Chapter 10
Disclaimer :
Kuroshitsuji by Yana Toboso
Yaoishitsuji punya saya, Ciel Phantomhive milik saya *dibacok Sebastian* -plak-
Warning : Typo(s), OOC, Yaoi, BL, OC, siapkan kantong muntah, kelakuan ganjil author bertebaran(?) siapkan tisu dan peti Undertaker(?), cerita sedikit ngaur (sebenarnya sih banyak), gaje (pastinya), garing, DLL.
Genre : Humor, Romance
Rating : T
Summary : Sebastian marah! Apa yang akan terjadi pada Ciel? Yang pasti Sebastian akan memaksa Ciel, sekali lagi MEMAKSA CIEL *author dilemparin karung beras*
Balasan Reviews "
fetwlve : hohohoh Grell begitu karena ada alasannya ^^
heheheh makasih ya ^^
Review lagi ya ^^
Ayumi Phantomhive : iya Sebas-chan marah, dan Ciel dalam bahaya! *cabut nyelamatin Ciel* tapi malang nian nnasib saya, akhirnya saya dilindas sama Grell –plak-
Hehehehe makasih ya ^^
Review lagi ya ^^
michaelis yuki : laa, ni anak masih belum bikin akun, ayolah bikin biar saya bisa balas review kamu lebih panjang dan nista *alhasil saya dilemparin kulit duren*
akhirnya dengan kekuatan matahari(?) saya update secepatnya (dan pastinya sangat berantakkan)
Hehehehe makasih ya ^^
Review lagi ya ^^
Wiwitaku : hehehehe makasih ya mau review lagi ^^ Grell kayak gini ada sebabnya kok ^^
Hehehehe makasih ya ^^
Review lagi ya ^^
"SAKIT! Kau kasar sekali Sebastian!" protes Ciel seraya memegangi pinggulya yang benar-benar terasa sakit.
"Anda akan merasakan yang jauh lebih menyakitkan lagi Bocchan..." kata Sebastian masih dengan senyum mesumnya, yang entah mengapa semakin terlihat mesum bagi Ciel.
GLEK!
Perasaan Ciel semakin tidak enak.
"Tenang Bocchan saya akan memuaskan anda, lagi pula, jujur saja tubuh anda sangat menggiurkan" kata Sebastian sambil membelai tubuh Ciel
"Se... Sebas– hmp–" sebelum Ciel menyelesaikan kalimat, eh bukan kata-nya, Senastian telah mengunci mulut Ciel dengan brutal.
Sebastian terus mengajak lidah Ciel berperang, namun apa mau dikata(?) tentu saja simungil Ciel kalah kalau harus melawan siberuang mesum ini. Hampir saja Ciel tidak bisa mengimbangi permainan Sebastian.
Tangan lincah Sebastian 'pun tidak mau kalah dengan lidahnya. Dengan amat sangat cepat Sebastian menanggalkan semua pakaian mini Ciel. Dan nampaklah tubuh polos Ciel yang benar-benar menggiurkan.
Tiba-tiba Angela dan Ash lewat dibelakang author dan mengatakan "Suci, suci"
TWICH!
Satu kedutan muncul dikepala author. Dan karena kesal yang telah berlipat-lipat author 'pun mengikat Ash dan Angela. Lalu ash dan Angela dimutilasi karena selalu dan selalu mengganggu aktivitas suci(?) author. Jenazah Ash dan Angela author lebur digunung merapi krakatau tang sudah tidak aktif lagi(?).
Yap abaikan kelakuan ganjil author.
Sebastian melepaskan kuncian mulut mereka. Dan beralih keleher jenjang Ciel.
"Se... Sebas.. ah.." desah Ciel, mendengar desahan yang merdu itu 'pun Sebastian menjadi semakin tidak terkendali.
Malam pertama Ciel dan Sebastian (walau tidak bisa sepenuhnya disebut malam pertama) dilalui oleh paksaan dari Sebastian. Berhubung rating-nya masih T, adegan-nya saya potong dulu ya ^^ *author digebukkin readers*
"Hah... hah.. kau.. cu... rang...!" kata Ciel yang masih terengah-engah karena kegiatan yang baru saja mereka akhiri.
"Bu... bukankah anda menyukainya Bocchan?" jawab Sebastian yag ternyata juga bisa merasakan kelelahan yang tiada tara. Dikarenakan Ciel yang terus berontak dari awal rounde(?) sampai akhir.
"DIAM!" teriak Ciel.
"Tapi bukankah anda juga menyukainya Bocchan?" tanya Sebastian dengan senyum mesumnya.
Kali ini Ciel sudah tidak sanggup mengatakan apapun. Memang benar walaupun dia brontak, dia memang menyukai perlakuan yang dilakukan oleh Sebastian pada dirinya. Ciel tidak tahu mengapa tapi yang dikatakan Sebastian memang benar.
"Sebastian..." panggil Ciel pelan.
"Ya Bocchan?" tanya Sebastian dan memandang Ciel.
Ciel 'pun balas memandang Sebastian. Sepertinya dia benar-benar bingung akan jawaban dari pertanyaan Sebastian tadi.
"Kenapa aku bisa menyukaimu? Kenapa aku bisa menyukai semua perlakuanmu pada-ku Sebastian?" tanya Ciel dengan polosnya, Ciel yang tengah berada dalam dekapan Sebastian, yang tubuhnya hanya tertutup oleh selimut sebatas lehar.
Ciel yang saat ini benar-benar terlihat imut terus menatap mata Sebastian, seakan dia bisa mendapatkan semua jawabannya dari manik crimson yang tengah ditatapnya. Entah mengapa jantung manusia Sebastian terus berdebar semakin cepat. Mungkin keadaan tubuh dan wajah Ciel serta pertanyaan yang dilontarkan oleh Ciel itu benar-benar membuat Sebastian semakin mencintainya.
"Mungkin itu karena anda mencintai saya Bocchan, ya itu karena anda mencintai saya. Sama seperti yang saya rasakan pada anda Bocchan" jawab Sebastian seraya memberikan ciuman hangat pada kening Ciel.
"Ya, mungkin karena aku mencintaimu" gumam Ciel lalu memeluk Sebastian dan menenggelamkam wajahnya pada dada bidang Sebastian.
Ditengah kebahagian sang Earl dan Butler peliharaannya(?). Ditengah indahnya malam sesosok mahluk yang berbalutkan mantel merah, tengah menatap sebuah kamar yang menampilkan kedua insan yang tengah berpelukkan.
"Earl Ciel Phantomhive, akan kubuat kau berpaling padaku dan meninggalkan iblis itu!" gumam sosok merah tersebut.
Cinta yang baru tumbuh, sekarang harus mendapatkan ujian yang sangat berat.
Sebuah tragedi besar akan muncul dalam pernikahan keluarga Michaelis-Phantomhive.
~OoO~
"GYAAAAAA!" teriak sosok bocah kelabu saat mendapati dirinya tampil polos, diatas ranjangnya barsama dengan butler-nya yang juga tidak kalah polos-nya.
"Bocchan, bisakah anda tidak berteriak sepagi ini?" tanya pria tampan yang tak lain tak bukan adalah Sebastian Michaelis, butler keluarga Phantomhive. Yang tentu saja merangkap sebagai 'suami' dari kepala keluarga itu sendiri.
"Ke... kenapa... kau.. a.. ad... ada.. di.. si.. ni..?" tanya kepala keluarga Phantomhive yang tengah menatap horor pada sang butler.
TWICH!
Satu kedutan muncul dipelipis Sebastian. Rupanya bocah kampret itu telah lupa atas apa yang mereka lakukan tad–
"Bocchan! Apa anda terkena amnesia?!"
–tanya Sebastian dengan sangat marah sampai memotong narasi author yang sangat suci(?)
(readers : kayaknya author bego ini sudah ketularan Angela sama Ash)
"Hee?" Ciel pun cengo dalam beberapa saat, sampai author yang baik hati ini *readers pada muntah-muntah* memberikan video reka adegan SebaCiel tadi malam.
Ciel 'pun akhirnya mengingat semua aktifitasnya bersama Sebastian tadi malam. Dan dengan polos-nya Ciel mengatakan.
"Iya ya, kitakan sudah menikah" kata Ciel sambil angguk-angguk gaje.
BRAK!
Yap readers mau tahu kah kalian suara apa barusan?
Ciel berbalik dan melihat Sebastian tengah membenturkan kepalanya sendiri kedinding kamar Ci– oke ralat, Sebastian tengah membenturkan kepalanya sendiri kedinding kamar MEREKA! (author : puas lu Bas? Udah gue ralat tuh) *author diinjek-injek Sebastian*
"GYAAAAAAAAAAAA!" teriak Ciel –lagi.
Ciel 'pun belalari menuju tembok(?) dan mengelus tembok tersebut dengan penuh kasih sayang(?)
Sementara Ciel tengah asyik dengan kegiatannya memberikan kasih sayang pada tembok kamar MEREKA, Sebastian hanya bisa ber-cengo-ria dengan kepala yang berlumuran darah (author : rasain lu Bas hwahahahaha!) *alhasil author kampret ini keselek kulit duren(?) gara-gara ngetawain iblis mesum*
'Apa yang terjadi pada Bocchan gue tercinta? Kenapa dia...' bati Sebastian, dia 'pun melirik author yang tengah makan ayam goreng(?)
(author : napa Bas? Terpesona lu sama gue?)
'Ini pasti karena ketularan sifat author ganjil nan nista ini!' batin Sebastian sambil mengeluarkan pisau peraknya.
Sadar akan bahaya yang mengancam author lari secepat kilat, berhubung author harus tetap hidup demi kelancaran fic ini Sebastian beralih pada Ciel.
"Bocchan" panggil Sebastian.
Merasa dirinya dipanggil Ciel 'pun melirik pada Sebastian.
CUP!
Kesempatan yang tidak akan Sebastian sia-sia 'kan, walau pagi ini Sebastian sudah diberikan rasa kesal yang amat banyak dari kelakuan ganjil Ciel dan author. Sepertinya Sebastian sudah cukup puas pada morning kiss yang didapatnya dari Ciel.
"Bocchan, terima kasih" kata Sebastian sambil tersenyum sesaat setelah mengakhiri morning kiss-nya yang berlangsung cuma –bagi Sebastian– 20 menit. (author : gila lu Bas! Untung aja Ciel gak mati karena sesak nafas, ckckckck mesum banget sih lu Bas!)
"A.. aku... aku..." gumam Ciel yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu.
"Ya, Bocchan?" tanya Sebastian seraya menatap wajah Ciel yang memarah sana sini.
"Aku, mencintaimu Sebastian!" kata Ciel mantap dan menatap dalam pada mata Sebastian.
Sebastian hanya bisa menutup hidungnya karena dapat dirasakannya kalau ada cairan nista yang keluar dari hidungnya.
"A.. aku akan mengatakannya setiap bangun tidur dan saat ingin tidur" kata Ciel dengan wajah yang sangat imut.
"Ukh!" kali ini Sebastian sudah tidak tahan lagi, terlihat cairan nista keluar dari hidung, mulut dan telinga-nya(?)
Ayolah jangan salahkan otak mesum Sebastian. Bagaimana bisa dia menahan dirinya, kalau yang didepannya saat ini adalah tuannya, dengan wajah polos, dan tubuh yang tidak kalah polosnya, menyatakan cintanya pada Sebastian. Kalian pasti bisa bayangkan sendiri bagaimana perasaan Sebastian saat ini 'kan?
"Kau baik-baik saja Sebastian?" tanya Ciel yang mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah Sebastian yang sudah sangat merah.
"Sa... saya, akan memandikan anda!" kata Sebastian lalu menggendong tubuh Ciel manuju kamar mandi.
Wah wah, sepertinya Sebastian sudah tidak tahan lagi. Baiklah daripada kita semua dijerat oleh dosa yang semakin banyak. Sebaiknya kita tinggalkan kamar SebaCiel yang telah dipenuhi oleh desahan-desahan lembut Ciel ^-^
~OoO~
Sementara itu di perpustakaan Shinigami, sosok merah nan nista tengah termenung, begitu banyak hal yang menyita pikirannya.
'Ciel Phantomhive, kenapa aku baru menyadarinya? Kenapa kau begitu cantik?' batin sosok mareh itu.
"Senior!" teriak seorang anak pirang yang sukses mengagetkan sosok merah yang tengah merenung tadi.
"APA RONALD! Bisakah kau tidak berteriak?!" bentak sosok merah yang tidak lain tidak bukan adalah Grell Sutcliff.
"Senior, apa benar kau menyukai Ciel Phantomhive?" tanya pemuda yang dipanggil Ronald, sepertinya dia masih tidak dapat mempercayai bahwa lelaki pencinta merah itu kini telah berpaling dari seorang Sebastian Michaelis yang katanya sangat dia cintai.
"Tentu saja,aku sudah lelah mengejar laki-laki yang tidak peduli padaku~" desah sang banci, oh ya ampun, walaupun dia menyukai seorang Ciel Phantomhive, ternyata jiwa bancinya sama sekali tidak menghilang.
"La... lalu ha.. ha.. ba..ba..gaimana de..de...nga...an se...se..ni...or Wil...ly?" tanya Ronald dengan wajah yang sulit diartikan.
TWICH!
Sebuah kedutan indah menghiasi jidat licin Willam, yang mandengar namanya disebut-sebut.
"Dengan Will? Peduli setan dengan mahluk licin seperti dia?!" teriak Grell dengan –kalau menurut author– sangat OOC.
TWICH!
Kedutan kedua mucul diwajah eh- ralat. Kedutan kedua muncul dijidat licin William.
"He...n.. t..ti..kaan! ahahahaha!" tawa Ronald 'pun meledak saat sosok pria silver tengah menjilati kupingnya.
CTIK!
Yap sehubunngan dengan berakhirnya bunyi barusan, terciptalah aura hitam pekat dari tubuh William.
Dengan amarah yang telah mencapai puncak William bergegas keluar dari ruangan tersebut.
"Se.. senior Willy, ma.. mau kemana?" tanya Ronald saat Undertaker menghentikan aktifitasnya pada daun poho– eh salah, maksudnya pada daun telinga Ronald.
"BUKAN URUSANMU! DAN BERHENTI MEMANGGILKU 'SENIOR WILLY' DAN JANGAN MEMANDANGKU!" bentak William dengan wajah yang sangat datar.
BRAK!
Dengan penuh amarah William membanting pintu ruangan tersebut. Untunglah pintu itu terbuat dari bahan yang berkualitas tinggi, kalau tidak pintu itu pasti hanya tinggal sebuah nama.
"Senior..." gumam Ronald, sekarang barulah dia sadar akan kesalahannya.
"Khi... khi, bagaimana? Apa kau sekarang sudah sadar akan kesalahanmu?" tanya Undertaker
"Iya, dan tadi, anda pasti berusaha menghentikan saya 'kan?" jawab Ronald antusias
"Khi khi khi tepat" jawab Undertaker yang kembali menyerang Ronald. (author tiba-tiba merinding)
Sementara itu tanpa disadari Grell tengah menatap seorang pemuda dengan tatapan kosong. Dapat dia lihat, pemuda yang biasanya kaku itu nampak sangat mengerikan dengan aura hitam yang menyelimutinya.
Grell tersenyum kecil lalu menggumam.
"Maaf Will, aku terpaksa melakukannya" gumam Grell pada dirinya sendiri.
"Yap! Saatnya aku pergi" kata Grell seraya beranjak dari tempatnya.
"Senior mau kemana?" tanya Ronald dengan pakaian yang err– telah berantakkan sana sini.
"Tentu saja menemui bidadariku~" desah Grell dan menghilang dari pandangan dua orang yang tengah, yah kalian tahu sendirilah.
"Khi khi khi, nah ayo kita lanjutkan" seringai Undertaker pada Ronald.
GLEK!
Sepertinya apa yang terjadi pada Ciel akan terulang pada Ronald. Baiklah mari kita tinggalkan dua sejoli yang tenah bercinta itu
~OoO~
Sementara itu sosok merah yang berada diatas dahan pohon yang berada dihalaman sebuah mansion besar. Kedua mata hijaunya tengah memandangi sosok pemuda yang tengah memulai aktifitas sehari-harinya bersama seorang pria tampan.
"Kuharap dengan begini Will dan Sebby akan membenciku" gumam sosok yang engenakan mantel merah darah itu.
To be Continued
Hwhahaha
Sebenarnya apa yang terjadi pada Grell ya?
Mau tahu?
Nantikan di chapter selanjutnya ^^
Tapi sebelum itu reviews dulu ya ^^
