JUDUL: I love you, Brother
Rated: T
Genre: Family/romance
Pairing: ItaSasu KisaSui
Summary: just read please :3
Disclaimer: Itachi and Sasuke are not mine neither are the other characters of Naruto.
Warning! This fic may contain BL element and Uchihacest although in this story they're not a real brother. Don't like don't read. If you don't like BL or Uchihacest please just go and don't give me flame m(_ _)m I appreciate that if you do.
Thanks for all the reviews, it really motivates me to continue this story :)
So without further ado please enjoy :D
Chapter 4
Setelah keluar dari kompleks sekolah Sasuke, Itachi kembali menelusuri jalan-jalan yang mungkin digunakan oleh Sasuke.
'Kumohon semoga dia hanya menemukan anak kucing yang terlantar dan tidak tega meninggalkan mereka,' Itachi kembali berdoa dalam hati. Tapi dia tidak menemukan Sasuke dimana pun, bahkan di tempat biasanya banyak anak kucing dibuang.
"Kemana kau Sasuke?" tanya Itachi putus asa.
Saat itu dia sedang berdiri di depan toko olah raga. Dan seseorang menepuk bahunya dari belakang.
"Anak muda! Tidak baik di pagi yang cerah dan ceria ini kau bermuram durja seperti itu! Ayo kau harus lebih bersemangat! Tunjukkan semangat mudamu!" ujar orang yang menepuk bahunya tadi. Orang itu memakai baju ketat berwarna hijau, potongan rambut yang seperti batok kelapa, dan alis yang tebal.
"Siapa kau?" tanya Itachi datar.
"Ah! Maafkan aku! Namaku Guy Maito! Pemilik toko peralatan olah raga ini!" katanya sambil menunjuk toko di belakangnya.
Itachi ingin bilang bisakah dia berhenti berbicara dengan tanda seru di setiap jeda kalimatnya tapi sekarang ada hal yang lebih penting dari itu. Dia merogoh kantong celananya dan mengeluarkan hand phone-nya.
"Guy-san, apakah Anda pernah melihat anak ini?" tanya Itachi sambil memperlihatkan foto Sasuke.
Pria aneh didepannya melihat dengan seksama foto itu. "Hmm.. Ya aku ingat! Aku pernah melihat anak ini!"
"Kapan?" tanya Itachi cepat.
"Mungkin sekitar jam 7 tadi pagi, ah tidak, aku yakin, aku melihatnya jam 7 tadi! Karena saat itu aku sedang bersiap membuka tokoku seperti biasa!"
"Lalu kemana dia pergi? Apa ada orang bersamanya?"
"Dia pergi ke arah sana!" kata Guy sambil menunjuk ke arah utara. "Dan dia pergi bersama seorang pria!"
"Pria? Seperti apa rupanya? Apa kau tahu?"
"... Maafkan aku. Aku tidak terlalu memperhatikan penampilan pria itu tapi yang aku ingat pria itu berkulit sangat pucat dan memiliki rambut yang agak panjang," jawab Guy dengan sedikit ragu.
Itachi bersiap untuk berlari kembali tapi Guy menghentikannya dengan mencengkram bahunya.
"Ada apa sebenarnya?" tanyanya dengan alis berkerut, ekspresi wajahnya serius.
Itachi berpikir sejenak mempertimbangkan apakah bijaksana memberitahukan masalah ini pada orang asing. Dilihat dari sikapnya, Itachi bisa mengira jika pria bernama Guy ini diberitahu kalau Sasuke mungkin diculik oleh pria yang tadi dilihatnya, pasti dia akan langsung panik dan langsung melaporkan penculikan ini pada polisi dan Itachi tidak mau hal itu terjadi. Fugaku sudah mempercayakan Sasuke padanya dan dia akan membereskan masalah ini sendiri!
"... Tidak ada yang perlu dicemaskan Guy-san. Terima kasih atas informasinya," dengan itu Itachi menepis tangan Guy dan mulai berlari kembali.
Itachi terus pergi ke arah utara dan menanyai setiap orang yang ditemuinya. Namun sayang, tidak ada lagi yang melihat Sasuke. Frustasi, dia membuka hand phone-nya, mencari nomor Fugaku tapi tidak berani menekan tombol dial. Apa yang akan dia katakan pada Fugaku? Sasuke hilang karena kelalaiannya, padahal dia sudah berjanji untuk menjaganya. Satu-satunya cara untuk memenuhi janjinya adalah dengan menemukan Sasuke secepat mungkin.
Sebenarnya, ini bukan hanya masalah janji yang dibuatnya dengan Fugaku saja tetapi juga karena yang menghilang adalah orang yang berharga bagi dirinya sendiri. Hanya dengan memikirkan kalau dia kehilangan Sasuke saja sudah membuatnya menderita. Itachi tidak akan dapat memaafkan dirinya sendiri kalau sesuatu yang buruk sampai menimpa Sasuke!
Itachi memperlambat larinya menjadi jalan biasa. Sekarang dia hampir mencapai tepi utara Konoha yang dibatasi oleh hutan yang lebat.
'Aku tidak yakin ada yang tinggal di hutan sana. Mungkinkah penguntit itu berjalan ke arah lain? Aku akan menyusuri jalan ini dulu, setelah itu akan kucoba semua jalur yang memungkinkan,' pikirnya murung.
Itachi melihat jam tangannya, sudah hampir pukul 12 siang, ini berarti sudah empat atau lima jam keberadaan Sasuke tidak jelas rimbanya. Itachi tidak mau memikirkan apa yang dilakukan oleh maniak itu pada Sasu-channya.
"Nenek sialan! Cepat bayar hutangmu atau kuhancurkan warungmu ini!" tiba-tiba terdengar sebuah suara yang membahana memecah konsentrasi Itachi. Ternyata suara tersebut berasal dari sebuah warung tidak jauh dari posisi Itachi. Itachi tidak bisa melihat apa yang terjadi karena warung tersebut telah dikelilingi orang yang menonton. Hening beberapa saat kemudian terdengar suara barang pecah dan berjatuhan. Orang-orang yang menonton menatap takut ke dalam warung tapi tidak berbuat apapun. Itachi berusaha menembus kerumunan yang lumayan padat, dengan bersusah payah akhirnya dia berhasil mencapai barisan terdepan. Sekarang dia bisa melihat jelas apa yang sedang terjadi – dua orang berpakaian hitam mengancam seorang nenek yang tersungkur di lantai warungnya. Penagih hutang. Hal ini sudah biasa terjadi sehingga sudah tidak mengejutkan Itachi lagi. Sebelum kedua penagih hutang itu merusak warung lagi, Itachi dengan cepat maju ke depan.
"Hentikan! Aku akan membayar hutang nenek," katanya sambil membantu nenek penjaga warung berdiri.
"Wah wah ada anak kecil sok jago yang ingin menjadi pahlawan rupanya," sahut salah satu penagih hutang yang berambut putih.
"Siapa kau?" tanya yang satu lagi.
"Bukan urusanmu. Berapa pun hutangnya akan kubayar, jadi berhentilah menyakiti nenek dan menghancurkan warungnya," kata Itachi tenang.
"Kau pikir kau sanggup membayar hutangnya?" tanya yang berambut putih lagi.
"Sudah kubilang berapa pun akan kubayar," kata Itachi dingin.
"Anak yang menyebalkan! Kakuzu biarkan aku mengahajar bocah sialan ini!" kata yang berambut putih berapi-api.
Tapi temannya menghentikannya. "Jaga sikapmu Hidan." Kemudian dia melanjutkan sambil melihat Itachi, "Nah, aku tidak tahu siapa kau tapi kalau kau memang akan membayar hutang nenek ini akan kuterima dan kami akan pergi."
"Tapi..." kata Hidan.
Kakuzu memelototinya, seolah mengatakan dia akan mendapat masalah kalau berani melawan. Melihat itu, Hidan langsung diam.
"Cih! Sial," umpatnya.
"Baiklah, ini jumlah hutangnya. Apa kau sanggup?" tanya Kakuzu sambil memperlihatkan secarik kertas dengan angka yang cukup besar tertulis disitu.
"Akan kubayar," jawab Itachi.
Setelah semua masalah pembayaran beres, para penagih hutang itu pun pergi. Setelah mereka pergi barulah para tetangga nenek penjaga warung itu berani mendekat dan membatu membereskan warung.
"Terima kasih, Nak. Bagaimana aku bisa membalas kebaikanmu?" tanya nenek itu.
"Sudahlah, aku membantu bukan untuk meminta pamrih dari nenek," kata Itachi. "Maaf nenek tapi aku tidak bisa membantu membereskan warungmu, aku harus pergi mencari seseorang."
"Tidak apa, pergilah biar kami yang membantu Nenek Chiyo," kata para tetangga yang sedang mebantu membereskan warung.
"Tunggu!" tiba-tiba nenek Chiyo berseru. "Apakah orang yang kau cari adalah seorang anak sekolah dasar yang memiliki rambut yang seperti ini?" kata nenek Chiyo sambil menggerak-gerakkan tangan di belakang kepalanya, menggambarkan potongan rambut Sasuke.
"Iya! Apa nenek tahu kemana dia pergi?" tanya Itachi cepat. Ternyata masih ada harapan untuk menemukan Sasuke.
"Tadi aku melihatnya pergi bersama seorang pria," kata nenek Chiyo mulai menjelaskan.
"Hahahahaha Nenek mulai lagi dengan cerita itu," ujar salah satu tetangganya.
"Aku tidak bohong! Pria itu pasti seorang kriminal. Aku yakin!"
Para tetangganya hanya tertawa kembali, sambil menggelengkan kepala mereka melanjutkan kembali kegiatan membereskan warung.
"Beritahu aku kemana mereka pergi!" desak Itachi.
"Kau tahu rumah besar yang ada di daerah pinggiran Konoha sana?" tanya nenek Chiyo menunjuk ke arah hutan. "Kesanalah biasanya orang itu pergi. Aku selalu memperhatikannya membawa anak kecil ke sana tapi tak seorang pun pernah kembali," cerita nenek Chiyo dengan suara yang dibuat angker. "Tapi tak seorang pun yang percaya padaku! Dan tadi pagi, setelah sekian lama orang itu tidak keluar dari rumahnya, dia muncul lagi bersama seorang anak laki-laki yang cantik itu."
"Rumah besar yang mana? Banyak rumah besar di daerah pinggiran Konoha!" kata Itachi mulai panik setelah mendengar cerita nenek Chiyo.
"Rumah besar tepat dipinggir hutan. Kau pasti tahu begitu melihatnya."
"Terima kasih Nenek," kata Itachi yang langsung berlari seperti peluru kendali ke arah yang ditunjukkan Nenek Chiyo.
Sekarang Itachi berada di pekarangan rumah yang ditunjukkan Nenek Chiyo. Sesuai dengan apa yang dikatakan orang tua itu, Itachi memang bisa langsung mengenali rumah maniak yang menculik Sasuke. Dari luar rumah itu sangat mencolok, selain karena besarnya yang kontras sekali dengan rumah yang ada disekitarnya juga suasananya yang membuat bulu kuduk merinding, singkatnya bisa dikatakan kalau itu adalah sebuah rumah tua besar yang angker.
Itachi berusaha membuka pintu belakang rumah itu namun terkunci. Sekarang dia sedang mencoba beberapa jendela, dengan sedikit keberuntungan pasti ada satu jendela yang tidak terkunci di rumah sebesar ini. Ternyata dugaannya tepat, salah satu jendela di dapur tidak terkunci, tanpa keraguan sedikit pun Itachi langsung masuk ke dalam.
Itachi memeriksa setiap kamar yang dilaluinya sambil tetap menjaga kewaspadaannya. Dia telah menyisir lantai 1 dengan seksama namun semua kamar kosong. Itachi kemudian mulai mencari di lantai 2. Setelah tiga kamar kosong, dia membuka kamar keempat dan didalamnya terbaring seseorang yang segera dikenali oleh Itachi.
"Sasuke!" seru Itachi. Namun Sasuke tidak bergerak. Itachi kembali memanggil namanya dan menggoyangkan tubuhnya tapi tetap tidak ada reaksi. Untuk sesaat Itachi sangat panik, bagaimana kalau... Kemudian dia sadar kalau napas Sasuke tenang dan teratur. Sepertinya seseorang memberinya obat bius.
"Aku harus memberi tahu Fugaku-san," katanya.
Sebelum dia berhasil menghubungi Fugaku terdengar suara langkah mendekat. Dari ambang pintu muncul seorang lelaki berambut panjang dan berminyak serta berkulit pucat, ada kesan yang kuat yang ditinggalkannya pada pandangan pertama, dia benar-benar seperti ular.
"Siapa kau?" desisnya.
Itachi berdiri di samping tempat tidur. Dia tidak akan membiarkan orang gila ini mendekati Sasukenya.
"Bukan urusanmu siapa aku. Aku hanya ingin mengambil kembali anak ini," kata Itachi dingin.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu begitu saja?" desisnya marah.
"Coba saja halangi aku kalau bisa, ular brengsek!" kata Itachi sambil tersenyum mengejek.
Tanpa aba-aba, pria itu menyerang tapi Itachi bisa melihat serangannya dan berhasil menghindar. Mereka terus saling menyerang selama beberapa saat.
'Benar kata Fugaku-san, benar-benar licin seperti ular. Aku harus cepat mengakhiri ini semua sebelum serangannya berhasil melumpuhkanku,' pikir Itachi.
Kemudian Itachi melihat celah dalam serangan musuhnya dan dengan cepat melayangkan tendangan berputar ke arah leher musuhnya itu (1). Dan pria itu langsung terkapar, tidak sadarkan diri. Dengan sedikit terengah Itachi berhasil mendudukkan pria itu disebuah kursi dan mengikatnya dengan tali yang tadi ditemukannya di dapur.
"Heh, untung tadi aku mengambil tali ini, ternyata berguna juga."
Itachi segera mengambil HPnya dan menghubungi Fugaku.
Sepuluh menit kemudian, Fugaku datang bersama tiga orang anak buahnya. Ketiga anak buahnya langsung menggeledah rumah. Mereka berhasil menemukan seorang lagi dalam rumah itu yang diduga adalah komplotan si pria ular. Keduanya digiring ke mobil polisi.
"Itachi-kun, pulanglah duluan bersama Sasuke. Aku akan mengurus sisanya disini," kata Fugaku.
"Fugaku-san, aku..."
"Kita akan berbicara nanti. Sekarang pulanglah dan rawat Sasuke," potong Fugaku.
Itachi menganggukkan kepalanya dan menggendong Sasuke pulang ke rumah.
Dua jam kemudian Fugaku sudah kembali ke rumah tapi Sasuke masih belum sadar sepertinya maniak itu memberikan obat bius dosis tinggi. Hal ini membuatnya khawatir, namun Fugaku bilang bahwa Sasuke baik-baik saja.
Sekarang Itachi sedang duduk berhadapan dengan Fugaku di ruang duduk. Untuk sesaat keduanya tidak mengucapkan apapun. Itachi lah yang pertama angkat suara.
"Maafkan aku Fugaku-san. Aku telah melalaikan tugasku!" kata Itachi sambil melakukan dogeza (2). Dia sudah siap kalau Fugaku akan mendamprat habis atau menghajarnya atau apapun asal tidak disuruh menjauh dari Sasuke.
Fugaku tidak langsung menjawab yang malah membuat hati Itachi semakin berdebar kencang.
"Sudahlah Itachi-kun, angkatlah wajahmu. Ini bukan salahmu. Yang terpenting sekarang Sasuke sudah selamat," kata Fugaku.
"Tapi... tapi kalau aku bangun tepat waktu Sasuke tidak akan..." kata Itachi tidak menyelesaikan kalimatnya, suaranya sedikit tercekat. Dia masih ngeri membayangkan apa saja yang bisa dilakukan maniak itu terhadap Sasu-channya yang manis.
"Itachi-kun, aku tidak pernah menyalahkanmu. Aku malah berterima kasih kau sudah menyelamatkan Sasuke," ujar Fugaku sambil membungkuk sedikit menunjukkan rasa terima kasihnya.
"Tolong jangan menyindirku seperti itu Fugaku-san. Kecerobohanku hampir mencelakai Sasu-chan dan..."
"Sepertinya perkataan Hatake-san memang benar. Aku akan menceritakan semuanya supaya kau tidak perlu lagi menyalahkan diri sendiri. Akulah yang seharusnya disalahkan," ujar Fugaku muram. "Pria yang menculik Sasuke bernama Orochimaru, dia sudah diburu oleh pihak kepolisian selama tiga bulan terakhir ini karena dicurigai sebagai penculik dan pembunuh. Tapi kami tidak bisa menangkapnya karena tidak ada bukti khusus yang bisa mengantarnya ke penjara. Kemudian, suatu hari aku melihatnya di dekat supermarket tempat aku dan Sasuke biasa berbelanja. Dan orang ini beberapa kali lagi muncul seolah sedang mengamati Sasuke. Kemudian, terlintas suatu pikiran gila dalam benakku..."
"Kau menggunakan anakmu sendiri sebagai umpan! Beraninya kau!" teriak Itachi sambil menggebrak meja.
Fugaku mengerutkan alisnya dan wajahnya menjadi semakin muram. "Ya. Kau bisa mengatakan seperti itu. Tapi aku sudah melakukan berbagai persiapan agar nyawa Sasuke tidak terancam. Mungkin kau tidak sadar tapi aku selalu menyuruh anak buahku membututi kalian. Sayangnya, Orochimaru menyadari adanya pihak kepolisian karena anak buahku yang seharusnya membuntuti kalian ditemukan tidak sadarkan diri, sepertinya entah bagaimana dia berhasil membius anak buahku karena mereka ditemukan tidak sadarkan diri di..."
"Aku tidak peduli dengan nasib anak buahmu!" potong Itachi tajam. "...Aku tidak mengerti kenapa kau tega mengumpankan anakmu sendiri. Bagaimana bisa kau berpikir semuanya akan aman saja dengan menyuruh anak buahmu mengawasi kami padahal kau tahu maniak itu benar-benar gila! Apa kau tidak peduli dengan keselamatan Sasuke? Apa itu sikap seorang ayah yang menyayangi anaknya?" sekarang Itachi sudah hampir berteriak. Dia benar-benar berpikir harus menghajar orang ini yang berani menjadikan Sasukenya sebagai umpan.
"Hentikan Itachi! Sebenarnya, ini semua adalah ideku," kata Mikoto yang tiba-tiba muncul. "Kalau kau mau marah, marahlah padaku. Dari awal Uchiha-san sudah tidak setuju dengan ide ini, tapi aku memaksanya."
"'Kaa-chan, apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau sedang pergi bersama Obito-san? Lalu apa maksudmu dengan semua ini adalah idemu?" tanya Itachi kebingungan.
"Aku baru saja pulang dan langsung datang kesini untuk melihat bagaimana keadaan Sasuke," jawab Mikoto tenang. "Dan untuk pertanyaanmu selanjutnya biarkan aku saja yang menjelaskan semuanya. Seperti yang kau tahu, untuk menghentikan pria itu selamanya harus ada sesuatu yang bisa membuktikan kalau dia bersalah. Dia melakukan semua aksinya dengan hati-hati sehingga tidak ada bukti yang tersisa yang bisa menunjukkan kalau dia bersalah akibatnya surat penggeledahan tidak bisa dikeluarkan dan pihak kepolisian tidak bisa menggeledah rumahnya. Karena itulah aku mengusulkan ide ini pada Uchiha-san supaya pihak kepolisian bisa menangkap basah maniak itu saat melakukan kejahatannya."
"Tapi kenapa harus Sasuke?" tuntut Itachi.
"Itu hanya kebetulan. Kebetulan maniak itu mengincarnya. Dan kurasa justru hal ini bisa dimanfaatkan. Karena tentu lebih mudah mengawasi seseorang yang kita kenal," jelas Mikoto.
"Kebetulan," kata Itachi nada mengejek menatap keduanya.
"Sekali lagi aku minta maaf padamu," kata Fugaku.
"Kalian tidak perlu meminta maaf padaku, minta maaflah pada Sasuke," kata Itachi dingin sambil berdiri dan berlalu ke kamar Sasuke.
Fugaku dan Mikoto terdiam untuk beberapa saat setelah kepergian Itachi.
"Maafkan aku Uchiha-san, ide gilaku telah membuat Sasuke-kun mengalami kejadian yang sangat buruk," kata Mikoto sambil membungkuk dalam-dalam.
"Kau tidak perlu meminta maaf, kita berdua sudah tahu akan ada resiko seperti ini," kata Fugaku pahit.
"Kurasa kau benar. Tapi, syukurlah kita mengikuti instingmu untuk melibatkan Itachi sebagai pengawal Sasuke untuk menghindari resiko itu. Kalau tidak..." Mikoto tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Hn.. Aku tahu anak itu akan melindungi Sasuke apapun caranya. Makanya aku memilihnya sebagai orang yang pantas menjaga Sasuke," kata Fugaku sambil tersenyum tipis.
Mikoto memandangnya dengan aneh selama sekejap, sampai-sampai Fugaku tidak menyadarinya.
"Yaah kurasa aku akan mengikuti perintah Itachi dan meminta maaf pada Sasuke-chan," ujar Mikoto riang. "Mungkin aku akan membuatkannya salad tomat besok."
Fugaku hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Dan bersyukur dalam hati bahwa anaknya bisa pulang tanpa kurang suatu apapun.
(1) Supaya lebih jelas, coba deh nonton dorama lucky 7 :3
(2) duduk bersimpuh, membungkukkan badan dengan kepala menyentuh lantai. Kalau ga salah sih itu, tolong dikoreksi kalau salah. Susah juga ngasih deskripsinya hhe
