JUDUL: I love you, Brother
Rated: T
Genre: Family/romance
Pairing: ItaSasu KisaSui
Summary: just read please :3
Disclaimer: Itachi and Sasuke are not mine neither are the other characters of Naruto.
Warning! This fic contain BL element and Uchihacest although in this story they're not a real brother. So, don't like don't read. If you don't like BL or Uchihacest please just go and don't give me flame, I appreciate that if you do m(_ _)m.
So without further ado please enjoy :D
Chapter 5
Sasuke duduk di beranda rumah Mikoto, menikmati buah semangka yang dingin menyegarkan. Setelah insiden penculikan Sasuke, Itachi memutuskan untuk mengajarinya bela diri. Dia tidak mengerti kenapa Itachi mau repot-repot melatihnya. Saat dia menanyakan hal itu, Itachi menjawab, "supaya kau bisa mempertahankan diri dari para maniak yang mengincarmu!" Aneh. Kenapa pula para maniak itu mengincarnya. Untuk yang satu ini Itachi tidak menjawabnya malah menyentil keningnya seperti biasa. Walaupun banyak hal yang tidak dia mengerti tapi Sasuke tidak peduli. Dia senang Itachi mau melatihnya, hal ini berarti dia dan Itachi bisa menghabiskan waktu bersama lebih banyak.
"Ini tehnya," kata Mikoto sambil meletakkan secangkir teh di sebelah piring semangka.
"Terima kasih," jawab Sasuke.
"Jadi, bagaimana latihanmu sebulan ini?"
"Itachi-nii bilang aku sudah berkembang pesat melebihi perkiraannya."
"Hmm~ Kurasa pengajar juga memainkan perannya sendiri ya? Bukannya kita akan lebih termotivasi belajar kalau kita menyukai pengajarnya. Kau setuju 'kan Sasuke-chan?" goda Mikoto.
Mendengar komentar Mikoto, wajah Sasuke langsung merona. Dia tidak pernah mengerti kenapa ibu dan anak itu tidak pernah berhenti menggodanya.
"Ngomong-ngomong siapa yang mengajari 'Tachi-nii bela diri?" Sasuke berusaha mengalihkan pembicaraan.
Mikoto nampak berpikir sebelum menjawab. "Itachi tidak akan suka kalau aku memberi tahu siapa yang mengajarinya bela diri... Tapi karena kau yang bertanya aku akan menjawabnya. Yang mengajari Itachi adalah ayahnya. Ayahnya mengajari Itachi banyak hal sebelum dia meninggal."
"... meninggal? Oh! Maafkan aku, aku tidak tahu."
"Tidak apa-apa. Hm, jadi Itachi tidak memberitahumu kalau ayahnya sudah meninggal?"
"Tidak. Dia tidak pernah mau membicarakan ayahnya denganku," kata Sasuke. Dia jadi teringat, Itachi selalu marah kalau dia bertanya suatu hal yang berhubungan dengan ayahnya.
"Hmm begitu...kalau begitu mungkin..." Mikoto kemudian bergumam-gumam sendiri. Dia memang terkadang begitu, sekarang Sasuke sudah terbiasa. "Sasuke-chan, aku akan memberitahumu suatu rahasia. Kau mau dengar?" tanya Mikoto sesaat kemudian.
Sasuke yang selalu menyukai rahasia, mengangguk dengan semangat.
"Jangan beri tahu Itachi kalau aku sudah mengatakan ini ya... Sebenarnya, Itachi, dia itu membenci ayahnya."
"Apa?"
"Anak itu selalu mengira kalau ayahnya sudah menelantarkan kami..." Mikoto memulai. Namun dia berhenti saat mendengar suara langkah kaki mendekat. "Ups, dia datang. Nanti kita teruskan ya ceritanya. Ingat jangan bilang apapun tentang pembicaraan kita tadi!" tegas Mikoto.
Sasuke mengangguk.
Itachi yang baru saja mandi keluar dengan rambut yang masih basah dan selembar handuk tersampir di pundaknya (1) duduk di antara Sasuke dan Mikoto sambil bersila.
"Wah semangka!" serunya gembira sambil mengambil sepotong semangka.
"Sayang, kau seharusnya mengeringkan rambutmu dulu! Lihat lantainya jadi basah!" tegur Mikoto.
Itachi menjawab teguran ibunya dengan asal. Sasuke tidak tahu dia berbicara apa, karena sekarang dia sedang sibuk mengagumi rambut Itachi. Dia selalu senang melihat rambut Itachi, terutama sesudah dia mencuci rambutnya seperti sekarang ini.
'Itachi-nii memang tampan, apalagi kalau dia menguraikan rambutnya seperti itu,' pikir Sasuke setengah melamun. Saat tersadar apa yang barusan dipikirkannya, wajahnya memerah lagi.
"Hei Sasu-chan!"
"Hah? Apa?" tanya Sasuke kaget karena tiba-tiba dipanggil. Melihat Sasuke yang kaget, Mikoto tertawa kecil sedangkan Itachi menelengkan kepalanya sedikit dengan wajah yang penuh tanda tanya.
"Kau baik-baik saja? Wajahmu merah sekali lho..." tanya Itachi sedikit khawatir.
Sasuke menyentuh wajahnya yang panas. "Aku... aku baik-baik saja," jawabnya terbata-bata.
Mikoto jadi ingin memukul kepala anaknya. Terkadang, anaknya itu bisa sangat tidak peka. 'darah memang tidak bisa dibohongi. Dia sangat mirip dengan Madara (2),' pikir Mikoto.
"Sasuke-chan, ini sudah waktunya kau pulang. Sebentar lagi ayahmu datang," kata Mikoto mengingatkan.
"Ah sejak kapan hari sudah begini sore? Terima kasih semangkanya Mikoto-san. 'Tachi-nii aku akan datang lagi besok."
"Nee Mikoto-san..." seru Sasuke dari seberang kotatsu.
"Hmm?" Mikoto yang sedang sibuk mengerjakan sudoku hanya bisa merespon seperti itu.
"Kau ingat pembicaraan kita minggu lalu tentang ayah Itachi-nii?"
Mikoto mengangkat kepalanya. "Ah, ya! Kau pasti mau mendengarkan lanjutannya 'kan? Baiklah akan kuceritakan sekarang, selagi Itachi kusuruh membeli sesuatu di kota sebelah. Dia pasti tidak akan pulang, paling tidak, 3 jam lagi."
"Pasti kau sengaja menyuruhnya mencari kesana 'kan?" tuduh Sasuke sambil memicingkan matanya.
'Anak yang manis sekali. Pantas saja Itachi tertarik padanya,' pikir Mikoto.
"Dia sudah biasa kok kusuruh kemana-mana," jawab Mikoto ringan. "Nah, daripada kita berdebat soal Itachi, lebih baik kita mulai saja ceritanya. Dengarkan baik-baik ya."
Mikoto tidak menyangka akan menceritakan rahasia ini pada orang lain, apalagi pada anak yang baru berusia 10 tahun. Tapi, dia menaruh harapan besar pada Sasuke untuk bisa 'menyembuhkan' Itachi.
#Mikoto's story begin#
Aku dan Madara bertemu saat kami baru masuk universitas. Keluarganya sangat menentang hubungan kami karena mereka sangat menjaga kemurnian darah keluarga. Aku sudah menyerah, aku tidak mau menimbulkan kesulitan baginya tapi Madara dengan keras kepala tetap melanjutkan niatnya untuk menikahiku.
Tiba-tiba suatu hari dia bilang dia sudah pergi dari rumah dan sudah membuang nama keluarganya. Tidak lama setelah itu kami pun menikah dengan menggunakan nama keluargaku. Dua tahun kemudian Itachi lahir. Madara sangat bangga padanya.
Selama sepuluh tahun kami bertiga hidup bahagia hingga suatu ketika keluarga Madara berhasil melacak keberadaan kami. Sejak saat itu, mereka terus meneror kami. Madara berhasil menyembunyikan teror keluarganya dari Itachi yang saat itu baru berumur 8 tahun.
Seolah belum cukup menderita, pada saat Itachi berumur hampir 10 tahun, Madara divonis mengidap kanker otak (3). Sejak tahu bahwa hidupnya tidak akan lama lagi, Madara menyuruhku untuk menyalurkan bakat menulisku. Dengan bantuan dari kakakku, aku pun menjadi seorang penulis. Di lain sisi, sikapnya pada Itachi berubah total. Dari ayah yang lemah lembut dan penuh pengertian menjadi ayah yang keras dan tidak kenal kompromi. Madara memaksanya belajar dan belajar juga melatihnya berbagai keterampilan. Berkat tekanan yang terus diberikan oleh Madara, Itachi berhasil menyelesaikan SMA pada umur 13 tahun.
Aku selalu ingin memberitahu Itachi kalau semua yang dilakukan ayahnya adalah karena Madara peduli akan masa depan anaknya. Tanpa pengetahuan dan keterampilan, saat Madara pergi, aku dan Itachi akan menjadi sasaran empuk bagi keluarganya untuk dihancurkan. Tapi, Madara berhasil memaksaku berjanji untuk tidak menceritakan kebenarannya sedikitpun. "Kenapa?" tanyaku saat itu sambil menangis. Dia menjawab agar Itachi bisa menjadi anak yang kuat dan tegar. Alasan bodoh! Tapi, dia benar-benar bisa memaksaku untuk memenuhi perjanjian kami sampai sekarang.
Pada saat Itachi berumur 12 tahun, teror keluarga Madara semakin memuncak. Aku pernah hampir diserang oleh sekelompok preman suruhan keluarganya. Untungnya aku dibantu masyarakat setempat sehingga aku bisa melepaskan diri dari mereka. Keluarganya terus memaksa Madara pulang tapi dia tetap keras kepala tidak ingin pulang. "Aku ingin mati ditemani oleh keluargaku!" dia selalu menjawab seperti itu. Sampai suatu hari, mereka mengancam akan melukai Itachi. Terdesak oleh keadaan, akhirnya Madara membuat perjanjian dengan keluarganya. Dia akan pulang dengan syarat mereka tidak boleh menyakiti aku dan Itachi bahkan saat nanti dia sudah meninggal dan dia akan pulang setelah Itachi menyelesaikan SMAnya. Keluarganya setuju. Dia menceritakan perjanjian itu padaku. "Hidupku tidak akan lama lagi. Tidak ada yang bisa kulakukan untuk kalian selain ini." Aku berusaha untuk tegar tapi pada akhirnya aku menangis di pelukannya semalam suntuk.
"Apa kau mau mengabulkan keegoisanku yang terakhir?" tanyanya.
Aku mengangguk.
"Temani aku sampai akhir, Miko-chan. Jangan tinggalkan aku sampai mereka datang."
Aku mengangguk lagi.
Akhirnya, hari itu datang. Madara dijemput oleh beberapa pria berjas hitam. Dia berjalan tanpa menoleh ke belakang lagi. Aku dan Itachi hanya bisa melihat punggungnya yang menjauh. Aku berusaha tegar, aku sudah berjanji tidak akan memperlihatkan kelemahanku di hari dia pergi.
Kemudian salah seorang pria berjas hitam itu berbalik dan berkata, "ada pesan dari kepala keluarga kami. Madara-sama tidak akan kembali lagi ke rumah ini, dia sudah kembali ke tempat dimana seharusnya beliau berada. Mohon kalian tidak mencarinya." Lalu pria itu berbalik dan menutup pintu rumah kami dengan keras.
Itachi memandang kosong ke arah pintu yang sudah ditutup kemudian masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Setelah 3 hari mengurung diri, dia keluar seperti biasa dengan sikap normal seolah tidak pernah terjadi apapun. Normal kecuali dia tidak pernah lagi mau membicarakan ayahnya.
#Mikoto's story end#
"Begitulah ceritanya, Sasuke-chan. Aku tidak pernah memberitahu Itachi apapun karena suamiku tidak menginginkan Itachi tahu... Lagipula Itachi juga tidak pernah mau tahu," Mikoto mengakhiri ceritanya dengan sedih.
Sasuke yang menangkap nada sedihnya hanya bisa memandangnya penuh simpati. Melihat pandangan simpati Sasuke, Mikoto kemudian berkata.
"Aku selalu ingin memberitahu Itachi tentang ayahnya tapi untuk menghormati suamiku aku tidak pernah bercerita. Itu pendapatku. Bagaimana menurutmu?" tanya Mikoto sambil menatap Sasuke lekat-lekat.
"Menurutku Itachi-nii harus mengetahui kenyataannya," jawab Sasuke serius. "Aku akan membantumu menceritakannya pada 'Tachi-nii dengan begitu kau tidak perlu melanggar janjimu," tambah Sasuke kemudian.
"Terima kasih! itu akan sangat membantu," kata Mikoto sambil tersenyum lebar. 'Lagipula Itachi tidak akan mau percaya padaku kalaupun aku menceritakan kenyataannya,' tambah Mikoto dalam hati.
Selama dua minggu selanjutnya, Sasuke selalu berusaha berbicara dengan Itachi tentang ayahnya atau setidaknya masalah yang ada kaitannya dengan ayahnya tapi Itachi selalu bisa menghindar. Kesabaran Itachi terlihat semakin menipis setiap kali ayahnya mulai jadi topik pembicaraan dan tampaknya hari ini kesabarannya sudah habis sama sekali, kemarahannya muncul tanpa bisa dibendung lagi.
"Berhentilah membicarakan ayahku," kata Itachi dingin
Sasuke tidak gentar. "'Tachi-nii dengarkan aku dulu..." Sasuke memulai.
"Jangan ikut campur urusanku!" bentak Itachi yang sedetik kemudian disesalinya.
Sasuke memelototinya. "Itu karena aku peduli padamu, Ita-nii!" serunya putus asa.
"Kalau kau memang peduli berhentilah membicarakannya!" ucap Itachi keras kepala.
Sasuke menghela napas panjang. "Dengar 'Tachi," katanya tegas tapi lembut.
Dipanggil namanya seperti itu (ini pertama kalinya Sasuke langsung memanggil namanya), Itachi tidak punya pilihan lain kecuali diam dan menurut.
"Aku akan menceritakan sesuatu tentang ayahmu," kata Sasuke. Maka dia pun menceritakan semua hal yang diceritakan Mikoto padanya. Kemudian dia mengakhiri ceritanya dengan berkata sedih, "aku tidak pernah bertemu dengan ibuku satu kali pun makanya aku selalu iri padamu yang pernah merasakan bagaimana rasanya mempunyai satu keluarga utuh. Tapi kau tidak pernah mensyukurinya sama sekali. Kau malah terus membenci ayahmu tanpa mencari tahu alasannya yang sesungguhnya."
Itachi terdiam kepalanya tertunduk.
"Aku tidak peduli kau percaya atau tidak yang penting aku sudah memberitahumu. Tapi kuharap kau mau memaafkan ayahmu," kata Sasuke. Dia menutup bukunya dan membereskan alat tulisnya. "Aku pulang dulu 'Tachi-nii. Terima kasih sudah mengajariku," dengan itu Sasuke meninggalkan Itachi sendirian di kamarnya.
Setelah pertengkaran mereka tentang Madara, Itachi menghilang entah kemana bahkan Mikoto pun tidak tahu kemana dia pergi.
'Bagaimana kalau dia tidak akan pulang?' pikir Sasuke cemas.
"Jangan khawatir. Dia pasti pulang," kata Mikoto ringan seperti biasanya.
'Bagaimana kalau dia mendapat kecelakaan?'
"Dia akan baik-baik saja."
'Bagaimana kalau ternyata dia diserang penjahat?'
"Dia bisa menjaga dirinya sendiri, dia tidak pernah kalah sekalipun kalau berkelahi."
"Mikoto-san berhentilah membaca pikiranku!" sahut Sasuke frustasi pada Mikoto.
"Aku tidak membaca pikiranmu. Kau selalu melakukan hal yang sama sejak Itachi tidak pulang. Kau akan datang, duduk di sampingku, dan mulai bertanya-tanya. Selalu pertanyaan yang sama."
"Apa kau tidak cemas?"
"...Cemas? Tentu saja! Tapi aku tahu kalau sudah waktunya dia akan pulang. Aku percaya padanya."
Hari kesepuluh Itachi belum pulang juga. Dan Sasuke sudah berhenti mengunjungi rumah Mikoto pada hari ketujuh Itachi menghilang. Mikoto sama sekali tidak membantu meringankan kecemasannya.
Sasuke berjalan pulang sambil setengah melamun (apalagi yang ada di otaknya kalau bukan tentang dimana Itachi berada?). Karena itu, dia keget setengah mati saat tiba-tiba seseorang menyentil keningnya di tengah jalan.
"Jangan berjalan sambil melamun," kata orang yang menyentil keningnya.
"'Tachi-nii!" serunya kaget saat melihat Itachi ada didepannya. Dia langsung memeluk Itachi erat-erat yang, tentu saja, langsung dibalas oleh Itachi sama eratnya.
"Kemana saja kau? Kau membuat semua orang cemas! 'Tou-san hampir saja mengerahkan anak buahnya untuk mencarimu kalau tidak dihalangi oleh Mikoto-san."
Itachi mengibaskan tangannya. "Kita akan membicarakan itu nanti. Sekarang, ayo ikut dulu denganku!" kata Itachi sambil meraih tangan Sasuke dan membimbingnya pergi entah kemana.
Ternyata, Itachi membawanya ke sebuah kompleks pemakaman. Entah kenapa, rasanya Sasuke pernah mengunjungi makam itu. Kemudian, dia melihat sebuah lambang terpatri pada salah satu nisan yang dia lewati. Lambang keluarga Uchiha. Hmm pantas rasanya dia kenal tempat ini. Tapi, dia jadi semakin tidak mengerti kenapa dia dibawa ke makam keluarga Uchiha. Melihat mata Itachi yang kosong dan dingin, Sasuke memutuskan untuk tidak bertanya. Jadi, dia hanya diam dan membiarkan Itachi membimbingnya. Setelah beberapa menit mereka masuk, Itachi berhenti didepan salah satu nisan.
"Ini makam ayahku," jelas Itachi singkat.
Nama yang terukir pada batu nisan tersebut adalah Madara Uchiha.
Sasuke membelalakkan matanya. Dia tidak pernah mengira kalau ternyata ayah Itachi juga seorang Uchiha.
"Otou-san," Itachi memulai, "maafkan aku yang selama ini sudah membencimu dan berburuk sangka padamu. Kumohon jangan salahkan aku karena semua itu disebabkan oleh kebodohanmu yang tidak mendasar yang tidak membolehkan 'Kaa-chan menceritakan padaku yang sebenarnya ter... Ouch!" tiba-tiba perkataannya terpotong karena Sasuke menginjak kakinya dengan keras.
"Apa kau tidak bisa berbicara sedikit lebih baik? Apa kau benar-benar menyesal?" tanya Sasuke kesal.
"Kau ini kenapa sih? Tentu saja aku benar-benar menyesal! Makanya aku datang kesini!" kata Itachi sambil berjongkok memegangi kakinya yang sakit.
"Setidaknya kau harus lebih sopan lagi!"
"Sasu-chan, biarkan aku menyelesaikan masalah ini dengan caraku sendiri," kata Itachi sambil berdiri.
"Hmmph terserah kau sajalah," kata Sasuke.
"Otou-san maafkan gangguan kecil dari calon istriku tadi," kata Itachi melanjutkan.
Mendengar ucapan Itachi, wajah Sasuke langsung memerah. Sangat merah. Dia berniat menginjak kaki Itachi lagi tapi dia membatalkan niatnya. Itachi yang tidak tahu apa yang ada didalam pikiran Sasuke terus berbicara.
"Tapi Otou-san, dialah yang menyuruhku untuk memaafkanmu..." kata Itachi sambil menggenggam tangan Sasuke. "Aku sudah tahu semuanya, sampai hal yang terkecil, sekarang aku sudah mengerti. Aku sudah memaafkanmu. Jadi, sekali lagi aku mohon kau mau memaafkanku," kata Itachi sambil membungkuk dalam-dalam.
Sasuke meremas tangan Itachi yang masih digenggamnya.
"Aku pasti akan menjaga 'Kaa-chan dengan baik. Aku tidak akan mengecewakan harapanmu. Aku juga akan membawanya kesini, dia pasti sangat merindukanmu... Otou-san, sekali lagi maafkan aku," kata Itachi sambil membungkuk singkat.
"Nee Sasu-chan, apa kau mau menemaniku sebentar lagi?" gumam Itachi beberapa saat kemudian.
Sasuke mengangguk.
Itachi lalu menggiringnya ke arah gerbang belakang pemakaman yang mengarah ke sebuah bukit. Di sana mereka duduk di bawah pohon sambil melihat matahari yang hampir terbenam.
Itachi memandang kosong ke depan. Sasuke melihatnya dengan iba.
"Mereka tidak pernah memberitahu 'Kaa-chan dimana makam ayahku," kata Itachi tiba-tiba. "Heh, luar biasa sekali ya mereka itu. Hingga akhir mereka tidak mau mengakui kami. Mereka bahkan tidak tahu kalau aku adalah anak Madara Uchiha saat aku berpura-pura menjadi pekerja disana."
"Maaf..." kata Sasuke. Entah kenapa dia merasa harus meminta maaf.
"Tidak perlu meminta maaf. Kau dan Fugaku-san bukan salah satu dari mereka."
Sasuke tidak mengerti apa maksudnya tapi dia hanya mengangguk saja.
"Kurasa... pada akhirnya aku bisa memahami ayahku," kata Itachi pelan.
"Bukankah itu bagus?" sahut Sasuke.
Itachi mengangguk.
"Nee Sasu-chan," panggilnya setelah diam sebentar.
"Hmm?"
"Boleh aku pinjam bahumu sebentar?"
Sasuke mengangguk kemudian Itachi memeluknya sambil membenamkan wajahnya di bahunya.
"Kumohon temani aku sebentar lagi," gumam Itachi.
"Aku tidak akan pergi kemana pun," kata Sasuke pelan.
Ketika merasakan sesuatu yang basah di pundaknya, Sasuke sadar kalau Itachi sedang menangis. Setengah sadar Sasuke membalas pelukannya sambil mengelus rambutnya dengan sayang.
(1) udah dibaju dong pastinya hahahahah :p
(2) Ehm ya begitulah, ayah Itachi di cerita ini adalah madara! O_o
(3) Adakah penyakit ini didunia yang sesungguhnya?
AN/ Kyaaa naruto chap 590 udah keluar XD bener-bener chapter paling mantap sepanjang sejarah naruto XD uchihacest banget X9 *maaf kalo untuk sebagian kalian yang baca note ini malah jadi spoiler, abisnya aku ga tahan untuk ga bilang sih m(_ _)m
