Chapter 7

Disclaimer :

Kuroshitsuji by Yana Toboso

Yaoishitsuji punya saya, Ciel Phantomhive milik saya *dibacok Sebastian* -plak-

Warning : Typo(s), OOC, Yaoi, BL, OC, siapkan kantong muntah, cerita sedikit ngaur (sebenarnya sih banyak), gaje (pastinya), garing DLL.

Genre : Humor, Romance

Rating : T

Summary : Sebastian balas dendam! Dia sedang merencanakan sebuah rencana untuk mengerjai tuannya.


Balasan Review :

UzumakiKagari : ahahahaha, kayaknya dSebas-chan cinta banget deh sama Ciel, makanya dia iya-iya mulu

Hehehehe, makasih ya ^^

Review lagi ya ^^

fetwelve : tenang seperti yang saya janjikan dichap ini Ciellah yang bakal menderita *digeplak Ciel*

Hehehehe, makasih ya ^^

Review lagi ya ^^

Earl Louisia vi Duivel : hahahaha, bener kasian banget Sebas-chan mesti nurutin semua perintah masternya.

Hehehehe, makasih ya ^^

Review lagi ya ^^

michaelis yuki : itu ide yang saya dapet dari percakapan saya sama teman saya hehehe, kalau saya malah ngebayangin gimana kaki-nya Sebas-chan pake daster *gak sanggup nahan ketawa*

Hehehehe, makasih ya ^^

Review lagi ya ^^

Aizzah : ahahaha, masih kurang sadis ya? Chap kali ini kenistaan Sebas-chan bakal lebih sadis lagi kok *digampar*

Iya pas maksa Ciel buat kissu, Sebastian jadi seme, maklum lah Ciel kan masih kecil dan polos mana bisa ngerti dia tentang begituan

Soal mereka semua bakal ada disini, jadi baca aja ya hoh hoh hoh

Hehehehe, makasih ya ^^

Review lagi ya ^^

Wiwitaku : ahaha tenang saja bakal ada kejutan nanti, saya juga gak tega ngeliat Sebastian jadi uke-nya Ciel *ditanok Ciel

Hehehehe, makasih ya ^^

Review lagi ya ^^


"Sebastian, ini perintah..." lanjut Ciel, firasat buruk makin menggentayangi otak Sebastian.

"Selama satu hari penuh, besok..." Ciel mulai menggantungkan kalimatnya, wajah Sebastian semakin memucat.

"Kau harus memakai DASTER IBU-IBU!" yap, perintah Ciel telah selesai, kalau Sebastian adalah manusia maka dia akan merasakan ruh-nya seakan keluar dari tubuhnya. (ckckckck, Sebastian kenapa kau tidak belajar dari pengalaman sih? Kenapa kau selalu terjebak akan rencana busuk Ciel sih? apa itu karena kau begitu mencintai Ciel?).

Alhasil Sebastian membeku ditempat dan tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

Ciel pun berjalan meninggalkan Sebastian yang masih mematung ditengah ruangan.

1 jam

2 jam

3 jam

Berjam-jam kemudian barulah Sebastian sadar, dan ternyata hari sudah menunjukan jam 7 pagi, dan Sebastian belum sempat menyiapkan gaun (baca : daster) yang diperintahkan oleh tuannya.

"Bagaimana saya mendapatkan daster ya?" gumam Sebastian seraya berpikir dimana dia bisa mendapatkan (nyolong) gaun (daster) yang diperintahkan tuannya.

"Khu khu khu, uhuk uhuk uhuk" tawa nista seorang wanita yang dilanjutkan dengan suara batuknya sendiri, karena keselek lalat yag disebabkan oleh tawanya yang terlalu lebar –plak–

"Siapa itu!" bentak Sebastian yang merasakan kedatangan seorang penyusup.

"Hohohoho, kau tidak mengenaliku rupanya kepala batu!" jawab suara nista tersebut dan keluarlah seorang wanita dengan penampilan yang 'sangat amat teramat mengenaskan' keluar dari semak belukar yang ada diluar jendela ruangan tempat Sebastian bersemedi(?).

"Nina Hopkins? Apa yang anda lakukan disitu?" tanya Sebastian dengan wajah kebingungan yang tidak kalah imutnya dari bintang iklan favorit author (Kimmy).

"Khu khu khu" tawa –lagi– sepertinya dia tidak takut mulutnya bakal dimasukin lalat.

"Apa kau sedang membutuhkan gaun? Aku bisa membuatkanya untukmu ^^" katanya seraya membuka jendela dan masuk kedalam ruangan tersebut (author : hmm, rupanya Nina punya berbakat jadi maling ya, Nina : diam lu, ngapain lu ngebongkar-bongkar rahasia gue?!)

"Ya, kebetulan saya membutuhkan gaun daster yang biasa dipakai ibu-ibu" kata Sebastian, yang mengeluarkan ekspresi sangat sulit untuk diartikan.

"WHAT THE-! Daster?! Memangnya kau mau oprasi gender?!" jerit Nina, oh ternyata Nina tidak ikut dalam acara nobar malam pertama SebaCiel yang diselenggarakan oleh Ciel dan lima orang nista lainnya (Queen Victoria, Alexis, Pricelia, Alois, dan Elizabeth) dikarenakan pada kemarin malam, setelah menghadiri resepsi pernikahan SebaCiel Nina pergi untuk menghadiri resepsi pernikahan bintang iklan favorit author –plak–

"Jadi apa kau bisa membuatnya Nina?" tanya Sebastian sambil memutar matanya.

"Hmm bisa sih hanya saja..." kata Nina yang mulai menimbang-nimbang, seraya melihat Sebastian dari bawah ke atas berulang-ulang.

"Hanya saja apa?" tanya Sebastian yang mulai menatap tajam pada Nina.

"Hmm, aku hanya bisa membuatkan daster yang tidak terlalu panjang, mengingat ukuran tubuhmu yang tinggi. Jadi aku hanya bisa membuatnya sepuluh sentimeter dibawah lutut, kurasa itu cukup untuk–mempernalukan–mu" Jelas Nina.

Berhubung Sebastian sudah tidak memiliki waktu dia setuju saja akan gaun yang akan dibuat oleh Nina.

~OoO~


Sementara itu diruang tengah mansion Phantomhive tengah ramai dengan kedatangan para pelayan yang pergi ke India guna membantu Prince Soma dan butler-nya, sebenarnya bukan itu alasan mengapa Sebastian mengirim 4 pelayan ke India untuk menyusul Prince Soma sehari sebelum hari pernikahan mereka, Sebastian hanya tidak ingin mereka (3 idiot + Tanaka) mengacaukan pernikahannya.

"Cieeeeeeeeeeeeellllll~ maafkan kakak karena kemarin kakak tidak bisa menhadiri acara pernikahanmu~" teriak Prince Soma seraya mendekap (mencengkram) Ciel.

"Hen.. tika..an!" bentak Ciel seraya melepaskan pelukan maut Prince Soma.

"Kau mau membunuhku ya!" bentak Ciel lagi.

"Hweeeeeeeeeeee maaf Ciel~ kakak tidak sengaja~" desah soma yang sukses membuat bulu kuduk Ciel berdiri (berhubung kaki Ciel mulus a.k.a gk punya bulu kaki –plak–)

"Bo..bocchan, se... se..lamat ya..." kata Mey-rin sang maid yang tidak lupa gaya kikuknya, yang gak ketulungan(?)

"Gyaaaaaaaaaaaaa!" teriak Mey-rin saat dirasakannya ada seseorang yang memeluknya dari belakang.

"Ah~ Mey-rin sayang~ aku merindukanmu, sudah lama sekali kita tidak bertemu" desah wanita, ya wanita dengan rambut keriting gantung dengan warna coklat.

"Ni..Nina!" jerit Mey-rin ketika dirasakannya pelukan Nina yang semakin erat.

Mari kita tinggalkan para wanita yang kelewat aneh itu.

"Bocchan~ selamat ya ^^" kata Finnian sang gardener.

"selamat Bocchan" kata Bard sikoki mengagumkan (oke sepertinya mata author agak bermasalah).

"Hoh hoh hoh" tau 'kan siapa yang tertawa tenang(?) seperti ini ^^

"Maaf Tuan Ciel, Sebastian dimana ya? Saya juga ingin mengucapkan selamat padanya" kata Agni.

"Ng... mungkin sebentar lagi dia muncul" kata Ciel

Tepat saja, beberapa saat kemudian Sebastian orang yang telah dinanti-nanti oleh semua orang yang ada disana muncul mengenakan–

"Maaf menunggu lama" kata Sebastian

–pakaian yang sangat menggiurkan(?) kali ini Sebastian memakai daster yang modelnya bisa disebut dress (karena author gak sanggup ngebayangin Sebastian pake daster ibu-ibu) pakaian terusan bermodel pelaut dengan terusan rok lima sentimeter dibawah lutut (ternyata Nina juga mengubah pikirannya ckckckc).

Entah kenapa orang-orang yang ada jadi merasakan cairan nista keluar dari hidung mereka, penampilan Sebastian benar-benar menggiurkan,bahkan bulu kaki-nya pun berhasil dia tutupi dengan kaus kaki selutunya (malah ngebahas bulu kaki lagi). Rambunya dibiarkan seperti biasa, namun entah kenapa Sebastian terlihat sangat cantik dengan daster-nya.

"Se...Sebastian?" tanya Ciel dengan wajah yang sangat tidak percaya atas apa yang dilihatnya.

"Bocchan" kata Sebastian seraya tersenyum manis pada Ciel.

Dapat Ciel rasakan sekarang pasti wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Sebastian yang menyadari akan keadaan Ciel terus saja menggodanya, sepertinya ia bersyukur bisa memakai daster buatan Nina karena dia bisa melihat ekspresi yang sangat jarang terjadi pada majikannya ini.

"Bocchan bagaimana penampilan saya?" tanya Sebastian dengan wajah menggoda. Yang ditanya hanya bisa ber-blushing-ria.

"Sebbyyyyyyyyyy kau cantik sekali, jadilah uke-ku" kata si banci nista yang tiba-tiba menjadi pria maco(?).

"APA KAU BILANG?!" jawab Ciel yang tiba-tiba jadi garang.

Sepertinya tanpa Ciel sadari dia juga merasakan hal yang sama pada Sebastian, terbukti akan kemarahanya pada Grell yang mencoba menggoda Sebastian.

"Ah bocah kenapa kau marah? Bukannya kau tidak menyukai Sebby?" kata Grell yang mendekatkan wajahnya pada Ciel.

"Menjauhlah dari Bocchan!" kata Sebastian seraya membanting Grell kelantai, wow sepertinya Sebastian lupa akan keadaan dirinya (dia 'kan uke, tapi kenapa jadi marah liat Grell dekat-dekat Ciel? Ckckckck).

"Se..Sebastian?" sekali Ciel memandang Sebastian dengan tatapan tidak percaya.

"Bocchan sepertinya saya memang tidak pantas menjadi uke, maafkan saya" kata Sebastian dengan wajah sedih.

"Ti... tidak ma... masalah Sebastian" bantah Ciel, sekarang sepertinya saat yang tepat untuk Sebastian balas dendam.

"Bocchan, maukah anda mengabulkan permintaan saya?" tanya Sebastian dengan wajah memelas, dan suara yang bikin author merinding.

"Apapun itu Sebastian, apapun aku pasti akan mengabulkannya" kata Ciel dengan amat teramat mantap, sepertinya dia tidak sadar bahwa dia sudah masuk jebakan Sebastian.

"Baiklah Bocchan ayo ikut saya" kata Sebastian seraya menarik Ciel keruangan kosong.

To be Continued


Hayooo

Pada mikir apa hayo –plak–

Oke bagi yang penasaran akan apa yang diperbuat Sebastian pada Ciel, silakan tunggu chap depan ya *digampar*

Saya minta kritik dan sarannya ya ^^