JUDUL: I love you, Brother

Rated: T

Genre: Family/romance

Pairing: ItaSasu KisaSui

Summary: just read please :3

Disclaimer: Itachi and Sasuke are not mine neither are the other characters of Naruto.

Warning! This fic contain BL element and Uchihacest although in this story they're not a real brother. So, don't like don't read. If you don't like BL or Uchihacest please just go and don't give me flame, I appreciate that if you do m(_ _)m.

A/N: This chapter is dadicated for Sasuke's birthday :)

So without further ado please enjoy :D

Chapter 7

Sasuke mulai berpikir dia tidak akan bisa menikmati liburan musim panas kali ini. Kenapa? Pertama karena ayahnya masih diganggu oleh anak buahnya lewat telepon sehingga dia tetap sibuk seperti biasa. Kedua, walaupun Mikoto sering menemaninya tapi kalau ide menulisnya sudah muncul dia akan langsung menulis tidak peduli dimana pun dia berada, seperti sekarang Mikoto sedang mengunci diri di kamarnya karena dia sedang - menurut istilah yang sering digunakannya - 'mendapat pencerahan dari langit'. Terakhir, Itachi selalu menghilang dan pulang entah kapan tanpa mau mengatakan apa alasannya.

Karena bosan akhirnya Sasuke tertidur di bagian roka (1) penginapan. Ketika dia terbangun dari tidurnya, dia merasakan sepertinya ada sesuatu yang aneh. Entah kenapa dia merasa lantai di bawah kepalanya terasa empuk dan hangat.

"Pagi Sasu-chan," sapa Itachi sambil menyeringai.

"'Tachi-nii!" seru Sasuke langsung membuka matanya yang sedari tadi masih tertutup. Pipinya merona saat kemudian dia tersadar kalau dia sebenarnya tertidur dengan kepala di pangkuan Itachi.

Sasuke tidak tahu sudah berapa lama dia tertidur tapi tentu dia tidur cukup lama karena matahari sudah mulai tenggelam saat dia tersadar dari tidurnya.

"Kau bisa masuk angin kalau tidur disini," kata Itachi lembut.

"Hmph itu karena di dalam panas dan tidak ada seorang pun yang mau menemaniku bermain," kata Sasuke kesal.

"Maafkan aku, kau pasti kesepian di sini," kata Itachi sambil mengelus kepala Sasuke.

Sasuke meraih tangan Itachi dan meletakkannya di atas kedua matanya.

'Mm sejuk,' gumam Sasuke dalam hati.

"Apa kau mau memaafkanku kalau malam ini aku mengajakmu ke festival?" tanya Itachi.

"Festival?" Sasuke langsung terduduk. Matanya bersinar gembira.

"Kau tidak tahu? Desa ini mengadakan festival musim panas dari tanggal 20 sampai 27 Juli... Apa kau mau ikut?"

"Tentu saja aku mau!"

"Tapi... apa kau baik-baik saja? Sepertinya badanmu sedikit panas," kata Itachi sambil meletakkan tangannya di kening Sasuke.

"Aku baik-baik saja. Ayo cepat kita masuk dan bersiap," kata Sasuke bersemangat.


Suasana festival di Otogakure tidak kalah meriah dibandingkan dengan suasana festival di Konoha. Walaupun banyak kesamaan baik dari segi makanan ataupun permainan tapi festival di Otogakure memiliki ciri khas tersendiri yang berbeda dengan Konoha. Sebagai desa yang terkenal di bidang seni, setiap festival musim panas di Otogakure selalu diadakan kompetisi seni dan biasanya setiap peserta akan menampilkan kebolehannya di panggung yang terletak di tengah area festival. Banyak atraksi yang ditunjukkan mulai dari menari, bermain musik, hingga bermain sandiwara.

Biasanya Itachi sangat membenci festival, dimana sepertinya semua orang memutuskan untuk berkumpul disatu tempat, namun kali ini berbeda. Disampingnya, Sasuke (yang nampak manis (2) dalam balutan yukata berwarna biru tua yang dipinjamkan oleh pemilik penginapan) terlihat senang datang ke festival ini. Jadi, Itachi berpikir untuk kali ini saja dia akan bertahan menghadapi sesaknya suasana festival.

Setelah bermain dan puas melihat-lihat mereka beristirahat di padang rumput terbuka yang terdapat di sisi area festival sambil menunggu pesta kembang api yang akan dimulai satu jam lagi. Mereka hanya duduk disitu dalam keheningan yang bersahabat. Tiba-tiba Sasuke bersandar pada lengan Itachi (3).

"Sasu-chan?"

"'Tachi-nii, aku merasa sedikit pusing," kata Sasuke parau dan napasnya terdengar berat.

Itachi meletakkan tangannya di dahi Sasuke. "Oh tidak! Badanmu panas sekali!" seru Itachi panik. "Ayo kita pulang sekarang." Itachi langsung menggendong Sasuke pulang.


Keesokan paginya, tidak seperti biasanya Itachi ada di penginapan, lebih tepatnya di kamar Sasuke. Dia terus menunggui Sasuke yang masih belum juga bangun semenjak dia membawanya pulang dari festival semalam.

#Flashback#

Itachi berlari cepat menaiki tangga penginapan, langsung menuju kamar Sasuke. Fugaku yang sedang duduk di dalam memandang ke luar jendela, segera berbalik saat mendengar shoji bergeser dan Itachi langsung menyerbu masuk.

"Fugaku-san!"

"Ada apa?"

"Sasu-chan..."

Fugaku langsung mengerti, dia langsung mengambil Sasuke dari Itachi dan membaringkannya di atas futon.

"Tenanglah Itachi-kun, jangan panik. Sasuke hanya terkena demam musim panas," kata Fugaku sambil mengeluarkan obat dari dalam tasnya. "Tolong ambilkan air," perintah Fugaku. Itachi bergegas mengambilkan air.

"Sasuke... Sasuke... Ayo bangun," kata Fugaku sambil menggoyang bahu Sasuke sedikit.

Sasuke tidak membuka matanya.

"Sasuke... Ayo bangun, nak," Fugaku sekali lagi berusaha membangunkan Sasuke.

Sasuke membuka matanya perlahan. "'Tou-san... aku pusing."

"Aku tahu. Sekarang minumlah obat ini supaya kau cepat sembuh."

Sasuke meminum obatnya dan tertidur kembali. Fugaku dan Itachi mengamatinya kembali tertidur.

"Fugaku-san, maafkan aku," kata Itachi memulai, "aku sudah memaksa Sasuke untuk ikut denganku ke festival."

"Tidak perlu dipikirkan, ini bukan pertama kalinya Sasuke terkena demam musim panas," ujar Fugaku menenangkan.

"Aku sudah memaksanya ikut, padahal tadi siang badannya sudah mulai panas."

Fugaku diam sesaat sambil mengelus dagunya yang kasar karena hari itu dia belum bercukur. "Ini bukan hanya salahmu. Aku juga ikut bersalah dalam hal ini karena aku sudah mengabaikannya."

Itachi tidak menjawab tapi Fugaku mengerti kalau Itachi masih merasa bersalah.

"Kalau begitu temanilah Sasuke selama dia sakit," kata Fugaku memberi saran. "Kurasa Sasuke juga akan senang kalau kau menemaninya."

"Tapi aku... Ada sesuatu yang harus kulakukan," kata Itachi pelan.

Fugaku mengangkat alisnya. Dia merasa heran karena baru kali ini Itachi tidak langsung menyetujui ide untuk berada di samping Sasuke. Fugaku sudah cukup mengenal Itachi, jadi dia bisa menebak mungkin saja Itachi sedang melakukan sesuatu yang menurutnya penting, sangat penting, sampai dia tidak bisa menemani Sasuke.

"Apakah itu adalah sesuatu yang harus kau kerjakan sendiri? Apakah kau tidak bisa menyuruh orang untuk melakukannya?"

"Begitulah. Hanya aku yang bisa mengerjakannya. Kalau orang lain yang menemukannya jadi tidak ada artinya."

"Hmm... Kalau begitu tinggallah disini setidaknya sampai Sasuke bangun."

Itachi ragu sesaat, dia sudah tidak punya waktu lagi tapi dia juga tidak mau meninggalkan Sasuke.

"Kurasa kau benar. Aku akan tinggal disini sampai Sasu-chan bangun."

#End flashback#

Itachi memandang wajah Sasuke dengan lekat, pikirannya melayang.

'Sasuke... Sejak kapan aku jatuh hati pada anak ini?' pikirnya dalam hati. Tangannya bergerak dengan sendirinya memainkan rambut Sasuke.

'Sejak kapan aku merasa harus melindunginya? Sejak kapan aku merasa harus memilikinya?'

Itachi sangat sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan di kepalanya sampai tidak sadar kalau Sasuke sudah bangun.

"'Tachi-nii?" panggil Sasuke pelan.

Itachi tersadar dari lamunannya. "Sasu-chan!" seru Itachi lega.

"Itachi-nii, maafkan aku... Gara-gara aku kita tidak jadi melihat kembang api," kata Sasuke sedih.

"Kita masih bisa melihatnya kapan pun saat kau sudah sembuh," kata Itachi sambil tersenyum.

Sasuke mengangguk lemah, tidak lama kemudian dia pun tidur kembali.


Hari ini Sasuke sudah merasa jauh lebih baik dibandingkan dengan dua hari yang lalu, dia juga sudah tidak demam lagi. Jadi, dia tidak berpikir dua kali saat Fugaku mengajaknya berjalan-jalan. Lagipula kesempatan seperti ini sangat langka, dia tidak akan melewatkannya. Ketika melewati suatu perkebunan, Sasuke melihat Itachi sedang berbicara dengan petani disana.

"'Tachi-nii!" panggil Sasuke.

Tapi sepertinya Itachi tidak mendengarnya karena dia terus berbicara dengan petani itu sambil menggerak-gerakkan tangannya. Agaknya, mereka sedang berdebat.

"Ayo Sasuke jangan diam saja disitu," panggil Fugaku yang sudah berjalan mendahului Sasuke.

Sasuke segera menyusul ayahnya.

'Apa yang sedang Itachi-nii permasalahkan dengan petani tadi ya?' tanya Sasuke dalam hati. 'Akan kutanyakan nanti malam.'

Itachi pulang ke penginapan jam sepuluh malam. Sebelum Sasuke sempat bertanya apapun Itachi pergi lagi entah kemana. Sasuke mengerutkan alisnya, untuk yang kesekian kalinya dia bertanya dalam hati sebenarnya apa yang sedang Itachi kerjakan? Bukankah ini liburan musim panas dan mereka seharusnya bersenang-senang? Karena sebal, Sasuke merajuk dan mengurung diri di kamarnya.

'Apa liburan musim panas ini akan berakhir begitu saja?' pikir Sasuke sedih sambil memandang kosong keluar jendela.

"Sasuke-chan! Ayo kita pergi ke festival," seru Mikoto yang tiba-tiba masuk ke kamar Sasuke.

"..."

Mikoto menelengkan kepalanya sedikit. "Apa kau masih sakit?"

"...Mikoto-san, sebenarnya apa yang sedang dikerjakan Itachi-nii?"

Mikoto tersenyum penuh arti, sekarang dia mengerti kenapa Sasuke merasa sedih dan marah. Mikoto berjalan mendekati Sasuke yang sedang duduk di ambang jendela, kemudian duduk di sampingnya.

"Sayang sekali aku tidak tahu apa yang sedang Itachi lakukan saat ini... Tapi, kurasa dia tidak pernah berniat menghancurkan libur musim panasmu," kata Mikoto memberikan pendapatnya.

"Aku tahu Mikoto-san, tapi seharusnya dia memberi tahu apa yang dia lakukan jadi aku tidak perlu mencemaskannya sepanjang waktu," kata Sasuke putus asa.

"Mungkin dia punya alasannya sendiri. Kalau sudah waktunya dia akan memberitahumu," kata Mikoto menenangkan. "Nah, daripada melamun terus disini bagaimana kalau kau ikut denganku?" tanya Mikoto.

"Terima kasih Mikoto-san tapi kurasa aku akan tinggal disini saja," tolak Sasuke.

Mikoto menghela napas panjang, "Wah bagaimana ini? Padahal aku juga sudah mengajak Uchiha-san karena kukira kau akan ikut?"

Sasuke tertawa kecil. "Kalau begitu kalian pergi saja berdua. Gampang 'kan?"

"Yaah mungkin kau benar... Tapi kami tidak mau meninggalkanmu sendiri di sini," kata Mikoto.

"Aku bisa menjaga diriku sendiri," kata Sasuke berusaha meyakinkan.

Dengan beberapa kalimat yang meyakinkan pada ayahnya dan Mikoto, akhirnya keduanya setuju pergi asal Sasuke terus mengunci pintu kamarnya. Sasuke setuju.

Sasuke hampir tertidur di tempatnya, di ambang jendela. Ketika dia mendengar suara ketukan di pintu kamarnya.

"Sasu-chan, Sasu-chan, buka pintunya!" seru Itachi dari luar sambil mengetuk pintunya dengan keras.

Sasuke segera membuka pintunya, dan sebelum dia bisa menegur Itachi karena sudah mengganggu tamu penginapan lainnya dengan suara ketukan tadi, Itachi langsung menariknya keluar.

"Ayo ikut aku!"

"Kemana? Tunggu 'Tachi-nii, aku belum memakai sepatuku!"

"Tidak ada waktu untuk itu," ujar Itachi tidak sabar dan langsung menggendong Sasuke (4).

"Itachi-nii!" seru Sasuke kaget, wajahnya seketika itu merona. Secara otomatis, Sasuke melingkarkan lengannya ke leher Itachi untuk menjaga keseimbangannya.

"Kita mau kemana?" tanya Sasuke.

Itachi tidak menjawab, dia mempercepat langkahnya. 15 menit kemudian, mereka sampai di suatu tempat yang cukup tinggi, mungkin sebuah bukit kecil. Itachi menurunkan Sasuke di tanah berumput.

"Syukurlah masih sempat," kata Itachi lega.

"Apa yang masih sempat?" tanya Sasuke bingung.

Itachi tertawa kecil. "Lihat saja nanti."

Tidak lama setelah itu, terdengar suara berdebum keras dan langit malam bersinar terang oleh ratusan kembang api. Sasuke terperangah, dia belum pernah melihat kembang api seindah itu. Melihat ekspresi wajah Sasuke, Itachi tersenyum puas.

"Selamat ulang tahun, Sasu-chan," kata Itachi tiba-tiba sambil mencium pipi Sasuke lembut.

Mata Sasuke yang sedetik tadi masih memandang langit sekarang memandang Itachi. Saat itu, bukit kecil tempat mereka menonton kembang api sangat gelap dan satu-satunya sumber cahaya berasal dari cahaya kembang api di atas mereka. Sasuke merasa waktu berhenti sesaat ketika dia memandang Itachi. Wajahnya yang hanya diterangi oleh cahaya kembang api terlihat lebih mengagumkan dibandingkan biasanya dan mata Itachi yang balas memandangnya terlihat lembut. Sasuke mengedipkan matanya beberapa kali kemudian langsung menundukkan kepalanya cepat dengan wajah memerah. Dia sampai tidak bisa bereaksi apapun saat Itachi mencium pipinya tadi.

"Terima kasih 'Tachi-nii," gumam Sasuke pelan.

"... Bagaimana kau tahu sekarang hari ulang tahunku?" tanya Sasuke kemudian.

"Bertanya tentu saja," jawab Itachi singkat.

Itachi kemudian membalikkan badannya ke belakang, tangannya meraba-raba dalam kegelapan. "Ah dimana sih?" gumamnya kesal pada dirinya sendiri.

Tidak lama kemudian dia membalikkan badannya ke depan kembali sambil tersenyum lebar.

"Sekali lagi, selamat ulang tahun Sasu-chan!" serunya sambil memberikan sesuatu pada Sasuke.

"Itachi-nii, kau tidak perlu memberiku apapun," kata Sasuke.

'Menonton kembang api berdua denganmu kali ini pun sudah kuanggap sebagai hadiah,' tambah Sasuke dalam hati.

"Tapi aku mau," sanggah Itachi keras kepala. "Tadinya aku berniat menjadikan liburan ke sini sebagai hadiah ulang tahunmu tapi 'Kaa-chan berhasil merampas tiketnya dariku," kata Itachi sambil mengerucutkan bibirnya. "Jadi aku harus memberimu sesuatu yang lain."

Sasuke membuka kotak yang ada di tangannya.

"Itachi-nii, ini..." kata Sasuke perlahan.

"Aku tidak bisa memikirkan yang lain selain itu. Apa kau suka?" tanya Itachi.

"Tentu saja! Terima kasih," jawab Sasuke gembira.

Di dalam kotak itu tersimpan tiga buah tomat ranum berwarna merah mengkilat. Dilihat sekilas saja, Sasuke sudah tahu kalau tomat tersebut berkualitas tinggi.

"Kau tahu kalau setiap musim panen (5) di Otogakure selalu diadakan kompetisi hasil tani terbaik?" tanya Itachi sesaat kemudian.

Sasuke menggelengkan kepalanya.

"Kau beruntung, kali ini tomat yang sekarang ada di tanganmu adalah pemenangnya," kata Itachi tersenyum lebar.

Sasuke kembali melihat tomat-tomat itu dengan kagum.

"Oh! Aku jadi ingat, jangan-jangan tomat ini yang menjadi bahan perdebatanmu dengan petani yang kulihat tadi siang?" tanya Sasuke tiba-tiba teringat kejadian tadi siang.

"Kau melihatku?" tanya Itachi kaget.

Sasuke mengangguk. "Tadi siang aku berjalan-jalan dengan 'Tou-san dan tidak sengaja melihatmu."

"Yaah begitulah, sejak datang ke sini aku selalu berusaha mencari hadiah untukmu. Kebetulan aku mendengar tentang tomat-tomat ini yang kupikir akan menjadi hadiah yang tepat. Tapi sayang, pemiliknya terlalu keras kepala untuk mejualnya padaku. Setelah kupaksa terus, untunglah dia mau menjualnya," jelas Itachi.

Yang tidak Itachi jelaskan adalah kalau dia mebeli tomat-tomat itu dengan harga yang tidak masuk akal. Kalau Sasuke tahu, dia pasti tidak akan mau menerima hadiahnya.

"Oh iya, dia juga memberikan ini," kata Itachi kemudian sambil mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.

"Apa ini?" tanya Sasuke sambil melihat bungkusan yang diberikan Itachi.

"Ini benih tomat. Kalau kau mau, kau boleh mengambilnya," kata Itachi sambil memasukkan bungkusan benih tomat tersebut ke dalam kotak yang berisi tomat.

"Itachi-nii kau memberiku terlalu banyak!" seru Sasuke. "Bagaimana aku harus membalasmu?"

"Dasar bodoh, kau tidak perlu membalas apapun," kata Itachi sambil menyentil kening Sasuke.

Sasuke memegang keningnya. "Karena kau sudah memberiku hadiah yang luar biasa kali ini kau kumaafkan," canda Sasuke.

"Terima kasih atas kebaikan hatimu, Sasuke-sama," balas Itachi sambil membungkukkan badannya sedikit.

Mereka berdua tertawa. Sambil melanjutkan menonton kembang api, Sasuke berpikir inilah liburan musim panas dan ulang tahun terbaiknya.


(1) Maksudnya beranda itu lhoo yang kaya koridor di pinggir rumah yang kalo di anime-anime suka pada ngepel disitu,, tahu kan apa maksudku?

(2) Aku tahu Sasu-chan itu lebih tepat disebut tampan atau cowok cantik tapiii untuk di fic ini Sasuke bakal aku buat manis ngalahin gula-gula hihihihi

(3) Sasu-chan kan ceritanya masih kecil jadi pas duduk kepalanya ga nyampe ke bahunya Itachi. Zannen :(

(4) Bridal style ;)

(5) Sigh... karena 'sedikit' kekurangan ide waktu nulis, maaf kalau hadiah ulang tahun sasuke terlalu mengada-ada, bahkan aku ga tahu kapan panen tomat itu hahah asumsikan aja pas musim panas yaaa~ ^^v