a oneshot collection fic about Zero and Yuuki-
50 WORDS FOR YOU
© Killen
.
.
.
-Bagian Tiga : Kakak-
"Kamar mandinya sudah kosong, Zero."
Yuuki melangkah memasuki ruang keluarga sambil mengeringkan rambut dengan selembar handuk, lalu menghempaskan diri di sofa panjang dimana Zero tengah menonton televisi. Meraih remote dari pangkuan saudara angkatnya, Yuuki tanpa sungkan mengganti channel dari berita olahraga ke acara komedi.
Dan–selamat! Dia berhasil mendapat hadiah deathglare dari Zero Kiryu untuk kesepuluh kalinya hari ini–meski yang bersangkutan sama sekali tidak peduli dan malah tertawa terbahak-bahak menonton adegan komedi di layar televisi.
"Kau ini–" desis Zero, keningnya berkerut, "–keringkan dulu rambutmu. Nanti kau sakit, tahu." Tangannya mengusap handuk di kepala Yuuki, bermaksud mengeringkan rambut gadis itu.
"Ahahahah, lucu sekali–iya, nanti kukeringkan–ahahaha!" jawab Yuuki seadanya. "Kau mandi saja sana–hahaha!"
Zero mendongkol karena diabaikan. Maka, dia beranjak dan pergi ke kamar mandi.
.
.
.
"Hatsyiii! Sniiff," Yuuki menggosok ujung hidungnya yang memerah. Wajahnya tampak kusut dan agak pucat, dan beberapa detik kemudian–
"HATSYII!"
Zero mengernyit kearahnya, menghentikan acara sarapannya dan menatap Yuuki yang duduk di seberang meja makan. Kalau dihitung, mungkin ini sudah ketigapuluh kalinya Yuuki bersin sepagian ini.
Yuuki pilek. Yah, sebenarnya tidak heran juga. Sekarang sedang musim dingin dan kemarin Yuuki tidur tanpa mengeringkan rambutnya. Dasar.
"Maaf, Zero. Uh, aku akan minum obat dulu." Gadis itu berdiri dan berjalan keluar dapur–masih dengan bersin-bersin.
Zero lalu menatap piring Yuuki yang masih utuh, lalu menghela napas. Dia bahkan belum makan apapun, bagaimana bisa minum obat, huh?
.
.
.
Kondisi Yuuki tak kunjung membaik hingga malam tiba, dimana Zero terpaksa menjaganya seharian karena Kaien sedang ada tugas di luar kota. Namun, pria yang sekarang menyandang posisi sebagai Kepala Sekolah di Akademi Cross itu berjanji akan pulang secepat mungkin begitu mengetahui putri tersayangnya jatuh sakit.
"Minum," Zero menyerahkan segelas air hangat dan setablet obat pilek yang diterima oleh Yuuki yang terbaring di atas tempat tidur. Pemuda itu lalu duduk di kursi belajar Yuuki yang sekarang duduk di tepian tempat tidur dan meminum obat yang diberikannya.
"Terima kasih," Yuuki meletakkan gelas yang kosong di meja sisi tempat tidurnya, lalu menyusup dalam selimut. Matanya melirik kearah Zero yang masih tak bergeming di tempatnya. "Mmm, kau tidak kembali ke kamarmu, Zero?" tanyanya.
"Tidak. Tidurlah."
Senyum perlahan mengembang di bibir Yuuki. "Kau tahu aku suka berhalusinasi kalau sedang sakit, ya? Terima kasih! Nah, aku bisa tidur tenang malam ini," ungkapnya riang.
"Cepat tidur sana."
Meski diperintah seperti itu, mata Yuuki masih enggan terpejam. Gadis itu lalu berbaring terlentang, memandangi langit-langit kamarnya. Membiarkan hening menyusup diantara mereka.
"Kepala Sekolah belum pulang?" tanya Yuuki.
"Belum."
"Oh, begitu," Yuuki menggumam, lalu terdiam lagi. "Hei, Zero."
"Hm?"
"Eh. Kita 'kan sudah menjadi saudara angkat–jangan protes dulu, aku tahu kau tidak sudi menjadi anaknya Kepala Sekolah," Yuuki mengangkat satu tangannya, menghentikan bibir Zero yang hendak memuntahkan ketidaksetujuan, "tapi, bagaimanapun, kita sudah diadopsi dan dirawat oleh Kepala Sekolah. Jadi, mau tak mau, dia menjadi a–ugh, ayah angkat kita."
"Huh," Zero melipat tangan di depan dada, tampak tak begitu menyukai topik kali ini. "Lalu?"
"Nah, karena kita sudah jadi saudara, siapa yang sebenarnya kakak dan adik, ya?" tanya Yuuki sedikit bingung, lalu tertawa kecil. "Ah, mungkin kau kakaknya. Kau 'kan lebih tua setahun dariku."
"Aku tidak sudi punya adik sepertimu," Zero menukas dingin. Pipi Yuuki langsung menggembung dibuatnya.
"Eh, kenapa? Padahal, Kaname-sama pernah bilang kalau aku bisa jadi adik yang manis bagi siapapun!"
"Terserah apa yang dikatakan Kuran-Penyelamat-Hidupmu itu, aku tidak peduli," respon Zero tak acuh, makin enggan kala nama si vampir darah-murni itu dibawa masuk dalam obrolan mereka. "Tidurlah, sebelum kau meracau yang aneh-aneh lagi."
Yuuki tersenyum hangat. "Tapi… benar, lho. Zero itu mirip kakak," aku Yuuki pelan, menatap lembut pada si pemuda berambut perak. "Kau selalu menjagaku, dan semuanya akan baik-baik saja kalau aku bersamamu."
"Apa ini tentang vampir?" Mimik wajah Zero berubah serius. "Karena aku seorang Vampire Hunter?"
"Mm. Bukan begitu," Yuuki memainkan selimut dengan jemarinya, menggelengkan kepala. "Zero memang dingin dan cuek, tapi kau peduli padaku. Itu sangat membuatku senang. Ah! Apa sekarang Zero kupanggil Nii-san saja?"
Dua keping lavender milik Zero melebar. "Ap–? Tidak! Aku menolak!"
"Kenapa? Padahal, pasti keren sekali punya Nii-san seperti Zero. Iya, 'kan, Zero Nii-san?"
"Tidak mau! Pokoknya, tidak mau. Tidakmautidakmautidakmau. Sampai mati pun aku tidak mau. Titik."
Yuuki merengut. "Kenapa, sih? Apa sebegitu menyedihkannya punya adik seperti aku?"
"Bukan itu–" Zero memegang sisi kepalanya, lalu menggeleng-gelengkan kepala. "Sudah! Kau tidur sana! Kalau tidak, kutinggal!"
"Eeh? Kenapa jadi begitu?"
"Tidur!"
"Iya, iya. Aku tidur! Nih, lihat! Mataku merem!" Yuuki buru-buru memejamkan kedua matanya dengan panik, meski bibirnya masih komat-kamit menggumamkan sesuatu yang mirip omelan pada saudara angkatnya itu.
Lagi-lagi hening mendekap dalam kamar temaram dari lampu meja. Zero berdiri, berjalan mendekati tubuh Yuuki. Ditatapnya wajah damai gadis itu, lalu membungkukkan tubuh. Tangannya bergerak secara insting, berniat merapikan sedikit poni yang menutupi mata gadis itu.
"Terima kasih, ya, Zero."
Tangan Zero berhenti di udara, tepat beberapa senti dari kepala Yuuki yang masih memejamkan mata. Pemuda itu sedikit terkejut saat baru menyadari apa yang hendak dia lakukan. Dengan cepat dia menarik tangannya ke sisi tubuh dan menegakkan punggung.
"Aku bersyukur Zero jadi saudaraku. Kau pasti bisa jadi kakak yang keren."
Kakak? Dan ingatan Zero berlari menuju sosok yang sering memanggilnya seperti itu. Ichiru. Dia bahkan tak bisa melindungi Ichiru empat tahun lalu, bagaimana bisa menjadi kakak yang baik?
Zero kembali duduk di kursinya. Tangannya menopang dagu diatas meja belajar, mengamati wajah Yuuki lekat-lekat.
Kenapa justru Yuuki yang berterima kasih? Seharusnya dialah melakukan itu. Yuuki adalah alasan mengapa dia masih bertahan sejauh ini. Kalau tidak, mungkin sudah jauh-jauh hari dia pergi dari rumah ini demi mengejar perempuan yang telah membantai keluarganya itu.
Ya. Karena keberadaan Yuuki lah, dia–
"Oyasuminasai, Zero."
–bisa merasa berguna.
Sedikit senyum terkulum di bibirnya saat dia merespon, "Oyasuminasai, Yuuki."
.
.
.
.
.
~ To Be Continued? ~
.
Saya ganti dari drabble menjadi oneshot. Soalnya ini nggak cocokdisebut drabble karena kepanjangan (drabble maksimal 100 kata saja). Lagipula, saya jadi tidak harus memotong tiap chapter-nya agar nggak lebih dari 1000 kata, ahaha– XD *tebar konfeti* *halah*
Nah. Lagi-lagi chapter yang nggak jelas begini, orz ._. Gomen ne. Udah update-nya lama, ceritanya abal pula *dilempar kaleng*
Ne, mind to review? Silakan keluarkan unek-unek kalian di kolom bawah.
.
Presented from Hidden Heart Village. 12072012. 12:21 WIB.
