Sambil berjalan menuju sekolah, Sakura menggenggam tali ranselnya erat. Hatinya masih kaget dengan kejadian kemarin. Bayangkan, orang yang sangat populer se-sekolahan. Ternyata seorang— Gay?

Dan dia menyaksikan sendiri bagaimana dua pemuda itu saling— entahlah... Bercumbu?

Tidak, tidak. Aku harus bersikap biasa.

Kepala dengan surai merah mudanya menggeleng-geleng. Sakura berhenti sebentar di depan kelas, merubah kerutan alisnya sekalian saat ia membuka kembali kelopak mata. Mengatur rautnya agar terlihat datar, seperti biasa.

"Ohayou," bola mata hijaunya tidak lupa mencari-cari dua sosok dalam kelas. Ahh, untunglah mereka belum datang,"Ah! Ino!" Sakura berteriak heboh saat melihat Ino. Dia ingin sekali menceritakan kejadian kemarin padanya, berbagi sedikit rahasia tidak apa bukan? Rasanya bila ia menyimpan rahasia itu sendiri, pundaknya terasa berat. Ino menoleh, sedang Sakura tergesa-gesa menghampiri mejanya.

"Ino! Dengar! Aku ingin memberitahumu sesuatu!" ucap Sakura tanpa jeda, saking hebohnya, hampir seluruh kelas memindahkan pandangan kepadanya. Alis pirang Ino berkerut,

"Memberitahuku apa?"

Sakura melirik puluhan pasang mata yang menatapnya ikut penasaran. Dia membungkuk mendekat, mencoba berbisik pada sahabatnya itu,"Sebuah rahasia,"

Mendengar kata rahasia, aquamarine Ino membulat sempurna,"Rahasia? Tentang siapa?"

Sakura mengangguk, menjawab pertanyaan Ino sebelumnya. Tak lama, senyum bahagia merekah sempurna di bibirnya,"Tentang mereka! Duo U—"

"Ohayou!" sapaan dari seseorang menginterupsi laporan dari Sakura. Kedua gadis itu menoleh, mendapati sesosok rambut pirang dengan coretan kumis kucing di pipinya menyapa hangat seluruh penghuni kelas—terutama para siswi. Sekilas safirnya menatap dingin ke arah Sakura, membuatnya sedikit tersentak. Apakah perasaannya saja? Atau—

"Kenapa Naruto memandangimu seperti itu?" Ino berujar tidak suka. Masalahnya Naruto menatap Sakura dengan pandangan seakan hendak menelan Sakura bulat-bulat. Tapi Sakura mengerti, dia disuruh bungkam. Ya, sorot mata Naruto terbaca jelas olehnya.

"Jadi— apa yang ingin kau ceritakan padaku Saki? Euhm, rahasia siapa?"

Suara Ino mengembalikannya ke dunia nyata. Tangan Sakura mengepal erat. Masa bodoh dengan Naruto, dia tidak akan berani macam-macam dengannya. Lagipula, tidak ada salahnya kan menceritakan sebuah rahasia pada sahabatmu sendiri? Yah, meskipun Ino memang meragukan jika disuruh menyimpan rahasia. Cukup membuatnya bersumpah saja, dan segalanya akan beres. Sakura membalikkan kepalanya, menatap aquamarine Ino dalam-dalam.

"Kemarin, di gudang penyimpanan," dia mulai berbicara serius. Melihatnya begitu, rahang Naruto mengeras. Gadis itu!

"Aku melihat—"

SRET

Seseorang membuka pintu kelas agak kencang, kemudian teriakan para siswi mulai membahana. Di sana, depan pintu seorang pemuda cool, lengkap dengan rambut emonya yang mencuat berjalan masuk ke dalam kelas. Ketika onyx-nya mendapati rambut merah muda pada jarak pandangnya, ia bergegas menghampiri. Sakura dan Ino menoleh, lalu terkejut mendapati apa yang terjadi selanjutnya. Sasuke menggenggam telapak tangan Sakura erat, menyelipkan jemarinya di antara jemari-jemari gadis itu.

"Kalian! Dengarkan aku, mulai hari ini Haruno Sakura adalah kekasihku! Jadi jangan ada yang berani mendekatinya," lantang, lugas, tegas. Tiga kata itu mewakili ucapan Sasuke yang menggelegar dari meja Ino. Pemilik meja itu melongo tidak percaya, sebelum dagunya menyentuh meja saking terbuka lebar, ia mengatupkannya kembali. Bisik-bisik perlahan terdengar, mulai dari sudut belakang kelas, depan, tengah, seluruh penjuru bahkan salah satu murid menjatuhkan penghapus papan dari genggamannya, meninggalkan sisa tulisan kapur yang masih tertera di papan tulis. Naruto tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, apa yang sebenarnya di pikirkan Sasuke!

"Haruno akan pindah tempat duduk. Shika, kau bisa menemani nona Yamanaka ini."

Merengut malas, Shikamaru beringsut dari peristirahatannya, bangku sebelah Sasuke,"Ahh... Mendokusai."

"Tunggu! Kau tidak bisa seenaknya mengatur tempat duduk-ku dan Sakura!" Ino menghentikan pergerakan semuanya—Sasuke, Sakura, Shikamaru—yang hendak bergerak. Gadis pirang itu berdiri, mengarahkan telunjuk tepat di wajah Sasuke,"Kau! Sakura bahkan belum mengatakan dia mau duduk denganmu!"

Sedaritadi diam terpaku akibat perlakuan Sasuke, Sakura mengerjapkan mata sadar. Dia berusaha melepas tautan erat pada tangannya,"Aku tidak mau duduk denganmu."

Namun Sasuke menggenggam tangan Sakura makin erat, menyebabkan gadis dengan nama unik itu meringis kesakitan,"Kau harus mau. Dan aku tidak peduli kalian setuju atau tidak, Haruno tetap duduk denganku." lalu menarik gadis itu meninggalkan Ino, kembali ke bangku yang sekarang menjadi milik mereka. Tanpa mereka sadari, Naruto memberengut kesal.

.

.

.

.

DRRTT

Ino Buta

Apa yang sebenarnya terjadi?! Apakah ini salah satu rahasia yang kau maksud? Oh my! Kau berhutang banyak cerita padaku!

Sakura menghela napas sebelum mengetik keypad pada handphone flip-nya.

DRRTT

Saki Forehead

Tidak! Ini bukan rahasia yang aku maksud! Laki-laki ini, ku rasa dia sudah gila! Kau tahu kan Ino, aku bahkan tidak menyukainya!

DRRTT

Ino Buta

Kau bahkan tidak memberontak saat dia membawamu. Kau terlalu pasrah. Jadi, hmm, apa rahasia itu?

Sakura menggerakan jari-jarinya lincah, mengetikkan sebuah rentetan kalimat panjang dalam layar. Tiba-tiba sebuah tangan—Sakura yakin itu adalah tangan—mengambil benda komunikasi darinya dengan sigap, sangat cepat. Sesekali Sakura melirik Asuma-sensei di depan, tengah membelakangi semua karena menulis di papan.

"Kau tahu Haruno? Ada saatnya untuk belajar dan ada saatnya untuk bermain hp," Sasuke menggoyang-goyangkan hp Sakura, sengaja mengejeknya. Onyx pemuda itu menelusuri tulisan-tulisan di layar,"Apa ini? Haha. Menarik. Kemarin aku melihat— dan— di— sedang—. Kau mau memberitahunya?"

Mata Sakura memicing tajam,"Kembalikan!" Dia berusaha meraih hp-nya dari Sasuke. Pada dasarnya tangan pemuda itu panjang, Sasuke malah mengangkat hp Sakura tinggi-tinggi, mencari tulisan delete pada option. Sakura memekik halus, dia menoleh takut-takut ke arah Asuma-sensei yang ternyata masih sibuk menulis.

"Uchiha!" bisik Sakura pelan dan marah, takut terdengar oleh senseinya. "Kembalikan hpku sekarang juga!"

"Bagaimana kalau kau akan mencoba memberitahunya lagi? Aku sita ini."

"Ya ampun! Kenapa kau suka seenaknya sih! Kembalikan!"

Hening. Sepasang bola mata kehijauan Sakura melirik ke depan. Aman, Asuma-sensei masih berkutat dengan kegiatannya di papan.

"Aku kekasihmu Haruno. Jadi aku tentu bisa berbuat semauku." Sasuke mengeluarkan senyum penuh kemenangan, membuat Sakura mendengus kesal.

"Aku tidak mengiyakan pernyataan konyolmu itu. Jangan bodoh, bagaimana dengan kekasih Ga—"

Belum sempat Sakura menyelesaikan ucapannya, tangan kekar Sasuke menyelip di belakang tengkuknya, menarik gadis itu untuk menciumnya. Bibir bertemu bibir, mata Sakura terbelalak. Dia berusaha menjauhkan diri dari pemuda di hadapannya. Tapi tenaga Sasuke jauh lebih besar, tangannya masih memegangi tengkuknya sementara pemuda itu terus menciumnya. Lama-lama mereka kekurangan oksigen, Sakura mulai merasa sesak dan Sasuke tidak berhenti atau membiarkannya menarik napas. Malah memperdalam ciuman, lidah Sasuke menjelajah liar dalam mulutnya. Sakura tidak tahan, dia tidak bisa bernapas, dia mencengkram kerah kemeja Sasuke,

KLIK!

Sakura menoleh. Sial!

Sasuke memotret foto ciuman mereka dengan hp miliknya sendiri.

"Kalau kau berbicara macam-macam. Aku akan menyebarkan foto ini." sambil bersender di jendela, Sasuke mengangkat hp Sakura dan memperlihatkannya dari samping.

Foto yang menipu! Seolah-olah Sakura memaksa untuk menciumnya. Dan, sejak kapan tangannya berpindah dari tengkuknya?

Napas Sakura terengah-engah, wajahnya memerah karena kepanasan dan malu. Semuanya beradu jadi satu.

"Apa maumu?" gadis itu mendesis. Kebalikan darinya, Sasuke menyeringai senang.

"Kita akan berperan sebagai sepasang kekasih palsu. Sampai— aku juga tahu rahasia terbesarmu."

"Kau mau tahu rahasia terbesarku? Aku tidak menyukaimu!"

Tertawa pelan, Sasuke menengok keadaan sekitar,"Semua orang di sekolah ini sudah tahu. Itu bukan rahasia lagi. Tenang saja, aku akan sabar mencari tahu."

Bunyi goresan kapur terhenti. Asuma-sensei menepuk-nepuk tangannya, menghilangkan bubuhan kapur dari sana,"Kerjakan soal-soal ini dan kalian bisa pulang."

Sasuke memasukkan hp Sakura ke dalam kantong celananya, dia mengeluarkan buku kemudian melakukan apa yang dikatakan Asuma-sensei. Di ikuti oleh Sakura, gadis itu menyalin soal dari papan kesal. Uchiha brengsek!

Dari bangku ujung paling depan, pemuda berambut pirang mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Safirnya berkilat marah setelah menyaksikan seluruh adegan dari bangku paling belakang. Dan di seberang mejanya, gadis berponi pirang panjang menerka-nerka dalam pikirannya, ada apa dengan gedung penyimpanan?

.

.

.

.

.

To be continued

.

.

.

.

Author's note :

Nah, saya mau memperjelas. Di sini memang ada fic Yaoinya dikit-dikit, nyempil dikit. Jadi yaoinya ada tapi ga bakalan berakhir yaoi. Untuk pair, SasuSaku atau NaruSaku belum jelas. Tergantung dr banyak review, dukungnya yang mana, sy usahakan menjadikannya nyata *alaha*

Untuk NaMIKAze Nara, mungkin kita punya ikatan batin. Atau imajinasi kita setara sampai2 bisa berpikiran sama. Hahaha! Anggap saja fic ini sy persembahkan untuk kamu, *kiss*

Thanks for review.

Nauri Minna-Uchisaso KSS, Me, AcaAzuka Yuri chan, Sami haruchi, Earl Louisia vi Duivel

Oh ya, berhubung saya merasa adegan-adegannya mungkin agak dewasa, jadi sy naikan ratingnya. :)

Semoga chap ini cukup panjang, gomen.

Review?