JUDUL: I love you, Brother

Rated T

Genre: Family/romance

Pairing: ItaSasu KisaSui dll

Summary: males nulisnya ^^v

Disclaimer: Itachi and Sasuke are NOT mine neither are the others.

Warning! This fic may contain BL element and Uchihacest although in this story they're not a real brother. Don't like don't read. If you don't like BL or Uchihacest please just go and don't give me flame m(_ _)m I appreciate that if you do.

Enjoy :3

Chapter 2

Sasuke termenung menatap langit – langit kamarnya, pikirannya dipenuhi bayangan seseorang. Dia menghela napas.

'Hhh Itachi-nii apa yang kau lakukan padaku?' tanyanya untuk yang kesekian kali.

Itachi adalah tetangganya yang baru pindah dua bulan yang lalu. Usianya berpaut 5 tahun dari Sasuke tapi terkadang tingkah lakunya manja dan kekanakan. Walaupun begitu dia selalu ada saat Sasuke membutuhkan seseorang. Dia jadi ingat bagaimana pertama kali mereka bertemu.

#Flashback#

Ting... tong...

"Sasuke buka pintunya!" teriak Fugaku dari kamar mandi. Sasuke pun berlari membuka pintu.

"Selamat malam," sapa seorang wanita cantik.

"Selamat malam," kata Sasuke.

"Hai namaku Mikoto Hatake dan ini Itachi, anakku. Kami baru pindah hari ini dan datang untuk menyapa tetangga di sekitar sini," katanya ramah.

Sasuke melihat ke belakang bahu Mikoto, disana berdiri seorang pemuda berwajah tampan tapi sayang matanya kosong dan dingin membuat Sasuke merinding.

"Namaku Sasuke, Sasuke Uchiha."

"Apa tidak apa–apa kalu aku memanggilmu Sasuke-kun?"

Sasuke hanya mengangguk, terpesona dengan kecantikan wanita dihadapannya.

"Apa orang tuamu ada di rumah?"

"Hanya ayah. Tapi beliau sedang mandi."

"Oh baiklah tidak apa–apa. Ini ada sedikit hadiah dari kami," katanya memberikan satu kotak berisi panganan.

"Terima kasih. Anda tidak perlu repot – repot," kata Sasuke.

"Terima saja bocah! Kalau kau tidak mengambilnya bebanku akan semakin berat!" bentak Itachi.

"Itachi!" potong Mikoto memperingatkan. "Maafkan dia ya, kadang – kadang dia memang kasar tapi sebenarnya dia anak yang baik. Nah kami pergi dulu Sasuke-kun masih banyak tetangga yang harus kami sapa. Salam untuk ayamu. Selamat malam," kata Mikoto ceria.

"Selamat malam," kata Sasuke.

Dia melihat Mikoto berjalan pergi dan dibelakangnya terlihat anaknya sempoyongan membawa dua kantong besar 'hadiah' untuk para tetangga.

'Sepertinya Hatake-san ingin menyapa seluruh orang di blok ini,' pikir Sasuke.

Sasuke merasa sedikit bersimpati pada anak lelakinya.

'Tapi aku tidak mau berurusan dengannya,' janji Sasuke dalam hati.

Seminggu kemudian dia mengingkari janjinya sendiri.

Malam itu, tidak seperti malam–malam biasanya, ayahnya pulang dalam keadaan mabuk berat dan melihat nilai ujiannya yang jatuh cukup drastis (walaupun masih diatas rata – rata tapi untuk seorang Uchiha hal seperti itu tidak dapat diterima). Tanpa peringatan, Fugaku menampar wajah Sasuke hingga bibirnya robek dan pipinya lebam.

"Keluar dari rumah ini! Anak tidak berguna!" teriaknya marah.

Sasuke pun keluar dan duduk sambil memeluk lutut di beranda rumahnya.

'Jangan! Jangan menangis! Jangan! Jangan! Jangan!' ucapnya dalam hati tapi tidak berhasil. Saat air matanya jatuh dia tidak bisa berhenti. Tanpa sadar Sasuke pun tertidur.


"Aduh!" Sasuke memekik kesakitan. Dia merasa sesuatu menyentuh bibirnya dan rasanya sangat perih. Dia memberontak ketika sesuatu itu menyentuh bibirnya lagi.

"Hei! Apa kau tidak bisa diam? Aku sedang berusaha mengobati lukamu!"

'Luka? Luka apa? Itu suara siapa? Sepertinya aku pernah mendengar suara itu sebelumnya,' pikir Sasuke dalam hati.

Sasuke pun membuka matanya dan yang pertama kali disadarinya adalah bahwa 'ini bukan langit–langit kamarku.'

"Ini bukan kamarku," katanya setengah sadar.

"Pfft.. Jenius sekali bocah! Ini memang bukan kamarmu."

Ah! Sekarang dia ingat suara siapa itu!

"Apa yang kau lakukan? Kenapa aku disini?"

"Seharusnya aku yang bertanya. Kenapa kau ada diluar rumahmu selarut ini?" tanyanya dengan nada suara sedikit melembut kemudian dia berdiri dan berteriak dari pintu kamarnya, "Kaa-chan dia sudah bangun!" kemudian terdengar suara orang berlari menapaki anak tangga.

"Sasuke-kun! Apa kau baik–baik saja?"

"Tentu saja tidak Kaa-chan. Dilihat darimana pun dia tidak baik sama sekali," kata Itachi datar.

"Itachi! Bisakah kau diam? Aku sedang khawatir!"

"Ah maaf tapi apa yang terjadi?"

Mikoto dan Itachi saling bertatapan bingung.

"Sudah kubilang seharusnya kami yang bertanya padamu."

Mikoto memelototi anaknya, menyuruhnya diam, "ehm Sasuke-kun. Tadi Itachi menemukanmu tertidur di beranda rumahmu dan kau terluka..."

"Terluka?" Sasuke bertanya bingung dan menyentuh bibirnya yang terluka dan dia ingat ayahnya sudah memukulnya, tanpa sadar dia pun menangis.

Insting keibuan Mikoto langsung muncul begitu melihat air mata jatuh dari mata Sasuke dan memeluknya. Dia menyuruh Itachi pergi dengan isyarat mata.

"Tapi..." Itachi hendak membantah karena dia penasaran apa yang sebenarnya sedang terjadi. Mikoto memelototinya dan dia pun keluar dengan kesal.


Satu jam kemudian, Mikoto keluar dari kamar Itachi dan menemukan anak satu – satunya itu sedang menonton TV dengan wajah bosan. Dia mendatangi anaknya dan memeluknya dengan erat.

"Ugh Kaa-chan aku tidak bisa bernapas."

"Oh maafkan aku sayang."

"Kenapa tiba – tiba?"

Mikoto pun menceritakan semuanya pada Itachi.

"Apa? Akan kuhajar orang itu!" seru Itachi.

"Jangan berbuat bodoh!" kata Mikoto sambil mencengkram erat pergelangan tangan anaknya, "memangnya kondisinya akan menjadi lebih baik kalau kau memukulnya? Apa kau kira Sasuke-kun akan menerima begitu saja kalau ayahnya dihajar oleh tetangga yang baru dikenalnya?"

"Tapi Kaa-chan dia..."

"Tidak ada tapi Itachi! Aku tahu kau paling tidak menyukai orang yang berbuat kasar pada orang yang lemah tapi sekarang biarkan aku yang mengurus masalah ini dengan Uchiha-san. Sementara itu, lebih baik kau temani Sasuke," sahut Mikoto nadanya tegas dan tidak mau dibantah.

"Kaa-chan, tapi dia seorang Uchiha, apa kau akan baik-baik saja? Mungkin aku harus menemanimu," kata Itachi masih belum putus asa.

"Tidak Itachi-chan aku tidak perlu pengawalanmu. Aku akan baik-baik saja walaupun dia seorang Uchiha," kata Mikoto tenang.

Itachi tidak puas mendengar jawaban Mikoto tapi tahu bahwa dia tidak bisa memenangkan perdebatan ini. Jadi, dengan bahu merosot dia naik kembali kekamarnya. Di kamarnya, Itachi mendapati Sasuke sedang menatap kosong langit–langit kamarnya. Dia melihat lukanya telah diobati.

"Terima kasih," Itachi yang setengah melamun terkejut mendengar seseorang berbicara.

"Hah?" hanya itu respon yang dapat diberikannya.

"Terima kasih sudah mengobatiku."

"Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan dan aku, jelas, tidak membutuhkan rasa terima kasihmu," kata Itachi sambil duduk di kursi meja belajarnya.

Sasuke memutar kepalanya menghadap Itachi wajahnya seperti berpikir keras, "... aku tahu kau tidak butuh rasa terima kasihku. Tapi aku akan terus mengucapkannya selama aku tidak memiliki sesuatu untuk membalasmu."

"Hhh, dengar bocah! Aku TIDAK butuh rasa terima kasihmu apalagi menerima SESUATU sebagai balasan. Kau mengerti?"

"Aku tidak peduli" kata Sasuke keras kepala.

"Ck terserah kau saja, bocah keras kepala," kata Itachi kesal.

Sasuke tersenyum penuh kemenangan. Ayahnya mengajarkan untuk selalu membalas kebaikan orang. Ingatan akan ayahnya, membuat Sasuke ingin menangis kembali tapi kali ini dia bisa menahannya. Melihat bahasa tubuh Sasuke yang menegang dan matanya yang berkaca–kaca, Itachi tahu dia sedang memikirkan ayahnya.

"Hei bocah siapa namamu?"

"Aku.. Sasuke Uchiha," katanya dengan suara agak bergetar.

"Uchiha ya?" Itachi bergumam.

"Ya Uchiha memangnya kenapa?"

"Apa?"

"Tadi kau bilang 'Uchiha ya?'"

"Tidak, aku tidak bilang apa pun. Sepertinya kau salah dengar bocah."

"Dari tadi kau selalu memanggilku bocah, aku punya nama jadi gunakanlah namaku!"

"Sombong sekali! Suka–suka aku ingin memanggilmu apa, bocah," kata Itachi sambil menyentil kening Sasuke.

"Hei!" kata Sasuke sambil memegang keningnya.

"Ah! Lihat sudah jam berapa ini? Lebih baik kau tidur!"

"... Kenapa?"

"Tentu saja karena ini sudah jam 3 subuh!"

"Bukan itu... Kenapa, kenapa kau menolongku?"

"... Hmm, coba kupikir," kata Itachi sambil mengerutkan dahi, "pertama karena kita tetangga, kedua karena aku tidak tahan melihat anak kecil tidur meringkuk di beranda rumahnya sampai hampir tengah malam, ketiga karena Kaa-chan akan terus mengomeliku kalau tahu aku tidak menolongmu, keempat karena..."

"Ya, ya, ya, cukup! aku mengerti. Kau menolongku karena kasihan dan takut dimarahi oleh ibumu."

"Yaaah kurang lebih."

Sasuke tersenyum lemah kemudian mengucapkan terima kasih dan akhirnya tertidur.

"Kubilang tidak usah mengucapkan terima kasih, bocah," gumam Itachi masam. "Hhh kurasa aku juga harus tidur."

=Paginya=

Sasuke mencoba mengganti posisi tidurnya tapi tidak bisa karena ada sesuatu yang menahannya di tempat. Setelah beberapa kali mencoba dan tidak berhasil, dia membuka matanya untuk melihat sesuatu itu. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah hitam. Otaknya berjalan lambat saat dia berusaha mencerna apa itu, dan setelah beberapa detik dia sadar kalau itu adalah baju berwarna hitam. Kemudian, dengan perlahan dia mengamati lengan pemilik baju tersebut melingkar di pinggangnya dan dengan lebih perlahan lagi dia menaikkan pandangannya dan melihat wajah Itachi yang sedang tertidur dengan damai. Sasuke terdiam beberapa saat, seperti tersihir, terpesona oleh wajah yang damai dihadapannya. Entah kenapa dia merasa tidak bisa melepaskan pandangannya dari wajah Itachi. Ada sesuatu disitu yang membuat dadanya berdebar kencang dan pipinya memanas. Dia menghela napas, jadi tidak mengerti dirinya sendiri dan tidak suka itu. Akhirnya, dia memutuskan tidur kembali, saat ini otaknya tidak bisa digunakan untuk berpikir. Dia meringkuk, lebih merapatkan diri dalam pelukan Itachi. Dia tidak pernah menyangka tidur sambil dipeluk seseorang ternyata rasanya tidak buruk.

Saat Sasuke terbangun untuk kedua kalinya dia hanya sendirian di tempat tidur. Dan tidak menyadari kalau sudah ada seseorang bersamanya di kamar Itachi.

"Sasuke-kun kau sudah bangun rupanya?" seru Mikoto riang.

"Ah! Maaf sudah merepotkanmu. Setelah ini aku akan pulang," kata Sasuke kaget lalu berusaha beranjak dari tempat tidur.

"Tidak apa–apa Sasuke-kun lebih baik kau tetap beristirahat."

"Tapi Otou-san..."

"Aku yang akan menghadapinya. Percayalah padaku," sahut Mikoto dengan lembut tapi penuh keyakinan.

Sasuke tidak menjawab, dia hanya memandangi selimut di bawahnya "tapi aku tidak ingin merepotkanmu lebih banyak lagi. Lagipula kurasa Tou-san tidak pernah bermaksud untuk memukulku. Dan sekarang pasti..."

"Sudahlah Sasuke-kun jangan banyak bacot (1) aku yang akan menyelesaikan masalah ini," kata Mikoto sambil tersenyum tenang. Mendengar perkataan Mikoto yang... tidak biasa Sasuke hanya bisa menatapnya dengan kaget.

"Lagipula lebih baik aku yang berbicara dengan ayahmu daripada membiarkan Itachi yang pergi. Kalau dia yang pergi, dia pasti akan mengamuk dan membuat keributan."

"Benarkah? Kenapa dia akan berbuat seperti itu? padahal kami kan baru saja kenal!"

"Itachi sangat membenci orang kasar dan suka menyiksa orang lemah..."

"Tapi Tou-san tidak kasar dan tidak pernah menyiksa orang lemah," kata Sasuke otomatis.

"Aku mengerti Sasuke-kun, Uchiha-san pasti tidak bermaksud jahat, dia juga pasti tidak bermaksud memukulmu. Tapi, Itachi, anak itu tidak pernah mau menerima alasan apapun. Sifatnya memang sudah keras sejak kecil. Kalau tidak kucegah, kurasa kemarin malam dia akan mendobrak rumahmu dan mengacau disana. Dan kau tidak perlu merasa bersalah baik kepada ayahmu maupun Itachi. Bukan salahmu kalau sekarang ayahmu jadi dibenci Itachi. Itachi akan berbuat hal yang sama bila dia menemukan orang lain diposisimu sekarang."

"Bagaimana kau tahu apa yang sedang kupikirkan?"

"Percayalah ini bukan pertama kalinya aku terlibat masalah seperti ini. Makanya, sekarang lebih baik kau berbaring lagi dan nikmati hari bebasmu."

"..."

"Ayolah jadi anak baik dan menurut padaku," kata Mikoto dengan nada yang manis seperti saat seseorang sedang berbicara dengan bayi.

Entah kenapa mendengar nada yang sepeti itu membuat Sasuke ingin tertawa tapi dia menahannya karena takut dianggap tidak sopan, "mm,, ehem,,Hatake-san.."

"Tidak perlu formal seperti itu, panggil saja aku Mikoto."

"Baiklah. Begini Mikoto-san aku tidak bisa hanya berbaring seperti ini saja, bagaimana kalau aku ikut membantumu membereskan rumah? Atau pekerjaan apapun? Akan kulakukan."

"Apa kau bisa memasak?"

"Tentu saja."

"Aha! Akhirnya seseorang yang bisa memasak! Kalau begitu bantu aku menyiapkan sesuatu untuk makan siang sementara aku menemui ayahmu."

"Apa kau yakin?"

"Tenang saja Sasuke-kun. Sekarang lebih baik kau segera turun dan menyiapkan makan siang kalau tidak saat Itachi pulang nati dia akan terus mengomel tentang betapa pentingnya makan siang."

#End Flashback#

Sesuai janjinya, Mikoto berhasil membereskan masalah Sasuke dan Sasuke pun memenuhi janjinya memasak makan siang. Akibat kejadian itu, kehidupan Sasuke perlahan-lahan berubah, dia seperti mempunyai keluarga baru. Dan entah sejak kapan dia memanggil Itachi dengan 'Itachi-nii' dan Itachi menyebutnya 'Sasu-chan'.


(1) woow ga nyangka Mikoto bisa ngomong kaya gitu O_o

Fuuh akhirnya di-update juga fic ini :) lagi-lagi tanpa ada yang ngedit, jadi kalau ada kalimat yang agak aneh... m(_ _)m

oia maafkan kalau kepanjangan dan isinya cuma flashback -_-; abis keasyikan sih nulisnya tau-tau jadinya kaya gitu heheh ^^v

Anyway, I hope you enjoy reading it as much as I enjoy writing it :D

Jyaa matta ne~ :3