JUDUL: I love you, Brother
Rated: T
Genre: Family/romance
Pairing: ItaSasu KisaSui
Summary: just read please :3
Disclaimer: Itachi and Sasuke are not mine neither are the other characters of Naruto... And this chapter is inspired by running man (you know the korean variety show :3).
Warning! This fic contain BL element and Uchihacest although in this story they're not a real brother. So, don't like don't read. If you don't like BL or Uchihacest please just go and don't give me flame, I appreciate that if you do m(_ _)m.
So without further ado please enjoy :D
Chapter 8
Mikoto berderap menaiki tangga penginapan, senyum lebar menghiasi wajahnya. Dia punya pengumuman penting yang harus diberitahukan pada dua orang yang masih tidur di atas. Mikoto membuka kamar penginapan.
"Kawaaaaaiiii~," pekiknya saat melihat Itachi dan Sasuke yang masih tertidur. Walaupun udara saat itu cukup panas tapi keduanya tidur berdekatan. Tangan Itachi berada di pinggang Sasuke dan Sasuke bergelung di dalam pelukan Itachi. Mikoto berlari keluar menuju kamarnya sendiri, mencari kamera. Setelah puas mengambil beberapa foto, dia kemudian membangunkan keduanya.
"Itachi! Sasuke! Ayo bangun! Bangun!" serunya sambil mengguncang bahu Itachi.
"Uggh 'Kaa-chan. Ada apa?" gerutu Itachi. Sedangkan Sasuke yang masih mengantuk hanya memandangnya penuh tanya.
"Kalian harus ikut aku sekarang," kata Mikoto. Sebelum keduanya bertanya lagi Mikoto menarik Sasuke bangun. Itachi menghela napas panjang sebelum akhirnya ikut bangun juga.
Tidak lama kemudian, mereka bertiga sudah berada di luar penginapan.
"Kita mau kemana, Mikoto-san?" tanya Sasuke.
"Ayo cepat! Ayahmu sudah menunggu dari tadi," kata Mikoto.
"Itu tidak menjawab pertanyaan Sasu-chan sama sekali," kata Itachi.
Mikoto hanya berdecak lalu menggiring keduanya entah kemana. Sepuluh menit kemudian, mereka tiba di alun-alun desa.
"Ugh apa-apaan ini?!" gumam Itachi saat melihat kumpulan orang yang berkerumun di sana.
"Tenang tujuan kita bukan kesana," kata Mikoto sambil membimbing mereka ke suatu gedung yang sepertinya kantor kepala desa.
"'Tou-san!" seru Sasuke ketika melihat Fugaku. Fugaku langsung menghampiri mereka.
"Apakah semuanya sudah datang?" tanya Mikoto.
Fugaku menggelengkan kepalanya. "Hanya kita berempat dan lima orang penduduk sini."
Sasuke menatap bingung ke sekelilingnya, melihat hal tersebut Fugaku tersenyum kecil. Sasuke selalu mengingatkan Fugaku pada istrinya yang sudah meninggal. Ekspresi wajah mereka ketika kebingungan sangatlah mirip. Karena hal itu, terkadang Fugaku berpikir kalau Sasuke terlalu manis untuk seorang anak laki-laki, dan setiap dia berpikir seperti itu dia jadi berharap kalau Sasuke bisa lebih terlihat dewasa seperti anak tetangganya, Itachi... Ah ya Itachi. Anak yang bisa diharapkan. Tapi entah kenapa anak itu sepertinya terlalu dekat dengan Sasuke. Ditambah lagi mereka berdua menghilang begitu saja kemarin malam.
'Aku mempercayakan Sasuke padanya karena yakin dia pasti bisa menjaga Sasuke seperti menjaga saudaranya sendiri... Tapi akhir-akhir ini mau tidak mau aku jadi sedikit curiga jangan-jangan dia... Ah tidak! Jangan dulu berprasangka,' renung Fugaku sambil menggelengkan kepalanya sedikit.
"Fugaku-san, sebenarnya ada apa ini?" tanya Itachi sambil berjalan di samping Fugaku.
Fugaku mengangkat satu alisnya. "Mikoto-san tidak memberitahu kalian?"
"Tidak. 'Kaa-chan tidak akan memberi tahu kami apapun. Dia selalu berpikir kalau menyimpan rahasia itu menyenangkan."
"Begitu. Aku mau saja memberi tahumu tapi kita sudah sampai. Di dalam akan ada orang yang bisa menjawab semua pertanyaan kalian... Permisi," kata Fugaku sambil membuka pintu suatu ruangan.
"Silahkan masuk," balas seorang wanita dari dalam.
Mereka berempat masuk ke dalam sebuah ruangan. Selain wanita yang menyapa mereka masuk, di dalam sudah duduk lima orang anak muda. Itachi melihat di papan tulis di depan ruangan terdapat tulisan "Survival Game #21". Fugaku menghampiri wanita tadi.
"Kami sudah lengkap," kata Fugaku.
Wanita tadi menyodorkan sebuah kotak. "Silahkan mengambil satu."
Fugaku merogoh ke dalam kotak dan mengeluarkan bola kecil berwarna merah. Fugaku memberi isyarat pada ketiga orang di belakangnya untuk melakukan hal yang sama. Mikoto dan Sasuke mendapat bola berwarna biru, sedangkan Itachi juga mendapat bola berwarna merah.
"Silahkan duduk. Kita akan menunggu peserta lainnya datang baru setelah itu kita akan mulai."
Mereka berempat pun duduk.
"Jadi, kita akan bermain survival game?" tanya Itachi.
Mikoto berdecak. "Kenapa mereka menulis survival game di sana sih?!" gerutunya.
"Karena memang untuk itulah kita ada di sini," jawab Fugaku tenang.
"Tapi aku tidak mau!" seru Itachi. "Aku sudah punya rencana dengan Sasu-chan."
Sasuke mengangguk setuju. Dia juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba dia bisa terjebak di dalam ruangan ini.
Mikoto langsung mencengkram lengan Itachi menahannya agar tidak pergi. "Kau tidak boleh pergi. Acara ini hanya ada satu tahun sekali dan tidak semua orang bisa ikut. Kita beruntung, kita semua bisa ikut di dalamnya."
"Tapi aku tidak tertarik," kata Itachi keras kepala.
"Lihat dulu brosur ini baru kau akan mengerti," kata Mikoto sambil mengeluarkan kertas brosur dari dalam sakunya. Dan menunjuk satu baris kalimat.
Itachi membaca apa yang sedang ditunjukkan oleh Mikoto. Salah satu hadiah dari survival game ini adalah mendapat apapun yang kita mau. Mikoto tersenyum melihat mata anaknya bersinar. Dia tahu kalau Itachi sedang menginginkan satu set komputer terbaru.
"Baiklah aku ikut!" ujarnya bersemangat.
"Tapi 'Tachi-nii..." protes Sasuke.
"Sasu-chan maafkan aku tapi aku harus ikut permainan ini. Aku berjanji akan menemanimu sisa musim panas ini kemana pun kau mau."
"... Baiklah," kata Sasuke lambat-lambat. "Janji?" tanyanya lagi setelah itu sambil mengacungkan kelingkingnya pada Itachi.
"Tentu saja!" jawab Itachi sambil mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Sasuke. "Kalau aku berbohong kau boleh menghukumku."
Lima belas menit kemudian tujuh belas peserta sudah datang, setiap orang mengambil bola dari dalam kotak yang disodorkan setiap kali mereka masuk. Kemudian seorang anak laki-laki masuk ke dalam ruangan dan memberikan secarik kertas pada wanita yang tadi meyodorkan mereka kotak berisi bola warna-warni.
"Sepertinya empat orang peserta lagi tidak dapat mengikuti survival game tahun ini. Jadi mari kita mulai pertemuan ini," kata wanita tadi. "Pertama-tama, tolong duduk sesuai dengan warna bola yang tadi kalian dapat."
Semua orang bergerak mengikuti perintah wanita tadi.
"Terima kasih. Sebelum kita mulai, saya akan memperkenalkan diri dulu. Nama saya Konan, koordinator lapangan survival gametahun ini. Saya akan menjelaskan aturan main permainan ini walaupun mungkin beberapa orang dari kalian mungkin sudah tahu, atau sudah mengira, peraturan dari permainan ini," Konan mengambil napas sejenak. "Aturan mainnya sangat sederhana. Peserta akan di bagi ke dalam tiga tim yaitu tim merah, tim biru, dan tim orange. Kemudian setiap peserta akan diberi armband sesuai dengan warna tim masing-masing. Pemain dianggap gugur saat armband yang dipakai berhasil dilepas oleh tim lawan. Setiap pemain akan diberi walkie-talkie yang hanya bisa digunakan untuk menghubungi anggota tim masing-masing. Permainan akan berlangsung selama enam jam, pada waktu dan lokasi yang akan diberitahukan selanjutnya. Tim terakhir yang tersisa akan ditetapkan sebagai pemenangnya."
"Bagaimana kalau setelah enam jam semua tim masih tersisa?" tanya seorang pemuda berperawakan besar berkulit kebiruan.
"Pemenangnya akan ditentukan berdasarkan jumlah anggota tim yang tersisa. Kalau jumlah anggota tim sama maka hasil pertandingan akan diputuskan dengan jankenpon. Apakah masih ada pertanyaan lagi?"
Semua orang menggelengkan kepalanya.
"Sepertinya sudah cukup jelas. Baiklah kalau begitu, silahkan ambil armband dan walkie-talkie masing-masing. Dan kami harap setiap tim bisa memutuskan ketua masing-masing sekarang juga, untuk kemudahan komunikasi selanjutnya. Dan para ketua saya harap bisa berkumpul dulu setelah ini bersama panitia. Terima kasih."
Wanita itu menepuk tangannya dua kali dan dari luar tiga orang anak laki-laki membawa tiga kotak berisi armband dan walkie-talkie untuk setiap masing tim. Semua orang maju ke depan mengambil bagian masing-masing.
Setelah beberapa menit berdiskusi tiga orang ketua terpilih maju ke depan. Ketua tim biru adalah Mikoto, tim merah Fugaku, dan tim orange seorang pria berambut pirang bernama Minato. Sementara itu, peserta lainnya diperbolehkan meninggalkan ruangan.
Tidak lama setelah membicarakan masalah teknis dengan panitia Mikoto segera mengumpulkan anggota timnya. Untungnya, mereka semua masih ada di sekitar kantor kepala desa, tempat pertemuan tadi dilaksanakan. Anggota pertama yang berhasil ditemukannya adalah Sasuke.
"Sasuke-kun~" panggil Mikoto.
Sasuke yang saat itu sedang digoda oleh Itachi merasa bersyukur ada yang memanggilnya.
"Mikoto-san," ujar Sasuke lega dengan wajah yang masih merona.
Tanpa berkata apapun Mikoto langsung membawa Sasuke pergi.
"'Kaa-chan! Kau mau membawa pergi Sasu-chan kemana?" tanya Itachi kesal.
"Sayang, sekarang kita adalah musuh. Aku tidak mengijinkan anggotaku berhubungan dengan anggota musuh," kata Mikoto. "Kalian baru boleh bertemu lagi kalau permainan ini sudah selesai."
Dengan itu, Mikoto berbalik pergi sambil menarik Sasuke bersamanya. Itachi hanya bisa menatap punggung ibunya yang semakin menjauh dan Sasuke yang menatap bergantian antara Mikoto dan Itachi dengan kebingungan.
"'Kaa-chan... Apalagi yang sedang kau rencanakan?!" ujar Itachi sambil menghela napas dalam. "Lebih baik aku juga mencari Fugaku-san."
Kring..kring...kring. Tiga ponsel berdering dalam waktu bersamaan.
Silahkan datang ke tempat kebahagiaan dan kesedihan bersatu jam tiga sore ini.
Selamat bertanding!
=tim biru=
"Riida-san (1)! Apa maksud dari kata-kata ini un?" tanya Deidara pada Mikoto.
"Apa diantara kalian tidak ada yang tahu? Padahal jawabannya sangat mudah," kata Mikoto.
"?"
"Ayolah jawabannya sangat mudah! Masa kalian tidak tahu?!" seru Mikoto gemas.
"Riida-san! Kalau kau tahu ayo beri tahu kami!" sahut Naruto tidak sabar.
"Benar Mikoto-san. Bukankah saat mengumpulkan kami tadi kau bilang kita berada dalam posisi yang paling tidak menguntungkan. Jadi sekarang mana boleh kita membuang waktu seperti ini," kata Kushina.
"Ahh! Tapi ini sangat mudah. Aku tidak mau pergi kalau diantara kalian tidak ada yang bisa menjelaskan teka-teki ini!" kata Mikoto keras kepala. "Berpikirlah dan kalian akan tahu jawabnnya."
"Kalau begitu setidaknya beri kami petunjuk," bujuk Sasuke.
"Baiklah. Petunjuknya adalah salah satu tempat wisata daerah ini."
"Tempat wisata?" tanya Suigetsu bingung. "Kau hanya menambah kesulitan kami Riida-san."
"Mikoto-san sepertinya aku tahu!" seru Sasuke.
"Coba kita dengar jawabanmu."
Sasuke memberi tahu jawabannya dan Mikoto tersenyum puas. "Fufufu kau memang pantas jadi menantuku Sasu-chan."
"Mikoto-san! Ini bukan waktunya kau menggodaku!" seru Sasuke malu, wajahnya memerah.
Mikoto hanya tertawa. "Ayo kita pergi! Kita sudah banyak membuang waktu di sini."
=tim orange=
"Aku yakin kalian pasti tahu dimana kita bisa menemukan tempat ini," ujar Minato pada empat orang asli Otogakure yang ada di timnya. Mereka adalah Juugo, Tayuya, Ukon, dan Sakon.
Tapi keempat orang itu hanya memberikan tatapan kosong.
"Ayolah bukankah kalian hidup di daerah sini?!" seru Kurama kesal.
"Kami memang hidup di sini..." kata Ukon.
"Tapi bukan berarti kami tahu semua tempat di sini," lanjut Sakon.
"Lagipula yang biasanya memecahkan teka-teki seperti ini adalah Kimimaro yang sekarang ada di tim merah," kata Tayuya.
"Jadi kalian tidak tahu sama sekali?" tanya Minato memastikan.
"Tidak. Tapi kita bisa memikirkannya bersama," kata Juugo dengan tenangnya.
Mereka semua pun memutar otak untuk menemukan arti kata teka-teki tersebut.
=tim merah=
"Tempat kebahagiaan dan kesedihan bersatu? Apa maksudnya?" Kisame menyuarakan pertanyaan semua orang.
"Kimimaro-kun apa kau tahu apa maksudnya?" tanya Fugaku pada Kimimaro yang asli pemuda Otogakure.
Kimimaro berpikir keras. "Aku tidak yakin tapi sepertinya aku tahu..."
Tim merah pun berangkat menuju lokasi yang disebutkan Kimimaro.
"Desa dandelion," Naruto membaca tulisan yang tertera pada plang jalan.
"Tepat sekali," kata Mikoto sambil memimpin anggotanya berjalan maju memasuki desa. "Desa ini memiliki keindahan pemandangan yang luar biasa makanya sejak dulu desa ini sering dijadikan lokasi para pria melamar kekasih mereka... Sayangnya di sisi lain tempat ini juga sering dijadikan tempat bunuh diri orang yang putus cinta. Ironis bukan? Tapi kurasa itu adalah daya tarik tempat ini."
"Mikoto-san! Lihat!" seru Sasuke menunjuk seseorang yang sedang berdiri di depan alun-alun desa.
"Selamat! Kalian tim pertama yang sampai di sini," kata Konan. "Karena itu, kami akan memberikan hadiah untuk kalian. Benda ini sangat menguntungkan bagi tim kalian kalau digunakan dengan benar," kata Konan sambil memberikan sebuah kotak pada Mikoto. "Kemudian seperti yang bisa kalian lihat disini," kata Konan sambil menunjuk sebuah papan seukuran papan reklame. "semua nama anggota tertera di papan ini dan setiap ada satu orang yang gugur maka lampu yang menyala di bawah nama orang tersebut akan padam. Kami tidak akan megumumkan siapa saja yang sudah gugur. Oleh karena itu, kusarankan kalian selalu mengawasi perkembangan permainan melalui papan ini."
"Apakah kami boleh mulai sekarang?" tanya Mikoto.
"Kalau tidak ada lagi yang ditanyakan, silahkan masuk dan selamat bertanding!"
Mikoto dan timnya segera mencari tempat mengintai yang sempurna.
Lima belas menit kemudian, tim orange tiba. Konan mengulangi penjelasannya lagi namun dia tidak memberi apa pun pada tim orange.
"Apakah kami yang tiba duluan di sini?" tanya Kurama.
"Silahkan masuk dan pastikan sendiri," kata Konan.
Tidak sampai lima menit kemudian, tim merah tiba.
"Selamat datang. Kalian adalah tim terakhir yang sampai ke sini. Sebagai hukuman, selama dua jam pertama kalian harus memasang bel ini," kata Konan sambil menunjukkan sebuah bel.
"Apa?! Kalau begitu kami tidak bisa menyergap anggota tim lain diam-diam!" seru Kisame.
"Silahkan pakai bel kalian masing-masing," kata Konan tidak mengacuhkan Kisame sama sekali.
Dengan itu, seluruh tim sudah tiba dan permainan pun resmi dimulai.
(1) Riida = leader
Hai minna-san! Setelah sekian lama akhirnya fic ini berhasil di update lagi :D
Hukhuk semua tugas (+running man+ sherlock holmes+games) udah sukses bikin cerita ini terhambat =_=; tapii tenang aja fic ini bakal masih berlanjut kok ;) *promosi :p
Tadinya chapter ini mau dijadiin satu chapter aja tapi ternyata (seperti biasa) ga mungkin karena jadinya terlalu panjang untuk dijadiin satu chapter TT_TT *ditambah juga aku ga sabar ingin update fic ini jadi terpaksa dipotong deh heheheh ^^;
Terus makasih buat semua yang udah baca dari awal sampe ke chapter ini, terutama yang ngasih review, juga yang masukin fic ini ke dalam favourite story kalian, terus juga yang nge-follow fic ini hiks kalian bikin aku terharu :')
Semoga kalian seneng baca chapter kali ini :3
