TITLE: I love you, Brother
Rated: T
Genre: Family/romance
Pairing: ItaSasu KisaSui
Summary: just read please :3
Disclaimer: Itachi and Sasuke are not mine neither are the other characters of Naruto.
Warning! This fic may contain BL element and Uchihacest although in this story they're not a real brother. Don't like don't read. If you don't like BL or Uchihacest please just go and don't give me flame m(_ _)m I appreciate that if you do.
Soooo without further ado please enjoy :D
Chapter 3
Sasuke mengunci pintu rumahnya, bersiap untuk pergi ke sekolah. Ayahnya seperti biasa sudah pergi duluan. Dia membuka pintu gerbang dan mulai berjalan ke arah sekolahnya. Tiba-tiba ditengah jalan, seseorang menutup matanya.
"Tebak siapa?" tanya orang yang menutup matanya.
"Itachi-nii, lepaskan aku!" seru Sasuke. Dia tidak menyangka akan mendapat serangan sepagi ini.
Itachi melepaskan tangannya sambil tertawa kecil. "Pagi Sasu-chan," katanya riang.
"Kenapa kau tidak bisa mengucapkan salam seperti biasa sih?" tanya Sasuke sebal.
"Aku akan mengantarmu ke sekolah hari ini," kata Itachi tidak memperdulikan pertanyaan Sasuke.
"Apa? Kenapa?" tanya Sasuke heran.
"Sudahlah, ayo kita berangkat. Nanti kau bisa terlambat," kata Itachi sambil meraih tangan Sasuke dan menyuruhnya segera berjalan.
Untuk sesaat Sasuke hanya terdiam dan membiarkan Itachi membimbingnya. Sepertinya Itachi tidak berniat melepaskan genggaman tangannya dan hal itu membuat wajah Sasuke memanas. Dia masih tidak mengerti kenapa tapi setiap kali berada di sekitar Itachi dengan otomatis wajahnya akan memanas dan jantungnya berdebar kencang.
"...Kenapa kau tiba-tiba mengantarku? Bagaimana dengan sekolahmu?" tanya Sasuke sesaat kemudian.
"Aku sudah tidak bersekolah lagi Sasu-chan... Maksudku aku sudah menyelesaikan sekolahku sampai tingkat SMA," jelas Itachi saat melihat Sasuke kebingungan.
"Tapi, tapi, tapi kau baru 15 tahun?" seru Sasuke dengan mata terbelalak.
Itachi hanya mengangkat bahu.
"Bagaimana kau bisa..."
"Sudahlah Sasu-chan aku tidak ingin membahas itu," potong Itachi agak tajam.
Sasuke terdiam, jarang-jarang Itachi bersikap seperti itu. Melihat perubahan sikap Sasuke, Itachi mengeratkan genggaman tangannya.
"Aku tidak marah Sasuke. Aku hanya tidak ingin membicarakan hal itu," kata Itachi menenangkan.
"Mm aku mengerti 'Tachi-nii. Maafkan aku," kata Sasuke pelan.
"Tidak perlu minta maaf, Sasu-chan... Oh ya, hari ini 'Kaa-chan mengundangmu dan Fugaku-san untuk makan malam," kata Itachi mengalihkan pembicaraan.
"Wah tumben, dalam rangka apa?"
"Karena kemarin malam, 'Kaa-chan menemukan buku resep dan ingin kita semua ikut mencicipi masakannya."
"Baiklah aku akan memberi tahu 'Tou-san nanti," kata Sasuke.
Setelah itu, mereka berjalan ke sekolah dalam diam. Dan tanpa terasa mereka pun sampai di depan sekolah.
"Kita sudah sampai 'Tachi-nii. Terima kasih sudah mengantarku," kata Sasuke sambil tersenyum. Senyum yang selalu membuat Itachi terperangah. Dan tanpa bisa menahan diri, Itachi mengecup kening Sasuke.
"Sama-sama Sasu-chan," katanya sambil membalas senyuman Sasuke. "Sampai ketemu nanti malam."
Dengan itu, Itachi pun pergi meninggalkan Sasuke yang lagi-lagi wajahnya merona. Lalu dia tersadar saat mendengar pekikan salah seorang anak perempuan, yang tidak salah lagi pasti adalah salah seorang fans Sasuke.
"Kyaa kau lihat tadi? Orang tadi mencium kening Sasuke-kun! Siapa dia?" pekik salah seorang berambut pink.
"Aku tidak tahu. Tapi dia juga tampan. Apa dia mau jadi pacarku ya?" balas yang berambut pirang dengan nada suara setengah bermimpi.
Mendengar perkataan gadis berambut pirang entah kenapa membuatnya sebal. Dia merasa kalau tidak boleh ada yang mendekati Itachi kecuali dirinya. Dia membalikkan tubuh dengan kesal dan berjalan masuk ke dalam sekolah.
Di jalan, setelah mengantar Sasuke ke sekolah, Itachi mengutuki dirinya sendiri karena tidak bisa mengontrol perbuatannya. Walaupun sekarang Sasuke tidak mengatakan apapun tapi Itachi takut suatu saat nanti Sasuke akan menjauhi dirinya kalau dia terus bersikap seperti itu. Tapi menahan diri di depan Sasuke adalah sesuatu yang tidak mungkin.
"Anak itu terlalu manis untuk kebaikannya sendiri," katanya bergumam.
Sebenarnya, hari ini dia mengantar Sasuke ke sekolah atas permintaan Fugaku. Entah kenapa sepertinya Fugaku curiga kalau ada seorang penguntit yang mengikuti Sasuke. Itachi tidak bisa menyalahkan maniak itu, tapi dia tidak akan membiarkannya kalau penguntit itu sampai menyentuh apalagi menyakiti Sasuke.
'Tapi tidak ada yang mengikutinya tadi. Sepertinya aku juga harus menjemputnya,' pikir Itachi.
Sore harinya, Sasuke kaget melihat Itachi sudah menunggu di depan gerbang sekolahnya.
"Itachi-nii kenapa kau ada disini?"
"Apa kau tidak suka kalau aku jemput?" tanya Itachi sedikit kecewa.
"Bukan begitu, hanya saja..." Sasuke tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia tentu saja merasa senang tapi sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan Itachi sejak tadi pagi.
"Aku disuruh berbelanja oleh 'Kaa-chan," kata Itachi sambil menunjukkan kantong plastik yang dibawanya. "Karena searah, kupikir lebih baik aku menunggumu jadi kita bisa pulang bersama. Pintar 'kan?" katanya dengan bangga.
"Ya, ya, ya terserah kau sajalah. Jadi, hari ini Mikoto-san akan memasak apa?"
"Ra. ha. si. a," kata Itachi sambil tersenyum misterius.
"Ayolah jangan pelit seperti itu, beritahu aku, kumohon~" kata Sasuke memohon.
Mendengar nada memohon Sasuke, Itachi menelan ludahnya. Biasanya dia selalu sulit menolak permohonan Sasuke kalau dia sudah menggunakan nada memohon seperti itu, tapi tadi pagi ibunya sudah berpesan untuk merahasiakan menu makan malam mereka.
"...Aku tidak akan memberitahumu," katanya sambil menyentil kening Sasuke.
"Hei!" kata Sasuke kesal sambil memegang keningnya.
"Aku bisa dibunuh 'Kaa-chan kalau aku memberitahumu."
"Ayolaaaah~ aku tidak akan memberitahunya kalau kau sudah memberitahuku."
Mereka terus berdebat sepanjang perjalanan pulang. Tapi, lagi-lagi Itachi tidak melihat siapa pun. Dia mulai berpikir kalau Fugaku terlalu paranoid dengan keselamatan anaknya.
Tiga hari kemudian, orang yang menguntit Sasuke belum menampakkan dirinya. Untuk itu, hari ini Itachi mengubah taktiknya, dia tidak mengantar Sasuke ke sekolah tapi membuntutinya ke sekolah. Mungkin saja penguntit itu hanya menyerang saat Sasuke sedang sendirian.
'Hari ini pun tidak ada... Mungkin aku harus membicarakan hal ini dengan Fugaku-san,' pikir Itachi.
Malamnya, Itachi mengunjungi Fugaku.
"Itachi-kun ada apa?" tanya Fugaku saat membuka pintu.
"Apa Sasuke sudah tidur?"
"Hm? Oh! Pasti kau mau membicarakan hal 'itu' ya? Ayo masuk," Fugaku mempersilakannya masuk. Dia kemudian membimbing Itachi menuju ruang kerjanya.
"Silakan duduk."
"Terima kasih," kata Itachi sambil duduk di salah satu kursi di depan meja Fugaku. "Fugaku-san, aku akan langsung bertanya ke pokok masalah: apa penguntit itu benar-benar ada?"
"..."
"Sudah empat hari tapi tidak ada tanda-tandanya sama sekali."
"Aku yakin Itachi-kun," balas Fugaku tegas.
"Apa buktinya?"
"Karena aku pernah melihatnya tapi saat kukejar orang itu selalu berhasil kabur. Dia licin dan licik seperti ular," kata Fugaku geram.
"Kenapa kau tidak menyuruh anak buahmu saja? Bukankah mereka lebih profesional?"
"Mereka memang lebih profesional tapi kalau soal Sasuke kurasa kau bisa lebih dipercaya," kata Fugaku tersenyum tipis.
Mendengar komentar Fugaku, Itachi jadi salah tingkah. 'Apa Fugaku-san sadar kalau aku... Ah tidak! Tidak mungkin!' pikir Itachi.
"Baiklah, aku akan terus mengawasi keadaannya," kata Itachi sambil berdiri.
"Terima kasih Itachi-kun. Aku tahu kau bisa diandalkan," kata Fugaku sambil membukakan pintu untuk Itachi.
Hari kesepuluh, Itachi terlambat bangun dan saat dia berlari keluar rumah Sasuke sudah tidak ada. Dia berlari sepanjang jalur perjalanan sekolah Sasuke tapi tidak menemukannya dimana pun. Itachi melirik jam tangannya, jam 7.45.
'Apa mungkin Sasuke sudah tiba di sekolah?' pikirnya.
Dia kemudian berlari menuju sekolah Sasuke. Jam 8 tepat, Itachi tiba di gerbang sekolah Sasuke, napasnya memburu karena berlari sekuat tenaga. Hanya beberapa anak yang masih berlari menuju gerbang sekolah yang sudah akan ditutup. Dia berputar mengelilingi kompleks sekolah hingga sampai di gerbang belakang yang sudah ditutup dan dengan mudah dia melompati tembok samping sekolah.
'Kami (1), kumohon semoga Sasuke sudah duduk dengan manis, belajar di kelas,' Itachi berdoa dalam hati. Entah kenapa tiba-tiba muncul firasat buruk dalam hatinya.
Itachi menunggu hingga bel sekolah berdentang 3 kali yang menandai waktu belajar akan dimulai. Setelah keadaan cukup sepi, dia berjalan masuk ke dalam sekolah.
"Kelas 5-3, kelas 5-3, kelas 5-3," dia berbisik sendiri sambil melihat papan kelas. Akhirnya dia menemukan ruang kelas Sasuke yang berada di ujung koridor di lantai 2.
Itachi mengintip ke dalam kelas, berusaha menemukan Sasuke didalamnya. Sayangnya, dia tidak melihat satu pun postur tubuh yang mirip dengan Sasuke. Kemudian, seorang anak laki-laki keluar dari kelas. Itachi langsung menghentikannya.
"Ah, maaf. Apa kau teman Sasuke?" tanya Itachi.
Anak lelaki itu membalikkan badannya, wajahnya terlihat sangat mengantuk. "Iya. Ada apa?"
"Apa Sasuke masuk hari ini?"
"Hmm," anak lelaki itu berpikir sejenak. "Aku belum melihatnya hari ini. Ngomong-ngomong kau siapa?"
"Terima kasih," kata Itachi, tidak menjawab pertanyaan anak itu. Dia langsung melesat meninggalkan sekolah Sasuke.
"Siapa dia?" tanya teman Sasuke pada dirinya sendiri. Tapi kemudian dia mengangkat bahu tidak peduli dan meneruskan rencana perjalannya ke atap sekolah untuk tidur.
(1) Sekedar informasi, Kami disini maksudnya dewa.
A/N: Ooh dimana Sasu-chan sekarang? Kalo mau kelanjutannya tungguin di chapter selanjutnya *hihihihi promosi nih ceritanya ;)
Ini bukan chapter baru tapi versi revisi dari chapter 3 ^^v
