JUDUL: I love you, Brother

Rated: T

Genre: Family/romance

Pairing: ItaSasu KisaSui

Summary: just read please :3

Disclaimer: Itachi and Sasuke are not mine neither are the other characters of Naruto.

Warning! This fic contain BL element and Uchihacest although in this story they're not a real brother. So, don't like don't read. If you don't like BL or Uchihacest please just go and don't give me flame, I appreciate that if you do m(_ _)m.

My gratitude for they who still stick with me here :3

So without further ado please enjoy :D

Chapter 6

Sore hari yang cerah di penghujung musim semi tiba setelah beberapa hari kebelakang hujan terus mengguyur Konoha. Berbeda dengan langit yang cerah tak berawan, suasana hati seorang pemuda yang berjalan di bawahnya justru berawan tebal.

"Itachi-chan jangan ngambek terus~" kata seorang perempuan disebelah Itachi dengan nada manja sambil merapatkan dirinya pada Itachi. Wanita bermata hijau itu menggunakan kacamata tebal, pipinya sedikit berbintik, dan rambutnya yang panjang dikepang dengan rapi. Baju seragam yang digunakannya berasal dari salah satu SMU yang termahal di Konoha, SMU putri Senju.

"Tapi bagaimana kalau kita sampai terlihat oleh Sasuke?" tanya Itachi gusar. "Pokoknya jangan menempel terus kalau kita sudah hampir sampai rumah nanti!" tegas Itachi.

"Memangnya kenapa?" tanya perempuan di samping Itachi sambil menelengkan kepalanya sedikit tanda dia keheranan.

"Dia bisa salah sangka!"

"Hmm~ kalau begitu aku semakin ingin bertemu dengan Sasuke sekarang. Aku ingin melihat wajahnya. Aku sudah bisa membayangkannya berjalan di sekitar sini kemudian melihat kita," kata orang itu sambil tersenyum jahil.

Kali ini giliran Itachi tersenyum. "Sayang sekali tapi keinginanmu tidak akan terkabul. Jalan ini bukan jalan yang biasa dilalui Sasuke."

"Mau taruhan?" tantang perempuan itu.

"Siapa takut? Apa taruhannya?"

"Kalau Sasuke muncul sebelum kita tiba di tikungan sebelah sana," kata orang tadi menunjuk di kejauhan, "berikan tiket yang kita dapatkan tadi padaku."

"Tiket yang aku dapat. Dan kalau aku yang menang?"

"Kau akan kubebaskan dari tugas untuk menemaniku."

"Baiklah, aku setuju. Lagipula pasti aku yang akan memenangkan taruhan ini."

Orang disamping Itachi terkekeh. "Jangan terlalu yakin!"

Mereka terus berjalan menyusuri jalan yang salah satu pinggirannya dibatasi oleh daerah landai berumput menuju sungai (1). Tidak sampai 200 meter mereka berjalan, tiba-tiba dari sana muncul seseorang sambil menggendong anak kucing berbulu hitam. Itachi langsung membeku di tempatnya.

"Itachi-nii!" seru Sasuke kaget. "Kenapa kau ada di sini? Bukankah seharusnya kau masih ada di Suna?"

"Ah.. aku.." Itachi tergagap karena kaget.

"Selamat sore," sapa perempuan di samping Itachi.

"Selamat sore," balas Sasuke. Dia baru sadar ada seorang siswi SMU berdiri disebelah Itachi tapi masih tidak menyadari lengan perempuan tersebut yang melingkar di lengan Itachi.

"Itachi menemaniku dari Suna ke Konoha untuk melihat-lihat sekolahku yang baru hari ini," jelas perempuan itu sambil menunjukkan lambang sekolahnya.

"Aah begitu rupanya... Maaf apakah aku pernah bertemu denganmu sebelumnya?" tanya Sasuke kemudian sambil mengerutkan kening.

"Kurasa belum pernah. Aku belum pernah ke Konoha sebelum hari ini," jawabnya. "Oh ya, namaku Yuuki. Aku teman Itachi-chan hari ini aku mau berkunjung ke rumahnya," kata orang di samping Itachi tiba-tiba sambil memberikan penekanan khusus pada kata teman.

"Bukan! Sasuke sebenarnya dia... ouch!" kata-kata Itachi terputus karena dicubit dari samping dengan keras.

"Ssst! Atau tugasmu akan kutambah lagi!" bisik Yuuki mengancam.

"Namaku Sasuke, senang berkenalan denganmu.. Mmm tapi entah kenapa rasanya aku benar-benar pernah melihatmu disuatu tempat," kata Sasuke masih penasaran.

"Benarkah? Sayang sekali aku tidak ingat," kata Yuuki sambil tersenyum manis pada Sasuke.

"Mungkin memang aku yang salah ingat," gumam Sasuke.

"Sudahlah tidak perlu dipikirkan. Ayo, kita pulang," sahut Itachi mengulurkan tangannya pada Sasuke (dia sudah berhasil melepaskan diri dari cengkraman perempuan itu).

Wajah Sasuke memerah saat dia mengulurkan tangannya untuk menyambut tangan Itachi. Sayangnya, kali ini seseorang tidak membiarkan hal itu terjadi. Yuuki itu langsung menggamit lengan Itachi yang terulur.

"Ayo kita pulang!" katanya keras.

Sasuke termangu lalu ekspresi mengerti melintas di wajahnya yang dengan cepat berganti menjadi ekspresi sedih. Dia berjalan dengan wajah cemberut di kiri Itachi karena di sebelah kanannya ada Yuuki. Itachi mencoba menggandeng tangannya tapi Sasuke menepisnya. Baru kali ini Sasuke menolaknya, Itachi menghela napas dalam.

'Kami! Kenapa aku harus mengalami hal ini?' gerutu Itachi dalam hati.

"Anak kucing yang lucu sekali," seru Yuuki tiba-tiba. "Apa boleh aku menggendongnya?"

"Tidak boleh!" kata Sasuke ketus.

"Kenapa? Padahal aku selalu ingin memelihara seekor kucing, terutama kucing yang berbulu hitam seperti itu," katanya sambil menunjuk kucing yang masih digendong Sasuke.

Sekarang Sasuke mengalami perang batin, di satu sisi dia tidak ingin perempuan itu menggendong apalagi memelihara anak kucing ini tapi di sisi lain ayahnya pasti marah kalau dia membawa anak kucing (lagi)... Lagipula akhir-akhir ini sulit sekali mencari seseorang yang mau memelihara kucing.

"Ugh baiklah kau boleh menggendongnya sebentar," kata Sasuke enggan.

Yuuki mengulurkan kedua tangannya. Untuk sesaat Sasuke terdiam kemudian dia mendongakkan kepalanya dan mempelajari wajah wanita itu dengan seksama.

"Aku tahu?" serunya setengah berteriak.

"Tahu apa?" tanya Yuuki.

"Aku tahu! Kau bukan Yuuki, kau adalah Mikoto-san! Tapi kenapa kau berdandan seperti itu? Aku sampai tidak bisa mengenalimu," ujar Sasuke.

"Aku... Namaku bukan Mikoto..."

Sasuke tertawa. "Jangan berbohong lagi, Mikoto-san. Lihat telapak tanganmu! Kau ingat kemarin aku memberitahumu alamat asrama putri SMU Senju dan kau menuliskan alamatnya di telapak tanganmu? Pantas saja kau memakai seragam sekolah mereka. Sebenarnya ada apa ini?"

Itachi tergelak bersama Sasuke, kali ini keisengan ibunya berhasil digagalkan. Dia merasa lega tidak perlu menjelaskan kesalahpahaman tadi dengan cerita yang terasa tidak masuk akal kalau keluar dari mulutnya.

"Ah, bodoh sekali aku! Aku lupa sama sekali dengan tulisan sialan ini," kata Mikoto sebal sambil menatap telapak tangannya. Dia membuka kacamata tebal yang sedari tadi dipakainya tapi membiarkan rambutnya tetap terkepang. "Aku sedang mengumpulkan bahan untuk ceritaku yang selanjutnya," kata Mikoto menjelaskan.

"Oh.. Kukira kau.." Sasuke tidak melanjutkan perkataannya. Dia melirik sekilas ke arah Itachi dengan wajah memerah.

"Kawaiiiii~" pekik Mikoto. "Itachi! Pegang neko-chan... Ayo, Sasuke-kun kita pulang sekarang," seru Mikoto ceria sambil menggenggam lengan Sasuke. Kemudian dia meninggalkan Itachi, yang kembali merajuk, berjalan di belakang mereka.


Esok sorenya setelah sesi latihan bela diri dengan Itachi selesai, seperti biasa Sasuke duduk di beranda rumah Itachi bersama Mikoto. Kali ini Mikoto menyuguhkan melon untuk Sasuke.

"Sasuke-chan, sebentar lagi liburan musim panas 'kan?"

Sasuke yang masih sibuk mengunyah hanya mengangguk mengiyakan.

"Kau sudah punya rencana liburan?"

"Aku belum membicarakannya dengan 'Tou-san, karena akhir-akhir ini 'Tou-san selalu pulang telat atau mengunci diri di kamar kerjanya menyelesaikan laporan."

"Oh begitu. Kau harus menasehati ayahmu agar jangan terlalu memaksakan diri."

"'Tou-san terlalu keras kepala kalau dinasehati tentang pekerjaan."

"Aku mengerti perasaanmu," jawab Mikoto sambil tertawa kecil. "Kembali lagi soal liburan tadi. Begini, sebenarnya kemarin saat aku dan Itachi pulang setelah selesai mengumpulkan bahan untuk ceritaku, kami iseng ikut undian berhadiah (2). Dan kebetulan kami memenangkan hadiah pertama yaitu berlibur ke Otogakure selama seminggu. Nah, karena sepertinya kau belum merencanakan apapun bagaimana kalau ikut berlibur dengan kami?"

"Bolehkah?" tanya Sasuke antusias.

"Tentu saja, Sasu-chan~ kalau tidak boleh aku tidak akan mengajakmu," kata Mikoto sambil tersenyum simpul. "Aku yang akan berbicara dengan ayahmu nanti. Kebetulan ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya."

"Terima kasih Mikoto-san," kata Sasuke tersenyum senang. Dia sudah bisa membayangkan akan menghabiskan waktu liburannya bersama Itachi.


Itachi mengerucutkan bibirnya saat dia melirik melalui kaca spion mobil, dia melihat ibunya dan Sasuke mengobrol dengan akrab di belakang. Sebenarnya Itachi ingin mengajak Sasuke berlibur berdua saja ke Otogakure tapi rencana itu hanya tinggal rencana. Semuanya gara-gara tiket liburan yang dia dapatkan berhasil diambil oleh ibunya. Itachi melirik kembali ke arah kaca spion dan melihat ibunya memeluk Sasuke erat-erat, dia menggertakkan giginya. Dia berharap bisa bertukar tempat duduk dengan ibunya sekarang juga.

"Itachi-kun, apa kau baik-baik saja?" tanya Fugaku yang sedang menyetir mobil.

Itachi tersadar dari lamunannya. "Ah ya, aku baik-baik saja hanya sedikit kepanasan."

"Hn."

Sekarang mereka berempat sedang dalam perjalanan menuju Otogakure dengan menggunakan mobil Fugaku. Perjalanan ke Otogakure menghabiskan waktu selama 4 jam, yang bagi Itachi sama dengan 4 jam penyiksaan melihat ibunya terus menempel pada Sasuke.

"Ahh akhirnya sampai juga," kata Mikoto ceria.

Mereka telah tiba di penginapan yang mereka tuju. Penginapan tersebut memiliki bangunan model kuno yang terlihat sudah tua lengkap dengan kolam ikan koi dan shishi odoshi (3). Dari luar mereka bisa mendengar suara ketukan bambu shishi odoshi yang menenangkan dan suara denting lonceng yang menyejukkan.

'Ini akan menjadi liburan musim panas yang menyenangkan,' pikir Sasuke gembira.


"Mikoto-san, apa kau tahu Itachi-nii ada dimana?" tanya Sasuke.

Mereka sudah sampai di penginapan yang mereka tuju tapi setelah Sasuke membereskan semua barangnya, Itachi sudah tidak terlihat dimana pun di dalam penginapan.

"Sayang sekali Sasuke-chan, aku tidak tahu kemana anak itu pergi."

Sasuke terlihat kecewa.

"Jangan sedih begitu. Bagaimana kalau kita bertiga jalan-jalan disekitar sini? Siapa tahu di tengah jalan kita bisa menemukan Itachi," usul Mikoto.

Sasuke langsung setuju. Ditemani Fugaku dan Mikoto, dia berkeliling di sekitar penginapan. Setelah satu jam, mereka tetap tidak menemukan Itachi sehingga mereka memutuskan untuk kembali ke penginapan untuk makan siang.


Sementara itu, di daerah yang cukup jauh dari penginapan, Itachi berjalan sambil terus mengamati perkebunan yang dilaluinya.

"Bukan! Bukan ini yang aku cari," gumamnya.


(1) yang kaya di film-film itu lho...

(2) itu lhoo kalo di komik-komik yang diputer-puter itu terus keluar bola berwarna ntar hadiahnya tergantung warna bolanya...

(3) shishi odoshi itu bamboo fountain..


Uhyaa maaf kalau chapter kali ini kaya meaningless banget hhe ^^; soalnya tiba-tiba ingin banget nulis Mikoto yang sedang nyamar 'kencan' dengan Itachi, juga ingin sekali-kali ngeliatin Sasuke yang ngambek sama Itachi,, peace ah ^^v

See you next chapter ;D