Chapter 6

Disclaimer :

Kuroshitsuji by Yana Toboso

Yaoishitsuji punya saya, Ciel Phantomhive milik saya *dibacok Sebastian* -plak-

Warning : Typo(s), OOC, Yaoi, BL, OC, siapkan kantong muntah, cerita sedikit ngaur (sebenarnya sih banyak), gaje (pastinya), garing DLL.

Genre : Humor, Romance

Rating : T

Summary : Sebastian marah karena merasa dipermainkan oleh Bocchannya, apa yang akan dilakuka Sebastian pada Ciel? Dan apa masalah baru yang diciptakan sang Bocchan?


Balasan Reviews :

UzumakiKagari : wah saya juga gak tau kepikiran darimana dapat ide itu, tau-tau ngelintas begitu aja –plak-

Makash ya atas Reviewnya ^^

Review lagi ya ^^

anon the fujo : ahahaha, saya juga mikir gimana Ciel yang unyu bin imut(?) yang notabene-nya uke banget bisa jadi seme-nya Sebas, ah tapi Ciel punya cara tersendiri buat menyiksa butler iblisnya itu

kekekeke *dibacok Sebastian*

hehehe makas ya ^^ review lagi ya ^^

minaaa : hahaha gak pa-pa, 'uke' itu istilah buat cowo yang kecewe-cewean dalam sebuah hubungan sesama cowo, yah bisa dibilang 'uke' itu cewe versi cowo *benar gak ya –plak-?*

makasih, review lagi ya ^^

michaelis yuki : hehehe, makasih ya ^^

saya juga entah kenapa kepikiran gimana jadinya kalau Sebastian jadi uke, secara dia selalu jadi seme dimana pun berada(?) yah sekali-sekali lah Sebas-chan ngerasain jadi uke-nya Ciel *digeplak Sebastian*

hehehe makasih ^^ review lagi ya ^^

Earl Louisia vi Duivel : kalo ini bukan humor, aku bisa bayangin gimana wajah Sebas-chan *bayangin ampe gak bisa napas*

Hehehehe makasih ya review-nya ^^

Review lagi ya ^^


"Sebastian ini perintah!" lanjutnya.

Terlihat wajah penasaran Sebastian yang membuat seringai Ciel makin lebar.

"Mulai detik ini, kau adalah UKE!"

CETAR!

Seketika itu juga kilat menyambar ditubuh Sebastian.

"A..ap..pa?" tanyanya dengan wajah tidak percaya.

Semantara itu lima orang nista yang tengah mengintip dari luar kamar kebesara(?) Sebastian dan Ciel, tengah terkik geli melihat pemandangan yang tidak biasa.

"Hi hi hi, lucu sekali, kalian lihat wajah Sebastian saat Ciel menahan kata-katanya" kata sigadis nista nan biadab Pricelia.

"Kau benar Pricelia sayang" sambung sinenek peyon Queen Victoria.

"Keponakanku tersayang kau telah menjadi seme yang baik" kata Alexis yang sepertinya senang akan kelakuan keponakannya.

"Khu khu khu sepertinya rencana kita berhasil Lizzie" Alois juga ikut angkat bicara.

"Ya kalian semua benar, dan semuanya akan tahu tentang semua ini. Khi khi khi" tawa Elizabeth yang terlihat kesenangan sambil memegang kamera film (memangnya zaman pemerintahan Queen Victoria ada yang namanya kamera film, baikalah untuk kepentingan cerita anggap saja ada ya ^^).

~OoO~


Sebastian yang diperintahakan oleh Ciel untuk berbelanja, merasa risih akan tatapan para orang yang dia kenal.

"IH Sebby, tidak kusangka ternyata kau menjadi uke-nya sibocah" kata seorang yang gendernya tidak jelas sambil merangkul lengan seorang pria berkacamata dan berjidat lebar yang tak lain tak bukan adalah William Teh eS. Eh-salah ehem- maksudnya William T. Spears.

'Apa? Dari mana mahluk nista ini tahu tebtang kejadian tadi malam?!' bati sebastian yang masih mempertahankan wajah cool-nya.

(Author : aduh Bas, lu kan udah dijadiin uke sama Bocchan lu, udah terima aja deh –plak-)

"Heh, tidak kusangka ternyata kau hama yang sial, punya SEME seorang bocah ckckck, kau lupa pakai dastermu" kata teh es berjidat lebar.

"Ap-?!" belum sempat Sebastian meberikan pembelaan diri seseorang telah menginterupsi kata-kata berharga-nya(?).

"Sudahlah Sebastian kami telah melihat semuanya kemarin malam" potong Seorang pria yang jidatnya tidak kalah terangnya dari seorang William T. Spears.

Sebastian sungguh merutuki dirinya, mimpi apa dia semalam, sampai-sampai bisa melihat tiga matahari, menyinari mata indahnya(?) dipagi hari yang harusya dia habiskan bersama Bocchan tercintanya.

"Maksudmu?" tanya Sebastian penuh kebingungan dan entah bagaimana dia mengambil kacamata hitam dari seorang pria yang menggunakan kalung dari kertas dan bertuliskan, 'tukang pijat keliling' (?!). (Author : parah lu Bas, masa nyolong kacamata tukang pijat keliling? Kualat entar lu Bas).

"Ahahaha, kau tahu Sebastian tadi malam kami mengintip malam pertama kalian, kami merekam apa yang terjadi disana, kami sih berharap ada 'sesuatu' yang seru, tapi ternyata, kau malah dijadikan 'uke' oleh Ciel. Ckckckck" kata Alois sok bijak. (Author : alah Al, bukannya lu juga ngikutin rencana ini? Gak usah sok suci deh, yg biasanya dirape ama Claude juga. Alois : berengsek lu tor, ngapain bongkar-bongkat rahasia gue! Gue sambit juga lu!).

"Ja... jadi, kalian..." Sebastian tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, karena saking syok atas apa yang terjadi pada dirinya.

Entah kenapa wajah Sebastian langsung berubah, sepertinya ia sangat marah. Sebastian yang marah langsung berlari pulang kerumah, dilupakannya belanjaan yang diperintahkan majikannya.

~OoO~


Sementara itu di masion Phantomhive terlihatlah empat orang anak sedang minum teh bersama.

"Aku dan Claude sudah memberi tahu Sebastian kalau kami semua melihat dia dijadikan uke olehmu" lapor anak laki-laki berambut pirang pada tiga anak yang lain.

"Sepertinya rencana mempermalukan butler mesummu itu berhasil Earl Phantomhive" puji gadis nistab yang tak lain tak bukan adalah Pricelia.

"Ini semua berkat ide Lizzie" balas Ciel.

"Bukannya ini karena aktingmu Ciel" Lizzie pun ikut memuji sang mantan tunangannya.

BRAK!

Suara pintu yang dibuka secara kasar sukses membuat anak-anak yang sedang asyik tertawa itu menoleh, pada siapa orang yang tengah lancang mengganggu acara mereka. Alangkah terkejutnya mereka saat mendapati Sebastianlah yangbtelah mengganggu acara mereka.

Terlebih lagi saat melihat wajah garang Sebastian, empat mahluk yang tengah minum teh itu hanya bisa mengeluarkan wajah pucat pasi mereka.

"Jadi ini hanya akal-akalan kalian? Para bocah?!" kata Sebastian yang tengah berjalan mendekati Ciel yang mematung ditempat duduknya.

Sementara Ciel yang tegah mematung, tiga anak lainnya tengah berpelukan dan merapat kedinding guna menghindari amukan sibutler iblis.

'Gawat! Sebastian ngamuk!" pikir semua anak yang ada di ruangan itu.

Sebastian semakin memperpendek jarak antara dia dan Ciel.

DEG!

Rasanya Ciel ingin lari, tapi entah kenapa tubuhnya tidak mau menuruti perintah otaknya. Kakinya lemas, badannya gemetaran, wajahnya yang pucat kian memucat seiring singkatnya jaraknya dengan sag iblis.

Kini Sebastian telah berada di depan Ciel.

"Bocchan akan saja ajarkan bagaimana caraya menjadi seme" katanya seraya menunjukan seringai mesumnya.

Ciel yang ketakutan hanya bisa memejamkan mataya erat-erat, sementara itu tiga mahluk yang tengah meringkuk dipojok hanya bisa berharap agar Ciel bisa selamat dari serangan iblis mesum yang sedang berdiri didepan Ciel.

Sepertinya Sebastian sudah tidak sabar 'melahap' 'seme' yang ada dihadapannya ini. Setelah merasakan luapan hasrat yang tidak bisa dibendung lagi, Sebastian langsung menarik Ciel guna mendekatkan wajahnya degan sang tuan. Dan menciumnya lembut.

Ciel tersetak dan membuka matanya,dilihatnya wakah sang butler begitu dekat dengannya. Ciel juga merasakan sentuhan hangat pada bibir mungilnya. Sentuhan yang lembut selembut kue yang sering dihidangkan oleh sang butler.

'Jadi seperti ini rasanya ciuman?' pikir Ciel, sepertinya dia mulai menikmati sentuhan lembut Sebastian.

Sebastian mulai meminta lebih, lidah terlatihnya mulai diketuk-ketukannya pada bibir Ciel mencoba meminta izin untuk menjelajah lebuh jauh. Ciel yang entah sadar atau tidak, mulai membuka mulutnya. Kesempatan emas yang tidak mungkin dilewatkan Sebastian, langsung saja Sebastian melesatkan lidahnya, menjelajah mulut Ciel. Menghisap, melumat bibir mungil Ciel, yang menhasilkan desahan-desahan manis dari Ciel

"ngghh~" desah Ciel manis.

Sementara dua mahluk itu tengah berciuman, tiga bocah ditambah satu mahluk gentayangan (baca : author) tengah memegangi hidung masing-masing guna menahan lautan(?) darah yang mengalir dari sana.

Berhubung author dan tiga bocah lainnya, punya penyakit anemia. Mereka memutuskan meninggalkan dua orang yang tengah mesra-mesranya.

~OoO~


"Gila tuh Sebas, bisa-bisanya dia nyium Ciel didepan kita para bocah nan polos" kata Alois yang entah mengapa jadi kesal akan tindakan Sebastian pada Ciel.

"Huhf! Sial aku mimisan, gk elit banget sih!" protes Elizabeth pada dirinya sendiri.

"Kurasa adegan tadi masih kurang" kata si gadis nista Pricelia.

'Buset! Ni anak parah banget sih!' itulah yang tengah dipikirkan oleh Alois dan Elizabeth.

~OoO~


"Sebastian..." kata Ciel saat mereka mengakhiri ciuman panasnya.

"Ya Bocchan?" jawab Sebastian seraya memamerkan seringai mesumnya.

"Aku tidak terima akan apa yang kau lakukan tadi!" bentak Ciel pada Sebastian (author : aduh Ciel bukannya tadi kau menikmatinya?!)

"Bo...Bocchan, bukankah tadi, anda juga menikmatinya?" bela Sebastian, sepertinya dia mulai merasakan firasat buruk.

"Aku tidak suka!" bentak Ciel sekali lagi.

"A.. apa yang harus saya lakukan agar anda memaafkan saya Bocchan" jawab Sebastian, tanpa pikir panjang, sepertinya kali ini dia akan mendapatkan kesulitan yang lebih parah dibanding sebelumnya.

"Hn, apa ya..." kata Ciel sambil memasang wajah iblisnya, sepertinya dia mendapatkan ide yang lebih bagus untuk mempermalukan Sebastian.

"Sebastian, ini perintah..." lanjut Ciel, firasat buruk makin menggentayangi otak Sebastian.

"Selama satu hari penuh, besok..." Ciel mulai menggantungkan kalimatnya, wajah Sebastian semakin memucat.

"Kau harus memakai DASTER IBU-IBU!" yap, perintah Ciel telah selesai, kalau Sebastian adalah manusia maka dia akan merasakan ruh-nya seakan keluar dari tubuhnya. (ckckckck, Sebastian kenapa kau tidak belajar dari pengalaman sih? Kenapa kau selalu terjebak akan rencana busuk Ciel sih? apa itu karena kau begitu mencintai Ciel?).

Alhasil Sebastian membeku ditempat dak tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

To be Continued


Ahahahaha akhirnya kelar juga, maaf ya updatenya lama, dan ceritanya masih pendek ^^

Yap saya gak akan banyak bacot karena Sebastian sudah bersiap mau ngebacok saya, saya minta kritik dan sarannya ya ^^ *ngacir sebelum dibacok Sebas-chan*